Tampilkan postingan dengan label belajar menulis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label belajar menulis. Tampilkan semua postingan

Kamis, 14 Februari 2013


Dalam keadaan pikiran buntu, biasanya saya habiskan waktu dengan mengotak-atik berkas-berkas di komputer. Kebiasaan itu kadang mendatangkan suasana baru. Beberapa dokumen lama, setelah saya baca, kadang malah menghadirkan ide segar dalam kepala untuk menjadi bahan tulisan. Terlebih lagi, membacanya membuat saya kerap termotivasi untuk menulis lebih lanjut.

Beberapa hari lalu, saya kembali melakukan aktivitas tersebut. Saya membuka-buka file dengan harapan mendapat ide menarik setelah sekian jam kepala kosong. Namun, hingga lama di depan komputer, saya tidak menemukan satu ide pun. Yang saya temukan malah bukan ide menulis, melainkan keinginan untuk memiliki sepeda onthel.

Keinginan itu bermula dari sebuah ebook yang dikeluarkan oleh situs www.sepedaku.com, sebuah situs yang membahas tentang banyak hal berkaitan dengan sepeda. Saya mencoba melihat-lihat dan sesekali membacanya.

Ebook tersebut berjudul �Indonesia dari Atas Sepeda. Cantik sekaligus menyedihkan�. Saya tidak membacanya secara keseluruhan, hanya sekilas dan lebih banyak melihat gambar-gambarnya. Namun, dari gambar tersebut saya sudah bisa menangkap bahwa tulisan tersebut adalah sebuah laporan perjalanan sekawanan pecinta sepeda onthel di sejumlah tempat di Sumatera. Laporan itu sebelumnya pernah dimuat di situs www.sepedaku.com.

Dari sekian foto yang saya lihat, tampak para penyepeda itu berusaha merekam kondisi di sana, baik keindahan maupun kerusakannya. Ada pemandangan eksotis dengan danau kebiruan berlatar pegunungan. Ada gambar sekolah berdinding kayu yang hampir roboh, anak-anak yang riang bersekolah, orang-orang desa yang miskin, dst. Semua komposisi hidup kaum pinggiran itu mereka rekam dalam sebuah gambar, lalu dikisahkan dalam bentuk tulisan.

Memandang foto-foto yang ada dalam ebook tersebut membangkitkan gairah saya tentang pengembaraan. Tiba-tiba saya ingin punya sepeda dan berkeliling Madura. Keinginan itu saya tulis dalam sebuah status facebook. Banyak yang menyukai, barangkali mendukung saya untuk merealisasikan keinginan itu.

Saya sudah lama memimpikan bisa keliling Madura. Dulu, saya tidak sempat berpikir tentang sepeda onthel. Pokoknya, pikir saya waktu itu, saya harus banyak tahu tentang keadaan Madura. Meski tercatat sebagai orang Madura, saya tidak memiliki banyak pengetahuan tentang pulau ini, terutama yang berkaitan dengan tempat-tempat bersejarah.

Ada dua faktor yang menyebabkan saya terjerembab ke dalam situsi tersebut. Pertama, saya adalah santri yang tentu saja dibatasi ruang geraknya. Pembatasan itu membuat gerak langkah saya hanya terfokus di lingkungan pesantren. Saya terhalang aturan.

Kedua, bila sedang liburan, teman-teman yang bisa saya ajak jalan-jalan jauh rumahnya. Anehnya, di rumah sendiri saya tidak punya banyak teman akrab. Walaupun ada, mereka tidak ada yang suka jalan-jalan, apalagi dengan tujuan untuk mengunjungi tempat-tempat terpencil. Jika untuk sebuah rekreasi ke tempat-tempat wisata, pastilah mereka akan tertarik.

Terlebih lagi, liburan pesantren kadang hanya beberapa hari, hanya cukup untuk melepas kangen bersama keponakan-keponakan kecil. Praktis, waktu tersebut lebih banyak saya gunakan untuk berdiam di rumah ketimbang blusukan ke mana-mana.

Saya paling tidak suka jalan-jalan sendirian karena tidak ada teman yang bisa diajak bicara. Apalagi itu untuk perjalanan yang panjang dan melelahkan. Sebab, kalau ada apa-apa di jalan, saya akan sulit meminta pertolongan orang lain. Kalau ada teman, kami bisa saling membantu bila di antara kami ada masalah.

Dua alasan di atas saya kira sudah cukup untuk melihat saya sebagai orang yang tidak punya wawasan tentang lingkungannya sendiri. Namun, alasan lain yang cukup penting adalah saya pemalas! Nah, inilah sifat yang kerap membuyarkan banyak keinginan saya. Malas untuk berusaha mewujudkan keinginan demi keinginan berkunjung ke berbagai tempat di Madura.
*****
Bersepeda keliling Madura setidaknya memuat dua keinginan besar saya, yaitu menulis dan memotret. Dua kegiatan ini terus saya pupuk agar menjadi semacam hobi. Saya ingin menulis menjadi keseharian saya, sebagaimana adik saya memelihara pohon sawi dan kacang panjang. Jika ia menyiramnya tiap pagi, maka pada saat yang sama saya menyiram kata-kata ke dalam kertas.

Saya tertarik untuk membuat tulisan seperti yang ada di dalam ebook tersebut. Menulis dan memotret tempat-tempat terpencil memang sungguh menggairahkan. Saya bisa mengunggahnya di blog dan mengabarkannya kepada teman-teman melalui situs jejaring sosial. Indah nian sepertinya.

Untuk sampai pada keinginan itu, saya harus mempersiapkan banyak hal. Satu hal, sampai saat ini saya belum punya sepeda onthel. Otomatis saya harus mencari cara agar bisa mendapatkannya. Saya belum punya solusi untuk itu, selain menyisihkan uang sedikit demi sedikit. Bagaimanapun, bagi saya yang jarang punya uang, harga sepeda onthel sekelas Polygon cukup mahal. Memang, secara harga, banyak yang berada di bawahnya, namun kualitasnya tentu lebih rendah.

Saya juga perlu memiliki sebuah kamera. Untuk tahap awal, kamera tidaklah butuh yang mahal. Kamera sekelas Lumix saya kira sudah cukup. Lumix bila dibanding dengan kamera-kamera sekelasnya bisa dibilang menang karena memiliki kualitas yang lebih bagus serta viturnya yang lumayan lengkap. Hasilnya, jika tahu mengoperasikan, lebih baik ketimbang kamera-kamera lainnya.

Sekarang saya sedang berpikir keras untuk mendapatkan dua benda tersebut. Dari mana kira-kira saya bisa mendapatkannya? Jelas saya tidak bisa merealisasikan keinginan tersebut saat ini, mengingat saya belum punya penghasilan. Saya masih banyak bergantung kepada orangtua. Untuk membeli sepeda, saya tidak mungkin meminta kepada mereka.

Keinginan saya memiliki sepeda makin menggebu ketika salah seorang kiyai saya mengajak teman-teman beliau di jejaring sosial untuk ikut bersepeda sejauh 60 KM. Saya ingin ikut, namun jarak sejauh itu belum berani saya tempuh karena tidak berpengalaman. Terlebih lagi, saya belum punya sepeda sendiri, sehingga harus mencari pinjaman.

Dengan bersepeda saya mendapatkan tiga hal yang sangat penting, kesehatan, menulis, dan memotret. Siapa yang mau?

sumber foto: http://harisastra.blogspot.com

Rabu, 07 November 2012


Bagaimana cara menulis setiap hari?

Mudah. Bahkan sangat mudah. Itu jawaban simpel dan menyederhanakan masalah. Padahal tidak selamanya demikian.

Dalam hal konsistensi, saya bertepuk tangan untuk prestasi K. Dardiri Zubairi, sekretaris PCNU Sumenep dan pengasuh Pondok Pesantren Nasy�atul Muta�allimin (Nasa), Gapura, Sumenep. Dengan kesibukan yang bejibun, beliau masih sempat untuk menulis dan mempublikasikannya di blog.

Kepada keponakannya pernah saya tanyakan bagaimana kegiatan sehari-hari K. Dardiri. Ia bilang bahwa beliau memang sangat sibuk. Selain harus mengurus NU, beliau juga disibukkan oleh kegiatan pendidikan di pondok yang diasuhnya. Praktis tak banyak waktu luang yang beliau punya.

Kegiatan menulis beliau selipkan dalam kepadatan aktivitasnya sehari-hari. Menurut keponakannya, beliau biasa nulis saat ada waktu lowong meski sebentar, semisal saat siswa mengerjakan tugas di dalam kelas. Pada waktu-waktu demikianlah beliau gunakan untuk mendedahkan buah pikirannya ke dalam tulisan.

Kepada orang-orang seperti inilah saya patut menaruh iri. Saya harus bandingkan dengan kehidupan saya yang lebih banyak menganggur. Saya yang biasa menganggur 24 jam bisa saja tidak menghasilkan satu tulisan pun dalam satu hari.

Tentu saja saya tidak menyalahkan waktu. Saya dan K. Dardiri memiliki waktu yang sama, 24 jam dalam sehari semalam. Yang berbeda adalah porsi waktu yang kami gunakan untuk masing-masing kegiatan. Bila K. Dardiri lebih banyak menggunakan waktunya untuk belajar, maka saya sebaliknya, menggunakannya untuk main-main.

Nyaris tidak ada orang yang ingin dirinya bodoh. Begitupun saya. Maka, kebiasaan K. Dardiri ini ingin saya adopsi walau selalu gagal karena kemalasan yang terus saya pelihara. Padahal, bila porsi waktu yang kami gunakan sama, tentu hasil tulisan akan lebih banyak milik saya. 24 jam saya menganggur, sementara K. Dardiri masih disibukkan dengan banyak kegiatan di luar dunia tulis menulis. Sudah pasti saya lebih banyak punya waktu luang.

Kesadaran yang berbuah aksi positif tidaklah mudah. Hal pertama yang harus ditaklukkan adalah diri sendiri. K. Dardiri sudah tak ada urusan dengan hal ini. Dalam bahasa yang lain, beliau sudah menemukan passion dalam dunia tulis menulis. Sebagaimana dalam anekdot, kalau tidak menulis akan sakit.

Lain dengan yang masih harus tertatih-tatih dalam tulis-menulis. Mereka harus berperang melawan kemalasan dan kepicikan wawasannya. Selain harus terus menulis, mereka juga perlu banyak membaca untuk melancarkan gagasannya.

Tentang Ide

Memang, luasnya wawasan sangat berpengaruh terhadap kelancaran dalam menulis. Orang yang baru belajar menulis seperti saya tentu tidak bisa dengan mudah menghasilkan tulisan, apalagi dengan tema yang awam saya pahami. Sebelum menulis, saya perlu membaca buku-buku yang banyak bersinggungan dengan materi yang akan saya uraikan.

Barangkali kelancaran menulis K. Dardiri juga dipengaruhi oleh wawasan beliau yang sudah banyak bergelut dengan dunia literasi. Bagaimanapun, perkenalannya dengan dunia tulis-menulis sudah lama. Saat beliau belajar di perguruan tinggi, tulis-menulis bukan lagi kegiatan asing baginya. 

Belajar mengenai giatnya K. Dardiri dalam dunia tulis menulis tentu saja tidak bisa hanya melihat ketika beliau sudah matang seperti sekarang. Saya harus melihat kembali ke masa lalunya, bagaimana beliau melewati hari-hari yang kelak menuntunnya menjadi seorang yang amat produktif. Saya sangat meyakini bahwa pada masa muda beliau tidak mungkin hanya dilewati dengan leyeh-leyeh macam saya sekarang. Pasti ada kerja keras yang beliau lakukan untuk mengejar impiannya menjadi seorang penulis produktif.

madura, 07 november 2012

Kamis, 29 September 2011


Saya tak tahu apa motifnya tiba-tiba saya ingin menulis buku. Keinginan itu cukup mengganggu pikiran saya karena dalam beberapa tahun terakhir saya malah amat sulit menghasilkan sebuah tulisan. Saya tak lagi produktif seperti masa lalu. padahal, jika melihat keadaan, mestinya saya lebih banyak menghasilkan karya.

Keadaan mungkin yang mendorong saya untuk melakukan sesuatu. Akhir-akhir ini saya mulai bertanya kepada diri sendiri, apakah saya tidak mungkin menulis buku? Itu pertanyaan negatif yang coba saya munculkan dalam upaya melawan hal negatif pula dalam diri saya. Hal negatif itu berupa rasa malas yang sangat akut.

Soal buku, saya sungguh berharap bisa menyelesaikannya tidak sampai berlarut-larut. Mungkin memang sulit menerbitkan sebuah buku, tapi itu bukan alasan saya harus berhenti berusaha. Dan, saya kira, menerbitkan sebuah buku bukan hal yang mustahil.

Saya memiliki kepercayaan diri, walau sedikit, setelah berkali-kali menulis notes di situs jejaring sosial facebook. Tanggapan terhadap tulisan saya banyak yang menilai positif. Memang saya tahu itu tidak menjadi jaminan semua orang akan suka terhadap tulisan saya. Dan itu mustahil bagi siapa pun. Tapi, minimal tulisan saya sudah punya pembaca meski tak banyak. Saya membangun kepercayaan diri itu secara perlahan-lahan karena memang diri saya selalu merasa down terhadap tantangan yang datang silih berganti.

Keinginan menulis buku bukan tanpa tantangan. Meski punya pembaca di situs jejaring sosial, tapi model-model tulisan saya secara kemasan masih bisa dibilang bukan selera buku. Saya menginginkan buku saya kelak terbit dalam bentuk kumpulan cerpen. Sementara yang sering saya tulis saat ini hanya kumpulan kisah masa kecil. Itu berdasar fakta-fakta yang coba saya kais dari kenangan masa lalu, tentu dengan sedikit fiksi yang saya coba munculkan untuk menambah kesan dramatis atau untuk menghadirkan sebuah visualisasi yang jernih.

Saya senang menulis tentang masa kecil. Mungkin karena hijrah ke masa itu secara fisik sudah tak bisa, hanya dalam tulisan kita bisa melakukannya. Itu juga salah satu cara mencari tekstase lain dari keruwetan hidup di masa dewasa. Batin bisa berhijrah dan mengandaikan masa lalu itu kembali, walau bagaimana pun itu adalah sebuah mimpi. Masa kecil tetaplah milik masa lalu. Ia akan tetap berdiri di sana, entah dengan rasa senang atau jengkel kepada teman-teman sebaya waktu dulu.

Sampai saat ini, menulis cerita masa lalu masih lebih mudah ketimbang menulis cerpen. Anehnya, dalam beberapa tahun belakangan, saya malah menulis cerpen hanya satu butir. Itu gejala jelek jika terus terulang, mengingat keinginan saya menulis buku begitu kuat. Kalau tidak ada cerpen yang bisa saya hasilkan, lalu dari mana saya bisa membikin sebuah buku? Itu hal konyol yang bisa meruntuhkan obesesi saya tersebut.

Menulis cerita masa lalu memang lebih mudah dari menulis cerpen karena secara teknik ia tidak terikat oleh beragam unsur-unsur yang harus dipenuhi dalam menulis cerpen. Intinya, saya bisa menulis sekehendak saya. Itu persoalan lain dari kemalasan saya menulis cerpen, bahwa saya emoh didikte oleh sebuah konsep. Entah, ini sebenarnya merupakan momok tersendiri yang harus cepat-cepat saya enyahkan. Jika terus-terusan dipelihara, saya tak akan pernah bisa melahirkan sebuah cerpen. Dan itu sebuah bunuh diri yang buruk.

Dalam menulis kisah masa lalu saya bebas melakukan apa saja. Maksud saya, pikiran saya bisa memunculkan banyak tokoh dari siapa saja, teman-teman sebaya, misalnya. Pun saya juga bisa menghidupkan tokoh fiktif di dalamnya. Selain itu, fakta-fakta yang sudah terangkum dalam memori otak saya juga ikut andil melancarkan gagasan-gagasan yang akan saya torehkan. Tentang tempat, misalnya, saya bisa memindahkannya dari ingatan ke dalam tulisan dengan mudah tanpa harus banyak mereka-reka perihal tempat yang ingin saya gambarkan. Di dalam cerpen, saya harus lebih giat menghadirkan setting yang butuh banyak rekaan, tentu itu juga disesuaikan dengan tema yang ingin saya tulis. Mereka-reka sebuah tempat bukan barang mudah karena semua unsur di dalam penggambaran itu harus sesuai. Ini memerlukan sense of art yang tinggi, mengingat pembangunan latar yang harus mempertimbangkan banyak hal, salah satunya kesesuaian dengan karakter tokoh dan konflik. Tentu itu bukan barang yang mudah dilakukan.

Tapi, walau demikian, saya tetap akan berusaha untuk terus menulis cerpen. Saya coba mencari-cari model yang tepat bagaimana saya bisa menghasilkannya. Beberapa metode dari sejumlah pengarang coba saya praktekkan, meski semua masih menghasilkan kemandekan. Beberapa cerpen saya malah hanya menghasilkan sekian paragraf untuk kemudian tak jelas juntrungannya. Saya jadi malas melanjutkan karena itu akan membuat saya harus berpikir dua kali mengingat-ingat alur yang harus saya munculkan.

Saya tetap memburu koran di hari Minggu untuk membaca cerpen-cerpen di dalamnya. Itu saya lakukan, selain tentu saja karena hobi, saya juga ingin memunculkan gairah yang kadang mulai mengendor. Saya yakinkan diri bahwa menulis cerpen tidak akan sesulit yang saya kira. Keyakinan itu kadang memang tersaruk ketika saya tak benar-benar mampu menghasilkan sebuah karya. Tapi, kebangkitan kembali dari rasa terpuruk akan menjadi obor bagaimana saya menghasilkan karya yang lebih baik.

Selain itu, motivasi soal menulis juga saya kais dari komentar kawan-kawan di jejaring sosial. Pujian dan kritik-kritik mereka malah makin membuat saya ingin menjadi penulis. Hal itu merupakan salah satu hiburan bagaimana saya tak henti menulis. Walau kadang karena terlena pujian mereka saya serasa sudah menjadi penulis, padahal belum. Keterlenaan itu harus saya runtuhkan karena ia bisa membunuh eksistensi diri saya. Itu saya rasakan bertahun-tahun lalu ketika seorang guru saya pernah memuji tulisan-tulisan saya. Itu bukan motivasi yang tepat bagi saya pribadi. Saya lebih tertantang untuk menulis yang lebih baik jika bertemu dengan komentar pedas dan betul tahu kesalahan saya.

Di jejaring sosial, komentar bisa dilakukan oleh banyak orang dari berbagai latar belakang. Ini memungkinkan karya kita bisa dilihat dari banyak perspektif. Mereka bisa mengomentarinya dari apa yang paling mereka kuasai dan itu berkaitan dengan tulisan tersebut. Namun, bukan tak mungkin juga ini merupakan dilema, mengingat mereka bukan penulis semua. Tapi, dilema ini bisa ditekan rendah karena saya akan membagi notes-notes hanya kepada mereka yang saya pandang memiliki kemampuan menulis.
Kamis, 21 Juli 2011