Tampilkan postingan dengan label hukum islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hukum islam. Tampilkan semua postingan

Selasa, 24 Juni 2014

Sumber Ilmu - Menjelang Bulan Ramadlan Kirim-kiriman SMS Bagaimana Hukumnya?
Assalamu'alaikum Wr.Wb.
Sudah menjadi tradisi menjelang Bulan Puasa Ramadlan Ummat Islam menyempatkan kirim SMS yang isinya menyambut Ramadlan, meminta maaf, atau sekedar ucapan Salam semata.
Menanggapi hal ini, saya pernah mencari mengenai dalil nash, namun saya tidak menemukan dalil yang langsung membahas hal seperti ini, apalagi zaman dulu memang belum ada HP, jadi tidak mungkin Rasulullah SAW ataupun Shahabat kirim-kiriman SMS, namun kalau cuma dalil yang menenjukkan kebolehannya sebenarnya ada, jadi kirim-kiriman SMS menjelang Bulan Ramadlan bukanlah sesuatu yang tercela. walaupun ada juga sebagian Ummat Islam yang berfikiran sempit dan fikirannya terdoktren dengan dalil bid'ah yang masih 'am (umum), sehingga apa apa yang tidak dilakukan Rasulullah SAW adalah bid'ah dan dilarang. padahal Islam itu tidak kaku, Islam juga tidak kolot. semua hal itu boleh-boleh saja dilakukan, asal sesuatu tersebut tidak bertentangan dengan peraturan dalam Islam itu sendiri.
Metode boleh tidak sama, namun tujuan dan illatnya harus sama.
Contohnya, kalau dulu orang beersedekah (Bershadaqah) kuda atau Unta, sekarang boleh bershadaqah motor atau mobil, karena tujuannya sama, yaitu bershadaqah, dan illatnya sama-sama kendaran.
Mengirim SMS menyambut Bulan Ramadlan atau meminta maaf melalui SMS menjelang Ramadlan tidak haram dan bukanlah pekerjaan bid'ah yang tercela, bahkan hal itu disarankan apabila dilihat dari dalil dalil Alqur'an dan Hadits, dan diantaranya bisa anda lihat di bawah ini:

????????? ?????????? ??? ?????????? ???????????? ??????????????? ????????? ????????????? ???? ???????? ???????? ??????? ??????????????

Orang-orang yang menafkahkan, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. (QS Ali Imran: 134)

????????? ????????? ??????????

Maka maafkanlah dengan cara yang baik. (QS Al-Hijr: 85)
di 2 ayat diatas menunjukkan, bahwa kita sebagai muslim diperintahkan untuk bisa memaafkan orang yang berbuat tidak baik kepada kita, memaafkan orang yang meminta maaf pada kita.
dan ada banyak dalil yang menunjukkan perintah agar kita meminta maaf, meminta ampunan apabila kita melakukan kesalahan atau kejelekan. dengan dalil dalil tersebut, kita bisa menyimpulkan bahwa mengirim ucapan maaf atas salah, baik di Bulan Ramadlan, maupun diluar Bulan Ramadlan Hukum boleh bahkan disarankan. Wallahu a'lam

Minggu, 23 Juni 2013

Karena Lagi Marak Penimbunan Barang termasuk penimbunan BBM saya akan membahas Hukum Menimbun Barang.

Hukum Menimbun Barang Untuk Dijual
Para ulama sepakat bahwa “menimbun” (ihtikâr) hukumnya adalah dilarang (haram). Baik ulama dari madzhab Hanafiyah misalnya Ibnu ‘Abidin dalam karyanya Raddul Muhtâr atau az-Zailia’iy dalam karyanya Tabyînul Haqâiq, ulama Malikiyah misalnya dalam kitab al-Muntaqa ‘alal Muwattha atau al-Gharnathiy dalam karyanya al-Qawânîn al-Fiqhiyah, ulama Syafi’iyah misalnya al-Khathib al-Syirbiniy dalam karyanya Mughnil Muhtâj atau as-Syiraziy dalam karyanya al-Muhaddzab dan syarahnya yaitu kitab al-Majmû’ an-Nawawiy juga Zainuddin al-Malibbariy dalam Fathul Mu’în dan Syarahnya yaitu kitab I’ânatut Thâlibîn karya Muhammad Syatha ad-Dimyathiy, maupun ulama Hanabilah misalnya Ibnu Qudamah dalam karyanya al-Mughni.

Adapun dalil yang dijadikan landasan oleh para ulama tersebut adalah beberapa hadits Nabi Muhammad SAW, diantaranya hadits yang diriwayatkan melalui Umar RA dimana Nabi SAW bersabda ;

الجالب مرزوق والمحتكر ملعون

Orang yang mendatangkan (makanan) akan dilimpahkan riskinya, sementara penimbun akan dilaknat

Juga hadits yang diriwayatkan melalui Mu’ammar al-‘Adwiy:

لا يحتكر الا خاطئ

Tidak akan menimbun barang, kecuali orang yang berbuat salah.

Hadits yang diriwayatkan melalui Ibn Umar:

من احتكر طعاماً أربعين ليلة، فقد برئ من الله ، وبرئ الله منه

Siapa menimbun makanan selama 40 malam, maka ia tidak menghiraukan Allah, dan Allah tidak menghiraukannya

Hadits yang diriwayatkan melalui Abu Hurairah :

مَنْ احْتَكَرَ حُكْرَةً يُرِيدُ أَنْ يُغْلِيَ بِهَا عَلَى الْمُسْلِمِينَ فَهُوَ خَاطِئٌ

Siapa menimbun barang dengan tujuan agar bisa lebih mahal jika dijual kepada umat Islam, maka dia telah berbuat salah.

Hadits Riwayat Ibnu Majah, dan sanadnya hasan menurut Al Hafidz Ibnu Hajar Al Asqalani rahimahullah

من احتكر على المسلمين طعامهم ضربه الله بالجذام والإفلاس” رواه ابن ماجة وإسناده حسن

Siapa yang suka menimbun makanan orang-orang Islam, maka Allah akan mengutuknya dengan penyakit kusta dan kebangkrutan. (HR Ibnu Majah, sanad hadit ini hasan)

Alasan hukum haramnya menimbun barang yang digunakan oleh para ulama adalah adanya kesengsaraan (al-madlarrah), dimana dalam menimbun ada praktek-praktek yang menyengsarakan (al-madlarrah) orang lain, yang hal tersebut tidak sejalan dengan tujuan syari’at Islam yaitu menciptakan kemaslahatan (tahqîq al-mashâlih) dengan langkah mendatangkan kemanfa’atan (jalbul manfa’ah) dan membuang kesengsaratan (daf’ul madlarrah). Apalagi kalau diperhatikan perbuatan menimbun merupakan hanya berupaya mencari keuntungan bagi dirinya sendiri diatas penderitaan orang lain. 
Para ulama juga banyak pendapat, bahwa yang haram ditimbun bukan hanya barang/komoditi makanan pokok sehari-hari suatu penduduk saja, melainkan komoditi yang kalau hal tersebut sulit didapatkan maka hal itu bisa menyebabkan kesengsaraan bagi orang banyak. Malah ulama Malikiyah berpendapat bahwa haramnya menimbun tidak hanya pada bahan pokok saja melainkan semua barang. Dan dalam kitab Fathul Mu’in yang dinukil dari al-Ghazaly diistilahkan dengan “mâ yu’în ‘alaih” yaitu setiap komoditi/barang yang dibutuhkan.

Hanya saja sampai saat ini di Indonesia tidak ada peraturan hukum yang secara jelas mengatur tentang penimbunan. Sehingga penimbun BBM nyaris tidak ada yang dikenakan sanksi sebagaimana mestinya. Seperti beberapa penimbun BBM yang dijerat dengan Pasal 53 huruf d jo Pasal 23 ayat (2) huruf c UU No. 22 Tahun 2001 tentang Migas, misalnya kasus yang terjadi di Indramayu, Jawa Barat. Atau misalnya yang terjadi di Poso Sulawesi Tengah yang kasusnya sampai ke Mahkamah Agung akan tetapi putusan akhirnya pelaku terlepas dari segala tuntutan hukum dan barang bukti 134 drum minyak tanah dikembalikan kepada pelaku.

Sumber : http://mughits-sumberilmu.blogspot.co.id/2013/06/hukum-menimbun-barang-untuk-dijual.html

Kamis, 20 Juni 2013

Bagaimana Hukum Uang Gaji dari Pemerintah Indonesia
Pertanyaan ini dari orang yang menamakan dirinya dengan Hamba Allah yang Membutuhkan Jawaban

Pertanyaan:

Bagaimana Hukumnya Uang Gaji dari Pemerintah Indonesia?

saya pernah mendengar dari salah satu fatwa seorang Kiai yang menyatakan bahwa hukum uang gaji pemerintah adalah haram.
saya juga sudah keliling website untuk mencari jawaban tersebut,namun semua jawabannya yang diuraikan tidak memuaskan kepada saya,karena dalil dalil yang dipakai menurut saya tidak pas.
ada juga yang mengqias kepada Rasulullah SAW yang memakan suguhan hidangan dari orang yahudi,dan menghukumi uang dari pemerintah sebagai uang subhat.

Mohon penjelasannya.terima kasih buat ustadz yang mengurus Blog Sumber Ilmu.
Jawaban:
Sebelumnya saya ucapkan terima kasih banyak atas dukungan anda dan kepercayaan anda kepada saya untuk menjawab pertanyaan anda.
Memang uang pemerintah indonesia tidak bisa dikatakan uang subhat,karena subhat itu adalah sesuatu yang tidak ketahuan (tidak diketahui secara pasti dari mana dan bagaimana).sedangkan uang dari pemerintah indonesia sudah jelas berasal dari mana.
Uang Pemerintah Indonesia yang dijadikan gaji adalah uang dari hasil Pajak.Sedangkan Pajak di Indonesia itu bermacam macam,yaitu pajak dari hal yang halal,seperti pajak tanah,pajak mobil,pajak rumah dan lain lain.
Namun juga ada pajak dari hal yang haram,seperti pajak pabrik khamer,ternak babi,dan tempat tempat maksiat.
Melihat kejelasan uang yang dikumpulkan dari hasil pajak ini,kita tidak bisa lagi mengatakan uang tersebut adalah uang subhat,karena uang pemerintah sudah jelas jelas dari pajak,dan pajak tersebut bercampur dari yang halal dengan yang haram.maka hukum uang tersebut masuk kepada HARAM sebagaimana hadits Nabi Muhammad SAW:

"Tidak bercampur antara halal dan haram,Kecuali menang apa yang haram"

dalam Qawaidul Fiqih juga ada pembahasan khusus mengenai hal ini.dan menurut ulama' tashawwuf juga mengharamkan uang yang datangnya dari pemerintah.
namun ada juga yang menghalalkan uang dari pemerintah,namun seperti alasan saudara "Hamba Allah yang Membutuhkan Jawaban" bahwa alasannya memang tidak begitu kuat dan terkesan dipaksa.selain itu ada juga dalil dalil yang ternyata pengqiasannya kurang cocok,karena yang dijadikan ibarat adalah negara negara yang tidak memungut pajak dari tempat tempat maksiat.
Untuk dalil yang memperbolehkan,mungkin anda bisa menghubungi Pengurus NU yang ada di daerah anda,atau silahkan kunjungi website NU.karena saya sendiri sampai saat ini masih belum menemukan dalil yang memperbolehkan/menghalalkan Uang Gaji Pemerintah Indonesia.
Sekian dari saya.terima kasih dan semoga bermanfaat.

Sumber:http://mughits-sumberilmu.blogspot.com/2013/06/bagaimana-hukumnya-uang-gaji-dari.html

Senin, 22 Oktober 2012

Hukum Menamai Nama Anak Dengan Nama Orang Kafir/Fasiq

Hukum Memberikan Nama yang Islami dan Bagus Kepada Anak (Bayi) Baik Bayi Laki Laki Maupun Bayi Perempuan # Hukum Memberikan Nama yang Tidak Baik dan Bagus Kepada Anak (Bayi Laki Laki maupun Bayi Perempuan) # Hukum Memberi Nama Anak Dengan Meniru Nama Artis atau Ahli Maksiat #

Hukum Memberi Nama Anak Dengan Nama Orang Kafir/Fasiq

Memberi Nama Kepada Anak adalah salah satu kewajiban orang tua kepada anaknya.

Namun kewajiban tersebut tidak serta merta harus ditelan bulat bulat tanpa melihat maksud dari pemberian nama.

الاسم دعاء : Nama itu adalah Doa

Dengan Nama Baik Orang tua berharap sang Anak kelak bisa menjadi orang baik.

Baik disini bukan hanya terfokus kepada bagusnya dari kedengan nama panggilan sang anak kelak,namun lebih terfokus kepada makna dan maksudnya.

Lalu Bagaimana Hukum Memberi Nama Anak Dengan Nama Orang Kafir/Fasiq

Kalau nama tersebut tidak mengandung arti yang salah dengan syari'ah dan tidak diniatkan meniru orang kafir namun kebetulan sama saja,maka masih bisa dima'fu (bisa diperbolehkan) namun hukum dasarnya adalah makruh.

namun kalau niatnya sudah meniru apalagi dalam artinya sudah tidak baik menurut syari'ah maka hukumnya adalah haram.

Hal tersebut di perkuat oleh beberapa dalil termasuk beberapa dalil dibawah ini:

Tanwir al-Qulub

وَيَجِبُ تَغْيِيْرُ اْلأَسْمَاءِ الْمُحَرَّمَةِ وَيُسْتَحَبُّ تَغْيِيْرُ اْلأَسْمَاءِ الْمَكْرُوْهَةِ

Mengubah nama-nama yang haram itu hukumnya wajib, dan nama-nama yang makruh hukumnya sunah.

Demikian juga disebutkan dalam Hasyiyah al-Bajuri

وَيُسَنُّ أَنْ يُحَسِّنَ اسْمَهُ لِخَبَرِ أَنَّكُمْ تُدْعَوْنَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِأَسْمَائِكُمْ وَأَسْمَاءِ أَبَائِكُمْ فَحَسِّنُوْا أَسْمَائَكُمْ إِلَى أَنْ قَالَ: وَتُكْرَهُ اْلأَسْمَاءُ الْقَبِيْحَةُ كَحِمَارٍ وَكُلِّ مَا يُتَطَيَّرُ نَفْيُهُ أَوْ إِثْبَاتُهُ وَتَحْرُمُ التَّسْمِيَّةُ بِعَبْدِ الْكَعْبَةِ أَوْ عَبْدِ الْحَسَنِ أَوْ عَبْدِ عَلِيٍّ وَيَجِبُ تَغْيِيْرُ اْلاسْمِ الْحَرَامِ عَلَى اْلأَقْرَبِ لِأَنَّهُ مِنْ إِزَالَةِ الْمُنْكَرِ وَإِنْ تَرَدَّدَ الرَّحْمَانِيُّ فِيْ وُجُوْبِهِ وَنَدْبِهِ

Dan disunahkan memperbagus nama sesuai dengan Hadis: “Kamu sekalian akan dipanggil pada hari kiamat dengan nama-nama kalian dan nama-nama bapak kalian, maka perbaguskanlah nama-nama kalian”. Dimakruhkan nama-nama yang berarti jelek, seperti himar (keledai) dan setiap nama yang diprasangka buruk (tathayyur) penafian atau penetapannya .. Haram menamai dengan Abdul Ka’bah, Abdul Hasan atau Abdu Ali (Hamba Ka’bah, Hamba Hasan atau Hamba Ali). Menurut pendapat yang lebib benar wajib mengubah nama yang haram, karena berarti menghilangkan kemungkaran, walaupun al-Rahmani ragu-ragu apakah mengubah nama demikian, wajib atau sunah.

Sumber: Ahkamul Fuqaha, Keputusan Muktamar ke-8 di Jakarta 12 Muharram.

من تشبه بقوم فهو منهم

Barang siapa menyerupai dengan sesuatu kaum,maka dia termasuk didalamnya.

قوله صلى الله عليه وسلم : للذي سأله عن الساعة : ( ما أعددت لها قال : حب الله ورسوله قال : أنت مع من أحببت ) وفي رواياتالمرء مع من أحب . فيه فضل حب الله ورسوله صلى الله عليه وسلم والصالحين ، وأهل الخير ، الأحياء والأموات . ومن فضل محبة الله ورسوله امتثال أمرهما ، واجتناب نهيهما ، والتأدب بالآداب الشرعية . ولا يشترط في الانتفاع بمحبة الصالحين أن يعمل عملهم ; إذ لو عمله لكان منهم ومثلهم ، وقد صرح في الحديث الذي بعد هذا بذلك ، فقال : أحب قوما ولما يلحق بهم . قال أهل العربية : ( لما ) نفي للماضي المستمر ، فيدل على نفيه في الماضي ، وفي الحال . بخلاف ( لم ) فإنها تدل على الماضي فقط ، ثم إنه لا يلزم من كونه معهم أن تكون منزلته وجزاؤه مثلهم من كل وجه

dalam hadits lain:

يحشر المرء مع من أحب

Dalil Lainnya:

من عاش على شىء مات عليه.. ومن مات على شىء بـُعِثَ عليه

Dalil lainnya lagi:

من أحب شيئا ، أكثر ذكره، و من أجلّ أمرا، أعظم قدره، و لا حبيب أحب من الله إلى أهل ولايته، و لا جليل أجل من الله عند أهل معرفته، فاذكروا الله ذكر المحبين، و أجلّوه إجلال العارفين

ابن الجوزي رحمه الله ( التذكرة ص 119)

Dan masih banyak dalil dalil lainnya yang bisa anda lihat sendiri dikitab annashihah dan di kitab tanwirul qulub dan lainnya.

Semoga Tulisan Hukum Memberi Nama Anak Dengan Nama Orang Kafir/Fasiq ini bermanfaat.

walaupun masih banyak kekurangan dengan tulisan Hukum Memberi Nama Anak Dengan Nama Orang Kafir/Fasiq dan mungkin masih belum jelas dan terperinci,namun saya berharap tulisan ini bermakna buat anda.

Sumber : mughits-sumberilmu.blogspot.com

Senin, 15 Oktober 2012

Hukum Berpakaian Hitam Ketika Melayat,Hukum Berbusana Hitam Ketika Melayat,Hukum Berpakaian Hitam Waktu Melayat,Hukum Berpakaian Hitam Waktu ada Orang Meninggal

Tidak semua tradisi sejalan dengan tuntunan syariah. Hal ini bisa karena keberadaan tradisi yang mendahului syari�ah dan belum ada usaha pelurusan terhadapnya, seperti tradisi tumbal dan sesajen. Atau bisa juga tradisi tidak sejalan dengan syariah karena kehadirannya sebagai entitas baru hasil dari keterpengaruhan berbagai kebudayaan seperti halnya kebiasaan berbaju hitam ketika berta�ziyah.

Kebanyakan masyarakat kota selalu menggunakan berbusana hitam ketika melayat sanak saudara yang terkena musibah. Hal ini mereka lakukan dengan tujuan menunjukkan rasa belasungkawa. Warna hitam dalam konteks kematian bermakna kesusahan. Hanya saja disayangkan pemahaman ini seolah berubah menjadi sebuah aturan tak tertulis bahwa barang siapa berta�ziyah harus memakai busana serba hitam. Padahal yang demikian ini kurang sesuai dengan tuntunan syariah.

Dalam syariah wacana mengenai belasungkawa bagi keluarga yang ditinggal mati disebut dengan istilah hidad. yaitu batasan-batasan tertentu yang harus dipatuhi oleh mereka yang ditinggal mati sebagai tanda berduka. Diantaranya adalah tatacara berbusana bagi mereka yang ditinggalkan baik keluarga atupun kerabat dekat yang berta'ziyah.

Mengenai busana warna hitam yang sering dipakai oleh seseorang ketika melayat sebenarnya telah diatur dalam Islam. Menggunakan warna hitam untuk menunjukkan mebelasungkawa hanya boleh dilakukan oleh suami atau istri yang ditinggal mati.
Sedangkan untuk orang lain, meskipun keluarga hukumnya makruh tahrim, bahkan sebagian ulama mengatakan haram. Dengan alasan dikhawatirkan penggunaan baju hitam itu menunjukkan seseorang tidak ridha dengan kematiannya yang sama juga maknanya dengan tidak menerima keputusan Allah swt. Atau bisa jadi warna hitam malah menunjukkan kemewahan tersendiri, sehingga memakai gaun hitam tidak untuk berbela sungkawa namun untuk berhias diri (mungkin karena mahalnya gaun hitam, atau hitam telah menjadi trend tersendiri).

Dengan demikian, sebenarnya hukum memakai gaun hitam ketika berta�ziyah dikembalikan kepada niat pemakainya. Sejauh tidak diniatkan untuk menunjukkan kemewahan atau ketidak-ridhaan taqdir Tuhan, maka hukumnya boleh-boleh saja.

Dan begitu juga sebliknya, yang terpenting adalah tidak menganggap bahwa pakaian hitam sebuah kewajiban orang berta�ziyah. Dan boleh saja menggunakan baju berwarna selain hitam untuk ta�ziyah selama niatnya benar. Begitu keterangan dari al-Mausu�ah alfiqhiyyah juz 21:

??? ?????? ?? ?????? ???? ??????? ??? ??? ???? ??????? ???? ?????? ??? ?????? ?? ??????... ???? ??????? ??? ?????? ?? ?????? ??? ??? ????? ???? ???????? ?? ????? ???? ??? ?? ???? ?????? ??? ??? ???? ????? ?????? ?? ??? ?????? ???? ?????? ???? ???????? ?? ???????? ??? ??? ?????? ???? ?????? ?? ?????? ?? ??? ???? ???? ?????? ?? ???????? ??? ???? ?? "??????" ????? ??????? ?????? ?? ??????. ??? ?????? ?? ??????? : ???? ??????? ??? ?? ????? ????? ???? ??? ????? ?? ???? ?? ?? ??????? ?????? ??? ??? ?? ????? ????? ???? ????? ????? ???? ???? ????? ?? ???? ??? ??? ????? ??? ?? ???????? ?????? ?????? ??????? ????? ?????? ?????? ?? ?????? ?????? ?????? ???? ?? ???? ????? ??? ????? ??????? ??? ??????? ??????
Ulama bersepakat untuk memperbolehkan istri yang ditinggal mati memakai busana hitam dalam kontkeks ihdad (batasan bagi istri yang ditinggal mati suami)� ulama madzhab Hanafi melarang pakaian hitam selain suami/istri yang ditinggal mati. Begitu juga ulama madzhab Maliki yang memperbolehkan busana hitam bagi istri kecuali jika hitam itu dianggap mewah bagi masyarakat setempat. Adapun Imam qulyubi seorang ulama madzhab Syafi�I mengharamkan busana hitam (bagi istri yang ditinggal mati suami) apabila warna hitam dianggap mewah. Menurut Imam Nawawi seperti yang dinukil dari Imam Mawardi dalam kitab �Al-Hawi� tentang pendapat mengenai pakaian hitam dalam kontek ihdad berkata: berbusana hitam ketika ta�ziyah apabila ditujukan sebagai tanda belasungkawa bagi peta�ziyah tidak diperbolehkan apabila terbersit niat penentangan atas taqir Tuhan Yang Maha Kuasa. Hal itu merupakan sesuatu yang buruk dan dibenci, seperti yang termaktub dalam sebuah hadits Nabi. Dan memakain hitam bagi seorang laki-laki dalam ta�ziyah hukumnya makruh.
Redaktur: Ulil Hadrawy
Sekian "Hukum Berpakian Hitam Ketika Melayat" Semoga Bermanfaat.
Hukum Manipulasi Kelulusan Siswa
Hukum Nama Baru Setelah Haji
Pengertian Ulama' Memahami Ulama'
Sudahkah Anda Menghormati Yang Tidak Puasa?
Kumpulan Hadits Mengenai Bulan Puasa Ramadlan
Hukum Nikah Mut'ah/Kawin Kontrak Bagian Ke2
Hukum Zakat Pengertian Sabilillah Dalam Ayat Zakat
NIKAH MUT'AH (KAWIN KONTRAK)
Ilmu Hadits Diroyah
Hadits Riwayah
hukumnya memakai email gratis yahoo
hukum menerangkan allah dan agama allah
Macam Macam Hadits
Definisi Ahlus Sunnah Wal Jama'ah
hukum menyambung rambut
AL HADITS
AL-QUR'AN
waqaf dan ibtida'
Kolektivitas hukum Islam
Pengertian kolektivitas
hukum membaca dan menulis al-qur'an dengan bahasa ajam saja
SYARAT SYARAT MENUNTUT ILMU
BAGAIMANA HUKUMNYA MEMBACA ALQUR�AN DENGAN BAHASA AJAM SAJA?
Hukum TKI Ilegal dan Hukum Gajinya
Pengertian/Definisi Paradigma
Hukum Berpakaian Hitam Ketika Melayat

Hukum Manipulasi Kelulusan Anak Didik,Hukum Manipulasi Kelulusan Siswa,Hukum Islam Mengenai Manipulasi Siswa dan hal hal lainnya yang masih berhubungan dengan Hukum Manipulasi Kelulusan Anak Didik,Hukum Manipulasi Kelulusan Siswa,Hukum Islam Mengenai Manipulasi Siswa.
Pengelola lembaga pendidikan diharamkan melakukan praktek manipulasi dalam rangka membantu kelulusan anak didik pada waktu Ujian Nasional (UN). Selain melanggar undang-undang negara, praktek demikian sangat bertentangan dengan nilai-nilai dan ajaran agama.

Demikian keputusan Bahsul Masail yang diselenggarakan pengurus Majlis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) kecamatan Jekulo kabupaten Kudus, bertempat di Masjid Al-Ittihad Desa Terban Jln Raya Kudus Pati, Sabtu (13/10) malam. Acara yang dihadiri sejumlah kiai NU tingkat MWC Jekulo ini membahas tiga permasalahan yang dilontarkan warga NU setempat.

Dalam diskripsi masalah UN disebutkan, penetapan standar kelulusan siswa sebagai upaya meningkatkan kualitas pendidikan telah menimbulkan polemik baru termasuk kekhawatiran pihak sekolah terhadap anak didiknya yang tidak lulus. Akibat dari kekhawatiran tersebut beberapa cara dilakukan pihak pengelola madrasah atau sekolah melalui guru membantu memberikan kunci jawaban atau berupaya membutakan mata pengawas ujian lewat pesangon atau servis yang spesial.

"Dengan mengacu dalil-dalil hukum fiqh, para mubahis (kiai) menyatakan praktek semacam itu haram karena masih bersifat kekhawatiran tidak lulus," terang Ketua Lembaga Bahsul Masail (LBM) MWC NU Jekulo H. Jupriyanto kepada Pengurus NU, Ahad (14/10).

Namun, jelas H. Jupri, praktek tersebut diperbolehkan apabila sudah ada kepastian bila tanpa melakukan manipulasi tidak akan diterima atau tidak lulus. "Jadi, kalau masih ada cara yang benar, membantu siswa atau praktek nyogok semacam itu, menurut hukum asal tetap haram," tandas dia.

Pada materi lainnya, para mubahis juga membahas hukum makanan yang tersimpan dalam wadah seperti magic-com terdapat tiga isi makanan. Dalam tempat yang paling bawah terdapat nasi,kemudian atasnya daging babi dan paling atas telur bacem.

"Keputusannya, makanan selain babi tetap sah dan suci untuk dimakan dengan catatan daging babi tidak menetes pada tempat makanan lainnya," ujar H. Jupri yang memimpin pembahasan tersebut.

Sementara, ketika membahas pasangan suami-istri yang sudah menjalin hubungan nikah selama 4 tahun namun si istri baru mengetahui bahwa suaminya mengindap penyakit HIV. Karena takut tertular maka istri selalu menolak jika diajak hubungan suami istri.

"Bahsul Masail memutuskan si istri boleh menolak berhubungan Intim dan si istri juga diperbolehkan minta talak dan atau melanjutkan. Namun kalau melanjutkan si Istri harus melayani hubungan intim," jelasnya lagi seraya memberikan dalil-dalil ma'khad-nya.

Bahsul masail MWCNU Jekulo ini merupakan kegiatan rutin tiap 3 bulan sekali bergiliran tempatnya di ranting-ranting NU setempat. Pada malam itu, ratusan warga NU menghadiri acara yang berlangsung hingga tengah malam.
Sumber: NU Online

Hukum Manipulasi Kelulusan Siswa
Hukum Nama Baru Setelah Haji
Pengertian Ulama' Memahami Ulama'
Sudahkah Anda Menghormati Yang Tidak Puasa?
Kumpulan Hadits Mengenai Bulan Puasa Ramadlan
Hukum Nikah Mut'ah/Kawin Kontrak Bagian Ke2
Hukum Zakat Pengertian Sabilillah Dalam Ayat Zakat
NIKAH MUT'AH (KAWIN KONTRAK)
Ilmu Hadits Diroyah
Hadits Riwayah
shahabat
tabi'in dan tabi'it tabi'in
salah kaprah dalam bahasa arab bagian 2
islam adalah agama kasih sayang
Imperialisme
MUHAMMAD
ISLAM
hukumnya memakai email gratis yahoo
partisipasi
hukum menerangkan allah dan agama allah
Macam Macam Hadits
cara membaca alqadru
sistem
elemen
Definisi Ahlus Sunnah Wal Jama'ah
hukum menyambung rambut
AL HADITS
Definisi al-qur'an bagian 2
definisi al-qur'an
apa itu definisi
AL-QUR'AN
AL-ILMU DAN AL-MA'RIFAH
anda blogger muslim
waqaf dan ibtida'
Email Gratis Terbaik
Email Gratis Mughits
waqaf binnaql
pacaran yang islami
salah kaprah dalam bahasa arab
Kolektivitas hukum Islam
Pengertian kolektivitas
buang air besar di tempat berteduh termasuk dosa b...
download biografi imam syafi'i
pembahasan dhan,wahm dan syak
Morfologi dan Sintaksis
Pragmatika,Semantik
Linguistik
tips untuk 
MUQADDIMAH (ushulut tafsir)
adat dan urf
'amal (ushul)
tips untuk kuat hafalan
hukum membaca dan menulis al-qur'an dengan bahasa ajam saja
SYARAT SYARAT MENUNTUT ILMU
BAGAIMANA HUKUMNYA MEMBACA ALQUR�AN DENGAN BAHASA AJAM SAJA?
cara waqaf pada kalimat yang sebelum huruf terakhirnya bersukun
para qari' yang bagus cara membacanya
Hukum TKI Ilegal dan Hukum Gajinya
Pengertian/Definisi Paradigma

Kamis, 19 Juli 2012

Hukum Zakat Pengertian Sabilillah Dalam Ayat Zakat Siapa yang dimaksud fisabilillah dalam ayat zakat Hukum Zakat Pengertian Sabilillah Dalam Ayat Zakat#
Hukum Zakat Pengertian Sabilillah Dalam Ayat Zakat
Masih dalam pembahasan fiqh,dan ini bersumber dari buku yang dikarang oleh KH. Muhyiddin Abdusshomad.
Pertanyaan:
Termasuk Al-Ashnafal-Tsamaniyah (delapan golongan yang berhak menerima zakat) yang disebutkan dalam alqur'an adalah golongan fi-sabilillah.
Apakah yang dimaksud fi sabilillah dalam ayat itu?
Sebab ada yang berpendapat bahwa sabilillah itu mencangkup kepada semua bentuk kebaikan,seperti membangun masjid,madrasah dan lainnya.
Jawab:
Ayat yang menjelaskan tentang delapan golongan yang berhak menerima zakat,terdapat pada Alqur'an Surat At Taubah ayat 60

إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ 

وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَاِبْنِ السَّبِيلِ فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, Para mu'allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.

Ini Adalah delapan golongan yang berhak diberi harta zakat.
Sedangkan yang dimaksud fi sabilillah dalam ayat diatas adalah orang orang yang berjihad (berperang) membela agama allah SWT.
Dalam Tafsir al jalalain disebutkan:
وفي سبيل الله اي القائمين بالجهاد ممن لا فيء لهم ولو اغنياء
tafsir jalalain 420
(fi sabilillah) artinya adalah orang orang yang melaksanakan jihad (peperangan membela agama allah SWT) yang tidak mendapatkan harta fai' sekalipun mereka kaya.
Jadi,fi sabilillah hanya tertentu pada orang2 yg melakukan peperangan membela agama allah SWT.
Oleh karena itu harta zakat tidak dapat diberikan untuk pembangunan masjid,madrasah dan semacamnya.
Penggalangan dana untuk tujuan tersebut jangan sampai mengambil harta zakat,tetapi bisa dengan cara yang lain,seperti infaq dan shadaqah.
Bukankah dalam harta itu ada selain zakat (inna fi al-mal haqq siwa al-zakah)? DR. Muhammad bakr Isma'il dalam kitabnya al-fiqh al-wadlih mengatakan:
والقول الاول الاصح وهو ما عليه اكثر الفقهاء اخ
Pendapat pertama (sabilillah diartikan dengan orang orang yang berjihad(berperang) di jalan allah SWT) adalah yang paling benar.
Dan itulah pendapat mayoritas ulama'.
Pembangunan Masjid,madrasah,pemakaman dan lainnya bisa didanai dengan shadaqah sunnah,tidak dari harta zakat.
Sebab pembagian zakat itu hanya tertentu pada delapan golongan yang telah disebutkan dalam ayat alqur'an.
(al fiqh al-wadlih,juz 1 hal 508-509)
Kesimpulannya,sabilillah dalam ayat itu tidak dapat diartikan dengan segala jalan kebaikan,sebab yang dimaksud hanyalah orang orang yang berperang di jalan allah SWT.
Mudah Mudahan Bermanfaat,Terima kasih Sudah berkunjung.

Sumber : http://mughits-sumberilmu.blogspot.co.id/2012/07/hukum-zakat-pengertian-sabilillah-dalam.html

Minggu, 17 Juni 2012

Hukum Nikah Mut'ah,Hukum Kawin Kontrak,Nikah Mut'ah atau Kawin Kontrak Bagaimana Hukumnya
NIKAH MUT'AH (KAWIN KONTRAK) Bagaimana hukumnya?
soal:
Ada kecendrungan dari sebagian kalangan untuk mencari solusi menyalurkan nafsu sekseualnya dengan cara nikah mut'ah.
Pernikahan ini Dilakukan karena dianggap sebagai salah salah satu model pernikahan yang disahkan dalam agama islam.
bagaimana sesungguhnya?
Jawab:
Allah SWT menciptakan manusia dilengkapi nafsu seksual.
Dengan adanya dorongan seksual tersebut kemudian manusia bisa memiliki keturunan untuk melangsungkan generasi manusia.
Itu adalah fitrah yang dimiliki manusia,bahkan oleh seluruh makhluk hidup.
Namun dorongan nafsu seksual itu tidak boleh disalurkan sebebas bebasnya,karena akan banyak bahaya yang akan mengiringinya.
Timbulnya berbagai macam penyakit kelamin,bahkan salah satu penyebab HIV karena penyaluran nafsu seksual yang tidak terkontrol.
Juga akan merugikan perempuan karena memang perempuanlah yang banyak menanggung akibatnya,terutama ketika terjadi kehamilan.
Akibat selanjutnya adalah kaburnya atau bahkan hilangnya jalur nasab seseorang,padahal hal tersebut merupakan sesuatu yang sangat penting dalam kehidupan manusia.
Setiap orang pasti menginginkan adanya kejelasan status dalam masyarakat.
siapa bapaknya,ibunya,saaudaranya,kakeknya,nenek dan seterusnya.
Begitu pula nafsu seksual tersebut tidak boleh dikekang atau dibunuh.
Itu sangat bertentangan dengan fitrah manusia yang hidup berpasang pasangan,dengan nafsu seksual sebagai salah satu hiasaannya.
Dan juga dapat menyebabkan hilangnya keturunan manusia.
Sebagai jalan tengah maka Islam membuat aturan pernikahan.
Dengan menikah seseoarang bisa menyalurkan kebutuhan seksualnya secara bersih,benar dan bertanggung jawab.
Pernikahan meniscayakan adanya hak dan kewajiban.
Begitu pula anak yang dilahirkan memiliki status yang jelas dan mendapat kasih sayang yang penuh dari kedua orang tuanya.
Di dalam islam,tujuan pernikahan bukan hanya untuk menyalurkan nafsu seksual semata,lebih dari itu yakni untuk membentuk keluarga sakinah mawaddah wa rahmah,sehingga ketenangan akan terwujud.Firman allah SWT:

?????? ???????? ???? ?????? ?????? ???? ???????????? ?????????? ???????????? ????????? ???????? ?????????? ????????? ?????????? ????? ??? ?????? ??????? ???????? ??????????????

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir. (QS.Al-Rum,21)

Keluarga yang sakinah mawaddah wa rahmah akan terwujud apabila suami dan istri tetap bersatu dalam suatu perkawinan tidak terpisahkan oleh ruang dan waktu dan juga tidak dihancurkan oleh badai perceraian.
Begitu pula harus ada kerja sama dan saling pengertian dari kedua belah pihak untuk saling mengisi dan berbagi.
Dari sinilah kita bisa melihat nikah mut'ah yang diistilahkan oleh AL-KHUMAINI dengan nikah al-munqathi' (terputus):
?????? ??????? ???? ?? ?????? ???? ??????? ?? ??? ????? ??? ??? ????? ??? ????? ????? ????? ??? ?? ??? ?? ???? ???? ????? ????? ??? ??????? ????? ?????
Nikah munqati' (terputus) disebut juga nikah mut'ah,hukumnya sama seperti nikah da'im (seterusnya tanpa batas waktu) yang membutuhkan akad ijab dan qabul yang diucapkan (zubdah al-ahkan,126)
Sudah tentu di dalamnya tidak terdapat tanggung jawab kerena setelah samapai masa waktunya,pernikahan akan berakhir tanpa ada konsekuensi apapun bagi laki laki,sementara perempuan harus menjalani iddah.
Tujuan pernikahan untuk membentuk rumah tangga sakinah mawaddah wa rahmah tidak akan terpenuhi,dan justru menyengsarakan kaum perempuan dan anak yang lahir dari hasil pernikahan tersebut.
Dengan alasan inilah sangat wajar jika islam melalui sabda nabi Muhammad SAW melarang nikah mut'ah dalam agama islam.
Dalam sebuah Hadits:
?? ????? ?? ???? ?? ??? ????? ??? ???? ?? ???? ?? ?????? ?? ???? ??? ???? ??? ??? ???? ???? ?? ????? ??? ???? ???? ???? ??? ?? ?????? ??? ???? ????? ??????? ??? ????
"Dari Hasan bin Muhammad bin Ali RA dan saudaranya Abdullah bin Muhammad dari ayahnya,Sesungguhnya Ali bin Abi Thalib RA berkata kepada ibn Abbas Bahwa RASULULLAH SAW melarang nikah mut'ah pada peperangan dan memakan daging keledai jinak pada peperangan khaibar" (shahih al-Bukhari,3894)
Inilah hadits yang dijadikan dasar oleh ulama' untuk melarang nikah mut'ah.
Dari sini pula dapat kita ketahui bahwa pelarangan nikah mut'ah itu bukan hanya dari hadits yang disampaikan sayyidina Umar RA saja,tetapi juga Hadits yang disampaikan sayyidina Ali RA.
Memang pada awal Islam,Nabi Muhammad SAW pernah membolehkan nikah mut'ah,namun kemudian kebolehan itu dinasakh hingga tetaplah keharaman itu sampai sekarang.
Imam nawawi menjelaskan:
??? ??????? ??? ?? ???? ?????? ??? ????? ??? ??????? ?? ??? ????????? ??????? ???????? ??? ??? ??? ?????? ??????? ??? ?????? ??? ????? ??? ???????? ?? ???????? ??????? ????????? ??????? ?? ???? ??? ????? ??? ?????? ??? ????? ??? ???? ??????? ????? ????? ??? ???????? ?? ???? ?????? ?????? ??? ????? ??? ????? ??? ???????? ?? ???? ?????? ??? ??? ? ????? ??? ????? ??? ???? ?????? ??? ????? ??? ???? ??? ???? ????? ???
"Al Mazari mengatakan bahwa,pada awal islam nikah mut'ah memang diperbolehkan,Namun kemudian perkenan itu dihapus dengan beberapa Hadits Shahih.
Dan ulama' telah ijma' atas keharamannya.
Dan kami telah menjelaskan bahwa kebolehan itu telah dinasakh sehingga tidak ada alasan lagi untuk membolehkannya.
Orang yang membolehkan itu menghubungkan pendapatnya dengan firman allah SWT"maka istri istri yang telah kamu nikmati(campuri) di antara mereka,berikanlah kepada mereka maharnya"(annisa'24) 
Dan dalam qiroah Ibn Mas'ud "maka istri istri yang telah kamu nikmati (campuri) di antara mereka sampai waktu tertentu" Namun Qiroah Ibnu Mas'ud ini termasuk syadz,tidak bisa dijadikan pedoman,(yang menyamai) kedudukan Al Qur'an atau hadits serta tidak boleh diamalkan.
Insya allah ini akan saya sambung
Hukum Nikah Mut'ah,Hukum Kawin Kontrak,Nikah Mut'ah atau Kawin Kontrak Bagaimana Hukumnya
Bagi yang suka pada artikel ini boleh mengcopy tapi dengan sarat mencantumkan sumbernya denga meletakkan Kode sebagai berikut:
<a href="http://mughits-sumberilmu.blogspot.com/2012/06/nikah-mutah-kawin-kontrak.html" target="_blank">NIKAH MUT'AH (KAWIN KONTRAK)</a>

NIKAH MUT'AH (KAWIN KONTRAK)
Sumber buku KYAI MUHYIDDIN ABDUSSHOMAD

Selasa, 08 Mei 2012

Hukumnya Memakai Email Gratis Yahoo - Assalamualaikum.wr.wb.
Ada tugas menjawab pertanyaan dari para pengunjung setia blog sumber ilmu ternyata merepotkan juga,hehehe..
apalagi kalau untuk menjawab pertanyaan syar'iyah yang masih belum dibahas dalam kitab fiqh.
seperti pertanyaan kali ini yang dibebankan kepada saya
pertanyaannya adalah: Bagaimana Hukumnya Memakai Email Gratis Yahoo
pertanyaannya sebagai berikut:
assalamu'alaikum.wr.wb.
yang terhormat pengurus blog sumber ilmu yang saya hormati
saya sedikit punya pertanyaan mengenai yahoo
saya membaca postingan diblog mr mughits dan dibeberapa blog lainnya menyatakan bahwa yahoo itu milik orang yahudi dan pembuatan yahoo itu ada unsur perjuangan umat yahudi
lalu kalau hal itu benar,apakah kita umat islam boleh memakai email gratis yahoo?sedangkan apabila kita memakai produk yahoo berarti kita juga ikut berpartisipasi mewujudkan perjuangan kaum yahudi.
sekian pertanyaan saya,terima kasih banyak wassalamualaikum.wr.wb.
*****@mughits.zzn.com
jawaban saya (kafil)
waalaikumussalam.wr.wb.
sebelum saya menjawab pertanyaan anda saya ucapkan terima kasih banyak karna sudah mempercayai kami untuk menjawab pertanyaan anda.
mengenai yahoo itu masih belum tentu 100% benar,dan apabila itupun 100% benar,maka hukumnya juga tidak apa apa
alasannya sebagai berikut:
1. kita yang menggunakan email gratis yahoo tidak muthlaq memberikan keuntungan kepada yahoo dan niatan kita bukan untuk membantu yahoo.
niat adalah hal pertama yang harus kita bahas,sebagaimana sabda rasulullah saw:

???? ??????? ???????
sesungguh perkerjaan itu dengan niat (tergantung niatnya)

?? ?????? ???? ??????????? � ??? ???? ??? � ????? ???????? ??????? ??????? � ??? ???? ???? ???? � ??????? � ???????? ??????????? ????????????? ? ?????????? ??????? ??????? ??? ????? ? ?????? ??????? ?????????? ????? ??????? ?????????? ???? ????? ????????? ??????????? ???????????? ????? ??? ??????? ????????

Dari Umar bin Khothob berkata : �Saya mendengar Rosululloh bersabda : �Sesungguhnya amal perbuatan itu tergantung pada niatnya, dan sesungguhnya setiap orang itu tergantung terhadap apa yang dia niatkan, maka barang siapa yang hijrohnya untuk Alloh dan Rosul Nya maka hijrohnya itu untuk Alloh dan Rosul Nya, dan barangsiapa yang hijrohnya untuk mendapatkan dunia maka dia akan mendapatkannya atau hijrohnya untuk seorang wanita maka dia akan menikahinya, maka hijrohnya itu tergantung pada apa yang dia hijroh untuknya.�
2. kita memanfaatkannya saja
mengambil manfaat atau mengambil manfaat yang lebih besar atau yang lebih banyak itu diperbolehkan,walaupun ada unsur mudlaratnya,dalam qawaidul fiqh dijelaskan begitu.
atau untuk menghilangkan mudlarat yang lebih besar,kita diperbolehkan mengambil mudlarat yang lebih ringan.
????? ????? ???? ?????? ?????
kemudlaratan yang lebih berat dapat dihilangkan dengan kemudlaratan yang lebih ringan.
selain dalil dalil diatas masih banyak dalil dalil yang lain yang menunjukkan kebolehan melakukan sesuatu yang bahaya namun bisa menghilangkan bahaya yang lebih besar,atau melakukan sesuatu yang lebih bermanfaat dengan meninggalkan manfaat yang lebih sedikit.


  1. download gratis buku karya ulama' nu disini
  2. partisipasi
  3. hukum menerangkan allah dan agama allah
  4. macam macam hadits
  5. cara membaca alqadru
  6. sistem
  7. elemen
  8. definisi ahlus sunnah wal jama'ah
  9. hukum menyambung rambut
  10. AL HADITS
  11. definisi al-qur'an bagian 2
  12. definisi al-qur'an
  13. apa itu definisi
  14. AL-QUR'AN
  15. AL-ILMU DAN AL-MA'RIFAH
  16. anda blogger muslim
  17. waqaf dan ibtida'
  18. email gratis terbaik
  19. email gratis mughits
  20. waqaf binnaql
  21. pacaran yang islami
  22. salah kaprah dalam bahasa arab
  23. hukum membaca dan menulis al-qur'an dengan bahasa ajam saja
  24. SYARAT SYARAT MENUNTUT ILMU
  25. definisi ahlus sunnah wal jama'ah
  26. cara waqaf pada kalimat yang sebelum huruf terakhirnya bersukun
  27. BAGAIMANA HUKUMNYA MEMBACA ALQUR�AN DENGAN BAHASA AJAM SAJA?
  28. definisi al-qur'an
  29. pengertian Fonem, Akulturasi dan Artikulasi
  30. waqaf dan ibtida'
  31. pengertian Administrator dan Administrasi
  32. hukumnya memakai email gratis yahoo

Namun perlu diingat,hukum bolehnya menggunakan email gratis yahoo ini untuk mereka yang memang benar benar membutuhkan email gratis yahoo,bukan untuk mendaftar facebook atau hal lainnya yang tidak ada unsur manfaat atau dlarurotnya.
Sekian Hukumnya Memakai Email Gratis Yahoo dari saya,mohon maaf kalau ada salah atau khilaf.
Wallahu a'lam.Wassalamu'alaikum.wr.wb.

Jumat, 27 Januari 2012

Kolektivitas hukum Islam Pembahasan Kolektivitas hukum Islam
Assalamu'alaikum.wr.wb.
sekedar buat tambah tambah pengetahuan tentang Kolektivitas hukum Islam,yok kita baca bareng!

Berbicara tentang kepatuhan hukum, maka bisa jadi kita akan membicarakan sumber hukumnya. Secara teoritis, kita mengenal dua sumber hukum. Pertama hukum yang lahir secara Teosentries, dan hukum yang lahir secara Antrophosentries. (Fathurrahman Jamil, Filsafat Hukum Islam, 1997, lihat juga Suparman Usman, Hukum Islam, 2001) Oleh karenanya, sumber hukum akan berkaitan erat terhadap kepatuhan hukum. Apalagi, imbas hukum yang dilahirkan dari produk hukum tersebut juga bersifat teologis, atau antropologis. Ikatan kepatuhan hukum dalam berbagai literature adalah melahirkan efek jera bagi pelanggar hukum, dan memberikan dampak baik terhadap orang yang mematuhi hukum. Oleh karenanya, kolektifitas hukum harus menjadi tajuk utama dalam melahirkan kepatuhan hukum yang juga kolektif. Maksdunya, kepatuhan, yang tidak melihat pada kasus apa hukum itu berada, tapi kepatuhan itu lahir dari keyakinan bahwa kepatuhan terhadap hukum akan memberi dampak baik secara teologis (syurga sebagai hadiah atas kepatuhan tersebut).

Hukum Islam juga diperdebatkan peristilahannya, maka dalam beberapa literature, seperti tulisan Muhammad Daud Ali memberi pendefenisian tersendiri dalam memaknai hukum Islam tersebut. Perbedaan itu muncul ketika menempatkan Syari�at pada asas hukum yang lahir melalui Kalam Ilahi. Fiqh, adalah akumulsi ijtihad para ulama dalam menemukan jawaban-jawaban hukum kontemporer, tetap acuannya adalah asas hukum tersebut (Kalam Ilahi). Dan semua itu menurutnya, terangkum dalam istilah Hukum Islam. Hukum Islam adalah Syari�at, dan hukum Islam juga Fiqh. Hal mendasar yang perlu diketahui adalah semua hukum yang lahir tidak meninggalkan asas keislaman yaitu pesan subtansi Kalam Ilahi.

Ada juga perdebatan panjang terhadap seberapa besar peran akal dalam memaknai pesan hukum Allah. ada kalangan yang sangat tekstual melihat apa maksud Allah dalam Alquran, ada pula yang berani keluar secara kontekstual untuk menerawang pesan Allah tersebut. Dan golongan yang baru lahir untuk memesankan paham moderat. Tetap memaknai pesan tersebut pada wilayah tekstual, tapi runtut juga pada hal yang kontekstual. Mencoba memberi perimbangan pesan-pesatn tersebut untuk tidak menyeleweng dari makna asalnya.

Hukum Islam kolektif adalah hukum Islam yang mengakomodasi keberagaman. Sebenarnya isu yang lahir itu bukanlah yang baru, tapi pemaknaannya perlu kita kaji ulang. Sebab, ada kesan di tengah masyarakat, perbedaan memaknai hukum seolah memberi cerminan tentang seberapa besar kualitas keberislaman orang tersebut. Padahal, jauh dari itu semua. Islam sebenarnya mengakomodasi keberagaman itu.

Kesalahan dalam memaknai hukum Islam adalah penyalahan hukum yang qath,I, misalnya pengingkaran shalat, pengingkaran puasa, pengingkaran zakat dan naik haji. lalu mencari saduran persamaan lain untuk menempatkan hukum yang qath,I itu pada kegiatan hukum lainnya. Selama pesan yang qath,I dalam Alquran diyakini kebenarannya serta dipatuhi, maka, dipastikan pemahaman hukum Islamnya benar. Namun, perbedaan pada memaknai hukum Islam yang dzhanni tidak sampai mempengaruhi kepatuhan dan keyakinan pada hukum Islam secara kolektif. Itulah sebabnya perlu memaknai seberapa besar pesan Alquran terhadap keberagaman manusia di muka bumi ini.
semoga manfaat ya...wassalamu'alaikum.wr.wb.
Kolektivitas hukum Islam Pembahasan Kolektivitas hukum Islam

artikel terkait:
renungan perubahan zaman
KEWAJIBAN BERHUKUM KEPADA HUKUM ALLAH
MUQADDIMAH (ushulut tafsir)
adat dan urf
'amal (ushul)
hukum membaca dan menulis al-qur'an dengan bahasa ajam saja
SYARAT SYARAT MENUNTUT ILMU
BAGAIMANA HUKUMNYA MEMBACA ALQUR�AN DENGAN BAHASA AJAM SAJA?
para qari' yang bagus cara membacanya
ALQUR'AN & HADITS HARAM DIBACA DAN DITULIS
HUKUM YANG PALING BENAR ADALAH HUKUM TUHAN
Hukum Oral Sex atau Nyepong (Blow Job) dalam Islam

Selasa, 29 November 2011

Secara bahasa talfiq berarti melipat. Sedangkan yang dimaksud dengan talfiq secara syar�i adalah mencampur-adukkan pendapat seorang ulama dengan pendapat ulama lain, sehingga tidak seorang pun dari mereka yang membenarkan perbuatan yang dilakukan tersebut

Muhammad Amin al-Kurdi mengatakan:

(??????) ??? ??????? ??? ?????? ?? ???? ????? ?????? ??????????? ????? ??????????????? ?????? ?????????? (??????????? , 397)

�(syarat kelima dari taqlid) adalah tidak talfiq, yaitu tidak mencampur antara dua pendapat dalam satu qadliyah (masalah), baik sejak awal, pertengahan dan seterusnya, yang nantinya, dari dua pendapat itu akan menimbulkan satu amaliyah yang tak pernah dikatakan oleh orang bberpendapat.� (Tanwir al-Qulub, 397)

Jelasnya, talfiq adalah melakukan suatu perbuatan atas dasar hukum yang merupakan gabungan dua madzhab atau lebih. Contohnya sebagai berikut:
a. Seseorang berwudlu menurut madzhab Syafi�I dengan mengusap sebagian (kurang dari seperempat) kepala. Kemudian dia menyentuh kulit wanita ajnabiyyah (bukan mahram-nya), dan langsung shalat dengan mengikuti madzhab Hanafi yang mengatakan bahwa menyentuh wanita ajnabiyyah tidak membatalkan wudlu. Perbuatan ini disebut talfiq, karena menggabungkan pendapatnya Imam Syafi�I dan Hanafi dalam masalah wudlu. Yang pada akhirnya, kedua Imam tersebut sama-sama tidak mengakui bahwa gabungan itu merupakan pendapatnya. Sebab, Imam Syafi�I membatalkan wudlu seseorang yang menyentuh kulit lain jenis. Sementara Imam Hanafi tidak mengesahkan wudlu seseorang yang hanya mengusap sebgaian kepala.

b. Seseorang berwudlu dengan mengusap sebagian kepala, atau tidak menggosok anggota wudlu karena ikut madzhab imam Syafi�i. lalu dia menyentuh anjing, karena ikut madzhab Imam Malik yang mengatakan bahwa anjing adalah suci. Ketika dia shalat, maka kedua imam tersebut tentu sama-sama akan membatalkannya. Sebab, menurut Imam Malik wudlu itu harus dengan mengusap seluruh kepala dan juga dengan menggosok anggota wudlu. Wudlu ala Imam Syafi�I, menurut Imam Malik adalah tidak sah. Demikian juga anjing menurut Imam Syafi�i termasuk najis mughallazhah (najis yang berat). Maka ketika menyentuh anjing lalu shalat, shalatnya tidak sah. Sebab kedua imam itu tidak menganggap sah shalat yang dilakukan itu.

Talfiq semacam itu dilarang agama. Sebagaimana yang disebutkan dalam kitab I�anah al-Thalibin:

?????? ??????? ?? ????? ??? ???????? ?? ????? ????? ???????? ?? ??? ????? ?? ???? ????? (????? ???????? , ? 1 ? 17)


�talfiq dalam satu masalah itu dilarang, seperti ikut pada Imam Malik dalam sucinya anjing dan ikut Imam Syafi�I dalam bolehnya mengusap sebagian kepala untuk mengerjakan shalat.� (I�anah al-Thalibin, juz 1, hal 17)

Sedangkan tujuan pelarangan itu adalah agar tidak terjadi tatabbu� al-rukhash (mencari yang mudah), tidak memanjakan umat Islam untuk mengambil yang ringan-ringan. Sehingga tidak akan timbul tala�ub (main-main) di dalam hukum agama. Atas dasar ini maka sebenarnya talfiq yang dimunculkan bukan untuk mengekang kebebasan umat Islam untuk memilih madzhab. Bukan pula untuk melestarikan sikap pembelaan dan fanatisme terhadap madzhab tertentu. Sebab talfiq ini dimunculkan dalam rangka menjaga kebebasan bermadzhab agar tidak disalahpahami oleh sebagian orang.

Untuk menghindari adanya talfiq yang dilarang ini, maka diperlukan adanya suatu penetapan hukum dengan memilih salah satu madzhab dari madzahib al-arba�ah yang relevan dengan kondisi dan situasi Indonesia. Misalnya, dalam persoalan shalat (mulai dari syarat, rukun dan batalnya) ikut madzhab Syafi�i. untuk persoalan sosial kemasyarakatan mengikuti madzhab Hanafi. Sebab, diakui atau tidak bahwa kondisi Indonesia mempunyai cirri khas tersendiri. Tuntutan kemashlahatan yang ada berbeda dari satu tempat dengan tempat lain.

Tuntunan Praktis Zakat Fitrah
wali
Muharram Bulan Mulia, Asyuro Hari Istimewa
Bicara Ketika Berwudhu
Niat dalam Puasa Ramadhan
Dzikir Berjamaah dengan Suara Keras
Mencium Tangan Ulama dan Guru
Jamuan Makanan dalam Acara Tahlilan
Amalan, Hizib dan Azimat
Fadhilah Puasa Asyura
ijtihad
Bahasa Arab
Bahasa Sanskerta
Definisi komersial
Definisi Kontributor
pengertian Administrator dan Administrasi
pengertian agama
pengertian tuhan
visualisasi
Fi�il Mulhaq Ruba�i Mujarrod dan Mulhaq Ruba�i Mazid
Fi'il Ruba'i Mujarrod,Fi�il Tsulatsi Mazid,Fi�il Ruba�i Mazid:
BELAJAR I'LAL
Visualisasi Ayat Al-Qur�an
Memakai Celana di Bawah Lutut
Bahtsul Masail tentang Hukum Merokok
Pesepakbola Top yang tetap berpuasa
Faidah surat al-fatihah
suratul fatihah dan beberapa hasiatnya (1)
Sudahkah saya bisa dikatakan mukmin?
ALQUR'AN & HADITS HARAM DIBACA DAN DITULIS
PRIA IDAMAN MUSLIMAT
Cara ijazah ilmu yang benar
syarat syarat doa
HUKUM YANG PALING BENAR ADALAH HUKUM TUHAN
SYARAT SYARAT MENUNTUT ILMU
MUNAFIKKAH PEMERINTAH INDONESIA?
peringatan buat muslim (1)
bagaimana nasib negriku?
islam indonesia
wahai yang berpuasa
BAGAIMANA HUKUMNYA MEMBACA ALQUR�AN DENGAN BAHASA AJAM SAJA?
Meneruskan Tradisi Berdakwah para Pendahulu