Tampilkan postingan dengan label jempol facebook. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jempol facebook. Tampilkan semua postingan

Selasa, 29 Mei 2012

Ernst Cassirer mengatakan bahwa manusia adalah animal symblicum atau hewan yang bersimbol. Tiap apa yang melekat padanya selalu punya tafsir, baik itu cara bergerak, berbicara, cara berpikir, apa yang dipakainya, dst. Masing-masing tafsir itu bisa jadi berbeda-beda, namun terkadang ada kesepakatan atas tafsir-tafsir tertentu ole sebuah komunitas masyarakat.

Dalam keseharian, kita bisa melihat banyak sekali contoh nyata bagaimana sebuah simbol akan membentuk pikiran seseorang. Anak muda yang tidak punya ponsel hari ini akan menjadi olok-olokan teman-temannya yang lain. Dia akan dianggap anak rimba yang gaptek dan tidak gaul. Di sini nampak bahwa ukuran gaul tidaknya seseorang ditakar oleh ada tidaknya sebuah ponsel di tangan mereka. Ponsel adalah simbol untuk menandai pemakainya termasuk golongan orang-orang yang maju dan modern. Meski sering mereka tak dapat memanfaatkan fitur-fiturnya dengan baik.

Soal simbol ini juga bisa kita lihat dalam sebuah kasus yang sekarang sudah redup dari perbincangan, yaitu plat palsu mobil Anas Urbaningrum.  Simbol atas plat tersebut bisa saja menimbulkan sebuah persepsi �Lha wong dia ketua partai penguasa, wajar toh punya plat seperti itu. Dan polisi nggak akan berani menyeretnya ke sel. Terbukti sekarang berita itu sudah redup.�  Atau persepsi yang lain lagi, misalnya: �Dia kan bikin plat palsu karena sering dikejar-kejar orang�. Nah, persepsi yang terakhir inilah yang lucu dan tidak masuk akal. Kalau masalahnya seperti itu, masak harus melanggar peraturan polisi?

Ah, terlalu jauh sudah. Saya sebenarnya hanya akan membahas sebuah simbol yang ada di dalam Facebook, yaitu tanda jempol. Sebelum masuk dalam keluarga situ jejaring sosial, jempol hanyalah sebuah simbol bagi kata  �bagus sekali� dan �sangat hebat�. Namun, kini ia mengalami perluasan makna dan kadang bahkan untuk sesuatu yang bertentangan dengan makna terdahulu. Lebih sering pula kata �Suka� yang tertera sehabis gambar jempol tidak cukup mewakili keinginan pengguna situs ini. Mereka coba memproduksi makna baru yang lebih cair.

Contoh kecilnya, misalnya, saya menulis status: Innalillahi wainna ilaihi rajiun. Telah meninggal dunia�. dst. Tiba-tiba ada yang mengklik tanda jempol. Apakah itu akan diartikan sebagai bentuk rasa suka cita atas meninggalnya seseorang yang saya sebutkan dalam status itu? Ataukah ia sebagai ekspresi ucapan �Bagus Sekali� atau �Sangat Hebat�? Jika demikian, sangat terkutuklah orang yang memberi tanda jempol tersebut. 

Jadi, apa yang dilakukan teman Facebook  itu haruslah dimaknai sesuai konteks yang ada. Tentu saja mereka tidak mungkin bermaksud menyukai sebuah kematian. Kita bisa lebih cair menanggapi, bahwa, misalnya, itu adalah bentuk belasungkawa. Atau dia �suka� saya telah berbagi kabar yang sangat penting itu kepadanya.

madura, 29 mei 2012