Tampilkan postingan dengan label dislike. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dislike. Tampilkan semua postingan

Minggu, 15 Desember 2013

Pikiran saya tiba-tiba dihuni oleh sebuah pengandaian, bagaimana jika di Facebook juga dipasang ikon dislike (tidak suka) seabagai kebalikan dari ikon like (suka). Apa kira-kira yang akan terjadi?

Facebook dari dulu tampaknya memang mencoba menjunjung tinggi nilai etiket dalam pola komunikasi antar-manusia di jejaring sosial. Karena itu, hingga sekarang ia hanya menyediakan ikon like. Facebook tidak menyediakan sebuah ikon bagi mereka yang tidak suka atas sesuatu yang dibagikan seseorang. Mungkin itu merupakan salah satu cara bagaimana Facebook mencoba menjaga perasaan penggunanya.

Lalu, bagaimana dengan kotak komentar yang sering dijadikan tempat marah-marah oleh sebagian orang yang tak menyetujui sesuatu yang dikomentarinya? Tentu beda soal antara kotak komentar dengan ikon dislike. Kotak komentar memiliki lebih banyak fungsi ketimbang tombol dislike. Ia tidak melulu diperuntukkan bagi komentar tidak suka, namun juga untuk komentar yang bersifat apresiatif atau untuk lucu-lucuan. Dalam hal ini, Facebook memberikan kuasa kepada penggunanya untuk melakukan apa saja di kotak komentar tersebut. Maksudnya, mau berkomentar apa saja dipersilahkan.

Kuasa yang diberikan Facebook kepada penggunanya bisa dibaca sebagai sebuah sikap “jaim”. Dengan kuasa tersebut, Facebook bisa terlepas dari sikap “membuat tidak senang” penggunanya yang kebetulan apa yang ia bagikan dikomentari secara sarkastis oleh orang lain. Facebook tidak punya tanggung jawab atas komentar kasar tersebut. Tanggung jawab sepenuhnya ada pada komentator.

Untuk mendukung “ke –jaim-an” itu, Facebook lalu memberikan ikon delete untuk menghapus komentar-komentar yang tak disukai oleh penggunanya.
Letak perbedaan mendasar antara kotak komentar dengan ikon dislike lebih karena kuasa yang saya sebutkan di atas. Untuk ikon dislike, tentu tak bisa dikatakan bahwa itu hanya tanggung jawab orang yang men-dislike tersebut. Facebook juga punya peran karena ia yang menciptakannya dengan hanya satu fungsi saja, yaitu “tidak suka”. Seandainya ia diciptakan sekaligus dengan banyak fungsi, tentu Facebook bisa “jaim” sebagaimana pada penciptaan kotak komentar.

Oleh karena itu, Facebook memang tidak ingin membuat penggunanya tersinggung oleh sesuatu yang pada tataran tertentu disebabkan oleh “ulah” Facebook sendiri. Ia lebih memilih menjaga diri dari mencampuri terlalu dalam perasaan penggunanya. Facebook memang lebih suka “jaim” ketimbang Yusub, eh, Youtube.

Meski demikian, saya tetap berandai-andai, bagaimana jika Facebook kelak menambahkan ikon dislike. Mungkin akan ada peristiwa seperti yang terjadi pada status seorang pemuda tanggung berikut ini:

Pgie allz… D4ch Z4rpan l0M? qw d4ch bruzZan…. m3t br4ktfietaz eaaa….
like: 4 orang
dislike: 4.005.050 orang

Coba bayangkan bagaimana perasaan si pemuda pembuat status. Mungkin biasa-biasa saja, atau mungkin juga ingin segera membakar akun-akun yang tak disukainya (memangnya bisa?).

Keterangan:
[4 orang yang me-like terdiri dari: (1) pacar, (2) tukang bakso langganan, (3) orang yang ingin di-like statusnya, (4) dirinya sendiri]

Sumber : http://jaddung.blogspot.co.id/2013/12/mengapa-facebook-tidak-menyediakan-ikon.html