Tampilkan postingan dengan label Sastra Sufistik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sastra Sufistik. Tampilkan semua postingan

Selasa, 04 Januari 2011

jikalau diibarat
sebiji kelapa kulit dan isi tiada serupa
janganlah kita bersalah sapa
tetapi beza tiadalah berapa


sebiji kelapa
ibarat sama
lafaznya empat suatu ma�ana
di situlah banyak orang
terlena
sebab pendapat kurang
sempurna

kulitnya itu ibarat syariat
tempurungnya itu ibarat
tariqat
isinya itu ibarat haqiqat
minyaknya itu ibarat ma�rifat

Abdurrauf begitulah nama yang dilekatkan kepada anak lelaki itu. Dalam pertumbuhannya kelak ia dikenal sebagai ulama. Dan orang-orang dengan hormat memanggilnya dengan sebutan Syeikh Abdurrauf. Namanya yang singkat dan sederhana ini kadang-kadang dilengkapi dengan Syeikh Abdurrauf bin Ali al-Fansuri. Oleh kharisma yang dimilikinya kemudian orang memberi sejumlah gelar seperti, Syeikh Kuala, Syeikh di Kuala atau Ciah Kuala dan Tengku Ciah Kuala. Ada pula yang menyebutnya dengan nama Abdurrauf van Singkel. Sebutan ini semua ada sebabnya. Disebut Syeikh Kuala karena Syeh Abdurrauf pernah menetap dan mengajar hingga wafat�nya dan dimakamkan di Kuala sungai Aceh. Dan disebut Abdurrauf van Singkil karena Syeikh Abdurrauf lahir di Singkel l593 M), Aceh Selatan.

Dimasa mudanya mula-mula Abdurrauf belajar pada �Dayah Simpang Kanan� di pedalaman Singkel yang dipimpin Syeikh Ali Al-Fansuri ayahnya sendiri. Kemudian ia melanjutkan belajar ke Barus di �Dayah Teungku Chik� yang dipimpin oleh Syeikh Hamzah Fansuri.

Syeikh Abdurrauf sempat pula belajar di Samudera Pase di Dayah Tinggi Syeikh Shamsuddin as-Sumaterani. Dan setelah Syeikh Syam�suddin pindah ke Banda Aceh lalu diangkat Sultan Iskandar Muda sebagai Qadhi Malikul Adil, Syeikh Abdurrauf mendapat kesempatan untuk pergi belajar ke negeri Arab. Selama belajar di luar neg�eri, lk l9 tahun Syeikh Abdurrauf telah menerima pelajaran dari l5 orang ulama.
Disebut pula Syeikh Abdurrauf telah berkenalan dengan 27 ulama besar dan l5 orang sufi termashur. Tentang pertemuannya dengan para sufi, ia berkata, �Adapun segala sufi yang mashur wilayatnya yang bertemu dengan fakir ini dalam antara masa itu...�.

Pada tahun l66l M Syeikh Abdurrauf kembali ke Aceh. Setelah tinggal beberapa waktu di Banda Aceh ia mengadakan perja�lanan ke Singkel. Kemudian kembali ke Banda Aceh untuk memangku jabatan selaku Qadly Malikul Adil, sebagai Mufti Besar dan Syeikh Jamiah Baitur Rahim, untuk menggantikan Syeikh Nuruddin ar-Raniri yang pergi menuju Mekkah.

Mengenai pendapatnya tentang faham orang lain nampaknya berbeda dengan Syeikh Nuruddin. Syeikh Abdurrauf tidak begitu keras. Hal ini dapat dilihat pada tulisan DR. T. Iskandar: �Walaupun Abdurrauf termasuk penganut fahaman tua mengenai ajaran�nya dalam ilmu tasawuf, tetapi -berbeda dengan Nuruddin ar-Raniri- ia tidak begitu kejam terhadap mereka yang menganut fahaman lain. Terhadap Tarekat Wujudiah, ia berpendapat bahwa orang tidak boleh begitu tergesa-gesa mengecap penganut tarekat ini sebagai kafir.

Membuat tuduhan seperti itu sangatlah berbahaya. Jika benar ia kafir, apakah gunanya mensia-siakan perkataan atasnya dan sekira�nya ia bukan kafir, maka perkataan itu akan berbalik kepada dirinya sendiri�.(�Abdurrauf Singkel Tokoh Syatariah (Abad ke-l7)�(Dewan Bahasa, 9;5, Mei l965).

Syeikh Abdurrauf menulis buku dalam bahasa Melayu dan Arab. Bukunya yang terkenal a.l., �Turjumanul Mustafiid�, �Miraatut Thullab� (Kitab Ilmu Hukum), �Umdatul Muhtajin lla Suluki Maslakil Mufradin� (Mengenai Ke Tuhanan dan Filsafat), �Bayan Tajalli� (Ilmu Tasawuf), dan �Kifayat al-Muhtajin�(Ilmu tasawuf). Seluruh karyanya diulis dalam bentuk prosa. Hanya satu yang ditulis dalam bentuk puisi yakni, �Syair Ma�rifat�.

Sebagai penyair sufi Syeikh Abdurrauf mempelihatkan kepiawaian�nya dalam menulis puisi �Syair Ma�rifat� itulah. Salah satu naskah syair ini disalin di Bukit Tinggi tahun l859. Syair Ma��rifat mengemukakan tentang empat komponen agama Islam. Yakni Iman, Islam, Tauhid dan Ma�rifat. Nampak dalam syair itu unsur ma�rifat sebagai pengetahuan sufi yang menjadi puncak tertinggi. Dalam puisi itu Abdurrauf mencoba menjelaskan tentang pendekatan amalan tasawuf menurut aliran al-Sunnah wal al-Jamaah. Ikuti petikan syairnya dibawah ini,

jikalau diibarat
sebiji kelapa
kulit dan isi tiada serupa
janganlah kita bersalah sapa
tetapi beza tiadalah berapa

sebiji kelapa
ibarat sama
lafaznya empat suatu ma�ana
di situlah banyak orang
terlena
sebab pendapat kurang
sempurna
kulitnya itu ibarat syariat
tempurungnya itu ibarat
tariqat
isinya itu ibarat haqiqat
minyaknya itu ibarat ma�rifat

(�Syair Ma�rifat. Perpustakaan Universiti Leiden OPH. No.78, hlm. 9-25/ Dewan Bahasa dan Pustaka, Desember l992)

Tingkat ma�rifat merupakan tahap terakhir setelah melalui jenjang syariat, tarekat dan hakekat dalam perjalanan menuju Allah. Untuk sampai ke tingkat ma�rifat menurut Syeikh Abdurrauf orang harus lebih dahulu menjalankan aspek syariat dan tarekat dengan tertib. Orang harus melakukan ibadah dengan benar dan ikhlas. Dalam kata-katanya sendiri Syeikh Abdurrauf berucap: �Dan sibukkanlah dirimu dalam ibadah dengan benar dan ikhlas demi melaksanakan hak Tuhanmu, niscaya engkau termasuk golongan ahli ma�rifat�.

Suasana mistik akan lebih terasa bila kita membaca dan mengikuti puisinya dalam baris-baris berikut ini. Petikan Syair Ma�rifat dari tulisan Arab berbahasa Melayu, bertulisan tangan ini dikutip dari ML. 378, halaman 40, terdapat di Perpustakaan Nasional RI. berbunyi sebagai berikut,

Airnya itu arak yang mabuk
siapa minum jadi tertunduk
airnya itu menjadi tuba
siapa minum menjadi gila

ombaknya itu amat gementam
baiklah bahtera sudahnya
karam
laut ini laut haqiqi
tiada bertengah tiada bertepi

Buku karya Syeikh Abdurrauf lainnya diberi judul �Kifayat al-Muhtajin� disebut bahwa buku itu ditulisnya atas titah Tajul �Alam Safiatuddin, seorang Sultanah yang mengayomi ulama dan sastrawan. Kitab ini berisi ilmu tasawuf. Disebutkan sebelum alam semesta ini dijadikan Allah, hanya ada wujud Allah.
Ulama besar dan pujangga Islam Syeikh Abdurrauf meninggal l695 M dalam usia l05 tahun. Di makamkan di Kuala, sungai Aceh, Banda Aceh.

==>sufinews

Selasa, 28 Desember 2010

Syekh Abdul Karim Ibnu Ibrahim Al Jaili [1366M - 1430M]

Qalbu adalah Singgasana Allah
Pusat kendali diri setiap manusia
Landasan penampakkan Al Haq
Ranah hamparan kasih rahmatNya

Ia adalah cerminan hakikatNya
Mikroskop nilai keluhuranNya
Wadah penampung kalamNya
Jaring penangkap isyarat-isyaratNya

Ia dianalogikan dengan cahaya
Diurai dengan huruf-huruf Qur�ani
Ia laksana, minyak dan lampu
Dalam Misykat serta kaca menyala

Ia mudah terbalik dan pongah,
Qalbu yang ingat mulia, yang lalai nista,
Ia kadang bersinar, kadang gelap,
Ia menyinari jagad diri dan kehidupan,

Qalbu didatangi DutaNya untuk
Dipersiapkan menerima tugas ketuhanan
Qalb suci bermoral malaikatNya
Qalbu kotor berkarakteri setan terlaknat

Qalbu adalah penanda setiap insan
Adakah ia manusia baik atau buruk
Ia merupakan pundit rahasia batin
Samudera pengetahuan setiap manusia
Ia kunci pembuka keagunganNya
Pintu pembentang rahasia-rahasiaNya

Itulah wajah hakiki qalbumu yang sesungguhnya
Simpanlah rahasia batinmu, kau akan melihat rahasiaNya

Kebahagiaan dunia bisa diraih dengan jejak kaki
Kebahagiaan hakiki akhirat hanya bisa ditempuh dengan qalbu

Penyingkapan Agung dan tirai Makrifat terbuka oleh �laku� qalbu
Rapor kebaikan dan keburukan setiap insani berdasar �laku� qalbu

Manusia yang membiarkan kalbunya penuh noda hati
Selamanya tidak akan merasakan penyingkapan rahasia AgungNya

Qalbu adalah perbendaharaan agung
Modal utama setiap manusia menujuNya
Insan yang tidak memuliakan kalbunya
Akan menuai keburukan abadi di sisiNya

Qalbu adalah landasan pacu hakikat
Nilai hakiki tidak akan landing di qalbu yang kotor
Qalbu yang tidak suci berlumur hijab
Qalbu yang terhijab tidak akan Makrifatullah

Qalbu adalah media Wushul da Qurb
Keintiman denganNya juga dengan �laku� qalbu
Hakikat kebaikan bersendikan qalbu
Kebaikan yang tidak bernurani, adalah busuk

Ilham suciNya turun di qalbu suci
Qalbu buruk adalah landasan bisikan jahat setan
Muara �laku� qalbu adalah ridhaNya
KerelaanNya hanya berdasarkan �laku� qalbu jernih
KemurkaanNya akibat �ulah� qalbu
Siksa pedih akhirat juga akibat �ulah� busuk qalbu

Qalbu adalah sentra penentu nasib
Kebahagiaan dan kesengsaraan hakiki akibat qalbu
Qalbu yang taat beroleh ridhaNya
Qalbu yang kufur, akan menuai kemurkaanNya
Qalbu yang pongah dan tersesat
Adalah qalbu yang lupa mendzikir padaNya
Wajah kebaikan qalbu adalah lurus
Wajah kesesatan qalbu, tindak kemaksiatannya

Tajamkan mata Qalbu dan pikir
Akan tersingkap keagungan rahasia ayat-ayatNya
Qalbu adalah pengantin jasad dan ruh
Hanya Qalbu Sakinah yang sambung dengan DiriNya

Lihatlah kepada �laku� baik qalbumu
Itulah rahasia batinmu, dan modal utamamu menujuNya
Pandanglah kebaikan-kebaikanNya
Akan ditampakkan untukmu segala makna hakiki

==> pejalan-cahaya.blogspot.com

Jumat, 10 Desember 2010

I. MADAH DOA

PUJI bagi Khalik Yang Kudus, yang telah menempatkan arasy-Nya di atas perairan, dan yang telah menjadikan segala makhluk di bumi. Kepada langit telah Ia berikan kekuasaan dan kepada bumi kepatuhan; kepada langit telah Ia berikan gerak dan kepada bumi ketenangan yang tetap.
Ia tinggikan angkasa di atas bumi bagai tenda tanpa tiang-tiang penyangga. Dalam enam masa Ia ciptakan ketujuh kaukab dan dengan dua huruf1 Ia ciptakan kesembilan kubah langit.
Pada mulanya Ia sepuh bintang-bintang dengan emas, hingga di rnalam hari langit dapat bermain triktrak.
Dengan berbagai sifat Ia anugerahi jaringan tubuh, dan telah ditaruh-Nya debu pada ekor burung jiwa.2
lautan Ia jadikan cair sebagai tanda pengabdian, dan puncak-puncak gunung pun bertudung salju karena takut kepada-Nya.
Ia keringkan dasar laut, dan dan batu-batunya Ia hasilkan manikam-manikam mirah, dan dari darah-Nya, wangi kesturi.

Kepada gunung-gunung telah Ia berikan puncak-puncak sebagai golok dan lembah-lembah sebagai ikat pinggang; maka gunung-gunung itu pun menegakkan kepala dengan bangga.

Kadang Ia jadikan kelompok-kelompok mawar timbul dari wajah api.3

Kadang Ia bentangkan titian melintang wajah perairan.4

Dibuat-Nya seekor nyamuk menggigit Nimrod, musuh-Nya, yang menderita empat ratus tahun karenanya.5

Dalam kearifan-Nya Ia menyuruh laba-laba membuat sarang untuk melindungi yang tertinggi di antara manusia.6

Ditekan-Nya pinggang semut hingga semut itu serupa sehelai rambut dan dijadikan-Nya semut itu kawan bagi Sulaiman.7

Diberi-Nya semut itu jubah hitam orang Habsyi dan baju sutera tak bertenun yang layak bagi burung merak.

Ketika dilihat-Nya permadani alam cacat, disulami-Nya hingga serasi.

Ia lumuri pedang dengan warna bunga tulip; dan dari uap Ia buat persemaian bagi bunga-bunga seroja.

Ia basahi gumpalan-gumpalan tanah dengan darah agar Ia dapat mengambil daripadanya batu-batu berharga dan manikam-manikam mirah.

Matahari dan bulan --yang satu di siang hari, yang lain di malam hari, tunduk hormat pada debu; dari puja-hormat itu berasal gerak mereka. Tuhanlah yang telah membentangkan siang dengan warna putih, Ia juga yang telah melipatnya jadi malam dan menghitamkannya.

Kepada burung merak Ia berikan lengkung leher baju dari emas; dan burung Hudhud Ia jadikan pembawa berita tentang Jalan itu.8

Angkasa bagai burung yang mengepak-kepakkan sayap sepanjang jalan yang telah ditentukan Tuhan baginya, sambil memukul-mukul Pintu dengan kepalanya seperti dengan martil.

Tuhan telah membuat angkasa berputar -- malam berganti siang dan siang berganti malam.

Bila Ia meniupkan nafas-Nya pada tanah liat, terciptalah manusia; dan dari sedikit uap dibentukNya dunia.

Kadang disuruh-Nya anjing berjalan di muka pengembara; kadang digunakanNya kucing menunjukkan Jalan itu.9

Kadang Ia berikan kesaktian Sulaiman pada sebatang tongkat; kadang Ia berikan kepandaian berbicara pada semut.

Dari sebatang tongkat Ia jadikan seekor ular; dan dengan sebatang tongkat ia timbulkan limpahan air.10

Ia telah menempatkan di angkasa bola kebanggaan, dan mengikatnya dengan besi bila bola itu susut dengan warna merah menyala.

Ia timbulkan seekor unta dari batu karang, dan Ia buat anak lembu emas itu menguak.

Di musim dingin ia tebarkan salju perak; di musim gugur, emas daunan kuning.

Ia letakkan selubung pada duri dan Ia warnai itu dengan warna darah.

Kepada melati Ia berikan empat helai kelopak dan di kepala bunga tulip Ia kenakan topi merah.

Ia kenakan mahkota emas di kening bunga narsis dan Ia jatahkan mutiara-mutiara embun ke dalam peti-sucinya.

Menanggap Tuhan, jiwa tertanya-tanya, akal pun tak sampai; karena Tuhan, maka langit berpusing, bumi pun bergoyang.

Dari punggung ikan hingga ke bulan setiap zarrah ialah saksi akan ada-Nya.

Dasar bumi dan puncak langit menyatakan sembah-hormat mereka masing-masing pada-Nya.

Tuhan membuat angin, tanah, api dan darah, dan dengan semua ini Ia menyatakan rahasiaNya.

Ia mengambil tanah-liat dan meremasnya dengan air, dan setelah empat puluh pagi Ia menaruh di dalamnya ruh yang menghidupkan tubuh.

Tuhan memberinya kecerdasan agar dapat membedakan benda-benda.

Ketika dilihat-Nya kecerdasan itu dapat membeda-bedakan, Ia berikan padanya pengetahuan agar dapat menimbang dan memikir-mikir.

Tetapi ketika manusia berhasil memiliki berbagai kecakapan, ia mengakui kelemahannya dan diliputi keheranan, sementara badan jasmaninya menyerah pada perbuatan-perbuatan lahiriah.

Kawan atau lawan, semua menundukkan kepala di bawah kayu kuk yang dipasang Tuhan pada kearifannya: dan heran, Tuhan pun mengawasi kita semua.

Pada permulaan zaman Tuhan menggunakan gunung-gunung selaku paku pengukuh bumi dan membasuh wajah bumi dengan air lautan. Kemudian Ia tempatkan bumi di atas punggung lembu jantan, dan lembu jantan itu di atas ikan, dan ikan itu di atas udara. Tetapi di atas mana terletak udara? Di atas yang tiada. Tetapi yang tiada itu tiada --dan segalanya itu pun tiada. Kalau demikian, kagumilah buah karya Tuhan, meskipun Ia sendiri memandang segalanya itu sebagai tiada. Dan mengingat bahwa hanya Hakikat-Nya sendirilah yang ada, maka pastilah tiada suatu pun selain Dia. Arasy-Nya di atas perairan dan dunia ini di udara. Tetapi tinggalkanlah perairan dan udara itu, karena segalanya Tuhan: arasy dan dunia itu hanya azimat. Tuhan adalah segalanya, dan benda-benda hanya punya nilai dalam sebutan saja; dunia yang terlihat dan tak terlihat hanya Dia Sendiri jua.

Tiada siapa pun kecuali Dia. Tetapi juga, tak seorang pun dapat melihat Dia. Mata ini buta, meskipun dunia diterangi dengan matahari cemerlang. Andaikan kau dapat melihat Dia sekejap saja pun, kau akan kehilangan akal, dan bila kau dapat melihat Dia sepenuhnya, kau akan kehilangan dirimu sendiri.

Semua orang yang sadar akan ketidaktahuan mereka bercancut tali wanda dan berkata dengan sungguh-sungguh, "O Kau yang tak tampak meskipun Kau membuat kami kenal pada-Mu, setiap orang ialah Kau dan tiada yang lain kecuali Kau yang dinyatakan. Jiwa tersembunyi dalam raga dan Kau tersembunyi dalam jiwa. O Kau yang tersembunyi dalam apa yang tersembunyi, Kau lebih dari segalanya. Semua mengetahui diri mereka ada dalam diri-Mu dan mereka pun mengetahui diri-Mu dalam segalanya. Karena rumah-Mu dikelilingi para pengawal dan penjaga, bagaimana dapat kami mendekat ke hadiratMu? Tiada hati maupun akal budi dapat sampai pada hakikat diri-Mu, dan tak seorang pun mengenal sifat-sifat-Mu. Karena Kau kekal dan sempurna, maka Kau senantiasa mempermalukan si bijak. Apa lagi yang dapat kami katakan, karena Kau tak terlukiskan!"

O, hatiku, bila kau ingin sampai pada ambang pengertian, berjalanlah hati-hati. Bagi setiap zarrah ada pintu tersendiri, dan bagi setiap zarrah ada jalan tersendiri yang menuju ke Wujud penuh rahasia yang kusebutkan itu. Untuk mengenal diri sendiri orang harus menghayati seratus kehidupan. Tetapi kau harus mengenal Tuhan dari Dia sendiri dan bukan dari dirimu; Dialah yang membukakan jalan menuju padaNya, bukan pengetahuan manusia. Pengetahuan tentang Dia tak tersedia di pintu orang-orang yang pandai menyusun kata. Pengetahuan dan kebodohan di sini sama, karena keduanya tak dapat menjelaskan maupun melukiskan. Pendapat orang-orang tentang ini hanya timbul dalam angan-angan mereka; dan aneh tentunya untuk mencoba mengambil kesimpulan dari apa yang mereka katakan: baik atau buruk, apa yang mereka katakan itu hanya berasal dari diri mereka sendiri. Sedang Tuhan di atas segala pengetahuan dan di luar segala bukti, dan tak satu pun yang dapat menggambarkan Keagungan Suci diri-Nya.

O, kau yang menghargai kebenaran, janganlah mencari kias; adanya Wujud yang tak terbandingkan ini tak memungkinkan kias. Karena tiada para nabi maupun para utusan dari langit memahami sezarrah terkecil pun; mereka semua bersujud sambil berkata, "Kami tak mengenal Tuan sebagaimana keadaan Tuan yang sebenarnya."

Kalau demikian, apalah artinya aku ini, yang beranggapan bahwa aku mengenal Dia?

O, keturunan bodoh manusia pertama, khalifah Tuhan di bumi,11 berusahalah untuk ikut memiliki pengetahuan ruhani bapamu.12 Segala mahluk yang diciptakan Tuhan dari yang tiada. bersujud di hadapan-Nya. Ketika Tuhan ingin menciptakan Adam, dikeluarkan-Nya Adam dari balik seratus cadar, lalu kata-Nya kepada Adam, "O Adam, sekalian makhluk bersembah-sujud padaKu; kini tiba saatnya bagimu menerima sembah-sujud mereka." Yang satu itu, yang tak mau melakukan sembah-sujud ini pun diubah dari malaikat menjadi setan.13 Ia dikutuk dan tak memiliki pengetahuan rahasia itu. Wajahnya jadi hitam, lalu sembahnya pada Tuhan, "O, Tuhan yang memiliki kebebasan mutlak, jangan tinggalkan hamba."14

Yang Maha Tinggi menjawab, "Kau yang terkutuk, ketahuilah bahwa Adam hamba-Ku dan juga raja alam ini. Hari ini pergilah ke hadapannya, dan esok bakarlah Ispand15 untuknya."

Ketika jiwa disatukan dengan raga, maka ia pun merupakan bagian dari keseluruhan itu: belum pernah ada pesona yang mengagumkan seperti itu. Jiwa punya peranan dalam apa yang tinggi, dan raga punya peranan dalam apa yang rendah; terbentuklah paduan antara tanah liat yang pekat dan ruh yang murni. Karena paduan ini, maka insan pun menjadi yang paling mengagumkan dari segala rahasia. Kita tak tahu dan tak mengerti sedikit pun tentang ruh kita. Jika kau ingin mengatakan sesuatu tentang ini, lebih baik kau diam. Banyak yang tahu akan permukaan lautan ini, tetapi mereka tak mengerti sedikit pun akan dasarnya yang terdalam dan dunia lahiriah ini ialah pesona yang melindunginya. Tetapi pesona yang berupa rintangan-rintangan jasmani ini akhirnya akan rusak. Dan akan kau temukan harta itu bila pesona itu lenyap; jiwa pun akan menyingkapkan dirinya sendiri bila raga tersingkir. Tetapi jiwamu ialah suatu pesona yang lain; dalam hal yang berhubungan dengan rahasia ini, jiwa itu suatu kenyataan yang lain. Maka tempuhlah jalan yang akan kutunjukkan, tetapi janganlah minta penjelasan.

Di lautan maha raya ini, dunia ialah sebuah zarrah, dan zarrah itu sebuah dunia. Siapa tahu, mana yang lebih berharga di sini, batu permata atau kerikil?

Kita telah mempertaruhkan hidup kita, akal budi kita, jiwa kita, agama kita, untuk memahami kesempurnaan sebuah zarrah. Jahitlah bibirmu dan jangan bertanya apa-apa tentang langit tertinggi atau arasy Tuhan. Tak seorang pun yang sungguh-sungguh tahu akan hakikat zarrah itu - tanyakan pada siapa saja sesukamu. Langit bagai kubah terbalik, tanpa ketetapan yang pasti, bergerak dan sekaligus juga tak bergerak. Orang tenggelam dalam renungan tentang rahasia yang demikian, yang bagai cadar berlapis cadar; orang pun serupa gambar yang terlukis di dinding; ia hanya bisa merasa kecewa melihat hasratnya yang tak sampai.

Pikirkan mereka yang menempuh jalan ruhani. Lihat apa yang terjadi pada Adam; ingat berapa tahun yang ia lewatkan dalam berduka. Renungkan air bah di masa Nuh dan sekalian kepala suku itu, yang menderita dalam cengkeraman orang-orang yang jahat. Pikirkan Ibrahim yang penuh cinta pada Tuhan: ia menderita penganiayaan dan dilemparkan ke dalam api. Ingat Ismail malang, yang dikorbankan demi cinta ilahiat. Tengok Ya,kub yang menjadi buta lantaran meratapi putranya. Lihat Yusuf, yang mengagumkan baik ketika berkuasa maupun ketika menghamba, ketika dalam sumur dan dalam penjara. Kenangkan Ayub yang papa, yang menggeliat di tanah menjadi mangsa cacing dan serigala. Ingat Yunus, setelah tersesat dari Jalan itu, meninggalkan bulan ke perut ikan. Lihat Sulaiman, yang kerajaannya dikuasai jin. Ingat Zakaria, begitu menyala-nyala cintanya pada Tuhan sehingga ia tetap diam ketika orang-orang membunuhnya; dan Yahya, yang dihinakan di muka orang banyak, dan kepalanya diletakkan di atas lempengan kayu. Tegak berdirilah di kaki tiang Salib mengagumi Isa ketika ia menyelamatkan dirinya dari tangan-tangan orang Yahudi. Dan akhirnya, renungkanlah segala yang diderita oleh Pemimpin sekalian nabi itu, berupa penghinaan dan penganiayaan dari orang-orang yang jahat.

Setelah itu, adakah kau mengira mudah saja untuk sampai ke pengetahuan keruhanian? Itu tak kuranglah artinya dari keberanian menghadapi segalanya. Apa yang akan kukatakan selanjutnya, karena tak ada lagi yang mesti kukatakan, dan tak ada pula setangkai mawar pun yang tinggal dalam semak! O, Kearifan! Kau tak lebih dari anak susuan; dan akal budi orang-orang tua dan berpengalaman pun sesat dalam pencarian ini. Betapa aku, si dungu, akan dapat sampai ke Hakikat ini; dan kalaupun dapat, bagaimana aku akan bisa masuk lewat pintu itu? O Khalik Yang Kudus!

Hidupkan semangatku! Orang-orang yang percaya dan tak percaya sama-sama bermandi darah, dan kepalaku berpusing bagai langit. Aku bukan tanpa harapan, tetapi aku tak sabar.

Kawan-kawanku! Kita sama-sama bertetangga: aku ingin mengulang-ulang pembicaraanku padamu siang dan malam, agar kalian tidak sejenak pun menghentikan keinginan mulai mencari Kebenaran.

Catatan kaki:
1 Dua huruf di sini maksudnya huruf Kaf dan Nun yang membentuk kata "Kun", artinya "Jadilah!"

2 Burung jiwa: yang menghubungkan jiwa dengan raga (tubuh).

3 Dapat dicari rujukannya pada peristiwa ketika Nabi Ibrahim dilemparkan oleh Nimrod ke dapur api, tetapi diselamatkan oleh Malaikat Jibril dan api pun berubah jadi taman mawar.

4 Yaitu ketika Nabi Musa dan orang-orang Israel menyeberangi Laut Merah.

5 Yaitu ketika Nimrod memerangi Nabi Ibrahim, tetapi tentaranya dikalahkan oleh kawanan nyamuk; seekor di antaranya masuk ke dalam benak Nimrod; ia, yang ingin jadi penguasa semesta, dapat dikalahkan oleh makhluk yang sekecil itu.

6 Maksudnya laba-laba yang melindungi Nabi Muhammad dengan membuat sarang di pintu masuk gua tempat Nabi bersembunyi.

7 Semut itu menjadi penunjuk jalan ketika Nabi Sulaiman melintasi gurun.

8 Burung Hudhud (Latin: upupa) --sejenis burung bergombak, sebesar kutilang-- dikenal sebagai pembawa surat dari Nabi Sulaiman kepada Ratu dari Saba (Sheba) yang bersama rakyatnya mula-mula menjadi kaum penyembah matahari. Surat itu berisi ajakan untuk menjadi orang yang berserah diri kepada Allah. (Lihat Al-Quran, XXVII, 2044)- H.A.

9 Anjing binatang najis bagi orang Muslim, tetapi berburu dengan anjing terlatih diperbolehkan. Kucing tidak najis; Nabi Muhammad sering dibangunkan kucing bila saat sembahyang tiba.

10 Maksudnya tongkat Nabi Musa yang --atas perintah Tuhan-- dapat berubah menjadi seekor ular (Al-Quran, XX, 17-21) dan dapat menimbulkan dua belas mata air ketika dipukulkan pada batu karang (Al-Quran, II, 60) - H.A.

11 Dengan manusia pertama maksudnya Adam. Dalam Al-Quran, Surah 11:30 disebutkan bahwa Tuhan hendak menjadikan Adam (dan berarti juga umat manusia, keturunannya) sebagai khalifah (wakil ) Tuhan di bumi.

12 Mungkin yang dimaksudkan ialah apa yang diajarkan Tuhan pada Adam, yaitu nama-nama (Al-Quran, Surah 11: 31). Ada sebagian, terutama kaum Sufi, yang berpendapat bahwa nama-nama ini ialah atribut-atribut Tuhan; dan ada pula yang berpendapat bahwa nama-nama ini ialah nama-nama hewan dan tumbuh-tumbuhan (Pickthall, The Meaning of the Glorious Koran, cetakan ke 11, halaman 36, catatan kaki 1).

13 Dalam Al-Quran, Surah 11: 34 dan ayat-ayat dalam beberapa surah yang lain disebutkan bahwa setelah menciptakan Adam, Tuhan pun memerintahkan sekalian malaikat agar bersujud pada Adam. Maka semua mereka pun bersujud, kecuali iblis.

14 Iblis (setan) yang dikutuk Tuhan karena tak mau bersujud kepada Adam itu mohon pada Tuhan (seperti disebutkan dalam Al-Quran Surah VII: 14, 16, 17) agar diberi pertangguhan waktu kebebasan) sampai hari kiamat untuk menyesatkan manusia dari jalan Tuhan (jalan yang benar).

15 Ispand adalah sebangsa daun obat-obatan yang dibakar sebagai penangkal pengaruh jahat pada waktu kelahiran anak atau perkawinan.

Jumat, 03 Desember 2010

Harapan identik dengan adanya keinginan. Orang yang menginginkan suatu hal pastilah ia memiliki harapan agar hal tersebut bisa segera terengkuhnya. Sebaliknya, untuk mendapatkan sesuatu tentunya seseorang harus ada pengorbanan, baik pengorbanan secara fisik maupun perasaan. Pengorbanan juga identik dengan persembahan.

Berbicara masalah harapan dan persembahan, kali ini akan diorientasikan pada harapan dan persembahan Syu�aib AS. Syu�aib AS merupakan salah satu dari sekian banyak nabi dan rasul yang diutus tuhan untuk menjadi perantara memberi pencerahan kepada umat manusia yang berjalan dalam lembah kesesatan. Ia diutus untuk kaum Madyan yang cenderung berbuat kemungkaran, kemaksiatan, dan tipu-menipu dalam kehidupan sehari-hari. Yang paling jelas melekat pada kepribadian mereka adalah kecurangan dan penghianatan dalam hubungan dagang, seperti pemalsuan barang, pencurian dalam takaran dan timbangan.

��Berdo�alah, menangislah di waktu malam, sampai terdengar suara yang dahsyat dari langit memecah gendang telingamu�� (Jalaluddin Rumi, Diwan Syam-i Tabriz).

Ungkapan pertama, yaitu �Berdo�alah, menangislah di waktu malam, sampai terdengar suara yang dahsyat dari langit memecah gendang telingamu�, ini merupakan himbauan dan anjuran dari seorang Rumi. Dalam sajaknya, ia menghimbau kepada siapa saja yang hendak menuju tuhan agar senantiasa bermunajat pada suasana yang hening dan juga penuh dengan ketenangan. Suasana itu tidak lain adalah saat malam telah tiba. Tepatnya pada sepertiga malam karena saat itulah segala bentuk aktifitas manusia yang berkaitan dengan urusan keduniawian telah berhenti sejenak. Jadi momen itulah yang cocok untuk bermunajat kepada tuhan.

Mengapa waktu tersebut merupakan waktu yang cocok untuk bermunajat? Hal tersebut berdasar pada hadits nabi yang berbunyi: sesungguhnya setiap malam, disepertiga akhir malam, Allah turun ke langit dunia, Dia berkata: adakah yang bisa aku Bantu? Adakah yang bisa aku Bantu?

Perlu dijadikan catatan bahwa ungkapan Allah turun ke langit dunia, bukan merujuk pada eksistensi Dzat-tillah yang turun ke dunia. Dalam fenomena, Tuhan sebelumnya berada jauh dari tempat dan jangkauan manusia. Hal tersebut bertolak belakang dengan firman Allah yang artinya �Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat dari pada urat lehernya.� (QS. Qaf, ayat 16).

Berdasarkan ayat tersebut, keberadaan tuhan begitu dekat dengan diri pribadi seorang manusia. Ia bahkan lebih dekat dari urat leher manusia. Yang menjadi orientasi makna konotasi ungkapan Allah turun ke langit dunia, adalah rahmat dan hidayah Tuhan diberikan kepada seorang manusia, apabila ia berkenan bermunajat pada waktu itu, sebab Tuhan saat itu menawarkan rahmat dan hidayah-Nya kepada siapa saja yang sedang bermunajat atau memohon kepada-Nya.

Dalam karya ini, Rumi mengambil percontohan munajat yang dilakukan oleh Syu�aib AS. Kisah munajat Syu�aib ini tampaknya Rumi ambil dari karya Attar, yang berjudul Ilehinama. Hal itu mengisahkan bahwa Syu�aib ketika bermunajat mendapatkan bisikan gaib yang datang dari langit. Bisikan itu mempertanyakan perihal munajatnya. Saat itu Syu�aib AS bertaubat akan segala dosa yang pernah dilakukanya.

Katika suasan khusuk melingkupinya, terdengar seruan kepadanya bahwa segala dosanya akan diampuni. Selain itu, seruan itu juga menawarkan kepada Syu�aib AS perihal kenikmatan surga dan memerintahkan dia untuk segera mengakhiri munajatnya.

���Jika kau orang yang bergelimang dosa, akan kumaafkan kau dan kuampuni dosa-dosamu. Surgakah yang kau ingin raih? Lihatlah, kuberi sekarang, diam dan akhiri permintaanmu itu!� �� (Jalaluddin Rumi, Diwan Syam-i Tabriz)

Saat mendengar bisikan semacam itu, Syu�aib AS tidak serta-merta memperoleh kepuasan diri serta kebahagiaan hati. Ia tidak menghentikan munajatnya. Ia justru semakin khusuk dan bahkan menolak tawaran surga yang dijanjikan kepadanya. Ia tetap berdiri kokoh dengan harapan dan juga keinginan utamanya yaitu bertemu dan bersanding dengan Tuhan, sebab hanya Dia-lah Dzat yang sepatutnya dijadikan tujuan peribadatan dan penghambaan, bukan surga, neraka maupun yang lainya. Sebagaimana Al Qahthani menjelaskan bahwa Allah (Tuhan) adalah Dzat yang diibadahi dan dijadikan tujuan penghambaan, yang memiliki hak penghambaan serta peribadatan makhluk-makhlu-Nya.

Tidak hanya itu, Syu�aib bahkan meneguhkan hati bahwa ia akan berusaha dengan sekuat tenaga untuk bisa bertemu dan bersanding bersama tuhan, walaupun seluruh samudra telah menjadi api. Jika di tempat itu ia bisa bertemu dan bersanding dengan tuhan, ia akan rela menghanguskan diri ke dalamnya.

��Syu�aib menjawab, � Tak kuminta ini ataupun itu. yang kuminta hanyalah menatap wajah tugan semata. Walaupun tujuh samudra seluruhnya menjadi kobaran api yang mematikan, akan kuhanguskan diriku jika disitu aku dapat menyatu dengan-Nya!���(Jalaluddin Rumi, Diwan Syam-i Tabriz)

Bagi pecinta sejati, yaitu orang-orang yang benar-benar mengoroientasikan hidupnya hanya kepada tuhan semata, hal tersebut tidaklah aneh. Baginya, segala sesuatu yang bersifat kebendaan dan kemakhlukan berada dalam kekuasaan Tuhan. Sesungguhnya ia tidak memiliki suatu daya dan kekuatan kecuali atas kehendak dan kuasa Tuhan, sehingga ia tidak perlu ditakuti.

Api adalah benda dan makhluk sebab ia termasuk barang baru yang merupakan salah satu dari sekian banyak ciptaan Tuhan. Jika Tuhan berada di dalam kobaran api, bagi pecinta sejati, semua itu tidaklah menjadi sebuah penghalang untuk segera bertemu dan bersanding dengan-Nya. Ia tidak akan ragu dan takut akan sengatan panasnya, sebab ketika Tuhan telah bersamanya, panas api tidak akan ada artinya. Semua akan tunduk bersama kuasa-Nya. Sebagaimana kisah Ibrahim AS yang dilemparkan Namrut ke dalam tungku api yang begitu besar. Saat itu panas api bukan membakar tapi berubah menjadi kenikmatan dan juga rahmat. Firman tuhan yang berbunyi: Hai api menjadi dinginlah dan jadilah keselamatan bagi Ibrahim (QS. Al-Ambiyaa�:69).

Berbeda dengan orang-orang yang hanya berorientasi pada aspek keduniawian, ini sungguh aneh dan mustahil untuk dilakukanya. Jangankan ia berani menghanguskan diri ke dalam lautan api, ia baru melihat nyala api dari sebuah rumah yang terbakar, sudah lari terbirit-birit.

Bukan sekedar itu, dalam munajatnya, Syu�aib AS kembali mengujarkan harapanya secara lebih khusuk. Ia berkata bahwa munajat yang dilakukanya tidak akan berhenti sebelum ia mendapatkan pengabulan harapanya. Ia akan terus memohon dengan linangan air mata agar bisa bertemu dan bersanding dengan tuhan. Ia tidak mendambakan apapun selain tuhan. Ia bahkan rela berada di dalam neraka asalkan di tempat itu ia bisa bertemu dan bersanding dengan tuhan. Surga bukan jadi orientasinya lagi dan bukan tempat yang layak ia huni ketika di sana ia tidak menemukan tuhan.

Sungguh peneguhan hati yang luar biasa. Ia telah lepas dari keterikatan eksistensi surga dan neraka secara universal. Surga yang notabenenya menawarkan kenikmatan-kenikmatan, ia singkirkan begitu saja. Neraka yang notabenenya penuh dengan siksa dan derita, justru ia pilih asalakan di tempat itu ia bisa bertemu dan bersanding dengan tuhan.

��Tapi jika aku tak diizinkan menatap-Nya, maka mataku akan terendam air mata menutup rapat hingga terhalang untuk melihat impian itu, lebih baik aku menetap di api neraka, surga bukanlah tempat tinggalku�� (Jalaluddin Rumi, Diwan Syam-i Tabriz)

Untuk bisa bertemu dan bersanding bersama tuhan, seorang manusia harus dalam kondisi suci lahir dan batin.Tindakan untuk melepasakan diri dari keterikatan rasa terhadap segala sesuatu selain tuhan merupakan tahap terakhir dari hakekat bersuci dan mensucikan diri. Sebagaimana Al-Ghazali menegaskan bahwa bersuci itu ada empat tahapan, yaitu;

1) membersihkan lahir (anggota badan) dari hadas dan kotoran-kotoran,
2) membersihkan badan dari perbuatan-perbuatan dosa,
3) membersihkan hati dari akhlak yang tercela dan hina,
4) membersihkan pribadi dari selain tuhan.

Surga dan neraka merupakan salah satu dari ciptaan Tuhan. Setiap ciptaan berarti masuk dalam kriteria makhluk, oleh karena itu, surga dan neraka bukanlah tujuan utama bagi seorang pecinta sejati seperti Syu�aib AS. Eksistensinya harus dilenyapkan dari pribadi seseorang yang benar-benar hendak menuju tuhan. Hal tersebut disebabkan surga dan neraka sanggup menjadi tabir penghalang bagi pribadi seseorang untuk bisa bertemu dan bersanding bersama tuhan. Sejalan dengan itu, Al-Farabi juga menyatakan bahwa pada dirimu dan dari dirimu ada hijab, apalagi dari pakaianmu yang berupa badan, karena itu berusahalah untuk menghilangkan hijab dan telanjang, dan dalam keadan demikian engkau dapat mencapai-Nya.

Esensi dan eksistensi tuhan menjadi orientasi utama dalam munajat ini. Syu�aib AS selalu memberi penegasan-penegasan yang begitu mendalam akan hasrat dan keinginannya untuk bertemu dan bersanding besama tuhan. Baginya, surga terasa seperti neraka Jahannam apabila tidak diliputi dengan cinta kasih Tuhan.

��Tanpa belas kasih-Nya, surga bagiku hanya seperti neraka Jahannam. Aku akan dilulur oleh warna dan aroma bau sang maut; dimanakah cahaya keabadian yang diperdebatkan itu? �� (Jalaluddin Rumi, Diwan Syam-i Tabriz)

Ungkapan belas kasih-Nya jika ditinjau lebih jauh akan merujuk pada nama Tuhan dalam asmaulhusnah yaitu Ar-rahma dan Ar-rahim. Nama ini berada dalam urutan paling awal. Hal tersebut menunjukan bahwa nama ini merupakan nama yang utama bagi tuhan. Perlu diingat bahwa di dalam sebuah nama pastilah mencerminkan sifatnya. Jadi dalam nama Ar-rahman dan Ar-rahim mengandung sifat Maha Pengasih dan Maha Penyanyang. Sebagai mana Ibnu Qoyyim berkata bahwa di dalam nama-nama-Nya terdapat sifat-Nya.

Ar-rahman dan Ar-rahim merupakan pondasi awal dalam mencipta segala sesuatu yang berada dalam kesemestaan alam ini. Segala sesuatu tidak mungkin tercipta tanpa diikuti dengan kasih sayang Tuhan. Begitu juga dengan keberadaan surga. Surga tidak mungkin ada jika ia tidak diliputi kasih sayang Tuhan. Tuhan mengadakan suatu hal merupakan bukti kasih saying-Nya sehingga hal tersebut ada secara esensi dan eksistensinya. Oleh karena itu, nabi mengisarahkan agar dalam setiap hendak melakukan sesuatu harus diawali dengan membaca basmalah. Hal tersebut menandai bahwa setiap gerak manusia adalah berkat kasih sayang Tuhan.

Untuk kata surga, ini bisa ditafsirkan pada pemberian Tuhan yang berupa kenikmatan. Jika pemberian Tuhan yeng berupa kenikmatan ini dalam munajatnya diterima oleh Syu�aib, ia takut menjadi penghalang untuk bisa bertemu dan bersanding bersama-Nya. Ia menjadi lalai dengan tujuan utamanya, yaitu Tuhan. Ia bisa terbuai dengan kenikmatan-kenikamatan yang telah diberikan Tuhan kepadanya.

Jika ia telah terbuai oleh hal tersebut, secara otomatis ia akan lupa terhadap pemberi-Nya (Tuhan). Ketika ia lupa, kenikmatan itu bisa berubah menjadi bencana dan siksa bagi dirinya. Selain itu ia bisa gagal bertemu dan bersanding bersama tuhan. Hal tersebut sesuai dengan ungkapan bahwa orang yang hanya bergembira dengan Allah, tidak terpengaruh oleh kelezatan lahirnya nikmat, dan tidak karena kurnia-Nya, sebab ia sibuk memperhatikan-Nya, sehingga terhibur oleh-Nya semata, maka tidak ada yang terlihat padanya kecuali Allah. Selain itu, siapa yang tidak melihat pemberi nikmat di dalam nikmat itu, maka nikmat itu hanya berupa istidraj (dilulu) dan berubah menjadi bala�. Kiranya hal itulah yang menyebabkan Syu�aib AS menolak pemberian surga dan berdalih bahwa surga bisa berubah menjadi Jahannam baginya jika di sana ia tidak mendapat cinta kasih Tuhan dengan membiarkanya bisa bertmu dan bersanding bersama-Nya.

Mengapa Syu�aib bertanya tentang keberadaan cahaya keabadian? Hal itu sebenarnya sebagian i�tibar dari penyebutan diri Tuhan. Tidak ada sesuatu yang abadi kecuali diri Tuhan semata. Adapun idiom Tuhan digantinya dengan kata cahaya. Ini sesuai firman-Nya dalam Al-Qur�an surat An-Nur ayat 35 yang artinya: Allah adalah cahaya langit dan bumi, perumpamaan cahaya Allah adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar, pelita itu di dalam kaca dan kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohin yang banyak berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tidak tumbuh di sebelah timur dan tidak pula di sebelah barat, yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya, Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah maha mengetahui sesuatu (QS. An-Nur:35).

Syu�aib merindukan cahaya keabadian itu sehingga ia menanyakan terus perihal keberadaanya. Cahaya itu adalah cahaya Illahiah, cahaya di atas cahaya. Dialah pembimbing manusia untuk menuju hakekat hidup yang sejati dan tidak ada yang sanggup memberi bimbingan menuju kesejatian kecuali Dzat Tuhan semata. Itulah esensi dasar Syu�aib AS mengi�tibarkan tuhan dengan memakai idiom cahaya.

��Kata mereka, �Akhiri ratap tangismu, agar penglihatanmu tidak hitam, sebab matamu akan buta jika menangis berlebih-lebihan� ��(Jalaluddin Rumi, Diwan Syam-i Tabriz).

Kata mereka merujuk kepada orang-orang yang berada disekeliling Syu�aib AS yang tidak lain adalah kaum Madyan. Hal tersebut bukanlah merujuk pada sesuatu yang lain, baik mengarah pada bisikan gaib dari langit atau yang lainya. Ini adalah kaumnya sendiri. Rujukan ini berdasar pada terjemahan karya Rumi yang diberi judul Kasidah Cinta dan diterjemahkan Hartoyo Andangjaya. Dalam terjemahan itu kata mereka di ungkapkan dengan artian orang-orang berkata.

Secara lebih rinci, ungkapan tersebut merupakan himbauan dari kaum Syu�aib AS. Mereka menghimbau agar Syu�aib AS mengakhiri munajat dan tangisanya sebab ia bisa mengalami kebutaan mata. Tampaknya peristiwa ini diasumsikan berlangsung ketika hari sudah menjelang pagi. Saat itu orang-orang sudah mulai melansungkan aktifitas sehari-harinya. Ini diperkirakan saat orang-orang berlalulalang di sekitar rumah Syu�aib AS.

Saat mendapat himbauan semacam itu, Syu�aib AS justru memberi penegasan kepada mereka. Syu�aib berkata bahwa ia tidak akan bersedih karena buta. Baginya, buta mata tidaklah berarti sebab menurutnya bagian tubuh yang lain bisa berubah menjadi mata. Tentunya semua itu juga tidak terlepas dari kehendak, kuasa, dan keridlaan Tuhan.

��Syu�aib menjawab, �Bila kedua mataku akhirnya buta hanya karena menangis, maka setiap bagian dari diriku akan berubah menjadi mata; mengapa aku harus bersedih karena buta?� ��(Jalaluddin Rumi, Diwan Syam-i Tabriz).

Ungkapan ini jika dinisbatkan dapat merujuk pada Al-qur�an surat Yasin ayat 65 yang artinya; �Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan dan kaki mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan�. Hal ini menunjukan adanya Kebasaran dan Maha Kuasanya Tuhan yang sanggup menjadikan segala sesuatu bisa berbicara, melihat, dan juga mendengar. Tuhan tidak merasa kesulitan untuk melakukan hal itu.

Salah satu pertanda Maha Kuasa Tuhan yang ditunjukkan-Nya di dunia ini adalah menjadikan kepekaan indra yang sangat tinggi bagi orang yang buta. Orang buta tidak bisa melihat sesuatu dengan matanya, tetapi Tuhan memberikan rahmat-Nya yang lain yang berupa kepekaan terhadap indra-indra yang lain pula, oleh karena itu, orang buta bisa mendeteksi segala hal yang ada disekelilingnya dengan cermat. Ia bisa mengetahui sesuatu dengan pasti lewat perantaraan indra peraba, pencium, pencecap, dan pendengarnya. Tidak hanya itu, Tuhan bahkan juga memberinya mata batin yang kerap dikenal dengan istilah indra keenam. Hal itulah yang kiranya menjadi maksud dan tujuan perkataan Syu�aib AS bahwa setiap bagian dari tubuhnya akan berubah menjadi mata.

��Namun jika akhirnya Ia merampas mataku untuk selamanya, akan kubiarlah mata benar-benar menjadi buta karena ia tidak layak menatap junjungan kasih!� �� (Jalaluddin Rumi, Diwan Syam-i Tabriz)

Dalam penegasanya lebih lanjut, Syu�aib AS mengungkapkan bahwa ia akan mengikhlaskan kedua matanya menjadi buta. Hal tersebut dilakukanya sebagai suatu bentuk persembahanya kepada tuhan. Syu�aib AS benar-benar tulus dan ikhlas memberikanya, ketika penglihatan itu harus diminta kembali oleh Tuhan.

Tampaknya hal ini sesuai dengan makna dasar ungkapan inna lillahi wainna ilaihi raajiuun. Arti ungkapan tersebut yaitu segala sesuatu adalah kepunyaan Allah dan sesungguhnya ia akan kembali kepada-Nya. Syu�aib AS menyadari benar akan hal itu. Ia paham betul bahwa dirinya dan seluruh isi alam semesta ini adalah kepunyaan Tuhan dan suatu saat pasti akan kembali kepada-Nya juga.

Segala yang dimiliki oleh manusia pada hakekatnya hanyalah titipan Tuhan yang harus dijaga dengan sebaik-baiknya. Yang dikatakan titipan, suatu saat pasti akan diambil oleh pemiliknya. Saat itulah seseorang harus rela dan ikhlas menyerahkan kepada pemiliknya yang mutlak. Begitu juga dengan eksistensi indra penglihatan, ia merupakan titipan Tuhan yang dibebankan kepada manusia sebagai alat utuk melihat segala sesuatu yang ada disekelilingnya. Untuk semuanya itu, tidak ada batasan waktu dalam pengambilanya. Kapanpun dan dimanapun, Tuhan sewaktu-waktu bisa mengambilnya. Entah diambil pada akhir hayat manusia ataupun di masa tua, muda, maupun balita, semuanya masih berada dalam misteri ilahiah.

Selain itu Syu�aib AS juga sadar bahwa penglihatan mata lahir manusia tidak sanggup menangkap keberadaan Dzat Tuhan yang sejati. Hal tersebut dikarenakan Dzat Tuhan yang sejati bersifat kasat mata yang tidak dapat maujud di dalam alam materi. Ia bahkan tidak dapat digapai dengan logika. Ia hanya dapat digapai dengan keyakinan dan pengetahuan intuitif bahkan Ia merupakan wujud yang sempurna.

Kesadaran semacam inilah yang ditunjukan oleh Syu�aib AS. Dengan merelakan penglihatan lahirnya kepada Tuhan. Ia menumbuhkan harapan baru dalam hatinya. Ia berharap dengan kebutaanya, Tuhan berkenan memberikan penglihatanya yang baru yang berupa penglihatan batin melalui peneguhan keyakinan dan juga pengetahuan intuitif, yaitu pengetahuan yang berdasarkan pada wahyu ilahiah. Sungguh harapan dan persembahan yang begitu agung dari seorang Syu�aib AS.

Perlu diingat, dalam sejarah para nabi, Syu�aib pada akhirnya tidak mengalami kebutaan mata secara fisik. Karakter fisiknya pada umumnya sama dengan kebanyakan orang. Ia utuh dan tidak mengalami cacat pada kostruksi fisiknya.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa Harapan Syu�aib dalam munajatnya hanyalah ingin bertemu dan bersanding bersama Tuhan (Allah) di kehidupan mendatang, yaitu akhirat. Harapan itu ia iringi dengan sebuah persembahan yaitu peniadaan surga dan neraka dalam dirinya. Ia melepas keterikatan diri terhadap esensi dan eksistens surga yang notabenenya menjadi tujuan hidup manusia pada umumnya.. Tidak hanya itu, ia bahkan rela menyerahkan penglihatan lahirnya sebagai sebuah persembahan asalkan ia kelak dapat bertemu dan bersanding bersama Tuhan (Allah). Tentunya, persembahan tersebut diliputi dengan perasaan tulus dan ikhlas yang terpancar dari pribadinya.

=========
Imamuddin SA *
http://sastra-indonesia.com/

Jumat, 19 November 2010

Sepasang kekasih terbaring dalam kesunyian
Disandingkan di dalam rahim gelap kematian
Sejati dalam cinta, setia dalam penantian
Satu hati, satu jiwa, di dalam surga keabadian
*
Terkulai di puncak rindu
Tenggelam dalam sendu
Kasih mu tak siapa
Bisa tanggalkan
Biar luka parah
Biar jiwa lara
Kasih mu yang sebati
Sukar ku pisah
Siapa bisa rasakan
Gelora cinta si Laila
Siapa gerangan
Kalaulah bukan Majnun


Mesti ada saksi
Mesti tegak bukti
Sebuah pengorbanan
Sebagai ganti
Lafazkan cinta mu satu
Azamkan cinta mu satu
Nazarkan cinta mu satu
Kibarkan cinta mu satu
Laungkan cinta mu satu
Juangkan cinta mu satu
*
�Kau penyebab sekaratku yang berkepanjangan
Tetapi hasratku padamu membuat kau kumaafkan.�
*
� Jiwa manusia tidak lebih dari seberkas cahaya, terlahir untuk bersinar dalam suatu masa yang singkat sebelum akhirnya padam selamanya. Di alam ini semua ditakdirkan untuk binasa, tidak ada yang abadi. Namun, jika Anda �mati� sebelum Anda mati, berpaling dari dunia dan kemunafikan wajahnya, Anda akan meraih keselamatan yang sesungguhnya dalam kehidupan yang abadi.�

Selasa, 02 November 2010

Syeikh Hamzah al-Fansuri, kiranya namanya di Nusantara di kalangan Ulama dan Sarjana penyelidik keislaman tak asing lagi. Hampir semua penulis sejarah Islam mencatat bahwa Syeikh Hamzah Fansuri dan muridnya syeikh Syamsuddin Sumatrani adalah termasuk tokoh sufi yang sefaham dengan al-Hallaj. Faham hulul, ittihad, mahabbah dan lain-lain.

Syeikh Hamzah Fansuri adalah seorang cendekiawan, ulama tasawuf, dan budayawan terkemuka yang diperkirakan hidup antara pertengahan abad ke-16 sampai awal abad ke-17. Nama gelar atau takhallus yang tercantum di belakang nama kecilnya memperlihatkan bahwa pendekar puisi dan ilmu suluk ini berasal dari Fansur, sebutan orang-orang Arab terhadap Barus, sekarang sebuah kota kecil di pantai barat Sumatra yang terletak antara kota Sibolga dan Singkel. Sampai abad ke-16 kota ini merupakan pelabuhan dagang penting yang dikunjungi para saudagar dan musafir dari negeri-negeri jauh.

Sayang sekali bukti-bukti tertulis yang dinyatakan kapan sebenarnya Syeikh Hamzah Fansuri lahir dan wafat, ada pendapat yang menemukan makam beliau di Ujong Pancu Aceh, ada juga di subulussalam aceh, dan ada juga pendapat, makam Hamzah ada di Babul Ma'la, yakni komplek mpemakaman "elit" di Makkah. ia dibaringkan dalam satu komplek besama dengan Khatijah, Aishay, Fatimah dan keluarga nabi dan sahabatnya yang lain. ini disebabkan kebesaran dan pengaruhnya di Arab pada masa itu (abat XV).

Dari syair dan dari namanya sendiri sudah sekian lama berdominasi di Fansur, dekat Singkel, sehingga mereka dan turunan mereka pantas digelari Fansur. Konon saudara Hamzah Fansuri bernama Ali Fansuri, ayah dari Abdur Rauf Singkel Fansuri. Pada ahli cenderung memahami dari syair bahwa Hamzah Fansuri lahir di tanah Syahrmawi, tapi tidak ada kesepakatan mereka dalam mengidentifikasikan tanah Syahrmawi itu. Ada petunjuk tanah Aceh sendiri ada yang menunjuk tanah Siam, dan bahkan ada sarjana yang menunjuk negeri Persia sebagai tanah yang di Aceh oleh nama Syamawi.

Kiranya namanya di Nusantara di kalangan ulama dan sarjana penyelidik keislaman tak asing lagi. Hampir semua penulis sejarah Islam mencatat bahwa Syeikh Hamzah Fansuri dan muridnya Syeikh Syamsuddin Sumatrani adalah dengan al-Hallaj, faham hulul, ittihad, mahabbah dan lain-lain adalah seirama. Syeikh Hamzah Fansuri diakui seorang pujangga Islam yang sangat populer di zamannya, sehingga kini namanya menghiasi lembaran-lembaran sejarah kesusasteraan Melayu dan Indonesia. Namanya tercatat sebagai tokoh kaliber besar dalam perkembangan Islam di nusantara dari abadnya hingga ke abad kini. Dalam buku-buku sejarah mengenai Aceh namanya selalu diuraikan dengan panjang

Karya-karyanya

Hamzah Fansuri menghasilkan karya tulis yang banyak, akan tetapi karya-karya tulisnya itu bersama karya-karya tulis Syamsuddin Sumatrani, dibinasakan (dibakar) berdasarkan perintah Sultan Iskandar Sani atau anjuran Huruddin al-Riniri, mufti dan penasehat agama di Istana Sultan tersebut
Di antara syair-syair Syeikh Hamzah Fansuri terkumpul dalam buku-buku yang terkenal, dalam kesusasteraan Melayu / Indonesia tercatat buku-buku syairnya antara lain :

Syair Burung Pingai
Syair Dagang
Syair Pungguk
Syair Sidang Faqir
Syair Ikan Tongkol
Syair Perahu

Karangan-karangan Syeikh Hamzah Fansuri yang berbentuk kitab ilmiah antara lain :


Asfarul �arifin fi bayaani �ilmis suluki wa tauhid
Syarbul �asyiqiin
Al-Muhtadi
Ruba�i Hamzah al-Fansuri

Karya-karya Syeikh Hamzah Fansuri baik yang berbentuk syair maupun berbentuk prosa banyak menarik perhatian para sarjana baik sarjana barat atau orientalis barat maupun sarjana setempat, yang banyak membicarakan tentang Syeikh Hamzah Fansuri antara lain Prof. Syed Muhammad Naquib dengan beberapa judul bukunya mengenai tokoh R.O Winstedt yang diakuinya bahwa Syeikh Hamzah Fansuri mempunyai semangat yang luar biasa yang tidak terdapat pada orang lainnya. Dua orang yaitu J. Doorenbos dan Syed Muhammad Naquib al-Attas mempelajari biografi Syeikh Hamzah Fansuri secara mendalam untuk mendapatkan Ph.D masing-masing di Universitas Leiden dan Universitas London. Karya Prof. Muhammad Naquib tentang Syeikh Hamzah Fansuri antaranya :

The Misticum of Hamzah Fansuri (disertat 1966), Universitas of Malaya Press 1970
Raniri and The Wujudiyah, IMBRAS, 1966
New Light on Life of Hamzah Fansuri, IMBRAS, 1967
The Origin of Malay Shair, Dewan Bahasa dan Pustaka, 1968


Puisi-puisi penyair sufi biasanya tidak lengkap tanpa disertai tanda-tanda kesufian seperti, faqir, asyiq dan lain sebagainya. Tanda serupa ini kita jumpai di dalam sajak-sajak Hamzah Fansuri. Di antara tanda kesufian yang banyak ditemukan di dalam syair-syair Hamzah Fansuri ialah anak dagang, anak jamu, anak datu, anak ratu, orang uryani, ungkas quddusi, dan kadang-kadang digunakan dengan nama pribadinya seperti Hamzah Miskin, Hamzah Gharib dan lain-lain.

Paradoks

Salah satu ciri penting yang melekat pada karya-karya penyair mistik atau sufistik sejak dahulu ialah ungkapan-ungkapan yang mengandung paradoks, dalam tradisi sufi bentuk-bentuk ungkapan paradoks muncul pertama kali dalam ucapan-ucapan teofani (yathiyat) bayazid, al-Hallaj, al-Miffaru, Ibn �Arabi dan lain-lain. Di dalam syair-syairnya Hamzah Fansuri sering menampilkan ucapan-ucapan syathyat bayazid dan al-Hallaj, dua wira sufi yang diteladaninya. Ucapan-ucapan terkenal kedua sufi itu ialah �subhani!� (terpujilah daku) dan �Ana al-Haqq� (aku ialah kebenaran kreatif). Selain berfungsi memadatkan pengucapan puitik, kutipan ucapan syathiyat ini memberikan suasana ekstase atau kegairahan mistik dan juga untuk mengukuhkan tafsir sufistik penyair terhadap ayat-ayat al-Qur�an dan hadits qudsi yang terdapat di dalam bait-bait sebelumnya, misalnya di dalam ikatan-ikatan yang menggambarkan pengalaman fana penyair.

Sabda rusul Allah Nabi kamu
Lama�a Allah sekali waqtu
Hamba dan Tuhan menjadi satu
Inilah �arif bernama tahu
Kata Bayazid terlalu ali
Subhani maa�zamasha�ni
Inilah ilmu sempurna fani
Jadi senama dengan hayy al Baqi
Kata mansur penghulu asyiq
aitu juga empunyai nathiq
Kata ini siapa la�iq
Mengatakan diri akulah khaliq
Dengarkan dirimu hai orang yang kamil
Jangan menuntut ilmu yang bathil
Tiada bermanfaat kata yang jahil
Ana�al haqq mansur itulah washil
Hamzah Fansuri terlalu karam
Ke dalam laut yang maha dalam
Berhenti angin ombaknya padam
Menjadi sultan pada kedua laman

Syeikh Hamzah Fansuri Sebagai Pembaharu

Syeikh Hamzah Fansuri bukan hanya seorang ulama tasawuf dan sastrawan terkemuka, tetapi juga seorang perintis dan pelopor bagi perkembangan kebudayaan Islam, sumbangannya sangat besar. Di bidang keilmuan Syeikh telah mempelajari penulisan risalah tasawuf atau keagamaan yang demikian sistematis dan bersifat ilmiah. Sebelum karya-karya Syeikh muncul, masyarakat muslim Melayu mempelajari masalah-masalah agama, tasawuf dan sastra melalui kitab-kitab yang ditulis di dalam bahasa Arab atau Persia. Di bidang sastra Syeikh mempelopori pula penulisan puisi-puisi filosofis dan mistis bercorak Islam, kedalaman kandungan puisi-puisinya sukar ditandingi oleh penyair lain yang sezaman ataupun sesudahnya. Penulis-penulis Melayu abad ke-17 dan 18 kebanyakan berada di bawah bayang-bayang kegeniusan dan kepiawaian Syeikh Hamzah Fansuri.

Di samping itu Syeikh Hamzah Fansuri telah berhasil meletakkan dasar-dasar puitika dan estetika melayu yang mantap dan kukuh. Pengaruh estetika dan puitika yang diasaskan oleh Syeikh Hamzah Fansuri di dalam kesusasteraan Indonesia dan Melayu masih kelihatan sampai abad ke-20. Khususnya di dalam karya penyair pujangga baru seperti Sanusi Pane, dan Amir Hamzah, sastrawan-sastrawan Indonesia angkatan 70-an danarto dan Sutardi Calzoum Buchiri berada di dalam satu jalur estetik dengan Syeikh Hamzah Fansuri.

Di bidang kebahasaan pula sumbangan Syeikh Hamzah Fansuri sukar untuk dapat diingkari apabila kita mau berjujur. Pertama, sebagai penulis pertama kitab keilmuan di dalam bahasa Melayu, Syeikh Hamzah Fansuri telah berhasil mengangkat naik martabat bahasa Melayu dari sekedar lingua Franca menjadi suatu bahasa intelektual dan ekspresi keilmuan yang canggih dan modern. Dengan demikian kedudukan bahasa Melayu di bidang penyebaran ilmu dan persuratan menjadi sangat penting dan mengungguli bahasa-bahasa Nusantara yang lain, termasuk bahasa Jawa yang sebelumnya telah jauh lebih berkembang. Kedua, jika kita membaca syair-syair dan risalah-risalah tasawuf Syeikh Hamzah Fansuri, akan tampak betapa besarnya jasa Syeikh Hamzah Fansuri dalam proses Islamisasi bahasa Melayu dan Islamisasi bahasa adalah sama dengan Islamisasi pemikiran dan kebudayaan, di dalam 32 ikat-ikatan syairnya saja terdapat kurang lebih 700 kata ambilan dari bahasa Arab yang bukan saja memperkaya perbendaharaan kita bahasa Melayu, tetapi dengan demikian juga mengintegrasikan konsep-konsep Islam di dalam berbagai bidang kehidupan ke dalam sistem bahasa dan budaya melayu.

Di bidang filsafat, ilmu tafsir dan telaah sastra Syeikh Hamzah Fansuri telah pula mempelopori penerapan metode takwil atau hermeneutika keruhanian, kepiawaian Syeikh Hamzah Fansuri di bidang hermeneutika terlihat di dalam Asrar al-�arifin (rahasia ahli makrifat), sebuah risalah tasawuf klasik paling berbobot yang pernah dihasilkan oleh ahli tasawuf nusantara, disitu Syeikh Hamzah Fansuri memberi tafsir dan takwil atas puisinya sendiri, dengan analisis yang tajam dan dengan landasan pengetahuan yang luas mencakup metafisika, teologi, logika, epistemologi dan estetika. Asrar bukan saja merupakan salah satu risalah tasawuf paling orisinal yang pernah ditulis di dalam bahasa Melayu, tetapi juga merupakan kitab keagamaan klasik yang paling jernih dan cemerlang bahasanya dengan memberi takwil terhadap syair-syairnya sendiri Syeikh Hamzah Fansuri berhasil menyusun sebuah risalah tasawuf yang dalam isinya dan luas cakrawala permasalahannya

Ajaran Wujudiyah

Peranan penting Syeikh Hamzah Fansuri dalam sejarah pemikiran dunia Melayu Nusantara bukan saja karena gagasan tasawufnya, tetapi puisinya yang mencerminkan pergulatan penyair menghadapi realitas zaman dan pengembaraan spiritualnya. Salah satu karya penting dari Syeikh Hamzah Fansuri adalah Zinat al-Wahidin yang ditulis pada akhir abad ke-16 ketika perdebatan sengit antara faham wahdatul wujud sedang berlangsung dengan tegang di Sumatera. Teks ini diyakini oleh para peneliti sebagai kitab keilmuan pertama yang ditulis dalam bahasa Melayu. Syeikh Hamzah Fansuri juga dikenal sebagai seorang pelopor dan pembaharu melalui karya-karya Rubba al-Muhakkikina, Syair Perahu dan Syair Dagang. Kritiknya yang tajam terhadap perilaku politik dan moral raja-raja, para bangsawan dan orang-orang kaya menempatkannya sebagai seorang intelektual yang berani pada zamannya

Sebagai seorang tasawuf Syeikh Hamzah Fansuri pernah memperlihatkan dalam karya-karyanya bahwa Syeikh mempunyai hubungan dengan tasawuf yang berkembang di India pada abad ke-16 dan 17. Syeikh Hamzah Fansuri langsung mengaitkan dirinya dengan ajaran para sufi Arab dan Persia sebelum abad ke-16. Bayazid dan al-Hallaj merupakan tokoh idola Syeikh Hamzah Fansuri di dalam cinta (�isyq) dan ma�rifat, dipihak lain Syeikh sering mengutip pernyataan dan syair-syair Ibnu �Arabi serta Iraqi untuk menopang pemikiran kesufiannya. Hubungan Syekh Hamzah Fansuri dengan para penulis jarang sekali memperoleh perhatian para sarjana tasawuf di Indonesia. Padahal selain Ibnu �Arabi pemikir sufi yang banyak memberi warna pada pemikiran wujudiyah. Syeikh ialah Fakhruddin Iraqi. Seringnya Syeikh menyebut dan mengutip lama�at lama�at karya Iraqi, memperlihatkan adanya perhatian istimewa antara pandangannya dengan pandangan Iraqi

Yang selalu disangga oleh orang tentang ajaran Hamzah Fansuri ialah karena faham �wahdatul wujud�, �hulul�, �ittihad� karenanya terlalu mudah orang-orang mengecapnya sebagai seorang zindiq, sesat, kafir, dan sebagainya. Ada orang yang menyangka bahwa beliau adalah pengikut faham syi�ah, ada juga yang mempercayai bahwa ia adalah bermadzab syafi�i di bidang fiqih, dalam pegangan tasawuf, beliau pengikut thariqat Qadiriyah yang dibangsakan kepada Syeikh Abdul Qodir Jailani

Walaupun pemikiran wujudiyah telah berakar lama di dalam pemikiran para sufi sebelum abad ke13 seperti Hallaj, Imam al-Ghazali dan Ibn �Arabi, namun pemakaian istilah wahdatul wujud sebagaimana kita kenal sekarang ini bukan berasal dari Ibn �Arabi, istilah tersebut mula-mula dikemukakan oleh Qunawi setelah melakukan tafsir yang mendalam atas karya-karya Ibn �Arabi. Istilah Wahdatul Wujud (dari mana istilah wahdatul wujud berasal) dikemukakan untuk menyatakan bahwa keesaan Tuhan (tauhid) tidak bertentangan dengan gagasan tentang penampakan pengetahuannya yang berbagai di alam fenomena (alam al-khalq). Tuhan sebagai dzat mutlak satu-satunya di dalam keesaannya memang tanpa sekutu dan bandingan, dan karenanya Tuhan adalah transenden (tanzih). Tetapi karena dia menampakkan wajah-Nya serta ayat-ayat-Nya di seluruh alam semesta dan di dalam diri manusia, maka Dia memiliki kehadiran spiritual di alam kejadian. Kalau tidak demikian maka dia bukan yang zakir dan yang batin, sebagaimana al-Qur�an mengatakan, dan kehampirannya kepada manusia tidak akan lebih dekat dari urat leher manusia sendiri. Karena manifestasi pengetahuannya berbagai-bagai dan memiliki penampakan zakir dan batin, maka di samping transenden dia juga immanen (tashbih). Dasar-dasar gagasan wujudiyah semacam inilah yang dikembangkan Iraqi.

Dikatakan bahwa Rahman merupakan perhimpunan sekalian ibarat, artinya hakikat dari sekalian ma�lumat (yang diketahui) yakni segala ciptaan-Nya. Tanpa rahman-Nya tak mungkin segala sesuatu itu memperoleh kewujudan, dan itulah sebabnya dikatakan bahwa wujud rahman-Nya merupakan hakikat segala barang ciptaan. Menurut Ibn �Arabi, sebelum bermulanya penciptaan, di dalam kesendiriannya Tuhan merenung dan melihat (syuhud) ke dalam dirinya dan tampaklah pengetahuannya yang tak terhingga dan masih merupakan perbendaharaan tersembunyi (kanz makhfi), di dorong oleh cintanya terbitlah kehendaknya untuk dikenal, maka dia menciptakan dan dengan demikian dia dikenal. Ciptaan-Nya adalah pemakluman (ma�lumat) dari pengetahuannya yang melalui mereka Dia dikenal.

Zinat al-Wahidin

Kitab ini agaknya merupakan ringkasan ajaran wahdatul wujud yang telah diasakan oleh Ibn �Arabi, Sadruddin Qunawi, Fakhrudin Iraqi dan Abdul Karim al-Jilli. Di dalamnya diuraikan pula cara-cara mencapai makrifat menurut disiplin keruhanian tarekat Qadariyah. Ini tidak sukar dibuktikan karena di dalam syairnya Syeikh Hamzah Fansuri menyatakan bahwa telah dibaitkan di dalam tarekat tersebut di Shahr Nawi dan sekembalinya dari Makkah, Yerussalem, Baghdad, dan Gujarat, Syeikh bertambah masyhur sebagai ahli tasawuf dan guru keruhanian. Kitab ini disusun di dalam tujuh bab.

Bab V ini merupakan bab penting, sebab di dalamnya Hamzah Fansuri menguraikan prinsip-prinsip antologi wujudiyah, yaitu mengenai tajalli zat Tuhan. Hamzah Fansuri menerjemahkan tajalli sebagai �kenyataan� dan penunjukkan, maksudnya penampakan pengetahuan Tuhan melalui penciptaan alam semesta dan isinya. Penciptaan secara menurun tersusun dari lima martabat, yaitu dari atas ke bawah, dari yang tertinggi ke yang terendah sesuai peringkat keruhanian dan luas sempit sifatnya, dari yang umum kepada yang khusus. Zat Tuhan disebut lata�ayyun, yakni tiada nyata. Di sebut lata�ayyun karena akal pikiran, perkataan, pengetahuan dan makrifat manusia tidak akan sampai kepadanya. Pandangan ini didasarkan pada hadits Nabi �tafakkaru fi khalq-i�l-laah-i wa laa tafakkaruu fii dzaat-i�l-laah� (pikirkan apa saja yang diciptakan Tuhan tetapi jangan pikirkan tentang zatnya.

Walaupun zat tuhan itu lata�ayyun namun dia ingin dikenal, maka dia mencipta alam semesta dengan maksud agar dirinya dikenal �kehendak supaya dikenal� inilah yang merupakan permulaan tajalli Ilahi. Sesudah tajalli dilakukan maka dia dinamakan ta�ayyun yang berarti �nyata�. Keadaan ta�ayyun inilah yang dapat dicapai oleh pikiran, pengetahuan dan makrifat.

Ta�ayyun zat Tuhan terbagi ke dalam empat martabat :

Ta�ayyun awwal, kenyataan Tuhan dalam peringkat pertama yang terdiri dari ilm (pengetahuan), wujud (ada), syuhud (melihat / menyaksikan) dan nur (cahaya). Dengan adanya pengetahuan maka dengan sendirinya Tuhan itu Alim (mengetahui atau maha tahu) dan ma�lum (yang diketahui). Karena dia itu wujud maka dengan sendirinya dia ialah yang mengada, yang mengadakan atau yang ada, karena cahaya maka dengan sendirinya dia adalah yang menerangkan (dengan cahayanya) dan yang diterangkan (oleh cahayanya).

Ta�ayyun tsani (dikenal juga dengan ta�ayyun ma�lum), kenyataan Tuhan dalam peringkat kedua, yakni kenyataan menjadi yang dikenal atau diketahui. Pengetahuan atau ilmu Tuhan menyatakan diri dalam bentuk yang dikenal atau yang diketahui, pengetahuan yang dikenal disebut al-ayan al-tsabitah, yakni kenyataan segala sesuatu. Al-A�yan al-tsabitah juga disebut Suwar al-Ilmiyah, yakni bentuk yang dikenal, atau al-haqiqah al-asyya, yakni hakikat segala sesuatu di alam semesta dan ruh idlafi, yakni ruh yang terpaut.

Ta�ayyun tsalits, kenyataan Tuhan dalam peringkat ketiga ialah ruh manusia dan makhluk-makhluk.

Ta�ayyun rabi� dan khamis, kenyataan Tuhan dalam peringkat keempat dan kelima adalah penciptaan alam semesta, makhluk-makhluk, termasuk manusia, penciptaan ini tiada berkesudahan dan tiada berhingga, ila mala nihayat-a lah-u.

Hamzah Fansuri menerjemahkan perkataan wajh sebagai zat, yaitu at yang telah ber-ta�ayyun. Adapun Tuhan itu mutlak, karena itu Ibn Arabi menyebut dia sebagai wajib al-wujud, yaitu wujud yang Qa�im sendirinya, sedangkan alam semesta disebut sebagai mumkin al-wujud, wujud yang mungkin atau nisbi karena adanya tergantung kepada wujud mutlak yaitu wajib al-wujud. Hamzah Fansuri memang mengikuti Ibn �Arabi, yang mengatakan bahwa wujud mutlak sebagai sebab hakiki dari segala kejadian merupakan wujud yang keberadaannya mutlak diperlukan, wajib al-wujud li dzatih.

Menurut Hamzah Fansuri alam semesta dan isinya berasal dari Allah, bukan dari �tiada� pulang kepada �tiada�, tapi dari ada pulang kepada ada. Dengan �ada� yang dimaksudkan ialah �pengetahuan� atau ilmu Tuhan. Dia mengutip ayat al-Qur�an untuk menopang pendapatnya �innamaa amruhuu idzaa araada syai�an an yaquululahnu kunfa-yakuun� (sesungguhnya tatkala Dia berkehendak kepada sesuatu maka dia pun berkata, �jadilah kau!� maka segala sesuatu itu pun menjadi [tercipta


Dengan menganalisis secara cermat istilah dan konsep kunci semacam itu, serta istilah dan konsep dalam bahasa Melayu dan melakukan perbandingan dengan istilah-istilah yang sama dengan bahasa Arab, Yunani, Persia, dan Sansekerta dalam karya-karya Syeikh Hamzah Fansuri dan tokoh-tokoh lain yang serupa, dan periodesasi proses Islamisasi dan intensifikasi pandangan dunia Islam di kalangan masyarakat Melayu Indonesia melalui metafisika tasawuf, guna membumikan solusinya tersebut. Al-Attas menyediakan landasan teoritis dan langkah praktis. Pada daratan teoritis, ia dengan brilliant merekontruksi konsep metafisika, epistemologi, dan filsafat pendidikan Islam dengan merujuk pada tradisi pemikiran Islam dalam bidang kalam, filsafat, dan tasawuf.

Karya-karya Syeikh Hamzah Fansuri merupakan awal kelahiran literatur Islam dalam bahasa Melayu, selain itu ia tercatat sebagai orang pertama kali memperkenalkan puisi dalam bentuk syair ke dalam sastra Melayu.

Beliau juga ulama pertama yang membawa Aceh atau Asia Tenggara ke faham Wahdatul Wujud (kesatuan wujud) yang berasal dari Ibn Arabi. Hamzah Fansuri memang sering menunjukkan tasybih (kemiripan) antara Tuhan dengan alam ciptaan-Nya, tetapi ia tidak lupa menunjukkan Tanzih perbedaan esensial, antara keduanya. Oleh karena itu tidaklah tepat pagam wahdatul wujud Syeikh Hamzah Fansuri ini divonis sesat atau divonis sebagai paham pantheisme, seperti yang dipahami sebagian ahli atau ulama.

Syeikh Hamzah Fansuri adalah seorang ahli bahasa. Bahasa yang dikuasainya adalah bahasa Arab, bahasa Farsi, dan bahasa Melayu. Dan bahwa beliau menulis kitab-kitab tasawufnya memakai kitab-kitab bahasa Arab dan Farsi sebagai buku telaahnya. Keahliannya di bidang bahasa adalah hasil dari pengembaraannya yang jauh, dia pernah sampai ke berbagai negeri di Timur tengah utamanya Makkah dan Madinah. Negeri-negeri Nusantara yang pernah di jalaninya seperti Pahang, Kedah, Banten dan Jawa. Pengembaraannya adalah pengembaraan jasad dan rohani.

DAFTAR PUSTAKA
Abdul Hadi, W.M., Hamzah Fansuri, Risalah Tasawuf dan Puisi-Puisinya, Bandung, 1995.
Abdul Hadi W.M., Tasawuf Yang Tertindas Kajian Hermeneutik Terhadap karya-Karya Hamzah Fansuri, cet.1., Jakarta, 2001.
Harun Nasution, dkk., Ensiklopedi Islam Indonesia, IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, 1992.
Hawash Abdullah, Perkembangan Ilmu Tasawuf dan Tokoh-tokohnya di Nusantara, t.pn., Surabaya, 1930.
http://www.kompas.com/kompascetak/05-04/tanah_air/1552018.htm
Abdul Hadi, W.M., Hauzah Fansuri, Risalah Tasawuf dan Puisi-Puisinya, Bandung, 1995, hlm. 9-13
Harun Nasution, dkk., Ensiklopedi Islam Indonesia, IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, 1992, hlm. 296
Hawash Abdullah, Perkembangan Ilmu Tasawuf dan Tokoh-tokohnya di Nusantara, t.pn., Surabaya, 1930, hlm. 35-36
Narun Nasution, dkk., op.cit., hlm. 297
Hawash Abdullah, op.cit., hlm. 37-38
Abdul Hadi W.M., Tasawuf Yang Tertindas Kajian Hermeneutik Terhadap karya-Karya Hamzah Fansuri, cet.1., Jakarta, 2001, hlm. 227-229
Ibid., hlm. 14-16
Abdul Hadi W.M., op.cit., hlm. 20

==> makalah ibnu

Rabu, 20 Oktober 2010

Engkau mentari, Engkau purnama
oleh Sayyid Ja'far ibn Hasan ibn 'Abdul Karim al-Barzanji

Purnama penuh terbit di atas kita
dengan terbitnya, tenggelam seluruh bulan lainnya
rupawan seindah wajahmu tak pernah kami menyaksikannya -
wajah ceria penuh sukacita!

Engkau mentari, engkau lah punama
engkau cahaya di atas segala cahaya
engkau pembangkit semangat dan daya
engkau lentera hati kita

Wahai kekasihku, wahai Muhammad junjunganku!
wahai bintang dari Timur dan Barat!
wahai, engkau sang pendukung! Wahai yang terpuji!
wahai, Imam dua kiblat!

Ia yang sempat melihat wajahmu betapa untungnya!
wahai engkau yang berbudi mulia pada orangtua
mata-airmu yang sejuk dan suci
adalah tempatku mereguk minum di hari kebangkitan nanti.

Kami tak pernah melihat unta-unta
dari mana pun asalnya - berjalan gembira
kecuali saat mereka menujumu semata
awan-awan melindungimu
dan tuan rumah mulia melimpahkan segala
hadiah kehormatan bagimu saja.

Pepohonan mendatangimu menitikkan airmata
merundukkan diri antara dua tanganmu
dan kijang-kijang yang melesat itu, wahai kekasihku,
mereka pun datang untuk perlindunganmu.

Bila semua karavan telah siap sedia
saat keberangkatan telah diumumkan bagi semua
kudekati mereka dengan basah airmata
sembari berkata: "tunggu sejenak, wahai tuan kepala,
dan kirimkan untukku beberapa surat ini saja".
wahai, rasa rindu yang tak tertanggugkan!

Di tengah tujuan nampak rumah-rumah hunian
waktunya malam hari dan saat awal subuh sekali
di puncak gembira semua makhluk di alamraya ini
untukmu - wahai pria berdahi rupawan berseri
cinta mereka bagimu sungguh tak ada yang memadai -
penuh tunggu penuh rindu.
dalam kehadiran aura jiwamu
umat manusia yang ada dimana-mana, laksana terpana!

Engkau lah penutup seluruh nabi
dan pada Dia Tuhanmu bersyukur engkau tiada henti
Hamba-hambamu ini wahai Tuhan amat mengharapkan
seluruh rahmatmu berlimpah baginya tanpa henti.

Pikiran kami tentang dirimu junjunganku Muhammad
senantiasa luhur dan suci
wahai pembawa berita gembira, wahai pemberi peringatan
bagi umat manusia!
bantu aku ya Allah dan lindungi aku!
wahai yang mampu melindungi siksa api neraka.
wahai yang mampu menolong dan tempat kami berlindung
di saat-saat malapetaka harus ditanggung!

Sukacitalah sang budak yang telah merasakan arti
bahagianya merdeka
dari segala pedih dan cemas atasmu Muhammad kekasih hati
yang cahayanya begitu terang layaknya purnama
bagimu seluruh kebaikan sempurna

Dibanding dirimu, tak ada lagi yang lebih suci
wahai kakek baginda Husein
bagimu seluruh rahmat Allah semata
terus menerus melimpah sepanjang masa!

Wahai engkau yang derajatnya tinggi diangkat
maafkan segala dosa yang kami buat
dan maafkan segala kesalahan kami
engkau murah maaf bagi segala salah
dan segala laku tercela

Engkau yang memaafkan semua dosa
engkau yang meluruskan jalan kami yang menyimpang
yang mengetahui semua rahasia
bahkan yang paling dalam dari semua rahasia
engkau yang menjawab semua do'aku!

Tuhanku, kasihi semua hambamu ini
melalui jalan kebajikan dan kebaikan
semoga rahmatMu tercurah bagi Ahmad
- rahmat melebihi seluruh baris
yang pernah ditulis

Aku berdo'a bagi Muhammad yang selalu dalam bimbinganNya
pemilik wajah cahaya, wajah yang berkilau laksana sang surya
malam hari kelahirannya bagi Islam adalah saat sukacita
saat semua berbangga!

Hari itu anak perempuan Wahab
meperoleh berkah kebesaran tak wanita lain pun
pernah mendapatkan
dia pun mendatangi kaumnya
lebih anggun
bahkan dari Maryam wanita yang perawan selamanya.

Masa kelahirannya adalah masa kedurhakaan pada puncaknya,
dan kelahirannya adalah puncak bencana bagi para pendurhaka!

Namun dalam suasana kebahagian penuh sukacita
yang berjalan tanpa henti-hentinya
kabar baik itu datang juga:
telah lahir seorang Muhammad
pribadi yang selalu berada dalam bimbinganNya
dan masa bahagia
serta yang di atasnya semua bahagia
datang lah pada akhirnya!

Akhir dari Qyam