Tampilkan postingan dengan label madura. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label madura. Tampilkan semua postingan

Selasa, 03 Desember 2013

Memperdebatkan eksistensi media cetak dan online mungkin sudah basi saat ini. Beberapa tahun silam, perdebatan tersebut telah mengemuka, dan nyatanya banyak ramalan yang belum terbukti. Ramalan bertumbangannya media cetak akibat membludaknya media online ternyata meleset, setidaknya hingga saat ini. Media cetak, baik koran, majalah, tabloid, dst., masih punya pangsa pasar yang signifikan.

Media online hadir untuk menjawab kebutuhan informasi yang serba cepat, real time, dan praktis. Kehadiran ponsel pintar dan penetrasi internet yang luas memicu lahirnya platform baru ini. Jargon �Informasi ada di tangan Anda� menemukan relevansinya, karena hanya dengan sentuhan jari orang sudah bisa terhubung dengan informasi dari belahan bumi mana pun tanpa sekat. 

Melihat pasar yang semakin membludak, kemunculan media online tak dapat dibendung. Media-media baru bertumbuhan untuk ikut menyantap kue iklan yang kian aduhai. Kemunculan itu juga dipicu oleh lebih mudahnya membuat media online ketimbang media cetak. Media online memutus anggaran untuk pencetakannya. 

Kini, media online tak hanya berbasis di Jakarta. Di beberapa daerah juga banyak lahir media-media daring (dalam jaringan) baru dengan tawaran konten lokal. Di Madura, media-media semacam itu juga bermunculan, namun perkembangannya masih awut-awutan karena didirikan tanpa perhitungan yang matang.
Ada beberapa hal yang harus diperhitungkan sebelum mendirikan media online dengan segmen pembaca masyarakat Madura.  Pertama, pemilik media harus memperhitungkan seberapa besar pangsa pasar media online di Madura. Pertanyaan mendasarnya adalah berapa jumlah netizen (pengguna internet) di Pulau Garam ini. Lebih fokus lagi, berapa jumlah pembaca media online berkonten Madura?

Data-data semacam itu seharusnya mereka miliki sebelum terjun total di bisnis ini. Bagaimanapun, dewa pertama bagi media online adalah pembaca. Dewa kedua adalah pengiklan. Namun, tanpa dewa pertama, dewa kedua akan minggat. Media online tanpa pengiklan akan mati secara pelan-pelan karena iklan adalah nyawa mereka. Media online tidak memungut biaya dari pembaca, kecuali situs-situs berbayar.

Kedua, beritanya harus eksklusif dan menarik. Banyaknya media online nasional yang memiliki wartawan di sejumlah daerah, termasuk di Madura, menuntut  wartawan lokal mencari berita yang tidak diekspos oleh media nasional tersebut. Sebab, kalau beritanya sama, orang cenderung memilih media nasional.

Berita yang disuguhkan juga harus menarik. Orang cenderung enggan membaca berita-berita ringan, karena di internet banyak bertebaran berita-berita yang lebih bermutu ketimbang berita tersebut. Menyiasati hal ini, banyak pengelola media membuat judul berita yang terkesan bombastis, semata-mata untuk menjentikkan api penasaran mereka.

Ketiga, manfaatkan media sosial. Realitas umum di masyarakat Madura menunjukkan bahwa tidak sedikit dari mereka yang mengenal internet lantaran kehadiran situs jejaring sosial Facebook. Mereka lebih dulu kenal Facebook ketimbang mesin pencari Google. Fakta ini harus dilihat sebagai sebuah peluang. Antarkan laman-laman berita ke dinding Facebook atau linimasa Twitter mereka agar mereka tertarik untuk mengunjunginya.

Keempat, pengelolaan harus profesional. Media online dituntut untuk serba cepat dalam memoderasi berita-beritanya. Kalau jarang update, laman tersebut akan ditinggalkan oleh pembaca. Untuk itu, dibutuhkan wartawan dengan mobilitas yang tinggi sekaligus punya wawasan yang luas tentang jurnalisme, agar berita yang dikirimkan kepada redaksi tidak membutuhkan banyak perbaikan.

*terbit di Koran Madura, edisi Kamis, 14 November 2013
**sumber foto: http://jambidaily.com