Tampilkan postingan dengan label Sejarah Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah Indonesia. Tampilkan semua postingan

Senin, 23 Januari 2017

Pertempuran Medan Area diawali pada tanggal 9 Oktober 1945 ketika pasukan Sekutu brigade - 4 dibawah pimpinan Jenderal T.E.D Kelly yang diboncengi NICA dan Divisi India ke - 26 mendarat di Sumatera Utara. Pasukan NICA telah dipersiapkan untuk mengambil alih wilayah Indonesia kembali ke tangan Belanda. Namun, pemerintah Indonesia tidak menyadarinya dan bahkan mempersilahkan Sekutu untuk menempati beberapa hotel di Medan seperti Hotel De Boer, Grand Hotel, dan Hotel Astoria untuk menghormati tugas Sekutu. Selanjutnya, sebagian dari mereka ditempatkan di Binjai dan Tanjung Morawa.

Setelah sehari mendarat di Sumatera, tim RAPWI (Rehabilitation of Allied Prisoners of War and Internees) mendatangi kamp - kamp tawanan yang ada di Pulau Berayan, Sacntis, Rantau Prapat, Pematang Siantar dan Brastagi untuk membebaskan para tawanan perang dan mengirim ke Medan atas persetujuan Gubernur Teuku Muhammad Hassan. Namun, para bekas tawanan perang tersebut bergabung dengan Batalion KNIL Medan. Akibat hal tersebut, para penduduk Medan tersulut emosi dan memancing berbagai insiden.

Pada 10 Oktober 1945 terbentuk TKR Sumatera Timur yang dipimpin oleh Achmad Tahir. Berikutnya, diadakan pemanggilan terhadap bekas Heiho di seluruh Sumatera Timur. Panggilan ini mendapat sambutan positif bahkan dari organisasi kepemudaan lainnya seperti Pemuda Republik Indonesia Sumatera Timur yang berikutnya berubah nama menjadi Pesindo. Insiden pertama terjadi pada tanggal 13 Oktober 1945 di Jalan Bali, Medan. Insiden ini berawal dari ulah seorang Belanda yang merampas serta menginjak - injak lencana Merah Putih milik salah satu pemuda di Medan.

Akibatnya, terjadi penyerangan dan perusakan hotel oleh para pemuda. Pada insiden tersebut, sebanyak 96 orang luka - luka sebagian besar dari pihak NICA, serta korban opsir dan 7 serdadu NICA meninggal. Insiden ini kemudian menjalar ke beberapa tempat seperti Pematang Siantar dan Brastagi. Pada tanggal 16 Oktober 1945, salah satu pemimpin Laskar Rakyat menyerang gudang persenjataan Jepang untuk memperkuat serangan para pemuda. Setelah berhasil merebut gudang senjata kemudian dilanjutkan dengan menyerang markas Belanda di Glugur Hong dan Halvetia. Penyerangan dilakukan pada malam hari dan menewaskan 5 orang tentara KNIL. Seperti yang berlaku pada daerah - daerah lain, pasukan Sekutu memulai aksinya dengan memberi ultimatum agar bangsa Indonesia menyerah dan memberikan senjata hasil rampasan kepada Sekutu. Hal ini dilakukan oleh Brigadir Ted Kelly pada tanggal 18 Oktober 1945.


Ultimatum Pihak Sekutu Kepada Pemuda Medan
Setelah keluar Maklumat Pemerintah menganai parta - partai politik pada bulan November 1945, di Sumatera Timur terbentuk laskar laskar partai. PNI memiliki laskar Nasional Pelopor Indonesia (Napindo), Masyumi memiliki Laskar Ilizbuilah, dan Parkindo memiliki laskar Pemuda Parkindo. Tepat pada tanggal 1 Desember 1945, Sekutu menuliskan Fixed Boundaries Medan Area (batas resmi wilayah Medan) pada papan - papan di pinggiran kota Medan. Sejak saat itu, pasukan Inggris dan NICA melakukan pembersihan terhadap lambang - lambang negara yang ada di Kota Medan. Para pemuda membalas aksi dari Sekutu sehingga menyebabkan keadaan Medan menjadi tidak kondusif. Setiap ada usaha pengusiran dibalas dengan pengepungan dan bahkan terjadi tembak menembak antar keduanya. Pada tanggal 10 Desember 1945, pasukan Sekutu berusaha menghancurkan pasukan TKR di Trepes dengan melakukan serangan besar - besaran. Disisi lain, pertempuran sengit terjadi di beberapa front Gedung Arca dan Gedung Komite Nasional Indonesia 16 Desember 1945 antara TKR dan pasukan Inggris. Keesokan harinya terjadi pengepungan tentara Inggris terhadap TKR di Jalan Serdang. Akibatnya, Masjid Jami' hancur, hal yang sama juga terjadi di Kantor Kerapatan Sungai Percut, asrama TKR.

RRI Sumatera di dinamit hingga hancur, sedangkan Harian Sinar Deli dilarang menerbitkan koran mulai tanggal 18 Desember 1945. Dilain pihak, TKR berhasil melakukan serangan umum pada tanggal 15 Januari 1946. Serangan tersebut dipimpin oleh Achmad Tahir, Letkol Cut Rachman dan Mayor Martinus. Kota Medan diserang dari berbagai penjuru, karena terdesak pemimpin Inggris pun mengajak mengadakan perundingan.

Pada bulan April 1946, pasukan Inggris berhasil mendesak pemerintah RI keluar dari Medan dan kemudian pemerintahan dipindah ke Pamatang Siantar. Pertempuran berlanjut hingga akhir bulan Juli 1946. Pada tanggal 3 November, Inggris mengusulkan untuk mengadakan gencatan senjata dan pada tanggal 15 November, Belanda juga mengusulkan gencatan senjata. Namun, tak butuh waktu lama, Belanda melanggar perjanjian gencatan senjata dan merampas harta - harta milik warga. Hal ini terus terjadi hingga 1 Desember 1946, Belanda terdesak dan mulai mengunakan segala taktik curang untuk melepaskan diri. Melihat hal ini dan untuk mencegah terjadi konflik lebih luas dan lebih banyak korban, Soekarno meminta penggabungan pasukan bersenjata di Medan ke dalam Tentara Nasional pada 3 Mei 1947. Walaupun belum berhasil mengusir sekutu, para pemuda dengan gigih terus berjuang dengan membentuk Laskar Rakyat Medan Area.

Selain perlawanan di Medan, di daerah sekitarnya juga terjadi beberapa perlawanan terhadap Sekutu, Jepang dan Belanda. Di Padang dan Bukittinggi pertempuran berlangsung dari bulan November 1945. Sedangkan di Aceh terjadi pertempuran melawan Jepang. Sekutu memanfaatkan Jepang untuk ikut membela Sekutu dan akhirnya pertempuran pun pecah yang kemudian dikenal dengan Peristiwa Krueng Panjol Bireuen. Dalam pertempuran itu, Jepang bisa diusir dari tanah Aceh.
Pertempuran Ambarawa terjadi pada tanggal 20 November 1945 dan berakhir pada tanggal 15 Desember 1945 antara pasukan TKR dan Pemuda Ambarawa melawan pasukan Inggris. Ambarawa merupakan salah satu kota kolonial dengan letak yang strategis yaitu berada di tengah - tengah pulau Jawa dan berada diantara kota - kota besar seperti Semarang, Salatiga, dan Magelang. Peristiwa pertempuran Ambarawa dilatarbelakangi oleh mendaratnya pasukan Sekutu dari Divisi India ke - 23 di Semarang pada tanggal 20 Oktober 1945. Setelah terjadi peristiwa Perang 5 Hari di Semarang melawan pasukan Jepang, pemerintah Indonesia mempersilahkan pihak Sekutu untuk mengurus tawanan perang yang ada di Ambarawa dan Magelang. Maksud kedatangan Sekutu ke Ambarawa dan Magelang adalah :
  1. Menerima penyerahan kekuasaan dari tangan Jepang
  2. Membebaskan para tawanan perang dan inteniran Sekutu
  3. Melucuti dan mengumpulkan orang Jepang untuk kemudian dipulangkan
  4. Menegakkan dan mempertahankan keadaan damai untuk kemudian diserahkan kepada pemerintah sipil

Kedatangan Sekutu ternyata diboncengi pasukan NICA. Dalam pelaksanaannya Sekutu yang diboncengi NICA menyelewengkan kewenangannya dan mengganggu kedaulatan Negara Republik Indonesia. Setibanya di Magelang mereka mempersenjatai para tawanan perang sehingga terjadi peperangan pada tanggal 26 Oktober 1945 antara TKR melawan Sekutu di Magelang. Pertempuran ini berakhir ketika Ir. Soekarno dan Brigadir Jendral Bethell datang ke Magelang pada tangal 2 November 1945 dan mengadakan perundingan. Dari perundingan ini mendapatkan kesepakatam yang dituangkan dalam 12 pasal yang berisi :
  1. Pihak Sekutu akan tetap menempatkan pasukannya di Magelang untuk melakukan kewajibannya melindungi dan mengurus evakuasi pasukan Sekutu yang ditawan pasukan Jepang (RAPWI / Rehabilitation of Allied Prisioners of War and Interneers) dan Palang Merah (Red Cross) yang menjadi bagian dari pasukan Inggris. Jumlah pasukan Sekutu dibatasi sesuai dengan tugasnya.
  2. Jalan raya Ambarawa dan Magelang terbuka sebagai jalur lalu lintas Indonesia dan Sekutu
  3. Sekutu tidak akan mengakui aktivitas NICA dan badan - badan yang ada di bawahnya.
Terjadinya Peristiwa Palagan Ambarawa
Kesepakatan antara Ir. Soekarno dan Brigadir Jendral Betell diingkari oleh Sekutu. Pertempuran Ambarawa pecah pada tanggal 20 November 1945 antara TKR dibawah pimpinan Mayor Sumarto dan pihak Sekutu. Pada tanggal 21 November, pasukan Sekutu yang berada di Magelang diboyong ke Ambarawa dengan perlindungan pesawat tempur. Pada tanggal 22 November 1945, perang berkobar di kota Ambarawa. Pasukan TKR Ambarawa beserta bantuan TKR Boyolali, Salatiga dan Kartasura bertahan di kuburan Belanda dan membentuk suatu garis pertahanan di sepanjang jalur rel kereta api yang membelah kota Ambarawa.

Di sisi lain dari arah Magelang datang pasukan TKR Divisi V / Purwokerto yang dipimpin Imam Androngi melakukan serangan fajar pada tanggal 21 November 1945. Serangan ini bertujuan agar pasukan Sekutu meninggalkan Desa Pingit yang ditempatinya. Pasukan Divisi V mampu mengusir sekutu dari Desa Pingit dan desa - desa lain yang diduduki Sekutu. Imam Androngi terus mengejar Sekutu dan diperkuat tiga batalion dari Yogyakarta yaitu Batalion 10 dibawah pimpinan Mayor Soeharto, Batalion 8 dibawah pimpinan Mayor Sardjono, dan Batalion Sugeng.

Sekutu terkepung, walaupun demikian Sekutu berusaha menerobos kepungan pasukan TKR. Mereka mengancam akan menggunakan tank - tank dari arah belakang. Untuk menghindari lebih banyak korban, pasukan TKR mundur ke Bedono. Dengan dibantu Reimen II yang dipimpin M. Sarbini, Batalion Polisi Istimewa yang dipimpin oleh Onie Sastroatmojo serta Batalion dari Yogyakarta mengakibatkan Sekutu berhasil di tahan di Desa Jambu. Para komandan kemudian melakukan rapat di Desa Jambu yang dipimpin oleh Kolonel Holland Iskandar.

Rapat ini menghasilkan pembentukan komando yang disebut Markas Pimpinan Pertempuran, yang bertempat di Magelang. Sejak saat itu, kota Ambarawa dibagi menjadi empat sektor yaitu sektor timur, sektor barat, sektor utara dan sektor selatan. Pasukan pertempuran disiagakan secara bergantian. Pada tanggal 26 November 1945, pimpinan pasukan dari Purwokerto, Letkol Isdiman gugur dalam peperangan dan diganti Kolonel Sudirman Panglima Divisi V di Purwokerto. Situasi pertempuran menguntungkan TKR.

Strategi Pertempuran Ambarawa Supit Urang
Musuh yang berada di Banyubiru, terusir pada tanggal 5 Desember 1945. Setelah mempelajari pertempuran Sekutu, Kolonel Soedirman mengkomando untuk mengumpulkan setiap komandan sektor. Dalam koordinasi tersebut dinyatakan bahwa Sekutu dalam kondisi tercepit dan perlu dilakukan serangan terakhir. Susunan rencana tersebut sebagai berikut :
  1. Serangan dilakukan secara serentak dan mendadak di semua lini sektor di Ambarawa
  2. Setiap komandan sektor memimpin pelaksanaan serangan
  3. Pasukan badan perjuangan (laskar) menjadi tenaga cadangan
  4. Hari serangan dilaukan pada tanggal 12 Desember 1945, pukul 04.30
Akhirnya pada waktu yang telah ditentukan, pasukan TKR bergerak menuju sasaran. Serangan dikomando dari para komandan dengan serangan mendadak di semua sektor. Serngan ini dipusatkan dari arah barat selatan dari arah Magelang memaksa Sekutu lari ke timur. Sementara itu di kiri dan kanan pasukan sekutu dikepung seperti supit udang agar Sekutu digiring keluar melewati jalan Ambarawa Semarang. Pasukan TKR mengepung Sekutu dengan maju dari segala penjuru arah, menerkam musuh, menggagahi tank dan ranjau dan menembus hujan peluru Sekutu.

Dalam tempo satu setengah jam, pasukan TKR mampu mengepung Sekutu yang terjebak di dalam kota Ambarawa. Pasukan Sekutu yang terkuat berlindung di benteng Willem (benteng pendem) yang berada di tengah - tengah antara Ambarawa dan Banyubiru.

Pertempuran Ambarawa berlangsung selama empat hari empat malam (12 - 15 Desember 1945) kota Ambarawa dikepung oleh para TKR dan pemuda Ambarawa. Sekutu yang merasa kedudukannya tercepit memilih mudur dan meninggalkan Ambarawa menuju Semarang pada tanggal 15 Desember 1945. Setiap tanggal 15 Desember kemudian diperingati Hri Infanteri. Untuk mengenang peristiwa ini dibuatlah monumen Palagan Ambarawa yang dibangun di tengah Kota Ambarawa.

Minggu, 22 Januari 2017

Pelucutan Senjata oleh para Pemuda dan BKR
Kalahnya Jepang yang ditandai dengan dibomnya Hiroshima dan Nagasaki memaksa Jepang secara resmi menyerah tanpa syarat pada tanggal 15 Agustus 1945 dan disusul proklamasi Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945. Indonesia seharusnya secara sah merdeka dan Jepang tidak memiliki hak atas Indonesia. Mr. Wongsonegoro ditunjuk sebagai penguasa Republik Indonesia di Jawa Tengah dengan pusat pemerintahan di Semarang. Dengan adanya kemerdekaan Indonesia mewajibkan pemerintah Jawa Tengah untuk mengambil alih wilayah Jawa Tengah dari tentara Jepang termasuk dalam bidang pemerintahan, keamanan dan ketertiban. Untuk itu pemerintah Republik Indonesia membentuk Badan keamanan Rakyat (BKR) yang kemudian bertransformasi menjadi Tentara Keamanan Rakyat.

Pada beberapa tempat di Jawa Tengah, pelucutan senjata Jepang berlangsung tanpa kekerasan seperti di Banyumas, namun juga ada yang memerlukan pertumpahan darah seperti yang ada di Semarang. Kidobutai (pusat ketentaraan Jepang di Jatingaleh) nampaknya tidak sepenuhnya setuju dengan pelucutan senjata yang dilakukan para pribumi meskipun Gubernur Wongsinegoro telah menjamin bahwa senjata tersebut bukan untuk melawan Jepang. Permintaan dilakukan berulang kali, namun hasil yang didapatkan tidak seberapa, dan senjata yang diberikan pun merupakan senjata - senjata usang.

BKR dan Pemuda di Semarang curiga kepada Jepang yang akan melakukan perlawanan. Kecurigaan semakin bertambah setelah mendengar kabar pasukan sekutu akan mendarat di Pulau Jawa. Pihak BKR dan Pemuda Semarang khawatir senjata Jepang akan diserahkan ke Sekutu. Mereka berpendapat sebelum sekutu mendarat di pulau Jawa, mereka harus merebut senjata Jepang terlebih dahulu. Mereka sudah menduga bahwa Belanda bersama sekutu akan kembali merebut wilayah Indonesia dan menjajah Indonesia lagi. Pasukan pemuda terdiri dari beberapa kelompok yakni BKR, Polisi Istimewa, AMRI, AMKA (Angkatan Muda Kereta Api) dan organisasi pemuda lainnya.

Markas Jepang di Semarang mendapatkan bantuan dari pasukan Jepang yang dari Irian yang menuju Jakarta sebanyak 675 orang, karena persoalan logistik mereka kemudian singgah di Semarang. Pasukan ini merupakan pasukan khusus perang yang telah terlatih berperang di medan Irian. Keadaan saat itu kontras sekali, para pemuda yang belum memiliki pengalaman berperang dan bahkan ada yang tidak bersenjata harus melawan Jepang yang telah memiliki pegalaman berperang dan memiliki senjata lebih lengkap. Sebagian besar juga belum mendapatkan latihan berperang kecuali pasukan Polisi Istimewa, anggota BKR, dari ex-Peta dan Heiho yang mendapat pendidikan kemiliteran tetapi tanpa pengalaman bertempur.

Pertempuran 5 hari di Semarang diawali dari bentrokan 400 tentara Jepang yang bertugas membangun pabrik senjata di Cepiring, dengan jarak 30 km dari Semarang. Pertempuran ini mengawali berkobarnya perang dari Cepiring hingga Jatingaleh di bagian atas kota. Pasukan Jepang yang kalah memilih mundur ke Jatingaleh dan bergabung dengan pasukan Kidobutai di Jatingaleh.

Peracunan Sumber Air di Candi dan Terbunuhnya Dr. Kariadi
Suasana kota Semarang memanas. Ada kabar burung yang menyebutkan pasukan Kidobutai akan melakukan serangan balasan. Suasana semakin memanas ketika terdengar kabar pasokan cadangan air di Candi (Siranda) telah diracuni oleh tentara Jepang dan pelucutan 8 orang polisi Indonesia yang sedang menghindarkan peracunan air minum itu..

Dr. Kariadi selaku kepala Labratorium Pusat Rumah Sakit Rakyat (Purusara) setelah mendengar kabar tersebut seketika bergegas menuju Candi untuk mengecek kebenarannya. Namun, beliau tidak sampai pada tempatnya dan ditemukan tewas di jalan Pandanaran karena terbunuh oleh tentara Jepang. Namanya kemudian diabadikan menjadi sebuah rumah sakit ternama di Semarang yaitu RS Karyadi. Keesokan harinya pada tanggal 15 Oktober 1945 pukul 03.00, pasukan Kidobutai melancarkan serangan ke tengah kota Semarang.

Markas BKR saat itu berada di komplek bekas sekolah MULO di Mugas. Di sinilah tentara Kidobutai menyerang di pagi buta. Mereka menyerang secara mendadak dengan dua tipe serangan yaitu tembakan tekidanto (pelempar geranat) dan senapan mesin yang gencar. Diperkirakan pada saat itu pasukan Jepang berjumlah 400 orang. Setelah memberikan perlawanan selama setengah jam, pimpinan BKR menyadari bahwa pasukan BKR tidak bisa mempertahankan maskasnya dan memilih mundur meninggalkan markas BKR.

Selanjutnya, pasukan Jepang bergerak membebaskan markas Kempetai yang telah dikepung para pemuda. Setelah mampu mematahkan serangan para pemuda, pasukan Jepang berpindah ke markas Polisi Istiewa di Kalisari dan berhasil menduduki markas tersebut. Disini terjadi pembunuhan yang sangat kejam terhadap anggota polisi yang tidak sempat melarikan diri dari pengepungan.

Di depan markas Kempetai juga terjadi pertempuran sengit antara pasukan Jepang dengan para pemuda di bekas Gedung NIS (Lawang Sewu) serta di Gubernuran (Wisma Perdamaian). Pasukan gabungan yang terdiri dari BKR, Polisi Istimewa dan AMKA melawan secara gigih hingga banyak korban berjatuhan dari kedua belah pihak.

Meskipun pihak Jepang pada pertempuran pertama mampu menduduki beberapa tempat penting, namun mereka tidak bisa bertahan lama karena mereka terus mendapat serangan dari BKR dan pemuda. Mereka terpaksa pergi meninggalkan markas dan begitu terus silih berganti pendudukan di tempat - tempat strategis antara pemuda dan tentara Jepang.

Selain menangkap Wongsonegoro, Jepang juga menangkap kepala Rumah Sakit Purusara yaitu Dr. Sukaryo, Komandan Kompi BKR yang merupakan ex-Sudanco, Mirza Sidharta dan banyak pemimpin lain. Bantuan dari luar kota terus berdatangan untuk bergabung bersama pemuda.

Pasukan BKR dan pemuda dari Pati datang untuk membantu serangan kepada Jepang di tempat - tempat penting di kota Semarang. Taktik gerilya digunakan untuk menghindari perang terbuka dengan tiba - tiba menyerang dan menghilang. Sekalipun belum ada komando penyerangan, namun secara silih berganti para pemuda melancarkan serangan dadakan dan tak terduga sehingga menyulitkan Jepang.

Markas Jepang di Jatingaleh pun tidak luput dari serangan para pemuda. Gerakan Jepang terhambat karena harus melawan para pemuda di depan kantor PLN, bahkan para pemuda sempat memukul mundur pasukan Jepang. Akibat serangan yang membabi buta, petuga PMI tidak bisa bergerak leluasa dan menyebabkan banyak korban pertempuran dalam kondisi sangat menyedihkan. Mereka yang mendapat luka setelah berperang beberapa tidak mendapat perawatan yang semestinya, para korban meninggal di beberapa tempat hingga membusuk karena tidak segera di kubur.

Petugas lain yang memiliki jasa besar dalam perang 5 hari di Semarang adalah dapur umum yang bermarkas di Hotel du Pavillion (Dibya Putri) dimana para pemuda menggantungkan makanan disini setelah selesai berperang walaupun mereka sendiri juga kekurangan makanan.

Pertempuran di Tugu Muda
Diperkirakan sebanyak 2.000 pasukan Jepang ikut terlibat dalam perang ini. Senjata lengkap pasukan Jepang melawan semangat juang pemuda Semarang yang tak kenal lelah dan silih berganti melakukan serangan ke pihak Jepang. Pertempuran paling sengit terjadi di Tugu Muda. Puluhan pemuda terkepung disana dan dibantai oleh Kidobutai. Para pemuda yang berasal dari daerah sekitar menunjukkan kesetia - kawanan mereka. Silih berganti para pemuda melakukan serangan balasan. Mereka yang baru datang dari luar seketika langsung turun ke medan pertempuran.

Setelah BKR berhasil melakukan konsolidasi dan mendapat bantuan dari wilayah lain, kondisi berbalik. Jepang terkepung dan dalam keadaan kritis. Serangan pemuda makin gencar dan diperhebat. Banyaknya korban dari para pemuda menyulut amarah mereka untuk menuntut balas atas kematian teman seperjuangan mereka. Diperkirakan sebanyak 2000 orang dari para pemuda gugur dan 500 orang dari Jepang tewas dalam pertempuran ini. Pahlawan - pahlwan ini kemudian dikebumikan di Makam Pahlawan, Semarang.
Makam Pahlawan Semarang

Berikutnya diadakan perundingan antara pihak Jepang dan pemuda. Jepang menghendaki agar senjata - senjata yang telah dirampas dikembalikan lagi ke pihak Jepang. Wongsonegoro menolak dengan alasan tidak ada jaminan atas penyerahan senjata serta tidak diketahui siapa - siapa yang memegang senjata tersebut. Akhirnya Jepang menerima pernyataan Wongsonegoro dan pihak Jepang menyerah serta melakukan gencatan senjata.

Sebenarnya para pemuda tidak setuju dan kecewa dengan gencatan tersebut, mereka kecewa atas banyaknya kawan - kawan seperjuangan yang telah gugur dan hendak menuntut balas atas kematiannya. Setibanya sekutu di Semarang, maka berakhirlah pertempuran dengan Jepang selama lima hari tepat pada tanggal 19 Oktober 1945.

Sabtu, 21 Januari 2017

Latar Belakang Adanya Romusha
Romusha merupakan panggilan bagi orang - orang yang dipekerjakan secara paksa pada masa penjajahan Jepang di Indonesia pada tahun 1942 hingga tahun 1945. Kata romusha berasal dari bahasa Jepang yang berarti serdadu kerja. Secara harfiah romusha dapat diartikan sebagai orang - orang yang bekerja pada pekerjaan kasar (buruh). Romusha hampir sama dengan sistem kerja paksa atau tanam paksa pada masa penjajahan Belanda. Para romusha dipekerjakan sebagai petani, penambang, tenaga pembangunan dan pekerjaan pekerjaan kasar lain.

Jepang memberlakukan sistem romusha dengan tujuan sebagai persiapan perang dengan segala kebutuhan perang Jepang dalam upaya memenangkan Perang Pasifik atau perang Asia Timur Raya. Pada awalnya, penduduk pribumi bekerja secara sukarela kepada Jepang, para romusha terpengaruh propaganda "untuk kemakmuran bersama Asia Timur Raya".

Luasnya jajahan Jepang di Indonesia, membuat Jepang membutuhkan banyak tenaga untuk secepatnya membangun sarana pertahanan seperti kubu - kubu pertahanan, lapangan udara darurat, gedung bawah tanah, jalan raya dan jembatan. Sebagian besar romusha adalah para petani. Sistem romusha diberlakukan pertama kali sejak bulan Oktober 1943. Para romusha dipekerjakan bukan hanya di Indonesia saja, tetapi juga di Birma, Muangthai, Vietnam, Malaysia serta Serawak.

Ketenaga Kerjaan Romusha
Dalam sidang pertama Chuo Sangi in membahas mengenai pembentukan badan - badan yang bertujuan untuk memotivasi rakyat menjadi tenaga sukarela melalui kerja sama bupati, wedana, camat dan kepala desa untuk pengerahan tenaga kerja (buruh / romusha) secara sukarela di pemerintahan Jepang. Dalam pelaksanaannya, syarat - syarat sukarela tersebut diabaikan. Banyak diantara keluarga yang secara terang - terangan menolak untuk masuk dalam pekerja paksa romusha. Mereka yang menolak akan dipaksa, ditakut - takuti dan dikucilkan. Jika anak yang mereka minta melarikan diri dan bersembunyi ke sawah maupun hutan, pihak Jepang akan dicari dan apabila ketemu akan dipaksa untuk masuk sebagai romusha.

Selama dipekerjakan sebagai romusha hingga selesai, ternyata mereka hanya mendapat fasilitas sangat minim dan tidak diberi upah. Mereka tidak dapat menuntut karena tidak adanya perjanjian kerja tertulis. Para romusha dipekerjakan sebagai tenaga kerja paksa dan buruh yang dibayar upah selayaknya.

Sebelum mendapatkan wilayah jajahan Indonesia dari tangan Belanda, Jepang telah memperhitungkan tanah Jawa akan bisa memberikan tenaga kerja yang memadai untuk memenangkan Perang Pasifik. Perhitungan ini didasarkan para jumlah penduduk Jawa dan tingkat pertumbuhan penduduk yang tergolong pesat. Hal ini sangat menguntungkan Jepang apalagi tenaga yang diambil dari Jawa didapatkan tanpa upah dan tanpa pengeluaran biaya untuk makan maupun pengobatan. Pola pikir inilah yang kemudian membuat para romusha banyak yang mati kelaparan maupun terserang wabah penyakit.

Jumlah romusha yang dipekerjakan Jepang diperkirakan mencapai 4 hingga 10 juta orang. Tenaga romusha yang didapatkan dari orang - orang Jawa melalui program Kinrohosi (kerja bakti). Pada awalnya para romusha secara sukarela memabntu pemerintah Jepang, namun akibat desakan Perang Pasifik, pemerintah Jepang memaksa melakukan pengerahan tenaga yang diserahkan kepada panitia pengerahan (Romukyokai) yang ada di setiap desa. Peraturan yang diberikan Jepang yaitu setiap keluarga petani diwajibkan menyerahkan satu orang laki - laki untuk berangkat menjadi romusha. Sedangkan untuk golongan masyarakat seperti pedagang, pejabat, dan orang - orang Cina dapat menyogok para pejabat pelaksana pengerahan tenaga atau membayar teman sekampung yang miskin agar menggantikannya sehingga terhidar dari kerja wajib romusha.

Pemerintah Jepang mempropagandakan "prajurit ekonomi" atau "pahlawan kerja" bagi para romusha. Mereka menggambarkan para romusha merupakan orang - orang yang sedang menjalani tugas suci guna memenangkan perang Asia Timur Raya. Pada waktu itu, sebanyak 300.000 orang Jawa dapat dijadikan sebagai romusha dan 70.000 orang berada dalam keadaan yang menyedihkan.

Kekejaman Romusha
Pada pertengahan tahun 1943, para romusha semakin tereksploitasi oleh pemerintah Jepang. Akibat kekalahan Jepang di Perang Pasifik membuat Jepang terpaksa mengearahkan para romusha untuk dipergunakan sebegai tenaga swasembada pendukung perang secara langsung. Para romusha dialih fungsikan menjadi pasukan - pasukan Jepang. Pada saat itu permintaan akan romusha semakin tak terkendali. Barulah pada tahun 1945, ketika Hindia Belanda memerdekakan diri dan berubah nama menjadi Indonesia menandakan berakhirnya proyek dan impian kolonisasi Jepang begitu juga dengan sistem kerja romusha.

Hanya pada awal pendudukan Jepang berlaku baik, setelahnya mereka sangat kejam dengan meghilangkan makanan, pakaian, barang dan obat - obatan di pasaran. Sulitnya mendapatkan pakaian pada masa tersebut membuat para pribumi menggunakan karung goni sebagai celana bagi para pria. Sedangkan para wanita menggunakan kain dari karet yang panas apabila menempel di tubuh. Obat - obatan juga sangat langka di pasaran. Banyak diantara para pribumi terkena penyakit koreng dalam jumlah yang banyak sekali. Mereka sangat kesulitan mendapatkan salep. Mereka terpaksa membuat obat - obatan sendiri untuk mengobati koreng tersebut.

Sepeda kala itu menggunakan ban karet mati atau ban mati. Buku - buku di sekolah - sekolah terbuat dari kertas merang. Pencil atau potlot dari arang hingga menyulitkan untuk menulis. Pada masa itu, banyak dari para pribumi memungut makanan di bak - bak sampah. Bila menemukan mayat di jalan mereka tidak terlalu kaget. Jepang bahkan mengajari para pribumi untuk makan bekicot yang pada masyarakat Betawi disebut keong racun. Akses radio dipersulit dan radio beberapa orang disegel. Mereka hanya boleh mendengarkan berita dari Dai Nippon. Apabila ketahuan mendengarkan saluran dari luar negeri maka akan dihukum berat. Orang - orang sangat takut dengan para polisi militer Jepang yang memiliki julkan Kempetai.

Pada malam hari seringkali terdengar sirine Kuso Keho yang merupakan penanda adanya serangan udara dari sekutu. Para orang - orang pribumi bergegas memadamkan api penerangan dan kemudian berlari ke tempat perlindungan. Pada halaman - halaman rumah seringkali terdapat galian lubang dengan kapasitas empat hingga lima orang untuk berlindung ketika sirine bahaya berbunyi.

Kekejaman Jepang pernah difilmkan dalam sebuah film berjudul Romusha. Film ini diproduksi pada tahun 1972 dan telah lulus sensor namun ditahan oleh Deppen. Alasannya yaitu mengganggu hubungan Indonesia dan Jepang. Pada masa Orde Baru, kebijakan pemerintah sangat sulit di lawan. Meskipun ada sedikit protes dari pihak dunia perfilman, namun pihak Deppen diperintahkan "atasan" untuk tidak meladeninya. Menurut produser Julies Rofi'ie, ia mendapat tekanan dari pemerintah Jepang untuk tidak menyiarkan film Romusha.

Perdana Menteri Jepang, Junichiro Koizami meminta maaf atas kekejaman bala tentaranya ketika Perang Dunia II yang menyebabkan berbagai penderitaan di kawasan Asia. Permintaan ini disampaikan pada pertemuan Presiden RRC Hu Jintau di sela - sela KTT Asean pada tahun 2005 di Jakarta. Permintaan ini ternyata tidak hanya ditujukan kepada Cina dan Korea saja, melainkan negara - negara di Asia Tenggara tak terkecuali Indonesia. Sampai saat ini korban eks romusha pada PD II mengajukan klaim kepada Jepang atas kompensasi gaji mereka yang tidak dibayar selama menjadi romusha.

Dampak Romusha
A. Bidang Ekonomi
Keadaan Indonesia mengalami kemerosotan akibat adanya romusha. Berikut ini adalah penyebabnya :
  • Penyuluh pertanian bukan dari tenaga ahli pertanian
  • Banyak hewan - hewan yang sangat berguna dalam proses pertanian direbut pihak Jepang
  • Kurangnya tenaga kerja petani karena sebagian besar petani dilarikan menjadi tenaga kerja romusha
  • Banyaknya penebangan hutan liar
  • Kewajiban menyerahkan hasil bumi
B. Bidang Sosial Budaya
Kepala desa dan camat menjadi orang yang bertanggung jawab atas pemilihan romusha pada masyarakat mereka. Para romusha dipilih dari orang - orang yang mereka tidak sukai. Berjuta - juta rakyat mengalami kelaparan dan dalam kondisi serba kekurangan. Program romusha seakan menambah hancur ketentraman masyarakat Jawa.

Jumat, 20 Januari 2017

Peristiwa pengeboman Hiroshima dan Nagasaki merupakan peristiwa kelam bagi sejarah Jepang. Serangan ini menyebabkan kota Hiroshima dan Nagasaki hancur serta merenggut banyak korban jiwa. Efek yang ditimbulkan bukan hanya kematian tetapi juga cacat seumur hidup yang disebabkan radiasi kimia dari bom atom. Bom atom yang dijatuhkan Amerika Serikat ke Jepang merupakan balasan dari penyerangan Pearl Harbour yang terjadi pada tanggal 7 Desember 1941. Amerika membungkam angkatan perang Jepang yang dianggap heroik, pantang menyerah dan loyal kepada kaisar Jepang. Sebanyak 140.000 orang meninggal di Hiroshima pada tanggal 6 Agustus 1945 dan 80.000 di Nagasaki pada tanggal 9 Agustus 1945.  Pengeboman dua kota ini dilaksanakan atas perintah presiden AS bernama Harry S. Truman.

Enam hari setelah bom Nagasaki, Jepang mengumumkan menyerah kepada sekutu tanpa syarat dan menandatangani instrumen menyerah pada tanggal 2 September 1945. Hal ini menandakan bahwa Jepang secara resmi mengakhiri Perang Pasifik dan Perang Dunia II. Sebelumnya Jerman juga sudah menandatangani bahwa Jerman menyerah kepada sekutu pada tanggal 7 Mei 1945, mengakhiri teather Eropa. Beberapa tahun Setelah pengeboman Hiroshima dan Nagasaki, Jepang mengeluarkan kebijakan Three Non-Nuclear Principles yaitu kebijakan yang melarang Jepang memiliki atau mengembangkan senjata nuklir.

Hiroshima merupakan tempat yang jarang sekali terjadi pengeboman. Hiroshima merupakan markas militer Jepang. Hiroshima juga dikenal sebagai kota pelabuhan besar. Hal - hal inilah yang menjadi pertimbangan Amerika Serikat dalam memilih Hiroshima sebagai target pertama pengeboman. Hiroshima dijatuhi bom nuklir "Little Boy" pada tanggal 6 Agustus 1945. Sebanyak 140.000 orang terbunuh dalam tragedi ini.
Bom "Little Boy" di Hiroshima
Tiga hari setelah pengeboman di Hiroshima, Nagasaki menjadi objek selanjutnya. Bom nuklir "Fat Man" dijatuhkan pada tanggal 9 Agustus 1945 yang merenggut 80.000 jiwa. Nagasaki merupakan kota potensial selain Kokura, Kyoto dan Niigita. Terget awal pengeboman pada gelombang dua sebenarnya adalah Kokura, Kyoto dan Niigita. Nagasaki kemudian dipilih menggantikan Kyoto. Kyoto merupakan kota religi yang mendukung pola militer Jepang.  Sedangkan Niigita dicoret dari target pengeboman karena letaknya yang terlalu jauh dari Pangkalan Militer Filipina, tempat lepas landas pesawat - pesawat perang Amerika Serikat sebelum terbang landas ke Jepang. Namun pada akhirnya, hanya Nagasaki yang menjadi target utama pengeboman.
Bom atom berbentuk jamur "Fat Man" di Nagasaki

Nagasaki merupakan kota industri yang dikenal dengan perkapalan yang maju. Sebelum bom atom dijatuhkan, Nagasaki sudah pernah dibom selama lima kali dalam 12 bulan terakhir. Alhasil kedua kota Hiroshima dan Nagasaki hancur lebur oleh bom atom Amerika Serikat. Bom - bom atom dijatuhkan dari pesawat B-29 Flying Superfortress bernama Enola Gay yang dipiloti Paul W. Tibbets. Bom atom dijatuhkan dari ketinggian 9.450 m dan meledak pukul 08.15 pagi (waktu Jepang) dengan ledakan mencapai ketinggian 550 meter. Untuk menjatuhkan bom atom, pesawat memang terbang cukup tinggi dengan menggunakan pelindung mata khusus anti radiasi. Bom atom meledak dahsyat seperti berbentuk jamur yang dijatuhkan di tengah pemukiman penduduk.  Hingga kini, pengeboman Hiroshima dan Nagasaki masih menjadi trauma mendalam bagi Jepang dan seluruh dunia.

SUMBER:
http://www.gurusejarah.com/2015/07/peristiwa-pengeboman-hiroshima-dan.html

LAMPIRAN FOTO
Kota Hiroshima setelah di bom nuklir

Nagasaki setelah di bom atom

Kamis, 19 Januari 2017

Sejarah pelacuran di Indonesia
Pelacuran merupakan kegiatan menjual diri kepada para lelaki. Pada masa sekarang, praktek pelacuran sudah sering kita dengar. Di Surabaya, terkenal dengan Gang Dolly, Yogyakarta ada Pasar Kembang, dan di Semarang ada Sunan Kuning. Praktek prostitusi umumnya bermotif ekonomi. Banyak dari para wanita yang rela menjajakan tubuhnya demi bertahan hidup.

Praktek prostitusi sebenarnya sudah berkembang sejak lama. Di Indonesia sendiri praktek prostitusi sudah ada sejak zaman kerajaan, masa penjajahan Belanda dan yang paling terkenal ada masa penajajahan Jepang yang dikenal dengan Jugun Ianfu.

Sistem Pelacuran Pada Masa Pemerintahan Belanda
Sistem pelacuran pada masa pemerintahan Belanda memiliki sistem yang terorganisir dan berkembang pesat. Hal ini didasarkan pada kebutuhan seks para orang - orang Belanda yang meninggalkan istrinya jauh di Eropa, di negeri Belanda. Buku "Nyai dan Pergundikan" karangan Reggie Bay menyebutkan pada masa VOC di Hindia Belanda sekitar tahun 1650 sampai 1653, Gubernur Carel Reynierz mendukung kuat dengan adanya perkawinan antara pegawai VOC dengan perempuan Asia atau Eurasia (Baay, 2010:4). Hal ini menunjukkan bahwa pemerintah Belanda seakan melegalkan adanya praktek prostitusi diantara para pegawai VOC dengan para pribumi.

Keputusan yang dikeluarkan Reggie Bay membuat para orang - orang Belanda seakan terpaksa melakukan perkawinan  dengan para wanita pribumi. Dalam hal ekonomi pihak laki - laki Belanda lebih diuntungkan. Dalam perkembangannya, muncul yang dinamakan gundik yang merupakan para nyai (wanita) yang dianggap kawin dengan lelaki Belanda dan selanjutnya melahirkan keturunan Indo - Belanda yang semakin memperkuat posisi Belanda ketika berada di Indonesia.


Sistem Pelacuran Pada Masa Pemerintahan Jepang
Pada masa pemerintahan Jepang, para wanita penghibur atau disebut Jugun Ianfu, para wanita dikumpulkan dalam satu rumah bordir untuk melayani kebutuhan seks tentara Jepang. Umumnya, mereka tertipu atau dijebak dan dijadikan wanita penghibur untuk para tentara Jepang. Mereka seolah menjadi korban atas kebijakan Jepang. Mereka semata - mata hanya dijadikan budak seks bagi para tentara Jepang yang haus akan kebutuhan seks di tengah berkobarnya perang Asia Timur Raya atau peeang Asia Pasifik.

Praktek pelacuran Jugun Ianfu ternyata tidak hanya terjadi di Indonesia, namun juga di negara - negara jajahan Jepang yang lain. Menurt riset dari Dr. Hirofumi Hayashi seorang profesor dari Universitas Kanto Gaukin ketika melihat fenomena Jugun Ianfu di Indonesia ini, ia mengatakan bahwa Jugun Ianfu pada saat itu terdiri dari wanita - wanita Jepang, Korea, Tiongkok, Malaya, Thailand, Filipina, Indonesia, Myanmar, Vietnam, India dan Indo Belanda. Pada saat itu diperkirakan sebanyak 20.000 hingga 30.000 wanita dijadikan Jugun Ianfu oleh pemerintah Jepang.

Keberadaan Jugun Ianfu tidak terlepas dari keberadaan para tentara Jepang yang jenuh ketika berperang. Mereka membutuhkan hiburan berupa berkencan ataupun meniduri para Jugun Ianfu di kamar - kamar bordir yang telah disediakan oleh pemerintah Jepang. Hal ini sangat ironis mengingat para wanita pribumi yang dijadikan Jugun Ianfu adalah para wanita yang dipaksa dan diiming - imingi akan kehidupan yang enak dan pendidikan terjamin. Namun pada kenyataannya, para tentara Jepang tidak segan - segan menculik ataupun memperkosa para wanita didepan keluarganya didepan keluarganya sendiri apabila mereka menolak.

Praktek pergundikan pada masa Jepang benar - benar dilegalkan dimana kepuasan seks para tentara Jepang sangat mempengaruhi kinerja para tentara. Perekrutan Jugun Ianfu juga terkesan tertutup di bawah tanah dengan kepala pejabat seperti lurah, camat dan kepala desa sebagai orang yang merekrut.

Perang Dunia II menjadi faktor utama adanya praktek Jugun Ianfu. Peperangan yang terjadi antara tahun 1943 - 1945 membuat para tentara Jepang membutuhkan wanita untuk melepaskan kerinduan akan seks kepada pasangan - pasangan mereka di Jepang. Wanita - wanita pribumi kemudian dijadikan penggantinya. Hal inilah yang menjadi masa kelam para wanita Indonesia pada masa itu. Para wanita pribumi ditakuti dengan ancaman akan diasingkan, dibuang dan bahkan dibunuh.

Tak sampai disitu, pada tahap pemeriksaan kesehatan, para wanita ini sangat direndahkan dengan digerayangi hingga mereka telanjang bulat oleh petugas medis. Satu persatu vagina mereka di periksa dengan menggunakan alat yang terbuat dari besi panjang. Apabila benda tersebut ditekan, maka ujung alat ini akan membesar dan membuka vagina para Jugun Ianfu menjadi lebih lebar.  Alat ini berfungsi untuk mendeteksi adanya penyakit di tubuh para Jugun Ianfu. Betapa mirisnya melihat para wanita pada saat itu. Dan ketika para Jugun Ianfu tidak bisa memuaskan para tentara Jepang, mereka akan diperlakukan tidak manusiawi.

Mardiyem, seorang Jugun Ianfu mengakui perlakuan tersebut. Pada umur 13 tahun ia sudah dijadikan Jugun Ianfu oleh pemerintah Jepang. Pertama kali yang ia layani adalah pria Jepang yang berambut brewok. Siksaan seperti tamparan, pukulan dan tendangan sering ia rasakan dengan umur yang terbilang belia.

Jugun Ianfu, Korban Kebijakan Politik Jepang
Keberadaan Jugun Ianfu juga tidak terlepas dari kebijakan politik Jepang di negara - negara koloni. Ada asumsi yang memperkuat kebijakan Jepang dalam mengeluarkan kebijakan Jugun Ianfu. Pertama, dengan menyediakan budak seks, moral dan keefektifan serta kinerja tentara Jepang akan meningkat. Kedua, dengan membuat rumah bordir sebagai tempat Jugun Ianfu, pemerintah Jepang akan dengan mudah mengontrol dan mengawasi penyakit kelamin. Ketiga, keberadaan rumah bordir di garis depan dapat memberikan tempat beristirahat bagi para tentara. Asumsi - asumsi tersebut yang kemudian seolah melegalkan Jepang dalam mengeluarkan kebijakan Jugun Ianfu. Setelah penjajahan Jepang selesai, stigma negatif masyarakat terhadap para wanita ini masih melekat. Namun seiring perjalanan waktu, stigma tersebut mulai memudar. Pemerintah Jepang adalah pihak yang paling bertanggung jawab atas kejahatan ini.

Sumber
Baay, Reggie.2010."Nyai dan Pergundikan di Hindia Belanda". Jakarta: Komunitas Bambu
Jepang sebagai satu - satunya negara penjajah di Asia melakukan penyerangan ke tangsi Angkatan Laut Amerika di Pearl Harbor pada hari Minggu 7 Desember 1941 secara tak terduga. Pada hari itu 441 pesawat Jepang berhasil menerobos pertahanan Amerika Serikat di Pearl Harbor dan mengebom basis angkatan laut AS. Serangan ini merupakan serangan terbesar selama sejarah Amerika Serikat. Akibatnya, sebanyak 2.388 tentara AS dan warga sipil tewas, sementara 1.178 orang lainnya luka - luka.
"Serangan udara Pearl Harbor. Ini bukan latihan". Kata - kata yang terucap dari Panglima Pasifik (CINCPAC) ketika terjadi serangan oleh Jepang.
Sebanyak 21 kapal Amerika Serikat tenggelam dan rusak, termasuk diantaranya kapal garis depan Amerika Serikat. Inilah salah satu latar belakang AS memerangi Jepang dan sekutu Axis lainnya yaitu Jerman dan Italia pada Perang Dunia II. Pada perkembangannya Jepang mengalami kekalahan dan menyerah kepada sekutu pada tahun 1945.

PENYERANGAN PEARL HARBOR
Pada tanggal 26 November 1941, sebanyak enam kapal induk Jepang bergerak dari Teluk Hitokappu di Kepulauan Kuril yang dipimpin Laksamana Madya Chuichi Nagumo menuju Pearl Harbor. Armada kapal tersebut tidak meggunakan radio apapun atau disebut juga radio silence. Hal ini bertujuan agar Amerika Serikat tidak bisa mendeteksi kapal yang mendekat menggunakan radar. Pagi hari, tanggal 7 Desember, ratusan pesawat diluncurkan dari keenam kapal induk tersebut. Pesawat - pesawat ini kemudian terbang diatas angkatan laut Amerika Serikat di kepulauan Hawaii dan menjatuhkan bom ke kapal maupun kapal terbang milik Amerika Serikat, hanya sedikit yang bisa diselamatkan.
Salah satu kapal induk Jepang yang digunakan untuk menyerang Pearl Harbor
Sumber : patriotfiles.com

Serangan Pesawat Jepang
Sumber : Pinterest.com
Dua belas kapal perang tenggelam dan sisanya rusak berat, 188 kapal terbang  milik AS hancur dan yang terparah 2.403 tentara Amerika Serikat meninggal. Kapal perang Amerika Serikat bernama USS Arizona dengan 1.100 orang yang berada di dalam kapal tewas ketika kapal USS Arizona diledakkan oleh Jepang. Hampir separuh tentara Jepang berada di sana. Kapal induk Jepang yang ikut berperang ke Pearl Harbor diantaranya Akagi, Hiryu, Kaga, Shokaku, Soryu, dan Zuikaku. Jumlah pesawat apabila dijumlahkan berjumlah 441 kapal terbang, pengebom torpedo, pengebom penyelam dan lainnya. Dari pihak Jepang, hanya sebanyak 29 yang musnah dalam pertempuran ini. Pesawat Jepang terbang dalam 2 gelombang dan Laksamana Madya Chuichi Nagumo memutuskan untuk membatalkan serangan yang ketiga. Serangan pertama dilakukan pada jam 07.53 tanggal 7 Desember, Waktu Hawaii.
Penyerangan Pearl Harbor
Sumber : Wired.com
Hancurnya kapal USS Arizona di Pearl Harbor
Sumber : clickamericana.com

LATAR BELAKANG PENYERANGAN PEARL HARBOR
Peristiwa yang melatarbelakangi serangan Jepang terhadap Pearl Harbor adalah peristiwa pada tahun 1931 saat jepang menyerbu Manchuria, salah satu provinsi di Cina. Manchuria merupakan wilayah pertama yang diinvasi Jepang dan kemudian disusul dengan serangan skala besar pada tahun 1947. Melihat hal demikian, Amerika Serikat membantu mendanai Cina dalam bidang militer dan keuangan, sedangkan impor minyak dan bahan mentah lain ke Jepang dihentikan. Embargo ini merupakan ancaman besar terhadap Jepang.

Keadaan inilah yang kemudian menyulut emosi pemerintah Jepang dan memutuskan menaklukkan wilayah Asia Pasifik yang kaya akan minyak dan bahan mentah yang selama ini tidak dimiliki Jepang. Pihak Amerika Serikat mengetahui hal tersebut dan tidak membiarkan Jepang menginvasi negara - negara di Asia. Perangpun tak terelakkan antara Jepang dan Amerika. Jepang kemudian membuat strategi, satu - satunya cara menaklukkan Amerika Serikat yaitu menghancurkan angkatan laut AS yang ada di Pearl Harbor.

Persiapan matang dilakukan oleh Jepang dan memutuskan melakukan penyerangan pada tanggal 7 Desember 1941. Jepang mengobarkan perang Asia Timur Raya. Setelah Pearl Harbor dapat dikuasai, Jepang menduduki beberapa wilayah sekutu diantaranya adalah Indonesia. Serangan ini mengawali Amerika Serikat untuk ikut campur dalam Perang Pasifik. Jepang tidak sadar bahwa ia telah membangunkan raksasa perang dunia.

SETELAH PENYERANGAN PEARL HARBOR
"I fear all we have done is to awaken a sleeping giant and fill him with a terrible resolve" Isoroku Yamamoto
Kata - kata diatas berarti, "Saya takut, semua yang telah kita lakukan adalah untuk membangkitkan raksasa tidur dan memenuhinya dengan tekad yang mengerikan" kata Laksamana Isoroku Yamamoto sang perancang taktik penyerangan Jepang. Ketakutan tersebut terjadi. Presiden AS, Franklin D. Roosevelt meanggapi serangan Jepang. Empat tahun setelah penyerangan Pearl Harbor, Jepang yang telah menguasai Asia akhirnya menyerah dan menjadi bulan - bulanan Amerika Serikat terutama setelah pemboman Hiroshima dan Nagasaki.

LAMPIRAN

Miniatur kapal induk Akagi penyerangan Pearl Harbor
Sumber : northstarmodels.com
Sumber : ww2live.com
Kapal Hiryu
Sumber : Pinterest.com

Empat Kapal Induk Jepang
Sumber : Photobucket.com
Peta Serangan Jepang ke Pearl Harbor
Sumber : dailymail.co.uk
Sumber : mtviewmirror.com
Wilayah Kekuasaan Jepang Setelah Penyerangan Pearl Harbor

Rabu, 18 Januari 2017

PERISTIWA RENGASDENGKLOK
Sebelum dibentuk organisasi BPUPKI (Dokuritsu Junbi Cosakai), pada tanggal 16 Mei 1945 telah diadakan kongres pemuda seluruh Jawa di Bandung. Kongres ini diprakarsai oleh Angkatn Moeda Indonesia dengan peserta dari utusan pemuda, pelajar serta mahasiswa di Jawa. Kongres ini menyuarakan akan adanya persatuan dan bersiap melaksanakan proklamasi kemerdekaan. Hasil dari kongres ini diantaranya :
  1. Semua golongan Indonesia, terutama golongan pemuda, dipersatukan dibawah pimpinan nasional.
  2. Mempercepat pelaksanaan proklamasi kemerdekaan.
Disisi lain, kongres ini menyatakan bekerjasama dengan pihak Jepang untuk mencapai kemenangan akhir. Sebagian tokoh pemuda yang ikut dalam kongres ini menyatakan tidak puas atas hasil yang telah disepakati diantaranya Sukarni, Harsono Tjokroaminoto serta Chairul Saleh. Mereka merencanakan untuk membuat pertemuan rahasia pada gerakan pemuda yang lebih radikal pada tanggal 3 dan 15 Juni 1945. Pertemuan ini menghasilkan pembentukan Gerakan Angkatan Baroe Indonesia dengan tujuan :
  1. Mencapai persatuan seluruh golongan masyarakat Indonesia
  2. Menanamkan semangat revolusioner massa atas dasar kesadaran mereka sebagai rakyat yang berdaulat
  3. Membentuk NKRI
  4. Mempersatukan Indonesia dengan bahu membahu bersama Jepang, namun apabila perlu, gerakan ini bermaksut untuk mencapai kemerdekaan Indonesia dengan kekuatan sendiri.
Para pemuda glongan radikal kemudian diikutsertakan dalam Gerakan Rakyat Baru yang terbentuk pada sidang Cuo Sangi In dengan tujuan untuk mengobarkan semangat cinta tanah air dan semangat perang. Gerakan Rakyat Baru beranggotakan 80 orang yang berasal dari Indonesia, Jepang, golongan orang Cina, Arab dan peranakan Eropa.

BPUPKI pada tanggal 7 Agustus 1945 resmi ditutup dan digantikan PPKI (Dokuritsu Junbi Inkai) dengan Ir. Soekarno sebagai ketua, Drs. Moh. Hatta sebagai wakil ketua serta Mr. Ahmad Subardjo sebagai penasehat. Berikut ini adalah perwakilan dari berbegai pulau dalam tubuh PPKI :
  • Perwakilan dari Jawa dengan jumlah 12 orang diantaranya : Ir. Soekarno, Drs. Moh. Hatta. Abdul Kadir Purubojo, Prof. Dr. Mr. Supomo, R.P Suroso, Mr. Sutardjo Kartohadikusumo, Ki Bagus Hadikusumo, Wakhid Hasyim, Otto Iskandardinata, dr. Radjiman Wediodiningrat.
  • Perwakilan dari Sumatera dengan jumlah 3 orang diantaranya : dr. Amir, Mr. Teuku Moh. Hasan, Mr. Abdul Abas.
  • Perwakilan dari Sulawesi dengan jumlah 2 orang diantaranya Dr. G.S.S.J. Ratu Langie, Andi Pangeran
  • Perwakilan pulau Kalimantan yaitu A.A. Hamidhan.
  • Perwakilan dari Sunda Kecil (Nusatenggara) yaitu Mr. I Gusti Ketut Pudja
  • Perwakilan dari Maluku yaitu Mr. J. Latuharhary
  • Perwakilan golongan Cina yaitu Drs. Yap Tjwan Bing
Berikutnya, anggota PPKI bertambah tanpa seijin Jepang yakni Wiranatakusumah, Ki Hadjar Dewantara, Mr. Kasman Singodimejo, Sayuti Melik, Iwa Kusumasumantri serta Ahmad Subardjo. Gunseiken Mayor Jenderal Yamamoto menegaskan bahwa PPKI tidak hanya dipilih oleh pejabat di lingkungan tentara keenambelas, namun juga dipilih oleh Jenderal Besar Terauci yang menjadi penguasa perang tinggi di seluruh Asia Tenggara.

Jendral Terauci memanggil Ir. Soekarno, Drs. Moh. Hatta dan dr. Radjiman Wediodiningrat ke Dalat Vietnam dalam rangka pengangkatan PPKI. Pada tanggal 9 Agustus 1945, ketiganya berangkat ke Dalat, Vietnam untuk bertemu Jenderal Besar Terauchi untuk menyampaikan perintah Jepang atas kemerdekaan Indonesia dan menyerahkan pelaksanaan kepada PPKI. Ketiganya kembali ke tanah air pada tanggal 14 Agustus 1945 dan tidak mengetahui kalau Jepang sudah menyerah kepada sekutu pada tanggal 15 Agustus 1945 dan Indonesia mengalami kekosongan kekuasaan.

14 Agustus 1945
Pada tanggal 14 Agustus 1945, Jepang menyerah tanpa syarat kepada sekutu. Berita mengenai kekalahan Jepang sangat dirahasiakan oleh pemerintah Jepang yang ada di Indonesia, namun para pemuda mengetahui hal tersebut setelah mendengar siaran radio BBC di Bandung pada tanggal 15 Agustus 1945.

15 Agustus 1945
Pukul 4 sore, tanggal 15 Agustus 1945, golongan pemuda yang diwakili Sutan Syahrir menemui Hatta dirumahnya dan mengabarkan bahwa Jepang sudah kalah. Ia mendesak kepada Hatta agar sesegaera mungkin memproklamasikan kemerdekaan. Hatta tidak bisa memenuhi permintaan Syahrir dan mengajaknya ke rumah Soekarno. Soekarno menolak dengan alasan ia hanya mau memproklamasikan kemerdekaan setelah dilakukan rapat PPKI. Kedua golongan ini sangat berbeda dalam pandangannya terhadap kemerdekaan, disatu sisi golongan pemuda menginginkan kemerdekaan secepatnnya sedangkan golongan tua menghendaki proklamasi pada waktu yang tepat.

Pada 15 Agustus 1945 pukul 20.00 WIB, golongan pemuda mengadakan rapat di ruang bagian belakang gedung Lembaga Bakteriologi di jalan Pegangsaan Timur No. 13 Jakarta yang dipimpin oleh Chairul Saleh. Rapat ini menghasilkan bahwa kemerdekaan Indonesia adalah hak dan urusan rakyat Indonesia sendiri dan tidak terkait dengan pemerintahan Jepang atau negara manapun. Sedangkan golongan tua menghendaki proklamasi kemerdekaan dilakukan setelah rapat PPKI tanggal 18 Agustus 1945.

Wikana dan Darwis kemudian mendapatkan tugas untuk menyampaikan hal tersebut kepada Soekarno. Pukul 22.30 keduanya menemui Soekarno dan Hatta di jalan Pegangsaan Timur, No. 56 Jakarta. Mereka terlibat perdebatan hebat dengan tokoh golongan tua diantaranya Drs. Moh. Hatta, dr. Buntaran, dr. Samsi, Mr. Ahmad Subardjo dan Iwa Kusumasumantri.


Dilain sisi, Drs. Moh. Hatta dan Mr. Ahmad Soebardjo berpendapat bahwa kemerdekaan Indonesia baik diberikan dari pemerintah Jepang maupun hasil perjuangan sendiri tidak perlu dipersoalkan. Yang perlu diperhatikan adalah sekutu yang mengalahkan Jepang dan akan mengambil alih kekuasaan Indonesia lagi.

16 Agustus 1945
Pukul 24.00, Wikana dan Darwis meninggalkan rumah Soekarno dengan diliputi perasaan kesal. Golongan tua tidak menyetujui usulan golongan muda dalam hal proklamasi kemerdekaan. Kemudian diadakan lagi rapat antara golongan muda dan memutuskan untuk mengamankan Soekarno dan Hatta ke luar kota. Shudanco Singgih mendapatkan tugas untuk memboyong Soekarno dan Hatta ke Rengasdengklok yang dibantu Chudanco Latieh Hendraningrat yang menggantikan Daidanco Kasman Singodimedjo yang bertugas ke Bandung.

Pada akhirnya perbedaan pandangan antara golongan pemuda dan golongan tua inilah yang kemudian mendorong golongan pemuda untuk memboyong Soekarno (bersama Fatmawati dan Guntur yang berusia 9 bulan) dan Hatta ke Rengasdengklok pada dini hari pada tanggal 16 Agustus 1945. Hal ini bertujuan agar Soekarno dan Hatta tidak mendapatkan pengaruh dari pemerintah Jepang. Pemilihan Rengasdengklok dengan perhitungan bahwa Rengasdengklok berada jauh dari jalan raya utama Jakarta - Cirebon dan disana dengan mudah mengawasi tentara Jepang yang hendak datang ke Rengasdengklok, Karawang, Jawa Barat.

Di Rengasdengklok Soekarno dan Hatta mendiami rumah milik warga yang bernama Jo Ki Song yang merupakan seorang Tionghoa. Golongan pemuda berusaha menekan agar Soekarno dan Hatta melaksanakan proklamasi kemerdekaan secepat mungkin. Namun, karena wibawa dari kedua pemimpin bangsa ini para pemuda segan untuk mendekati dan menekannya.
Rumah Joo Ki Song

Soekarno menyatakan bersedia melaksanakan proklamasi setelah melakukan pembicaraan dengan Sudanco Singgih. Maka, Sudanco Singgih segera kembali ke Jakarta untuk memberi tahu pernyataan Soekarno kepada teman - temannya di golongan pemuda.

Disisi lain pada tanggal 16 Agustus 1945, di Jakarta para anggota PPKI bersiap melakukan rapat di Gedung Pejambon 2. Hasil dari perundingan ini adalah menetapkan Jakarta sebagai tempat melaksanakan proklamasi dan meminta izin kepada Laksamana Tadashi Maeda untuk menjamin keselamatan para pemimpin bangsa. Ahmad Soebardjo menanyakan keberadaan Soekarno dan Hatta kepada Wikana. Akhirnya Soekarno dan Hatta dijemput oleh Wikana beserta anggota golongan tua lain.

Jusuf Kunto dari golongan pemuda kemudian mengantar Ahmad Soebardjo dan golongan tua ke Rengasdengklok. Sesampainya di Rengasdengklok pukul 17.30, Ahmad Soebardjo memberikan jaminan kepada golongan pemuda bahwa proklamasi kemerdekaan akan dilakukan pukul 17 Agustus 1945 selambat - lambatnya pukul 12.00. Dengan jaminan ini kemudian para pemuda memulangkan Soekarno dan Hatta ke Jakarta untuk melaksanakan proklamasi kemerdekaan.

PERISTIWA PROKLAMASI KEMERDEKAAN TANGGAL 17 AGUSTUS 1945
Teks Proklamasi Kemerdekaan dirumuskan oleh Ir. Sokarno, Drs. Moh. Hatta dan Ahmad Soebardjo di rumah Laksamana Tadashi Maeda pada dini hari tanggal 17 Agustus 1945. Pada awalnya Soekarno yang membuat konsep teks proklamasi dan kemudian disempurnakan oleh Hatta dan Ahmad Sobardjo. Begitu konsep teks proklamasi selesai, Sayuti Melik kemudian menyalin dan mengetik menggunakan mesin ketik yang diambilnya dari kantor perwakilan AL Jerman milik Mayor Dr. Hermann Kandeler.
Rumah Tadashi Maeda (Tempat perumusan naskah proklamasi)

Pada awalnya, pembacaan teks proklamasi akan dilakukan di Lapangan Ikada. Namun, melihat jalan menuju Lapangan Ikada di jaga ketat oleh tentara Jepang yang bersenjata lengkap, rencana tersebut di urungkan dan akhirnya memilih kediaman Soekarno yaitu Jalan Pegangsaan Timur No. 56 Jakarta untuk membacakan teks proklamasi.
Pengibaran Sang Saka Merah Putih

Pada akhirnya, pukul 10.00 tanggal 17 Agustus 1945 (pertengahan bulan Ramadhan) dilakukan pembacaan teks proklamasi oleh Soekarno dan dilanjutkan dengan pidato singkat tanpa teks. Bendera Merah Putih yang sebelumnya dijahit oleh Ibu Fatmawati dikibarkan oleh seorang prajurit PETA, Latief Hendraningrat yang dibantu Soehoed. Setelah bendera Merah Putih berkibar, para hadirin selanjutnya menyanyikan lagu Indonesia Raya.

Teks Proklamasi

Kamis, 20 Oktober 2016

Belanda dianggap menjajah Indonesia selama 3,5. Banyak hal mempercayai hal tersebut namun ada sebagian orang yang menyangkal lamanya penjajahan tersebut. Ucapan Bung Karno "Indonesia dijajah selama 350 tahun" semata - mata hanya untuk menaikkan semangat patriotisme rakyat Indonesia dalam memperjuangkan kemerdekaan. Sedangkan ucapan "Lebih menderita dijajah Jepang selama 3,5 tahun daripada dijajah Belanda 3,5 abad" seolah menjadi pembenaran ucapan Bung Karno tersebut.  

Awal Kedatangan Belanda ke Indonesia (1596 - 1601)
Belanda pertama kali mendarat di Indonesia yaitu di pelabuhan Banten dengan empat buah kapal yang dipimpin oleh Kapten Pieter Keyzer dan Cornelsi de Houtman pada 23 Juni 1596. Kedatangan kapal Cornelis de Houtman dan awak kapalnya semula disambut dengan baik oleh para pribumi Banten. Banyak penduduk pribumi yang naik ke kapal tersebut untuk menawarkan makanan ataupun dagangan kepada mereka. Namun, sambutan baik ini disalah artikan oleh Cornelis de Houtman yang justru bertindak kasar kepada pribumi Banten yang menawarkan keramah tamahan kepada mereka. Walau demikian, pribumi banten masih saja menawarkan lada yang Belanda butuhkan. Tujuan Belanda ke Indonesia semula murni untuk berdagang rempah - rempah, mengambil keuntungan besar dari penjualan rempah - rempah yang sangat di butuhkan di Eropa. Namun pada perkembangannya tujuan tersebut berubah dari yang semula berdagang dan selanjutnya memonopoli perdagangan hingga menjajah Indonesia.
Empat Kapal Pimpinan Kapten Keyzer dan Houtman

Kedatangan Belanda ke Banten bertepatan dengan rencana penyerangan Banten ke Palembang. Banten meminta Belanda meminjamkan kapalnya untuk dipergunakan sebagai tambahan kapal pengangkut pasukan Banten untuk penyerangan ke Palembang. Namun rencana tersebut ditolak oleh Belanda dengan alasan mereka datang ke Banten untuk berdagang dan akan kembali ke Belanda setelah selesai melakukan transaksi perdagangan.

Ketika Banten selesai melakukan penyerangan ke Palembang, sekembalinya dari Palembang mereka masih mendapati Belanda di tanah Banten. Belanda beralasan, mereka menunggu panen lada yang tidak lama lagi. Pada waktu panen, harga lada akan lebih murah. Hal ini membuat Mangkubumi Jayanegara marah. Yang lebih parah adalah suatu malam Belanda membawa dua kapal dari Banten yang penuh dengan lada dan memindahkan ke kapalnya. Karena kepergok melakukan hal tersebut, Belanda kemudian menembaki kota Banten.

Atas kejadian ini mengakibatkan rakyat Banten sangat marah. Beberapa dari tentara Banten menyerbu ke kapal Belanda dan selanjutnya menangkap kapten Houtman beserta delapan anak kapalnya. Houtman baru dilepaskan dengan tebusan 45.000 Gulden serta diusir dari tanah Banten pada 2 Oktober 1596. Dua tahun kemudian tepatnya pada 1 Mei 1598, rombongan pedagang dari Belanda berangkat dipimpin oleh Jacob van Neck dibantu van Waerwijk dan van Heemskerck tiba di Banten  pada 28 November 1598. Pribumi Banten menerima dengan baik karena sikap Belanda berbeda dengan pada saat kedatangan Houtman. Nampaknya, pengusiran Houtman dijadikan pelajaran bagi Belanda.

Pembawaan mereka sanggup membuat hati Sultan Banten terpikat, bahkan permohonan mereka untuk bertemu dengan Sultan pun dikabulkan. van neck membawakan piala berkaki emas sebagai tanda persahabatan dengan Sultan Banten, Sultan Abdul Mafakhir. Mangkubumi Jayanegara kemudian membujuk van Neck untuk membantu melakukan penyerangan ke Palembang atas pembalasan kematian Sultan Muhammad dengan janji memberikan dua kapal penuh lada. Awalnya van Neck menyetujui tapi dengan syarat satu kapal diberikan di awal dan satu kapal diberikan setelah perang sedangkan Mangkubumi menghendaki pembayaran dilakukan sekaligus setelah perang. Kesepakatan tidak tercapai dan penyerangan ke Palembang tidak dilanjutkan.

Van Neck membawa pulang tiga kapal yang penuh dengan muatan, sementara dua pembantunya yaitu van Waerwijk dan van Heemskerck melakukan pelayaran lagi untuk mencapai wilayah Maluku dengan lima buah kapal.

Setelah dua pelayaran Belanda berhasil, selanjutnya berduyun - duyun orang - orang Belanda berlayar ke Nusantara. Pada tahun 1598 tercatat sebanyak 22 kapal baik milik perorangan maupun perserikatan dagang dari Belanda melakukan pelayaran ke Indonesia. Bahkan pada tahun 1602 sebanyak 65 kapal kembali ke Belanda dengan muatan penuh.

Suatu hari pemerintah Portugis mengirimkan utusan dari Malaka dengan membawa uang 10.000 rial untuk meminta Banten memutuskan hubungan dengan Belanda dalam perdagangan dan apabila Belanda tetap melakukan perdagangan maka kapal - kapal Belanda akan di rusak serta diusir. Dikabarkan pula, Portugis akan melakukan pembersihan kapal - kapal Belanda di Banten dan negeri timur lain. Mangkubumi Jayanegara menyetujui hal tersebut dan menerima pemberian dari Portugis. Namun, secara rahasia Mangkubumi Jayanegara mengirimkan utusan untuk menyampaikan akan datangnya pasukan Portugis yang akan menyergap mereka. Mendengar apa yang disampaikan utusan Mangkubumi, kemudian kapal Belanda pun meninggalkan wilayah Banten.

Kemudian pada tahun 1598 angkatan laut Portugis sampailah di Banten yang dipimpin Laurenco de Brito dari pangkalannya di Goa. Ketika sampai di Banten, kapal - kapal Belanda sudah tidak ada dan marahlah dia. Mangkubumi yang dituduh telah bersengkongkol dengan Belanda dituntut untuk mengembalikan hadiah yang Portugis berikan. Mangkubumi pun tidak mau menuruti karena ia berpendapat bahwa Portugis tidak berhak melakukan pengusiran kapal -  kapal yang berlabuh di Banten.

Pasukan Portugis marah, pelabuhan Banten diserang dan dijarah. Bahkan pedagang Cina pun ikut dirampas dangangannya. Melihat adanya serangan dari Portugis, tentara Banten kemudian menyerang balik hingga tiga kapal Portugis dapat direbut dan awak kapalnya melarikan diri meninggalkan kapal dan barang rampasan.

Penjajahan Belanda pada Masa VOC (1602 - 1799)
Adanya persaingan dagang antar sesama pedagang Belanda berimbas pada keuntungan yang semakin sedikit dan tidak jarang merugi. Melihat adanya hal tersebut, kemudian pada 1602 dibentuklah perserikatan dagang Belanda yang bernama Vereenigde Oost Indische Compagnie (VOC) dengan modal awal 6,5 juta gulden yang berkedudukan di Amsterdam. Tujuan dari dibentuknya organisasi ini adalah untuk meraup laba sebesar - besarnya dan memperkuat kedudukan Belanda di Nusantara untuk melawan kekuasaan Portugis dan Spanyol.
Selengkapnya : Sejarah VOC di Indonesia
Pembentukan VOC yang baru seumur jagung mendapat saingan berat yaitu kongsi dagang Inggris EIC (East Indies Compagnie) yang telah dibentuk pada tahun 1600. Untuk mempermudah ruang gerak VOC, kemudian dibangunlah kantor - kantor cabang seperti di Middelberg, Delft, Rotterdam, Horm dan Enkhuizen. Setelah dianggap cukup mapan, VOC kemudian membangun cabang di Nusantara dengan Pieter Both yang menjabat sebagai Gubernur Jendral pertama dan dibantu oleh Dewan Penasehat (Raad van Indie) sebanyak 5 anggota.

VOC mengalami kemuduran pada 31 Desember 1799. Kemunduran VOC dikarenakan beberapa sebab, salah satunya adalah banyaknya korupsi yang ada di dalam tubuh VOC. Pemerintah Belanda kemudian mengambil alih VOC.

Indonesia Pasca Pendudukan VOC
Pada tahun 1799 Belanda mengambil alih wilayah Indonesia dari VOC. VOC mengalami kebangkrutan dan hal ini menjadi sebab di bubarkannya VOC. Sementara itu, Inggris mengincar wilayah Indonesia untuk dijadikan wilayah jajahannya. Jawa adalah wilayah koloni Belanda Perancis yang belum jatuh ke tangan Inggris. Pada akhir abad ke 18 dan awal ke 19 terjadi perang antara Perancis dan Belanda di daratan Eropa. Perancis memenangkan peperangan tersebut pada 1806 dan menyebabkan tanah jajahan Belanda diserahkan kepada pemerintahan Perancis.

Pemerintahan Herman Willem Daendels (1806-1811)
Napoleon Bonaparte mengutus Herman Willem Daendels untuk mengemban tugas mempertahankan pulau Jawa dari serangan Inggris. Daendels memerintah di Jawa pada kurun waktu 1806 - 1811. Terdapat dua tugas utama yang harus dilaksanakan Daendels, yaitu :
  • Mempertahankan Pulau Jawa dari serangan Inggris
  • Memperbaiki sistem pemerintahan agar tidak tejadi penyelewengan serta korupsi

Dalam mengemban misi tersebut, Daendels kemudian menerapkan beberapa kebijakan, diantaranya :
  1. Membangun jalan raya pos atau Grote Postweg yaitu dari Anyer hingga Panarukan
  2. Mendirikan benteng - benteng pertahanan
  3. Membangun pangkalan armada laut di Merak dan Ujung Kulon
  4. Mendirikan pasukan yang beranggotakan pribumi
  5. Mendirikan pabrik - pabrik senjata seperti di Surabaya, pabrik pembuatan meriam di Semarang serta sekolah militer di Batavia
  6. Membangun rumah sakit serta tangsi militer baru
Selengkapnya : Penjajahan Perancis di Indonesia
Kebijakan lain selain dalam bidang pertahanan :
  1. Memecah pulau Jawa menjadi 9 prefektur atau daerah setara Karesidenan untuk mempermudah pengawasan
  2. Mengangkat bupati - bupati Jawa menjadi pegawai pemerintah
  3. Menaikkan gaji pegawai
  4. Mendirikan pengadilan dengan adat istiadat sebagai aturan yang diberlakukan
Daendels yang dikenal dengan sikap kerasnya terkadang juga melakukan tindakan keras terhadap raja - raja di Jawa seperti :
  1. Raja Solo dan Yogyakarta dimana raja kerajaan tersebut harus mengakui bahwa raja Belanda sebagai junjungannya
  2. Karena Banten tidak mau melakukan pembangunan jalan raya Post Groteweg, Daendels mengambil kebijakan keras dengan mengasingkan Sultan Banten ke Banten
  Ada dua versi mengapa Daendels dipanggil kembali ke negaranya (Perancis) yaitu :
  1. Daendels sangat dibutuhkan untuk memimpin pasukan Perancis guna melakukan serangan ke Rusia
  2. Hubungan buruk antara Daendels dengan raja - raja di Jawa yang dikhawatirkan akan memperburuk situasi menjelang serangan dari Inggris.
Pemerintahan Jan Willem Janssen (1811)
Daendels digantikan oleh Jenderal Jan Willem Jansen pada 20 Februari 1811. Pemerintahan Belanda di bawah Gubernur Jansen berlangsung sebentar, Belanda menyerah kepada Inggris setelah ditandatanganinya Kapitulasi Tuntang yang berisi
  • Pulau Jawa dan sekitarnya jatuh ke tangan Inggris
  • Semua tentara Belanda menjadi tentara Inggris
  • Orang - orang Belanda dipekerjakan untuk pemerintah Inggris
Pemerintahan Thomas Stamford Raffles (1811-1814)
Setelah Inggris mampu menguasai pulau Jawa, Raffles kemudian ditunjuk untuk menjadi Gubernur di Jawa. Kebijakan - kebijakan Raffles diantaranya
  • Menghapus sistem Perangerstelsel, kerja paksa, dan menghentikan perdagangan budak
  • Membebaskan rakyat dalam melakukan penanaman
  • Menghapuskan sistem pajak hasil bumi (Contingenten)
  • Menerapkan sistem tanah sebagai milik pemerintah sedangkan petani sebagai pengarap
  • Pemberlakuan pajak tana
  • Pengangkatan Bupati sebagai pegawai pemerintahan dan menetapkan jabatan Bupati diwariskan turun temurun
  •  Membagi pulau Jawa menjadi 16 Karesidenan
  • Membentuk sistem pemerintahan yang serupa dengan sistem pemerintahan di negara Inggris 
Adapun hambatan pemberlakuan kebijakan - kebijakan yang dilakukan oleh Inggris diantaranya :
  • Terbentur adanya budaya dan tradisi Jawa
  • Belum adanya kepastian hukum atas tanah
  • Uang belumsepenuhnya berlaku di Jawa sebagai alat pembayaran pajak
  • Singkatnya masa pemerintahan Raffles
Kekuasaan Raffles hanya sampai  1814 setelah Perancis kalah oleh Rusia, Prusia, Austria dan Swedia dalam pertempuran Leipzig pada tahun 1813. Imbasnya negara Belanda memerdekakan diri dan berhak kembali atas tanah jajahan terdahulu yang tertuang dalam Konvensi London.

Masa Kekuasaan Belanda Ke Dua (1816-1942)
Adanya perang melawan Perancis serta hutang VOC menyebabkan kekosongan kas Belanda. Kemudian dikirimlah Van der Capellen (1816 - 1826) untuk menjabat sebagai Gubernur Jenderal di Nusantara dengan tugas utama mengekploitasi kekayaan nusantara guna mengisi kos Belanda yang kosong. Setelah Van Der Capellen lalu dilanjutkan oleh de Gisignies (1826-1830). Karena ketidak adilan serta kesewenang - wenangan mengakibatkan munculnya perlawanan - perlawanan oleh para pribumi, diantaranya :
  • Perang Saparua (1817)
  • Perlawanan Sultan Palembang (1818-1825)
  • Perang Diponegoro (1825-1830)
  • Perang Padri (1815-1838)
  • Perang Bone (1824)
Adanya perlawanan - perlawanan tersebut mengakibatkan terkurasnya kas Belanda. Kemudian Belanda mengirim Johannes van Den Bosch untuk menyelamatkan kas negara dari kebangkrutan. van Den Bosch kemudian memberlakukan kebijakan peningkatan produksi tanaman ekspor dengan sistem tanam paksa

Kebijakan Sistem Tanam Paksa (Cultuurstelsel): Van den Bosch (1830-1870)
Berikut ini adalah poin - poin penting pemberlakuan sistem tanam paksa
  • Pribumi diwajibkan menyisihkan 1/5 tanahnya untuk ditanami tanaman ekspor
  • Untuk pribumi yang tidak memiliki tanah, maka diwajikan untuk bekerja kepada Belanda selama 66 hari
  • Kelebihan hasil produksi Belanda dikembalikan kepada rakyat
  • Kerusakan akibat gagal panen sepenuhnya dibebankan kepada rakyat
  • Pengawasan dan penggarapan lahan dilakukan dan sampaikan melalui kepala desa
Selengkapnya : Sejarah Pelaksanaan Sistem Tanam Paksa (Cultuurstelsel)
Kebijakan tersebut dalam pelaksanaannya di lapangan seringkali tidak sesuai dengan ketentuan. Bagi Belanda, dengan diberlakukannya sistem tanam paksa inilah kesempatan untuk mengeruk keuntungan sebesar - besarnya. Kas Belanda pun mengalami surplus. Namun diberlakukannya sistem ini mendapat kritikan dari berbagai pihak. Salah satu yang mengkritik adalah Eduard Douwes Dekker. Akibat adanya keritikan berbagai pihak, kemudian pada 1870 sistem tanam paksa dihapus dan dikeluarkan UU Agraria (Agrarische Wet) dan UU Gula (Suiker Wet). Adapun tujuan dari UU Agraria adalah :
  • Meindungi hak milik petani atas tanahnya sendiri dari penguasa asing
  • Memberi peluang kepada pemodal asing untuk dapat menyewa tanah kepada pribumi Nusantara
  • Membuka peluang kepada pribumi untuk bekerja menjadi buruh perkebunan
Sedangkan UU Gula sendiri bertujuan untuk memberikan kesempatan kepada pengusaha gula untuk mengambil alih pabrik gula milik pemerintah Belanda.

Kebijakan Pintu Terbuka (1870-1900) : Eksploitasi Manusia dan Agraria
Adapun latar belakang dari kebijakan pintu terbuka yaitu :
  • Perubahan Politik di Belanda
    Di tahun 1850 politik di Belanda dimenangkan oleh partai liberal dan kemudian menyebabkan sistem pemerintahan Belanda berubah menjadi sistem liberalis. Karena sistem liberalis  tidak bisa lepas dari para pemilik modal, maka perekonomian digerakkan dengan sistem kapitalisme.
  • Adanya pengaruh revolusi industri
Penerapan Politik Terbuka
Adapun penerapan politik terbuka yaitu munculnya pabrik - pabrik baru milik swasta yang mulai menjamur di Indonesia seperti Pabrik tembakau di Deli, Besuki dan Kediri, Pabrik tebu dai Batavia, Semarang dan lain - lain, pabrik kina di Jawa Barat, Pabrik teh di Jawa Barat dan Sumatera dan lain sebagainya. Dampak dari penerapan pintu terbuka ini bmenjadikan Belanda semakin makmur dan penderitaan bagi rakyat Indonsia.

Eksploitasi Manusia
Ekploitasi manusia yang dimaksud adalah pengerahan manusia yang dilakukan dengan tipudaya, paksaan, ketidakadilan serta kesewenang - wenangan yang dialami pribumi di perkebunan baik milik Belanda maupun swasta asing. Pada masa ini muncul sebutan Koeli (buruh) dan Ordernemer (pemilik perkebunan). Dalam menerapkan eksploitasi manusia, pemerintah Belanda memberlakukan aturan Koeli Ordonantie 1881 yang menjamin pemilik perkebunan dapat memperoleh, mempekerjakan serta mempertahankan kuli di perkebunan mereka sesuai kebutuhan. Para pribumi diwajibkan bekerja dari pagi hingga sore dengan membuka lahan, dan upah serta makan dan juga tempat tinggal jauh dari kata layak. Rakyat Jawa juga ada yang dipekerjakan di Suriname dan Guyana Belanda untuk bekerja di perkebunan milik Belanda. Tidak sedikit para pekerja melarikan diri, namun Belanda telah membuat aturan dengan istilah Poenal Sanctie yaitu hukuman bagi para pekerja yang melarikan diri berupa denda, disekap, ditelanjangi, kerja paksa tanpa upah serta ada yang dibunuh.

Eksploitasi Agraria
Yang dimaksud disini adalah memaksimalkan penggunaan lahan - lahan produktif di Indonesia dengan melakukan pembukaan lahan kosong untuk perkebunan dan pertambangan yang dikerjakan oleh pribumi.Tanah yang dimaksud dibagi menjadi tiga yaitu :
  1. Tanah yang dikuasai langsung (bumi narawita)
  2. Tanah hadiah
  3. Tanah mancanegara yang dikuasai bupati
Reaksi Terhadp Kebijakan Pintu Terbuka
Akibat adanya politik pintu terbuka, banyak reaksi serta kritikan dari berbagai pihak. Para kaun humanis menentang praktek ekploitasi oleh kolonial Belanda. Hal ini memicu Theodore van Deventer mengkritik kebijakan Belanda dan menuntut untuk memperhatikan serta mensejahterakan masyarakat pribumi. Kritik ini kemudian dikenal dengan Politik Etis atau Politik Balas Budi.

Politik Etis (1901-1942)
Ratu Wilhelmina dalam pidatonya pada 17 September 1901 mengungkapkan bahwa Pemerintah Belanda memiliki panggilan moral kepada kaum pribumi dan kemudian lahirlah Politik Etis yang dituangkan dalam Trias Van Deventer yang meliputi :
  1. Irigasi yaitu dengan membangun serta memperbaiki engairan dan bendungan untuk keperluan bidang pertanian.
  2. Edukasi, yaitu penyelenggaraan pendidikan bagi pribumi
  3. Migrasi, yaitu memindahkan kepadatan penduduk di Jawa ke daerah lain
Selengkapnya : Trilogi van Deventer

    Senin, 18 Juli 2016

    VOC mengalami puncak perkembangannya yaitu pada abad ke 17 sampai awal abad ke 18 yaitu VOC sudah mengungungguli kerajaan - kerajaan daerah serta menjadikan mereka bawahan dari VOC. Sepanjang jalur perdagangan rempah - rempah diantaranya tanjung harapan, India sampai Indonesia sudah di kuasai VOC. Rempah - rempah dari daerah jajahan kemudian dijual ke eropa. Dibalik kesuksesan ini terpendam masalah - masalah yang sangat kompleks diantaranya, dengan semakin meluasnya daerah jajahan pengawasan juga semakin sulit serta pengelolaan semakin sulit juga. Selain itu di Indonesia tepatnya di Batavia sebagai pusat kekuasaan di Indonesia juga memiliki permasalahan sendiri. Batavia semakin ramai dan padat akan orang - orang timur asing yaitu orang Cina dan Jepang yang diizinkan tinggal di Batavia.

    Pada 27 Maret 1749 Raja Willem IV menetapkan Undang - Undang bahwa VOC dialihkan dibawah kekuasaannya dan mengubah kekuasaan anggota pengurus "Dewan Tujuh Belas" yang semula dipilih parlemen dan provinsi pemegang saham dialihkan menjadi tanggung jawab Raja WIllem IV. Raja Willem juga mengabil ailh posisi panglima tertinggi tentara VOC. Pengawasan yang kurang memadai dari pemerintah Belanda kepada VOC menjadikan peluang adanya korupsi di tubuh VOC. Dengan adanya korupsi tersbut membuat keuntungan dagang VOC semakin melorot dan bahkan pada 1673 VOC tidak mampu membayar dividen. Adanya perang juga menambah beban VOC.

    Kemunduran VOC juga bisa dlihat dari sistem upeti yang dilakukan di VOC. Pejabat yang lebih rendah harus membei upeti kepada pejabat diatasnya yang lebih tinggi dan kegiatan ini bermuatan korupsi. Sebagai contoh Gubernur Van Hoorn menyimpan 10 juta gulden untuk dibawa kembali ke Belanda pada 1709 sedangkan gajinya sendiri adalah 700 gulden sebulan. Selain itu untuk bisa menjadi pegawai VOC diterapkan aturan sogok menyogok, VOC memasang tarif f 3.500,- untuk menjadi pegawai onderkoopman dan untuk menjadi kaptein harus menyogok  f 2000,-. Penyakit korupsi mewabah di setiap sektor pengelolaan dari tubuh organisasi VOC, beban hutang semakin bertambah dan pada akhirnya VOC bangkrut. Bahkan ada yang memberi ungkapan berbeda tentang kepanjangan singkatan dari VOC yaitu Vergaan Onder Corruptie atau tenggelam karena korupsi.
    Kebangkrutan ini membuat VOC dibubarkan dan kemudian segala hutang dan roda pemerintahan di wilayah jajahan dialihkan ke negara Belanda. Pada Desember 1799 VOC secara resmi dibubarkan, pada saat itu Gubernur Jendral VOC terakhir yakni Van Overstraten ditugaskan untuk menjaga keamanan Hindia Belanda selama masa peralihan dan mempertahankan wilayah pulau Jawa dari serangan Inggris.

    Faktor penyebab keruntuhan VOC diantaranya :
    • Adanya korupsi di tubuh VOC yang dilaukan oleh pegawai - pegawai VOC
    • Penyelewengan penggunaan dana VOC
    • Penggunaan dana kas VOC terhadap perlawanan - perlawanan atau biaya perang di daerah
    • Pembengkakan anggaran karena adanya perluasan wilayah
    • Persaingan kongsi dagang dengan portugis dan inggris
    • Banyaknya hutang VOC