Tampilkan postingan dengan label Psikologi Sosial. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Psikologi Sosial. Tampilkan semua postingan

Senin, 19 Januari 2015

Tongsampah - Artikel kali ini membahas mengenai agresi yang dilihat dari kajian Psikologi Sosial. Dimana pengertian Agresivitas itu sendiri bisa anda baca pada artikel sebelumnya yang berjudul Pengertian Agresi. Selain pengertian terdapat pula pemikiran-pemikiran mengenai agresi pada manusia yang bisa anda simak dalam artikel Perspektif Agresivitas.

Memang tidak mudah mempelajari agresi, namun agresifitas akan tetap ada atau terjadi selama masih ada manusia yang hidup. Sesungguhnya kita dapat mengetahui bagaimana agresivitas itu terjadi, untuk mempelajarinya bisa anda simak artikel faktor-faktor penyebab agresi. Dalam kajian Psikologi sosial khususnya mengenai agresi, dibahas pula cara mengatasi agresivitas tersebut, untuk lebih jelasnya bisa baca di bawah ini.

Kajian Psikologi Sosial : Mengatasi Agresi

Pembahasan mengenai agresi di atas terlihat betapa rumitnya faktor-faktor penyebabnya, akan tetapi sebagai manusia peluang untuk mengendalikan agresi tetaplah ada. Hal ini terjadi karena manusia memiliki fungsi-fungsi kognisi yang lebih baik dari hewan. Cara untuk mengatasi agresi akan dijelaskan di bawah ini.

1. Pengamatan tingkah laku yang baik

Kita bisa lebih banyak menampilkan teladan-teladan yang baik. Hal ini dapat diterapkan dengan membuat acara-acara di televisi yang mem-berikan gambaran kegiatan nonagresi. Acara-acara yang menimbulkan semangat menolong atau yang minim kekerasan. Sebagai orang yang lebih tua sebaiknya memberikan contoh sesuai yang baik terhadap yang lebih muda. Seperti halnya orang tua harus memberikan contoh yang baik kepada anaknya, karena anak merupakan pengamat yang tajam. Jika ia melihat tokoh utama hidupnya baik, kemungkinan besar ia akan bertingkah laku menjadi baik pula begitu juga sebaliknya.

2. Hukuman

Sejarah manusia mencatat lebih banyak mencatat hukuman sebagai cara penanganan atas agretivitas. Hal ini bisa dilihat mulai dari agresivitas individu hingga yang dilakukan oleh institusi atau bahkan negara. Pada individu, para pelaku kekerasan seperti pemerkosa dan pembunuh akan dihukum penjara atau bahkan hukuman mati. Hal yang paling penting dalam penggunaan hukuman adalah hukuman harus jelas dan sesegera mungkin mengikuti agresivitas yang dilakukan. Kedua, hukuman harus amat keras sehingga mengurangi kemungkinan pengulangan oleh pelaku.

3. Katarsis

Seseorang perlu mereduksi dorongan agresinya, ibarat ketel uap yang amat panas, maka dibutuhkan saluran untuk mendinginkan ketel tadi. Freud menyebutnya sebagai katarsis, juga disebut sebagai hipotesis katarsis yakni upaya untuk menurunkan rasa marah dan kebenciannya dengan cara yang lebih aman, sehingga mengurangi bentuk agresivitas yang sekiranya akan muncul. Umumnya katarsis berupa kegiatan fisik yang menguras tenaga. Ketika fisik lelah diperkirakan tingkah laku agresif akan turun. Katarsis dapat menurunkan rasa marah, namun agresivitas dapat muncul kembali ketika seseorang terprovokasi.

4. Kognitif

Pada saat seseorang berbuat kesalahan kepada orang lain, maka tak ayal lagi orang yang dizalimi akan marah. Namun tidak sedikit orang yang justru akan memaafkan. Hal ini menjadi mungkin ketika kognisi orang yang dizalimi tadi diisi dengan informasi bahwa perlunya memaafkan orang yang menzalimi. Memaafkan, tentunya dengan rasa tulus dan ikhlas bahwa dirinya tidak merugi. Hal ini bisa mengurangi agresivitas, setidaknya agresivitas yang tidak tampak.

Sumber: Sarwono, Sarlito W dan Meinarno Eko A. 2009. Psikologi Sosial. Jakarta: Salemba Humanika.

Kamis, 15 Januari 2015

Tongsampah - Setelah sebelumnya kita membahas tentang Pengertian agresivitas dan Perspektif Agresivitas, sekarang akan kami lanjutkan pembahasan mengenai Penyebab Agresi pada Manusia.


Penyebab Agresi pada Manusia

Setidaknya terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi manusia melakukan agresifitas, yaitu:

a) Sosial

Frustasi, terhambatnya atau tercegahnya upaya mencapai tujuan kerap menjadi penyebab agresi. Ketika calon legeslator gagal, ia akan merasa sedih, marah, dan bahkan depresi. Dalam keadaan seperti itu, besar kemungkinan ia akan menjadi frustasi dan mengambil tindakan-tindakan yang bernuansa agresi, seperti penyerangan terhadap orang lain. Kondisi ini menjadi mungkin dengan pemikiran bahwa agresi yang dilakukan dapat mengurangi emosi marah yang dialami. Agresi tidak selalu muncul karena frustasi. Manusia, misal petinju dan tentara, dapat melakukan agresi karena alasan lain. Namun, frustasi dapat menimbulkan agresi jika penyebab frustasi dianggap tidak sah atau tidak dibenarkan.
Provokasi herbal atau fisik adalah salah satu penyebab agresi. Manusia cenderung untuk membalas dengan derajat agresi yang sama atau sedikit lebih tinggi dari pada yang diterimanya (balas dendam). Menyepelekan dan merendahkan sebagai ekspresi sikap arogan atau sombong adalah prediktor yang kuat bagi munculnya agresi. Rangsangan memuncak dan pengaruh media masuk melalui desentisisasi. Faktor sosial lainnya adalah alkohol. Kebanyakan hasil penelitian yang terkait dengan konsumsi alkohol menunjukkan kenaikan agresivitas.

b) Personal

Pola tingkah laku berdasar kepribadian. Orang dengan pola tingkah laku tipe A cenderung lebih agresif daripada orang dengan tipe B. Tipe A identik dengan karakter terburu-buru dan kompetitif. Tingkah laku yang ditunjukkan oleh orang dengan tipe B adalah bersikap sabar, kooperatif, nonkompetisi, dan nonagresif. Orang denga tipe A cenderung lebih melakukan hostile anggression yang merupakan agresi bertujuan untuk melukai atau menyakiti korban. Di sisi lain, orang tipe B cenderung melakukan tingkah laku agresif yang dilakukan karena ada tujuan yang utama dan tidak ditunjukkan untuk melukai atau menyakiti korban.
Hal dasar lain yang perlu diperhatikan adalah adanya perbedaan pada jenis kelamin. Lelaki lebih agresif daripada perempuan. Penelitian yang dilakukan terhadap anak usia 3-11 tahun menunjukkan bahwa anak lelaki lebih menunjukkan ekspresi dominan, merespon secara agresif hingga memulai tingkah laku agresif, anak lebih menampilkan agresi dalam bentuk fisik dan verbal. Pada anak perempuan, agresivitas diwujudkan secara tidak langsung. Bentuknya adalah menyebarkan gosip atau kabar burung, atau dengan menolak atau menjauhi seseorang sebagai bagian dari lingkungan pertemanannya.

c) Kebudayaan

Ketika kita menyadari bahwa lingkungan juga berperan terhadap tingkah laku, maka tidak heran jika muncul ide bahwa salah satu penyebab agresi adalah faktor kebudayaan. Lingkungan geografis, seperti pantai atau pesisir menunjukkan karakter lebih keras daripada masyarakat yang hidup di pedalaman. Nilai dan norma yang mendasari sikap dan tingkah laku masyarakat juga berpengaruh terhadap agresivitas satu kelompok.

d) Situasional

Penelitian terkait dengan cuaca dan tingkah laku menyebutkan bahwa ketidaknyamanan akibat panas menyebabkan kerusuhan dan bentuk-bentuk agresi lainnya. penelitian di AS, yang memiliki empat musim, menunjukkan bahwa pada suhu 28,33-29,44 derajat Celcius memunculkan peningkatan tingkah laku penyerangan, perampokkan, kekerasan kolektif, dan pemerkosaan. Dalam konsteks global, Hitler senantiasa memulai pertempuran saat musim panas.

e) Sumber Daya

Manusia senantiasa ingin memenuhi kebutuhannya. Salah satu pendukung utama kehidupan manusia adalah daya dukung alam. Daya dukung alam terhadap kebutuhan manusia tak selamanya mencukupi. Oleh karena itu, dibutuhkan upaya lebih untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Diawali dengan tawar-menawar, jika tidak tercapai kata sepakat, maka akan terbuka dua kemungkinan besar. Pertama, mencari sumber pemenuhan kebutuhan lain, kedua, mengambil paksa dari pihak pemiliknya. Dunia ini tidak bisa menghentikan agresi AS ke Irak tahun 2003. Walaupun beragam alasan sudah disampaikan kepada masyarakat dunia, tetapi tujuan untuk menguasai minyak di Irak tak pelak lagi terasa.
Indonesia sebagaimana bangsa-bangsa lain di benua Asia juga mengalami hal yang sama ketika berhadapan dengan para pedagang asing Eropa pada abad XVI-XX. Saat itu, bangsa-bangsa Asia dilirik oleh bangsa Eropa karena rempah-rempahnya. Untuk itu, tampaknya usaha-usaha untuk melakukan perjanjian-perjanjian kerja sama dan persiapan untuk kompromi adalah hal yang wajar bagi para pemilik sumber daya alam.

f) Media Massa

Kasus Ryan menjadi ispirasi dari sebuah pembunuhan yang diikuti pemutilasian oleh Sri Rumiyati. Rumiyati yang membunuh suaminya ternyata selalu mengikuti perkara pembunuhan yang dilakukan Ryan. Oleh karena itu, ketika melakukan pembunuhan, ia mengikuti cara Ryan untuk menghilangkan bukti yang ia ikuti dari paparan kasus Ryan melalui televisi. Pengakuan Rumiyati ini merupakkan hasil dari pemeriksaan dari tim forensik Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM). Menurut Ade E. Mardiana, tayangan dari televisi berpotensi besar diimitasi oleh pemirsanya. Khusus untuk media massa televisi yang merupakan media tontonan dan secara alami mempunyai kesempatan lebih bagi pemirsanya untuk mengamati apa yang disampaikan secara jelas.
Beberapa penelitian tentang televisi dan kekerasan telah banyak dilakukan, baik di luar maupun di dalam negeri. Secara teoritis, penjelasan dari kajian ini adalah teori belajar sosial. Banyaknya faktor yang bisa menimbulkan agresi pada akhirnya membutuhkan kerangka pikir proses dari agresi yang berupa model.

Sumber: Sarwono, Sarlito W dan Meinarno Eko A. 2009. Psikologi Sosial. Jakarta: Salemba Humanika.

Selasa, 13 Januari 2015

Tongsampah - Selamat datang, kali ini kami akan membahas mengenai Perspektif Agresi yang dilihat dari beberapa perspektif. Sebelumnya untuk memahami lebih dalam tentang apa itu agresi/agresivitas dapat anda baca pada artikel Pengertian Agresi.

Perspektif Agresi

1. Perspektif Biologis: Alamikah Agresi?

Penelitian tentang agresitivitas telah diperhatikan oleh kelompok zoologis (ilmuan yang mempelajari tingkah laku hewan). Kaum etolog melihat manusia tidak berbeda jauh dengan hewan. Sebagaimana organisme lainnya, mekanisme tingkah laku manusia dianggap sama dengan tingkah laku hewan. Tidaklah mengherankan jika penelitian tentang hewan bisa menjadi indikator terhadap manusia.

2. Agresi pada Primata

Penelitian terhadap manusia takkan bisa lepas dari penelitian terhadap primata. Berbagai penelitian tentang primata, khususnya agresivitas, menunjukkan beberapa alasan dasar. Alasan yang paling sering ditemukkan adalah masalah teritorial, berikutnya adalah masalah pasangan. Hal ini wajar karena keberadaan pasangan amat berguna untuk meneruskan keturunan. Yang menarik adalah hal ini juga terjadi pada manusia. Motivasi mendapatkan pasangan ternyata juga memotivasi kelompok India Yanomamo di Brazil. Mereka sering melakukan kekerasan yang menyebabkan kematian di dalam desanya atau antar desa. Hasil penyelidikan mengungkapkan bahwa yang menjadi dasar dari motivasi adalah kompetensi antar lelaki suku Yanomamo untuk mendapatkan perempuan.

a) Hormon

Salah satu faktor dalam dimensi biologis manusia adalah hormon. Hal yang sering diketahui adalah peran hormon androgen dan testos-teron. Secara kebetulan kedua hormon ini terdapat pada laki-laki. Beberapa penelitian dengan tema kedua hormon tadi menunjukkan hubungannya dengan kekerasan. Penelitian oleh Booth menunjukkan adanya testosteron dan tingkah laku menyimpang pada remaja Amerika Serikat.

b) Otak

Bagian dari otak yang disebut hipotalamus terkait dengan tingkah laku agresi. Hipotalamus adalah bagian kecil dari otak yang terletak di bawah otak, berfungsi untuk menjaga homeostatis serta membentuk dan mengatur tingkah-tingkah laku vital seperti makan, minum, dan hasyrat seksual. Sebuah penelitian menemukan bahwa tumor yang tumbuh dibagian hipotalamus memicu munculnya tingkah laku agresi. Hal yang juga menarik adalah hasil penelitian pada sekelompok pembunuh dari baik lelaki maupun perempuan melalui pemindaian otak mengungkap adanya aktivitas yang tinggi pada bagian kanan amigdala dan bagian hipotalamus.

Perspektif Psikodinamika

Freud sebagai salah satu tokoh psikoanalisis melihat bahwa sejatinya manusia mempunya dua insting dasar. Pertama, insting hidup (eros) dan kedua, adalah insting mati (deadh instrinct). Insting mati ini yang membawa manusia pada dorongan agresif. Oleh karena itu insting ini adalah bawaan dan bagian dari kepribadian, maka tampaknya pada peluang untuk mengatasinya. Usaha ini yang kemudian disebut pengalihan (Displacing).

Perspektif Pembelajaran: dari Pembelajaran Klasik sampai Pembelajaran Kognitif

Tidak selamanya keinginan kita dapat terpenuhi. Tidak tercapainya keiginan perasaan tidak nyaman yang kemudian terwujud menjadi frustasi. Pada umumnya, kondisi frustasi menimbulkan kemarahan yan kemudian mengejawantah menjadi tingkah laku agresif. Teori belajar sosial dari bandura juga dapat menjelaskan bagaimana agrasifitas sebagai tingkah laku sosial yang dipelajari. Salah satu dasar pemahamannya adalah tingkahlaku agresi merupakan salah satu bentuk tingkahlaku yang rumit. Oleh karena itu dibutuhkan pembelajaran, artinya bahwa agresitivitas tidaklah alami. Setidaknya hal ini pernah diajukan pula oleh Margret Mead yang melihat bahwa peperangan sebagai salah satu agresitivitas adalah di pelajari. Penelitian klasik tentang tingkahlaku agresi yang dipelajari adalah penelitian boneka bobo.
Dalam perkembangannya, belajar agresi melalu model tidak hanya langsung di mata penontonnya. Melalui media massa hal ini bisa dilakukan, misalnya melalui media TV. Tayangan-tayangan yang penuh dengan kekerasan tampaknya menjadi salah satu hal memicu agresivitas. Salah satu penelitian di Indonesia terhadap 150 pelajar SLTA yang dilakukan oleh Widiastuti (1996) terungkap bahwa jenis film tertentu memperlihatkan efek yang signifikan terhadap agresivitas penonton. Peran orangtua juga penting dalam terbentuknya tingkah laku agresi pada anak, khususnya remaja. Hal ini diperkuat dengan temuan Badingah (1993). Temuannya mengungkap terdapat kaitan antara pola asuh, tingkah laku agresif orangtua, dan kegemaran remaja menonton film keras dengan tingkah laku remaja. Pada penelitian klasik modeling oleh Bandura tanpa harus disuruh, anak-anak yang melihat aksi orang dewasa terhadap boneka bobo akan melakukan hal hal yang sama terhadapnya.

Sumber: Sarwono, Sarlito W dan Meinarno Eko A. 2009. Psikologi Sosial. Jakarta: Salemba Humanika.

Minggu, 11 Januari 2015

Pengertian Agresivitas (Sejarah munculnya Agresi)

Tongsampah - Menurut Berkowitz sebagaimana dikutip oleh Saworno dan Meinarno (2009), agresi merupakan tindakan melukai yang disengaja oleh seseorang atau institusi terhadap orang atau institusi lain yang sejatinya disengaja.

Pemicu yang umum dari agresi adalah ketika seseorang mengalami satu kondisi emosi tertentu, yang sering terlihat adalah emosi marah. Perasaan marah berlanjut pada keinginan untuk melampiaskannya dalam satu bentuk tertentu pada objek tertentu. marah merupakan sebuah pernyataan yang disimpulkan dari perasaan yang ditunjukkan yang sering disertai dengan konflik atau frustasi.

Sejarah agresi dapat dilihat dalam kisah kitab-kitab suci, bahwa awalnya dunia tidak mengenal kekerasan.sampai pada satu ketika kedua anak dari Nabi Adam berselisih paham. Perselisihan ini berlanjut hingga terjadilah peristiwa pembunihan Habil oleh Qobil. Walaupun kisah ini tidak ilmiah, setidaknya hal ini merupakan catatan tertua dalam sejarah kekerasan manusia. Kasus tersebut menunjukkan terjadinya agresivitas, sebuah tindakan yang merugikan bahkan sampai menghilangkan nyawa manusia.

Sumber: Sarwono, Sarlito W dan Meinarno Eko A. 2009. Psikologi Sosial. Jakarta: Salemba Humanika.