Tampilkan postingan dengan label harian madura. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label harian madura. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 23 Maret 2013


Saya menyukai jurnalistik, tapi tidak cocok jadi wartawan. Komunikasi, sebagai prasyarat menjadi wartawan, adalah masalah utama yang menghambat saya. Saya pendiam dan tidak lincah. Lebih sering jadi pendengar ketimbang bicara. Padahal, kata guru, seorang wartawan harus cerewet dan kritis.

Dua tahun lalu, saya memang aktif di dua lembaga pers: Lembaga Pers Mahasiswa Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (LPM Instika) dan BlogAnnuqayah. Dua-duanya memberi saya banyak pengetahuan. Di Blog Annuqayah saya mendapat tugas meliput hal-hal yang berkaitan dengan PP. Annuqayah Lubangsa Selatan, Guluk-Guluk, Sumenep, tempat saya mondok, sementara di LPM Instika saya mendapat tugas meliput di luar PP. Annuqayah (sesuai tema). 

Persentuhan saya dengan dua lembaga tersebut membuat pengetahuan tentang jurnalistik saya kian banyak. Saya belajar kepada guru-guru yang memang sudah memiliki banyak wawasan tentangnya. Di Blog Annuqayah, mislanya, ada K. M. Mushthafa yang sudah malang melintang di dunia literasi. Saya menimba banyak pengetahuan dari beliau, tidak saja dari materi jurnalistik, melainkan juga ketekunan menyelesaikan pekerjaan.

Setelah lepas dari dua lembaga itu, saya sudah tidak lagi intens menulis berita. Tulisan jurnalistik yang saya hasilkan hanya beberapa butir saja. Itu pun tidak saya kerjakan dengan sungguh-sungguh seperti ketika masih aktif jadi jurnalis. Saya mengalami perubahan drastis kala itu.

Ke belakang itu, saya lebih fokus mengamati perkembangan dunia pers, utamanya di Madura. Bagaimanapun, meski sudah tidak di lembaga pers, saya tetap punya perhatian yang cukup besar terhadap dunia yang satu ini. Menarik sekali memperbicangkannya, apalagi menyangkut fenomena pers di Madura.

Untuk menambah wawasan, saya berusaha membaca sejumlah literatur jurnalistik, baik dalam bentuk teori, pengalaman reportase, ataupun hasil reportase. Soal teori, saya banyak belajar kepada tulisan Farid Gaban, Goenawan Mohammad, Andreas Harsono, dll. Tulisan-tulisan mereka saya baca di dokumen Yayasan Pantau. 

Mengenai pengalaman turun ke lapangan, saya pernah membaca bukunya Ahmad Arif, wartawan Kompas, yang berjudul �Jurnalisme Bencana, Bencana Jurnalisme�. Buku itu sangat menarik karena menceritakan pengalaman mengerikan ketika meliput peristiwa tsunami  di Aceh. Arif melihat dengan mata kepala sendiri mayat-mayat yang bergelimpangan di mana-mana, lalu menuliskannya untuk di kirim ke koran tempat dia bekerja.

Tentang produk jurnalisme, misalnya, saya pernah membaca bukunya Linda Christanty yang berjudul �Jangan Panggil Kami Teroris�. Buku tersebut berkisah tentang banyak hal, terutama mengenai Aceh dan gerakan separatis GAM. Linda sangat piawai menulis berita dalam bentuk feature.

Tidak banyak buku jurnalistik yang saya baca. Hanya itu saja. Meski tertarik, saya jarang membeli buku-buku jurnalistik. Lebih sering membaca milik teman atau guru. Oleh K. Mushthafa, saya dulu pernah dipinjami buku tentang jurnalisme Malajah Tempo.

Meski dengan wawasan yang sangat terbatas, saya coba-coba mengamati berita-berita di sejumlah media harian di Madura. Menarik sekali melihat perkembangan media akhir-akhir ini yang mulai marak. Setidaknya, dalam dua tahun terakhir, sudah tiga koran baru yang terbit di Madura. Ini merupakan perkembangan yang patut dibanggakan, mengingat pers adalah penanda suatu komunitas masyarakat sudah mulai melek informasi dan literasi. Tidak sekadar memelototi televisi siang malam.  

Dari sedikitnya empat koran yang kini terbit, masyarakat Madura diberi pilihan rujukan sumber berita yang akan mereka ikuti. Dominasi Radar Madura yang sudah bertahun-tahun menjadi koran satu-satunya di Madura dengan sendirinya akan tergusur. Ia harus juga ikut berkompetisi dengan koran-koran baru yang muncul belakangan. Apalagi, Radar Madura mencatat reputasi yang kurang baik sebelumnya. Ia dikesankan sebagai koran dengan peberitaan yang tak setia fakta dan kerap mengekspos berita-berita porno.

Dengan banyaknya koran yang terbit, masing-masing pengelola harus bersaing menjadi yang terbaik. Sebab, taruhan mereka adalah konsumen berita. Bagaimanapun, ke depan masyarakat akan kian pandai memilih. Meraka tentu akan lambat laun meninggalkan koran-koran yang suka membodohi pelangganya. Bila pengelola koran tetap membandel, jangan salahkan pelanggan bila pindah ke lain koran.