Tampilkan postingan dengan label refleksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label refleksi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 19 Januari 2012

*tulisan ini dimuat di Majalah Hijrah dengan judul "Menemukan Diri Secara Utuh", edisi Januari-April 2012

Suatu kali, saya pernah jalan-jalan pagi dengan seorang teman. Jalan desa memang terasa segar di pagi hari pada musim hujan. Lalu lalang sepeda motor dan mobil belum banyak seperti pada siang hari, sehingga udara tidak terlalu direcoki oleh asap knalpot kendaraan-kendaraan tersebut.

Seperti biasa, sepanjang jalan kami mengobrol banyak hal, mulai dari skripsi yang belum juga saya garap karena malas sampai soal keinginan punya isteri. Untuk yang terakhir saya sadar ia hadir lebih sebagai keinginan sesaat akibat terlalu banyak undangan menikah dari teman-teman akhir-akhir ini.

Di saat kami ngobrol tiba-tiba datang sepasang remaja yang naik sepeda motor dari arah belakang kami. Mereka berboncengan mengendarai sepeda motor merek Bravo yang sudah agak kumal. Yang menyetir rambutnya dicat pirang serta bajunya dililitkan begitu saja di bahu. Sementara yang dibonceng celingak-celinguk sana-sini.

Mereka melajukan sepedanya lambat saja ketika berada di sisi kami. Namun, sampai beberapa meter di depan, mereka tiba-tiba menarik gas cukup kencang, kemudian mengangkat bagian depan sepedanya. Saya kaget karena sepeda itu tiba-tiba oleng, tapi untunglah dengan cekatan penyetir menegakkannya kembali sebagaimana mulanya.

Melihat hal itu kawan saya ngomong sinis. Katanya, kalau mereka jatuh dia tak akan menolongnya. Itu bukan perkara yang patut diberi pertolongan. Jalan raya bukan bapak mereka yang bikin, semburnya lagi. Saya hanya tersenyum mendengar ia mengomel. �Sebenarnya, apa sih cita-cita mereka?� tanya teman saya kemudian. Saya masih tersenyum karena jelas pertanyaan itu tak butuh jawaban, kecuali hanya sebentuk rasa kesal. Namun, dengannya saya dibuat tercenung beberapa saat. Apa cita-cita mereka? Ulang saya.

Pertanyaan teman itu saya coba telisik lebih jauh. Barangkali ia berangkat dari fakta yang teman saya lihat. Lalu, fakta itu coba saya sambungkan dengan kemungkinan-kemungkinan lain yang bekorelasi. Jika cita-cita mereka memang menjadi seorang crosser bukan di sini tempatnya. Ia tidak menyadari kalau perbuatannya bisa berakibat fatal karena memilih jalur yang salah. Jalur itu penuh dengan kendaraan yang lalu lalang.

Di luar kelakuannya di jalan raya, keduanya juga memilih berpenampilan bukan dari golongan orang-orang desa, orang-orang yang lebih mengedepankan kesederhanaan (atau kemiskinan?) dan jauh dari kesan hura-hura. Dengan cat rambut pirang kelihatan ia mengingkari �kodratnya� sebagai orang desa. Sebab, pemampilan itu tidak lumrah bagi penduduk kampung yang jauh dari kota.

Dengan dua alasan di atas saya kira tidaklah mengherankan bila si teman menanyakan hal itu. Pertanyaan tersebut tak sekedar berbicara tentang apa sebenarnya cita-citanya. Namun, lebih dari itu ia mencoba bertanya, apakah mereka sudah sadar akan apa yang mereka perbuat? Benarkah itu berangkat dari pemahaman terhadap diri yang utuh? Sudahkah ia menemukan dirinya dalam cara berkendara seperti itu?

Mungkin saya berlebihan dengan bertanya-tanya macam begitu. Namun, saya selalu yakin bahwa hal-hal besar dan esensial tidak pernah lepas dari partikel-partikel kecil kehidupan.
Pertanyaan-pertanyaan tersebut merupakan pertanyaan eksistensial yang seringkali sulit ditemukan jawabannya. Bisa jadi mereka berkendaraan membahayakan seperti itu hanya karena ingin dilihat jago oleh orang. Ada rasa puas yang bisa mereka raup karena merasa unggul dari orang lain. Mereka berkeinginan meniru-niru apa yang disurukkan televisi ke dalam rumah mereka.

Kepuasan artifisial yang sifatnya sementara itu tak mampu mereka sadari dengan utuh, bahwa semua yang mereka perbuat sebenarnya tak pernah benar-benar ia butuhkan dalam kehidupan ini. Pertanyaannya, setelah kepuasan artifisial itu, apa yang mereka dapatkan? Yang paling nampak mungkin caci maki dari pengendara lain. Tapi, apakah itu yang mereka cari? Saya kira tidak.

Nah, dari sinilah kita akan memasuki apa yang disebut dengan jati diri. Menurut Hendra, seorang ahli Tao, jati diri adalah aku sejati. Aku sejati sesungguhnya yang ada dahulu, sekarang dan yang akan datang. Masing-masing orang memiliki keunikannya. Keunikan itu berupa kelebihan dan kekurangan yang ada pada mereka.

Menjumpai aku sejati bukanlah persoalan mudah. Kita akan dipertemukan dengan pandangan subjektif diri sendiri. Tantangan terberat adalah memisahkan aku dari �aku� yang lain. Dalam keadaan menyatu, kita akan sulit melihat diri yang utuh. Untuk melihat sebuah benda secara utuh, kita memerlukan jarak. Jarak itu memungkinkan kita melihat sesuatu itu dari berbagai sudut.

Begitupun dengan menemukan diri sejati. Kita membutuhkan jarak. Memang jarak itu tidak bisa secara kongkret kita lihat karena objeknya bukanlah benda nyata. Kita hanya bisa memposisikan pikiran dan perasaan �lain� secara imajiner. Dengan posisi yang terpisah, maka kita diberi ruang untuk melihat secara jelas diri kita.

Menemukan jati diri bisa kita lakukan dengan terus bertanya-tanya terhadap diri sendiri. Siapakah saya sebenarnya? Apa tujuan saya hidup? Ke mana saya akan menuju?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut akan menuntun kita pada kesadaaran akan potensi serta kelemahan yang kita miliki. Bila kesadaran itu sudah terbangun, maka tiap apa yang kita perbuat sudah disesuaikan dengan kadar potensi dan kelemahan tersebut. Dengan kesadaran itu mungkin kita tak akan lagi berkendaraan secara ugal-ugalan di jalan raya, karena kita menyadari itu bukan tempat yang tepat.

Banyak jalan ditempuh orang untuk menemukan diri. Jalan mereka kadang tak bisa dinalar dengan akal. Dalam biografi beberapa sastrawan atau ahli filsafat, misalnya, kita bisa melihat mereka memulai proses pencarian aku sejati dengan jalan memarjinalisasi diri. Bahkan sebagian dengan jalan ekstrem, yaitu menggelandang dan mabuk-mabukan.

Di dalam agama Islam, orang meniti jalan tersebut dengan cara bertasawuf. Tasawuf memungkinkan orang bisa menemukan jalan yang lempang menuju Tuhannya. Tentu dengan terus menerus bertanya pada diri. Kesadaran terhadap diri itu kelak akan menuntun mereka kepada aku sejati yang lemah di hadapan-Nya. Maka tiap apa yang mereka perbuat akan berorientasi tetap pada Yang Kuasa. Wallahu a�lam.