Tampilkan postingan dengan label Switch. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Switch. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 05 Maret 2016

Pilih Bridging atau Switching Master/Slave Port?

Pertanyaan ini mungkin muncul ketika kita ingin membuat beberapa interface pada mikrotik untuk menjadi satu segment. Ada beberapa pilihan cara yang bisa kita gunakan, diantaranya yaitu bisa menggunakan teknik Bridging atau menggunakan Switching memanfaatkan mode Master port dan Slave Port. Keduanya memberikan hasil yang seakan sama, namun sebenarnya ada perbedaan nya.

Switching Master/Slave Port

 

Konfigurasi Switching Master/Slave Port menggunakan chip khusus switching yang tertanam pada RouterBoard, sehingga tidak membebani CPU. Mikrotik tidak akan mendapatkan beban terlalu besar dari switching pada CPU nya walaupun traffik yang lewat sangat tinggi. Ilustrasinya seperti pada gambar di atas. Dari gambar ilustrasi di atas dapat dilihat bahwa eth2 bertindak sebagai Master Port dan eth3-5 sebagai Slave Port yang menggunakan switching chip.

Kemampuan Port Switching ini berbeda-beda untuk tiap switching chip yang tertanam pada RouterBoard. 

Bridging Port

 

Dengan melakukan bridging, kita bisa menggabungkan beberapa interface yang berbeda menjadi satu segmant misalnya interface ethernet dengan wireless, dimana hal tersebut tidak bisa dilakukan dengan metode Switcing Master/Slave port. Selain itu dengan bridging kita bisa menerapkan firewall filter rule, dimana pada switching tidak bisa dilakukan, kecuali pada Mikrotik Cloud Router Switch (CRS).



Dengan menggunakan bridge kita dapat menanggulangi network loop dengan mudah, yakni menggunakan protocol STP (Spanning Tree Protocol) dan RSTP (Rapid Spanning Tree Protocol).

Jadi pada intinya kedua metode tersebut sama saja, hanya bedanya pada kecepatan vs fitur. Kalau spesifikasi mikrotik anda sudah tinggi, dan traffic gak terlalu besar, bisa pakai bridge saja. Tapi jika sebaliknya mendingan pakai switching.

Rabu, 17 Februari 2016

Cloud Router Switch (CRS) adalah perangkat Smart Switch Series berperforma tinggi besutan Mikrotik yang memiliki banyak port ethernet (hingga 24 port). Perangkat CRS ini merupakan Multilayer Switch, yaitu selain bekerja pada layer 2, juga bisa bekerja di layer 3 switch dan uniknya OS yang digunakan juga RouterOS sehingga semua fitur pada RouterOS juga bisa diterapkan di perangkat ini. 

Contoh Mikrotik Cloud Router Switch (CRS)


Fitur Utama Cloud Router Switch

1. Forwarding
Port pada CRS dapat dikonfigurasi untuk switching maupun routing yang mendukung Full non-blocking wirespeed switching. Semua forwaerding database mendukung IVL dan SVL. Port based MAC learning limit yang dapat dikonfigurasi maksimal 1024 MAC per port. Selain itu, CRS juga mendukung frame dengan ukuran jumbo (CRS1xx: 4064 Bytes; CRS2xx: 9204 Bytes).

2. Mirroring
CRS mendukung bermacam tipe port mirroring, seperti : Port Based Mirroring, VLAN Based Mirroring, dan MAC Bassed Mirroring. Selain itu CRS juga memiliki 2 independent mirroring analyzer port.

3. Virtual LAN (VLAN)
Mikrotik CRS kompetibel dengan strandar IEEE802.1Q dan IEEE802.1ad VLAN. CRS mampu membuat active VLAN hingga 4000 VLAN. Mendukung Port Based VLAN, Protocol Based VLAN, MAC Based VLAN dan VLAN filtering.

4. Port Isolation & Leakage
CRS dapat diaplikasikan untuk mengimplementasikan private VLAN dengan 3 tipe port profile : Promiscuous, Isolated dan Community. Mendukung hingga 28 Comunity Profile.

5. Trunking 
CRS mendukung trunking dengan static link aggregation groups. Dapat membuat hingga 8 port Trunk group dan 8 port per trunk group. Mendukung Hardware automatic failover dan load balancing.

6. Quality of Service (QoS)
Mikrotik CRS juga mendukung manajemen bandwidth dengan penerapan QoS berdasarkan port, MAC, VLAN, Protocol, PCP/DEI, DSCP, ACL.

7. Shaping & Schedulling\
Mendukung 8 queue pada tiap port fisik, Shaping per port, per queue, dan per queue group.

8. Access Control List (ACL)
CRS mendukung Ingress dan Egress ACL table, dan hingga 512 ACL rule. Klasifikasi berdasarkan port, L2, L3, L4 protocol header. ACL actions meliputi filtering, forwarding dan dapat melakukan modifikasi pada protocol header fields.

Model Cloud Router Switch (CRS)

Berikut ini beberapa perbedaan pada model Mikrotik Cloud Router Switch (CRS) : 
Model CPU Wireless SFP+ port Access Control List Jumbo Frame (Bytes)
CRS112-8G-4S 400MHz - - + 9204
CRS210-8G-2S+ 400MHz - + + 9204
CRS212-1G-10S-1S+ 400MHz - + + 9204
CRS226-24G-2S+ 400MHz - + + 9204
CRS125-24G-1S 600MHz - - - 4064
CRS125-24G-1S-2HnD 600MHz + - - 4064
CRS109-8G-1S-2HnD 600MHz + - - 4064



Tagged Untagged
Di CRS, fitur tagged dan untagged bisa dibuat berdasarkan port, protocol ataupun berdasarkan mac address, agar memudahkan dalam melakukan custom di jaringan kita.
Untuk contoh topologi yang akan kita bentuk seperti berikut :
Topologi Contoh

RB450G, di interface ether5 terdapat 2 vlan, yaitu vlan-id=1 dan vlan-id=2
Kabel ethernet dari ether5 450G terhubung ke ether10 switch CRS
PC client yang akan kita masukkan kedalam vlan, terhubung ke ether12 dan ether14 dari CRS

Konfigurasi di sisi RB450G


Disini kita mendifiniskan vlan-id=1 dan vlan-id=2 di interface ether5. Dan tentunya kita juga pasangkan IP di masing-masing interface vlan tersebut.

Konfigurasi di CRS
Agar dapat memfungsikan fitur-fitur switch pada CRS kita, langkah pertama yang harus dilakukan adalah mengeset parameter "master-port" di interface ethernet yang ingin kita aktifkan sebagai switch. Fungsi dari master-port ini sebagai interface penghubung antara ethernet-ethernet yang menggunakan mode switch (SLAVE-PORT) dengan interface ethernet lain yang non switch mode. 


Dari gambar terlihat, ether12 dan ether14 kita atur sebagai slave dengan master-portnya di ether10. Artinya, ether10, ether12 dan ether14 sudah menjadi sebuah switch dan komunikasi antara port tersebut bisa full wire speed tanpa membebani CPU router lagi.
Apabila kita ingin memfungsikan routing, firewall, bandwidth management, qos dan sebagainya, kita cukup memasang rule-rulenya di ether10. Kenapa? karena ether10 berfungsi sebagai master-portnya, otomatis, setiap rule di ether10, akan berlaku di semua slave portnya (ether12 dan ether14)

VLAN berdasarkan Port
Dicontoh ini kita akan memfungsikan switch kita sebagai switch managed l2 berdasarkan PORT INTERFACE.
Karena ether10 terhubung ke interface RB450G yang memiliki vlan-id, berarti kita ingin semua trafik yang keluar dari ether10 harus sudah memiliki vlan-id (tagged / trunk port), begitu juga sebaliknya, karena perangkat yang terhubung di ether12 dan ether14 merupakan perangkat PC biasa, berarti kita harus mengatur semua trafik yang keluar dari kedua port tersebut harus dihilangkan dahulu vlan-idnya (untagged / access port).

Ingress VLAN Translation
Di menu ini, kita bisa memodifikasi frame yang masuk/incomming/ingress dari port switch kita.

Dari gambar terlihat, semua trafik yang berasal dari ether12 dan ether14 diset new-customer-vid sesuai dengan VLAN-ID pada RB450G, artinya frame yang semula memiliki customer-vid=0 (tanpa vlan-id), begitu masuk dari ether12 dan akan ke ethernet manapun akan diset memiliki new-customer-vid=1 (vlan-id=1 / tagged)

Egress VLAN Translation
Di menu ini, kita bisa memodifikasi frame yang akan keluar / outgoing / egress dari port switch kita.

Dari gambar terlihat, semua trafik yang akan keluar dari ether12 dan ether14 diset new-customer-vid menjadi 0 (tanpa vlan-id), sehingga trafik yang keluar dari ether12 dan ether14 bisa diterima PC biasa. Hal ini sama dengan membuat ether12 dan ether14 menjadi access port / untagged.

Hasil Akhir Dengan memfungsikan konfigurasi diatas, PC client yang berada di vlan1 dan vlan2 komunikasinya tidak lagi via layer 2 meskipun berada dalam 1 switch fisik, tetapi harus komunikasi inter-vlan yaitu melalui RB450G. 

Sumber :
http://mikrotik.co.id/artikel_lihat.php?id=73

Selasa, 23 Desember 2014

water level controlWater level control switch berfungsi sebagai sakelar otomatis yang digunakan pada instalasi pengisian tandon air. Komponen ini dilengkapi dua pemberat (sinker) yang akan berada pada posisi menggantung bila tandon air dalam keadaan kosong. Saat air berada pada batas tengah pemberat yang paling bawah, maka pemberat akan menarik switch sehingga pompa air akan aktif dan mulai mengisi air ke dalam tandon. Saat permukaan air berada pada batas tengah pemberat paling atas, pemberat yang di bawah akan mengambang dan switch akan kembali ke posisi awal sehingga kontak akan memutus arus listrik dan mematikan pompa air.


water level control

Instalasi sederhananya adalah sebagai berikut: 
water level control



Pada kondisi standby Sakelar harus dalam keadaan tertutup (close). Dengan demikian jika kedua sinker menggantung, water level control switch akan menutup dan arus mengalir ke pompa dan pompa aktif melakukan pengisian. Sebaliknya jika kedua sinker mengambang (permukaan air mencapai sinker atas) maka water level control switch akan membuka dan memutuskan arus yang mengalir ke pompa, pengisian berhenti.

Selasa, 16 April 2013




Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya pada postingan Solid State Relay (SSR), maka rangkaian berikut ini adalah salah satu bentuk aplikasinya. Solid State Relay Switch, sakelar elektronis yang dapat mengendalikan (ON/OFF) sebuah beban listrik yang berdaya besar (220 VAC) menggunakan drive power yang kecil (5 VDC).



Komponen utama pada rangkaian di atas adalah optocoupler MOC3021 dan Triac BT136. Optocoupler berfungsi sebagai solid state relay yang memberi umpan trigger untuk mengaktifkan triac. Sehingga triac menjadi switch elektronis yang mengalirkan tegangan 230 VAC ke beban.

Ketika pin1 MOC3021 mendapat sinyal high (5VDC) dari rangkaian kontrol, maka led di dalamnya akan memancar sehingga opto diac aktif dan kemudian mengalirkan tegangan trigger pada kaki gate triac. Triac membutuhkan peredam panas (Heatsink) karena MT1 dan MT2 dialiri arus beban yang besar.

Senin, 15 April 2013

Solid State Relay (SSR) adalah saklar elektronik, yang tidak seperti sebuah relay elektromekanis tidak berisi bagian yang bergerak. Jenis SSR adalah foto-coupled SSR, transformer-coupled SSR, dan hibrida SSR Sebuah foto-digabungkan SSR dan dikontrol oleh sinyal tegangan rendah yang terisolasi secara optik dari beban. Sinyal kontrol dalam foto yang biasanya digabungkan dengan SSR energi adalah sebuah LED yang mengaktifkan sebuah foto-dioda sensitif. Dioda berputar pada back-to-back thyristor, silikon penyearah terkendali, atau MOSFET transistor untuk mengaktifkan beban.


SSR Ditetapkan sebagaimana kontrol ON-OFF di mana arus beban dilakukan oleh satu atau lebih semikonduktor. Misalnya, sebuah transistor daya, sebuah SCR, atau TRIAC. SCR dan TRIAC sering disebut �thyristors" sebuah istilah yang diperoleh dengan menggabungkan thyratron dan transistor, karena dipicu thyristor semikonduktor switch�.

Pada relay umumnya, SSR relatif rendah membutuhkan kontrol-sirkuit energi untuk beralih keadaan menjadi keluaran dari OFF ke AKTIF, atau sebaliknya Karena energi kontrol ini sangat jauh lebih rendah daripada daya keluaran yang dikendalikan oleh relay pada beban penuh, "power gain" dalam SSR adalah substansial - sering banyak lebih tinggi daripada di estafet elektromagnetik yang sebanding. Dengan kata lain, sensitivitas dari SSR seringkali jauh lebih tinggi daripada sebuah EMR dari output yang sebanding rating.

Tegangan yang diberikan pada garis kontrol menyebabkan suatu SSR LED bersinar pada foto-dioda sensitif. Hal ini menghasilkan tegangan antara sumber dan gerbang MOSFET, menyebabkan MOSFET dihidupkan. Sebuah SSR didasarkan pada satu MOSFET, atau beberapa MOSFET dalam array paralel bekerja dengan baik untuk beban DC.

Ada dioda substrat yang melekat dalam semua MOSFET yang melakukan dalam arah sebaliknya. Ini berarti bahwa satu MOSFET tidak dapat memblokir arus dalam dua arah. Untuk AC (bi-directional) operasi, dua MOSFET disusun kembali untuk kembali dengan sumber mereka pin diikat bersama-sama. Pin menguras mereka terhubung ke kedua sisi output. Dioda substrat kemudian secara bergantian bias balik dalam rangka untuk memblokir arus ketika relay tidak aktif.Ketika relay aktif, sumber umum selalu naik di tingkat sinyal seketika dan kedua gerbang yang bias positif relatif terhadap sumber oleh foto-dioda.


Hal ini umum untuk menyediakan akses ke sumber yang sama sehingga beberapa MOSFET dapat ditransfer secara paralel jika switching DC beban. Ada juga umumnya beberapa sirkuit untuk melaksanakan gerbang bila LED dimatikan, mempercepat giliran relay-off.

Minggu, 14 April 2013

Relay merupakan sebuah sakelar magnetik yang biasanya menggunakan medan magnet dan sebuah kumparan untuk membuka atau menutup satu atau beberapa kontak sakelar pada saat relay dialiri arus. Pada dasarnya relay terdiri dari sebuah lilitan kawat yang terlilit pada suatu inti dari besi yang berubah menjadi medan magnet yang dapat menarik atau menolak pegas sehingga kontak dapat menutup dan membuka.  

Simbol Relay
Relay DPDT (Double Pole Double Throw) dan relay SPDT (Single Pole Double Throw) adalah dua diantara beberapa jenis kontaktornya. Pole adalah kontak yang bergerak, sedangkan throw adalah kontak diam. NC (Normally Closed) menunjukkan bahwa keadaan kontak tersebut dalam keadaan normalnya tertutup atau terhubung dengan pole. Sedangkan NO (Normally Opened) pada keadaan normalnya tidak terhubung dengan pole.
 
Relay yang baik memiliki resistansi isolasi yang tinggi sehingga tegangan yang tinggi pada peralatan tidak mengganggu kerja dari rangkaian pengendali. Ada dua jenis relay yang bisa didapat, yaitu inputnya bekerja pada arus searah dan yang bekerja pada arus bolak-balik. Pada umumnya relay yang biasa digunakan pada sistem elektronika adalah yang bekerja pada tegangan DC.
Proximity adalah sensor yang mendeteksi keberadaan suatu obyek dalam jarak tertentu tanpa adanya sentuhan fisik. Pada umumnya proximity untuk medeteksi benda-benda logam, tapi ada pula yang bisa mendeteksi benda plastik. Oleh karena itu ada beberapa jenis proximity:

 
Proximity Induktif  (deteksi metal) 
Memakai 2 lempeng dengan 1 bagian lempeng pembuat medan dari sistem induksi. Bila obyek mendekat maka medan akan dipantulkan dan menghasilkan induktansi tertensu sesuai jaraknya Obyek yang dideteksi umumnya dari metal dan repon frekuensi switch umumnya tinggi

 
Proximity Capasitif  (deteksi non metal) 
Memakai sistem 2 lempeng dan dialiri suatu frekuensi. Bila obyek mendekat diantara lempeng tersebut maka akan timbul kapasitansi dengan nilai sesuai jarak obyek. Obyek yang dapat dideteksi bisa dari metal atau nonmetal seperti cairan, tepung dan plastic. Respon frekuensi swtch ini rendah tetapi stabilitas switching tinggi. Ketika akan memasang, faktor lingkungan juga ditentukan. Harga jenis ini lebih mahal dan jarak sensingnya bisa diatur.

 

Salah satu  penggunaan  capacitive proximity sensor adalah mendeteksi  level cairan dalam botol melalui penghalang . Contoh, air mempunyai  dielectric yg lebih tinggi dari pada plastik . Sensor dapat membedakan plastic dan mendeteksi cairan. 

 
Proximity Magnetik
Memakai magnet permanen sebagai pemancar medan magnet. Obyek yang mendekat akan memantulkan medan magnet ke keping berikutnya. Reed Switch yang digunakan dalam silinder pneumatic adalah magnet permanent. Magnet tersebut digunakan untuk pengukuran posisi tetap dalam cylinder. Harganya sangat mahal dan saklarnya dapat digunakan dengan range tegangan yang lebar. Outputnya dibuat dari kontak relay.

Kamis, 11 April 2013

Proyek ini menjelaskan bagaimana cara membuat penyaklaran yang halus pada sebuah rangkaian (soft touch switch). Dengan sistem ini, penyaklaran ON/OFF bisa dilakukan dengan menggunakan satu buah push botton switch. Tekanan pertama untuk mengaktifkan rangkaian dan tekanan ke dua untuk menon-aktifkan.
Toggle ON/OFF Switch

Rangkaian ini dirancang meliputi timer 555 yang dikonfigurasikan sedemikian rupa dalam satu keadaan dan untuk merubah keadaan tersebut dibutuhkan satu tindakan yaitu tekanan pada pushbotton switch. Tegangan kerja yang dibutuhkan sebesar +5 VDC.
Schematic

Tegangan pada pin 6 dan 2 IC NE555 dalam keadaan 1/2 Vcc. Ketika tegangan output high, kapasitor C1 akan terisi muatan dan muatan tersebut akan kosong jika tegangan output IC dalam keadaan rendah.
Ketika pushbotton ditekan, tegangan kapasitor mengalir ke pin 2 dan 6 dan tegangan output (pin3) berubah sebagaimana perubahan pada tegangan kapasitor. Tegangan high pada output mencapai +5 VDC dan jika kemudian kita tekan kembali maka tegangan pada pin 3 akan turun dan tegangan kapasitor C1 menjadi 0 V. Selanjutnya jika ditekan lagi tegangan output akan kembali dalam keadaan high.
Ketika tegangan output high (+5V) transistor 2N3904 mendapatkan umpan picu pada kaki basis sehingga transistor menjadi switch elektronis yang menghantarkan arus dari coil relay ke ground. Sehingga relay aktif dan merubah keadaan NO (Normally Open) menjadi close dan NC (Normally Close) menjadi open. Dioda D1 berfungsi untuk melindungi transistor dari tegangan balik saat relay off.
Rangkaian dalam keadaan awal (OFF State)
Rangkaian dalam keadaan ke dua (ON State)