Tampilkan postingan dengan label catatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label catatan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 07 Januari 2015

Menjadi internet marketer itu bukan perkara gampang. Butuh ketekunan, keseriusan, dan kesabaran yang dalam. Tidak ada yang bisa langsung jadi, apalagi saat ini sudah banyak pesaingnya. Internet marketing bukan lagi sesuatu yang baru. Karena itu, banyak orang bermain di lini ini.

Saya termasuk orang yang terlambat belajar google adsense, walau sudah tergolong lama mengelola blog. Sejak dulu, saya hanya suka mengotak-atik desain blog, tanpa memedulikan untuk mengambil untung secara finansial dari kegiatan tersebut. Saya hanya enjoy saja sembari membuang-buang uang untuk membayar paket internet.

Saya mengenal blog sejak 2008. Dari tahun tersebut saya mulai aktif mengelola. Mengelola di sini lebih ke soal desain saja, bukan bagaimana rajin update postingan. Blog saya jarang sekali update tulisan. Yang lebih sering update hanya tampilannya saja.
mencari kerang
Teman saya mencari kerang di Kadura Barat, Pamekasan, 7 Januari 2014
Saya juga suka mengotak-atik alamat blog. Dari aeng-rasa.blogspot.com, beleng-bettung-blogspot.com, bukit-lancaran.blogspot.com, dll., hingga sekarang jaddung.blogspot.com. Nama terakhir ini sudah saya patenkan. Bahkan beberapa akun media sosial juga saya sematkan kata �jaddung�. Jaddung adalah nama kampung tempat saya lahir.

Dari proses yang panjang dalam dunia blogging, saya baru-baru ini saja tergerak untuk mencari penghasilan darinya, pasnya saat baru menikah. Dulu memang sempat memaksakan diri untuk mencari uang dari internet, namun gagal karena amunisi yang saya miliki masih cupet. Akhirnya saya putus asa dan gantung blog (maunya menyamakan dengan gantung sarung tinju, tapi jadi nggak asyik kedengarannya).

Lama dibiarkan terbengkalai, blog ini kembali saya daftarkan akun adsense. Saya hanya coba-coba. Jika berhasil, alhamdulillah, dan jika gagal, tampaknya saya harus mencari jalan lain mendapatkan rezeki. Yang tergambar dalam kepala saya adalah pekerjaan yang tak ada hubungannya dengan dunia online. Entah apa yang pas. Dalam pikiran masih ada satu peluang, yaitu pencari kerang. Tapi, bagaimana prospeknya?


Minggu, 29 Desember 2013

Kurang dua hari lagi kita akan memasuki tahun 2014. Apa yang menarik dari tahun 2014? Saya belum tahu. Kok belum tahu? Karena saya bukan peramal. Kenapa bukan peramal? Karena saya tidak bakat untuk itu. Kenapa tidak bakat? Karena tidak ada X-factor peramal atau Peramal Idol? Kenapa tidak ada X-factor peramal atau Peramal Idol? Karena kamu cerewet. Kenapa saya �. Oke, sip!

Kalau ditanya tentang kata apa yang paling banyak disebut pada tiap tahun baru, tentu yang akan muncul adalah �resolusi�. Ya, kata ini selalu terselip di banyak tempat; di acara diskusi, di televisi, di koran, di internet, di baliho para caleg, di pasar, di tikungan jalan, bahkan boleh jadi juga ada di dinding toilet. Tapi saya belum pernah ketemu dengan yang beginian. Kalau ada pasti itu toiletnya para jomblo yang ingin banget move on. �Resolusiku di tahun 2014 adalah ngising bersamamu. Yeay�.�

Ya, kata �resolusi� selalu identik dengan tahun baru. Karena sering mendengarnya, saya bahkan sampai eneg, muntah-muntah, pusing, batuk, flu, pilek, hidung tersumbat, dan susah buang air besar (minum larutan�. air keras). Tapi, meski demikian, saya selalu punya resolusi di tiap tahun baru, walau sebenarnya saya tidak tahu pasti apa itu arti resolusi. Menurut kamus artinya adalah putusan atau kebulatan pendapat berupa permintaan atau tuntutan yang ditetapkan oleh rapat (musyawarah, sidang); pernyataan tertulis, biasanya berisi tuntutan tentang suatu hal. Tuh, serem kan definisinya? Pake sidang dan musyawarah segala.

Tapi, saya tak peduli apa pun definisinya. Saya mau pakai kata yang paling sederhana saja, yaitu �harapan�. Nah, apa harapan saya di tahun 2014? Harapan saya cukup sederhana, yaitu punya rumah pohon. Kalian tahu kan rumah pohon? Itu, rumah yang dibangun di atas pohon (ya, pastilah, namanya juga rumah pohon. Nggak mungkin dibangun di atas kuburan). Dulu, di Kabupaten Pamekasan ada seorang bermana Bungkas pernah punya rumah semacam ini. Entah, apakah sekarang masih ada atau sudah musnah, saya kurang tahu.

Kenapa saya ingin punya rumah pohon? Agar internet saya bisa lancar�.

*sumber foto di sini

Sabtu, 21 Desember 2013

Mendapat internet gratisan yang lumayan cepat itu sesuatu banget. Saya mencoba memanfaatkannya untuk membuat sebuah postingan baru yang idenya sudah ngendon di batok kepala sejak beberapa hari lalu. Apa itu?

Tidak ada yang baru sebenarnya. Kalau Anda suka hal-hal baru sebaiknya tinggalkan saja laptop atau tablet Anda, saya akan segera mengambilnya. Eh, maksud saya, Anda lebih baik menggunakan waktu berharga Anda untuk sesuatu yang lebih bermanfaat. Oke? Baik banget saya kan?

Sebagai orang yang suka berbuat baik dan rajin gosok gigi, saya hanya akan meneruskan saja sebuah tips menulis yang pernah disampaikan oleh Raditya Dika. Dalam sebuah acara pelatihan menulis ia bilang bahwa menulis hal-hal lucu harus berbeda dari orang lain. �Yang lebih lucu dari loe itu banyak. Yang lebih cerdas juga banyak. Nah, loe nggak butuk memikirkan itu. Yang loe butuhkan adalah membuat hal-hal baru. Karena itu gue membuat judul yang unik dalam buku-buku gue�

Hal itu disampaikan oleh Radit setelah ia ditanya, kenapa ia selalu meletakkan nama-nama binatang di tiap bukunya yang terbit, semisal �Kambing Jantan� atau �Manusia Setengah Salmon�. Memang, hampir semua buku-bukunya selalu memakai judul dengan menggunakan nama-nama binatang.

Apa yang dikatan Radit pun sebenarnya bukanlah hal baru. Dalam dunia sastra sudah lama diajarkan bahwa tiap sastrawan dituntut untuk menciptakan karakter tersendiri dalam karya-karyanya. Kalau ia hanya mengikuti karakter penulis-penulis sebelumnya, ia akan tenggelam dalam popularitas mereka. Jadi, yang terpenting adalah orisinaltas, meski bagi sebagian orang itu adalah hal yang utopis.

*ditulis saat ishoma #4thPlatM, 21 Desember 2013  
**sumber foto: http://sarasiri.com

Minggu, 15 Desember 2013

Pikiran saya tiba-tiba dihuni oleh sebuah pengandaian, bagaimana jika di Facebook juga dipasang ikon dislike (tidak suka) seabagai kebalikan dari ikon like (suka). Apa kira-kira yang akan terjadi?

Facebook dari dulu tampaknya memang mencoba menjunjung tinggi nilai etiket dalam pola komunikasi antar-manusia di jejaring sosial. Karena itu, hingga sekarang ia hanya menyediakan ikon like. Facebook tidak menyediakan sebuah ikon bagi mereka yang tidak suka atas sesuatu yang dibagikan seseorang. Mungkin itu merupakan salah satu cara bagaimana Facebook mencoba menjaga perasaan penggunanya.

Lalu, bagaimana dengan kotak komentar yang sering dijadikan tempat marah-marah oleh sebagian orang yang tak menyetujui sesuatu yang dikomentarinya? Tentu beda soal antara kotak komentar dengan ikon dislike. Kotak komentar memiliki lebih banyak fungsi ketimbang tombol dislike. Ia tidak melulu diperuntukkan bagi komentar tidak suka, namun juga untuk komentar yang bersifat apresiatif atau untuk lucu-lucuan. Dalam hal ini, Facebook memberikan kuasa kepada penggunanya untuk melakukan apa saja di kotak komentar tersebut. Maksudnya, mau berkomentar apa saja dipersilahkan.

Kuasa yang diberikan Facebook kepada penggunanya bisa dibaca sebagai sebuah sikap “jaim”. Dengan kuasa tersebut, Facebook bisa terlepas dari sikap “membuat tidak senang” penggunanya yang kebetulan apa yang ia bagikan dikomentari secara sarkastis oleh orang lain. Facebook tidak punya tanggung jawab atas komentar kasar tersebut. Tanggung jawab sepenuhnya ada pada komentator.

Untuk mendukung “ke –jaim-an” itu, Facebook lalu memberikan ikon delete untuk menghapus komentar-komentar yang tak disukai oleh penggunanya.
Letak perbedaan mendasar antara kotak komentar dengan ikon dislike lebih karena kuasa yang saya sebutkan di atas. Untuk ikon dislike, tentu tak bisa dikatakan bahwa itu hanya tanggung jawab orang yang men-dislike tersebut. Facebook juga punya peran karena ia yang menciptakannya dengan hanya satu fungsi saja, yaitu “tidak suka”. Seandainya ia diciptakan sekaligus dengan banyak fungsi, tentu Facebook bisa “jaim” sebagaimana pada penciptaan kotak komentar.

Oleh karena itu, Facebook memang tidak ingin membuat penggunanya tersinggung oleh sesuatu yang pada tataran tertentu disebabkan oleh “ulah” Facebook sendiri. Ia lebih memilih menjaga diri dari mencampuri terlalu dalam perasaan penggunanya. Facebook memang lebih suka “jaim” ketimbang Yusub, eh, Youtube.

Meski demikian, saya tetap berandai-andai, bagaimana jika Facebook kelak menambahkan ikon dislike. Mungkin akan ada peristiwa seperti yang terjadi pada status seorang pemuda tanggung berikut ini:

Pgie allz… D4ch Z4rpan l0M? qw d4ch bruzZan…. m3t br4ktfietaz eaaa….
like: 4 orang
dislike: 4.005.050 orang

Coba bayangkan bagaimana perasaan si pemuda pembuat status. Mungkin biasa-biasa saja, atau mungkin juga ingin segera membakar akun-akun yang tak disukainya (memangnya bisa?).

Keterangan:
[4 orang yang me-like terdiri dari: (1) pacar, (2) tukang bakso langganan, (3) orang yang ingin di-like statusnya, (4) dirinya sendiri]

Sumber : http://jaddung.blogspot.co.id/2013/12/mengapa-facebook-tidak-menyediakan-ikon.html

Selasa, 03 Desember 2013

Memperdebatkan eksistensi media cetak dan online mungkin sudah basi saat ini. Beberapa tahun silam, perdebatan tersebut telah mengemuka, dan nyatanya banyak ramalan yang belum terbukti. Ramalan bertumbangannya media cetak akibat membludaknya media online ternyata meleset, setidaknya hingga saat ini. Media cetak, baik koran, majalah, tabloid, dst., masih punya pangsa pasar yang signifikan.

Media online hadir untuk menjawab kebutuhan informasi yang serba cepat, real time, dan praktis. Kehadiran ponsel pintar dan penetrasi internet yang luas memicu lahirnya platform baru ini. Jargon �Informasi ada di tangan Anda� menemukan relevansinya, karena hanya dengan sentuhan jari orang sudah bisa terhubung dengan informasi dari belahan bumi mana pun tanpa sekat. 

Melihat pasar yang semakin membludak, kemunculan media online tak dapat dibendung. Media-media baru bertumbuhan untuk ikut menyantap kue iklan yang kian aduhai. Kemunculan itu juga dipicu oleh lebih mudahnya membuat media online ketimbang media cetak. Media online memutus anggaran untuk pencetakannya. 

Kini, media online tak hanya berbasis di Jakarta. Di beberapa daerah juga banyak lahir media-media daring (dalam jaringan) baru dengan tawaran konten lokal. Di Madura, media-media semacam itu juga bermunculan, namun perkembangannya masih awut-awutan karena didirikan tanpa perhitungan yang matang.
Ada beberapa hal yang harus diperhitungkan sebelum mendirikan media online dengan segmen pembaca masyarakat Madura.  Pertama, pemilik media harus memperhitungkan seberapa besar pangsa pasar media online di Madura. Pertanyaan mendasarnya adalah berapa jumlah netizen (pengguna internet) di Pulau Garam ini. Lebih fokus lagi, berapa jumlah pembaca media online berkonten Madura?

Data-data semacam itu seharusnya mereka miliki sebelum terjun total di bisnis ini. Bagaimanapun, dewa pertama bagi media online adalah pembaca. Dewa kedua adalah pengiklan. Namun, tanpa dewa pertama, dewa kedua akan minggat. Media online tanpa pengiklan akan mati secara pelan-pelan karena iklan adalah nyawa mereka. Media online tidak memungut biaya dari pembaca, kecuali situs-situs berbayar.

Kedua, beritanya harus eksklusif dan menarik. Banyaknya media online nasional yang memiliki wartawan di sejumlah daerah, termasuk di Madura, menuntut  wartawan lokal mencari berita yang tidak diekspos oleh media nasional tersebut. Sebab, kalau beritanya sama, orang cenderung memilih media nasional.

Berita yang disuguhkan juga harus menarik. Orang cenderung enggan membaca berita-berita ringan, karena di internet banyak bertebaran berita-berita yang lebih bermutu ketimbang berita tersebut. Menyiasati hal ini, banyak pengelola media membuat judul berita yang terkesan bombastis, semata-mata untuk menjentikkan api penasaran mereka.

Ketiga, manfaatkan media sosial. Realitas umum di masyarakat Madura menunjukkan bahwa tidak sedikit dari mereka yang mengenal internet lantaran kehadiran situs jejaring sosial Facebook. Mereka lebih dulu kenal Facebook ketimbang mesin pencari Google. Fakta ini harus dilihat sebagai sebuah peluang. Antarkan laman-laman berita ke dinding Facebook atau linimasa Twitter mereka agar mereka tertarik untuk mengunjunginya.

Keempat, pengelolaan harus profesional. Media online dituntut untuk serba cepat dalam memoderasi berita-beritanya. Kalau jarang update, laman tersebut akan ditinggalkan oleh pembaca. Untuk itu, dibutuhkan wartawan dengan mobilitas yang tinggi sekaligus punya wawasan yang luas tentang jurnalisme, agar berita yang dikirimkan kepada redaksi tidak membutuhkan banyak perbaikan.

*terbit di Koran Madura, edisi Kamis, 14 November 2013
**sumber foto: http://jambidaily.com

Rabu, 24 April 2013


�Abu Rizal Bakeri atau Abu Rizzal Bakeri ya?� tanya saya dalam hati saat akan menulis sebuah berita beberapa waktu lalu. Saya putuskan menulis dengan model yang pertama, lalu memberinya warna merah untuk menandai kalau ia butuh dikoreksi. Ke mana saya akan memeriksanya? Google!

Setelah saya periksa, ternyata dua-duanya salah. Yang betul adalah Aburizal Bakeri. Pertanyaannya, kenapa nama yang begitu terkenal itu bisa luput saya ingat?

Itulah hebatnya Google. Satu sisi ia membawa nampan berisi kemudahan, namun di sisi yang lain ia menyembunyikan racun. Racun itu berupa kemalasan untuk menyimpan hal-hal penting dalam ingatan. Orang dengan mudah mencari tahu apa pun di Google tanpa mau sedikit berpikir keras untuk mengingatnya.

Perilaku ini lebih sering datang tanpa sengaja karena kebiasaan. Saat saya ngobrol dengan teman-teman, lalu ada sedikit pertanyaan yang tak bisa dijawab, maka tempat berlarinya adalah Google. Layanan internet sekarang sudah merasuk ke tulang sumsum kehidupan. Ponsel-ponsel murah telah terhubung dengan internet. Tarifnya pun berangsur-angsur murah.

Jika tiap kali ada masalah larinya ke Google, maka tak menutup kemungkinan otak saya lambat-laun akan pensiun. Ia hanya akan sanggup menyimpan hal-hal remeh yang tak butuh sedikit keringat untuk memikirkannya.

Bagaimanapun, Google tidak salah. Dan saya tak perlu meminta MUI untuk menuduhnya sesat. Ia tetap memiliki makna positif dalam kehidupan. Yang salah justru saya sebagai penggunanya. Mestinya dari awal saya sudah sadar, bahwa Google hanya sebuah alat menuju pengetahuan. Dan ia bukan satu-satunya. Sebagai salah satu alat, tentu saja saya tak harus bergantung penuh kepadanya. Masih ada kitab, buku, majalah, buletin, koran, dsb. untuk saya ambil ilmunya.

Yang membedakan Google dari sumber pengetahuan lainnya adalah kemudahan aksesnya. Dan di sinilah sebenarnya embrio penyakit itu tumbuh. Ketergantungan saya padanya lebih karena dalam keadaan apa pun, asal terhubung dengan internet, saya bisa mengakses Google. Lain halnya kalau sumber-sumber pengetahuan offline. Saya harus mencari ke sana ke mari untuk bisa mendapatkan, bahkan untuk hal-hal yang sangat sederhana sekalipun. Namun, justru di sanalah letak keistimewaannya yang tak dimiliki oleh Google. Sumber pengetahuan offline mengajarkan orang untuk bekerja keras.

Selain itu, tidak semua yang dimiliki Google selalu baik. Bahkan, setelah maraknya blog, mesin pencari ini dipenuhi sampah. Artikel-artikel yang muncul di halaman utama lebih sering dari blog-blog komersil yang isinya kadang tidak penting, bahkan kacau. Namun, karena kepandaian pengelolanya memaksimalkan SEO, blog tersebut bisa nampang di halaman depan. Artikel-artikel bermutu tergencet di lipatan-lipatan nun jauh.

Perkembangan internet kian lama makin meruyak. Di kampung saya di pedalaman Jaddung, Paragaan, akses internet lebih mudah ketimbang akses jalannya. Ini adalah kemajuan teknologi yang merasuk ke kampung-kampung. Pertanyaannya, siapkah masyarakatnya memanfaatkan internet secara benar?  

[sumber foto: http://img.gawkerassets.com]

Jumat, 18 Januari 2013

Teknik Membaca Buku | Selama ini, dalam membaca buku saya tidak pernah berpikir tentang teknik. Kalau ada buku menarik, ya, saya baca. Kalau tidak, ya, saya tinggalkan. Begitu saja.

Setelah pengalaman belajar membaca sekian tahun, saya baru sadar bahwa membaca itu butuh teknik. Teknik ini tidak saja untuk membuat bacaan menjadi terstruktur, melainkan juga membuat ingatan akan pengetahuan tersebut bisa bertahan lama dan lebih kokoh. Bagaimanapun, manusia punya masalah dengan ingatannya. Untuk itu, mereka membutuhkan teknik membaca.

Teknik ini dulu sudah pernah saya dengar dari seorang guru. Namun, ketika itu saya tidak mengerti apa yang dimaksudkannya. Saya pun tak punya keinginan untuk mencari tahu. Kemudian, beberapa hari yang lalu ada seorang teman di situs jejaring sosial yang membuat status daftar buku bacaan yang akan ia lahap. Saya perhatikan dari tema buku yang dipampangnya, tampak, secara teknik, ada kesamaan dengan saran yang guru sampaikan tempo dulu.

Tekniknya begini, bacalah sejumlah buku dengan tema yang sama secara beruntun. Jangan selipi membaca buku yang tidak setema, karena itu akan membuat perhatian pikiran menjadi teralihkan. Dengan tema yang sama, informasi yang didapat akan saling berkaitan. Sehingga, pada akhirnya akan membentuk sebuah pengetahuan yang lebih utuh ketimbang dibaca secara serampangan.

Manfaat lain dari teknik ini adalah menjaga ingatan. Pengetahuan yang diulang-ulang akan membuat pembaca lebih bisa mengingatnya. Pengetahuan yang terstruktur akan cepat diterima oleh otak sehingga bisa diolah dan menjadi pengetahuan baru.

Teknik itu belum pernah sama sekali saya terapkan. Saya akan berusaha untuk melakukannya dalam aktivitas membaca saya. Meski demikian, saya akan menemukan seidikit kendala, yaitu sulitnya mendapat buku yang setema. Saya yang hidup di pedalaman sulit untuk mengaksesnya, utamanya yang sesuai selera saya.

Sebagai bahan latihan, saya akan coba membaca sejumlah buku yang menjelaskan tentang tatabahasa. Buku-buku tersebut kebetulan telah saya dapatkan berkat seorang teman yang mem-fotocopy-kan tempo hari. Saya memang menyukai ilmu tatabahasa. Saya sangat risih kalau ada seseorang yang membuat kalimat dengan semena-mena, walaupun saya kerap melakukannya sendiri.

Setelah tema itu, saya akan berusaha mengumpulkan buku-buku tentang keislaman atau tentang Gus Dur. Kebetulan, buku tersebut banyak dimiliki oleh perpustakaan dan beberapa dimiliki teman. Saya sendiri tidak punya buku-buku dengan tema demikian. 

Dengan mencoba mengatur bahan bacaan seperti itu, saya berharap pengetahuan tentang suatu tema bisa lebih utuh dan mudah tersimpan dalam otak saya. Hal tersebut akan sangat berarti karena saya memiliki ingatan yang rapuh. Saya lebih suka menganalisis sesuatu ketimbang menyodorkan fakta-fakta. Itulah kelemahan yang saya miliki. Pantas saja kalau saya sangat buruk dalam pelajaran sejarah. Ia membuat saya pusing dengan berbagai fakta-fakta sejarah yang pasti dan harus dihafal.

Kerumitan dalam hal mengingat sesuatu tersebut mungkin akan terbantu dengan memakai teknik membaca buku seperti yang pernah disarankan oleh guru saya.

Minggu, 13 Januari 2013


Kampung dalam terminologi Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai kelompok rumah yang merupakan bagian kota (biasanya dihuni orang berpenghasilan rendah). Kalimat dalam tanda kurung seperti sebuah kutukan yang terus berjalin kelindan dalam kehidupan kampung.

Kampung dalam banyak hal memang selalu tertinggal dari kota. Termasuk dalam dunia literasi. Sumber-sumber ilmu pengetahuan amat sulit menyentuh wilayah yang secara geografis jauh dari akses kendaraan. Dan inilah alasan utama yang sering terdengar ketika ada pertanyaan, kenapa buku-buku baru sulit mencapai kampung? Atau, kenapa buku-buku yang sampai di kampung sudah terbit entah beberapa tahun silam?

Pertanyaan-pertanyaan di atas menjadi masalah, utamanya bagi penulis-penulis resensi yang hidup di pelosok. Bagaimanapun, mereka membutuhkan buku-buku baru untuk diresensi. Sementara, buku-buku yang mereka dapatkan sudah usang dan bila terpaksa diresensi akan ditampik media.

Memang, persoalan utamanya bukan hanya berkisar masalah resensi. Ada hal yang lebih mendasar, yaitu keterpenuhan dan kecepatan akses ilmu pengetahuan di wilayah tersebut. Saat ini, akses ke arah sana cukup sulit diperoleh. Masyarakat kampung tentu saja masih termasuk bagian dari Indonesia (walau sering dilupakan mentah-mentah oleh pemerintah) yang berhak atas pengejawantahan Undang-Undang Dasar tentang hak mereka memperoleh pendidikan.

Salah satu usaha pemerintah dalam rangka mendekatkan masyarakat kampung dengan perpustakaan adalah melalui pengiriman mobil-mobil perpustakaan keliling. Saat ini ada 65 mobil untuk perpustakaan propinsi dan 399 untuk kota/kabupaten. Namun, tentu saja fasilitas itu masih jauh dari cukup, mengingat jumlah kabupaten di Indonesia saat ini sekitar 430-an.

Beberapa tahun belakangan, kampung-kampung memang sudah disambangi internet. Bahkan menjadi demam semenjak menjamurnya situs jejaring sosial. Di pedalam Madura, tempat saya tinggal, anak-anak bahkan sudah fasih menggunakan fasilitas tersebut untuk mempercakapkan banyak hal dalam kehidupan mereka.

Namun, maraknya internet itu tidak dibarengi dengan pengetahuan dasar tentang seluk-beluk dunia maya. Mereka hanya menjadi konsumen pasif yang kadang malah tereksploitasi. Ruang pribadi dimuat habis-habisan di situs jejaring sosial tanpa mempertimbangkan akibat yang akan mereka terima.

Di kalangan para orang tua, demam situs jejaring sosial ini kadang menjadi anekdot tersendiri. Misalnya di antara mereka ada yang bertanya, �Pesbuk argena berempa, Cong?� (Facebook harganya berapa, Nak?). Ini tentu saja berangkat dari ketidaktahuan mereka bahwa Facebook bukanlah benda semisal goreng pisang atau bulud.

Inilah realitas kampung. Pendidikan yang rendah telah membuat masyarakatnya terpuruk ke dalam labirin hitam kebodohan. Para pendidik hanya pontang-panting memfoto copy sertifikat untuk lolos sertifikasi dan menerima gaji tanpa mempertimbangkan kehidupan pendidikan para siswanya. Sekolah berlomba-lomba membangun gedung mentereng. Mungkin salah satu ruang berplakat �Perpustakaan�, tapi lihatlah ke dalamnya. Buku-buku yang berjajar di rak sangat sedikit dan tidak bermutu.

Membayangkan kampung buku mungkin terasa sulit mengingat peran dari pemerintah yang sangat minim. Namun, itu bukan hal yang mustahil bila ada kemauan. Kita bisa mewujudkannya dengan cara swadaya, tanpa menunggu uluran tangan dari pemerintah. Eko Tjahyono salah seorang pejuang perpustakaan kampung dari Malang, Jawa Timur, pernah mewujudkan mimpi tersebut. Dia bahkan pernah mau menjual ginjalnya hanya karena ingin menebus tanah yang akan dijual tetangganya. Perpustakaan Rumah Bangsa yang dia bangun berada di atas tanah tersebut.


Rabu, 14 November 2012

Jagung menjadi tanaman pokok hampir semua penduduk Madura. Ketimbang padi, jagung masih merupakan tanaman utama masyarakat Pulau Garam ini. Barangkali, jagung lebih dulu dikenal masyarakat Madura ketimbang padi. Saya tidak tahu soal sejarah tanaman ini.

Ketika musim hujan datang, orang tua saya ikut menaman jagung, sebagaimana para tentangga yang lain. Mereka datang ke ladang-ladang yang becek karena hujan. Dulu, ketika masih di rumah, saya sering disuruh ikut menaman. Saya yang pemalas sering merasa tertekan ketika harus meletakkan bulir-bulir jagung ke dalam lubang yang sudah dipersiapkan. 

Kala itu, saya hanya mendapat jatah bekerja di awal dan akhir musim. Soal perawatan, pemupukan, penggemburan tanah, dsb. semua diurus oleh orang tua saya. Baru pada akhir musim atau saat panen, saya diminta bekerja kembali. Biasanya tidak hanya melibatkan saya dan saudara-saudara, melainkan juga tetangga karena jagung yang diperolah tidak sedikit.

Jagung-jagung itu diangkut ke rumah, kemudian disimpan di atas dhurung (semacam loteng di dapur). Untuk menyimpannya, ada mitos yang tak boleh dilanggar. Katanya, orang yang sedang berada di atas dhurung untuk meletakkan jagung tidak boleh banyak bicara karena itu sama halnya dengan mengundang ngengat.
http://janaloka.wordpress.com
Dari dhurungkeluargaku mencukupi kebutuhan perut. Persediaan itu bisa menghidupi kami hingga datang musim penghujan berikutnya. Kadang-kadang memang tidak sampai bila kualitas hasil panen kurang bagus atau ketika disimpan dimakan ngengat. Alhasil, ibu sering membeli beras dan jagung untuk menutupi kekurangan tersebut.

Dulu, kami makan hanya dari hasil panen sendiri. Karena tidak bertani padi, maka kami makan nasi jagung. Tidak ada campuran sama sekali. Namun, seiring perjalanan waktu, kebiasaan itu lambat laun berubah. Mula-mula, ibu mencampur jagung merah dengan jagung putih. Jagung putih lebih lembut ketimbang jangung merah. Dan, setelah matang, jika dilihat dari jauh tampak ia seperti butir-butir beras. Kami seperti makan nasi �merah-putih�. 

Kian hari, jagung putih tidak lagi menjadi pilihan campuran jagung merah. Ibu sudah mencampurnya dengan beras. Tentu saja, beras tersebut diperoleh dari membeli di toko atau di pasar karena kami tidak pernah menanamnya. Hingga kini, nyaris tak pernah saya temui ibu menanak nasi jagung asli. Selalu saja ada campuran berasnya.

****

Dalam sebuah pelatihan tentang lingkungan, guru saya yang kebetulan menjadi fasilitator mengajukan sebuah pertanyaan kepada peserta, mengapa mereka lebih memilih memakan beras yang harus dibeli ketimbang jagung yang mereka tanaman sendiri? Di antara jawaban mereka adalah jagung itu kasar, kalau dimakan tidak enak di tenggorokan. 

Jawaban itu mengingatkan saya tentang posisi beras dan jagung dalam keseharian masyarakat Madura. Bagi mereka, beras adalah komoditas unggul yang menjadi makanan orang berpunya, sementara jagung adalah makanan orang-orang miskin. Terbukti, orang-orang kaya tiap harinya memakan nasi putih. Bagi kalangan miskin, beras hanya dimasak ketika hari-hari besar semacam lebaran dan perhelatan lainnya. Ini menandai bahwa nasi dari beras digolongkan sebagai makanan yang istimewa.

�Pengkastaan� dua makanan pokok itu membawa perbincangan saya dengan seorang guru dan satu orang teman. Saya bertanya, sebenarnya, mana lebih bagus antara gizi jagung dengan beras? Guru saya menjawab bahwa kandungan gizinya hampir setara. Bahkan, kalau kalau sama-sama dari benih yang bagus, masih lebih baik jagung karena rendah kalori dan tinggi proteinnya.

Saya lalu berpikir bahwa �pengkastaan� yang dilakukan oleh orang Madura bukan didasarkan pada kemanfaatan, melainkan oleh gengsi. 

Saya tidak tahu sejak kapan �pengkastaan� itu dimulai. Tampaknya, sejak saya masih kanak-kanak kehidupan itu sudah berlangsung. Dulu, bahkan ada kasta paling rendah yang ditempati oleh nasi tiwul. Untuk yang terakhir saya tidak tahu seberapa jauh kandungan gizinya. 

***

Kini, sudah jarang saya temui orang makan nasi jagung, apalagi nasi tiwul. Meski tetap tanaman pokoknya adalah jagung, paling rendah mereka makan nasi �merah-putih�. Jika masih ada yang makan nasi jagung asli berarti ia termasuk dalam salah satu dari dua golongan; benar-benar miskin atau memang mengerti kandungan gizinya. 

Di pondok saya, PP. Annuqayah, Guluk-guluk, Sumenep, sudah jarang orang menjual nasi jagung. Yang saya temui hanya satu kantin yang tetap menjualnya. Itu pun kadang menunya tidak tersedia. Barangkali karena para santri sudah jarang yang membelinya, sehingga pemilik kantin enggan menanak nasi jagung. Begitu juga di kantin-kantin yang lain, menu nasi jagung hanya disediakan dengan porsi yang sangat terbatas.

Setelah lama terbiasa makan nasi putih, pada akhirnya saya merindukan kehadiran nasi jagung. Dulu, mungkin karena terpengaruh lingkungan, otak saya juga membuat �pengkastaan� atasnya. Saya lebih suka memakan nasih putih karena kelasnya lebih tinggi. Rasa keduanya memang berbeda, tetapi manakah yang lebih enak? Bergantung selera masing-masing orang yang memakannya.

Setelah kini tahu tentang kandungan gizinya, keinginan saya untuk mengonsumsi nasi jagung makin menggebu-gebu. Nasi tersebut begitu enak, apalagi ketika dimakan dengan kuah kelor. Rasa enak itu barangkali juga disumbangkan oleh kerinduan saya yang sudah lama tidak memakannya. 

Kadang, apa yang kita yakini dulu akan runtuh kala waktu beranjak tua. Persinggungan dengan ilmu pengetahuan telah membawa manusia terhadap kesadaran akan masa lalu yang salah. Pengkastaan itu jelas tidak bagus apabila didasarkan hanya karena soal gengsi.
Jadi, mari belajar untuk tidak gengsi lagi�.

madura, 11 november 2012

Kamis, 08 November 2012

http://mtamrinh.blogspot.com

Dan waktu terus berjalan. Kamu makin tua dan saya pun begitu. Kita telah bertunangan dengan cinta dan keinginan hidup bersama kelak. Berharap barokah dari-Nya.

Apakah kamu sudah mempersiapkan diri untuk kehidupan yang lain di masa depan? Maksud saya, kehidupan berumah tangga yang penuh tanggaung jawab. Saya yakin sedikit banyak sudah kamu persiapkan. Demikianpun saya.

Namun, ada kalanya saya tidak tahu apa yang harus dipersiapkan. Yang saya tahu adalah konsistensi untuk terus belajar. Banyak membaca, banyak menulis, dan banyak bertukar pikiran. Tentu saja, masih banyak hal lain yang perlu dipersiapkan di luar itu semua.

Kadang kala ada yang bilang bahwa menikah itu tidak perlu banyak pertimbangan. Pernikahan bisa gagal karenanya. Benarkah demikian? Bisa jadi iya, bisa jadi juga tidak. Bagaimanapun, grusa-grusu dalam melangsungkan pernikahan bukanlah langkah yang tepat. Memulai hidup baru bukan perkara mudah.

Saya pernah bertanya kepada seorang teman, kapan ia akan menikah? Dia bilang, kalau sudah ada kemauan saya akan menikah. Besok, lusa, atau seminggu lagi bisa. Saya hanya menanggapi sekelumit bahwa menikah itu tidak sama dengan buang angin, bisa dibuang kapan saja saat kebelet.

Mungkin memang saya terlalu waswas dengan kehidupan masa depan itu, hingga terlalu banyak yang harus dipikirkan. Semestinya tak perlu terlalu banyak direcoki oleh sesuatu yang belum pasti. Toh, pernikahan kita masih lama. Masih tersisa banyak waktu untuk belajar dan mempersiapkan diri. Namun demikian, alasan tersebut tidak cukup kuat untuk membentengi kekhawatiran-kekhawatiran tentang masa depan tersebut.

Saya kira, memang tidak terlalu salah banyak berpikir mengenai masa depan. Setidaknya, itu lebih baik dari pada tidak sama sekali memikirkannya. Bagaimanapun, hidup butuh perencanaan. Rencana tersebut bagi saya adalah sebuah ikhtiar kepada Yang Kuasa. Sebagai sebuah rencana, tentu saja tidak selamanya dapat menentukan hasil yang maksimal. Manusia hanya berhak menjalani, yang menentukan sepenuhnya adalah Dzat Yang Maha Bijaksana.

Suatu kali saya pernah berbicang-bincang dengan seorang teman. Ia sudah menikah dan alhamdulillah dikaruniai seorang momongan. Perbincangan kami tidak jauh dari pertanyaan, bagaimana ia menjalani hidup di tengah-tengah masyarakat. Menurutnya, kehidupan dalam rumah tangga tidak jauh berbeda dengan ketika masih mondok. Bedanya, ketika menikah seorang laki-laki sudah punya tanggungan, yaitu istri dan anak-anak.

Dia juga mewanti-wanti saya agar tidak perlu terlalu khawatir dengan nafkah yang akan diberikan kepada keduanya. Sejauh pengalamannya, ia mengaku sulit menjelaskan bagaimana ia mendapatkan uang. Tiba-tiba uang ada ketika salah satu anggota rumah tangganya membutuhkan. Saya tahu dia tidak punya penghasilan tetap yang bisa menjadi sumber mengalirnya uang tersebut. Ia sangat yakin bahwa rezeki itu Tuhan yang mengaturnya.

Nasihat teman saya ini memberikan angin segar. Sebagai orang yang sudah berpengalaman, tidak ada alasan bagi saya untuk tidak mempercayainya. Selama ini, saya hanya belajar banyak teori tanpa praktek seperti yang dilakukan teman saya ini. Wajar kiranya bila saya selalu merasa waswas.
Lalu, bagaimana denganmu? Apakah juga merasa khawatir? Tidak perlu. Biarlah saya yang hanya merasakannya. Kamu hanya perlu belajar yang rajin. Hehehe�.

madura, 8 november 2012

Rabu, 07 November 2012


Bagaimana cara menulis setiap hari?

Mudah. Bahkan sangat mudah. Itu jawaban simpel dan menyederhanakan masalah. Padahal tidak selamanya demikian.

Dalam hal konsistensi, saya bertepuk tangan untuk prestasi K. Dardiri Zubairi, sekretaris PCNU Sumenep dan pengasuh Pondok Pesantren Nasy�atul Muta�allimin (Nasa), Gapura, Sumenep. Dengan kesibukan yang bejibun, beliau masih sempat untuk menulis dan mempublikasikannya di blog.

Kepada keponakannya pernah saya tanyakan bagaimana kegiatan sehari-hari K. Dardiri. Ia bilang bahwa beliau memang sangat sibuk. Selain harus mengurus NU, beliau juga disibukkan oleh kegiatan pendidikan di pondok yang diasuhnya. Praktis tak banyak waktu luang yang beliau punya.

Kegiatan menulis beliau selipkan dalam kepadatan aktivitasnya sehari-hari. Menurut keponakannya, beliau biasa nulis saat ada waktu lowong meski sebentar, semisal saat siswa mengerjakan tugas di dalam kelas. Pada waktu-waktu demikianlah beliau gunakan untuk mendedahkan buah pikirannya ke dalam tulisan.

Kepada orang-orang seperti inilah saya patut menaruh iri. Saya harus bandingkan dengan kehidupan saya yang lebih banyak menganggur. Saya yang biasa menganggur 24 jam bisa saja tidak menghasilkan satu tulisan pun dalam satu hari.

Tentu saja saya tidak menyalahkan waktu. Saya dan K. Dardiri memiliki waktu yang sama, 24 jam dalam sehari semalam. Yang berbeda adalah porsi waktu yang kami gunakan untuk masing-masing kegiatan. Bila K. Dardiri lebih banyak menggunakan waktunya untuk belajar, maka saya sebaliknya, menggunakannya untuk main-main.

Nyaris tidak ada orang yang ingin dirinya bodoh. Begitupun saya. Maka, kebiasaan K. Dardiri ini ingin saya adopsi walau selalu gagal karena kemalasan yang terus saya pelihara. Padahal, bila porsi waktu yang kami gunakan sama, tentu hasil tulisan akan lebih banyak milik saya. 24 jam saya menganggur, sementara K. Dardiri masih disibukkan dengan banyak kegiatan di luar dunia tulis menulis. Sudah pasti saya lebih banyak punya waktu luang.

Kesadaran yang berbuah aksi positif tidaklah mudah. Hal pertama yang harus ditaklukkan adalah diri sendiri. K. Dardiri sudah tak ada urusan dengan hal ini. Dalam bahasa yang lain, beliau sudah menemukan passion dalam dunia tulis menulis. Sebagaimana dalam anekdot, kalau tidak menulis akan sakit.

Lain dengan yang masih harus tertatih-tatih dalam tulis-menulis. Mereka harus berperang melawan kemalasan dan kepicikan wawasannya. Selain harus terus menulis, mereka juga perlu banyak membaca untuk melancarkan gagasannya.

Tentang Ide

Memang, luasnya wawasan sangat berpengaruh terhadap kelancaran dalam menulis. Orang yang baru belajar menulis seperti saya tentu tidak bisa dengan mudah menghasilkan tulisan, apalagi dengan tema yang awam saya pahami. Sebelum menulis, saya perlu membaca buku-buku yang banyak bersinggungan dengan materi yang akan saya uraikan.

Barangkali kelancaran menulis K. Dardiri juga dipengaruhi oleh wawasan beliau yang sudah banyak bergelut dengan dunia literasi. Bagaimanapun, perkenalannya dengan dunia tulis-menulis sudah lama. Saat beliau belajar di perguruan tinggi, tulis-menulis bukan lagi kegiatan asing baginya. 

Belajar mengenai giatnya K. Dardiri dalam dunia tulis menulis tentu saja tidak bisa hanya melihat ketika beliau sudah matang seperti sekarang. Saya harus melihat kembali ke masa lalunya, bagaimana beliau melewati hari-hari yang kelak menuntunnya menjadi seorang yang amat produktif. Saya sangat meyakini bahwa pada masa muda beliau tidak mungkin hanya dilewati dengan leyeh-leyeh macam saya sekarang. Pasti ada kerja keras yang beliau lakukan untuk mengejar impiannya menjadi seorang penulis produktif.

madura, 07 november 2012

Minggu, 04 November 2012

*Terbit di buletin Variez edisi November 2012

Otokritik kadang memang sulit. Tersebab kritik menuntut pengkritik berjarak dengan objek kritikannya. Padahal, objek itu adalah diri pengkritik sendiri. Begitupun ketika saya memulai tulisan ini. Saya harus memeras otak yang pas-pasan untuk menjelentrehkan ihwal “khittah” santri sebagaimana tema yang digagas redaksi buletin ini. Saya harus mengajukan sejumlah pertanyaan kepada diri sendiri, misalnya, apa itu khittah santri? Apakah santri sekarang sudah keluar dari khittahnya? 

Sebagai seorang santri, saya butuh merenung untuk mengkritik diri sendiri. Namun, saya gagal berpikir kritis. Saya hanya mendapatkan sejumlah masalah yang sudah sering diungkap dalam banyak kajian tentang pesantren. Padahal saya gampang bosan terhadap sesuatu yang monoton. Namun, apa daya, saya terpaksa menulis ulang karena hanya itulah yang ngendon di otak saya. Bagi Anda yang berharap mendapatkan pencerahan, ada baiknya untuk meninggalkan tulisan ini.

Bila dulu orang tua saya berkisah tentang bagaimana kehidupan keras di pondok, barangkali saya juga akan melakukan hal yang sama kepada anak-anak saya kelak. Begitu pula anak saya kepada anaknya, cucu saya. Tentu, cerita masing-masing tidak akan sama, mengingat tempo yang berbeda. Nilai heroiknya pastilah kelihatan lebih besar cerita orang tua saya. 

Tak bisa dipungkiri, kehidupan santri dari waktu ke waktu memang terus berkembang, baik dari segi fisik maupun psikis. Dari segi fisik kita bisa lihat bangunan-bangunan pondok yang makin mentereng. Pondok bilik kehilangan pamornya karena rawan kebakaran dan tidak lagi representatif untuk tempat hunian. Kini, ada banyak santri yang menikmati kamar pondoknya lebih megah ketimbang kamar rumahnya. 

Dari segi psikis, santri sudah banyak yang tidak asing dengan perkembangan informasi. Koran dan internet bukan lagi barang mewah. Kecepatan akses informasi ini tentu saja membawa perubahan dalam cara pandang mereka. Stigma “santri itu kolot” lambat laun kehilangan auranya.

Perkembangan yang dialami pondok pesantren memang tidak bisa seutuhnya merawat masa lalu. Ada sesuatu yang hilang dari kehidupan para santri. Saya mencoba mengingat-ingatnya. Sebagai seseorang yang masih tercatat santri, saya hanya menuliskan pengalaman pribadi. Kajian kritis untuknya mungkin bisa ditulis oleh mereka yang lebih berpengalaman.

Dalam sebuah kesempatan, KH. Mustofa Bisri (Gus Mus) pernah mengatakan bahwa ada perbedaan mendasar antara sistem pendidikan di pesantren dengan di sekolah umum. Di pesantren, istilah pendidikan yang digunakan adalah tarbiah sementara di sekolah umum adalah ta’lim. Tarbiyahcakupannya lebih kompleks tinimbang ta’lim karena yang diajarkannya tidak hanya soal materi pelajaran, melainkan nilai-nilai dan praktek kehidupan yang Islami.

Di pondok pesantren, pelajaran tidak saja dilaksanakan di mushalla dan madrasah, tetapi dari semua unsur kehidupan santri diproyeksikan bernilai pendidikan. Contoh kecilnya adalah pemilihan pengurus yang mempertimbangkan banyak hal, mulai dari kompetensi, akhlak dan kepribadiannya. Sebab, pengurus akan menjadi panutan santri tidak saja dari segi kemampuan otaknya, tapi juga tingkah lakunya sehari-hari. Pepatah “guru kecing berdiri, murid kencing berlari” sangat lekat dalam kehidupan santri karena dasar pendidikan sebenarnya adalah keteladanan. 

Contoh yang lain. Dulu, ketika awal-awal saya mondok, pada pagi hari, santri diminta untuk mengangkut batu dari gunung di sebelah selatan pondok. Mereka guyub bergotong-royong menyelesaikan pembangunan mushalla yang memang kekurangan dana. Keterbatasan dana tersebut membuat mereka harus bekerja sendiri tanpa bantuan alat-alat berat yang butuh banyak mengeluarkan uang.

Cerita ini tidak saja bicara soal bagaimana mushalla cepat selesai. Namun, santri juga diajarkan tentang keguyuban, gotong-royong, kekompakan, dst. Pelajaran tentang kehidupan ini akan hambar bila disampaikan hanya dalam bentuk teori. Kehidupan seperti itu akan mereka praktekkan kelak ketika ada di rumah masing-masing. Ibaratnya, ia adalah semacam simulasi sebelum mereka benar-benar terjun ke dalam kehidupan masyarakat.

Lain halnya dengan kehidupan di sekolah umum, di mana kebanyakan atau bahkan semua materi diajarkan dalam bentuk teori. Jelas saja anak didik hanya tahu “kulit luarnya” soal materi yang disampaikan sang guru. Tidak sedikit di antara mereka yang sulit mengaplikasikannya dalam kehidupan. Seperti para santri, mereka juga belajar tentang gotong-royong dan keguyuban. Namun, aplikasinya malah sangat lucu. Gotong-royong yang mereka lakukan hanya untuk tawuran antar sekolah, gotong-royong mebunuh musuh dari sekolah lain.

Saat ini, pelajaran tentang mengangkut batu di pesantren dan sejenisnya sudah kian jarang terlihat. Santri makin sibuk dengan banyaknya pelajaran di madrasah. Mereka berangkat pagi-pagi untuk mengikuti kegiatan yang diselenggarakan sekolah. Santri sudah tak punya banyak waktu belajar tentang praktek kehidupan.

Mengenai kurikulum madrasah, Gus Mus juga mengkritik karena kini banyak sekali pesantren yang sudah didikte oleh kurikulum pemerintah. Padahal, menurut beliau, bila mau mengkaji lebih dalam, pesantren memiliki kurikulum yang sangat lengkap. Pesantren adalah model pembelajaran yang memiliki sejarah panjang dan terbukti tidak sedikit alumninya yang menjadi pemimpin.

Perdebatan tentang kurikulum ini memang sering terlontar dari para pemikir pendidikan pesantren. Infiltrasi pemerintah yang terlampau jauh membuat pesantren berada dalam pasungan. Terlalu banyaknya materi dan kegiatan sekolah yang diberikan pemerintah membuat santri tidak lagi fokus. Tidak menutup kemungkinan kelak madrasah pesantren akan tidak jauh beda dengan sekolah umum.

Minggu, 24 Juni 2012


Selama beberapa hari terakhir saya menghabiskan banyak waktu untuk menonton sebuah drama Korea berjudul �City Hunter�. Film ini berisi 20 episode dengan durasi masing-masing episode sekitar satu jam. Bila dikalkulasi secara keseluruhan berarti saya menghabiskan waktu selama 20 jam lebih untuk menuntaskan film ini. Namun, tentu saja saya tidak menghabiskannya dalam sekali tonton. Tubuh saya tidak akan kuat dan tentu laptop juga butuh istirahat. Selain itu, ada beberapa pekerjaan yang harus saya selesaikan. Akhirnya, saya butuh beberapa hari untuk bisa menuntaskan semua episode itu.
Karakter film ini sebenarnya sudah lama diciptakan dalam bentuk manga, yaitu pada tahun 1985 oleh Tsukasa Hojo. Dari bentuk manga, City Hunter diproduksi menjadi anime dan kemudian menjadi film layar lebar dengan tokoh bintang Jackie Chan pada tahun 1992.
Versi film yang saya tonton kali ini dirilis pada tanuh 2011. Dengan tokoh utama Lee Yoon-sung (Lee Min-ho) yang berparas rupawan, film ini banyak mengalami perubahan, utamanya karakter tokoh sentral. Di film terdahulu, tokoh utama adalah detektif swasta yang suka mengejar-ngejar perempuan, tapi sangat menyayangi adik perempuan angkatnya. Di film ini, tokoh utama berusaha membalas dendam atas kematian sang ayah.
City Hunter berkisah tentang konspirasi politik yang terjadi dalam tubuh pemerintahan Korea Selatan. Bermula dari ditembaknya pasukan elite Korea oleh pasukan negaranya sendiri untuk menyelamatkan rahasia lima politisi korup. Salah satu dari tentara yang dibantai itu adalah Park Moo-yul, ayah dari Lee Yoon-sung. Dari keseluruhan pasukan yang ditembak, hanya Lee Jin-pyo yang bertahan hidup. Lee Jin-pyo berusaha membalas dendam dengan memanfaatkan Lee Yoon-sung. Ia dibawa kabur ke Thailand untuk dilatih dalam persiapan balas dendam.
Drama ini sebenarnya tidaklah terlalu istimewa bagi saya, kecuali pemain perempuan bernama Kim Na Na. Yah, kehadiran perempuan cantik itu memberi warna baru dalam perjalanan film aksi berbalut konspirasi ini.
Membandingkannya dengan sinetron-sinetron Indonesia tentu saja bukanlah hal yang tepat. Bagaimanapun, kematangan penggarapan sangat jauh berbeda dengan apa yang ada di dalam negeri. Mereka memang tidak main-main dalam mengerjakannya. Terbukti, sepanjang perjalanan kisah, adegan-adegan dan properti hadir tempak �hidup�.
Adegan perkelahian tokoh utama dalam beberapa episode digarap dengan cukup bagus, sehingga tampak si tokoh hadir layaknya seorang pendekar. Lain dengan sinetron-sinetron Indonesia yang sungguh membuat logika tumpul. Konflik dan adegan-adegannya seragam. Saya sering ngomong ke teman-teman, bahwa rumus sinetron Indonesia itu cukup gampang. Percintaan tokoh utama pasti tidak disetujui oleh salah satu orang tua atau kerabat si pacar. Dan para pemerannya sangat gampang kena penyakit akut. Jatuh dari tangga saja sudah hilang ingatan dan membelok 180 derajat logika film. Benar-benar mengenaskan.
Dari segi tema pun, kehadiran drama ini tak bisa disandingkan dengan sinetron-sinetron kita. Di negara kita, tema tentang konspirasi pembunuhan dan korupsi sangat jarang atau bahkan tidak ada yang menggarapnya. Memang, sinetron kita cenderung bergerak dalam pusaran tema yang itu-itu saja, tentang cinta yang cengeng dan banal. Di sejumlah adegan, selalu ada tindak kekerasan yang dilakukan. Kadang saya bertanya dalam hati, apakah seperti itu yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari para artis?
Tema tentang korupsi di sini sangat apik dimainkan oleh masing-masing tokoh. Tentu saja persepsi ini berangkat dari pandangan subjektif saya yang awam tentang sinematografi. Namun, setidaknya saya bisa mengandalkan logika yang tidak dikhianati dalam drama tersebut, tidak sebagaimana lazimnya dalam sinetron-sinetron Indonesia. Dalam artian, dibandingkan dengan sinetron kita, drama ini jauh lebih masuk akal.
Walau demikian, tentu saja ada beberapa hal yang tidak saya sukai dalam drama ini, salah satunya adalah kehidupan yang sangat glamour. Tetapi ia tidak begitu penting karena saya tahu kultur dan tradisi di Korea Selatan dan Indonesia jelas berbeda. Namun, budaya glamour Korea tersebut sudah menjangkiti anak muda di negara kita. Terbukti, kita bisa melihat gaya rambut dan busana yang mereka pakai. Saya kadang berpikir, kenapa bukan kemajuan teknologinya yang kita tiru, tapi malah cara berpakaiannya? Mungkin saya terlalu kolot dengan berpikir seperti itu.
Dari segi alur drama, saya melihat ada beberapa hal yang masih menjadi pertanyaan. Misalnya tentang tokoh utama yang begitu mudah memasuki istana presiden. Bagaimana sebenarnya pengamanan orang nomer satu di Korea Selatan tersebut? Padahal, kalau melihat di negara kita, pengamanan presiden itu cukup wah. Tapi, di film tersebut saya melihat tokoh utama gampang-gampang saja memasukinya, terlepas dari posisi dia yang menjadi anggota keamanan di Blue House, Paspamres kalau di Indonesia.
Tapi, sekali lagi, saya tidak terlalu mempersoalkan itu karena mungkin kehidupan presiden di sana tidak seperti kehidupan presiden di negara kita. Saya melihat dari banyak hal, kehidupan presiden di Korea Selatan itu lebih sederhana, bahkan terkesan tidak masuk akal. Bagaimana mungkin seorang presiden tidak tahu cara mengupload foto ke blog. Padahal, kita tahu Korea terkenal dengan pengalaman teknologinya yang cukup canggih.
Terlepas dari sejumlah kejanggalan itu, saya lebih memilih memposisikan diri sebagai orang awam. Sangat mungkin pertanyaan itu lahir dari pemahaman saya yang cukup dangkal tentang seluk beluk Korea Selatan. Apalagi dalam riwayat tontonan, saya sangat jarang mengonsumsi film-film Korea. Tentu saja dengan pemahaman yang pas-pasan tersebut saya tida bisa dengan semena-mena mengkategorikan drama ini sebagai karya yang buruk.
Kim Na Na
Terus terang, selain karena muatan film ini, saya juga terkesan oleh kehadiran tokoh Kim Na Na. Dia cantik itu sudah pasti. Tapi, hal yang juga cukup menarik adalah karakternya sebagai orang yang membuat konflik tokoh utama kian hidup. Pembawaannya yang cerewet dan terus terang sering kali membuat tokoh utama sering menyalahkan diri sendiri atas keputusan yang dia lakukan. Berkali-kali tokoh utama mengatakan Kim Na Na bukan tipenya, padahal itu adalah untuk menyelamatkan misinya yang ingin balas dendam.
Madura, 24 Juni 2012

Sabtu, 23 Juni 2012

*pernah diikutkan dalam lomba review buku Denny JA. tapi tidak lolos. Hehe...

Sepertinya, pembahasan tentang cinta belum akan berakhir. Atau, ia akan tetap hidup selama manusia masih ada di muka bumi. Dari zaman dahulu, telah ribuan buku ditulis hanya untuk mengurai misterinya. Namun, pembahasan itu tidak pernah final. Menanggapi buku tentang cinta yang marak di Indonesia, Kurnia Effendi pernah bilang, persoalan cinta di negeri ini belum selesai. Cinta memang tidak akan pernah habis dibahas karena masing-masing orang memiliki ekspresi yang berbeda-beda atasnya. Nah, perbedaan itulah yang akan terus membuatnya eksis seiring dengan perjalanan hidup manusia.

Wilayah disiplin ilmu yang membahasnya pun beragam, dari fiksi hingga ilmiah. Hal ini menandai bahwa persoalan cinta adalah hal yang sangat kompleks. Ia berjalin kelindan dengan masalah-masalah lain yang ada dalam kehidupan manusia.

Kompleksitas cinta tersebut melahirkan permenungan tersendiri bagi Denny JA, seorang aktivis, peneliti, pengusaha, dan akademikus. Baru-baru ini dia meluncurkan buku �puisi esai� berjudul �Atas Nama Cinta�. Sebuah buku yang di sampulnya tertulis �Genre Baru Sastra Indonesia�.

Buku tersebut terdiri dari lima judul tulisan dengan isu utama soal diskriminasi. Balutan cinta hampir mewarnai sejumlah besar puisi-puisi di dalamnya. Kelima tulisan itu masing-masing diberi judul �Sapu Tangan Fan Ying�, �Romi dan Yuli dari Cikeusik�, �Minah Tetap Dipancung�, �Cinta Terlarang Batman dan Robin� dan �Bunga Kering Perpisahan�.

Tulisan ini hanya akan menyinggung puisi esai berjudul �Bunga Kering Perpisahan� yang ada di bagian akhir buku ini. Ia berkisah tentang cinta seorang perempuan bernama Dewi yang beragama Islam dan Albert yang beragama Kristen. Dua orang tersebut dipisahkan cintanya oleh kebencian ayah Dewi atas pernikahan beda agama, juga atas keinginannya agar sang anak menikah dengan Joko, seorang santri yang alim tapi dingin. Hubungan beda agama bagi ayah Dewi adalah sebuah laknat.

Pernikahan pada akhirnya tak bisa ditolak karena tekad ayah Dewi sudah bulat. Pantang bagi Dewi melanggar perintah ayahnya karena predikat santri melekat padanya. Terlebih lagi Ibunya selalu berpesan agar ia tak menentang sang ayah. Apa daya, cinta memang tak pernah bohong. Dalam sepuluh tahun, perjalanan biduk rumah tangga Dewi terasa hambar. Cintanya tetap tak bisa diotak-atik kepada Albert. Pengabdiannya kepada Joko hanya karena ia taat terhadap tradisi.

Setelah sepuluh tahun, akhirnya Joko meninggal. Dewi menjanda. Saat itulah prinsip hidupnya berubah. Ia mulai menekuni filsafat dan sastra. Pandangannya tentang agama kian mencair. Cinta yang dipendamnya sekian tahun kini menemui titik kulminasi. Hal itu didukung oleh wawasannya yang terus berkembang melalui buku-buku yang dibacanya. Ia mulai berani berbeda sikap dengan orang tuanya karena ia pikir zaman sudah berubah. Sekarang sudah zaman Facebook dan Twitter, bukan zaman Sitti Nurbaya, katanya. Ia bertekad memperjuangkan kembali cintanya kepada Albert, meski mendapat tantangan keras dari orang tuanya.

Kemudian, Dewi mulai mengirim mawar layu yang disimpannya dalam kotak. Mawar itu dipersembahkan Albert ketika ia akan melangsungkan pernikahan sepuluh tahun silam. Albert berpesan agar bunga tersebut dikirim kembali kepadanya jika kelak ia berpisah dengan Joko. Maka, hari itupun Dewi mengirimkannya. Namun, yang datang bukan Albert, melainkan sesosok perempuan tua. Dialah Ibu Albert. Ia datang dengan sebuah kabar buruk, bahwa anaknya telah meninggal dunia setelah sebelumnya melakukan pendakian di sejumlah gunung.

Secara tematis, apa yang dibahas dalam tulisan tersebut bukanlah hal baru. Tahun 2010 lalu, kita disuguhi film �3 Hati, Dua Dunia, Satu cinta� adaptasi dari novel �The Da Peci Code� karya Ben Sohib. Di dalamnya juga digambarkan tentang cinta sepasang anak manusia beda agama. Titik konfliknya pun agak mirip, yaitu tekanan dari orang tua.

Perbedaan mendasar dari masing-masing karya tersebut terletak pada medium yang digunakan penulis untuk menyampaikan sebuah gagasan. Bila Ben Sohib menggunakan medium Novel, maka Denny JA memilih puisi esai.

Pembahasan tentang pergumulan cinta, agama dan tradisi memang sesuatu yang masih aktual dibicarakan. Sampai kini, orang masih alergi dengan adanya perkawinan beda agama, meski memiliki cinta yang dalam. Padahal, sebagaimana dijelaskan Denny, dalam sejarah Islam, Nabi dan beberapa Sahabat pernah melakukan pernikahan beda agama. Di kalangan umat Islam pun, pandangan terhadapnya terjadi perbedaan, ada yang membolehkan dan ada pula yang menentang.
Masalah yang timbul lebih karena persoalan tradisi yang menganggap bahwa pernikahan beda agama adalah hal yang sangat dibenci oleh Tuhan. Kecenderungan orang mematok hukum barangkali karena mereka abai terhadap hukum-hukum lain yang berlawanan dengan hukum yang selama ini mereka anut. Lewat tokoh Albert, Denny menyampaikan protes kepada Tuhan. Ia berkata:
.
Tuhan, mengapa tak Kau-restui cintaku
Kepada sesama ciptaan-Mu
Hanya karena, ya Allah,
Hanya karena agama kami beda?
Padahal Kau jugalah yang menurunkannya
.
Puisi esai dalam ranah susastra tanah air termasuk hal baru, atau bahkan karya inilah satu-satunya. Akan tetapi, perbedaan itu mungkin hanya masalah nama, karena ketika membaca buku �Pengakuan Pariyem� karya Linus Suryadi AG atau �Sareyang� karya M. Faizi kita agak sulit mencari celah perbedaannya. Bagaimanapun, sebagian prosa lirik memiliki struktur cerita dan bahasa puitik seperti puisi yang ditulis Denny JA. Lalu, apa sebenarnya yang dia anggap barang baru dalam karyanya itu?

Hal yang paling nampak adalah jalinan data dan referensi. Di dalam tulisan Denny, catatan kaki dimunculkan untuk mendukung fiksi yang dibangunnya. Ia lahir untuk meneguhkan kehadiran tulisan sebagai sebuah esai. Esai tentu saja titik pijaknya adalah fakta atau opini yang disampaikan secara terang, lebih sering tanpa bahasa-bahasa puitik. Jadi, penggabungan bahasa puitik dengan jalinan data itu melahirkan sebuah genre baru bernama �puisi esai�.

Sabtu, 16 Juni 2012


sumber foto di sini

Terbebas dari perasaan mencintai barangkali bukanlah hal yang mudah. Setidaknya, sampai sekarang orang masih sulit mencari penawarnya. Mungkin memang tidak ada penawarnya, selain hanya waktu yang akan menentukan kelak. Yah, waktu.

Saya pernah iseng-iseng mengirim pesan kepada teman-teman. Bunyinya begini: Dicari! Terapis anti-cinta. Dibutuhkan segera! Dari sekian yang menanggapi, saya tidak menjumpai adanya jawaban yang memuaskan. Semua menanggapi dengan nada guyon. Mungkin ini efek negatif dari kebiasaan mengguyon yang sering saya lakukan kepada mereka.

Namun, saya mengakui bahwa itu bukanlah perkara mudah. Jawaban teman-teman saya kira bukan murni karena ingin mengguyon, tetapi lebih karena memang tidak punya jawaban jitu, tepat sasaran, dan bisa dipakain oleh banyak orang.

Telah banyak hal dilakukan orang untuk mengubur rasa cintanya. Berbagai macam alasan dikemukakan. Ada yang merasa orang yang dicintainyanya tak pernah punya perasaan spesial buat dirinya, ada yang karena minder, ada pula karena trauma, ada yang karena dibayang-bayangi oleh suatu hal yang sulit di masa depan, dst. Semua itu dihadirkan sebagai sebuah penyakit yang perlu disembuhkan. Tapi, nyatanya tak ada yang benar-benar bisa mengobatinya.

Jalan yang sering ditempuh orang adalah dengan menjaga jarak dari orang yang dicintai. Ini mungkin bukan perkara mudah, mengingat ia harus berperang dengan rasa rindu yang mencekik perasaan. Namun, selama ini trik tersebut masih dianggap sebagai cara yang ampuh. Tentu saja kegagalan dan keberhasilan tipis sekali batasnya. Ada yang berhasil dengan cara itu dan tidak sedikit yang gagal.

Mengasingkan diri dari hadapan orang yang dicintai membutuhkan keberanian berlebih. Setidaknya, mereka harus berani sabar dalam kesepian yang panjang. Itu bukanlah hal gampang, apalagi jika orang yang dicintai memiliki teman-teman yang juga mengenal kita. Memutus secara total komunikasi saya kira bukanlah hal yang baik. Itu akan terasa ganjil di mata teman-teman yang lain, lebih-lebih dia yang dicintai itu. Intensitasnyalah yang perlu diturunkan semaksimal mungkin. Namun, apakah itu bisa?

Jawaban dari pertanyaan itu ada pada gerak langkah yang kita lakukan. Bila kita tak benar-benar berjuang keras untuk mewujudkannya, tentu saja kegagalanlah yang akan didapat. Kita mungkin akan terus larut dalam kubangan ketidakpastian. Itu adalah kiamat kecil yang tidak boleh terus dipelihara. Akan ada banyak waktu terbuang hanya untuk mengurusi hal-hal yang tidak penting itu. Persiapan ke masa depan akan sulit untuk dicapai.

Sebenarnya ada cara yang ampuh selain cara di atas, yaitu tetap berkomunikasi tapi bukan dalam kerangka asmara. Dalam hal ini kita harus benar-benar bisa berakting tidak terjadi apa-apa dalam kehidupan kita, meski gemuruh menderu-deru dalam dada. Itu adalah perjuangan yang lebih sulit lagi. Dan saya yakin tidak akan banyak orang yang bisa melakukannya. Bagaimanapun, logika sering babak belur saat asmara mendominasi.

Apa yang saya ungkapkan di atas tentu saja subjektif sifatnya. Dari sekian orang pasti ada satu-dua yang punya cara baru yang lebih efektif untuk menghadapi masalah ini. Artinya, masing-masing orang memiliki obat berbeda-beda untuk menyembuhkan penyakit yang sama. Dan sampai saat ini saya belum menemukan yang manjur.

Madura, 16 Juni 2012

Kamis, 31 Mei 2012

sumber foto di sini

Dari dulu saya sudah punya firasatbahwa saya memang tidak punya bakat bergelut dalam dunia pendidikanformal. Dari riwayat sekolah, saya termasuk orang yang gagal menjadiinsan �terdidik� sebagaimana diharapkan oleh visi misi pendidikandari pemerintah. Hampir sepanjang perjalanan mulai MadrasahTsanawiyah hingga Perguruan tinggi saya adalah seorang pembolos yangrajin. Meski kebolosan itu tidak sampai membuat saya dikeluarkan darisekolah karena saya selalu emoh dengan urusan kantor yangmenjengkelkan.

Kebiasaan buruk di masing-masingtingkat pendidikan membawa dampak tersendiri bagi kehidupan sayakelak, terutama ketika saya diserahi untuk menjadi tenaga pengajar disebuah madrasah. Dari awal saya mengajar, saya hanya masuk kalautidak salah lima kali. Padahal sudah sekitar tiga bulan lamanya sayadiminta mengajar.

Entahlah, sampai saat ini saya masihmemiliki persepsi miring tentang dunia pendidikan di negara ini.Sistem yang korup dan manajemen yang tidak matang selalu membuat sayaapatis. Di daerah-daerah malah sekarang sudah marak praktek korupsidari dana BOS, BKM, BSM, dst. Sudah bukan rahasia lagi kalaupetinggi-petinggi sekolah berlomba-lomba membeli mobil mewah daribantuan pendidikan tersebut. Dan untuk mendapatkan bantuan, pihaksekolah harus menyogok pihak Depag atau Diknas. Apakah ini yang harusdilestarikan?

Belum lagi pelaksanaan Ujian Nasional(UN) yang sudah lumrah menjadi ajang kebusukan para pengawas, Diknas,dan sekolah. Kebohongan begitu kentara mereka pertunjukkan. Anehnya,dengan kondisi seperti itu, para siswa masih merayakan kelulusandengan kegembiraan tingkat tinggi, seperti baru mendapat surga jatuhdari langit. Apakah itu tandanya mereka merayakan kebohongansistematis? Aneh.

Ketika sedang frustasi memikirkanpendidikan yang menyedihkan, kadang saya berpikir untuk menginisiasisebuah komunitas belajar. Dari awal saya sudah tahu, bahwa tantanganterberat mendirikan komunitas belajar adalah SDM dan sumber dana. SDMmenjadi sulit karena di komunitas sistemnya adalah swadaya.Masyarakat saat ini sudah enggan berususan dengan hal-hal yang berbauswadaya. Cara berpikir mereka sudah dikonstruk oleh keadaan menjadiserba kapitalis, semua diukur dengan uang. Nah, menghadapi kesulitanini, saya mesti mencari kader-kader militan yang siap bekerja penuhuntuk memajukan pendidikan, bukan mengkomersialisasi sebagaimana yangsering terjadi saat ini.

Soal sumber dana memang masalah klasik.Dari zaman nenek saya, kalau ada acara atau lainnya, masalahpendanaan adalah hal yang selalu muncul pertama kali. Akan tetapi,jika mau berkreasi, saya yakin pendanaan akan bisa diatasi. Jikasulit mendapatkan dana, maka bangunlah koperasi.
Saya ingin mengawali komunitas belajarini dengan mendidirikan sebuah perpustakaan. Saya melihat dunia bukuadalah hal yang masih langka di Madura. Meski beberapa lembaga sudahmendirikan perpustakaan, namun keberadaannya masih sangatmemprihatinkan. Sekolah lebih suka mendirikan laboratorium ketimbangperpustakaan. Padahal, sumber-sumber pengetahuan mestinya diawalidari perpustakaan, bukan ruang laboratorium.

Perpustakaan ini adalah milik komunitasyang dikelola secara swadaya. Keberadaannya tidak boleh bergabungsecara penuh dengan sekolah karena dikhawatirkan kegiatan-kegitannyaakan berbenturan dengan kegiatan sekolah bersangkutan. Persentuhankeduanya hanya dalam proses peminjaman buku. Saya membayangkan untuktahap-tahap awal, anggota komunitas bergerilya ke sekolah-sekolahuntuk promosi sekaligus mendorong para siswa gemar membaca. Kampanyebuku diawali dengan kegiatan semisal lomba yang berkenaan denganbuku. Hadiahnya adalah voucher gratis peminjaman buku.

Itulah beberapa hal yang terlintasdalam pikiran saya. Saya memang belum melangkah lebih jauh untukobesesi yang satu ini. Saya masih dalam tahap belajar bagaimanamembangun sebuah ide menjadi kenyataan. Saya selalu dihantui olehberbagai pertanyaan, apa yang akan saya berikan untuk anak cucukelak, sementara saya tidak punya keahlian apa-apa? Bagi saya, sebuahlangah kongkret adalah hal yang tak bisa ditawar. Komunitas belajarbarangkali adalah kerja nyata itu. Ia hadir untuk melawan pendidikanyang korup!

madura 31 mei 2012

Selasa, 29 Mei 2012

Ernst Cassirer mengatakan bahwa manusia adalah animal symblicum atau hewan yang bersimbol. Tiap apa yang melekat padanya selalu punya tafsir, baik itu cara bergerak, berbicara, cara berpikir, apa yang dipakainya, dst. Masing-masing tafsir itu bisa jadi berbeda-beda, namun terkadang ada kesepakatan atas tafsir-tafsir tertentu ole sebuah komunitas masyarakat.

Dalam keseharian, kita bisa melihat banyak sekali contoh nyata bagaimana sebuah simbol akan membentuk pikiran seseorang. Anak muda yang tidak punya ponsel hari ini akan menjadi olok-olokan teman-temannya yang lain. Dia akan dianggap anak rimba yang gaptek dan tidak gaul. Di sini nampak bahwa ukuran gaul tidaknya seseorang ditakar oleh ada tidaknya sebuah ponsel di tangan mereka. Ponsel adalah simbol untuk menandai pemakainya termasuk golongan orang-orang yang maju dan modern. Meski sering mereka tak dapat memanfaatkan fitur-fiturnya dengan baik.

Soal simbol ini juga bisa kita lihat dalam sebuah kasus yang sekarang sudah redup dari perbincangan, yaitu plat palsu mobil Anas Urbaningrum.  Simbol atas plat tersebut bisa saja menimbulkan sebuah persepsi �Lha wong dia ketua partai penguasa, wajar toh punya plat seperti itu. Dan polisi nggak akan berani menyeretnya ke sel. Terbukti sekarang berita itu sudah redup.�  Atau persepsi yang lain lagi, misalnya: �Dia kan bikin plat palsu karena sering dikejar-kejar orang�. Nah, persepsi yang terakhir inilah yang lucu dan tidak masuk akal. Kalau masalahnya seperti itu, masak harus melanggar peraturan polisi?

Ah, terlalu jauh sudah. Saya sebenarnya hanya akan membahas sebuah simbol yang ada di dalam Facebook, yaitu tanda jempol. Sebelum masuk dalam keluarga situ jejaring sosial, jempol hanyalah sebuah simbol bagi kata  �bagus sekali� dan �sangat hebat�. Namun, kini ia mengalami perluasan makna dan kadang bahkan untuk sesuatu yang bertentangan dengan makna terdahulu. Lebih sering pula kata �Suka� yang tertera sehabis gambar jempol tidak cukup mewakili keinginan pengguna situs ini. Mereka coba memproduksi makna baru yang lebih cair.

Contoh kecilnya, misalnya, saya menulis status: Innalillahi wainna ilaihi rajiun. Telah meninggal dunia�. dst. Tiba-tiba ada yang mengklik tanda jempol. Apakah itu akan diartikan sebagai bentuk rasa suka cita atas meninggalnya seseorang yang saya sebutkan dalam status itu? Ataukah ia sebagai ekspresi ucapan �Bagus Sekali� atau �Sangat Hebat�? Jika demikian, sangat terkutuklah orang yang memberi tanda jempol tersebut. 

Jadi, apa yang dilakukan teman Facebook  itu haruslah dimaknai sesuai konteks yang ada. Tentu saja mereka tidak mungkin bermaksud menyukai sebuah kematian. Kita bisa lebih cair menanggapi, bahwa, misalnya, itu adalah bentuk belasungkawa. Atau dia �suka� saya telah berbagi kabar yang sangat penting itu kepadanya.

madura, 29 mei 2012

Senin, 23 April 2012


Saya umpamakan Anda sedang berada dalam kerumunan teman-teman Anda yang terlibat sebuah diskusi alot. Masing-masing melayangkan jawaban dan sanggahan silih berganti. Diskusi akhirnya selesai tanpa memperoleh kesimpulan, sebagaimana lumrah dalam diskusi mahasiswa karena sedikitnya buku yang mereka baca. Mereka berhenti karena kelelahan. Saat istirahat, cobalah iseng-iseng kumpulkan teman-teman Anda yang memakai kacamata, lalu tanyakan, untuk apa mereka mencantolkan makhluk tersebut di depan matanya?

Jawabannya sudah pasti berbeda-beda. Mungkin ada yang menjawab karena minusnya sudah 1, 2, 3 atau 4. Itu jawaban lumrah dan tak perlu diperdebatkan meski mungkin mereka membohongi Anda. Biarkan, dia akan menjumpai balasan kebohongannya kelak. Yakinlah itu. 

Di antara jawaban yang lain, barangkali ada juga yang menggunakan kalimat ini, �Biar gaya dong!�. Untuk jawaban macam begitu, ada baiknya Anda menahan diri untuk tidak mengomentari. Sebab, ciri-ciri pemakai kacamata dengan alasan demikian tingkahnya akan makin membuat Anda senewen. Semakin Anda beri dia pengertian, semakin dia tak ingin melepas kacamatanya. Itu penyakit narsis stadium empat.

Kita tahu, ada banyak muda-mudi yang bola matanya kena minus lebih suka memakai kacamata ketimbang rajin memakan wortel untuk mengembalikan saraf-saraf penglihatannya agar kembali normal. Bahkan, anehnya, kadang tingkat minusnya masih sangat rendah dan tidak menghalangi penglihatannya. Apa sebabnya?

Rahasia lama mengatakan, orang yang memakai kacamata identik dengan kutu buku, ilmuan yang menghabiskan banyak literatur dalam sekali duduk. Menjumpai orang-orang seperti ini kita tidak boleh ngomong sedikit karena ia bisa menanggapinya panjang lebar, melebihi rel kereta api, tentu dengan mulut berbusa-busa pula. Anggapan seperti itu masih bertahan hingga sekarang. Maka, berlomba-lombalah mereka memakai kacamata agar dianggap intelek. Kalau berbicara di hadapan teman-temannya tak lupa tiap beberapa detik mereka memperbaiki letak kacamatanya, seperti seorang profesor sedang memberi kuliah kepada anak didiknya, dan kacamatanya sering melorot tiap dia berbicara.

Kalau saya melihat lebih jauh, ini bukan hanya soal kacamata. Tetapi ia juga menjelaskan tentang eksistensi seseorang. Mereka yang memakainya barangkali ingin dianggap sebagai orang yang cerdas. Sebagaimana kita tahu, orang yang memiliki otak brilian akan mendapat tempat tersendiri dalam kehidupan. Nah, para pemakai kacamata yang ikut-ikutan itu barangkali mengejar tempat itu. Mereka ingin dilihat sebagai orang yang cerdas, walaupun cara mereka salah. Sebab, kecerdasan tidak berkorelasi dengan kacamata.

Dan yang perlu diingat, mata minus itu tidak normal, lho. Jadi, bersyukurlah yang tidak memakai kacamata karena Allah masih memberi nikmat kepada penglihatan kita.


madura, 28 maret 2012

Minggu, 08 April 2012


Telah lama saya membaca buku ini, tetapi pada hari kemarin (Sabtu, 24 Maret 2012) saya baru bisa menyelesaikannya. Begitulah, seperti yang sering saya katakan, saya bukanlah pembaca yang taat. Ia hanya sebagai perintang waktu di masa senggang. Sebuah kebiasaan buruk yang terus saya pelihara hingga kini. Meski saya selalu merutuk untuk itu.

Saya pernah membaca �Perahu Kertas� karya Dewi Lestari. Dan saya jatuh cinta untuk pertama kalinya. Karya itu bergaya teenlit tetapi tidak jatuh kepada kecengengan dalam berbahasa. Maksud saya, Dee--panggilan perempuan itu�punya banyak cara mengikat pembacanya. Salah satunya dengan keluasan wawasan yang dia punya. Meski gaya berbahasanya terkesan sederhana, namun dia berhasil meramu dengan pengetahuan yang luas itu. Alhasil, cerita-cerita yang dia sampaikan selalu bergizi.

Sebenarnya, �Madre� adalah buku ketiga karya Dee yang saya baca setelah �Supernova: Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh� dan �Perahu Kertas�. Tetapi, saya menganggap buku ini adalah yang kedua, karena membaca �Supernova: Kesatria, Putri, dan Bintang Jatuh� saya tidak mengerti apa-apa. Maklum, bila bersentuhan dengan ilmu-ilmu eksak, kepala saya pusing tujuh turunan. Itu hal buruk lainnya yang tanpa sengaja terus saya pelihara.

�Madre� bukanlah buku yang tebal. Ia hanya menghabiskan 160 halaman. Tapi, setipis apapun sebuah buku, bila tidak dibaca, ia akan tetap sebuah misteri. Dan saya menyimpan misteri itu hingga beberapa hari. Padahal, bila mau taat, saya bisa menghabiskannya hanya dalam satu-dua hari. Pengalaman itu pernah saya lakukan ketika membaca buku �Sebelas Patriot� karya Andrea Hirata. Saya membacanya sehari semalam.

Saya membaca buku itu di rumah. Entah, saya sering kali menghabiskan lebih banyak buku di rumah ketimbang di pondok. Di sana saya bisa berlama-lama dengan buku. Saya tidak tahu apa penyebabnya. Barangkali karena di sana tidak ada gangguan yang bisa memengaruhi kerja saya dalam membaca. Maka, biasanya pada liburan pondok, saya selalu menyempatkan diri membawa buku-buku tertentu.

Lain dengan �Perahu Kertas� yang berupa novel, �Madre� adalah sekumpulan kisah semacam novelet dan puisi. Tema yang diangkat di dalamnya juga beragam, meski sebagian besar memiliki benang merah yang sama, yaitu cinta. Tema-tema tentang cinta bisa dilihat dalam tulisan yang berjudul �Madre�, �Have Your Ever�, �Menunggu Layang-Layang�, �Semangkuk Acar untuk Cinta dan Tuhan�, �Guruji�.

�Madre� berkisah tentang seorang lelaki yang tinggal di Bali tiba-tiba terdampar di Jakarta. Ia berada di sana untuk sesuatu yang tidak masuk akal, mewarisi sebuah pabrik pembuat roti bernama Tan De Bakker. Pemiliknya, Tan Sin Gie, baru meninggal dan ia mewariskan pabrik roti itu kepada Tansen Roy Wuisan, nama lelaki itu. Mereka tak saling kenal. Sehingga bagi lelaki itu kejadian ini adalah misteri.

Misteri kian menyelubungi ketika ia bersama Pak Hadi, teman Pak Tan sekaligus keluarga besar Tan De Bekker, menyusuri pabrik roti berumur ratusan tahun. Pak Hadi mengenalkan Madre. Dalam bayangan Tan, Madre adalah seseorang, namun itu jelas salah karena benda tersebut adalah adonan biang pembuat roti yang terbuat dari perkawinan antara air, tepung, dan fungi bernama Saccharomyses exiguus.

Dan dari sinilah cerita Madre terus berkembang. Lambat laun misteri mulai terkuak satu per satu. Madre adalah biang yang membuat roti memiliki cita rasa berbeda dari produk pabrik lainnya. Ia adalah ruh sekaligus ciri khas yang dimiliki Tan De Bakker. Selain itu, Madre tenyata bukan hanya sebuah adonan biang, tetapi telah menjadi semacam keluarga yang menjaga kehidupan keluarga besar pekerja pabrik itu. Kini, para pekerja itu sudah jompo-jompo tetapi memiliki semangat baru karena adanya orang muda yang kini digadang-gadang menjadi ujung tombak perubahan di tubuh Tan De Bakker. Meski Tansen terus menolak karena soal keterampilan masak-memasaknya hanya mentok di mi instan. Bagaimana mungkin orang yang bahkan tak tahu sama sekali tentang roti bisa memimpin sebuah pabrik roti?

Untung ada Pak Hadi yang selalu membesarkan hati pemuda ini. Ia sangat telaten membimbing Tansen dalam mengenal lebih juah pabrik Tan De Bakker. Juga cara membuat roti kebanggaan pabrik ini. Tansen ternyata mewarisi kepiawaian Lhaksmi, nenek Tansen, yang rupanya adalah kekasih Tan. Mereka bedua dipisahkan oleh jenis ras yang berbeda, Laksmi keturunan India dan Tan Cina. Tetapi keduanya tetap memiliki hubungan yang erat hingga menjelang ajal.

Kisah tentang Madre terus menjauh dan mempertemukan Tansen dengan Mei, seorang perempuan pekerja keras yang juga mengembangkan bisnis roti. Dia bertemu Tansen berkat membaca tulisan-tulisannya di blog. Selain jalan-jalan, Tansen juga memiliki kegemaran menulis di blog. Mei langsung tertarik ketika Tansen memposting tulisan tentang Madre. Perkenalan keduanya membawa perubahan baru Tan De Bakker. Pabrik yang sudah tiarap sekian tahun ini mulai hidup kembali setelah Tansen mendapat order dari Mei. Pada akhirnya, bukan hanya order, tetapi pabrik tersebut telah menjadi bagian penting perusahaan Mei.

Dalam kisah ini juga terselip kisah-kisah cinta antara Tansen dengan Mei. Seseorang yang sebelumnya hanya kenal melalui ruang maya.

Sisi menarik tak hanya dikisahkan dalam �Madre�, tetapi Dee masih punya amunisi lain yang cukup ampuh membawa pembacanya pada semesta imajinasi. Ia juga berkisah tentang emosi seorang ibu ketika mengandung anaknya. Betapa mereka hanya dipisahkan kulit selapis saja. Dee meramu bahasa cukup lembut di sini, seakan ia seorang yang tengah menunggu anaknya lahir. Barangkali memang ia tulis dalam keadaan hamil, mengingat di bagian akhir tulisannya ada keterangan �untuk sahabat yang kukandung, Atisha�. Dee memberi judul kisah ini �Rimba Amniotik�

�Have Your Ever� adalah kisah yang sangat sulit saya cerna. Entah apa yang ingin disampaikan oleh Dee dalam cerita ini. Ketidakmengertian jelas bukan salah dia, tapi saya sendiri yang memang jongkok soal pengetahuan bahasa Inggris. Di dalamnya memang bertebaran dialog-dialog berbahasa Inggris.

�Semangkok Acar untuk Cinta dan Tuhan� berisi tentang kebencian Dee tentang pertanyaan, Apa itu tuhan? Apa itu cinta? Jawaban itu ia ilustrasikan dengan menguliti bawang hingga tak ada yang bisa dikuliti. Mata mengurai air mata karena kupasan bawang tersebut. Dan Dee sampai pada kesimpulan, Tuhan dan Cinta bukan penjelasan dan tujuan, tetapi perjalanan dan pengalaman.

�Guruji� berkisah tentang seorang perempuan yang mencintai lelaki pengikut yoga hingga lupa kepadanya. Dia merasa kehilangan belahan hatinya. Dee meramu emosi yang begitu pahit dalam adegan ini. Bagaimana si perempuan berusaha mengikuti pelatihan yoga hanya untuk bertemu si lelaki yang kini telah berjuluk Guruji.

�Menunggu Layang-layang� berisi kisah tentang pergulatan cinta seorang lelaki yang tidak sadar bahwa kehidupannya sangat mekanis. Dia tak pernah jatuh cinta, tetapi terus disuguhi cerita-cerita percintaan temannya yang mudah gonta-ganti pacar. Keduanya diombangambingkan oleh persepsi masing-masing dan pada akhirnya memiliki kesimpulan yang sama: si lelaki kesepian dan menunggu, sementara si perempuan kesepian dan mencari. Mereka kemudian dipersatukan oleh rasa yang sama, cinta.

madura, 25 maret 2012