Tampilkan postingan dengan label sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sastra. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 23 Juni 2012

*pernah diikutkan dalam lomba review buku Denny JA. tapi tidak lolos. Hehe...

Sepertinya, pembahasan tentang cinta belum akan berakhir. Atau, ia akan tetap hidup selama manusia masih ada di muka bumi. Dari zaman dahulu, telah ribuan buku ditulis hanya untuk mengurai misterinya. Namun, pembahasan itu tidak pernah final. Menanggapi buku tentang cinta yang marak di Indonesia, Kurnia Effendi pernah bilang, persoalan cinta di negeri ini belum selesai. Cinta memang tidak akan pernah habis dibahas karena masing-masing orang memiliki ekspresi yang berbeda-beda atasnya. Nah, perbedaan itulah yang akan terus membuatnya eksis seiring dengan perjalanan hidup manusia.

Wilayah disiplin ilmu yang membahasnya pun beragam, dari fiksi hingga ilmiah. Hal ini menandai bahwa persoalan cinta adalah hal yang sangat kompleks. Ia berjalin kelindan dengan masalah-masalah lain yang ada dalam kehidupan manusia.

Kompleksitas cinta tersebut melahirkan permenungan tersendiri bagi Denny JA, seorang aktivis, peneliti, pengusaha, dan akademikus. Baru-baru ini dia meluncurkan buku �puisi esai� berjudul �Atas Nama Cinta�. Sebuah buku yang di sampulnya tertulis �Genre Baru Sastra Indonesia�.

Buku tersebut terdiri dari lima judul tulisan dengan isu utama soal diskriminasi. Balutan cinta hampir mewarnai sejumlah besar puisi-puisi di dalamnya. Kelima tulisan itu masing-masing diberi judul �Sapu Tangan Fan Ying�, �Romi dan Yuli dari Cikeusik�, �Minah Tetap Dipancung�, �Cinta Terlarang Batman dan Robin� dan �Bunga Kering Perpisahan�.

Tulisan ini hanya akan menyinggung puisi esai berjudul �Bunga Kering Perpisahan� yang ada di bagian akhir buku ini. Ia berkisah tentang cinta seorang perempuan bernama Dewi yang beragama Islam dan Albert yang beragama Kristen. Dua orang tersebut dipisahkan cintanya oleh kebencian ayah Dewi atas pernikahan beda agama, juga atas keinginannya agar sang anak menikah dengan Joko, seorang santri yang alim tapi dingin. Hubungan beda agama bagi ayah Dewi adalah sebuah laknat.

Pernikahan pada akhirnya tak bisa ditolak karena tekad ayah Dewi sudah bulat. Pantang bagi Dewi melanggar perintah ayahnya karena predikat santri melekat padanya. Terlebih lagi Ibunya selalu berpesan agar ia tak menentang sang ayah. Apa daya, cinta memang tak pernah bohong. Dalam sepuluh tahun, perjalanan biduk rumah tangga Dewi terasa hambar. Cintanya tetap tak bisa diotak-atik kepada Albert. Pengabdiannya kepada Joko hanya karena ia taat terhadap tradisi.

Setelah sepuluh tahun, akhirnya Joko meninggal. Dewi menjanda. Saat itulah prinsip hidupnya berubah. Ia mulai menekuni filsafat dan sastra. Pandangannya tentang agama kian mencair. Cinta yang dipendamnya sekian tahun kini menemui titik kulminasi. Hal itu didukung oleh wawasannya yang terus berkembang melalui buku-buku yang dibacanya. Ia mulai berani berbeda sikap dengan orang tuanya karena ia pikir zaman sudah berubah. Sekarang sudah zaman Facebook dan Twitter, bukan zaman Sitti Nurbaya, katanya. Ia bertekad memperjuangkan kembali cintanya kepada Albert, meski mendapat tantangan keras dari orang tuanya.

Kemudian, Dewi mulai mengirim mawar layu yang disimpannya dalam kotak. Mawar itu dipersembahkan Albert ketika ia akan melangsungkan pernikahan sepuluh tahun silam. Albert berpesan agar bunga tersebut dikirim kembali kepadanya jika kelak ia berpisah dengan Joko. Maka, hari itupun Dewi mengirimkannya. Namun, yang datang bukan Albert, melainkan sesosok perempuan tua. Dialah Ibu Albert. Ia datang dengan sebuah kabar buruk, bahwa anaknya telah meninggal dunia setelah sebelumnya melakukan pendakian di sejumlah gunung.

Secara tematis, apa yang dibahas dalam tulisan tersebut bukanlah hal baru. Tahun 2010 lalu, kita disuguhi film �3 Hati, Dua Dunia, Satu cinta� adaptasi dari novel �The Da Peci Code� karya Ben Sohib. Di dalamnya juga digambarkan tentang cinta sepasang anak manusia beda agama. Titik konfliknya pun agak mirip, yaitu tekanan dari orang tua.

Perbedaan mendasar dari masing-masing karya tersebut terletak pada medium yang digunakan penulis untuk menyampaikan sebuah gagasan. Bila Ben Sohib menggunakan medium Novel, maka Denny JA memilih puisi esai.

Pembahasan tentang pergumulan cinta, agama dan tradisi memang sesuatu yang masih aktual dibicarakan. Sampai kini, orang masih alergi dengan adanya perkawinan beda agama, meski memiliki cinta yang dalam. Padahal, sebagaimana dijelaskan Denny, dalam sejarah Islam, Nabi dan beberapa Sahabat pernah melakukan pernikahan beda agama. Di kalangan umat Islam pun, pandangan terhadapnya terjadi perbedaan, ada yang membolehkan dan ada pula yang menentang.
Masalah yang timbul lebih karena persoalan tradisi yang menganggap bahwa pernikahan beda agama adalah hal yang sangat dibenci oleh Tuhan. Kecenderungan orang mematok hukum barangkali karena mereka abai terhadap hukum-hukum lain yang berlawanan dengan hukum yang selama ini mereka anut. Lewat tokoh Albert, Denny menyampaikan protes kepada Tuhan. Ia berkata:
.
Tuhan, mengapa tak Kau-restui cintaku
Kepada sesama ciptaan-Mu
Hanya karena, ya Allah,
Hanya karena agama kami beda?
Padahal Kau jugalah yang menurunkannya
.
Puisi esai dalam ranah susastra tanah air termasuk hal baru, atau bahkan karya inilah satu-satunya. Akan tetapi, perbedaan itu mungkin hanya masalah nama, karena ketika membaca buku �Pengakuan Pariyem� karya Linus Suryadi AG atau �Sareyang� karya M. Faizi kita agak sulit mencari celah perbedaannya. Bagaimanapun, sebagian prosa lirik memiliki struktur cerita dan bahasa puitik seperti puisi yang ditulis Denny JA. Lalu, apa sebenarnya yang dia anggap barang baru dalam karyanya itu?

Hal yang paling nampak adalah jalinan data dan referensi. Di dalam tulisan Denny, catatan kaki dimunculkan untuk mendukung fiksi yang dibangunnya. Ia lahir untuk meneguhkan kehadiran tulisan sebagai sebuah esai. Esai tentu saja titik pijaknya adalah fakta atau opini yang disampaikan secara terang, lebih sering tanpa bahasa-bahasa puitik. Jadi, penggabungan bahasa puitik dengan jalinan data itu melahirkan sebuah genre baru bernama �puisi esai�.

Minggu, 08 April 2012


Telah lama saya membaca buku ini, tetapi pada hari kemarin (Sabtu, 24 Maret 2012) saya baru bisa menyelesaikannya. Begitulah, seperti yang sering saya katakan, saya bukanlah pembaca yang taat. Ia hanya sebagai perintang waktu di masa senggang. Sebuah kebiasaan buruk yang terus saya pelihara hingga kini. Meski saya selalu merutuk untuk itu.

Saya pernah membaca �Perahu Kertas� karya Dewi Lestari. Dan saya jatuh cinta untuk pertama kalinya. Karya itu bergaya teenlit tetapi tidak jatuh kepada kecengengan dalam berbahasa. Maksud saya, Dee--panggilan perempuan itu�punya banyak cara mengikat pembacanya. Salah satunya dengan keluasan wawasan yang dia punya. Meski gaya berbahasanya terkesan sederhana, namun dia berhasil meramu dengan pengetahuan yang luas itu. Alhasil, cerita-cerita yang dia sampaikan selalu bergizi.

Sebenarnya, �Madre� adalah buku ketiga karya Dee yang saya baca setelah �Supernova: Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh� dan �Perahu Kertas�. Tetapi, saya menganggap buku ini adalah yang kedua, karena membaca �Supernova: Kesatria, Putri, dan Bintang Jatuh� saya tidak mengerti apa-apa. Maklum, bila bersentuhan dengan ilmu-ilmu eksak, kepala saya pusing tujuh turunan. Itu hal buruk lainnya yang tanpa sengaja terus saya pelihara.

�Madre� bukanlah buku yang tebal. Ia hanya menghabiskan 160 halaman. Tapi, setipis apapun sebuah buku, bila tidak dibaca, ia akan tetap sebuah misteri. Dan saya menyimpan misteri itu hingga beberapa hari. Padahal, bila mau taat, saya bisa menghabiskannya hanya dalam satu-dua hari. Pengalaman itu pernah saya lakukan ketika membaca buku �Sebelas Patriot� karya Andrea Hirata. Saya membacanya sehari semalam.

Saya membaca buku itu di rumah. Entah, saya sering kali menghabiskan lebih banyak buku di rumah ketimbang di pondok. Di sana saya bisa berlama-lama dengan buku. Saya tidak tahu apa penyebabnya. Barangkali karena di sana tidak ada gangguan yang bisa memengaruhi kerja saya dalam membaca. Maka, biasanya pada liburan pondok, saya selalu menyempatkan diri membawa buku-buku tertentu.

Lain dengan �Perahu Kertas� yang berupa novel, �Madre� adalah sekumpulan kisah semacam novelet dan puisi. Tema yang diangkat di dalamnya juga beragam, meski sebagian besar memiliki benang merah yang sama, yaitu cinta. Tema-tema tentang cinta bisa dilihat dalam tulisan yang berjudul �Madre�, �Have Your Ever�, �Menunggu Layang-Layang�, �Semangkuk Acar untuk Cinta dan Tuhan�, �Guruji�.

�Madre� berkisah tentang seorang lelaki yang tinggal di Bali tiba-tiba terdampar di Jakarta. Ia berada di sana untuk sesuatu yang tidak masuk akal, mewarisi sebuah pabrik pembuat roti bernama Tan De Bakker. Pemiliknya, Tan Sin Gie, baru meninggal dan ia mewariskan pabrik roti itu kepada Tansen Roy Wuisan, nama lelaki itu. Mereka tak saling kenal. Sehingga bagi lelaki itu kejadian ini adalah misteri.

Misteri kian menyelubungi ketika ia bersama Pak Hadi, teman Pak Tan sekaligus keluarga besar Tan De Bekker, menyusuri pabrik roti berumur ratusan tahun. Pak Hadi mengenalkan Madre. Dalam bayangan Tan, Madre adalah seseorang, namun itu jelas salah karena benda tersebut adalah adonan biang pembuat roti yang terbuat dari perkawinan antara air, tepung, dan fungi bernama Saccharomyses exiguus.

Dan dari sinilah cerita Madre terus berkembang. Lambat laun misteri mulai terkuak satu per satu. Madre adalah biang yang membuat roti memiliki cita rasa berbeda dari produk pabrik lainnya. Ia adalah ruh sekaligus ciri khas yang dimiliki Tan De Bakker. Selain itu, Madre tenyata bukan hanya sebuah adonan biang, tetapi telah menjadi semacam keluarga yang menjaga kehidupan keluarga besar pekerja pabrik itu. Kini, para pekerja itu sudah jompo-jompo tetapi memiliki semangat baru karena adanya orang muda yang kini digadang-gadang menjadi ujung tombak perubahan di tubuh Tan De Bakker. Meski Tansen terus menolak karena soal keterampilan masak-memasaknya hanya mentok di mi instan. Bagaimana mungkin orang yang bahkan tak tahu sama sekali tentang roti bisa memimpin sebuah pabrik roti?

Untung ada Pak Hadi yang selalu membesarkan hati pemuda ini. Ia sangat telaten membimbing Tansen dalam mengenal lebih juah pabrik Tan De Bakker. Juga cara membuat roti kebanggaan pabrik ini. Tansen ternyata mewarisi kepiawaian Lhaksmi, nenek Tansen, yang rupanya adalah kekasih Tan. Mereka bedua dipisahkan oleh jenis ras yang berbeda, Laksmi keturunan India dan Tan Cina. Tetapi keduanya tetap memiliki hubungan yang erat hingga menjelang ajal.

Kisah tentang Madre terus menjauh dan mempertemukan Tansen dengan Mei, seorang perempuan pekerja keras yang juga mengembangkan bisnis roti. Dia bertemu Tansen berkat membaca tulisan-tulisannya di blog. Selain jalan-jalan, Tansen juga memiliki kegemaran menulis di blog. Mei langsung tertarik ketika Tansen memposting tulisan tentang Madre. Perkenalan keduanya membawa perubahan baru Tan De Bakker. Pabrik yang sudah tiarap sekian tahun ini mulai hidup kembali setelah Tansen mendapat order dari Mei. Pada akhirnya, bukan hanya order, tetapi pabrik tersebut telah menjadi bagian penting perusahaan Mei.

Dalam kisah ini juga terselip kisah-kisah cinta antara Tansen dengan Mei. Seseorang yang sebelumnya hanya kenal melalui ruang maya.

Sisi menarik tak hanya dikisahkan dalam �Madre�, tetapi Dee masih punya amunisi lain yang cukup ampuh membawa pembacanya pada semesta imajinasi. Ia juga berkisah tentang emosi seorang ibu ketika mengandung anaknya. Betapa mereka hanya dipisahkan kulit selapis saja. Dee meramu bahasa cukup lembut di sini, seakan ia seorang yang tengah menunggu anaknya lahir. Barangkali memang ia tulis dalam keadaan hamil, mengingat di bagian akhir tulisannya ada keterangan �untuk sahabat yang kukandung, Atisha�. Dee memberi judul kisah ini �Rimba Amniotik�

�Have Your Ever� adalah kisah yang sangat sulit saya cerna. Entah apa yang ingin disampaikan oleh Dee dalam cerita ini. Ketidakmengertian jelas bukan salah dia, tapi saya sendiri yang memang jongkok soal pengetahuan bahasa Inggris. Di dalamnya memang bertebaran dialog-dialog berbahasa Inggris.

�Semangkok Acar untuk Cinta dan Tuhan� berisi tentang kebencian Dee tentang pertanyaan, Apa itu tuhan? Apa itu cinta? Jawaban itu ia ilustrasikan dengan menguliti bawang hingga tak ada yang bisa dikuliti. Mata mengurai air mata karena kupasan bawang tersebut. Dan Dee sampai pada kesimpulan, Tuhan dan Cinta bukan penjelasan dan tujuan, tetapi perjalanan dan pengalaman.

�Guruji� berkisah tentang seorang perempuan yang mencintai lelaki pengikut yoga hingga lupa kepadanya. Dia merasa kehilangan belahan hatinya. Dee meramu emosi yang begitu pahit dalam adegan ini. Bagaimana si perempuan berusaha mengikuti pelatihan yoga hanya untuk bertemu si lelaki yang kini telah berjuluk Guruji.

�Menunggu Layang-layang� berisi kisah tentang pergulatan cinta seorang lelaki yang tidak sadar bahwa kehidupannya sangat mekanis. Dia tak pernah jatuh cinta, tetapi terus disuguhi cerita-cerita percintaan temannya yang mudah gonta-ganti pacar. Keduanya diombangambingkan oleh persepsi masing-masing dan pada akhirnya memiliki kesimpulan yang sama: si lelaki kesepian dan menunggu, sementara si perempuan kesepian dan mencari. Mereka kemudian dipersatukan oleh rasa yang sama, cinta.

madura, 25 maret 2012