Tampilkan postingan dengan label NASIONALISME. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label NASIONALISME. Tampilkan semua postingan

Minggu, 09 Desember 2012

Sobat Bumi

Ketika masih kecil, saya sering mendapat wejangan dari kakek. Wejangan yang masih saya ingat hingga sekarang adalah tentang pohon besar. Kakek sering mewanti-wanti saya untuk tidak mengunjunginya. Saya bertanya alasannya. �Ada jin-nya,� kata kakek singkat. Membayangkan muka seram sang jin, saya urung bertanya lebih lanjut. Di benak, saya tanamkan keinginan untuk mematuhi himbauan kakek tersebut.

Namun, di lain waktu, perkataan kakek justru mengirim rasa penasaran dalam kepala saya. Kadang saya sangat ingin mengunjungi pohon-pohon besar yang ada di desa saya, tentu tanpa sepengatuhan kakek. Dan keingintahuan itu lunas ketika suatu sore sehabis menonto televisi saya pergi ke salah satu pohon besar di tenggara rumah. Orang-orang di kampung saya biasa menyebutnya pohon kalompang. Pohon itu besar dan kokoh. Menyeramkan.

Bersama dua orang kawan, saya mencoba menyusuri jalan kecil yang penuh duri semak. Satu teman memilih menunggu di ujung jalan setapak karena takut. Kami berdua memberanikan diri masuk ke semak-semak untuk mencapai batang pohon raksasa itu.

Ketika sampai di hadapannya, dengan masih diliputi rasa waswas dan takut, kami berdiam, seakan menunggu jin keluar dan menemui kami sebagaimana perkataan kakek. Sampai sekian menit tak ada tanda-tanda makhluk itu keluar. Kata-kata kakek mulai terkikis. Saya berpikir untuk pulang saja. Dan benar, sampai akhirnya kami pulang, tak ada tanda-tanda pohon tersebut mengeluarkan jin. Saya pulang dengan kesimpulan bahwa kakek telah membohongi saya.
****
Tentang pohon, di banyak tempat, kerap hidup mitos-mitos yang mengelilinginya. Para sesepuh meyakini bahwa pohon besar memiliki penunggu yang tak boleh diusik. Pohon tersebut tidak boleh ditebang jika ingin selamat. Ancamannya bisa menghilangkan akal orang yang menebangnya, atau bahkan bisa membunuh mereka.

Seiring perkembangan teknologi, kepercayaan terhadap mitos kian hari makin luntur. Penunggu-penunggu pohon besar kemudian mereka yakini hanyalah ilusi masa lalu yang tak bisa dipakai di zaman yang serba canggih seperti saat ini. Kini zaman teknologi, bukan zaman batu.

Efek dari keyakinan itu membuat orang tidak lagi takut menebang pohon-pohon besar. Di sejumlah tempat, perdagangan kayu ilegal sangat marak. Kayu-kayu itu dihanyutkan melalui sungai atau diangkut dengan kapal laut. Kini, bukan hanya jin yang berhasil mereka kelabui, tapi juga aparat keamanan.

Setelah mengalami penebangan besar-besaran, hutan-hutan mulai gundul. Bencana datang bertubi-tubi, longsor, banjir, dan cuaca yang tidak menentu. Orang perlahan-lahan sadar bahwa lingkungan mereka kini sudah tak bersahabat. Persabahatan itu retak karena mereka membiarkannya ketika ada penggundulan di mana-mana. Tiba-tiba mereka sadar, pohon-pohon itu ternyata banyak gunanya.

Beberapa orang yang peduli terhadap lingkungan mulai merasa harus berbuat sesuatu. Salah satunya kembali menghidupkan mitos seperti yang pernah diucapkan kakek saya. Setelah dipikir-pikir, rupanya mitos tersebut bukan saja berbicara tentang dunia gaib (jin), melainkan ada sesuatu yang nyata yang dikandungnya. Pohon membantu banyak sekali dalam kehidupan manusia. Seharusnya ia dihormati dengan tidak sembarang menebangnya, apalagi untuk tujuan-tujuan komersil.

Langkah Kongkrit

Kita tidak bisa hanya sekedar berbicara terus-menerus jika tak ingin disebut sebagai tong kosong. Harus ada langkah kongkrit yang kita persembahkan untuk menghormati pohon yang telah banyak berjasa kepada kita. Pohon-pohon yang telah tumbang itu harus kita ganti.

Salah satu yang bisa kita lakukan adalah dengan memanfaatkan lembaga pendidikan. Selama ini, kerap kita melihat dunia pendidikan mengadakan penghijauan hanya meriah pada saat seremonialnya saja. Setalah selesai, maka selesai pula penghijauan tersebut. Padahal, penghijauan itu adalah program berkelanjutan. Tentu yang terbaik adalah pasca-seremonial harus ada tindak lanjut dari pihak lembaga yang melibatkan peserta didik. Mereka harus aktif memlihara tanaman sehingga lahir kecintaan terhadap lingkungan.

Sebagai langkah teknis, kita bisa menerapkan satu konsep penghijauan berkelanjutan yang sering disebut sebagai adopsi pohon. Konsep adopsi pohon mengharuskan masing-masing siswa menanam satu atau sejumlah pohon yang harus mereka rawat sampai besar. Mereka bertanggung jawab atas kehidupan pohon tersebut. Jika pohon yang ditanamnya mati, maka siswa yang bertanggung jawab atasnya harus mengganti dengan yang baru. Demikianlah, siswa tersebut harus terus merawatnya dengan baik. Jika hal itu benar-benar diterapkan, alangkah hijaunya sekolah kita.

Hal lain yang juga penting dilakukan adalah merealisasikan jargon �Satu orang, satu pohon�. Ini akan sangat membantu dalam pemulihan lingkungan, utamanya di rumah-rumah kita sendiri. Jika kita punya saudara tiga orang dan ditambah ibu-bapak menjadi lima orang, berarti ada lima pohon yang akan menghiasi rumah kita. Itu masing-masing hanya satu pohon. Bagaimana kalau lebih?
****
Nah, Pertamina yang kini sedang menggalakkan penghijauan mungkin bisa bekerja sama dengan lembaga-lembaga pendidikan atau kelompok masyarakat yang konsen di bidang lingkungan untuk merealisasikan mimpinya �menghijaukan� negara tercinta ini. Konsep adopsi pohon bisa jadi ide menarik jika diterapkan di tengah-tengah mereka. Bagaimanapun, penghijauan akan lebih cepat berhasil jika masyarakat ikut berperan aktif di dalamnya.

Bumi hijau di tangan kita semua!