Tampilkan postingan dengan label madura dan eropa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label madura dan eropa. Tampilkan semua postingan

Senin, 19 November 2012



Judul : 10 Bulan Pengalaman Eropa, Utrecht University, Belanda-NTNU, Norwegia (2009-2010)
Penulis : M. Mushthafa
Tebal : 106 halaman
Cetakan 1 : November 2012
Penerbit : Independen


Satu hal yang menarik pembaca ihwal buku cerita perjalanan adalah kejutannya. Pembaca ingin mengetahui seberapa jauh si pencerita menawarkan hal-hal baru yang memukau dan belum pernah mereka dapatkan sebelumnya. Keinginan semacam itu barangkali lumrah sebagai naluri dasar manusia. 

Telah banyak beredar buku-buku yang mengisahkan tentang perjalanan. Berbagai macam kejutan telah pula didedahkan di dalamnya. Menariknya, buku perjalanan mudah sekali manawarkan hal-hal baru karena pengalaman masing-masing penulisnya kerap berbeda. Belum lagi cara penyampaiannya yang beragam, ada yang menggunakan fiksi dan ada pula yang fakta.

Keberagaman itulah yang membuat banyak buku perjalanan tetap diminati. Pembaca berharap mendapat penjelasan bagaimana masing-masing penulis menaklukkan berbagai tantangan dalam alur perjalanan mereka. Seberapa jauh mereka bisa memecahkan persoalan-persoalan tersebut. Oleh karena itu, keunikan pengalaman masing-masing penulisnya menjadi taruhan untuk merebut hati pembaca.

Di dunia fiksi, misalnya, orang akan merasakan pengembaraan Andrea Hirata (dalam novel �Edensor�) di benua Eropa dan Afrika begitu memompa adrenalin. Balutan fiksi membuatnya makin menampakkan perasaan tegang pembacanya.

Dalam bentuk non-fiksi, buku �10 Bulan Pengalaman Eropa, Utrecht University, Belanda-NTNU, Norwegia (2009-2010)� bisa menjadi contoh yang cukup bagus. Buku ini berkisah tetang pengalaman K. M. Mushthafa dalam melanjutkan pendidikannya di Belanda dan Norwegia. Selama sepuluh bulan, pria kelahiran Guluk-Guluk, Sumenep, Madura tersebut banyak mengalami hal-hal baru di sana, misalnya tentang perbedaan kultur, iklim, dan pola pikir masyarakatnya. Keberangkatannya ke sana atas prakarsa Uni Eropa yang memberinya beasiswa dalam program Erasmus Mundus.

K. Mushthafa meramu berbagai kisah dengan sudut penceritaan yang beragam. Ada banyak kejutan yang ditawarkannya, meski kadang disampaikan secara datar. Maklum, buku non-fiksi cenderung berkisah apa adanya, tanpa bumbu dramatisasi.

Model penceritaan yang beragam dalam buku ini membawa pesan lain ke hadapan pembaca. Dalam sejumlah tulisannya, model penceritaannya dibumbui dengan refleksi. Artinya, penulis tidak saja berusaha mengabarkan suatu fakta ihwal negeri seberang, melainkan juga mengajak pembaca ikut berefleksi. Hal itu, misalnya, tampak dalam tulisan yang berjudul, �Daun-daun yang Berpulang�, �Perjalanan-dalam-Kegelapan�, �A Lonely Biker� dan �Taman Rahasia�.

Selain soal refleksi, kelebihan buku ini juga disumbangkan oleh data-data yang lumayan detail. Satu contoh, tulisan berjudul �Mengunjungi Rumah Anne Frank� makin hidup dengan adanya referensi tentang kisah singkat perempuan Jerman korban kekejaman Nazi tersebut. Hal ini akan membantu pembaca yang awam mengenai sejarah kehidupan Anne.

Kejutan lainnya adalah keberhasilan penulis mendekatkan objek kisah dengan pembaca. Pembaca diajak ikut merasakan bagaimana hidup di negeri seberang. Kisah-kisah tersebut bisa dibaca, misalnya, dalam tulisan berjudul, �Gelandangan Semalam� dan�Badai Salju dan Pengalaman Terburuk di Belanda�.

Dalam �Gelandangan Semalam� , pembaca akan menjumpai kisah penulis yang tertinggal kereta di Hauptbahnhof (Hbf) Frankfurt setelah mengunjungi Leipzig dan Berlin. Dalam keadaan lelah, terpaksa beliau harus menunggu hingga semalaman untuk sampai di Eschborn, tempat tinggal temannya.

Badai Salju dan Pengalaman Terburuk di Belanda� berkisah tentang pengalaman penulis bertahan ditengah badai salju yang mengganas. Saat itu, ketebalan salju mencapai 30 cm! Penulis yang mau liburan ke Frankfurt terpaksa beratahan di Utrech Centraal Station karena tertinggal bus Eurolines. Badai salju telah membuat jadwal keberangkatan bus menjadi kacau, sehingga penulis harus menunggu bus berikutnya dalam waktu yang cukup lama.

Dari sekian kisah yang dipaparkan dalam buku ini, ada satu yang tampak menjelaskan keterlibatan emosi penulis yang begitu mendalam, yaitu pada tulisan yang berjudul �Ayah, Apa Kau Masih Bisa Memimpin Pembacaan Shalawat di Perayaan Maulid Tahun Ini?�. Bentuk pertanyaan dalam judul tersebut sudah mengajak pembaca untuk ikut larut dalam perasaan penulis.

Jarak sebelas ribu kilometer (Eropa-Madura) telah mencipta kerinduan seorang anak kepada ayahnya. Dan ia menemukan momentumnya, yaitu ketika perayaan Maulid Nabi. Sang Ayah yang pembaca shalawat bersuara merdu sering memandu acara Maulidan di tanah kelahirannya. Namun, kemerduan itu terganggu akibat penyakit stroke yang menyerang sang ayah. Lama tidak berjumpa membuat si anak menerka-nerka tetang keadaan ayah tercintanya. Dari jarak yang jauh ia bertanya, Ayah, apa kau masih bisa memimpin pembacaan shalawat di perayaan Maulid tahun ini?

*Tulisan ini dimuat Radar Madura edisi Minggu, 18 November 2012