Tampilkan postingan dengan label tradisi santri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tradisi santri. Tampilkan semua postingan

Minggu, 04 November 2012

*Terbit di buletin Variez edisi November 2012

Otokritik kadang memang sulit. Tersebab kritik menuntut pengkritik berjarak dengan objek kritikannya. Padahal, objek itu adalah diri pengkritik sendiri. Begitupun ketika saya memulai tulisan ini. Saya harus memeras otak yang pas-pasan untuk menjelentrehkan ihwal “khittah” santri sebagaimana tema yang digagas redaksi buletin ini. Saya harus mengajukan sejumlah pertanyaan kepada diri sendiri, misalnya, apa itu khittah santri? Apakah santri sekarang sudah keluar dari khittahnya? 

Sebagai seorang santri, saya butuh merenung untuk mengkritik diri sendiri. Namun, saya gagal berpikir kritis. Saya hanya mendapatkan sejumlah masalah yang sudah sering diungkap dalam banyak kajian tentang pesantren. Padahal saya gampang bosan terhadap sesuatu yang monoton. Namun, apa daya, saya terpaksa menulis ulang karena hanya itulah yang ngendon di otak saya. Bagi Anda yang berharap mendapatkan pencerahan, ada baiknya untuk meninggalkan tulisan ini.

Bila dulu orang tua saya berkisah tentang bagaimana kehidupan keras di pondok, barangkali saya juga akan melakukan hal yang sama kepada anak-anak saya kelak. Begitu pula anak saya kepada anaknya, cucu saya. Tentu, cerita masing-masing tidak akan sama, mengingat tempo yang berbeda. Nilai heroiknya pastilah kelihatan lebih besar cerita orang tua saya. 

Tak bisa dipungkiri, kehidupan santri dari waktu ke waktu memang terus berkembang, baik dari segi fisik maupun psikis. Dari segi fisik kita bisa lihat bangunan-bangunan pondok yang makin mentereng. Pondok bilik kehilangan pamornya karena rawan kebakaran dan tidak lagi representatif untuk tempat hunian. Kini, ada banyak santri yang menikmati kamar pondoknya lebih megah ketimbang kamar rumahnya. 

Dari segi psikis, santri sudah banyak yang tidak asing dengan perkembangan informasi. Koran dan internet bukan lagi barang mewah. Kecepatan akses informasi ini tentu saja membawa perubahan dalam cara pandang mereka. Stigma “santri itu kolot” lambat laun kehilangan auranya.

Perkembangan yang dialami pondok pesantren memang tidak bisa seutuhnya merawat masa lalu. Ada sesuatu yang hilang dari kehidupan para santri. Saya mencoba mengingat-ingatnya. Sebagai seseorang yang masih tercatat santri, saya hanya menuliskan pengalaman pribadi. Kajian kritis untuknya mungkin bisa ditulis oleh mereka yang lebih berpengalaman.

Dalam sebuah kesempatan, KH. Mustofa Bisri (Gus Mus) pernah mengatakan bahwa ada perbedaan mendasar antara sistem pendidikan di pesantren dengan di sekolah umum. Di pesantren, istilah pendidikan yang digunakan adalah tarbiah sementara di sekolah umum adalah ta’lim. Tarbiyahcakupannya lebih kompleks tinimbang ta’lim karena yang diajarkannya tidak hanya soal materi pelajaran, melainkan nilai-nilai dan praktek kehidupan yang Islami.

Di pondok pesantren, pelajaran tidak saja dilaksanakan di mushalla dan madrasah, tetapi dari semua unsur kehidupan santri diproyeksikan bernilai pendidikan. Contoh kecilnya adalah pemilihan pengurus yang mempertimbangkan banyak hal, mulai dari kompetensi, akhlak dan kepribadiannya. Sebab, pengurus akan menjadi panutan santri tidak saja dari segi kemampuan otaknya, tapi juga tingkah lakunya sehari-hari. Pepatah “guru kecing berdiri, murid kencing berlari” sangat lekat dalam kehidupan santri karena dasar pendidikan sebenarnya adalah keteladanan. 

Contoh yang lain. Dulu, ketika awal-awal saya mondok, pada pagi hari, santri diminta untuk mengangkut batu dari gunung di sebelah selatan pondok. Mereka guyub bergotong-royong menyelesaikan pembangunan mushalla yang memang kekurangan dana. Keterbatasan dana tersebut membuat mereka harus bekerja sendiri tanpa bantuan alat-alat berat yang butuh banyak mengeluarkan uang.

Cerita ini tidak saja bicara soal bagaimana mushalla cepat selesai. Namun, santri juga diajarkan tentang keguyuban, gotong-royong, kekompakan, dst. Pelajaran tentang kehidupan ini akan hambar bila disampaikan hanya dalam bentuk teori. Kehidupan seperti itu akan mereka praktekkan kelak ketika ada di rumah masing-masing. Ibaratnya, ia adalah semacam simulasi sebelum mereka benar-benar terjun ke dalam kehidupan masyarakat.

Lain halnya dengan kehidupan di sekolah umum, di mana kebanyakan atau bahkan semua materi diajarkan dalam bentuk teori. Jelas saja anak didik hanya tahu “kulit luarnya” soal materi yang disampaikan sang guru. Tidak sedikit di antara mereka yang sulit mengaplikasikannya dalam kehidupan. Seperti para santri, mereka juga belajar tentang gotong-royong dan keguyuban. Namun, aplikasinya malah sangat lucu. Gotong-royong yang mereka lakukan hanya untuk tawuran antar sekolah, gotong-royong mebunuh musuh dari sekolah lain.

Saat ini, pelajaran tentang mengangkut batu di pesantren dan sejenisnya sudah kian jarang terlihat. Santri makin sibuk dengan banyaknya pelajaran di madrasah. Mereka berangkat pagi-pagi untuk mengikuti kegiatan yang diselenggarakan sekolah. Santri sudah tak punya banyak waktu belajar tentang praktek kehidupan.

Mengenai kurikulum madrasah, Gus Mus juga mengkritik karena kini banyak sekali pesantren yang sudah didikte oleh kurikulum pemerintah. Padahal, menurut beliau, bila mau mengkaji lebih dalam, pesantren memiliki kurikulum yang sangat lengkap. Pesantren adalah model pembelajaran yang memiliki sejarah panjang dan terbukti tidak sedikit alumninya yang menjadi pemimpin.

Perdebatan tentang kurikulum ini memang sering terlontar dari para pemikir pendidikan pesantren. Infiltrasi pemerintah yang terlampau jauh membuat pesantren berada dalam pasungan. Terlalu banyaknya materi dan kegiatan sekolah yang diberikan pemerintah membuat santri tidak lagi fokus. Tidak menutup kemungkinan kelak madrasah pesantren akan tidak jauh beda dengan sekolah umum.