Tampilkan postingan dengan label pendidikan alternatif. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pendidikan alternatif. Tampilkan semua postingan

Kamis, 31 Mei 2012

sumber foto di sini

Dari dulu saya sudah punya firasatbahwa saya memang tidak punya bakat bergelut dalam dunia pendidikanformal. Dari riwayat sekolah, saya termasuk orang yang gagal menjadiinsan �terdidik� sebagaimana diharapkan oleh visi misi pendidikandari pemerintah. Hampir sepanjang perjalanan mulai MadrasahTsanawiyah hingga Perguruan tinggi saya adalah seorang pembolos yangrajin. Meski kebolosan itu tidak sampai membuat saya dikeluarkan darisekolah karena saya selalu emoh dengan urusan kantor yangmenjengkelkan.

Kebiasaan buruk di masing-masingtingkat pendidikan membawa dampak tersendiri bagi kehidupan sayakelak, terutama ketika saya diserahi untuk menjadi tenaga pengajar disebuah madrasah. Dari awal saya mengajar, saya hanya masuk kalautidak salah lima kali. Padahal sudah sekitar tiga bulan lamanya sayadiminta mengajar.

Entahlah, sampai saat ini saya masihmemiliki persepsi miring tentang dunia pendidikan di negara ini.Sistem yang korup dan manajemen yang tidak matang selalu membuat sayaapatis. Di daerah-daerah malah sekarang sudah marak praktek korupsidari dana BOS, BKM, BSM, dst. Sudah bukan rahasia lagi kalaupetinggi-petinggi sekolah berlomba-lomba membeli mobil mewah daribantuan pendidikan tersebut. Dan untuk mendapatkan bantuan, pihaksekolah harus menyogok pihak Depag atau Diknas. Apakah ini yang harusdilestarikan?

Belum lagi pelaksanaan Ujian Nasional(UN) yang sudah lumrah menjadi ajang kebusukan para pengawas, Diknas,dan sekolah. Kebohongan begitu kentara mereka pertunjukkan. Anehnya,dengan kondisi seperti itu, para siswa masih merayakan kelulusandengan kegembiraan tingkat tinggi, seperti baru mendapat surga jatuhdari langit. Apakah itu tandanya mereka merayakan kebohongansistematis? Aneh.

Ketika sedang frustasi memikirkanpendidikan yang menyedihkan, kadang saya berpikir untuk menginisiasisebuah komunitas belajar. Dari awal saya sudah tahu, bahwa tantanganterberat mendirikan komunitas belajar adalah SDM dan sumber dana. SDMmenjadi sulit karena di komunitas sistemnya adalah swadaya.Masyarakat saat ini sudah enggan berususan dengan hal-hal yang berbauswadaya. Cara berpikir mereka sudah dikonstruk oleh keadaan menjadiserba kapitalis, semua diukur dengan uang. Nah, menghadapi kesulitanini, saya mesti mencari kader-kader militan yang siap bekerja penuhuntuk memajukan pendidikan, bukan mengkomersialisasi sebagaimana yangsering terjadi saat ini.

Soal sumber dana memang masalah klasik.Dari zaman nenek saya, kalau ada acara atau lainnya, masalahpendanaan adalah hal yang selalu muncul pertama kali. Akan tetapi,jika mau berkreasi, saya yakin pendanaan akan bisa diatasi. Jikasulit mendapatkan dana, maka bangunlah koperasi.
Saya ingin mengawali komunitas belajarini dengan mendidirikan sebuah perpustakaan. Saya melihat dunia bukuadalah hal yang masih langka di Madura. Meski beberapa lembaga sudahmendirikan perpustakaan, namun keberadaannya masih sangatmemprihatinkan. Sekolah lebih suka mendirikan laboratorium ketimbangperpustakaan. Padahal, sumber-sumber pengetahuan mestinya diawalidari perpustakaan, bukan ruang laboratorium.

Perpustakaan ini adalah milik komunitasyang dikelola secara swadaya. Keberadaannya tidak boleh bergabungsecara penuh dengan sekolah karena dikhawatirkan kegiatan-kegitannyaakan berbenturan dengan kegiatan sekolah bersangkutan. Persentuhankeduanya hanya dalam proses peminjaman buku. Saya membayangkan untuktahap-tahap awal, anggota komunitas bergerilya ke sekolah-sekolahuntuk promosi sekaligus mendorong para siswa gemar membaca. Kampanyebuku diawali dengan kegiatan semisal lomba yang berkenaan denganbuku. Hadiahnya adalah voucher gratis peminjaman buku.

Itulah beberapa hal yang terlintasdalam pikiran saya. Saya memang belum melangkah lebih jauh untukobesesi yang satu ini. Saya masih dalam tahap belajar bagaimanamembangun sebuah ide menjadi kenyataan. Saya selalu dihantui olehberbagai pertanyaan, apa yang akan saya berikan untuk anak cucukelak, sementara saya tidak punya keahlian apa-apa? Bagi saya, sebuahlangah kongkret adalah hal yang tak bisa ditawar. Komunitas belajarbarangkali adalah kerja nyata itu. Ia hadir untuk melawan pendidikanyang korup!

madura 31 mei 2012