Tampilkan postingan dengan label Kerajaan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kerajaan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 22 Januari 2017

Mengenang leluhur Kerajaan Majapahit yaitu Kerajaan Singasari. Kerajaan ini meskipun hanya berdiri selama 70 tahun (1222 - 1292), namun memiliki 5 pemimpin yang mampu mengguncangkan Nusantara. Penguasa tersebut diceritakan di kitab Pararaton diantaranya :
  1. Rajasa Sang Amarwabhumi (1222 - 1247)
  2. Bhatara Anusapati (1247 - 1249)
  3. Panji Tohjaya (1249 - 1250)
  4. Wisnuwardhana (1250 - 1272)
  5. Kertanegara (1272 - 1292)
Terdapat semacam perjanjian tidak tertulis yang hanya bisa diamati ketika menelisik artefak peninggalan yang ada.  Bila kita mengambil ibukota Kerajan Tumapel / Singasari atau Kota Singosari modern saat ini :

Anak dari Tunggul Ametung - Ken Dedes berkuasa atas istana Tumapel dan wilayah timur serta utara. Sedangkan anak dari Ken Umang - Ken Arok - Ken Dedes berkuasa di Dhaha dan wilayah barat dan selatan. Kedua kubu saling berpengaruh dan mendapat legitimasi sebagai penguasa utama. Hingga masa pemerintahan Winuwardhana (Tumapel) dan Mahesa Campaka (Dhaha) kemudian sepakat untuk melebur dan berkolaborasi antar kedua keluarga yang terpecah akibat pertikaian masa lalu.

Istana Tumapel dibawah pemerintahan Wisnuwhardhana mengambil gelar untuk bangsawannya yaitu Mahasinghanada, sedangkan istana Dhaha dibawah pemerintahan Mahesa Campaka mengambil gelar Mahanarasinghamurti untuk bangsawannya. Keduanya saling mengaku bahwa mereka merupakan berasal dari rahim sang singha, Ken Dedes. Sejak saat itu tidak ada lagi perebutan kekuasaan dan nama kerajaan berubah menjadi Singhasari.

Istana Tumapel memiliki tugas sebagai diplomasi luar negeri serta perdagangan, sedangkan Dhaha memiliki tugas melakukan diplomasi dalam negeri dan mengatur kekuatan militer. Putra mahkota istana Tumapel diangkat menjadi Yuwaraja (raja muda) di Dhaha dan sebaliknya Putera mahkota Dhaha diangkat menjadi Yuwaraja di Tumapel.

Raja Tumapel bergelar Murdharaja atau penjaga kemakmuran sedangkan raja Dhaha bergelar Anggabhaya atau penjaga keselamatan dari bahaya. Dua matahari kembar inilah yang kemudian menjadi kekuatan besar di Asia Tenggara dan mengukuhkan sebagai "Naga Laut Selatan" (armada laut yang disegani dan menguasai laut bagian selatan yangmeliputi Nusantara), meneruskan kebesaran Dhaha Panjalu dan Kahuripan.

Sabtu, 14 Januari 2017

Islam berkembang pesat di Jawa salah satunya dipelopori oleh Kesultanan Demak dan para Wali Songo. Setelah Kerajaan Demak runtuh, kemudian dilanjutkan Kerajaan Pajang. Jaka Tingkir adalah sosok yang memindahkan Kerajaan Demak ke Kerajaan Pajang. Secara geografis, Kerajaan Pajang berada di daerah pedalaman. Pemilihan tempat ini mempertimbangkan faktor ekstern dan intern. Namun demikan, dari perpindahan letak kerajaan inilah yang kemudian menghasilkan kemajuan dalam perkembangan Islam di wailayah pedalaman Jawa.

BERDIRINYA KERAJAAN PAJANG
Kerajaan Pajang berdiri pada akhir abad ke - 16 M yang ditandai dengan berakhirnya Kerajaan Demak. Kekuasaan Demak kemudian bergeser dari pantai utara Jawa ke pedalaman Jawa dan bertransformasi menjadi Kerajaan Pajang. Ketika membahas Kerajaan Pajang tidak bisa lepas dari pembahasan keruntuhan Kerajaan Demak. Pada masa keruntuhan Kerajaan Demak, terjadi konflik internal di Kerajaan Demak antara Aryo Penangsang dan Joko Tingkir (menantu Sultan Trenggono). Perangpun pecah pada tahun 1546 M setelah Sultan Demak meninggal dunia.

Perang antara Aryo Penangsang dari Demak dan Jaka Tingkir dari Pajang dimenangkan oleh Jaka Tingkir yang dibantu Sutawijaya dari Mataram. Saat terjadi perang antara Jaka Tingkir (Hadiwijaya) dan Arya Penangsang yang dimenangkan Jaka Tingkir, sebenarya Sunan Kudus kurang setuju terhadap pengangkatan Hadiwijaya menjadi raja Demak dan memindah kerajaan ke Pajang. Pengangkatan Hadiwijaya sebagai raja Pajang dilakukan oleh Sunan Giri. Kerajaan Pajang dianggap sebagai penerus dan pewaris tahta Kerajaan Demak.

Sebelum resmi menjabat sebagai raja Pajang, Jaka Tingkir berasal dari Pengging dan merupakan adipati Pajang pada masa Sultan Trenggono. Kerajaan Pajang berada di wilayah Kertasura dan merupakan kerajaan Islam pertama yang berada di kedalaman Jawa. Kerajaan Pajang tidak berlangsung lama, karena berada dekat dengan kerajaan Islam lain yang lebih besar yaitu Kerajaan Mataram Islam.

Ketika Kerajaan Pajang berdiri, wilayah kekuasaan Jawa Tengah hanyalah di sekitar Jawa Tengah. Hal ini disebabkan karena pada masa kemunduran Kerajaan Demak, banyak wilayah terutama di Jawa Timur melepaskan diri. Namun pada tahun 1568 M, Sultan Hadiwijaya beserta adipati - adipati di Jawa Timur dipertemukan di Giri Kedaton oleh Sunan Prepen. Pada pertemuan tersebut para adipati di Jawa Timur mengakui kedaulatan Kerajaan Pajang atas kadipaten - kadipaten di Jawa Timur. Setelah itu, Kerajaan Pajang melakukan ekspansi ke beberapa wilayah diantaranya di Jawa Timur.

Perpindahan kekuasaan Demak ke Pajang seolah merupakan kemenangan Islam Kejawen atas Islam Ortodok. Kerajaan Pajang mencapai puncak kejayaan ketika masa pemerintahan Hadiwijaya. Namun, setelah meninggalnya Hadiwijaya pada tahun 1582 M banyak terjadi perselisihan.

SILSILAH KERAJAAN DEMAK DAN PAJANG

KEMUNDURAN DAN KERUNTUHAN KERAJAAN PAJANG
Setelah Hadiwijaya meninggal pada tahun 1582 M, terjadi perselisihan diantara penerusnya. Hadiwijaya pada akhirnya digantikan oleh Arya Pangiri yang berasal dari Demak. Arya Pangiri kemudian menempati keraton Pajang. Dalam menjalankan pemerintahan Kerajaan Pajang, Arya Pangiri banyak melibatkan orang - orang Demak. Keputusan - keputusan yang diambil kerap kali merugikan rakyat Pajang dan menimbulkan ketidak senangan dari para rakyat.

Disisi lain, anak dari Hadiwijaya yang bernama Pangeran Benawa diangkat sebagai adipati Jipang. Pangeran Benawa merasa tidak puas atas pengangkatan dirinya sebagai adipati bukan sebagai penerus tahta ayahnya sebagai raja di Kerajaan Pajang. Pangeran Benawa kemudian meminta bantuan kepada senopati Mataram yang bernama Sutawijaya yang merupakan anak angkat Hadiwijaya untuk menyingkirkan Arya Pangiri dan merebut tahta Kerajaan Pajang.

Perang akhirnya pecah di kota Pajang. Pasukan Pajang dibawah Arya Penangsang berjumlah 300 orang pajang, 2000 orang Demak, dan 400 orang bayaran mampu dikalahkan pasukan Pangeran Benawa dan Sutawijaya. Pajang berhasil direbut, Arya Pangiri ditangkap namun diampuni setelah Ratu Pembayun, istrinya, meminta ampunan.

Sutawijaya kemudian mengembalikan Arya Pangiri ke Demak dan mengangkat Pangeran Benawa sebagai raja Kerajaan Pajang. Pangeran Benawa merasa ingin membalas budi dengan memberikan haknya atas warisan tahta kepada Senopati Mataram, Sutawijaya. Namun, Sutwaijaya menolak. 

Sutawijaya hanya meminta perhiasan emas intan Kerajaan Pajang. Dangan demikian, Pangeran Benawa disahkan sebagai sultan di Pajang dan Kerajaan Pajang berada dibawah kekuasaan Mataram. Sepeninggal Sultan Benawa, kekuasaan Pajang dipimpin beberapa sultan. Namun pada tahun 1617 - 1618 M, terjadi pemberontakan besar dari Mataram yang dilakukan Sultan Agung raja dari Mataram kepada Kerajaan Pajang. Pada tahun 1618 M, kerajaan Pajang mengalami kekalahan dari Mataram. Dengan demikian Kerajaan Pajang mengalami keruntuhan.

RAJA - RAJA KERAJAAN PAJANG

1. Jaka Tingkir / Hadiwijaya
Jaka Tingkir memiliki nama kecil yaitu Mas Krebet. Nama ini diambil ketika kelahiran Jaka Tingkir yang pada saat itu bertepatan dengan acara wayang beber di rumahnya. Jaka Tingkir berasal dari daerah Pengging, Lereng Gunung Merapi. Ia merupakan cucu dari Sunan Kalijaga yang berasal dari daerah Kadilangu. Nama Jaka Tingkir baru disebut ketika ia remaja. Nama Jaka Tingkir dinisbatkan kepadanya dari nama wilayah dimana ia dibesarkan. Pada perkembangannya Jaka Tingkir dinikahkan dengan anak Sultan Trenggana (raja Kerajaan Demak). Jaka Tingkir diberikan kekuasaan di Pajang dan mendapatkan gelar Hadiwijaya. 

Jaka Tingkir menggulingkan kekuasaan Kerajaan Demak dan memindah kerajaan tersebut ke Pajang. Di bawah kepemimpinannya, Hadiwijaya mampu memperluas wilayah Pajang hingga ke Madiun, Blora (1554 M) dan Kediri (1577 M). Jaka Tingkir juga diakui oleh seluruh adipati Jawa Tengah dan Jawa Timur pada tahun 1581 M.

Pada masa pemerintahan Hadiwijaya mulai dikenal kesusastraan dan kesenian dari keraton yang sebelumnya berkembang disepanjang pantai utara kemudian menyebar di pedalaman. Selain itu, Islam juga menyebar ke seluruh pedalaman oleh Syekh Siti Jenar dan Sultan Tembayat. Masa pemerintahan Jaka Tingkir atau Hadiwijaya berakhir pada tahun 1582 M dan digantikan oleh Arya Pangiri.

2. Arya Pangiri
Kedudukan raja Kerajaan Pajang sepeninggal Hadiwijaya adalah Arya Pangiri yang berasal dari Demak. Arya Pangiri merupakan anak dari Prawoto yang merupakan raja Demak keempat. Arya Pangiri sempat menjadi adipati Demak. Namun setelah Hadiwijaya meninggal, ia diangkat sebagai raja Kerajaan Pajang dengan gelar Sultan Ngawantupura.

Arya Pangiri dikisahkan sebagai raja yang berambisi menaklukkan Mataram hingga melupakan kesejahteraan rakyatnya. Ia melanggar wasiat mertuanya (Hadiwijaya) supaya tidak membenci Sutawijaya. Ia bahkan membentuk pasukan yang berisikan orang - orang bayaran dari Bali, Bugis dan Makasar untuk berperang melawan Mataram.

Arya Pangiri bahkan meminggirkan penduduk asli Pajang dan mendatangkan orang - orang Demak yang kemudian menggeser keberadaan pejabat Pajang. Dengan datangnya orang - orang Demak, penduduk Pajangpun tersisihkan.

Akibat gaya pemerintahannya yang timpang terhadap warga asli Pajang, sebagian penduduk Pajang pindah ke Jipang dibawah pemerintahan Pangeran Benawa, dan sebagian diantara penduduk Pajang kemudian memutuskan untuk menjadi perampok karena kehilangan mata pencaharian. Hingga pada akhirnya, Pangeran Benawa mampu menggulingkan kekuasaan dari Arya Pangiri dan Arya Pangiri dipulangkan ke Demak.

3. Pangeran Benawa
Pangeran Benawa adalah anak kandung dari Hadiwijaya yang bergelar Sultan Prabuwijaya. Sejak kecil Pangeran Benawa sudah bersaudara dengan Sutawijaya yang diangkat anak oleh Hadiwijaya. Pada perkembangannya Sutawijaya mendirikan Kerajaan Mataram. Dari Pangeran Benawa lah akan lahir orang - orang besar dan pujangga - pujangga besar. Pangeran Benawa meninggal pada tahun 1587 M, Kerajaan Pajang sepenuhnya tunduk kepada Kerajaan Mataram. Hal ini disebabkan karena keturunan Pangeran Benawa kurang cakap dalam menjalankan roda pemerintahan Kerajaan Pajang.

KERAJAAN PAJANG DALAM BERBAGAI ASPEK

Berbeda dengan Kerajaan Demak yang terletak di pesisir Jawa dan bercorak maritim, Kerajaan Pajang berada pada pedalaman Jawa dan lebih bersifat agraris. Penghasilan utama Kerajaan Pajang adalah dari sektor pertanian. Secara geografis, Kerajaan Pajang terletak di antara dua sungai yaitu sungai Pepe dan sunagi Dengke. Hal ini sangat mendukung adanya pertanian di wilayah Pajang. Secara politik, Kerajaan Pajang masih berkaitan erat dengan para wali sebagai penasehat di internal kerajaan. Kerajaan Pajang berdiri dengan sejarah kekerasan dan perang hingga berdiri Kerajaan Pajang yang kita kenal.

Minggu, 08 Januari 2017

Kerajaan Demak dahulu hanyalah sebuah kadipaten di bawah Kerajaan Majapahit. Ketika Majapahit mengalami krisis, kerajaan bawahan Majapahit satu per satu mulai melepaskan diri dan membentuk kerajaan baru, sedangkan Demak mendirikan pemerintahan sendiri dengan pusat kota di daerah Bintoro. Kerajaan Demak merupakan kerajaan dengan corak Islam pertama di Jawa yang didirikan oleh Raden Patah beserta para Wali Songo.
Kerajaan Demak didirikan oleh Raden Patah yang tak lain merupakan anak dari raja Majapahit, Brawijaya V dari putri Campa. Raden Patah memilih wilayah Demak karena Demak dianggap strategis berada di antara pelabuhan yaitu Pelabuhan Bergota Kerajaan Mataram Hindu (daerah Semarang, kira - kira antara Sam Poo Kong sampai sampai Karyadi) dan Pelabuhan Jepara. Demak dianggap sebagai kerajaan yang berpengaruh besar bagi Nusantara pada masanya. Kerajaan Demak mencakup Banjar, Palembang, Maluku dan sebagain besar wilayah utara Jawa.

Kehidupan Politik Kerajaan Demak
Raden Patah merupakan raja pertama Kerajaan Demak yang bergelar Senapati Jumbung Ngabdurrahman Panembahan Palembang Sayidin Panatagama. Raden Patah turun tahta pada tahun 1507 digantikan putranya yang bernama Pati Unus. Sebelum diangkat menjadi raja Kerajaan Demak, Pati Unus pernah memimpin penyerangan Portugis di Selat Malaka, namun penyerangan tersebut mengalami kegagalan. Atas keberaniannya memimpin penyerangan Portugis di Malaka, Pati Unus kemudian dijuluki Pangeran Sabrang Lor.

Pati Unus wafat pada tahun 1522 dan digantikan oleh adiknya yang bernama Sultan Trenggana. Pada masa pemerintahan Sultan Trenggana inilah Kerajaan Demak mengalami kejayaan. Sultan Trenggana sebagai raja Demak berusaha menahan pengaruh Portugis di Jawa. Pada saat itu Portugis berusaha melakukan kerjasama dengan Kerajaan Sunda atau disebut juga Kerajaan Pajajaran. Saat itu, Raja Samiam yang memerintah Kerajaan Sunda memberikan izin kepada Portugis untuk membuka kantor dagang di Sunda Kelapa. Sultan Trenggana yang terang - terangan memusuhi Portugis akhirnya mengutus Fatahillah atau Faletehan untuk mencegah upaya Portugis dalam menduduki wilayah Sunda Kelapa dan Banten. 
Sunda Kelapa atau Jakarta yang kita kenal saat ini merupakan wilayah dari Kerajaan Sunda. Pada saat itu, Portugis telah mendirikan benteng untuk menahan serangan dari kerajaan - kerajaan lain. Demak tidak menyukai hal tersebut dan memutuskan untuk menyerang Sunda Kelapa. Fatahillah melakukan penyerangan dan berhasil mengalahkan Portugis. Banten dan Cirebon akhirnya dapat dikuasai oleh Fatahillah dan pasukannya.

Atas kemenangan ini, Sunda Kelapa kemudian diganti dengan nama Jayakarta pada 22 Juni tahun 1527. Kejadian ini membuat nama Trenggana menjadi raja terbesar di Kerajaan Demak. Selanjutnya kerajaan - kerajaan Hindu dan Buddha mulai dikuasai diantaranya Wirosari dan Tuban (1528), Madiun (1529), Lamongan, Blitar, Pasuruan dan Wirosobo (1541 sampai 1542).

Kerajaan Mataram, Madura dan Pajang akhirnya juga masuk ke dalam kekuasaan Kerajaan Demak. Strategi politik dilakukan oleh Sultan Trenggana dengan mengawinkan putrinya dengan Bupati Madura bernama Pangeran Langgar. Selanjutnya putra Bupati Pengging bernama Tingkir diambil menjadi menantu Sultan Trenggana dan dijadikan Bupati di Pajang.

Sultan Trenggana meninggal pada tahun 1546 dalam pertempuran di Pasuruan. Setelah wafatnya Sultan Trenggana, di internal Kerajaan Demak terjadi persengketaan perebutan kekuasaan. Sultan Trenggana kemudian digantikan oleh Pangeran Mukmin atau disebut juga Pangeran Prawoto yang merupakan putra tertua Sultan Trenggana. Namun, Prawoto dibunuh oleh Arya Penangsang, Bupati Jipang.

Kemudian tahta Kerajaan Demak diduduki oleh Arya Penangsang. Namun, keluarga kerajaan tidak menyetujui Arya Penangsang menjadi raja Kerajaan Demak. Pada akhirnya Arya Penangsang dibunuh anak angkat dari Jaka Tingkir bernama Sutawijaya. Sejak saat itu Kerajaan Demak dipindah ke Pajang.

Peta Kerajaan Demak

Silsilah Kerajaan Demak



Kejayaan Kerajaan Demak
Kerajaan Demak mengalami masa kejayaan pada masa pemerintahan Sultan Trenggno (1521 - 5126). Pada masa tersebut, Kerajaan Demak mampu menguasai Sunda Kelapa (1527), Tuban (1527), Surabaya dan Pasuruan (1527), Madiun (1529),dan Blambangan yang merupakan kerajaan Hindu terakhir di ujung Jawa (1527, 1546). Namun, pada tahun 1546 Sultan Trenggana meninggal saat bertempur melawan Pasuruan.

Runtuhnya Kerajaan Demak
Kerajaan Demak mengalami keruntuhan setelah wafatnya Sultan Trenggono. Terjadi perebutan kekuasaan di antara internal Kerajaan Demak. Pada akhirnya, penerus tahta Kerajaan Demak dilanjutkan oleh saudara Sultan Trenggana yang bernama Pangeran Sedo Lapen, namun Pangeran Sedo Lapen dibunuh oleh Pangeran Prawoto yang merupakan anak tertua dari Sultan Trenggana.

Pangeran Prawoto akhirnya tewas di tangan Arya Penangsang yang tak lain adalah anak dari Pangeran Sedo Lapen. Arya Penangsang yang kemudian menjabat sebagai raja Demak tidak mendapat restu internal Kerajaan Demak dan pada akhirnya tewas di tangan anak dari Joko Tingkir bernama Sutawijaya. Akhirnya pada tahun 1568 M, tahta kerajaan Demak ditangan Joko Tingkir dan Kerajaan Demak dipindah ke Pajang.

Kehidupan Ekonomi Kerajaan Demak
Letaknya yang strategis berada di pantai utara Jawa menjadikan Demak sebagai salah satu pelabuhan terbesar di Nusantara. Demak memegang peranan yang penting dalam perdagangan antar pulau. Selain dari wilayah perairan, Kerajaan Demak juga berkembang dalam bidang agraris yang merupakan penghasil bahan makanan seperti beras. Perdagangan di Demak juga semakin meningkat berupa komoditas seperti lilin, madu dan beras.

Barang - barang tersebut kemudian diperjualbelikan di Malaka melalui pelabuhan Jepara. Demak yang strategis sangat menguntungkan karena banyak kapal yang melewati laut Jawa dalam memasarkan dagangan serta mendapat pajak dari setiap kapal yang lewat. .

Kehiduan Sosial dan Budaya
Kehidupan sosial dan budaya di Kerajaan Demak sudah teratur dengan hukum Islam dan Jawa yang menjadi dasar - dasar dalam melaksanakan segala hal. Kebudayaan di Kerajaan Demak berkembang dengan budaya Jawa yang masih kental dipadukan budaya Islam yang melebur berakulturasi menjadi satu dan membentuk budaya baru di Jawa.

Sisa - sisa peradaban Kerajaan Demak dapat dilihat pada Masjid Demak yang memiliki unsur Jawa dan unsur Arab. Masjid Demak menjadi simbol kebesaran Kerajaan Demak. Terdapat lambang Surya Majapahit yang merupakan peninggalan dari Kerajaan Majapahit. Terdapat juga saka tatal yang menyangga Masjid Demak tetap berdiri kokoh.
Baca Juga : Sejarah Masjid Demak
Peninggalan Kerajaan Demak
Berikut ini adalah peninggalan - peninggalan dari Kerajaan Demak, diantaranya :
  • Masjid Agung Demak
  • Piring Campa dari Putri Campa (ibu dari Raden Patah)
  • Makam Sunan Kalijaga
  • Soko Tatal dan Soko Guru
  • Pintu Bledeg
  • Bedug dan Kentongan Wali Songo
Infografik Kerajaan Demak
Sumber : sajaksejarah.blogspot.co.id (Taufiq Harpan Aldila)

Lampiran
Masjid Demak
Soko Guru
Saka Tatal
Surya Majapahit di Masjid Demak

Sabtu, 10 Desember 2016

Kerajaan Singasari mengalami masa kejayaan di bawah pemerintahan Raja Kertanegara. Salah satu keinginan Kertanegara yaitu memperluas Kerajaan Singasari dengan menyatukan Jawadwipa dan Suwarnadwipa (Sumatra / Melayu). Untuk merealisasikan keinganannya tersebut, Kertanegara melakukan Ekspedisi Pamalayu yaitu operasi militer yang bertujuan untuk menundukkan Kerajaan Melayu.

Pada tahun 1275 M, Kertanegara mengirim 14.000 prajuritnya ke Kerajaan Dharmasraya, Sumatera. Ekspedisi Pamalayu berlatarbelakang adanya ancaman serangan dari Mongol dibawah Raja Kubilai Khan. Dengan menggabungkan Jawadwipa dengan Suwarnadwipa, Kerajaan Singasari yakin akan bisa membendung serangan Mongol.

Kitab Negarakertagama menyebutkan bahwa tujuan awal Ekspedisi Pamalayu yaitu untuk menjalin kerjasama yang baik antara Jawa dan Sumatera. Namun tujuan baik tersebut mendapat penolakan oleh raja Kerajaan Dharmasraya. Singasari meradang dan mengirimkan pasukannya yang dipimpin Kebo Anabrang (Terkadang disebut Mahisa Anabrang) yang merupakan seorang yang berasal dari Melayu yang diangkat menjadi rakryan di Singasari.

Pada tahun 1268 M, terjadi peperangan pertama antara Singasari dengan Dharmasraya. Perang tersebut dimenangkan oleh Singasari yang ditandai pengiriman arca Amoghapasa bersama 4.000 prajurit khusus Singasari. Prasasti Padangroco menyebutkan bahwa arca Amoghapasa merupakan hadiah persahabatan dari Raja Kertanegara kepada Raja Dharmasraya, Srimat Tribhuwanaraja Mauli Warmadewa.

Berdasarkan Kitab Pararaton, Ekspedisi Pamalayu selesai pada tahun 1293 M, pasukan Singasari pulang ke Jawa. Sebelumnya pada tahun 1292, Jayakatwang (raja kerajaan vasal Kediri) bersama Arya Wiraraja melakukan pemberontakan dan berhasil menggulingkan kekuasaan Kertanegara. Pada tahun yang sama, pasukan Mongol (Tartar) dibawah Kubilai Khan mengirim pasukannya ke Singasari untuk menghukum Kertanegara atas pemotongan telinga utusannya ketika Singasari masih berdiri. Atas tipu daya Arya Wiraraja dan Raden Wijaya (menantu Kertanegara), pasukan Mongol menyerang Jayakatwang yang dianggap sebagai Kertanegara oleh pasukan Kubilai Khan. Kediri tunduk pada Mongol sedangkan Jayakatwang dihukum.

Kemenangan pasukan Mongol dirayakan secara meriah oleh Raden Wijaya dengan menyediakan arak. Pasukan Mongol mabuk berat, Raden Wijaya memanfaatkan hal tersebut dengan melakukan serangan kepada Mongol secara mendadak. Pasukan Mongol lari tunggang langgang, sebagian mati tersebunuh sedangkan sebagian melarikan diri kembali ke negaranya. Raden Wijaya kemudian mendirikan Kerajaan Majapahit dengan tanah tarik yang sebelumnya diberikan oleh Jayakatwang yaitu di Trowulan.

Pasukan Ekspedisi Pamalayu sampai di Jawa pada tahun 1293. Kebo Anabrang dan pasukannya langsung memposisikan diri sebagai abdi Majapahit dan menganggap Raden Wijaya adalah penerus sah dari Kertanegara. Namun, ternyata tidak semua pasukan Ekspedisi Pamalayu kembali ke Jawa. Pasukan di bawah Indrawarman menetap di Sumatera dan menolak mengakui Majapahit sebagai pengganti Singasari. Akhirnya pada tahun 1339, pasukan Majapahit dibawah Adityawarman menghancurkan pasukan Indrawarman.

Rabu, 30 November 2016

Majapahit dianggap sebagai pemersatu Nusantara yang memiliki kekuasaan setara Republik Indonesia pada saat ini, bahkan pengaruhnya juga sampai di luar Indonesia. Kerajaan Majapahit merupakan kelanjutan dari Kerajaan Singasari yang berdiri tidak lebih dari satu abad. Abad 16 Majapahit runtuh dan lenyap sama sekali yang ditandai dengan sengkalan Sirno Ilang Kertaning Bumi.
Baca juga : Sejarah Kerajaan Majapahit
Keruntuhan Majapahit dikarenakan adanya konflik internal Majapahit yang saling memperebutkan kekuasaan atas hasrat individual yaitu memperebutkan tahta raja Majapahit. Puncaknya ialah ketika terjadi perang saudara antara Wikramawardhana dan Bhre Wirabhumi. Kerajaan - kerajaan Nusantara yang dahulu ditundukkan oleh para pembesar Majapahit seperti Tribuwana Tunggadewi, Hayam Wuruk dan Gajah Mada akhirnya satu persatu melepaskan diri.

Sepeninggal Hayam Wuruk, di Kerajaan Majapahit terjadi perebutan kekuasaan oleh internal kerajaan. Hingga akhirnya pada tahun 1404 sampai 1406 muncul pemberontakan yang dilakukan oleh Bhre Wirabhumi atau Urubima, Adipati Blambangan yang juga merupakan keturunan Hayam Wuruk dari selirnya dan menjadi anak angkat Bhre Daha istri Wijayarajasa yang bernama Rajadewi. Bhre Wirabumi kemudian menikahi Nagarawardhani yang bergelar Bhre Lasem sang Alemu, putri Bhre Lasem (Duhitendu Dewi) atau adik dari Hayam Wuruk.

Penyebab Terjadinya Perang Paregreg
Pada masa pemerintahan Hayam Wuruk, Majapahit memiliki 2 istana yaitu istana barat di Trowulan sebagai pusat pemerintahan dan istana timur di Daha sebagai pusat kemiliteran. Kedua istana ini saling bersinergi satu sama lain. Istana barat diduduki Hayam Wuruk sebagai pemegang pemerintahan Kerajaan Majapahit dan di istana timur ada Wijayarajasa yang tak lain adalah mertua Hayam Wuruk. Hayam Wuruk meninggal pada tahun 1389 yang kemudian digantikan oleh keponakan sekaligus menantunya yang bernama Wikramawardhana. Sedangkan pada tahun 1398 Wijayarajasa meninggal yang kemudian digantikan oleh anak angkat sekaligus cucunya yang bernama Bhre Wirabhumi yang juga anak dari selir Hayam Wuruk sebagai raja di istana timur Majapahit.

Ketika Bhre Lasem Duhitendu Dewi sebagai penguasa Kerajaan Lasem sekaligus adik dari Hayam Wuruk meninggal,  jabatan Bhre Lasem diserahkan kepada Nagarawardhani istri dari Bhre Wirabhumi. Namun disisi lain Wikramawardhana juga mengangkat Kusumawardhani istrinya sendiri. Wikramawardhan seolah menyulut api kepada pihak Bhre Wirabhumi. Sengketa jabatan Bhre Lasem kemudian menjadi perang dingin antara Istana Barat dan Timur hingga akhirnya Nagawardhani dan Kusumawardhani meninggal pada tahun yang sama yaitu pada tahun 1400. Wikramawardhana kemudian mengangkat menantunya sebagai Bhre Lasem yaitu istri dari Bhre Tumapel.

Terjadinya Perang Paregreg
Pengangkatan Bhre Lasem oleh Wikramawardhana menjadi penyulut perang dingin antara istana barat dan istana timur. Menurut Pararton, Bhre Wirabhumi dan Wikramawardhana pernah bertengkar pada tahun 1401 dan hingga akhirnya keduanya tidak bertegur sapa. Pada 1404 terjadi perang Paregreg yang berarti perang setahap demi setahap dalam tempo lambat. Pertempuran dimenangkan bergantian terkadang yang menang pihak istana timur terkadang pihak istana barat.

Hingga akhirnya pada 1406, pihak istana barat menyerang istana timur yang dipimpin oleh Bhre Tumapel putra dari Wikramawardhana. Pada saat itu ada utusan dari Cina yang berada di istana timur. Pihak istana timur mengalami kekalahan dan 170 utusan Cina menjadi korban atas perang saudara ini. Bhre Wirabhumi melarikan diri menggunakan perahu pada malam hari dan berhasil dikejar oleh Raden Gajah atau dikenal juga dengan nama Bhra Narapati yang menjabat sebagai Ratu Angabhaya di istana barat. Kepala Bhre Wirabhumi dipenggal oleh Raden Gajah dan kepalanya diberikan kepada Wikramawardhana. Bhre Wirabhumi kemudian dicandikan di Lung bernama Girisa Pura.

Perang Paregreg ini kemudian diwayangkan dengan judul legenda Damarwulan. Ketika terjadi perang Paregreg keuangan Majapahit tersedot banyak hingga pada akhirnya daerah tundukan Majapahit dengan mudah melepaskan diri.

Bersamaan dengan mulai merosotnya pamor Kerajaan Majapahit, disisi lain ulama - ulama agama Islam dari Champa mulai giat menyebarkan paham agama Islam di Jawa. Para ulama tersebut kemudian dikenal dengan nama Wali Songo yang dipimpin oleh Sunan Giri. Hingga pada akhirnya Demak Bintoro melepaskan diri dari Kerajaan Majapahit. Munculnya Kesultanan Demak ini kemudian seolah melepaskan rakyat dari perang dan perebutan kekuasaan Kerajaan Majapahit yang menyengsarakan rakyat Majapahit selama berpuluh - puluh tahun.

Akibat Perang Paregreg
Setelah pihak istana timur yang dipimpin oleh Bhre Wirabhumi mengalami kekalahan, kerajaan timur dan barat bersatu. Imbas dari perang saudara ini adalah lepasnya kerajaan kerajaan Majapahit, pada tahun 1405 tercatat daerah Kalimantan Barat dikuasai kerajaan Cina, Palembang, Melayu dan Malaka melepaskan diri dan memilih berdiri sendiri dan mengembangkan bandar - bandar perdagangan, kemudian dilanjutkan lepasnya Kerajaan Brunei.

Selain itu pihak Wikramawardhana harus membayar ganti rugi atas meninggalnya 170 orang Cina yang diutus oleh Dinasti Ming untuk mengunjungi dua istana majapahit di Jawa. Cina telah mendengar adanya perpecahan dan konflik internal di kerajaan Jawa. Laksamana Cheng Ho adalah utusan duta besar dari Cina untuk mengunjungi kedua istana ini. Atas kematian kecelakaan orang Cina yang ada di istana timur tersebut, pihak istana barat kemudian dikenakan denda sebesar 60 tahil kepada Cina. Sampai tahun 1408, Majapahit hanya bisa membayar denda sebesar 10.000 tahil dan pada akhirnya Kaisar Yung Lo membebaskan denda dengan alasan kasihan. Peristiwa ini kemudian dicatat oleh Ma Huan sekrataris Cheng Ho dalam bukunya yang berjudul Ying-Ya-Sheng-Lan.

Setelah berakhirnya perang Paregreg, Wikramawardhana menikahi putri Bhre Wirabumi untuk dijadikan selir. Dari perkawinan ini kemudian lahir Suhita yang kemudian naik tahta pada 1427 sebagai pengganti Wikramawardhana. Pada pemerintahan Suhita inilah, pembalasan dendam kematian kakeknya Bhre Wirabhumi dilakukan dengan menghukum mati Raden Gajah pada tahun 1433.

Sumber : Wikipedia

Selasa, 29 November 2016


Kali Majapahit merupakan seni beladiri khas Majapahit atau disebut juga Sundang Majapahit. Sundang Majapahit mengadopsi ilmu - ilmu alam diantaranya
  • Sundang Gunung (aspek pertahanan) 
  • Sundang Kali / Sungai (aspek penggempuran) 
  • Sundang Laut (aspek penaklukan) 
  • Sundang Angin (aspek penyusupan) 
  • Sundang Matahari (aspek perlindungan terhadap raja dan kerabatnya)

Seni beladiri Sundang Majapahit bisa dimainkan secara individu maupun kelompok. Sundang Majapahit diperkenalkan oleh Mahesa Anabrang (Sri Bhatara Adwayabrahma) salah satu dari 9 arya Singasari yang kemudian menjadi petinggi di Majapahit. Ia memperkenalkan Sundang Majapahit yang merupakan perkawinan ilmu pencak silat dengan teknik telikungan / patahan yang dikombinasikan dengan senjata.

Ilmu beladiri ini pada awalnya adalah milik dari kerajaan Singasari dan Darmasraya (Kerajaan Melayu Jambi) yang kemudian diturunkan kepada Kerajaan Majapahit. Ilmu ini memadukan pedang (Sundang) yang berada di tangan kiri dan keris (Taji) yang ada di tangan kanan. Sundang Majapahit tidak memilih untuk bertahan melainkan maju menggempur dan menyusup ke titik terlemah musuh.

Dalam sejarah Majapahit, ilmu ini dianggap paling ampuh dan dianggap paling kejam dalam sejarah perang Majapahit. Seorang Ronggolawe yang juga salah satu 9 arya Singasari pun tewas ketika melawan pasukan Mahesa Anabrang. Ilmu ini digambarkan dengan "Tidak bisa dihentikan ditengah jalan, dia akan mengalir bak air bah yang tak terbendung".
Baca : Tewasnya Ronggolawe oleh Sundang Majapahit Mahesa Anabrang
Sebelum meninggal, Mahisa Anabrang mewariskan ilmunya ini ke putranya yaitu Dyah Bagus Mantlorot atau Mahesa Taruna atau disebut juga Adityawarman. Dengan Sundang Majapahit yang diwariskan ayahnya ini, ia mampu menduduki posisi tertinggi Wredhamenteri (orang kedua setelah raja) yang dianggap jauh dari posisi Gajah Mada. Ilmu Sundang Majapahit kemudian di turunkan ke 3 kerajaan mandala diantaranya Dharmasraya, Bugis Gowa dan Sulu.

Ketiga kerajaan tersebut memiliki kesamaan dalam ilmu beladiri yaitu menggunakan tali pengikat pada pergelangan yang diikatkan ke keris dan pedang atau disebut dengan Sundang. Kerajaan Dharmasraya menitik beratkan pada gerakan patahan, Bugis menitik beratkan pada kuncian dan tikaman (pencak sarung), sedangkan Sulu menitik beratkan pada reaksi (kali). Di Nusantara, ilmu ini mulai memudar seiring berjalannya waktu, hanya Sulu (wilayah selatan Filipina) yang masih melestarikan ilmu Sundang Majapahit dan masih menggunkan nama Kali Majapahit. Ilmu ini kemudian di klaim berasal dari Filipina dan mendunia hingga membuka cabang di Indonesia.

Video Demo Kali Majapahit

Rabu, 02 November 2016

Kerajaan Kahuripan merupakan penerus dari Kerajaan Medang / Mataram Kuno. Diceritakan bahwa pada masa keruntuhan Medang yang diserang oleh Aji Wuwari yang telah bersekutu dengan Kerajaan Sriwijaya. Penyerangan terjadi pada tahun 1006 M, ketika kerajaan Medang tengah melakukan prosesi perkawinan, Darmawangsa Teguh raja Medang yang pada masa itu menjabat, tewas dalam serangan ini. Sedangkan keponakannya yang bernama Airlangga berhasil meloloskan diri dari penyerangan tersebut yang dibantu oleh pembantunya yang bernama Narotama. Saat itu usia Airlangga sendiri baru berumur 16 tahun. Semenjak penyerangan tersebut, Airlangga menjalani hidupnya dengan melakukan pertapaan di hutan (daerah Wonogiri).

Menurut Prasasti Pucangan, pada tahun 1009 M, ketika Airlangga bertapa, datanglah utusan dari rakyat untuk meminta Airlangga membangun lagi Kerajaan Medang. Karena kota Watan sebagai basis dari Kerajaan Medang hancur, Airlangga memilih untuk membangun ibu kota baru yang bernama Watan Mas di sekitar Gunung Penanggungan. Nama Watan Mas tercatat dalam prasasti Cane yang berangka tahun 1021 M. Airlangga menjadi raja pertama di kahuripan dengan gelar Sri Maharaja Rakai Halu Sri Dharmawangsa Airlangga Anantawikramotunggadewa.

Menurut Prasasti Terep yang berangka tahun 1032 M, ibu kota Watan Mas pernah direbut musuh, Airlangga melarikan diri ke sebuah desa bernama Patakan. Prasasti Kamalagyan (1037 M) menyebutkan pemindahan ibu kota kerajaan yang dipindah ke Kahuripan (daerah Sidoarjo sekarang). Prasasti Pamwatan (1042 M) menyebutkan adanya pemindahan pusat kerajaan ke Daha yang sekarang menjadi Kediri. Berita ini cocok dengan yang ada di naskah Serat Calon Arang yang menyebutkan bahwa Airlangga yang menjabat sebagai raja Daha. Sedangkan Negarakertagama menyebut bahwa Airlangga sebagai raja Panjalu yang beribukota di Daha.

Masa Peperangan
Selepas Dharmawangsa Teguh sebagai raja terakhir Medang runtuh, banyak diantara kerajaan bawahan melepaskan diri. Selepas Airlangga mendirikan Kerajaan Kahuripan pada 1009 M, Airlangga berusaha mempersatukan kembali kekuasaan Wangsa Isyana Kerajaan Medang di pulau Jawa. Tercatat pada 1023, Kerajaan Sriwijaya diserang oleh Kerajaan Colomandala dari India. Dengan adanya kekalahan tersebut, Airlangga merasa leluasa untuk menaklukkan wilayah - wilayah di Jawa. Tercatat pada 1030 M, Kahuripan mampu mengalahkan kerajaan Wuratan, Wengker dan Lewa. Selanjutnya pada 1031 M putra Panuda raja Lewa mencoba membalas dendam namun dapat dipukul mundur dan ibu kota Lewa dihancurkan oleh Airlangga.

Pada tahun 1032 M, seorang raja wanita yang berasal dari Tulungagung berhasil mengalahkan Airlangga. Ibu kota Watan Mas dihancurkan dan Airlangga melarikan diri ke desa Patakan yang ditemani Mapanji Tumanggala. Airlangga membangun pusat kerajaan di Kahuripan. Pada 1032 M, Kahuripan yang dipimpin oleh Airlangga bersama Mpu Narotama menyerang Aji Wuwari untuk membalaskan dendam kerajaan Medang dan mengalahkannya.

Peta Wilayah Kerajaan Kahuripan

Masa Pembangunan
Setelah merasa aman, Airlangga kemudian mulai membangun kerajaan demi kesejahteraan rakyatnya. Berikut ini adalah pembangunan yang dilakukan Airlangga yang tercatat dalam prasasti - prasasti :
  • Pembangunan Sri Wijaya Asrama pada tahun 1036 M
  • Pembangunan bendungan Waringin Sapta pada tahun 1037 M untuk mencegah adanya banjir musiman
  • Memperbaiki pelabuhan Ujung Galuh yang terletak di Muara Sungai Brantas
  • Pembangunan jalan yang menghubungkan antara daerah pesisir dengan pusat kerajaan.
  • Meresmikan pertapaan Gunung Pucangan pada tahun 1041 M
  • Memindahkan ibu kota dari Kahuripan ke Daha
Selain dalam hal pembangunan fisik, Airlangga juga memperhatikan seni sastra. Tercatat pada 1035 M, Mpu Kanwa menuliskan naskah Arjuna Wiwaha yang diadaptasi dari epik Mahabarata. Kitab ini menceritakan tentang perjuangan Arjuna dalam mengalahkan Niwatakawaca sebagai kiasan Airlangga mengalahkan Aji Wuwari.

Silsilah Airlangga

Pembelahan Kerajaan Kahuripan
Airlangga turun tahta dari kerajaan Kahuripan pada 1042 M dan memutuskan menjadi pendeta. Menurut Serat Calon Arang, Airlangga kemudian bergelar Erlangga Jatiningrat, dalam Babad Tanah Jawi, Airlangga bergelar Resi Gentayu. Namun yang paling dapat dipercaya adalah Prasasti Gandhakuti yang berangka tahun 1042 M yang menyebutkan gelar kepandetaan Airlangga yaitu Resi Aji Paduka Mpungku Sang Pinaka Catraning Bhuwana.

Menurut cerita rakyat, Airlangga memiliki putri, namun putinya tersebut menolak untuk menjadi penerus raja di Kerajaan Kahuripan dan memilih hidup sebagai pertapa dengan nama Dewi Kili Suci. Nama asli puteri Airlangga tertera dalam prasasti Cane (1021) namun prasasti Turun Hyang (1035) menyebutkan namanya yaitu Sanggramawijaya Tunggadewi. Serat Calon Arang menceritakan bahwa Airlangga bingung dalam memilih pengganti dirinya karena kedua putranya saling bersaing memperebutkan tahta sebagai raja Kahuripan. Mengingat bahwa Airlangga juga merupakan putra dari raja Bali, kemudian terfikir untuk menempatkan salah satu dari kedua anaknya untuk ditempatkan di Bali. Diutuslah gurunya Mpu Bharada untuk mengajukan niat Airlangga, namun niat tersebut gagal.

Fakta sejarah menyebutkan, sepeninggal Airlangga ke Jawa, Kerajaan Udayana yang seharusnya diteruskan oleh Airlangga sebagai anak pertama dilanjutkan oleh Marakata adik dari Airlangga, dan kemudian Marakata digantikan adik yang lain yaitu Anak Wungsu. Airlangga kemudian membagi kerajaan Kahuripan menjadi dua. Mpu Bharada ditugasi untuk membagi dua wilayah Kahuripan di bagian barat dan timur. Pembagian wilayah oleh Mpu Bharada ini tercatat dalam Serat Calon Arang, Negarakertagama serta Prasasti Turun Hyang II. Kerajaan barat yang beribukota di kota baru yaitu Daha yang selanjutnya menjadi kerajaan Kediri diperintah oleh Sri Samarawijaya dan kerajaan timur yang berpusat di kota lama Kahuripan diperintah oleh Mapanji Garasakan. Pemecahan dua wilayah Kerajaan Kahuripan ini didasarkan pada trah asal pihak ibunya, istri pertama Airlangga berasal dari Daha dan istri kedua Airlangga berasal dari Jenggala.

Akhir Pemerintahan Airlangga
Setelah Airlangga membagi Kahuripan menjadi dua, ia lalu menghabiskan masa hidupnya dengan menjadi pertapa dan meninggal pada 1049 M. Semasa hidupnya Airlangga dianggap sebagai titisan Wisnu dengan lencana kerajaan Garudamukha. Sebuah arca digambarkan sebagai Airlangga titisan Wisnu yang menaiki garuda di musium Mojokerto. Prasasti Sumengka (1059) menyebutkan bahwa Resi Aji Paduka Mpungku nama lain Airlangga dimakamkan di tritha atau pemandian.

Penyebutan kolam pemandian tersebut paling sesuai disebutkan pada petirtaan Candi Belahan yang ada di Gunung Penanggungan. Di pemandian tersebut terdapat arca Dewa Wisnu yang disertai dua dewi. Sedangkan dari prasasti Pucangan (1041 M) menyebutkan bahwa Airlangga merupakan penganut Hindu Wisnu yang taat. Ketiga arca tersebut diduga merupakan penjelmaan dari Airlangga dengan dua istrinya yaitu Sri Samarawijaya dan Mapanji Garasakan.

Pada Candi Belahan terdapat angka tahun 1049 M, belum diketahui secara pasti mengenai angka tersebut apakah menunjukkan tahun kematian Airlangga atau tahun pembangunan candi petirtaan ini. Kehidupan Airlangga digambarkan dalam Candi Belahan.

Kahuripan sebagai Ibu Kota Jenggala
Pada akhir pemerintahan Airlangga, kerajaan Kahuripan dibagi menjadi dua. Calon pemegang tampuk raja sebenarnya adalah putrinya yang bernama Sanggramawijaya Tunggadewi, namun ia lebih memilih menjadi pendeta dari pada memerintah kerajaan. Pada akhir November 1042, Airlangga membagi kerajaannya menjadi dua yaitu pada bagian barat yaitu Kediri yang beribukota di Daha diberikan kepada Sri Samarawijaya, dan di timur yaitu Jenggala yang beribukota di Kahuripan diberikan kepada Mahapanji Gasarakan. Setelah menyerahkan kekuasaannya kepda kedua puteranya, Airlangga memilih untuk melakukan pertapaan hingga akhir hayatnya yaitu 1049.

Selasa, 01 November 2016

Kerajaan Mataram (Mataram Kuno atau disebut juga Mataram Hindu atau Medang) merupakan kelanjutan dari kerajaan Kalingga yang berasal dari Jawa Tengah dengan nama Medang yang kemudian dipindah ke Jawa Timur pada abad ke 10. Penyebutan nama Mataram Hindu, Mataram kuno atau Medang yaitu agar memudahkan pembedaan Mataram Hindu dengan Mataram Islam yang berdiri pada abad ke 16. Mataram Kuno runtuh pada abad ke 11.

Kerajaan Mataram Kuno terletak di Jawa Tengah atau yang disebut Bumi Mataram. Daerah ini berupa daerah yang dikelilingi gunung diantaranya Gunung Prau (Dieng), Gunung Sindoro, Gunung Sumbing, Gunung Merapi, Gunung Merbabu, Gunung Lawu serta pegunungan Sewu. Daerah ini juga dialiri oleh sungai - sungai diantarnya Sungai Bogowonto, Sungai Progo, Sungai Elo dan Sungai Bengawan Solo. Daerah Mataram Kuno sangat subur karena dikelilingi oleh gunung dan sungai.

Kerajaan Mataram Kuno atau disebut juga Medang merupakan kerajaan dengan corak agraris. Dalam kerajaan Mataram Kuno terdapat tiga wangsa (dinasti) yang pernah bergantian menguasai Kerajaan Mataram Kuno diantaranya adalah Wangsa Sanjaya, Wangsa Syailendra serta Wangsa Isana. Wangsa Sanjaya berasal dari para pemeluk Hindu, Wangsa Syailendra berasal dari pemeluk Buddha sedangkan Wangsa Isana merupakan wangsa baru yang didirikan oleh Mpu Sendok.

Pendiri kerajaan Mataram Kuno adalah raja Sanjaya yang  juga merupakan pendiri Wangsa Sanjaya yang menganut agama Hindu. Raja Sanjaya kemudian digantikan oleh Rakai Panangkaran saat Sanjaya wafat, Rakai Panangkaran berpindah agama ke agama Budha beraliran Mahayana. Rakai Panangkaran inilah yang kemudian mendirikan Wangsa Syailendra. Agama Hindu dan Buddha berjalan harmonis di kerajaan Mataram Kuno. Penganut agama Hindu berada di Jawa Tengah bagian utara sedangkan penganut agama Buddha berada di selatan Jawa Tengah.

Wangsa Sanjaya kembali memerintah sebagai raja yaitu pada pemerintahan Pramodawardhani anak dari Samaratungga yang menikah dengan Rakai Pikatan yang menganut agama Hindu. Dengan adanya pernikahan ini, Rakai Pikatan dari dinasti Sanjaya maju sebagai raja dan memulai kembali pemerintahan dinasti Sanjaya. Rakai Pikatan juga menyingkirkan adik dari Pramordyawardhani yaitu Balaputadewa yang kemudian mengungsi ke Sumatera dan mendirikan Kerajaan Sriwijaya.

Dinasti Sanjaya berakhir pada pemerintahan Rakai Sumba Dyah Wawa. Berakhirnya pemerintahan dinasti Sanjaya dibawah Rakai Sumba Dyah Wawa masih diperdebatkan, ada teori yang menyebutkan bahwa kehancuran pusat Mataram dikarenakan adanya bencana. Raja Wawa kemudian digantikan menantunya, Mpu Sendok yang kemudian memindahkan kerajan Mataram ke Jawa Timur atau disebut awal dari kerajaan Mataram Medang. Kerajaan Mataram Kuno yang sebelumnya beribukota di sekitar Yogyakarta kemudian dipindah ke daerah Watan Mas, sekitar muara Sungai Brantas.

Alasan Mpu Sendok memindahkan kerajaan Mataram diantaranya :
  1. Mengindari letusan Gunung Merapi purba
  2. Menjauhkan dari ancaman kerajaan Sriwijaya
  3. Muara Sungai Brantas dianggap subur dan sangat baik untuk dimanfaatkan sebagai tempat berdagang.
Letak Kerajan Mataram Kuno


Berdirinya Kerajaan Mataram Kuno
Menurut Prasasti Mantyasih yang berangka tahun 907 M menyebutkan bahwa raja pertama Mataram Kuno adalah Sanjaya. Raja Sanjaya sendiri membuat prasasti Canggal yang berangka tahun 732 tanpa menyebutkan secara jelas nama kerajaannya. Prasasti Canggal menyebutkan adanya kerajaan di Jawa selain kerajaan Matarm yaitu kerajaan Galuh yang memisahkan diri dari kerajaan Sunda (Akhir kerajaan Tarumanegara) dengan rajanya bernama Sanna yang kemudian dikenal dengan Bratasena.

Kekuasaan Bratasena Galuh di kerajannya digulingka oleh Purbasora, Bratasena kemudian melarikan diri ke Kerajaan Sunda untuk meminta perlindungan kepada Raja Sunda, Tarusbawa. Tarusbawa kemudian mengambil keponakan Bratasena sebagai menantu yang bernama Sanjaya (pada perkembangannya menjadi raja pertama kerajaan Mataram). Setelah Sanjaya naik tahta menggantikan Tarusbawa, Sanjaya berniat mengambil alih kembali kekuasaan Galuh. Setelah mampu menguasai kerajaan Sunda, Galuh dan Kalingga, Sanjaya kemudian membuat kerajaan baru bernama Kerajaan Mataram Kuno.

Dari Prasasti Canggal yang dikeluarkan oleh Sanjaya bisa dipastikan bahwa Mataram Kuno sudah berdiri sejak abad ke 7 M dengan pendirinya yaitu Sanjaya dengan gelar Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya.

Masa Keruntuhan Mataram Kuno
Keruntuhan Mataram Kuno disebabkan adanya permusuhan antara Jawa dan Sumatera yang diawali oleh pengusiran Balaputradewa oleh Rakai Pikatan. Balaputradewa yang melarikan diri ke Sumatera kemudian mendirikan kerajaan Sriwijaya. Balaputradewa ternyata masih menyimpan dendam kepada Rakai Pikatan atas pengusirannya. Dendam ini ternyata turun temurun ke generasi selanjutnya. Selain itu terjadi perebutan kekuasaan perdagangan di jalur perdagangan di Asia Tenggara.

Permusuhan tersebut berlangsung hingga Wangsa Isana di bawah pemerintahan Mpu Sendok. Sriwijaya pernah menyerang Mataram Kuno yang terjadi di daerah Nganjuk, Jawa Timur dan dimenangkan oleh pihak Mataram Kuno. Keruntuhan Mataram terjadi ketika masa pemerintahan Dharmawangsa Teguh atau cicit dari Mpu Sendok. Pada masa pemerintahan Dharmawangsa terjadi lagi penyerangan Sriwijaya ke Mataram namun masih dimenangkan Dharmawangsa. Dharmawangsa juga pernah menyerang Sriwijaya yaitu pada 1006 Dharmawangsa lengah saat mengadakan pernikahan putrinya. Istana Medang yang berada di Wiwitan diserang oleh Aji Wuwari dari Lwaram yang telah bersekutu dengan Kerajaan Sriwijaya. Pada penyerangan tersebut Dharmawangsa tewas dan berakhirlah kekuasaan Mataram Kuno atau Medang di Jawa.

Sumber Sejarah Kerajaan Mataram Kuno
Sumber utama keberadaan Kerajaan Mataram Kuno diantaranya dari Prasasti serta Candi. Adapun prasasti - prasasti tersebut diantaranya :
  1. Prasasti Canggal, ditemukan di halaman Candi Guning Wukir yaitu di desa Canggal yang berangka tahun 732 M. Prasasti Canggal berbahasa Sansekerta dan menggunakan huruf Pallawa. Prasasti Canggal menceritakan pendirian Lingga di desa Kunjarakunja oleh Raja Sanjaya. Selain itu, Prasasti Canggal juga menceritakan sebelum Sanjaya menjadi raja, ada raja sebelumnya yang bernama Sanna (Bratasena) yang digantikan oleh Sanjaya yang merupakan anak dari Sannaha (saudara perempuan Sanna) yang kemudian mendirikan Mataram.
  2. Prasasti Kalasan, ditemukan di daerah desa Kalasan Yogyakarta yang berangka tahun 778 M. Prasasti Kalasan ditulis dalam huruf Pranagari (India Utara) dan menggunakan bahasa Sansekerta. Isi dari prasasti ini yaitu menceritakan pendirian bangunan suci yang diperuntukkan kepada Dewi Tara serta biara untuk pendeta oleh Rakai Panangkaran atas permintaan keluarga wangsa Syailendra. Selain itu Rakai Panangkaran juga menghadiahi desa Kalasan untuk para Sanggha (umat Budha). 
  3. Prasasti Mantyasih, ditemukan di desa Mantyasih, Kedu, Jawa Tengah, yang berangka tahun 907 M. Prasasti Mantyasih menggunakan bahasa Jawa Kuno. Prasasti ini menceritakan tentang silsilah Raja Sanjaya, Rakai Panangkaran, Rakai Panunggalan, Rakai Warak, Rakai Garung, Rakai Pikatan, Rakai Kayuwangi serta Rakai Watuhumalang.
  4. Prasasti Klurak, ditemukan di desa Prambanan yng berangka tahun 782 M ditulis dengan aksara Pranagari dan menggunakan bahasa sansekerta. Isi dari prasasti ini yaitu menceritakan tentang pembuatan Arca Manjusri oleh Raja Indra yang bergelar Sri Sanggramadananjaya.
Selain prasasati - prasasti yang telah disebutkan diatas, Kerajaan Mataram juga meninggalkan bangunan - bangunan berupa candi. Candi tersebut diantaranya Candi Borobudur, Candi Sojiwan, Candi Barong, Candi Ijo, Candi Marongan, Candi Kedulan, Candi Sari, Candi Sambisari, Candi Pawon, Candi Mendut, Candi Sewu, Candi Prambnan, Candi Plaosan, dan terakhir Candi Kalasan.

Raja Mataram Yang Pernah Memerintah
  • Sanjaya, pendiri Mataram Kuno (Pendiri Wangsa Sanjaya)
  • Rakai Panangkaran (Wangsa Syailendra)
  • Rakai Panunggalan alias Dharanindra (Wangsa Syailendra)
  • Rakai Warak alias Samaragrawira (Wangsa Syailendra)
  • Rakai Garung alias Samaratungga (Wangsa Syailendra)
  • Rakai Pikatan suami Pramodawardhani (Awal kebangkitan Wangsa Sanjaya)
  • Rakai Kayuwangi alias Dyah Lokapala (Wangsa Sanjaya)
  • Rakai Watuhumalang (wangsa Sanjaya)
  • Rakai Watukura Dyah Balitung (Wangsa Sanjaya)
  • Mpu Daksa (Wangsa Sanjaya)
  • Rakai Layang Dyah Tulodong (Wangsa Sanjaya)
  • Mpu Sendok (Awal Wangsa Isana serta awal periode kerajaan Medang di Jawa Timur)
  • Sri Lokapala suami Sri Isanatunggawijaya (Wangsa Isana)
  • Makuthawangsawardhana (Wangsa Isana)
  • Dharmawangsa Teguh, (Wangsa Isana dan berakhirnya Mataram Kuno)
Kondisi Sosial Ekonomi Kerajaan Mataram Kuno / Medang
Keadaan geografis Mataram Kuno ketika masih di Jawa Tengah sangat menguntungkan pertanian di kerajaan Mataram Kuno. Masyarakat Mataram beraktivitas sebagai petani memanfaatkan tanah yang subur karena berada di antara pegunungan serta sungai yang merupakan tempat yang subur. Ketika berpindah ke Jawa Timur tepatnya di daerah sungai Brantas, Mataram masih mengandalkan sektor pertanian dalam perekonomian Mataram. Sungai Brantas dimanfaatkan sebagai jalur perdagangan kerajaan Mataram Kuno yang berpindah di Jawa Timur.

Aspek Kehidupan Kebudayaan Mataram Kuno
Mataram Kuno terbagi menjadi dua dinasti yaitu Wangsa Sanjaya dan Wangsa Syailendra. Kedua dinasti ini memiliki peninggalan masing - masing berupa candi. Dinasti Sanjaya yang berada di utara Jawa Tengah dan memeluk agama Hindu meninggalkan hasil budaya berupa Candi Gedong Songo dan Candi Dieng. Sedangkan Wangsa Syailendra yang mayoritas berada di selatan Jawa Tengah meninggalkan candi - candi beraliran Buddha seperti Candi Borobudur, Mendut serta Pawon.

Kedua dinasti ini sebelumnya sering mengalami pertikaian, namun ketika terjadi pernikahan antar wangsa yaitu ketika pernikahan Rakai Pikatan (Wangsa Sanjaya) yang beragama Hindu dan Pramodhawardhani (Wangsa Syailendra) yang beragama Buddha, kedua wangsa ini hidup secara damai dan berdampingan.

Aspek Kehidupan Sosial
Meskipun kerajaan Mataram Kuno menganut dua agama yaitu Hindu dan Buddha, namun masyarakatnya bisa hidup rukun dan saling bertoleransi. Hal ini terlihat pada candi yang bercorak Hindu dan Buddha seperti Candi Plaosan.

Candi Kerajaan Mataram Kuno / Medang
  • Candi Sewu
  • Candi Arjuna
  • Candi Bima
  • Candi Borobudur
  • Candi Mendut
  • Candi Pawon
  • Candi Puntadewa
  • Candi Semar
  • Candi Gedong Songo
  • Candi Ngempon
  • Candi Plaosan
  • Candi Banyunibo
  • Ratu Boko
  • Candi Ijo
Prasasti Peninggalan Kerajaan Mataram Kuno / Medang
  • Prasasti Sojomerto
  • Prasasti Kalasan
  • Prasasti Klurak
  • Prasasti Ratu Boko
  • Prasasti Nalanda
  • Prasasti Cangal
  • Prasasti Mantyasih 
  • Prasasti Wanua Tengah III

Senin, 31 Oktober 2016

AWAL BERDIRINYA KERAJAAN SINGASARI
Kerajaan Singasari berdiri pada tahun 1222 M dan beribukota di Tumapel. Sebelumnya Tumapel merupakan kerajaan bawahan dari Kerajaan Kediri. Singasari didirikan oleh Ken Arok. Menurut kitab Pararaton, Ken Arok merupakan putera dari seorang wanita tani di Desa Pangkur (sebelah timur Gunung Kawi). Sebagian ahli berpendapat bahwa ayah dari Ken Arok adalah seorang dari kasta ksatria melihat wawasan berfikir Ken Arok, ambisi serta strategi yang jitu dalam setiap apa yang dilakukannya. Hal ini jarang ditemukan di diri petani - petani biasa. Diceritakan bahwa ibu Ken Arok, Ken Endok adalah seorang wanita yang bersuamikan Gajah Para (nama jabatan setara wedana atau pembantu adipati) di Kerajaan Kediri. Sebelum Ken Arok lahir, ayahnya telah meninggal dan Ken Endok diperistri seorang raja Kediri. Ken Endok kemudian membuang Ken Arok di pemakaman dan kemudian ditemukan dan diasuh oleh Lembong yaitu seorang pencuri pada masanya.

Buah jatuh tak jauh dari pohonnya, mungkin itulah perumpamaan yang tepat untuk Ken Arok. Lembong yang berprofesi sebagai pencuri menurunkan sifatnya kepada Ken Arok yang juga lihai mencuri serta berjudi, hal ini sangat membebani Lembong dengan hutang - hutang Ken Arok. Lembong mengusir Ken Arok dan kemudian diasuh oleh Bango Samparan yang merupakan penjudi yang berasal dari Desa Karuman (Garum, Blitar). Oleh Bango Samparan, Ken Arok dianggap sebagai pembawa keberuntungan.

Karena statusnya sebagai anak angkat oleh Genukbuntu dan Thirthaja, istri dari Bango Sampran, Ken Arok kemudian merasa tidak betah. Ken Arok kemudian berteman dengan Tita, anak kepala desa Siganggeng. Keduanya kemudian menjadi pasangan perampok ulung yang ditakuti di Kerajaan Kediri. Kisah selanjutnya, Ken Arok bertemu dengan seorang brahmana yang berasal dari India bernama Lohgawe yang datang ke Jawadwipa untuk mencari titisan Wisnu. Ciri yang didapatkannya sama persis dengan Ken Arok. Dalam serat Pararaton, Ken Arok yang disebut juga Ken Angrok juga diceritakan sebagai keturunan dari Dewa Brahma. Ken Arok kemudian diangkat sebagai anak dari Lohgawe dan dibimbing olehnya.

Perkenalan Ken Arok dan Pembunuhan Tunggul Ametung oleh Ken Arok
Pada saat itu, Ken Arok dibantu Loh Gawe untuk masuk ke dalam Tumapel, salah satu daerah bawahan Kerajaan Kediri dengan akuwu bernama Tunggul Ametung. Oleh Tunggul Ametung, Ken Arok diperintah sebagai pengawalnya. Diceritakan bahwa Ken Dedes, istri Tunggul Ametung adalah wanita yang sangat cantik dan dikagumi oleh rakyatnya di Tumapel. Pertemuan Ken Arok pertama kali dengan Ken Dedes yaitu ketika ia bersujud saat Ken Dedes lewat di depannya. Ken Arok melihat sesuatu yang bersinar dari betis Ken Dedes. Kemudian Ken Arok bertanya kepada Lohgawe "pertanda apa itu?". Lohgawe kemudian memberitau bahwa ciri tersebut adalah tanda bahwa ia (Ken Dedes) akan menurunkan raja - raja besar di tanah Jawa. Seketika Ken Arok meminta Lohgawe untuk bisa mensiasati agar bisa masuk ke Tumapel dan berusaha memperistri Ken Dedes. Lohgawe tidak merestui hal tersebut, namun Ken Arok bersikeras dengan hasratnya merebut Ken Dedes dari tangan Tunggul Ametung.

Pada perkembangannya, Ken Arok menjadi salah satu prajurit yang sangat dipercaya Tunggul Ametung. Dibalik hal tersebut, diam - diam Ken Arok mempersiapkan suatu taktik untuk membunuh Tunggul Ametung. Ken Arok kemudian menemui Bango Samparan dan bertanya dimana membuat keris yang ampuh untuk membunuh. Kebo Samparan kemudian memperkenalkan sahabatnya yang bernama Mpu Gandring yang berasal dari Desa Lulumbang (Plumbang, Doko, Blitar).
Mpu Gandring meminta waktu setahun untuk menyelesaikan keris yang sakti untuk Ken Arok. Namun, Ken Arok tidak sabar dan lima bulan kemudian Ken Arok meminta secara paksa keris tersebut. Mpu Gandring menolak, keris yang belum sempurna tersebut kemudian direbut dan ditusukkan ke dada Mpu Gandring hingga tewas. Sebelum tewas, Mpu Gandring mengutuk bahwa keris tersebut akan membunuh 7 orang raja dari Ken Arok hingga cucu - cucunya.
Ilustrasi Ken Arok
Setelah membunuh Mpu Gandring, Ken Arok kembali ke Tumapel dan menjalankan taktiknya untuk menggulingkan kekuasaan Tunggul Ametung. Keris Mpu Gandring dipinjamkannya ke Kebo Hijo, rekan Ken Arok sesama pegawai Tumapel. Ken Arok sudah mengetahui sifat Kebo Hijo yang suka pamer dengan barang yang dimilikinya. Kebo Hijo kemudian dengan bangga memamerkan kerisnya kepada setiap orang yang ia temui, sehingga semua orang menganggap bahwa keris itu adalah milik Kebo Hijo. Siasat Ken Arok baru dimulai.

Malam berikutnya, dicurilah keris Mpu Gandring yang dibawa Kebo Hijo ketika sedang mabuk arak. Ken Arok kemudian menyusup ke kamar Tunggul Ametung dan kemudian membunuhnya diatas ranjangnya sendiri. Ken Dedes menyaksikan pembunuhan tersebut, namun Ken Dedes mampu luluh dengan rayuan Ken Arok untuk membungkam mulutnya. Lagi pula, Ken Dedes menikah dengan Tunggul Ametung secara paksa.

Keesokan harinya, Kebo Hijo diberikan hukuman mati dengan tuduhan keris yang dulu dipamerkannya menancap di perut Tunggul Ametung. Kemudian Ken Arok mengangkat dirinya sebagai akuwu Tumapel menggantukan Tunggul Ametung dan menikahi Ken Dedes. Ketika menikahinya, Ken Dedes dalam keadaan mengandung anak dari Tunggul Ametung yang kemudian diberi nama Panji Anengah.
Baca : Ken Dedes, kisah dibalik berdirinya Singosari
Tumapel dibawah Ken Arok menjadi kerajaan bawahan yang kuat dan kemudian memisahkan diri dari Kerajaan Kediri sebagai kerajaan induk. Secara kebetulan ketika Ken Arok memisahkan diri dari Kediri, disaat itu pula di internal kerajaan Kediri terjadi konflik antara raja dan para brahmana. Ken Arok kemudian memberikan perlindungan kepada para brahmana dan kemudian berpindahlah brahmana dari Kediri berpindah ke Tumapel. Setelah mendapatkan dukungan dari para brahmana, kemudian Ken Arok menyatakan Tumapel sebagi kerajaan yang merdeka dan lepas dari kerajaan Kediri. Ken Arok kemudian dinobatkan menjadi raja dari Tumapel yang kemudian berubah menjadi Singasari dengan gelar Sri Rajasa Bhatara Sang Amurwabhumi.


LETAK KERAJAAN SINGASARI
Kerajaan Singasari berada di daerah Tumapel yaitu daerah pegunungan subur di Malang dengan pelabuhan bernama Pasuruan. Sebelumnya Tumapel merupakan wilayah bawahan dari kerajaan Kediri. Dari daerah inilah kemudian berkembang menjadi Kerajaan Singasari.


SILSILAH KERAJAAN SINGASARI

RAJA - RAJA KERAJAAN SINGASARI

  • Ken Arok (1222 - 1227)
Raja pertama Singhasarai adalah Sri Ranggah Rajasa Amurwabhumi atau lebih dikenal dengan nama Ken Arok. Nama Ken Arok tidak ditemukan di prasasasti - prasasti namun ditemukan di kitab Pararaton dan Negarakertagama. Dari cerita rakyat, Ken Arok merupakan seorang dari rakyat biasa yang berasal dari Desa Angkur. Ken Arok kecil memiliki kebiasaan buruk yaitu sebagai mencuri dan menyamun hingga menjadi buron kerajaan.

Karena jasa dari seorang pendeta brahmana, Ken Arok dapat mengabdi kepada seorang akuwu di Tumapel yang bernama Tunggul Ametung. Singkat cerita Ken Arok mampu membunuh Akuwu Tunggul Ametung dan kemudian  mengawini Ken Dedes. Ken Arok kemudian mengambil alih wilayah Tumapel dan kemudian dengan pengikutnya yang cukup banyak, Tumapel melepaskan diri dari Kediri. Pada saat itu bertepatan dengan adanya perselisihan antara raja dan pendeta di internal kerajaan Kediri. Bak gayung bersambut, Ken Arok membuka pintu selebar - lebarnya untuk para pendeta dan memberikan perlindungan. Hal ini membuat Kertajaya sebagai raja Kediri marah dan menyerang Tumapel. Namun sayang, penyerangan terhadap Tumapel di Genter pada tahun 1222 Kediri mengalami kekalahan sehingga Ken Arok pada tahun 1222 menjadi raja dari Kediri dan Tumapel. Ibukotanya tetap berada di Tumapel dan pada perkembangannya berubah menjadi Singasari yang memiliki nama resmi Kutaraja. Semasa pemerintahan Ken Arok, kerajaan Singasari aman tentram.

Tidak lama setelah Tunggul Ametung dibunuh, Ken Dedes melahirkan seorang anak laki - laki yang bernama Anusapati dari Tunggul Ametung. Sedangkan dari Ken Arok sendiri Ken Dedes melahirkan Mahisa Wonga Teleng. Dari istri selirnya yaitu Ken Umang, Ken Arok mendapatkan anak bernama Tohjaya. Pada tahun 1227, Ken Arok dibunuh oleh anak tirinya Anusapati sebagai balas dendam atas dibunuhnya Tunggul Ametung ayahandanya. Kemudian Ken Arok di candikan di Kagenengan (selatan Singasari) dalam bangunan suci agama Siwa dan Budha. Sedangkan Ken Dedes tidak diketahui kapan meninggalnya.
  • Anusapati (1227 -1248)
Singasari di bawah pemerintahan Anusapati berjalan damai dan tentram. Namun ketentraman tersebut terusik yaitu pada tahun 1247 M ketika Tohjaya hendak membalas dendam atas dibunuhnya ayahandanya, Ken Arok oleh Anusapati. Anusapati meninggal di tangan Tohjaya dengan tipu muslihat. Anusapati kemudian di candikan di Candi Kidal, Malang.
  • Tohjaya (1248)
Tohjaya memerintah Singasari hanya beberapa bulan. Tohjaya meninggal di tangan Ranggawuni anak dari Anusapati yang membalas dendam atas kematian ayahnya Anusapati. Sebelum meninggal, Tohjaya sempat melarikan diri, namun akibat luka dalam yang dideritanya akhirnya Tohjaya meninggal dan di candikan di Katang Lumbang.
  • Sri Jaya Wisnuwardhana (1248-1268)
Setelah mampu membunuh Tohjaya, Rangga Wuni kemudian mengangkat dirinya menjadi raja di Singhasari dengan gelar Sri Jaya Wisnuwardhana. Ia adalah raja Singasari pertama yang namanya diabadikan di dalam prasasti. Saudara sepupunya, anak dari Mahisa Wonga Teleng, Mahisa Campaka diberikan kekuasaan untuk memerintah dengan pangkat Ratu Angabhaya dan gelar Narasimhamurti. Keduanya memerintah Singasari bagaikan dewa Wisnu dan Indra.
Baca Juga : Bersatunya Dhaha dan Tumapel
Pada tahun 1254, Rangga Wuni menobatkan anaknya sebagai raja Singhasari yaitu Kertajaya. Namun Rangga Wuni tidak turun tahta melainkan tetap memerintah untuk anaknya sampai ia meninggal pada tahun 1268 di Mandaragiri dan dicandikan di Waleri yang dilambangkan sebagai Siwa dan sebagai Buddha Ammoghapaca di Jajagu atau Candi Jago.
  • Kertanagara (1268-1292)
Dari keseluruhan raja - raja Singasari, Kertanagara memiliki lebih banyak data sejarah. Dari pemerintahan Kertanagara kita juga mengetahui adanya 3 orang mahamantri yaitu rakryan i hino, rakryan i sirikan, dan rakryan i halu. Ketiga rakryan tersebut bertugas sebagai pembantu serta pengarah kebijakan raja dan kemudian dilaksanakan oleh mentri pelaksana, rakryan apatih, rakryan demung dan rakryan kanuruhan. Dalam segi agama terdapat posisi dharmadhyaksa sebagai kepala agama Budha dan selain itu adapula mahabrahmana yang selalu mendampingi raja dan berpangkat cangkhadhara.

Cita - cita dari Kertanagara adalah memperluas wilayah Singasari seluas - luasnya. Maka dari itu Kartanagara menyingkirkan siapa saja yang menghalangi niatnya tersebut, diantaranya patihnya sendiri Kebo Arema atau Raganatha, ia kemudian digantikan Kebo Tengah atau Aragani. Raganata kemudian ditempatkan sebagai adhyaksa di Tumapel. Selain itu Arya Wiraraja yang dicurigai dekat dengan Kediri diasingkan oleh Kertanagara ke Sungeneb, Madura sebagai bupati.

Pada tahun 1275, Kertanagara melakukan Ekspedisi Pamalayu ke Sumatera Utara yang berlangsung sampai tahun 1292. Setibanya pasukan Ekspedisi Pamalayu, Kertanegara sudah tidak ada lagi. Hasil dari ekspedisi pamalayu tertera dalam alas arca Amoghapaca di Sungai Langsat. Pada prasasti tersebut dijelaskan bahwa pada tahun tahun 1286, Maharajadhiraja Sri Kertanegara Wikrama Dharmottunggadewa memerintahkan untuk memindahkan arca Amoghapaca dan 13 pengikutnya (seperti arca Jajagu tempat pecandian Wisnuwardhana) dipindahkan dari tanah Jawa ke Suwarnabhumi (Sumatera). Pemindahan tersebut dilakukan oleh pimpinan yang terdiri dari 4 orang pegawai tinggi kerajaan. Atas hadiah ini, rakyat Malayu sangat senang terutama raja Srimat Tribuwanaraja Maulawarmmadewa.
Baca : Ekspedisi Pamalayu
Selain itu dari Negarakertagama diketahui bahwa Bali telah ditaklukkan oleh Kertanagara pada tahun 1284. Selain itu Pahang, Sunda, Bakulapura (Kalimantan Barat) serta Gurun (Maluku) juga mampu ditaklukkan Singasari. Selain itu Singasari juga melakukan hubungan persahabatan dengan Champa melalui perkawinan. Menurut Po Sah, raja Jaya Simhawarman III memiliki dua permaisuri diantaranya adalah puteri dari Jawa yang diperkirakan adalah anak dari Kertanagara.
Selengkapnya : Arya Wiraraja : Ahli Taktik Terbaik Masa Kerajaan Singasari, Kediri dan Majapahit
Pada periode pemerintahan Kertanagara berkali - kali utusan Tiongkok datang ke Singasari menuntut pengakuan kedaulatan bahwa Singasari tunduk dibawah kaisar Kubilai Khan. Pada awalnya Kertanagara tidak merisaukan hal tersebut dan menghiraukannya karena Kertanagara tidak mau tunduk dibawah Tiongkok namun lama kelamaan Kertanagara pun kesal. Pada tahun 1289 datanglah Meng K'i, utusan dari Tiongkok untuk meminta Singasari tunduk dibawah Tiongkok. Namun, Kartanagara justru membuat cacat pada mukanya dan mengusirnya kembali ke kerajaannya. Kaisar Tiongkok merasa terhina atas hal tersebut dan menyiapkan tentara untuk menghukum raja Jawa.

Sebelum penyerangan Tiongkok ke Jawa ternyata ada bahaya selain hal tersebut yaitu dari Kerajaan Kediri yang menyerang Singasari pada tahun 1271 dibawah raja Jayakatwang. Raja Kediri Jayakatwang bersekutu dengan Arya Wiraraja yang selalu memata - matai Kertanagara. Ketika melakukan Ekspedisi Pamalayu, waktu tersebut adalah waktu yang paling tepat untuk menyerang Singasari. Ketika Singasari mengerahkan segenap kekuatannya untuk menyerang Bali, Arya Wiraraja yang mengetahui hal tersebut melaporkan kepada Jayakatwang untuk secepatnya menyerang Singasari yang dalam keadaan kosong. Pada tahun 1292 Jayakatwang menyerang Singasari dari dua arah. Dari arah utara pasukan Jayakatwang yang beranggotakan sedikit berusaha membuat kegaduhan sehingga pasukan yang ada di ibukota Singasari memfokuskan serangannya ke arah utara. Sedangkan dari arah selatan, pasukan Jayakatwang dengan jumlah yang lebih besar menyerang jantung pertahanan Singasari secara diam - diam.
Baca : Kisah Arya Wiraraja, ahli taktik Singasari, Kediri dan Majapahit
Kertanagara yang mengira serangan Jayakatwang hanya dari utara kemudian mengirimkan kedua menantunya yaitu Raden Wijaya dan Ardharaja. Pasukan dari utara Kediri dipukul mundur, namun yang lebih fatal adalah serangan dari selatan yang langsung menembus ibukota dan keraton Singasari. Kertanagara, patih, pendeta serta pembesar lain yang sedang berpesta mabuk - mabukan dibantai dalam serangan dari arah selatan Kediri. Dengan serangan ini maka berakhirlah kerajaan Singasari dan berganti ke kerajaan Kediri pimpinan Jayakatwang.

EKSPEDISI PAMALAYU
Kerajaan Singasari mencapai masa keemasan pada masa pemerintahan Kertanegara. Raja Kertanegara memiliki hasrat untuk menyatukan Nusantara di bawah panji Singasari oleh karena itu ia kemudian melakukan operasi militer ekspedisi pamalayu (perang melawan Malayu) untuk menaklukkan Nusantara. Ekspedisi Pamalayu dimulai pada tahun 1275 dengan dikirimnya 14.000 pasukan yang dikirim ke Dharmasraya, Sumatera. Latar belakang Ekspedisi Pamalayu adalah mengantisipasi serangan bangsa Mogul yang dipimpin Kubilai Khan.

Kitab Negarakertagama menyebutkan bahwa tujuan adanya Ekpedisi Pamalayu awalnya adalah untuk menjalin kerjasama dengan kerajaan Dharmasraya, namun mengalami penolakan. Hal inilah yang menjadi pemicu pengiriman prajurit untuk menyerang Dharmasraya yang dipimpin oleh Kebo Anabrang (Mahisa Anabrang dalam Kitab Kidung Panji Wijayakrama) yang merupakan salah satu rakryan Singasari. Dalam penyerangan pertama Singasari mampu mengalahkan kerajaan Dharmasraya dibawah raja Srimat Tribhuwanaraja Mauli Warmadewa. Pada tahun 1286 dikirim utusan sebanyak 4.000 prajurit untuk mengirimkan Arca Amogahapasa bukti Singasari menjadi kerajaan yang saling bekerjasama dengan Dharmasraya. Arca Amogapasha merupakan hadiah persahabatan dari Kertanegara kepada Srimat Tribhuwana Mauli Warmadewa.

Sekembalinya Ekspedisi Pamalayu pada tahun 1292 ke pulau Jawa, berdasarkan kitab Pararaton Kerajaan Singasari telah hancur oleh pemberontakan Jayakatwang dari Kediri yang dibantu Arya Wiraraja. Di tahun yang sama, pasukan Kubilai Khan menyerang kerajaan Jawa. Niat Kubilai Khan adalah melakukan penyerangan ke Singasari dengan alasan membalas pemotongan telinga utusannya pada masa pemerintahan Kertanegara, namun yang ia serang ternyata adalah kerajaan Kediri yang telah menaklukkan Singasari. Kediri kalah oleh serangan Kubilai Khan.

Arya Wiraraja yang pintar dalam membuat taktik kemudian mengajak pasukan Kubilai Khan untuk berpesta merayakan kalahnya kerajaan Jawa. Arya Wiraraja yang dekat dengan Raden Wijaya (menantu Kertanegara) kemudian memberi tau Raden Wijaya untuk segera menyerang pasukan Kubilai Khan yang tengah mabuk. Pasukan Kubilai Khan mampu diusir dan kemudian berdirilah kerajaan Majapahit dengan Raden Wijaya sebagai pendiri sekaligus raja pertama.
baca selengkapnya : Arya Wiraraja : Ahli Taktik Terbaik Masa Kerajaan Singasari, Kediri dan Majapahit.
KEHIDUPAN EKONOMI KERAJAAN SINGASARI
Tidak ada sumber yang menyebutkan keterangan atau data tentang perekonomian Singasari. Namun dari analisis para ahli dapat disimpulkan bahwa letak Singasari yang berada pada sekitar Lembah Sungai Brantas dan diperkirakan rakyat Singasari bekerja pada sektor pertanian. Keberadaan sungai Brantas juga diduga dimanfaatkan sebagai wilayah lalu lintas perdagangan dari wilayah dalam dengan wilayah luar. Dengan demikian dapat disimpulkan Kerajaan Singasari juga mengandalkan perdagangan dalam sektor Ekonomi.

KEHIDUPAN SOSIAL BUDAYA
Singasari sebagai kerajaan yang besar memiliki peninggalan berupa prasasti, candi serta patung. Adapun candi peninggalan diantaranya Candi Jago, Candi Kidal dan Candi Singasari. Peninggalan berupa patung diantaranya patung Ken Dedes sebagai Prajnaparamita lambang dari dewi kesuburan serta patung Kertanegara sebagai Amoghapasa.

Kehidupan bernegara di Singasari mengalami pasang surut dari zaman Ken Arok hingga pemerintahan Wisnuwardhana. Pada masa pemerintahan Ken Arok, Singasari dalam keadaan makmur dan teratur, hal inilah yang menjadi latar belakang para brahmana meminta perlindungan kepada Ken Arok atas kekejaman raja Kediri. Namun pada masa Anusapati, kehidupan masyarakat diabaikan karena raja Anusapati sangat gemar menyabung ayam dan melupaan pembangunan kerajaan. Kadaan berangsur membaik saat pemerintahan Wisnuwardhana dan puncaknya ketika pada pemerintahan Kertanegara menjadi raja, pemerintahan Singasari berjalan dengan aman dan sejahtera.

Cita - cita Kertanegara dalam penyatuan Nusantara juga terwujud walaupun belum sepenuhnya wilayah Nusantara mampu di taklukkan. Daerah kekuasaan Singasari pada masa pemerintahan Kertanegara diantaranya, Jawa, Madura, Bali, Nusa Tenggara, Melayu, Semenanjung Malaka, Kalimantan, Sulawesi serta Maluku.


MASA KEJAYAAN SINGASARI
Kerajaan Singasari mencapai masa kejayaan pada pemerintahan Kertanegara. Kertanegara memiliki taktik menempatkan pejabat sesuai dengan kemampuan dan bidang tugasnya. Kertanegara tidak segan mengganti para pejabat kerajaan apabila dipandang tidak memiliki kualitas. Selain itu, Kertanegara juga bersahabat dengan kerajaan di sekitar salah satunya adalah Champa. Hal inilah yang kemudian membuat Singasari di bawah pemerintahan Kertanegara menjadi kuat dan mampu menjadi penguasa Nusantara pada masanya baik di bidang militer maupun perdagangan.

MASA KERUNTUHAN KERAJAAN SINGASARI
Keruntuhan Kerajaan Singsari disebabkan dua hal yaitu tekanan dari luar negeri serta pemberontakan - pemberontakan di dalam internal Kerajaan Singasari. Tekanan dari luar yaitu adanya tekanan dari Cina yang memaksa Singasari tunduk dibawah kerajaan Cina. Datangnya utusan Kubilai Khan disambut dengan hinaan berupa pencatatan pada utusan Kubilai Khan yang bernama Meng-Chi. Sejak saat tersebut, Kertanegara kemudian memfokuskan pada memperkuat militer kerjaan dengan tujuan menghalau serangan Kubilai Khan.

Namun tiba - tiba, penguasa Kediri yang bernama Jayakatwang melakukan pemberontakan. Jayakatwang yang meminta tanahnya atas pembunuhan leluhurnya oleh Ken Arok kemudian makar dan menggulingkan kekuasaan Singasari. Sebelumnya Kertanegara juga telah memperhitungkan akan adanya pemberontakan yaitu dengan diangkatnya Ardharaja, anak dari Jayakatwang untuk dinikahkan dengan putri Jayakatwang. Namun, taktik tersebut ternyata tidak efektif. Pada tahun 1292 Jayakatwang menyerang Tumapel, ibukota Singasari dan mampu menggulingkan kerajaan Singasari dengan membunuh Kertanegara dan praktis Kerajaan Singasari runtuh.

SUMBER - SUMBER KERAJAAN SINGASARI
Berikut ini adalah rujukan sumber keberadaan kerajan Singasari, diantaranya :
  • Kitab Pararaton, menceritakan tentang raja - raja Singasari
  • Negarakertagama, menceritakan tentang silsilah kerajaan Majapahit yang memiliki hubungan erat dengan kerajaan Singasari
  • Prasasti - prasasti dengan angka tahun sesudah 1248 M, diantaranya prasasti Mulamalurung yang menceritakan tentang struktur politik Singasari pada 1255
  • Berita asing dari Cina
PENINGGALAN KERAJAAN SINGASARI
  • Candi Singosari
  • Candi Jago
  • Candi Sumberawan
  • Candi Jawi
  • Candi Kidal
  • Arca Dwarapala
  • Prasasti Mulamalurung
  • Prasasti Manjusri
  • Prasasti Singosari
  • Prasasti Wurare

Sumber :
Soekmono. 1973. Sejarah Kebudyaan Indonesia 2. Yogyakarta:Penerbit Kanisius.
https://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Singhasari

    Senin, 10 Oktober 2016

    Kata Sriwijaya berasal dari kata "Sri" yang berarti bercahaya dan "Wijaya" yang berarti kemenangan atau kejayaan. Penamaan Sriwijaya pada negara lain memiliki nama yang berbeda - beda diantaranya oleh orang Cina menamakan Shih-li-fo-shih / San-fo-ts'i / San-fo-qi. Bahasa sansekerta menyebut Sriwijaya dengan nama Yavadesh dan Javadeh. Sedangkan bangsa arab menyebut Sriwijaya dengan Zabaj / Sribuza.

    Kerajaan Sriwijaya berdiri dari abad ke 7 hingga abad ke 14 Masehi dengan corak Buddha dan berada di Sumatera Selatan. Kerajaan maritim ini mampu menguasasi Sumatera, Jawa, Pesisir Kalimantan, Kamboja, Thailand Selatan serta Semenanjung Malaya. Bukti - bukti sejarah menjelaskan bahwa Kerajaan Sriwijaya berakhir pada abad ke 14 berasal dari prasasti - prasasti yang berasal dari Bangka, Ligor serta Nalanda. Walaupun apabila dilihat dari letaknya yang berbeda pulau, naun kebesaran serta pengaruh Sriwijaya sangat nyata. Hal ini dapat dibuktikan dari adanya berita dari Arab, India Cina yang menjalin hubungan Kerajaan Sriwijaya.

    Sumber Sejarah Keberadaan Kerajaan Sriwijaya
    Terdapat dua jenis sumber yang menceritakan keberadaan Kerajaan Sriwijaya yaitu sumber dari luar negeri dan sumber dari dalam negeri.

    Sumber dari luar negeri
    Sriwijaya sebagai Kerajaan Maritim yang menguasai kepulauan sekitar Sumatera dan Semenanjung Malaya membuat kerajaan ini berhubungan dengan perdagangan internasional secara langsung. Keberadaan Sriwijaya tercatat dalam beberapa sumber, diantaranya :
    • Berita Arab, sejarah mencatat adanya kegiatan perdagangan antara Sriwijaya dengan bangsa Arab, hal ini dibuktikan dengan adanya bekas perkampungan bangsa Arab. Selain itu Ibu Hordadheh menyebutkan adanya Raja Zabag yang menghasilkan emas setiap tahunnya seberat 206 kg. Berita lain menyebutkan bahwa Alberuni mengatakan Zabag berada lebih dekat dengan Cina dan India. Zabag terletak di Swarnadwipa (Pulau Emas). 
    • Berita Cina, I-Tsing seorang pengelana yang menimba ilmu ke India pernah singgah di Shi-li-fo-shih atau Sriwijaya selama enam bulan pada tahun 685 M. Ia belajar paramasastra serta bahasa Sansekerta. I-Tsing menuliskan bahwa kerajaan ini sangat maju dalam agama Buddha.
    Sumber Dalam Negeri
    Selain sumber dari luar negeri yang menjelaskan adanya Kerajaan Sriwijaya, prasati - prasasti juga menjelaskan tentang keberadaan Kerajaan maritim Sriwijaya di Nusantara, diantaranya :
    1. Prasasti Ligor
      Prasasti ini ditemukan di daerah Nakhon Si Thammarat, Thailand Selatan. Prasasti ini berupa batu dengan pahatan. Sisi pahatan pertama disebut dengan nama Ligor A menjelaskan kegagahan raja Sriwijaya, raja dari segala raja yang telah mendirikan Trisamaya Caitya untuk Kajara. Pada sisi kedua atau disebut Ligor B menjelaskan adanya pemberian gelar Visnu Sesawarimadawimathana kepada Sri Maharaja yang berasal dari keluarga Sailendravamsa.
    2. Prasasti Palas Pasemah
      Prasasti ini ditemukan di pinggir rawa desa Palas Pasemah, Lampung Selatan. Prasasti ini berbahasa Melayu Kuno dan berakasara Pallawa. Prasasti Palas Pasemah menjelaskan aadanya kutukan kepada orang - orang yang tidak mau tunduk kepada Kerajaan Sriwijaya. Apabila dilihat dari aksaranya, prasasti ini diperkirakan berasal dari abad ke 7 Masehi.
    3. Prasasti Hujung LangitPrasasti ini ditemukan di Desa Haur Kuning, Lampung, berbahasa Melayu Kuno dan beraksara Pallawa. Isi prasasti ini belum diketahui karena tulisan yang ada di prasasti mengalami keausan. Namun ketika diidentifikasi lebih lanjut prasasti ini diperkirakan berangka tahun 997 Masehi dan isinya menjelaskan tentang pemberian tanah sima (tanah perdikan tanpa adanya pungutan pajak).
    4. Prasasti Kota Kapur
      Prasasti ini ditemukan di pesisir Pulau Bangka pada sisi barat pulau dengan bahasa Melayu Kuno dan beraksara Pallawa yang ditemukan pada Desember 1892 oleh seorang berkewarganegaraan Belanda J.K. van der Meulen. Isi dari prasasti ini menjelaskan tentang adanya kutukan bagi orang - orang yang membantah titah dari raja Sriwijaya.
    5. Prasasti Telaga BatuPrasasti ini ditemukan di sekitar kolam Telaga Biru, Kelurahan 3 Ilir, Kecamatan Ilir Timur II, Kota Palembang. Isi prasasti ini menjelaskan tentang kutukan bagi siapa saja yang melakukan perbuatan jahat di wilayah kerajaan Sriwijaya.
    6. Prasasti Kedukan Bukit
      Prassti ini ditemukan di Kampung Kedukan Bukit Kelurahan 35 Ilir, Palembang oleh M. Batenburg pada 29 November 1920. Ukuran dari prasasti Kedukan Bukit adalah 45 x 80 cm berbahasa Melayu Kuno dan beraksara Pallawa. Isi dari prasasti ini adalah menceritakan seorang utusan dari Sriwijaya yang bernama Dapunta Hyang, ia mengadakan sidhayatra atau perjalanan suci menggunakan perahu. Dalam perjalanannya, ia diiringi oleh 2.000 pasukan dan berhasil menaklukkan daerah - daerah lain. 
    7. Prasasti Talang Tuwo
      Prasasti ini ditemukan di kaki Bukit Seguntang, tepian utara Sungai Musi, Louis Constant Westenenk pada 17 November 1920. Prasasti ini berisi doa-doa dedikasi serta menggambarkan aliran Budha Mahayana, Budha yang dianut oleh Kerajaan Sriwijaya. Hal ini dibuktikan dengan digunakannya kata - kata seperti bodhicitta, vajrasarira, annuttarabhisamyaksamvodhi serta mahasattva yang merupakan kata - kata khas Budha Mahayana.
    8. Prasasti Leiden
      Prasasti ini ditemukan di India dan dikeluarkan oleh kerajaan Cola yang bernama Rajakesariwarman. Prasasti Leiden ditulis diatas sebuah lempengan tembaga dengan bahasa Sansekerta dan Tamil. Isi dari prasasti ini adalah menceritakan tentang hubungan baik antara dinasti Chola dari Tamil serta dinasti Sailendra dari Sriwijaya. 
    9. Prasasti Karang Berahi
      Prasasti ini ditemukan di tepian Batang Merangin, Dusun Batu Bersurat, Desa Karang Berahi, Kecamatan Pamenang, Merangin, Jambi pada 1904 oleh L.M. Berkhout. Isi dari prasasti ini menjelaskan tentang kutukan kepada siapa saja yang berbuat jahat serta tidak setia kepada Raja Sriwijaya.
    Masa Kejayaan Sriwijaya
    Masa kejayaan Kerajaan Sriwijaya dicapai pada masa pemerintahan Balaputradewa. Hal ini didasarkan adanya hubungan Kerajaan Sriwijaya dengan Dewapaladewa dari Kerajaan Benggala, India untuk mendirikan biara bagi para mahasiswa serta pendeta Sriwijaya yang belajar di Nalanda seperti yang tertera dalam Prasasti Nalanda. Sriwijaya juga pernah menjadi pusat pendidikan serta pengembangan agama Budha, hal ini dibuktikan oleh catatan dari I-Tsing pada tahun 685 M, seorang yang berasal dari Cina yang singgah di Sriwijaya selama enam bulan untuk belajar bahasa Sansekerta.Wilayah kerajaan Sriwijaya pada saat itu adalah hampir seluruh pulau Sumatera, Semenanjung Malaya, Jawa Barat, serta Kalimantan Barat.

    Kemunduran dan Keruntuhan Kerajaan Sriwijaya
    Kerajaan Sriwijaya mulai melemah pada periode antara 1178 hingga 1225 yang disebabkan oleh penaklukan kerajaan Melayu- Jambi. Ada beberapa faktor mengapa Kerajaan Sriwijaya dapat runtuh, berikut adalah uraiannya :
    1. Kerajaan Chola dari India menyerang Sriwijaya pada 1017 dan 1025. Kedua serangan ini membuat armada perang Sriwijaya luluh lantah dan membuat perdagangan wilayah Asia Tenggara dan Malaka khususnya jatuh pada kekuasaan Chola, namun Kerajaan Sriwijaya masih berdiri.
    2. Kekuatan militer Sriwijaya melema dan menyebabkan munculnya Dharmasraya dan Pagaruyung yang melepaskan diri dari Sriwijaya dan kemudian menguasai wilayah Sriwijaya di Semenanjung Malaya, Sumatera serta Jawa Barat.
    3.  Melemahnya sektor ekonomi Sriwijaya yang berimbas pada pemasukan Sriwijaya. Pajak yang diambil dari pedagang yang melakukan aktivitas di wilayah Sriwijaya mulai berkurang seiring berkurangnya wilayah Sriwijaya atas serangan - serangan oleh kerajaan lain.
    4. Berhasilnya ekspedisi pamalayu oleh kerajaan Singasari dari Jawa.
    Raja - Raja Kerajaan Sriwijaya
    Berikut ini adalah raja - raja yang memerintah Kerajaan Sriwijaya :
    1. Dapunta Hyang Sri Yayanaga (dibuktikan dalam Prasasti Kedukan Bukit tahun 683 M dan Prasasti Talangtuo pada 684 M)
    2. Cri Indrawarman (dibuktikan dalam berita dari Cina pada tahun 724 M)
    3. Rudrawikrama (dibuktikan dalam berita dari Cina pada tahun 724 M)
    4. Wishnu (dibuktikan dalam Prasasti Ligor pada tahun 775 M)
    5. Maharaja (dibuktikan dalam berita dari Arab pada 851 M)
    6. Balaputradewa (dibuktikan dalam Prasasti Nalanda pada tahun 860 M)
    7. Cri Udayadityawarman (dibuktikan dalam berita dari CIna pada 960 M)
    8.  Cri Udayaditya (dibuktikan dalam berita dari Cina pada 962 M)
    9. Cri Cudamaniwarmadewa (dibuktikan dalam berita dari Cina pada 1003 M serta Prasasti Leiden pada 1044 M)
    10. Maraviyatunggawarman (dibuktikan dalam Prasasti Leiden pada tahun 1044 M)
    11. Cri Sanggrama Wijayatunggawarman (dibuktikan dalam Prasasti Chola pada 1004 M)
    Peta Kerajaan Sriwijaya

      Peninggalan Bangunan Kerajaan Sriwijaya
      Sriwijaya meninggalkan bangunan - bangunan diantaranya Candi Kotamahligai, Candi Gumpung, Candi Tinggi, Candi Kembar Batu, Candi Astono, Candi Kedaton, Candi Gedong I dan II, Situs Muarojambi serta Kolam Telagorajo.

      Keadaan Sosial dan Budaya
      Sriwijaya merupakan kerajaan Budha yang terbesar pada masanya terbukti dengan dijadikannya Sriwijaya sebagai perguruan tinggi dalam hal pengembangan serta pusat pendidikan Budha. I-Tsing, seorang pengelana dari Cina perna menetap di Sriwijaya selama 6 tahun untuk mendalami agama Budha. Karya yang dihasilkan oleh I-Tsing yaitu Ta Tiang si-yu-ku-fa-kao-seng-chuanyang selesai ditulis pada 692 M.