Tampilkan postingan dengan label Vaporizer dilarang Pemerintah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Vaporizer dilarang Pemerintah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 28 Mei 2015

Pelarangan Vaporizer

Rokok Elektrik akan segera dilarang oleh Pemerintah Indonesia
Pemerintahan Republik Indonesia di bawah pimpinan presiden Joko Widodo dipastikan sedang menggodok peraturan perundang-undangan yang akan melarang impor rokok elektrik (electronic cigarette / e-cig / yang dikenal dengan sebutan trendy vaporizer), demikian disampaikan pembantu presiden, Menteri Perdagangan saat ini, Rahmad Gobel.

Pihaknya menyatakan sedang mengkaji untuk menerbitkan peraturan dalam rangka menertibkan importasi dan penjualan barang pengubah cairan menjadi uap tersebut dengan bekerjasama bersama Kementerian Kesehatan, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), serta instansi teknis lainnya.

Sumber:
  1. http://finance.detik.com/read/2015/05/16/113456/2916302/4/mendag-gobel-penjualan-rokok-elektrik-dilarang-total
  2. http://www.jpnn.com/read/2015/05/16/304349/Kementerian-Perdagangan-Larang-Penjualan-Rokok-Elektrik
  3. http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2015/05/17/084447726/Menteri.Gobel.Akan.Larang.Penjualan.Rokok.Elektronik

Status Hukum Rokok Elektrik

Status hukum dari rokok elektrik ini memang menjadi kontroversi di berbagai belahan dunia, hal itu disebabkan teknologinya yang cenderung baru, sehingga kemungkinan antara hubungan penggunaan tembakau dengan kebijakan yang terkait efek penggunaan vaporizer terhadap kesehatan masyarakat belum ada kajian ilmiah yang signifikan.

Sebagaimana diketahui pada tahun 2015 ini, sekitar dua pertiga negara-negara maju di dunia telah memiliki regulasi yang mengatur tentang peredaran dan penggunaan e-cigarettes / rokok elektrik ini. Sejumlah regulasi bervariasi, dari yang hanya membatasi hingga melarang total peredarannya. Seperti contoh, Brazil, Singapore, Uruguay, dan China melarang secara total peredaran dan penggunaan umum dari Electronic Cigarette, dan di Amerika sendiri, E-cigarettes didaftarkan sebagai alat media pengobatan dan diawasi penggunaannya hingga penelitian tentang keamanan dan uji klinis telah menghasilkan keputusan bulat (sumber: wikipedia ~ legal status of electronic cigarettes).

Status hukum pelarangan rokok elektrik di negara-negara bagian Amerika Serikat.

Fenomena yang ditimbulkan oleh penggunaan rokok elektrik ini telah memicu kontroversi terkait komunitas kesehatan, pemerintahan, dan publik pada umumnya. Penelitian terbaru dari Norwegian Institute of Public Health (NIPH) menunjukkan bahwa bahaya merokok elektrik sama saja dengan merokok tembakau.

Direktur Jenderal di NIPH, Camilla Stoltenberg singkatnya mengatakan pasokan nikotin jika seseorang merokok elektrik dengan merokok tembakau sama besarnya. Uap dari rokok elektrik mengandung banyak nikotin dan si pengisap atau orang di sekitarnya (perokok pasif) tetap berpotensi menghirup aroma nikotin tersebut. Ini bisa memengaruhi kadar kecanduan mereka terhadap nikotin.

"Sangat penting untuk mencegah rokok elektrik menjadi sebuah tren di kalangan remaja dan anak dewasa muda. Jangan sekali-kali memperkenalkan rokok elektrik sebagai solusi membuat pecandu rokok tembakau berhenti dari kebiasaan merokoknya," ujar Stoltenberg, dilansir dari Science Daily, Senin (20/4).

Sumber: Ini bahaya Rokok Elektronik ~ Republika Online (ROL).

Sementara itu, di Amerika Serikat, penggunaan rokok elektrik telah resmi dilarang di sekolah-sekolah (sumber: http://fox17online.com/2014/05/14/e-cig-users-push-back-schools-ban-vaporizers/). Dan rencana pelarangan secara umum oleh pemerintah ditentang oleh kalangan penggunanya dan didukung oleh salah satu politisi yang menggalang tanda-tangan untuk menolak peraturan baru tersebut. Hingga hari ini, dukungan terhadap aksi itu telah mendapatkan 3.619 tandatangan dari 4.000 yang ditargetkan (baca disini: http://www.randyhilliermpp.com/stop_bill_45_from_banning_vaporizers). Di Los Angeles, draft undang-undang yang melarang penggunaan Vaporizers telah disetujui oleh dewan kota setempat.

Bahkan, Badan Kesehatan Dunia (WHO / World Health Organization) menegaskan bahwa setiap pemerintah di semua negara harus melarang penjualan rokok elektrik. Pasalnya, rokok elektrik sama bahayanya dengan rokok konvensional (baca disini: http://lifestyle.okezone.com/read/2014/08/27/482/1030496/who-larang-penggunaan-rokok-elektrik-di-semua-negara).

Senin, 27 April 2015

Vaporizer Akan Dilarang?

Baru-baru ini saya membaca informasi di media massa bahwa Pemerintah dalam waktu dekat ini akan melarang importasi Rokok Elektrik dari China dan negara-negara produsen lainnya seperti USA dan Eropa, dikarenakan adanya imbauan dari para aktivis kesehatan mengenai dampak yang dapat ditimbulkan dari merebaknya penggunaan rokok elektrik di Indonesia.

Misalnya salah satu yayasan yang bergerak di bidang kesehatan, Yayasan Pemerhati Kesehatan Publik (YPKP) mengimbau kepada pemerintah untuk mengkaji secara mendalam dampak penggunaan rokok elektrik sebelum mengeluarkan regulasi terkait impor barang tersebut. Pengkajian yang mendalam itu harus segera dilakukan bersama dengan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) karena penggunaan rokok elektrik saat ini tengah menjadi tren, terutama di kalangan anak muda.

Kesimpulan penelitian tentang penggunaan rokok elektrik memang harus diambil dari beragam penelitian dan pengkajian. Dia menegaskan, hingga kini pemerintah belum mengambil keputusan meski sudah banyak pertimbangan mengenai regulasi rokok elektrik di Indonesia.

Sementara itu, pihak perwakilan dari pemerintah mengatakan bahwa mereka masih harus melakukan penelitian mendalam sebelum menerbitkan aturan mengenai rokok elektrik tersebut. Namun, Pemerintah mengapresiasi permintaan publik agar diterbitkan regulasi yang jelas tentang penggunaan rokok elektrik ini, khususnya di Indonesia.

Dikatakan pula, beberapa penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa rokok elektronik tidak sepenuhnya aman bagi kesehatan. Terutama rokok elektrik (istilah trend di kalangan penggunanya, Vaporizer) yang mengandung nikotin. Yang namanya Nikotin dalam produk itu tetap saja dapat menimbulkan efek kecanduan, adrenalin meningkat, dan denyut nadi meningkat, mengapa? Karena itu nikotin bro.

Peraturan Pemerintah Inggris Terhadap Vaporizer

Profesor Gerry Stimson mengatakan, di Inggris, peraturan tentang rokok elektrik (Vaporizer) baru akan diterbitkan pada bulan Mei 2016. Dalam peraturan itu beberapa hal yang akan diatur adalah terkait kemasan, standar keamanan produk, pembatasan iklan, pengaturan soal bahan-bahan yang digunakan dalam cairan, serta batas maksimal kandungan nikotin di cairan tersebut. Meski demikian, dia mengakui bahwa faktanya di Inggris menunjukkan penggunaan rokok elektrik terbukti mampu menurunkan angka perokok tembakau.

"Rokok elektrik menjadi alternatif untuk mengurangi konsumsi rokok konvensional yang mampu mengurangi hingga 20 persen angka perokok tembakau di Inggris. Angka itu lebih besar dibandingkan alternatif rokok lain seperti permen karet bernikotin, therapy anti rokok, dan lain-lain." katanya menegaskan.

Dia menyarankan agar pemerintah mengkaji secara keseluruhan untuk menerbitkan regulasi yang tepat, setidak-tidaknya mempertimbangkan efek buruk terhadap kesehatan dan efek positifnya mengurangi konsumsi rokok tembakau yang sudah terbukti merugikan bagi kesehatan masyarakat (tanpa mempertimbangkan penerimaan cukai yang besar dari konsumsi rokok di Indonesia setiap tahunnya). Pemerintah sebaiknya mengatur prosedur standar tentang produksi dan konsumsi rokok elektrik ketimbang melakukan pelarangan, karena pelarangan hanya akan memancing terjadinya penyelundupan produk-produk ilegal yang tetap membanjiri pasar dan digunakan oleh banyak orang tanpa ada sanksi yang jelas.