Tampilkan postingan dengan label tata bahasa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tata bahasa. Tampilkan semua postingan

Senin, 14 Desember 2015

Pengertian dan Contoh Ungkapan Idiomatik / Ada mungkin pernah mendengar istilah tersebut, namun kurang paham mengenai bentuk aslinya. Maka, dalam penjelasan kali ini saya sertakan pula contohnya. Penjelasan ini saya ambil dari buku "Cerdas Berbahasa Indonesia untuk Perguruan Tinggi", karangan E. Zaenal Arifin dan S. Amran Tasai (Akapress, 2010).

Pengertian Ungkapan Idiomatik
Ungkapan idiomatik adalah konstruksi yang khas pada suatu bahasa yang salah satu unsurnya tidak dapat dihilangkan atau diganti. Ungkapan idiomatik adalah kata-kata yang mempunyai sifat idiom yang tidak terkena kaidah ekonomi bahasa.

Ungkapan yang bersifat idiomatik terdiri atas dua atau tiga kata yang dapat memperkuat diksi di dalam tulisan.


Contoh Pemakaian Ungkapan Idiomatik

Beberapa contoh pemakaian ungkapan idiomatik adalah sebagai berikut:

Menteri dalam negeri bertemu Presiden SBY. (salah)
Menteri dalam negeri bertemu dengan Presiden SBY. (benar)

Jadi, yang benar adalah bertemu dengan.

Di samping itu, ada beberapa kata yang berbentuk seperti itu, yaitu

Sehubungan dengan
Berhubungan dengan
Sesuai dengan 
Bertepatan dengan
Sejalan dengan

Ungkapan idiomatik lain yang perlu diperhatikan ialah
SALAH
BENAR
Terdiri
Terdiri atas/dari
Terjadi atas
Terjadi dari
Disebabkan karena
Disebabkan oleh
Membicarakan tentang
Berbicara tentang
Tergantung kepada
Bergantung pada
Baik…ataupun
Baik…maupun
Antara…dengan
Antara…dan
Tidak…melainkan
Tidak…tetapi
Menemui kesalah
Menemukan kesalahan
Menjalankan hukuman
Menjalani hukuman

Dikianlah penjelasan mengenai pengertian dan contoh ungkapan idiomatik.

Refferensi : http://jaddung.blogspot.co.id/2015/12/pengertian-dan-contoh-ungkapan-idiomatik.html

Rabu, 18 November 2015

Penggunaan Tanda Titik dan Contohnya | Sebagai pelajar, apalagi mahasiswa, sudah selayaknya mengenal ihwal tanda baca. Pelajaran EYD ini dinilai penting, sebab mereka pasti akan dihadapkan dengan tugas menulis seperti makalah, penelitian, karya sastra, dan lain sebagainya. Dalam tulisan tersebut pastilah akan menggunakan tanda baca. Kesalahan yang paling sederhana dan seringkali terjadi pada tulisan-tulisan seseorang terdapat pada penggunaan tanda titik. Mereka kerap kali salah meletakkan tanda titik dengan tanda koma. Nah, pada tulisan kali ini, kita akan belajar tentang pemakaian tanda titik. Penjelasan ini, penulis dapatkan dalam buku Pedoman Umum EYD terbitan Diva Press.
Kapan tanda titik itu dipakai?

1. Tanda titik dipakai pada akhir kalimat yang bukan pertanyaan atau seruan.
Misalnya: Perempuan itu merindukan ibunya.
Catatan: tanda titik tidak dipakai pada akhir kalimat yang akhirnya sudah bertanda titik.
Misalnya: guru itu menghimbau muridnya untuk membaca novel seperti Laskar Pelangi, 5 CM, dlsb.

2. Tanda titik digunakan untuk memisahkan angka jam, menit, dan detik yang menunjukkan waktu. Misalnya: jam 11.30.20 (pukul 11 lewat 30 menit 20 detik).

3. Tanda titik dipakai untuk memisahkan bilangan ribuan atau kelipatan yang menunjukkan jumlah. Misalnya: mahasiswa Unira, Pamekasan, mencapai 1.000 orang.
Catatan:
a. tanda titik tidak dipakai untuk memisahkan bilangan ribuan atau kelipatannya yang tidak menunjukkan jumlah. Misalnya: pada tahun 1991 perempuan itu lahir ke dunia.
b. Tanda titik tidak dipakai di belakang nama dan alamat penerima surat, nama dan alamat pengirim surat, dan di belakang tanggal surat.
Misalnya:     Yth. Sdr. Arif Rahman
Jalan Diponegoro 81
Jakarta
12 November 2015

4. Tanda titik dipakai di belakang angka atau huruf dalam suatu bagan, ikhtisar, atau daftar.
Misalnya: I. PEMBUKAAN
A. Latar Belakang Masalah
B. Rumusan Masalah

5. Tanda titik digunakan dalam daftar pustaka di antara nama penulis, judul tulisan, yang tidak berakhir dengan tanda tanya atau tanda seru, dan tempat terbit.
Misalnya: Hirata, Andrea. Laskar Pelangi. Yogyakarta: Bentang Pustaka

Nah, itulah sekilas penjelasan mengenai Penggunaan Tanda Titik dalam sebuah tulisan. Semoga artikel di atas bisa membantu Anda dalam mempelajari hal-hal yang menyangkut tata bahasa Indonesia. Pantau terus blog ini untuk mendapatkan artikel-artikel terbaru tentang bahasa dan kesusastraan Indonesia.

Senin, 14 September 2015

Pengertian dan Contoh Paragraf Persuasi | Sebelumnya, kita telah belajar mengenai paragraf deskripsi, paragraf narasi, paragraf eksposisi, dan paragraf argumentasi. Nah, kali ini saya akan membahas mengenai paragraf persuasi. Apa dan bagaimana paragraf persuasi itu, kita akan coba jelaskan agak panjang pada artikel ini. Nanti akan disertakan pula contohnya.

Penjelasan mengenai paragraf persuasi ini didasarkan pada buku Gorys Keraf yang berjudul "Argumentasi dan Narasi"(Gramedia, 2007). Buku tersebut sangat saya rekomendasikan buat Anda yang ingin tahu lebih mendalam mengenai paragraf argumentasi dan paragraf narasi, lebih-lebih paragraf persuasi.

Pengertian Paragraf Persuasi

Menurut Keraf, persuasi adalah suatu seni verbal yang bertujuan untuk meyakinkan seseorang agar melakukan sesuatu yang dikehendaki pembicara pada waktu ini atau pada waktu yang akan datang. Karena tujuan terakhir adalah agar pembaca atau pendengar melakukan sesuatu, maka persuasi dapat dimasukkan pula dalam cara-cara untuk mengambil keputusan. Mereka yang mendapat persuasi harus mendapat keyakinan, bahwa keputusan yang diambilnya merupakan keputusan yang benar dan bijaksana dan dilakukan tanpa paksaan.

Persuasi tidak mengambil bentuk paksaan atau kekerasan terhadap orang yang menerima persuasi. Oleh sebab itu, ia memerlukan juga upaya-upaya tertentu untuk merangsang orang mengambil keputusan sesuai dengan keinginannya. Upaya yang biasa digunakan adalah menyodorkan bukti-bukti, walaupun tidak setegas seperti yang dilakukan dalam argumentasi. Bentuk-bentuk persuasi yang dikenal umum adalah: propaganda yang dilakukan oleh golongan-golongan atau badan-badan tertentu, iklan-iklan dalam surat kabar, majalah, atau media massa lainnya, selebaran-selebaran, kampanye lisan, dan sebagainya. Semua bentuk persuasi tersebut biasanya menggunakan pendekatan emotif, yaitu berusaha untuk membangkitkan dan merangsang emosi, misalnya rasa kebencian bila menyangkut ideologi, atau rasa heroisme untuk melawan atau menyokong suatu kelompok, dan sebagainya.


Untuk meyakinkan seseorang mengenai apa yang dipersuasikan, pembicara atau penulis harus menimbulkan kepercayaan pada hadirin atau pembaca. Kepercayaan merupakan unsur utama dalam persuasi. Walaupun kepercayaan merupakan landasan utama persuasi, tindakan persuasi itu sendiri tidak harus diarahkan kepada jangkauan yang lebih jauh, yaitu agar yang diajak bicara melakukan sesuatu.

Seorang kawan yang ingin meminjam catatan perkuliahan kita, berusaha meyakinkan kita agar dapat meminjamkan catatan itu, dan berjanji dengan sungguh-sungguh akan mengembalikannya dalam satu atau dua hari lagi. Walaupun kita mengetahui bahwa kawan itu tidak dapat dipercaya, tetapi berkat persuasi yang dilakukan akhirnya kita memberikan juga apa yang dimintanya. Ketika ditangkap polisi karena melakukan pelanggaran lalu-lintas, polisi mengenakan tilang pada kita; namun kita berusaha meyakinkan polisi bahwa pelanggaran itu tidak sengaja dilakukan, karena kita belum pernah lewat di tempat itu. Polisi akhirnya percaya akan keterangan kita dan tidak jadi mengenakan tilang. Kita dibebaskan karena usaha persuasif yang telah kita lakukan.

Contoh Paragraf Persuasi

Berikut ini adalah contoh paragraf persuasi.

Contoh 1
Pilihlah calon bupati dan wakil bupati nomer 2. Pasangan ini sudah punya pengalaman dalam pemerintahan karena mereka petahana. Pengalamannya selama lima tahun memimpin Kabupaten Kambing Gembira merupakan modal penting untuk melanjutkan kiprahnya di pemerintahan. Anda tidak perlu ragu kapasitasnya. Hasil dari kerja kerasnya sudah banyak yang dinikmati warga. Pemerintahan selanjuatnya tentu akan melanjutkan dan mengembangkan keberhasilan-keberhasilan yang sudah didapat sebelumnya.

Contoh 2
Bila ada waktu luang, datanglah ke perpustakaan kami. Ada banyak koleksi bahan pustaka yang bisa Anda baca. Temanya pun beragam. Buku-bukut tersebut akan membuat wawasan pengetahuan Anda menjadi luas. Jadi, jangan buang waktu Anda hanya untuk bersantai-santai. Letakkan ponsel Anda, ambil buku dan baca. Itu kegiatan yang lebih bermanfaat.
Demikian sekilas penjelasan mengenai pengertian dan contoh paragraf persuasi. Semoga ulasan ini membantu Anda memahami apa dan bagaimana paragraf persuasi tersebut.

Refferensi : http://jaddung.blogspot.com/2015/09/pengertian-dan-contoh-paragraf-persuasi.html

Jumat, 28 Agustus 2015

Pengertian dan Contoh Paragraf Narasi | Sebelumnya, kita sudah belajar tentang paragraf deskripsi, paragraf eksposisi, dan paragraf argumentasi. Kali ini kita saya akan coba menurunkan artikel mengenai pengertian dan contoh paragraf narasi.

Bentuk-bentuk tulisan semacam itu dijelaskan di sini hanya secara singkat saja. Bila Anda berkeinginan memperoleh penjelasan yang rinci, ada baiknya membaca buku-buku khusus tentang tata bahasa Indonesia. Penjelasan dalam artikel ini juga dikutip dari buku-buku.

Pengertian Paragraf Narasi

Dalam buku �Cerdas Berbahasa Indonesia� karya Engkos Kosasih (Penerbit Erlangga, 2008) disebutkan, bahwa narasi secara sederhana diartikan sebagai paragraf yang bebrisi cerita atau kejadian. Lebih jelasnya lagi, paragraf narasi adalah paragraf yang menjelaskan/menguraikan suatu peristiwa atau kejadian berdasarkan urutan waktu.

Dalam buku �Argumentasi dan Narasi� (Gramedia, 2007), Gorys Keraf memberikan definisi bahwa paragraf narasi adalah suatu bentuk wacana yang sasaran utamanya adalah tindak-tanduk yang dijalin dan dirangkaikan menjadi sebuah peristiwa yang terjadi dalam suatu kesatuan waktu. Atau dapat juga dirumuskan dengan cara lain: narasi adalah suatu bentuk wacana yang berusaha menggambarkan dengan sejelas-jelasnya kepada pembaca suatu peristiwa yang telah terjadi. Narasi berusaha menjawab pertanyaan �Apa yang telah terjadi?�.

Baca Juga: Pengertian dan Contoh Paragraf Deduktif dan Induktif

Narasi ada dua macam, yaitu narasi ekspositoris dan narasi sugestif. Narasi ekspositoris adalah narasi yang hanya bertujuan untuk memberi informasi kepada para pembaca, agar pengetahuannya bertambah luas. Sementara narasi sugestif adalah narasi yang disusun dan disajikan sekian macam, sehingga mampu menimbulkan daya khayal yang semakin bertambah.

Narasi ekspositoris terkadang bersifat khusus dan kadang bersifat generalisasi. Narasi ekspositoris generalisasi adalah narasi yang menyampaikan suatu proses yang umum,  yang dapat dilakukan siapa saja, dan dapat pula dilakukan secara berulang-ulang. Narasi ekspositoris yang bersifat khusus adalah narasi yang berusaha menceritakan suatu peristiwa yang khas, yang hanya terjadi satu kali.

Pola Pengembangan Narasi

Paragraf narasi dapat dikembangkan dengan berbagai pola, antara lain dengan urutan waktu dan urutan tempat. Urutan waktu disebut pula urutan kronologis. Dalam pola ini, kejadian-kejadian yang diceritakan disampaikan dengan urutan waktu, misalnya dari pagi hingga pagi lagi, dari zaman dulu sampai zaman sekarang, dari permulaan hingga selesai, dan sebagainya.

Urutan ruang dalam istilah lain disebut pola spasial. Dalam pola ini, kejadian-kejadian dalam paragraf mengikuti bagian-bagian dari suatu tempat. Misalnya dari barat ke timur, dari pinggir ke tengah, dari dalam ke luar, dan sebagainya.

Contoh Paragraf Narasi

Inilah contoh paragraf narasi:
Pagi-pagi sekali, saat aku mau berangkat sekolah, tiba-tiba nenek mengeluh sakit perut. Ia memegang perutnya sambil meringis-ringis. Isi perutnya bergolak, kata nenek. Ia tampak tidak tahan menahan rasa sakit itu.

Beberapa saat saya tertegun, bingung mau berbuat apa. Tas yang sudah saya cangklong, saya lempar ke tempat tidur. Nenek segera saya bawa ke Puskesmas yang tak jauh dari rumah. Dengan hati-hati, saya bonceng ia dengan sepeda butut saya.

Sesampai di Puskesmas, saya langsung bergegas menuju tempat perawatan. Seorang dokter menanyai gejala apa yang terjadi pada perut nenek sambil memeriksa dengan alat-alat kesehatannya. Saya menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, sesekali ditimpali nenek yang tetap meringis kesakitan.

Beberapa menit berlalu, nenek tampak lebih segar. Sakitnya sudah mendingan. Dokter memberinya obat dan menyuntiknya. Ia juga bilang bahwa sakit nenek tidak terlalu parah. Itu hanya efek dari terlalu banyak mengonsumsi cabe. Benar adanya, nenek tadi malam menghabiskan rujak mangga yang saya bikin.

Selesai menerima obat dan membayarnya, saya lalu bergegas menuju rumah. Jam di tangan sudah menunjukkan pukul 07:20 WIB. Duh, saya sudah terlambat datang ke sekolah. Tapi, saya bersyukur karena tidak terjadi hal-hal yang mengkhawatirkan pada diri nenek.

Nah, itulah sekelumit penjelasan mengenai pengertian dan contoh paragraf narasi. Mudah-mudahan membantu Anda yang sedang belajar mengenai tema dimaksud. Untuk mengetahu artikel-artikel lainnya terkait bahasa Indonesia, silahkan pantau terus blog ini.

Kamis, 27 Agustus 2015

Pengertian dan Contoh Paragraf Argumentasi | Sebelumnya kita sudah belajar tentang paragraf eksposisi dan paragraf deskripsi. Kali ini kita coba belajar tentang pengertian dan contoh paragraf argumentasi. Pembahasan mengenai bentuk-bentuk tulisan insya Allah akan terus dilakukan di blog ini. Mudah-mudahan saja bisa bermanfaat untuk Anda yang membutuhkannya.

Masih seperti sumber referensi pada tulisan sebelumnya, kali ini pun akan diambil tanpa pengubahan dari karya Gorys Keraf. Namun, tulisan kali ini diambil dari buku yang berbeda dengan judul �Argumentasi dan Narasi� (Gramedia, 2007).

Pengertian Paragraf Argumentasi

Argumentasi adalah suatu bentuk retorika yang berusaha untuk mempengaruhi sikap dan pendapat orang lain, agar mereka itu percaya dan bertindak sesuai dengan apa yang diinginkan oleh penulis atau pembicara. Melalui argumentasi penulis berusaha merangkaikan fakta-fakta sedemikian rupa, sehingga ia mampu menunjukkan apakah suatu pendapat atau suatu hal tertentu itu benar atau tidak. Argumentasi merupakan dasar yang paling fundamental dalam ilmu pengetahuan. Dan dalam dunia ilmu pengetahuan, argumentasi itu tidak lain daripada usaha untuk mengajukan bukti-bukti atau menentukan kemungkinan-kemungkinan untuk menyatakan sikap atau pendapat mengenai suatu hal.

Dasar sebuah tulisan yang bersifat argumentatif  adalah berpikir kritis dan logis. Untuk itu ia harus bertolak dari fakta-fakta atau eviden-eviden yang ada. Fakta-fakta dan evidensi itu itu dapat dijalin dalam metode-metode sebagaimana dipergunakan juga oleh eksposisi. Tetapi dalam argumentasi terdapat motivasi yang lebih kuat. Eksposisi hanya memerlukan kejelasan, sebab itu fakta-fakta dipakai seperlunya. Namun argumentasi di samping memerlukan kejelasan, memerlukan juga keyakinan dengan perantara fakta-fakta itu. Sebab itu, penulis harus meneliti apakah semua fakta yang akan dipergunakan itu benar, dan harus diteliti pula bagaimana relevnsi kualitasnya dengan maksudnya. Dengan fakta yang benar, ia dapat merangkaikan suatu penuturan yang logis menuju kepada suatu kesimpulan yang dapat dipertanggungjawabkan. Seorang yang kurang hati-hati dan tidak cermat menganalisa data-data tersebut, dapat menggagalkan seluruh usaha pembuktiannya.

Baca Juga: Pengertian dan Contoh Paragraf Deduktif dan Induktif

Contoh Paragraf Argumentatif

Berikut ini adalah contoh paragraf argumentasi yang diambil dari harian Kompas dan terdapat di buku Keraf halaman 95.

Redaksi Yth.,

Kami sebagai pembaca setia Kompas, akhir-akhir ini merasa sangat heran atas kejadian aneh yang terjadi di tanah air kita ini, yaitu tindakan dari sementara pejabat-pejabat kita, dalam menyelesaikan perkara-perkaranya.

Akhir-akhir ini ada beberapa perkara yang begitu saja diselesaikan di luar pengadilan, misalnya manipulasi BE dan perkara Bimas Coopa yang sudah banyak disorot oleh Pers kita. Makan keheranan kami bertambah setelah membaca berita di harian Kompas edisi tanggal 26 Maret 1970 yang berjudul �Minta Ampun atau Dituntut�. Dalam berita itu ditulis bahwa para jamaah haji yang datang dari Priok dengan kapal Gembella telah dianggap bersalah melanggar Kepres No. 22 dan Inpres no.6/1969. Selain itu mereka juga dipersalahkan telah menyalah-gunakan paspor biasa mereka untuk naik haji.

Dala hal ini jelas mereka bersalah. Maka kami juga mengajukan sebuah pertanyaan kepada yang bersangkutan mengapa justru disambut dengan formulir permintaan ampun dan menandatanginya. Sedang yang tidak, akan diproses secara verbal. Bahkan juga disebutkan agar mereka yang telah bersalah itu mendapat kesempatan untuk bertanya kesalahannya.

Apakah tindakan itu betul menurut hukum? Kami berani bertaruh bahwa semuanya akan minta ampun dan menyadari kesalahannya. Terang tidak ada satu manusia normal pun yang mau dihukum, kan lebih enak minta ampun dan diampuni.

Maka dengan ini kami menyatakan kekuatiran kami jika hal semacam ini berlangsung berlarut-larut, bakal akan ada formulir permintaan ampun bagi para koruptor, pembunuh, copet, dan sebagainya.

Sebagai akhir tulisan kami, kami serukan agar para pemimpin negara bersikap korect [sic!] dan sungguh-sungguh dalam menyelesaikan tugas-tugas, demi kemajuan negara kita yang keadaan tertib hukumnya telah sempat diobrak-abrik pada jaman Orla.

(Kompas, 10 April 1970)

Nah, itulah sekelumit penjelasan mengenai pengertian dan contoh paragraf argumentasi. Untuk mendapatkan penjelasan yang lebih rinci, Anda bisa membaca buku Keraf di atas. Mudah-mudahan ulasan singkat ini bisa membantu Anda memahami paragraf argumentasi sekaligus dengan contohnya. Salam.

Minggu, 21 Juni 2015

Pengertian dan Contoh Kata Umum dan Khusus // Kita mungkin pernah mendengar istilah kata umum dan kata khusus di dalam kelas-kelas bahasa Indonesia. Pelajaran tentang tema tersebut sebenarnya sudah banyak disampaikan oleh para guru di sekolah-sekolah. Namun, tak ada salahnya kita belajar kembali di sini. Artikel berikut ini masih tetap saya ambil dari buku "Cermat Berbahasa Indonesia untuk Perguruan Tinggi" karangan E. Zaenal Arifin dan S. Amran Tasai, dicetak oleh Akapress, Jakarta, tahun 2010.


Pengertian Kata Umum dan Khusus


Kata ikan memiliki acuan yang lebih luas daripada mujair atau tawes. Ikan tidak hanya mujair atau tidak hanya tawes, tetapi ikan terdiri atas beberapa macam, seperti gurame, lele, sepat, tuna baronang, nila, ikan koki, dan ikan mas. Sebaliknya, tawes pasti tergolong jenis ikan; demikian juga gurame, lele, sepat, tuna, dan baronang pasti merupakan jenis ikan. Dalam hal ini, kata yang acuannya lebih luas disebut kata umum, seperti ikan, sedangkan kata yang acuannya lebih khusus disebut kata khusus, seperti gurame, lele, tawes, dan ikan mas.

Baca Juga: Pengertian dan Contoh Kalimat Efektif
                 Cara Menulis Resensi Buku

Kata umum disebut superordinat, kata khusus disebut hiponim.

Contoh kata bermakna umum yang lain adalah bunga.  Kata bunga memiliki acuan yang lebih luas daripada mawar. Bunga bukan hanya mawar, melainkan juga ros, melati, dahlia, anggrek, dan cempaka. Sebaliknya, melati pasti sejenis bunga; anggrek juga tergolong bunga, dahlia juga merupakan sejenis bunga. Kata bunga yang memiliki acuan yang lebih luas disebut kata umum, sedangkan kata dahlia, cempaka, melati, atau ros memiliki acuan yang lebih khusus dan disebut kata khusus.

Baca Juga: Contoh Daftar Riwayat Hidup
                 Contoh Surat Lamaran Kerja

Pasangan kata umum dan kata khusus harus dibedakan dalam pengacuan yang generik dan spesifik.

Sapi, kerbau, kuda, dan keledai adalah hewan-hewan yang termasuk segolongan, yaitu golongan hewan mamalia. Dengan demikian, kata hewan mamalia bersifat umum (generik), sedangkan sapi, kerbau, kuda, dan keledai adalah kata khusus (spesifik).

Nah, itulah sekilas penjelasan mengenai pengertian dan contoh kata umum dan kata khusus. Walau singkat, mudah-mudahan artikel ini bisa membantu Anda yang sedang belajar tata bahasa Indonesia. Salam.

Refferensi : http://jaddung.blogspot.co.id/2015/05/pengertian-dan-contoh-kalimat-efektif.html

Sabtu, 20 Juni 2015

Pengertian dan Contoh Makna Denotatif dan Konotatif | Dalam bahasa Indonesia, kita sering mendengar pelajaran mengenai makna konotatif dan denotatif. Bagi Anda yang belum paham apa itu makna denotatif dan konotatif bisa membaca artikel berikut ini yang saya ambil dari buku �Cermat Berbahasa Indonesia untuk Perguruan Tinggi� karangan E. Zaenal Arifin dan S. Amran Tasai (Akapress, 2010).

Pengertian dan Contoh Makna Denotatif dan Konotatif

Pengertian Makna Denotatif dan Konotatif

Makna denotatif adalah makna dalam alam wajar secara eksplisit. Makna wajar ini adalah makna yang sesuai dengan apa adanya. Denotatif adalah suatu pengertian yang dikandung sebuah kata secara objektif. Sering juga makna denotatif disebut makna konseptual. Kata makan, misalanya, bermakna memasukkan sesuatu ke dalam mulut, dikunyah, dan ditelan. Makna makan seperti itu adalah makna denotatif.

Makna konotatif adalah makna asosiatif, makna yang timbul dari sikap sosial, sikap pribadi, dan kriteria tambahan yang dikenakan pada sebuah makna konseptual. Kata makan dalam makna konotatif untung atau pukul.

Makna konotatif berbeda dari zaman ke zaman. Ia tidak tetap. Kata kamar kecil mengacu kepada kamar yang kecil (denotatif), tetapi kamar kecil berarti juga jamban (konotatif). Dalam hal ini, kita kadang-kadang lupa apakah suatu makna kata itu denotatif atau konotatif.

Kata rumah monyet mengadung makna konotatif. Akan tetapi, makna konotatif itu tidak dapat diganti dengan kata lain sebab nama lain untuk kata itu tidak ada yang tepat. Begitu juga dengan istilah rumah asap.

Baca Juga: Cara Membedakan Fakta dan Opini dalam Tulisan
                 Pengertian dan Contoh Kalimat Efektif Lengkap

Makna-makna konotatif sifatnya lebih profesional dan operasional daripada makna denotatif. Makna denotatif adalah makna yang umum. Dengan kata lain, makna konotatif adalah makna yang dikaitkan dengan suatu kondisi dan situasi tertentu.

Contoh:

Rumah  =  gedung, wisma, graha
Penonton  =  pemirsa, pemerhati
Dibuat  = dirakit, dibuat

Makna konotatif dan denotatif berhubungan erat dengan kebutuhan pemakai bahasa. Makna denotatif ialah arti harfiah suatu kata tanpa ada satu makna yang menyertainya, seangkan makna konotatif adalah makna kata yang mempunyai tautan pikiran, perasaan, dan lain-lain yang menimbulkan nilai rasa tertentu. Dengan kata lain, makna denotatif adalah makna yang bersifat umum, sedangkan makna konotatif lebih bersifat pribadi dan khusus.

Kalimat di bawah ini menunjukkan hal itu.
Dia adalah wanita cantik (denotatif)
Dia adalah wanita manis (konotatif)

Kata cantik lebih umum daripada kata manis. Kata cantik akan memberikan gambaran umum tentang seorang wanita. Akan tetapi, dalam kata manis terkandung suatu maksud yang lebih bersifat memukau perasaan kita.

Nilai kata-kata itu dapat bersifat baik dan dapat pula bersifat jelek. Kata-kata yang berkonotasi jelek dapat kita sebutkan seperti kata tolol (lebih jelek daripada bodoh), mampus (lebih jelek daripada mati), gubuk (lebih jelek daripada rumah). Di pihak lain, kata-kata itu dapat pula mengandung arti kiasan yang terjadi dari makna denotatif referen lain. Makna yang dikenakan kepada kata itu dengan sendirinya akan ganda sehingga kontekslah yang lebih berperan dalam hal ini.

Perhatikan kalimat di bawah ini.
Sejak dua tahun yang lalu ia membanting tulang untuk memperoleh kepercayaan masyarakat.

Kata membanting tulang (makna denotatif adalah membanting sebuah tulang) mengandung makna �bekerja keras� yang merupakan sebuah kata kiasan. Kata membanting tulang dapat kita masukkan ke dalam golongan kata yang bermakna konotatif.

Baca Juga: Cara Menggunakan Kata "Masing-Masing" dan "Tiap-tiap"
                 Contoh Paragraf Deskripsi

Kata-kata yang dipakai secara kiasan pada suatu kesempatan penyampaian seperti ini disebut idiom atau ungkapan. Semua bentuk idiom atau ungkapan tergolong dalam kata yang bermakna konotatif. Kata-kata idiom atau ungkapan adalah sebagai berikut:

Keras kepala, panjang tangan, sakit hati

Nah, itulah penjelasan mengenaik pengertian dan contoh makna denotatif dan konotatif. Semoga penjelasan di atas bisa membantu Anda memahami apa yang dimaksud. Bila terdapat kekeliruan atau pertanyaan, bisa menuliskannya di kolom komentar di bawah postingan ini. Dan jika ingin membaca secara banyak hal mengenai tata bahasa, bisa membeli buku di atas. Salam.

Jumat, 19 Juni 2015

Pengertian dan Contoh Diksi | Kita mungkin pernah mendengar kata diksi, terutama saat membicarakan sastra. Dalam sastra, penggunaan diksi selalu disinggung karena memiliki peran yang cukup penting. Di dalam puisi, misalnya, pemilihan diksi berkorelasi dengan irama musikal yang akan ditimbulkan puisi tersebut.
Pengertian dan Contoh Diksi


Pengertian Diksi 

Lalu, apa sebenarnya diksi itu?
Diksi adalah pilihan kata. Maksudnya, kita memilih kata yang tepat untuk menyatakan sesuatu. Pilihan kata merupakan satu unsur sangat penting, baik dalam dunia katang-mengarang maupun dalam dunia tutur setiap hari. Dalam memilih kata yang setepat-tepatnya untuk menyatakan suatu maksud, kita tidak dapat lari dari kamus. Kamus memberikan suatu ketepatan kepada kita tentang pemakaian kata-kata. Dalam hal ini, makna kata yang tepatlah yang diperlukan.

Baca Juga: Pengertian dan Contoh Paragraf Deduktif dan Induktif
                 Contoh Paragraf Deskripsi
                 Cara Menulis Resensi Buku

Kata yang tepat akan membantu seseorang mengungkapkan dengan tepat apa yang ingin disampaikannya, baik lisan maupun tulisan. Di samping itu, pemilihan kata itu harus pula sesuai dengan situasi dan tempat penggunaan kata itu.

Contoh: 
Nenekku mampus tadi pagi (tidak tepat)
Nenekku meninggal dunia tadi pagi (tepat) 

Itulah sekelumit mengenai pengertian diksi sekaligus dengan contohnya. Ada banyak contoh lain yang bisa Anda tuliskan. Semoga artikel singkat ini bisa membantu Anda memahami apa itu diksi dan contohnya. Artikel di atas diambil dari buku �Cermat Berbahasa Indonesia untuk Perguruan Tinggi� karangan E. Zaenal Arifin dan S. Amran Tasai (Akapress, 2010).
Pengertian dan Contoh Paragraf Deduktif dan Induktif | Bagi sebagian kita, mungkin macam-macam paragraf belum kita kenal semua. Atau dikenal, namun sulit menentukan mana yang merupakan paragraf deduktif dan mana yang induktif. Nah, di bawah ini akan dijelaskan panjang lebar mengenai pengertian dan contoh paragraf deduktif dan induktif. Anda bisa membacanya untuk bekal pengetahuan tata bahasa Indonesia.

Penjelasan di bawah ini diambil dari buku �Cermat Berbahasa Indonesia untuk Perguruan Tinggi� karangan E. Zaenal Arifin dan S. Arman Tasai (Akapress, Jakarta, 2010) dengan pengubahan seperlunya. Buku ini menjelaskan banyak hal mengenai tata bahasa, salah satunya tentang pengertian dan contoh paragraf deduktif dan induktif.
Pengertian dan Contoh Paragraf Deduktif dan Induktif
Paragraf deduktif
Paragraf deduktif adalah paragraf yang kalimat topiknya ada di bagian awal.
Contoh:
Arang aktif ialah sejenis arang yang diperoleh dari suatu pembakaran yang mempunyai sifat tidak alrut dalam air. Arang ini dapat diperoleh dari pembakaran zat-zat tertentu, seperti ampas tebu, tempurung kelapa, dan tongkol jagung. Jenis arang ini banyak digunakan dalam beberapa industri pangan atau nonpangan. Industri yang menggunakan arang aktif adalah industri kimia dan farmasi, seperti pekerjaan memurnikan minyak, menghilangkan bau yang tidak murni, dan menguapkan zat yang tidak perlu.
Paragraf Induktif
Paragraf Induktif adalah paragraf yang kalimat topiknya ada di bagian akhir.
Contoh:
Dua anak kecil ditemukan tewas di pinggir jalan Jenderal Sudirman. Seminggu kemudian seorang anak wanita hilang ketika pulang dari sekolah. Sehari kemudian polisi menemukan bercak-bercak darah di kursi belakang mobil John. Polisi juga menemukan potret dua orang anak yang tewas di Jalan Jenderal Sudirman di dalam kantung celana John. Dengan demikian, John adalah orang yang dapat dimintai pertanggungjawaban tentang hilangnya tiga anak itu.
Catatan: Kata yang dicetak tebal dalam dua contoh di atas adalah kalimat topik.
Baca juga: Contoh Daftar Riwayat Hidup Terbaru
                Contoh Surat Lamaran Kerja Terbaru

Ada pula paragraf yang tidak memperlihatkan kalimat utamanya. Gagasan utama sebuah paragraf itu berada di seluruh paragraf. Paragraf seperti ini tidak mempunyai kalimat yang umum. Semua kalimat bersifta khusus. Biasanya paragraf seperti ini terdapat pada paragraf yang bersifat naratif.
Contoh:
Pada tengah hari itu Pak Lurah datang. Bapak Bupati datang ke tempat itu. Tiga jam kemudian kita melihat orang-orang telah berkumpul di arena itu. Tidak pula ketinggalan artis-artis muda belia. Para wartawan pun telah pula memanfaatkan waktu.
Syarat-Syarat Kalimat Topik
Kalimat topik dalam sebuah paragraf haruslah kalimat ideal, bukan kalimat yang membingungkan. Ia harus bersifat umum, jangan mendetail.
Kalimat topik yang ideal adalah kalimat topik yang jelas maksudnya dan mudah dipahami. Pembaca tidak usah berpikir lama-lama apa yang dimaksudkan oleh penulis. Biasanya, kalimat yang mudah dipahami itu adalah kalimat yang sederhana, ringkas, dan tidak berbelit-belit. Sebaliknya, kalimat topik yang tidak ideal atau tidak jelas dan membingungkan, harus dihidndari.
Contoh:
Membingungkan: Sistem pondasi cakar ayam penemuan almarhum Prof. Sedyatmo yang terkenal akhir-akhir ini di kalangan internasional, terutama di negara Asean karena dipakai untuk membangung berbagai struktur di atas tanah lembek.
Seharusnya: sistem fondasi cakar ayam dipakai untuk membangun berbagai struktur di atas tanah lembek.
Kalimat topik yang baik adalah kalimat yang umum atau kalimat yang tidak mendetail. Perhatikan contoh berikut.
Umum: Penelitian ini memerlukan berbagai faktor agar selesai dengan memuaskan.
Mendetail: Penelitian ini memerlukan biaya yang banyak, waktu yang cukup, dan tenaga yang terampil agar selesai dengan memuaskan.
Sebuah paragraf harus terdiri dari satu kalimat topik dan beberapa kalimat penjelas. Kalimat-kalimat penjelas itulah yang membuat paragraf itu benar-benar �biacara� kepada pembacanya. Cara menjelaskan kalimat topik itu dapat dengan mengulasnya, menyokong, menceritakan, atau memberikan definisi secara jelas. Dengan demikian, sebuah paragraf menjadi suatu pembicaraan yang meyakinkan.
Baca Juga: Cara Menulis Resensi Buku
                 Tips Menulis dari AS Laksana

Penulis yang berpengalaman tidak akan membuat kalimat penjelas yang masih bersifat umum karena kalimat penjelas yang masih bersifat umum akan menyebabkan pembaca harus meraba-raba makna paragraf. Ia akan memberikan uraian-uraian yang terperinci untuk membuat paragraf dapat berbicara kepada pembaca.
Paragraf berikut memperlihatkan kepada kita bahwa penulisnya membuat kalimat-kalimat penjelas yang terperinci sehingga pembaca akan merasa akan isi paragraf tersebut.
Kemajuan teknologi di negara Republik Indonesia pada akhir-akhir ini sangat dirasakan oleh masyarakat sebagai suatu prestasi besar bangsa Indonesia. Hal itu ditunjang oleh beberapa faktor nyata yang sangat dibanggakan. Kehadiran Industri Pesawat Terbang PT Dirgantara Indonesia, ditambah pula kehadiran Puspitek dan beberapa pembangkit tenaga listrik memberikan bukti tentang kemajuan teknologi itu. Apalagi, di sana-sini tidak pula ketinggalan beberapa industri mobil, elektronik, dan obat-obatan.
Nah, itulah sedikit penjelasan mengenai pengertian dan contoh paragraf deduktif dan induktif. Semoga bermanfaat untuk Anda. Salam.

Senin, 30 Maret 2015

Pengertian, Macam-Macam, dan Contoh Kalimat Majemuk  |  Pada artikel sebelumnya, kita telah mempelajari tentang pengertian serta contoh singkatan dan akronim. Kali ini kita akan belajar mengenai pengertian, macam-macam, dan contoh kalimat majemuk. Semoga artikel berikut ini bisa membantu Anda yang sedang belajar tata bahasa Indonesia.

Menurut strukturnya, kalimat bahasa Indonesia dapat berupa kalimat tunggal dapat pula berupa kalimat majemuk. Gagasan yang tunggal dinyatakan dalam kalimat tunggal, sementara kalimat yang bersegi-segi diungkapkan dalam kalimat majemuk.

Nah, pada kesempatan kali ini fokus pembahasan akan bertumpu pada pengertian dan contoh kalimat majemuk serta macam-macamnya. Sebagaimana pola kalimat tunggal, kalimat majemuk memiliki banyak jenis, yaitu kalimat majemuk setara (koordinatif), kalimat majemuk tidak setara (subordinatif), dan kalimat majemuk campuran (koordinatif-subordinatif). Dari ketiga jenis kalimat majemuk tersebut, masing-masing punya bagian-bagian yang beragam. Lebih jelas mengenai pembahasan tersebut, mari ikuti paparan di bawah ini.
Pengertian, Macam-Macam, dan Contoh Kalimat Majemuk

Macam-macam Kalimat Majemuk

A. Kalimat majemuk setara
Kalimat majemuk setara terdiri dari dua kalimat tunggal atau lebih. Kalimat majemuk jenis ini dikelompokkan menjadi empat jenis:

1. Kalimat majemuk setara penjumlahan, yaitu dua kalimat tunggal atau lebih yang sejalan dan dapat dihubungkan oleh kata dan atau serta.

Contoh:
Aku makan
Dia minum
Aku makan dan dia minum

Tanda koma bisa digunakan jika kalimat yang digabungkan lebih dari dua kalimat tunggal.

Contoh:
Saya makan
Dia minum
Mereka duduk-duduk saja
Saya makan, dia minum, dan mereka duduk-duduk saja.

2. Kalimat majemuk setara pertentangan, yaitu dua kalimat tunggal yang berbentuk kalimat setara dan menunjukkan makna pertentangan, dapat dihubungkan oleh kata tetapi.

Contoh:
Amerika dan Jepang tergolong negara maju
Indonesia dan Brunei tergolong negara berkembang
Jepang tergolong negara maju, tetapi Indonesia tergolong negara berkembang.

Kata-kata penghubung lain yang bisa menghubungkan dua kalimat tunggal dalam kalimat majemuk setara pertentangan ialah kata sedangkan dan melainkan.

3. Kalimat majemuk setara perurutan, yaitu dua kalimat tunggal atau lebih yang kejadiannya dikemukakan secara berurutan, dapat dihubungkan oleh kata lalu dan kemudian.

Contoh:
Upacara serah terima jabatan pengurus OSIS sudah usai, lalu kepala sekolah mengucapkan selamat kepada pengurus yang baru.

4. Kalimat majemuk pemilihan, yaitu dua kalimat tunggal atau lebih yang menunjukkan pemilihan, dapat dihubungkan oleh kata atau.

Contoh:
Pemilik rekening listrik bisa membayar tagihan ke kantor PLN, atau bisa juga ke bank dengan cara mentransfer.

Kalimat Majemuk Setara Rapatan
Dalam kalimat majemuk setara, ada juga yang berbentuk kalimat rapatan. Kalimat majemuk setara rapatan adalah suatu bentuk yang merapatkan dua atau lebih kalimat tunggal. Yang dirapatkan adalah unsur subjek dan unsur objek yang sama. Unsur yang sama tersebut cukup disebutkan satu kali.

Contoh:
Aku berlatih
Aku bertanding
Aku berhasil menang
Aku berlatih, aku bertanding, aku berhasil menang
Aku berlatih, bertanding, dan berhasil menang

B. Kalimat Tidak Setara
Kalimat majemuk tidak setara terdiri atas satu suku kalimat yang bebas (klausa bebas) dan satu suku kalimat atau lebih yang tidak bebas (klausa terikat). Jalinan kalimat ini menggambarkan taraf kepentingan yang berbeda-beda di antara unsur gagasan yang majemuk. Inti gagasan dituangkan ke dalam induk kalimat, sedangkan pertaliannya dari sudut pandangan waktu, sebab, akibat, tujuan, syarat, dan sebagainya dengan aspek gagasan yang lain diungkapkan dalam anak kalimat.

Contoh:
Komputer itu dilengkapi dengan alat-alat modern (tunggal)
Mereka masih dapat mengacaukan data-data komputer (tunggal)
Walaupun komputer itu dilengkapi dengan alat-alat modern, mereka masih dapat mengacaukan data-data komputer.

Baca Juga: Cara Penggunaan Kata "Dari" dan "Daripada"

Kalimat Majemuk Taksetara yang Berunsur Sama
Kalimat majemuk taksetara dapat dirapatkan andaikata unsur-unsur subjeknya sama.

Contoh:
Kami sudah lelah
Kami ingin pulang
Karena sudah lelah, kami ingin pulang

Pada anak kalimat terdapat kata kami sebagai subjek anak kalimat, dan pada induk kalimat terdapat pula kata kami sebagai subjek induk kalimat. Dalam hal seperti ini, subjek itu ditekankan pada induk kalimat sehingga subjek pada anak kalimat boleh dihilangkan, dan bukan sebaliknya.

Karenanya, diperoleh suatu kaidah:
jika dalam anak kalimat tidak terdapat subjek, itu berarti bahwa subjek anak kalimat sama dengan subjek induk kalimat.
Penghilangan Kata Penghubung
Ada beberapa kalimat majemuk taksetara rapatan yang mencoba mengadakan penghematan dengan menghilangkan penanda anak kalimat sehingga kalimat itu menjadi salah.

Contoh:
Membaca surat itu, saya sangat terkejut

Membaca surat itu (Anak kalimat)
Saya sangat terkejut (Induk kalimat)

Subjek anak kalimat itu persis sama dengan subjek pada induk kalimat, yaitu saya.
Kalau tidak ada penanda pada anak kalimat, kalimat majemuk itu tidak benar (tidak baku). Penanda yang dapat dipakai ialah setelah sehingga kalimat itu menjadi:

Setelah (saya) membaca surat itu, saya sangat terkejut.
Setelah membaca surat itu, saya sangat terkejut.

Baca Juga: Cara Penggunaan Kata Masing-Masing dan Tiap-Tiap

C. Kalimat Majemuk Campuran
Kalimat majemuk campuran terdiri atas kalimat majemuk taksetara (bertingkat) dan kalimat majemuk setara, atau terdiri atas kalimat majemuk setara dan kalimat majemuk taksetara (bertingkat).

Contoh:
Karena sudah malam, kami berhenti dan langsung pulang. (Bertingkat + Setara)
Kami pulang, tetapi mereka masih bekerja karena tugasnya belum selesai. (Setara + Bertingkat)

Penjelasan:
Kalimat pertama terdiri atas anak kalimat karena hari sudah malam dan induk kalimat yang berupa kalimat majemuk setara, kami berhenti dan langsung pulang. Jadi, susunan kalimat pertama adalah bertingkat + setara.

Kalimat kedua terdiri atas induk kalimat yang berupa kalimat majemuk setara, kami pulang, tetapi mereka masih bekerja, dan anak kalimat karena tugasnya belum selesai. Jadi, susunan kalimat kedua adalah setara + bertingkat.

Demikianlah penjelasan mengenai pengertian, contoh, dan macam-macam kalimat majemuk. Tulisan ini diambil dari buku Cermat Berbahasa Indonesia untuk Perguruan Tinggi yang ditulis oleh E. Zaenal Arifin dan S. Amran Tasai (diterbitkan oleh Akademika Presindo, Jakarta, 2010) dengan beberapa perubahan di bagian awal. Semoga bermanfaat untuk Anda semua.

Sabtu, 14 Maret 2015

Pengertian, Contoh, dan Macam-Macam Singkatan | Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering mendengar atau membaca sebuah singkatan. Yang populer saat ini adalah singkatan untuk nama orang, misalnya Susilo Bambang Yudhoyono disingkat menjadi SBY, Jusuf Kalla menjadi JK, dan Bambang Pamungkas menjadi BP.

Singkatan nama memang sedang menjadi tren. Namun, kadang penyingkatan semacam ini menimbulkan kerancuan karena persamaan huruf depan dari dua nama orang yang berbeda. Contoh: Bambang Widjojanto (BW) dengan Budi Waseso (BW). Dua nama ini agak sulit dijadikan singkatan karena punya huruf awal yang sama. Karena itu, orang lalu membuat pemendekan lain untuk nama Budi Waseso menjadi Buwas.

Di luar masalah di atas, sebenarnya apa yang dimaksud dengan singkatan? Berikut ini akan dijelaskan secara rinci sekaligus dengan contohnya. Singkatan adalah bentuk pendek dari suatu kata, terdiri dari satu huruf atau lebih. Singkatan berbeda dengan akronim. Soal akronim, insya Allah akan dibahas pada kesempatan lain.
Pengertian, Contoh, dan Macam-Macam Singkatan
Macam-Macam Penggunaan Singkatan
Singkatan digunakan dalam beberapa ragam lisan dan tulisan. Berikut ini akan dijelaskan mengenai macam-macam penggunaan singkatan tersebut:

1. Singkatan nama orang, nama gelar, jabatan, dan pangkat dengan diikuti dengan titik di belakang tiap-tiap singkatan itu.  

Contoh:
A.H. Nasution = Abdul Haris Nasution
M.Hum = Magister Humaniora
S.E = Sarjana Ekonomi

2. Singkatan nama resmi lembaga pemerintahan dan ketatanegaraan, badan atau organisasi, serta dokumen resmi yang terdiri atas gabungan huruf awal kata, ditulis dengan kapital dan tidak diikuti dengan titik.  

Contoh:
DPR = Dewan perwakilan Rakyat
PGRI = Persatuan Guru Republik Indonesia.

3. Singkatan kata yang berupa gabungan huruf, diikuti dengan tanda titik.  

Contoh:
jmlh. = jumlah
tgl. = tanggal
hlm. = halaman

4. Singkatan dari gabungan kata yang terdiri atas tiga huruf, diakhiri dengan tanda titik.

Contoh: 
dll. = dan lain lain
yth. = yang terhormat
ybs. = yang bersangkutan
dlsb. = dan lain sebagainya

5. Singkatan gabungan kata yang terdiri dari dua huruf. Lazimnya dicantumkan dalam surat-menyurat. Masing-masing huruf diikuti oleh tanda titik.

Contoh:
a.n. = atas nama
d.a. = dengan alamat

6. Singkatan untuk lambang kimia, satuan takaran, timbangan, ukuran, dan mata uang. Jenis singkatan ini tidak diikuti oleh tanda titik.

Contoh:
cm = sentimeter
kg = kilogram
Rp = rupiah
kVA = kilovolt-ampere

Nah, itulah pengertian sekaligus contoh dan macam-macam singkatan. Artikel di atas dikembangkan dari buku Pedoman Umum EYD dan Dasar-Dasar pembentukan Istilah yang diterbitakan oleh Diva Press, Jogjakarta, tahun 2011. Buku ini menjelaskan banyak hal mengenai dasar-dasar tata bahasaIndonesia.

Baca Juga: Cara Membedakan Fakta dan Opini dalam Tulisan  

Aturan Pengunaan Singkatan dalam Tulisan
Banyaknya penggunaan singkatan dalam tulisan maupun percakapan sehari-hari dapat membuat pembaca atau pendengar merasa bingung karena tidak semua singkatan dikenal oleh mereka. Karenanya, dalam penulisan resmi, ada aturan khusus terkait penggunaan singkatan. Aturan tersebut berupa keharusan menyebutkan kepanjangan dari singkatan. Penyebutan kepanjangan ini hanya satu kali dan berada di paling awal, di mana singkatan tersebut dicantumkan. Jika dalam tulisan tersebut terdapat banyak singkatan yang sama, maka hanya di singkatan paling awal yang disertakan kepanjangannya.  

Contoh:
Bambang Widjojanto (BW) meminta pihak kepolisian untuk menyerahkan Berita Acara Pemeriksaan (BAP). Jika permintaan tersebut tidak dipenuhi, BW belum akan memenuhi panggilan kepolisian untuk menjalani pemeriksaan. Menurutnya, BAP dibutuhkan untuk mengetahui detail pasal-pasal yang disangkakan kepadanya.

Penjelasan contoh di atas adalah sebagai berikut:
Nama Bambang Widjojanto (kepanjangan) harus dicantumkan di awal peletakan singkatan. Dan pada singkatan kedua dan setelahnya tidak usah dicantumkan, cukup singkatannya saja (BW). Demikian juga dengan Berita Acara Pemeriksaan (BAP).

Catatan:
Aturan di atas kadang ditinggalkan sebab singkatan yang digunakan sudah sangat dikenal di masyarakat, semisal DPR, MPR, dan UUD. Demikian penjelasan mengenai Pengertian, Contoh, dan Macam-Macam Penggunaan Singkatan. Semoga artikel ini bermanfaat untuk Anda. Apabila terdapat keterangan yang salah, mohon segera menghubungi admin di halaman kontak. Ikuti terus artikel-artikel mutakhir di laman ini. Salam.

Rabu, 04 Maret 2015

Cara Penggunaan Kata �Dari� dan �Daripada�
gambar diambil dari Kompasiana.com
Cara menggunakan kata dari dan daripadaseringkali dipertukarkan karena ragam lisan dalam kehidupan sehari-hari. Penggunaan yang berulang-ulang dalam percakapan tersebut membuatnya menjadi kebiasaan yang seakan-akan benar secara kaidah bahasa Indonesia, padahal kenyataannya salah. Karena itu, kita perlu mempelajari kembali hal-hal yang kadang kita anggap remeh agar kalimat-kalimat yang kita munculkan, baik lisan maupun tulisan, bisa tertata dengan baik.

Makna Kata Dari dan Daripada
Kata dari menunjukkan asal sesuatu, baik bahan maupun arah.

Contoh: (1). Ia mendapat SMS dari pacarnya, (2). Roti ini terbuat dari singkong, (3). Ia baru saja datang dari Malaysia, (4). Kupu-kupu berasal dari ulat yang berubah menjadi kepompong, (5). Presiden Jokowi baru saja datang dari luar negeri.

Kata daripada berfungsi membandingkan.

Contoh: (1). Berdiri lebih baik daripada duduk, (2). Malaysia lebih luas daripada Singapura, (3). Andi lebih ganteng daripada Budi, (4). SBY lebih tegas daripada Jokowi, (5). Intan lebih cantik daripada Sindi.

Itulah dua perbedaan cara penempatan kata dari dan daripadadalam sebuah kalimat. Perbedaan sangat tegas karena memiliki makna yang berbeda. Karena itu, jika keduanya dipertukarkan cara penempatannya, akan terjadi pemaknaan yang salah dalam kalimat yang dibangun.

Demikian penjelasan mengenai cara penggunaan kata dari dan daripada dalam sebuah kalimat. Apa yang kami sajikan semoga bermanfaat untuk Anda. Ikuti terus perkembangan artikel di blog ini untuk mengetahui mengenai perkembangan tata bahasa Indonesia.
Makna dan Cara Menggunakan Partikel Adi-, Antar-, Pra-, dan Pasca- | Di dalam bahasa Indonesia ada dua macam jenis partikel, yaitu partikel yang berasal dari bahasa Indonesia asli dan partikel yang berasal dari serapan dari bahasa asing. Partikel-partikel yang berasal dari bahasa Indonesia asli, yaitu  -lah, -tah, -kah, dan -pun. Sedangkan yang berasal dari serapan asing, yaitu adi-, antar-, pra- dan pasca-. Masing-masing parikel memiliki makna dan cara penggunaan yang berbeda-beda.

Berikut ini akan dijelaskan mengenai makna dan cara penggunaan partikel adi-, antar-, pra-, dan pasca-.

Penggunaan Partikel adi-
Partikel adi- berasal dari bahasa Sanskerta yang berfungsi sebagai pembentuk kata benda atau nomina. Arti yang ditimbulkan oleh partikel adi- adalah besar, kuat, agung, andalan, unggul. Contoh: adi + kuasa = adikuasa: kuasa yang kuat, adi + daya = adidaya: daya atau kuasa yang kuat, adi + buah = adibuah: buah andalan.

Penggunaan Partikel antar-
Partikel antar- berasal dari bahasa Inggris inter- yang berarti sekitar atau hubungan. Ia berfungsi sebagai pembentuk kata keterangan atau adverbia. Contoh: antar + daerah = antar daerah, antar + provinsi = antarprovinsi

Penggunaan Partikel pra-
Partikel pra- berasal dari bahasa Sanskerta yang berfungsi sebagai pembentuk kata keterangan atau adverbia. Partikel pra-memiliki makna sebelum. Contoh: pra + panen = prapanen: sebelum panen, pra + sejarah = prasejarah : sejarah sebelum orang mengenal budaya tulis.

Penggunaan Partikel pasca-
Partikel pasca- juga berasal dari bahasa Sanskerta. Ia berfungsi sebagai kata keterangan atau adverbia dan memiliki makna sesudah. Contoh: pasca + panen = pascapanen : sesudah panen, pasca + sarjana = pascasarjana : sesudah sarjana, pasca + perang = pascaperang : sesudah perang.

Demikianlah artikel Makna dan Cara Menggunakan Partikel Adi-,Antar-, Pra-, dan Pasca-. Semoga bermanfaat bagi Anda yang sedang mempelajari tata bahasa Indonesia. Ikuti terus perkembangan tulisan terbaru di Blogger Jaddung untuk mengetahui informasi-informasi mengenai tata bahasa Indonesia.

Selasa, 03 Maret 2015

Saat membaca koran atau majalah, kita akan bertemu dengan berbagai fakta sekaligus opini yang saling kait mengait. Fakta tersebut terkadang dikukuhkan oleh sebuah opini dari narasumber atau malah sebaliknya. Terkadang pula fakta justru membuat opini narasumber menjadi mentah.

Begitulah fakta dan opini berdialektika. Opini bisa dibentuk sesuai kehendak yang menyampaikannya. Ia bisa menjadi bola liar manakala menyangkut isu-isu sensitif. Lalu, bagaimana sebenarnya membendakan antara fakta dan opini dalam sebuah tulisan?
Cara Membedakan Fakta dan Opini dalam Tulisan
Gambar diambil dari: http://log.viva.co.id/
Berikut ini akan dijelaskan pengertian dari masing-masing keduanya.

Pengertian Fakta dan Opini dalam Tulisan
A. Fakta
Fakta adalah suatu informasi yang bersifat nyata atau benar-benar terjadi. Fakta disertai dengan bukti-bukti yang mendukung kebenarannya. Karena itu, fakta lebih sering sulit dibantah oleh opini seseorang.

Contoh kalimat fakta:
  1. Di Sumenep, Jawa Timur, terdapat pantai yang banyak tumbuh pohon cemara udang.
  2. Pamekasan termasuk salah satu kabupaten yang ada di pulau Madura.
  3. Madura merupakan salah satu daerah penghasil garam di Indonesia.
  4. Kecelakaan yang terjadi di jalur Suramadu disebabkan oleh rem blong truk fuso.
B. Opini
Opini adalah pendapat seseorang atau kelompok. Biasanya disertai dengan alasan-alasan yang membuktikan kebenarannya.

Contoh Kalimat Opini:
  1.  Makanan yang berlemak banyak tidak boleh dimakan anak kecil.
  2.  Jika kita mandi setiap hari, badan terasa segar dan tidak lengket.
  3. Saat menonton telvisi kita tidak boleh memakai kacamata.
  4. Tidur telentang lebih enak ketimbang tidur miring.
Cara Membedakan Fakta dan Opini
Cara sederhana dalam menemukan fakta dan opini dalam sebuah tulisan adalah dengan melihat ciri-ciri eksplisit kalimat tersebut. Jika pernyataannya dapat ditelusuri kebenarannya, karena dapat dilihat, didengar, atau diraba, kalimat tersebut termasuk fakta. Sementara, jika hanya pernyataan yang tak dapat diindera dan sulit dibuktikan kebenarannya, kalimat tersebut termasuk opini.

Demikian penjelasan mengenai Cara Membedakan Fakta dan Opini dalam Tulisan sekaligus dengan contoh keduanya. Semoga artikel ini bermanfaat untuk Anda. Jika ada saran dan kritik, silahkan kirim via kontak di laman ini. Pantau terus artikel-artikel mengenai tata bahasa Indonesia di laman ini. Salam sukses dari Blogger Jaddung.

Selasa, 24 Februari 2015

Penggunaan yang berulang-ulang dalam percakapan sehari-hari membuat dua kata tersebut seringkali menjadi kabur. Karena itu, perlu kiranya diluruskan kembali agar kesalahan tak diulang di masa depan.
Cara Tepat Menggunakan Kata Masing-masing dan Tiap-tiap
anneahira.com
Aturan menggunakan kata masing-masing dan tiap-tiapyang tepat adalah sebagai berikut: kata tiap-tiap harus diikuti oleh kata benda, sedangkan kata masing-masing tidak boleh diikuti oleh kata benda.

Contoh Penggunaan Kata Tiap-Tiap:
  • Tiap-tiap rumah gentingnya berwarna merah.
  • Tiap-tiap tamu yang datang disuguhi teh pucuk.
  • Tiap-tiap kelompok terdiri dari enam puluh orang.
  • Tiap-tiap peserta demonstrasi harus menggunakan seragam berwarna hitam.
  • Tiap-tiap penonton harus membayar karcis sebesar Rp. 5.000,- untuk bisa menikmati film terbaru Jet Lie.
Contoh Penggunaan Kata Masing-Masing
  • Masing-masing mengemukakan pendapatnya setelah dipersilahkan oleh pemimpin rapat.
  • Para pimpinan negara APEC yang hadir di Jakarta masing-masingdijaga ketat oleh pengawal kepresidenan.
  • Masing-masing menggunakan haknya untuk memprotes kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah setempat.

Itulah cara yang tepat menggunakan kata masing-masingdan tiap-tiap sekaligus dengan contohnya. Semoga artikel di atas bisa membantu Anda dalam belajar Tata Bahasa Indonesia.Artikel ini diambil dari buku Cermat Berbahasa Indonesia karangan E. Zainal Arifin dan S. Amran Tasai dengan penjelasan lebih luas. Beberapa contoh saya kutip asli dan sebagian ditambahi.

Sabtu, 24 Januari 2015


Contoh Paragraf Deskripsi | Kemarin saya telah membahas tentang pengertian dan contoh paragraf deskripsi. Kali ini saya hanya akan fokus ke contoh saja. Walaupun kemarin sudah saya cantumkan contohnya, tulisan kali ini hanya sebagai pilihan dari contoh yang sudah ada.

contoh paragraf deskripsi
ivanlanin.wordpress.com
Contoh paragraf deskripsi ini saya buat sendiri. Saya coba merangkainya sesuai yang saya pikirkan. Kalau ada yang kurang tepat, mohon dikoreksi. Baiklah, kita langsung ke contoh paragraf deskripsi:
Namanya Mad Congcong. Tubuhnya kekar. Otot-otonya bertimbulan seperti akar tanaman yang kokoh. Matahari telah mengubah warna kulitnya menjadi kecokelatan. Pekerjaan sehari-harinya sebagai pencari bekicot membuat ia harus akrab  berkawan dengan panas matahari.

Nama aslinya Ahmad Faishal. Pemberian dari seorang sesepuh kampung. Tapi orang-orang lebih senang memanggilnya Mad Congcong. Congcong adalah bahasa Madura, artinya bekicot. Karena kesukaannya mencari bekicot, orang-orang lalu suka menyebutnya Mad Congcong.

Pada awalnya ia tidak menghendaki panggilan tersebut. Beberapa orang yang memanggilnya nyaris kena gampar. Namun, kemarahan tersebut justru membuatnya semakin sering dipanggil Mad Congcong. Bosan dengan kondisi demikian, ia biarkan orang-orang tersebut memanggil sesuka hatinya.

Entah kapan mulanya ia tiba-tiba menyahut dipanggil Mad Congcong. Yang jelas, orang kini tidak lagi merasa takut digampar karena memanggilnya seperti itu. Mad Congcong tak lagi risau dengan panggilan yang sebenarnya jauh dari nama aslinya. 

Panggilan itu juga tak menyurutkan semangatnya mencari bekicot. Siang-malam ia datang ke sawah-sawah milik warga. Dengan lampu sorot di kepalanya, ia menyusuri tempat-tempat lembab. Di situ biasanya banyak bekicot bersenda gurau. Mad Congcong akan girang jika bertemu sekawanan bekicot yang sedang berpesta. Ia akan memindahkannya ke keranjang dari anyaman bambu di tangannya.
Bekicot tersebut akan dijual ke pengepul. Harganya berkisar Rp. 25.000,-  per kilo.
Itulah contoh paragraf deskripsi. Semoga dapat membantu.

Minggu, 11 Januari 2015

Pengertian dan Contoh Paragraf Deskripsi | Paragraf deskripsi secara sederhana bisa diartikan sebagai penggambaran sesuatu. Secara lebih terperinci adalah paragraf yang isinya melukiskan suatu objek dengan rangkaian kata yang dapat merangsang indera pembaca. Maksudnya, dengan membaca tulisan tersebut pembaca seakan-akan bisa melihat, mendengar, dan merasakan apa yang diulasnya.


Ciri-ciri Paragraf Deskripsi
Ciri-ciri paragraf deskripsi adalah sebagai berikut:
1.      Menggambarkan tentang benda, tempat atau suasana.
2.      Dalam penggambarannya melibatkan panca indera.
3.      Bertujuan membuat pikiran pembaca bisa menggambarkan sesuatu yang dideskripsikan.
4.      Menjelaskan objek yang dideskripsikan, meliputi sifat, warna, ukuran, dll.

contoh paragraf deskripsi
Berikut adalah contoh paragraf deskripsi:
Ruangan itu cukup sempit. Menurut taksiranku sekitar 2x3 meter. Dindingnya sebagian mengelupas dan selebihnya jebol, namun ditutupi kardus. Mungkin untuk menahan angin agar tidak menyelusup ke dalam kamar, sehingga penghuninya tidak terlalu kedinginan pada dini hari.

Sebuah ranjang hampir jebol menghiasi salah satu sudutnya. Tak ada kasur. Hanya sebuah sarung tua yang tergeletak di atas ranjang. Warnanya kusut. Terlihat seperti sekian tahun tak dicuci. Aku yakin kain tersebut sangat bau.

Di sebelah ranjang ada meja kecil berwarna kusam. Satu kakinya sudah patah setengah dan diganjal dengan batu. Di atasnya ada dua gelas, satu berisi air, satunya lagi berisi ampas kopi. Jamur putih menghiasi ampas tersebut.


Di bagian yang lain nampak jendela yang tertutup rapat. Sepertinya sudah bertahun-tahun tak dibuka. Debu-debu menghiasi jendela tersebut. Catnya terkelupas sana-sini. Kini yang terlihat adalah paduan warna hitam dan biru.

Sejak tadi sebenarnya pikiranku tergelitik oleh sebuah gambar yang rasanya cukup aneh nampang di situ. Menurut pikiranku, gambar itu kurang pas berada di dinding sebuah ruangan yang dekil seperti ini. Gambar itu berisi foto jejeran perempuan yang berpose centil. Rambutnya ada yang berponi, ada pula yang dikepang. Mereka berseragam dengan motif warna putih, merah, dan hitam. Di bawah gambar tersebut tertulis JKT48.
Saat keluar dari ruangan tersebut, aku baru tahu bahwa gambar itu digunakan untuk menutupi dindingnya yang jebol.