Tampilkan postingan dengan label jurnalistik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jurnalistik. Tampilkan semua postingan

Selasa, 10 Mei 2016

Pengertian dan Contoh Tajuk Rencana : Tajuk rencana dikenal sebagai "induk karangan" sebuah media massa. Tajuk rencana ini merupakan tulisan khusus yang ditulis oleh pemimpin redaksi atau orang yang punya wewenang dalam menangani media tersebut mengenai peristiwa yang sedang aktual diperbincangkan dalam masyarakat. Dalam tulisannya, penulis tajuk rencana mengemukakan pendapatnya secara subjektif. Ia mengutarakan visi dan sikap media yang dikelolanya terhadap suatu hal yang dibahas.

Dalam tajuk rencana, isinya murni merupakan pendapat penulisnya dalam menyikapi suatu masalah. Sebuah media yang dikelola atau diterbitkan oleh organisasi A, misalnya, maka tajuk rencana yang ditulis haruslah menyuarakan pendapat atau aspirasi dari organisasi A tadi. Oleh sebab itulah, tajuk rencana ini dikatakan sebagai "jati diri" atau identitas sebuah media massa.

Baca Juga: Pengertian dan Nilai-Nilai Berita

Kata yang sepadan dengan tajuk rencana adalah editorial. Dalam majalah, editorial pada umumnya ditulis oleh pemimpin redaksi yang isinya memuat tentang masalah yang diangkat dalam majalah tersebut. Tentunya, isinya merepresentasikan sikap majalah tersebut terhadap masalah yang dibahas tadi.

Adapun fungsi dari tajuk rencana adalah:

Menjelaskan berita, menjabarkan berita yang sedang aktual tentunya  dengan interpretasi dan sudut pandang subjektif media atau penulisnya.

Meramalkan masa depan, yaitu memprediksi apa yang akan terjadi di masa mendatang akibat peristiwa yang terjadi.

Menunjukkan sikap atas suatu masalah, yakni memberikan penilaian atau argumentasi terhadap suatu masalah yang terjadi.

Mengisi latar belakang, artinya mengaitkan suatu berita dengan realitas sosial lainnya atau informasi tambahan.


Baca Juga: Cara Mudah Menulis Berita Feature

Contoh tajuk rencana yang diambil dari harian Kompas edisi 08 April 2016:

Dokumen Panama dan Amnesti Pajak

Merebaknya skandal Dokumen Panama memunculkan pula desakan berbagai pihak untuk menyegerakan pembahasan Undang-Undang Amnesti Pajak. Terkait urgensi mempercepat pembahasan RUU Amnesti Pajak, sesungguhnya ada atau tidak Dokumen Panama, seharusnya jadi kebutuhan kita. Bukan hanya karena tuntutan untuk menutup bolong penerimaan pajak saat ini, melainkan juga kepentingan reformasi pajak lebih luas.

Kendati demikian, kepanikan pemerintah bisa dipahami. Dari target penerimaan pajak Rp. 1.369 triliun tahun 2016, hingga Maret baru terealisasi 14,3 persen. Melesetnya target pajak bukan hanya akan mengancam jalannya mesin birokrasi dan pembiayaan program prioritas pemerintah, khususnya infrastruktur, tetapi juga mengancam target pertumbuhan 2016. Sasaran pertumbuhan 5 persen bisa tak tercapai.

Dalam situasi saat ini, manuver menutup defisit APBN lewat utang tak leluasa ditempuh mengingat amanat konstitusi yang membatasi defisit APBN maksimum 3 persen dari PDB. Ekspansi utang luar negeri juga dihadapkan pada risiko kian membengkaknya beban cicilan/bunga dan risiko kurs. Sementara terus menggenjot penerbitan SUN akan menyedot sumber pembiayaan swasta di dalam negeri, akibat kebutuhan pemerintah yang sangat besar untuk menutup defisit.

Di sini urgensi amnesti pajak sebagai terobosan mengemuka. Lewat insentif amnesti pajak, pemerintah berharap bisa menarik Rp. 60 triliun-Rp. 100 triliun penerimaan pajak, dengan cara menarik dana WNI yanag selama ini lolos pajak dan ditempatkan di luar negeri. Setelah tertunda karena keberatan sebagian fraksi DPR yang mengaitkan kelanjutan pembahasan UU itu dengan revisi UU KPK, kita berharap pembahasan RUU Amnesti Pajak bisa segera dimulai dalam waktu dekat. 

Selain misi menutup defisit penerimaan pajak, momuntem bocornya Dokumen Panama dan amnesti pajak tentunya menjadi ujian keseriusan pemerintah dalam membenahi sistem perpajakan dan menindak wajib pajak nakal. Di sini pentingnya amnesti pajak tetap berpijak pada prinsip transparansi, keadilan, dan penegakan hokum agar jangan sampai hanya menjadi semacam karpet merah bagi pelaku tindak pidana seperti koruptor yang selama ini menyembunyikan dananya dari jangkauan aparat di negeri ini.

Cara Mudah Menulis Berita Jenis Feature | Tentu kalian pernah mendengar istilah tulisan feature kan? Apa yang kalian tahu tentang tulisan jenis ini? Mungkin di antara kalian ada yang menjawab, feature itu tulisan yang deskriptif dan naratif. Nah, jawaban itu benar. Feature adalah salah satu jenis berita yang ditulis dengan cara naratif dan deskriptif sehingga seolah-olah pembaca sedang membaca cerita tentang peristiwa atau kejadian yang dilaporkan. 
Sejatinya, tidak ada kesepakatan dari para ahli jurnalistik mengenai definisi feature. Masing-masing mereka memberikan definisi tersendiri tentang feature. Yang jelas, feature adalah sebuah tulisan jurnalistik yang tidak mesti mengikuti rumus 5w + 1 H sebagaimana lazimnya sebuah berita. Tetapi, ia mengedepankan jawaban dari why dan how dari sebuah peristiwa. 

Baca Juga: Pengertian dan Nilai-Nilai Berita

Dari sekian banyak pengertian mengenai feature, kita dapat mengenali karakteristik feature, diantaranya: 
  • Mengandung segi human interest. Dalam hal ini, feature memberikan penekanan pada fakta-fakta yang dianggap dapat menggugah emosi dan perasaan pembaca seperti menghibur, memunculkan rasa empati dan keharuan. 
  • Mengandung unsur sastra. Satu hal yang sangat penting dalam penulisan feature adalah ia mengandung unsur sastra. Sebagaimana dikatakan sebelumnya, gaya penulisan feature tidak jauh beda dengan penulisan fiksi seperti cerpen atau novel. Pada dasarnya, penulis feature adalah mereka yang bercerita. Karena itulah, feature ini disebut dengan berita yang sifatnya ringan dan menghibur. 
Seorang penulis feature harus memiliki ketajaman dalam melihat dan merenungi sebuah peristiwa. Ia juga harus mampu menonjolkan hal yang meskipun sudah umum namun belum terungkap sepenuhnya. Hal-hal kecil yang dianggap sepele dan kurang penting dalam sebuah berita, dapat diangkat dalam sebuah feature yang kemudian menjadi laporan yang unik dan menarik.
Feature mengandung informasi yang �lebih� ketimbang jenis berita yang lain. Nilai lebih itu tersebab feature dapat menyajikan hal-hal yang mungkin diabaikan oleh news tadi. Di samping itu, feature tidak akan pernah basi (tidak aktual) seperti berita pada umumnya.

Baca Juga: Jenis-jenis dan Struktur Berita
Beberapa orang sangat suka dengan berita jenis ini. Alasannya, feature dapat menyajikan berita dengan gaya tulisan yang santai dan ringan namun tetap informatif. Beda, misalnya, dengan berita investigative news, indepth news, atau jenis berita lain yang terkesan berat dan harus mengerutkan kening ketika sedang membacanya.
Lalu bagaimana cara menulis feature yang baik? Pertama kali tentu kita harus menulis judul. Setelah itu kita masuk pada teras atau lead yang berisi hal terpenting yang menjadi sudut pandang dimulainya sebuah tulisan. Dalam menulis lead ini kita harus mampu menarik perhatian pembaca agar mereka memiliki rasa penasaran untuk melanjutkan bacaannya. Banyak jenis lead yang bisa kita gunakan dalam menulis feature. Diantaranya; 
  • Teras bercerita yang biasa digunakan oleh cerpenis atau novelis 
  • Teras pertanyaan 
  • Teras kutipan (ayat al-Quran, hadits, ucapan orang terkenal, dll.) 
  • Teras ringkasan
  • Teras sapaan 
  • Teras deskriptif

Selanjutnya Bridge (jembatan antara lead dan body) dan yang terakhir adalah penutup (ending) yang umumnya mengacu kepada lead. Di bagian penutup ini kita bisa menyimpulkan apa yang sudah ditulis sebelumnya dengan memberikan kesan mengharukan di hati pembaca atau dengan mengajukan pertanyaan tanpa jawaban. Membiarkan pembaca mengira-ngira sendiri jawabannya.   
Demikian cara menulis berita feature. Semoga bermanfaat dan dapat menambah wawasan!

Sabtu, 30 Maret 2013


"Kalau kalian mau jadi jurnalis sukses, menanaklah!"ujar Reyadi kepada sejumlah teman yang sedang duduk-duduk pagi itu. "Anam sekarang sukses menjadi jurnalis karena dia dulu rajin menanak," lanjutnya. Mereka yang mendengarkan kelakar tersebut hanya senyum-senyum.

Guyonan seperti itu kerap dipakai oleh saya dan teman-teman. Dulu, ketika masih aktif di Lembaga Pers Mahasiswa Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (LPM-Instika), Hairul Anam terkenal sebagai tukang menanak nasi. Ia lebih rajin ketimbang saya dan teman-teman. Soal menanak kami memang kalah, tapi soal makan malah sebaliknya, kami lebih rajin ketimbang dia. Bahkan, karena brengseknya teman-teman, dia pernah tidak disisakan nasinya, padahal dialah yang susah-payah menanak nasi tersebut.

Tentu saja soal menanak tak ada kaitan langsung dengan kesuksesan dia dalam menapaki karir sebagai jurnalis. Di luar kebiasaannya menanak, dia memang seorang yang selalu punya target dalam melakukan sesuatu. "Dalam sebulan ini saya harus menulis 50 berita," katanya kepada saya suatu kali. Dan ia penuhi target tersebut. Kala itu ia masih aktif mengelola website NU Pamekasan.

Sebelum berhenti mondok, selain aktif di LPM-Instika, Anam juga aktif menulis berita di Blog Annuqayah. Ia termasuk yang paling rajin menyumbangkan tulisan-tulisannya untuk laman ini. Sampai-sampai seorang teman berkelakar, "Itu bukan Blog Annuqayah, tapi blognya Anam." Kelakar yang sama juga terjadi untuk koran Radar Madura. Tulisan-tulisan Anam dalam bentuk opini kerap muncul dalam rubrik "Dari Pesantren untuk Pembaca".

Setelah pindah ke koran Kabar Madura, saya kian jarang berkomunikasi dengannya. Ia makin sibuk dengan tugas-tugas jurnalistiknya. Kabar terbaru yang saya dapatkan, ia menjadi kepala biro koran tersebut dan mendapat peringkat terbaik. Produktivitas menulis ketika berada di pondok itulah mungkin yang menjadikan ia mendapat peringkat demikian.

Saya mengagumi produktivitas menulisnya. Bagi saya, sebagaimana kerap diungkapkan AS. Laksana, kecakapan dalam menulis hanya bisa didapat dari seringnya berlatih. Sebagai orang yang masih belajar menulis, saya tidak suka sikap perfeksionis. Bagaimanapun, sikap tersebut sering kali membungkam saya untuk menulis. Keinginan menjadi sempurna selalu mematahkan paragraf-paragraf awal tulisan saya. Padahal, seorang pemula pasti tidak akan pernah mencapai sebuah kesempurnaan. Bahkan yang sudah pandai sekalipun. Jadi, menulis saja selancar mungkin. Setelah itu edit.

Sampai saat ini saya masih belum bisa untuk menentukan target seperti Anam. Saya menulis hanya semaunya saja. Pun, saya jarang mengirim tulisan ke media. Praktis tulisan-tulisan saya yang dimuat media sangat sedikit sekali, lebih banyak yang saya tampilkan untuk blog pribadi.

Selain karena memang tidak punya rasa percaya diri, saya juga menulis dengan gaya tulisan yang banyak ditampik media. Saya menyukai tulisan-tulisan ringan dengan gaya bahasa yang renyah (walau selalu gagal). Ide-ide yang muncul selalu berangkat dari kehidupan sehari-hari. Padahal, di media yang sering muncul adalah isu-isu aktual dan dalam bentuk tulisan yang serius. Sangat berbanding terbalik dengan karakter tulisan saya.

Dengan alasan demikian, saya memilih blog sebagai penampung tulisan-tulisan saya. Selain sebagai ruang arsip yang lebih terjamin, blog juga bisa untuk berbagi dengan teman-teman. Dan saya tak ambil pusing apakah ada yang membaca tulisan tersebut atau tidak. Saya hanya ingin menulis saja"

[sumber foto: kata-wahyu,blogspot,com]

Sabtu, 23 Maret 2013


Saya menyukai jurnalistik, tapi tidak cocok jadi wartawan. Komunikasi, sebagai prasyarat menjadi wartawan, adalah masalah utama yang menghambat saya. Saya pendiam dan tidak lincah. Lebih sering jadi pendengar ketimbang bicara. Padahal, kata guru, seorang wartawan harus cerewet dan kritis.

Dua tahun lalu, saya memang aktif di dua lembaga pers: Lembaga Pers Mahasiswa Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (LPM Instika) dan BlogAnnuqayah. Dua-duanya memberi saya banyak pengetahuan. Di Blog Annuqayah saya mendapat tugas meliput hal-hal yang berkaitan dengan PP. Annuqayah Lubangsa Selatan, Guluk-Guluk, Sumenep, tempat saya mondok, sementara di LPM Instika saya mendapat tugas meliput di luar PP. Annuqayah (sesuai tema). 

Persentuhan saya dengan dua lembaga tersebut membuat pengetahuan tentang jurnalistik saya kian banyak. Saya belajar kepada guru-guru yang memang sudah memiliki banyak wawasan tentangnya. Di Blog Annuqayah, mislanya, ada K. M. Mushthafa yang sudah malang melintang di dunia literasi. Saya menimba banyak pengetahuan dari beliau, tidak saja dari materi jurnalistik, melainkan juga ketekunan menyelesaikan pekerjaan.

Setelah lepas dari dua lembaga itu, saya sudah tidak lagi intens menulis berita. Tulisan jurnalistik yang saya hasilkan hanya beberapa butir saja. Itu pun tidak saya kerjakan dengan sungguh-sungguh seperti ketika masih aktif jadi jurnalis. Saya mengalami perubahan drastis kala itu.

Ke belakang itu, saya lebih fokus mengamati perkembangan dunia pers, utamanya di Madura. Bagaimanapun, meski sudah tidak di lembaga pers, saya tetap punya perhatian yang cukup besar terhadap dunia yang satu ini. Menarik sekali memperbicangkannya, apalagi menyangkut fenomena pers di Madura.

Untuk menambah wawasan, saya berusaha membaca sejumlah literatur jurnalistik, baik dalam bentuk teori, pengalaman reportase, ataupun hasil reportase. Soal teori, saya banyak belajar kepada tulisan Farid Gaban, Goenawan Mohammad, Andreas Harsono, dll. Tulisan-tulisan mereka saya baca di dokumen Yayasan Pantau. 

Mengenai pengalaman turun ke lapangan, saya pernah membaca bukunya Ahmad Arif, wartawan Kompas, yang berjudul �Jurnalisme Bencana, Bencana Jurnalisme�. Buku itu sangat menarik karena menceritakan pengalaman mengerikan ketika meliput peristiwa tsunami  di Aceh. Arif melihat dengan mata kepala sendiri mayat-mayat yang bergelimpangan di mana-mana, lalu menuliskannya untuk di kirim ke koran tempat dia bekerja.

Tentang produk jurnalisme, misalnya, saya pernah membaca bukunya Linda Christanty yang berjudul �Jangan Panggil Kami Teroris�. Buku tersebut berkisah tentang banyak hal, terutama mengenai Aceh dan gerakan separatis GAM. Linda sangat piawai menulis berita dalam bentuk feature.

Tidak banyak buku jurnalistik yang saya baca. Hanya itu saja. Meski tertarik, saya jarang membeli buku-buku jurnalistik. Lebih sering membaca milik teman atau guru. Oleh K. Mushthafa, saya dulu pernah dipinjami buku tentang jurnalisme Malajah Tempo.

Meski dengan wawasan yang sangat terbatas, saya coba-coba mengamati berita-berita di sejumlah media harian di Madura. Menarik sekali melihat perkembangan media akhir-akhir ini yang mulai marak. Setidaknya, dalam dua tahun terakhir, sudah tiga koran baru yang terbit di Madura. Ini merupakan perkembangan yang patut dibanggakan, mengingat pers adalah penanda suatu komunitas masyarakat sudah mulai melek informasi dan literasi. Tidak sekadar memelototi televisi siang malam.  

Dari sedikitnya empat koran yang kini terbit, masyarakat Madura diberi pilihan rujukan sumber berita yang akan mereka ikuti. Dominasi Radar Madura yang sudah bertahun-tahun menjadi koran satu-satunya di Madura dengan sendirinya akan tergusur. Ia harus juga ikut berkompetisi dengan koran-koran baru yang muncul belakangan. Apalagi, Radar Madura mencatat reputasi yang kurang baik sebelumnya. Ia dikesankan sebagai koran dengan peberitaan yang tak setia fakta dan kerap mengekspos berita-berita porno.

Dengan banyaknya koran yang terbit, masing-masing pengelola harus bersaing menjadi yang terbaik. Sebab, taruhan mereka adalah konsumen berita. Bagaimanapun, ke depan masyarakat akan kian pandai memilih. Meraka tentu akan lambat laun meninggalkan koran-koran yang suka membodohi pelangganya. Bila pengelola koran tetap membandel, jangan salahkan pelanggan bila pindah ke lain koran.