Tampilkan postingan dengan label teknik menulis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label teknik menulis. Tampilkan semua postingan

Minggu, 16 Agustus 2015

"Kenapa saat saya menulis suka macet?"

Mungkin Anda pernah melontarkan pertanyaan semacam itu. Ia adalah situasi yang sering menghantui penulis pemula. Mereka, penulis pemula itu, kesulitan meneruskan tulisannya karena kepala rasanya sudah tak punya apa-apa lagi untuk dikeluarkan, kecuali hal-hal lain yang tak ada hubungannya dengan tema tulisan.

Gejala seperti itu lumrah saja, namun terkadang membuat penulis pemula yang tidak tangguh mudah keok. Mereka merasa menulis bukanlah bakatnya. Mereka berpikir menjadi tukang tenung lebih mudah daripada menjadi penulis.

Seorang penulis yang tangguh akan melewati fase-fase semacam itu dengan perjuangan yang tak mudah. Mereka tahu bahwa penulis-penulis besar pun melewati fase yang sama. Tidak ada penulis yang langsung bisa mendedahkan kalimat-kalimatnya di atas kertas atau layar komputer dengan lancar. Mereka butuh waktu untuk belajar menyusun kata, kalimat, paragraf, hingga tulisan utuh. Mereka butuh terjatuh untuk bisa bangkit lagi dan kemudian berlari cepat.

Penulis pemula mengalami kemacetan umumnya disebabkan oleh beberapa hal berikut ini:


Tidak Menguasai Tema Tulisan

Tulisan bisa diibaratkan seperti adonan kue. Untuk bisa menghasilkan kue yang enak dan bagus bentuknya, si pembuat harus punya bahan-bahan sekaligus tahu cara membuatnya. Demikian pun dalam sebuah tulisan. Untuk mendapatkan tulisan yang bagus, seorang penulis harus menguasai tema yang akan ditulisnya. Ia harus menyiapkan bahan-bahan tulisannya terlebih dahulu sebelum menulis.

Bagaimana caranya? Bacalah buku atau bahan bacaan lain yang mengulas tentang tema yang akan Anda tulis. Baca dari berbagai perspektif, sehingga Anda paham dan di dalam kepala Anda timbul gagasan baru atas tema tersebut. Semakin luas Anda membaca, kian bagus karya Anda.

Cara lainnya adalah dengan berdiskusi. Teman kita atau siapa pun itu terkadang punya banyak informasi yang tak kita duga. Mereka bisa menjadi sumber pengetahuan yang bisa kita gali untuk memperdalam tema tulisan kita. Kita pun bisa mengajukan gagasan-gagasan tentang tulisan tersebut kepadanya untuk mendapatkan tanggapannya.

Jika tema tulisan bersifat kajian lapangan, kita juga bisa memperkayanya dengan cara observasi. Datang langsung ke tempat kejadian. Lihat keadaannya dengan mata telanjang. Himpun fakta-fakta yang ada. Jika perlu, lakukan wawancara kepada orang-orang yang punya kaitan dengan tema yang kita bahas.

Catatan: dalam tahap latihan menulis, cobalah hindari tema-tema yang sulit. Tulislah dulu tema-tema yang dekat dengan keseharian Anda. Misalnya, tingkah lucu kucing di rumah Anda, nenek Anda yang sering menyanyikan lagu-lagunya Ayu Ting-ting, atau gaya merokok kakek yang mirip lokomotif era 70-an. Tema-tema yang dekat dengan kita akan lebih mudah kita kuasai ketimbang tema-tema berat semacam globalisasi, westernisasi, dan sisasi lainnya. Tema yang ringan dapat menghindarkan kita dari kebosanan mencari data. Ingat: ini khusus pemula.


Jarang Membaca

Dalam menulis, kita merangkai sebuah kata menjadi kalimat, kalimat menjadi paragraf, dan paragraf menjadi tulisan utuh. Semua proses itu membutuhkan kehadiran kata-kata sebagai bahan. Jika ia tidak ada, tentu tulisan pun tak akan ada.

Nah, penulis pemula biasanya miskin kata-kata. Mereka suka sekali mengulang-ulang kata, sehingga membuat tulisannya membosankan. Jika sudah tak ada lagi kata yang cocok dalam kepalanya, kalimat-kalimat yang ditulisnya akan mandek. Mereka kehabisan kata-kata untuk menyusun gagasannya.

Masalah seperti ini biasanya disebabkan oleh minimnya aktivitas membaca yang mereka lakukan. Padahal buku dan bahan bacaan lainnya adalah lahan untuk menimba perbendaharaan kata-kata. Jika tak membaca, dari mana kita akan mendapatkan kata-kata?

Dari dua penyebab kemacetan di atas, dapat ditarik simpulan bahwa antara membaca dan menulis punya hubungan yang tak boleh dipisahkan. Keduanya saling kait-mengait.

Minggu, 14 Juni 2015


Contoh Daftar Riwayat Hidup Terbaru dan Lengkap | Dalam surat lamaran kerja biasanya pelamar diharuskan membuat daftar riwayat hidup. Nah, apa daftar riwayat hidup itu? Ya, sesuai namanya, tentu saja isinya adalah beberapa pengalaman hidup yang ditulis secara singkat, semisal pendidikan, organisasi, dan kegiatan-kegiatan yang pernah diikuti.

Tidak sulit sebenarnya jika hanya ingin membuat daftar riwayat hidup. Kita tinggal membuat klasifikasi sesuai dengan sub-sub yang sudah ditentukan. Berikut ini adalah contoh yang bisa Anda pakai untuk menulis daftar riwayat hidup yang lengkap. 
 Contoh Daftar Riwayat Hidup Terbaru dan Lengkap


Nama                          : Fahrur Rozi
Tempat/tanggal lahir     : Sumenep, 16 April 1988
Jenis Kelamin              : Laki-Laki
Pekerjaan saat ini        : Pengelola Media Online

Pendidikan Formal
1995-2001 : MI Al-Ihsan III B
2001-2004 : MTs 1 Annuqayah
2004-2007 : MAK Annuqayah
2007-2014: Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (Instika)

Pengalaman Organisasi:
Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Instika
Editor dan Wartawan Majalah Fajar Instika
Wartawan Blog PP. Annuqayah
Biro Pengabdian Masyarakat PP. Annuqayah (BPM-PPA)
Pustakawan PPA. Lubangsa Selatan

Kegiatan-Kegiatan:
Blogger di: jadddung.blogspot.com, lalampan.com, dicuekin.com, pulaumadura.com, dan Plat-M.com
Beberapa kali mengisi pelatihan jurnalistik di LPM Instika
Mengisi pelatihan jurnalistik di SMA 3 Annuqayah, Guluk-Guluk dan Nurul Huda, Pakamban Laok, Pragaan, Sumenep
Road show diskusi literasi di PP. Nas�atul Muta�allimin 2, Dungkek; SMK Nurul Huda, Bluto, PP. Agung Damar, Pakamban Daja; PP. Alfalah, Lenteng Barat, Lenteng, Sumenep, dll.
Editor freelancesejumlah buku dan majalah

Publikasi:
Beberapa tulisan muncul di Horison, Majalah Kuntum, Koran Madura, Radar Madura, NU Online, Rimanews.com, Okezone.com, dll.

Nah, itulah sekilas mengenai contoh daftar riwayat hidup. Anda bisa membacanya sebagai pembandingan bila nanti membutuhkannya saat, misalnya, melamar pekerjaan. Bila terdapat kekurangan atau sesuatu yang tidak sesuai dengan data yang Anda butuhkan, Anda bisa mengubah, menambahi, atau menguranginya.

Selasa, 27 Januari 2015

Cara Mendapatkan Buku Gratis Terbaru | Mendapatkan buku gratis adalah dambaan setiap penggila buku, terutama mereka yang kantongnya cekak. Mengoleksi buku bagi mereka orang punya nilai tersendiri. Tak hanya sebagai bahan menambah pengetahuan, namun juga untuk membangkitkan rasa bangga punya warisan untuk anak cucu mereka. Pengetahuan adalah warisan yang tak ternilai harganya. Dan buku adalah salah satu medium mewariskan pengetahuan kepada generasi masa depan.

Memang, sekarang ilmu pengetahuan banyak bermigrasi ke dunia digital. Namun, pesona buku tidak akan pernah memudar. Orang lebih suka menumpuk buku di lemarinya ketimbang menaruh satu tablet yang memuat ribuan bahkan jutaan buku di dalamnya. Meski praktis, tablet kurang bisa diajak untuk memunculkan nuansa akademis dalam rumah.

Karena itu, walaupun sekarang sudah era digital, orang tetap menyukai buku. E-book hanya untuk bahan koleksi saja.

Cara Mendapatkan Buku Gratis Terbaru
sumber gambar: http://jasacopywriting.com
Nah, untuk Anda yang penggila buku, tapi tidak punya cukup uang untuk membelinya, ada baiknya mencoba beberapa tips mendapatkan buku gratis di bawah ini:

Meresensi buku
Meresensi buku adalah cara paling efektif mendapatkan buku gratis. Ada banyak media yang bisa dikirimi resensi, baik online maupun cetak. Jadi kesempatan untuk dimuat sangat besar. Tentu saja dengan syarat kita punya kemampuan menulis.

Memang sebagian media tidak memberikan honor kepada penulis resensi, tapi honor bisa tetap kita terima dari penerbit. Ada beberapa penerbit yang memberikan honor kepada peresensi dengan kriteria media yang memuatnya adalah media nasional atau regional. Jadi, selain mendapatkan buku, peresensi juga mendapatkan honor.

Lalu, dari mana mendapatkan buku yang mau diresensi? Bukankah kita harus beli? Nah, itu dia. Untuk tahap awal kita memang harus mengeluarkan modal. Namun selanjutnya Anda bisa meresensi buku yang dihadiahkan oleh penerbit tersebut.

Ada satu cara kalau tidak mau mengeluarkan modal banyak, yaitu pinjamlah buku baru dari teman Anda. :)

(teknik menulis resensi bisa dilihat di sini dan contoh resensinya ada di sini
 
Ikutlah Kontes
Sekarang sudah banyak bertebaran kontes-kontes yang berhadiah buku, baik kontes blog maupun kontes di media sosial. Macam-macam modelnya, ada yang berupa lomba resensi buku atau sekadar komentar dan sharingdi media sosial Facebook dan Twitter.

Untuk mendapatkannya, Anda hanya butuh mencari banyak informasi dari Google maupun media sosial. Biasanya yang lumrah mengadakan kontes seperti itu adalah fans page penerbit buku. Kadang juga penulis yang ingin mempromosikan bukunya di internet.

Hibah Penerbit
Hibah penerbit ini biasanya diperuntukkan kepada perpustakaan-perpustakaan yang mengejukan proposal. Bagi Anda yang mengelola perpustakaan, cara ini bisa ditempuh untuk memperbanyak koleksi buku. Memang tidak semua penerbit mau memberikan hibah buku karena tak mau rugi. Namun, beberapa penerbit menyisihkan beberapa bukunya untuk hibah.

Demikian tiga cara mendapatkan buku gratis terbaru. Semoga bermanfaat buat Anda penggila buku yang berkantong cekak. :)
Cara Mudah Menulis Resensi Buku Terbaru | Rensensi adalah suatu tulisan atau ulasan mengenai nilai sebuah hasil karya. Pengertian tersebut ada di buku karangan Gorys Keraf berjudul �Komposisi�. Karena pembahasan kita kali ini khusus ke resensi buku, maka karya dimaksud adalah sebuah buku.

Tujuan dari resensi buku adalah untuk mengenalkan kepada khalayak pembaca, apakah buku tersebut patut mendapat sambutan atau tidak. Peresensi menjadi semacam public speaker yang menuntun pembaca menemukan intisari dari buku yang diulasnya. Manfaatnya adalah pembaca bisa mempertimbangkan apakah buku tersebut akan cukup dibutuhkan oleh dirinya atau tidak. Jika memang tidak membutuhkannya, maka pembaca bisa mencari buku-buku lain yang lebih penting.

Cara Menulis Resensi Buku
sumber: wikimedia.org
Tips Membuat Resensi Buku
Tidak ada pakem dalam menulis resensi buku. Masing-masing peresensi kadang punya teknik sendiri untuk membuatnya. Beberapa hal berikut ini hanya tips yang boleh jadi penting dibaca oleh Anda yang baru belajar menulis resensi buku:
  • Seorang peresensi harus tahu apa yang menjadi tujuan penulis melahirkan buku tersebut. Poin ini biasanya ada di bagian pengantar buku dan menjadi titik pijak penulis merangkai elemen-elemen tulisannya. Dengan mengetahui tujuan tersebut, peresensi akan memperoleh gambaran penilaian terhadap buku, apakah penulis sudah berhasil mencapai tujuan tersebut atau malah gagal. 
  •  Peresensi harus mengerti segmen pembaca. Cara paling mudah untuk mengetahui tentang hal ini adalah dengan melihat karakter media yang akan dikirimi resensi. Masing-masing media biasanya punya aturan teresendiri mengenai tulisan-tulisan yang layak muat di medianya.
  • Peresensi harus membuat catatan-catatan yang dianggap penting diketahui oleh pembaca. Penilaian ini yang akan membuat pembaca tahu akan kelebihan-kelebihan buku tersebut. Tekniknya bisa dengan memberi stabilo pada kalimat-kalimat penting dalam buku.
  • Peresensi juga bisa mengaitkan momentum-momentum tertentu dengan tema resensinya. Sebagian media menghendaki resensi yang sesuai momentum. Misalnya sekarang lagi heboh-hebohnya �Cicak vs Buaya Jilid III�. Jika ada buku yang berkaitan dengan momentum tersebut, besar peluangnya untuk dimuat media. 
  • Sebagian peresensi juga merasa perlu meletakkan kesalahan-kesalahan teknis dalam sebuah buku yang diresensinya. Informasi ini sebagai referensi kepada pembaca agar menjadi pertimbangan saat membeli buku tersebut.
  • Jangan lupa untuk mencatat data-data primer buku, seperti bulan dan tahun terbit, tebal halaman, penerbit, dll.

(untuk membaca resensi yang saya buat, bisa ke sini atau ke sini)

Demikian beberapa tips dan cara meresensi buku. Hal-hal yang kurang jelas bisa ditanyakan di kolom komentar atau langsung ke halaman kontak. Admin siap berdiskusi dan menimba ilmu dari pembaca yang budiman.

Senin, 22 April 2013


salah satu buku yang saya editori
Entah karena alasan apa, beberapa bulan terkahir saya selalu diminta untuk mengeditori sejumlah tulisan, baik untuk buletin ataupun buku. Padahal, soal pengetahuan gramatika, saya termasuk orang yang masih buta, bahkan untuk hal-hal yang sangat dasar sekalipun, misalnya tentang sususan SPOK.

Saya lalu berkesimpulan bahwa unsur kedekatanlah yang membuat mereka mau menyerahkan sejumlah tulisannya untuk saya acak-acak, bukan soal profesionalisme atau kemahiran. Karena saya lihat, banyak teman-teman yang lain bahkan lebih mahir ketimbang saya. Namun, karya tersebut malah tidak jatuh ke tangan mereka.

Ini adalah kesempatan untuk belajar, begitulah saya meyakinkan diri. Dan memang benar adanya. Pangalaman mengeditori sejumlah tulisan membuat saya kian banyak belajar tentang tatabahasa. Saya dipertemukan dengan pengetahuan-pengetahuan baru yang muncul karena kesulitan-kesulitan yang saya hadapi dalam tulisan-tulisan tersebut. Dengan persoalan yang timbul, saya berusaha untuk mencari pemecahannya, baik melalui bertanya atau membaca literatur-literatur.

Dalam pencarian tersebut, kadang saya berjumpa dengan hal-hal unik dan terkesan kecil. Misalnya, saya harus mencari referensi hingga membutuhkan waktu yang lama hanya untuk mengetahui apakah kata �ayahku� huruf depannya dibesarkan (kapital) ataukah tidak. Atau, saya harus meminta bantuan seorang guru untuk tahu kapan �pun� harus dipisah atau disambung.

Hal ternikmat dari pencarian tersebut tentu saja ketika menemukan apa yang saya cari. Hal-hal yang sangat kecil tapi butuh usaha yang besar untuk mendapatkannya. Akhirnya saya tahu kenapa orang-orang sebesar Rendra dan Seno Gumira Ajidarma sangat memperhatikan soal detail. Detail yang bagus butuh kerja keras untuk membenahi segala lini, termasuk hal-hal yang kesannya amat sederhana.

Bagi saya, mengedit tulisan bukanlah pekerjaan gampang. Butuh kejelian dan penguasaan tatabahasa yang mapan. Saya yang memang lemah dalam tatabahasa tentu kian membutuhkan banyak tenaga dan pikiran untuk membenahi sebuah tulisan, karena disamping mengedit, saya juga harus belajar terlebih dahulu. Saya selalu wasawas kalau-kalau ada sesuatu yang kurang dari apa yang sudah saya kerjakan. Berkali-kali saya harus membaca ulang tulisan-tulisan yang sudah saya edit. Wajarlah jika prosesnya selesai tidak tepat waktu.

Sesuai pengalaman, saya mengedit tulisan adik-adik yang kebanyakan masih baru belajar menulis. Kondisi ini tentu saja mengirim kesulitan tersendiri bagi saya. Seringkali saya dipertemukan dengan kembimbangan-kebimbangan ketika ada kalimat atau paragraf yang tidak sempurna dan tidak jelas maksudnya, apakah harus dibikin sebuah kalimat baru atau saya ubah sedikit saja? Kalau saya bikin kalimat baru, berarti ini bukan lagi tulisan mereka, melainkan tulisan saya sendiri. Inilah kebingungan yang sepele, tapi kadang menghantui saya.

Pengalaman serupa juga diakui oleh teman saya. Jika dihadapkan dengan pilihan demikian, ia memilih tidak membikin kalimat baru. Hanya membenahi kata atau tanda baca yang salah. Ini cara aman untuk menghindari campur tangannya secara total dalam tulisan yang dia edit.

Dari semua itu, hal yang paling menjemukan bagi saya adalah ketika menemui adanya kesalahan setelah tulisan tersebut selesai dicetak. Ketahuan bahwa saya memang tidak punya keahlian dalam hal mengedit sebuah tulisan. Padahal saya sudah mengulang-ulang membacanya. Kenapa masih saja banyak salahnya? Akhirnya saya kembali kepada pepatah lama untuk menghibur diri, �Tak ada gading yang tak retak�.