Tampilkan postingan dengan label Historiografi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Historiografi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 22 Juni 2016

A. Latar Belakang Adanya Tanam Paksa
Cultuurstelsel atau tanam paksa merupakan kebijakan Belanda dengan mempekerjakan pribumi untuk menanam tanaman tertentu secara paksa. Kebijakan ini sangat merugikan pribumi sebagai orang yang melakukan. Tanpa gaji dan tanpa istirahat, orang - orang pribumi banyak yang meninggal dikarenakan kebijakan ini. Kebijakan ini diberlakukan karena adanya faktor yang mempengaruhi yaitu adanya tekanan dari pemerintah negara Belanda untuk memaksimalkan jumlah pendapatan Belanda dan besarnya pengeluaran Belanda untuk melakukan penumpasan - penumpasan pemberontakan di berbagai wilayah Belanda. Selain itu Negara Belanda juga sedang mengalami peperangan dan sumber pemasukan Belanda adalah dari kas - kas tangsi Belanda seperti Belanda yang ada di Indonesia. Oleh karena itu diangkatlah Johanes van den Bosch untuk memaksimalkan pendapatan Belanda. Dana yang didapatkan akan digunakan untuk mengisi kekosongan kas negara, membayar hutang dan membiayai perang. Dengan adanya tugas dari Belanda tersebut, van den Bosch melakukan kebijakan dengan meningkatkan produksi tanaman - tanaman ekspor seperti rempah - rempah. Kemudian van den Bosch melakukan kebijakan tanam paksa dengan komoditas yang laku di pasaran dunia secara paksa kepada pribumi Indonesia. Tanam paksa ini diberlakukan setelah van den Bosch tiba di Indonesia pada 1830. Selain itu van den bosch juga memberlakukan program sebagai berikut :
  1. Penghapusan sewa tanah karena pemasukannya sedikit dan pelaksanaannya sulit.
  2. Pemberlakuaan tanaman wajib dengan jenis tanaman yang sudah ditentukan oleh pemerintah
  3. Pajak tanah diganti dengan penyerahan hasil tanaman kepada Belanda
B. Aturan Tanam Paksa
Sistem tanam paksa pada dasarnya adalah gabungan dari sistem tanam wajib yang diberlakukan VOC dan pajak tanah yang diberlakukan Raffles. Sistem tanam paksa tersebut memiiki ketentuan - ketentuan sebagai berikut :
  1. Pribumi yang mempunyai tanah diwajibkan menanam seperlima dari tanahnya untuk ditanami tanaman wajib yang laku di pasaran
  2. Hasil dari tanaman tersebut diserahkan kepada Belanda. Apabila hasil dari tanaman tersebut melebihi pajak yang ditentukan maka kelebihan tersebut akan dikembalikan kepada petani
  3. Waktu penanaman tidak boleh melebihi waktu penanaman padi
  4. Kegagalan panen sepenuhnya menjadi tanggung jawab pemerintah
  5. Wajib tanam dapat diganti dengan tenaga kepada Belanda dengan mempekrjakan selama 66 hari
  6. Pengawasan tanam paksa sepenuhnya di awasi oleh kepala - kepala pribumi sedangkan pemerintah Belanda pengawasan secara umum

C. Pelaksanaan Tanam Paksa
Melihat aturan tanam paksa memang tidak terlalu memberatkan, namun kenyataan di lapangan aturan tersebut sangat bersebrangan, menekan dan memberatkan rakyat. Adanya Cultuur procenten atau hadiah bagi para kepala daerah yang menyerahkan hasil bumi pribumi tepat waktu maka akan diberi hadiah semakin memberatkan rakyat. Dengan adanya Cultuur Procent ini para penguasa pribumi berlomba meningkatkan setoran untuk mendapatkan hadiah lebih banyak dari Belanda, akibatnya muncul penyelewangan - penyelewengan, antara lain :
  1. Pembagian tanah yang diwajibkan untuk ditanami yang semula seperlima dari tanah bertambah menjadi sepertiga bahkan seperdua, adapula yang seluruhnya karena tanahnya subur
  2. Kegagalan panen dibebankan pada petani
  3. Tenaga kerja yang seharusnya dibayar oleh pemerintah ada kenyataannya tidak dibayar
  4. Waktu penanaman yang dibutuhkan melebihi waktu penanaman padi
  5. Kelebihan hasil yang seharusnya diserahkan ke petani ternyata tidak dikembalikan
  6. Pekerjaan yang diberikan Belanda ternyata lebih berat 
D. Akibat yang ditimbulkan oleh Tanam Paksa
Tanam paksa yang pada pelaksanaannya menyimpang dari aturan menimbulkan akibat - akibat sebagai berikut :
  1. Bagi Indonesia Terutama Jawa
    • Banyak sawah dan ladang terbengkalai karena petani yang tidak mampu mengolah tanamannya karena kurangnya modal dengan adanya sistem pajak dan tanam paksa serta menurunnya penghasilan secara drastis
    • Tanam paksa semakin memberatkan rakyat dengan aturan - aturan yang ditetapkan Belanda
    • Tekanan fisik dan mental yang berkepanjangan
    • Kemiskinan semakin meluas
    • Meningkatnya kematian secara drastis karena kelaparan dan wabah penyakit
  2. Bagi Belanda
    • Keuntungan dan kemakkmuran bagi Belanda
    • Hutang yang sebelumnya membebani sedikit demi sedikit terlunasi
    • Pemasukan yang melebihi anggaran belanja
    • Terpenuhinya kas negrei Belanda
    • Berkembangnya perdagangan Belanda di Indonesia 
E. Akhir Tanam Paksa
Adanya protes - protes mengenai adanya tanam paksa yang dilakukan oleh Belanda membuat pemerintah negeri Belada berangsur - angsur menghapus sistem tanam paksa. Protes - protes tersebut diantaranya adalah berikut :
  • Golongan Pengusaha
    Golongan ini menganggap bahwa tanam paksa menyalahi ekonomi liberal dan menghendaki adanya kebebasan bagi para pribumi
  • Baron van Hoevel
    Baron van Hoevel melihat adanya penderitaan di Indonesia yang diakibatkan adanya tanam paksa, oleh karna itu ia mengecam pelaksanaan tanam paksa. Setelah kembali ke Belanda dan terpilih sebagai anggota parlemen, ia semakin gigih memperjuangkan tuntutannya terhadap penghapusan tanam paksa.
  • Eduard Douwes Dekker
    Ia walaupun seorang Belanda namun ia cinta terhadap penduduk Indonesia khususnya setelah melihat penderitaan setelah pemberlakuan tanam paksa. Dengan nama samarannya yaitu Multatuli, ia menulis buku Max Havelaar yang menggambarkan penderitaan pribumi akibat adanya tanam paksa. 
Akibat protes - protes ini pemerintah belanda  berangsur - angsur menghapus sistem tanam paksa.

Selasa, 21 Juni 2016

Lasem merupakan kota kecil yang syarat akan sejarah. Namun, sejarah Lasem yang terkenal akan keharmonisan budaya Tionghoa dan pribumi seolah tidak terdengar di luar Lasem. Kota ini merekam sejarah Perang Kuning dimana Tionghoa dan pribumi yang bekerjasama dalam menyerang Belanda. Selain meninggalkan kisah sejarah kota ini juga meninggalkan bangunan - bangunan yang sampai sekarang masih eksis. Diantara bangunan bangunan sejarah tersebut adalah klenteng. Berikut ini adalah klenteng - klentang yang ada di Lasem :
  1. Klenteng Chu An Kiong
    Terdapat tiga klenteng di Lasem. Klenteng yang paling tua terdapat di Jalan Dasun yang didirikan untuk memuja Thian Siang Sing Bo (artinya ibu suci dari surga) atau biasa disebut Ma Co yang tak lain adalah dewi pelayar dan nelayan di Fukien. Klenteng ini lebih dikenal dengan nama Klenteng Chu An Kiong. Bangunan klenteng ini berdekatan dengan Lawang Ombo menghadap ke Barat dekat dengan sungai. Sejarah pembangunannya Klenteng Chu An Kiong dibangun oleh orang Fukien dari Cina menuju Jawa tepatnya merapat ke Lasem. Tidak jelas diketahui kapan klenteng ini didirikan, di dalam klenteng hanya terdapat informasi yang terdapat pada prasasti yang menjelaskan bahwa pada 1838 dilakukan perbaikan atas prakarsa Kapitan Lin Changling. Banyak orang tua setempat yang menyebut bahwa klenteng ini sudah ada sejak abad ke 15, namun hingga saat ini belum ditemukan bukti tertulis yang menyatakan kapan dibangunnya klenteng ini. Bagi orang - orang Tionghoa yang mendarat di Lasem, Thian SIang Sing Bo memiliki dua makna, pertama dia seorng penguasa lautan dan pelindung para nelayan dari badai, kedua dia memberikan stabilitas sosial bagi kehidupan di Lasem.
  2. Klenteng Poo An Bio
    Klenteng kedua adalah Poo An Bio dibangun di selatan Lasem pada akhir abad ke-19 untuk memuja Kwee Sing Ong yang merupakan Dewa keluarga Kwee, Dewa pengaman dari bencana alam. Klenteng ini dibangun di ujung selatan kota dan menghadap ke Selatan. Di depannya adalah perkampungan pribumi.
  3. Klenteng Gie Yong Bio
    Klenteng ke tiga adalah Klenteng Gie Yong Bio yang dibangun untuk memuja pahlawan dalam perang kuning Tan Kie Wie dan Oei Ing Kiat, dua pahlawan yang gugur dalam perang kuning melawan Belanda 1750. Klenteng Gie Yong Bio terkadang juga disebut Yiyong Gong Niao atau Temple of the Valiant Men. Awalnya klenteng ini adalah klenteng kecil kemudian pada 1915 diperluas menjadi klenteng yang difungsikan untuk menjaga kota dari kerusuhan anti Tionghoa yang sudah terjadi di Kudus.
Sumber : Arsitektur Tradisional Tionghoa dan Perkembangan Kota
    1. Peninggalan bersejarah di Lasem yang berupa benda, bangunan, ataupun makam para tokoh pada masa Mataram di antaranya adalah sebagai berikut :
      • Masjid Agung Lasem (Masjid Jami'), yng dibangun pada masa Tejakusuma I, termasuk master plan tata kota era Mataram Islam
      • Alun - alun Lasem, yang dibangun masa Tejakusuma I, termasuk master plan tata kota era Mataram Islam
      • Makam Adipati Tejakusuma I (Mbah Srimpet) dengan nisan troloyo di komlek pemakaman Masjid Jami' Lasem
      • Makam Sayid Abdurrohman (Raden Sambuah/Mbah Sambu) di Kompleks Pemakaman Masjid Jami' Lasem
      • Makam Tejakusuma III, IV, dan V di Brangkal, Desa Jolotundo, Kec. Lasem
      • Makam Pangeran WIngit, Pangeran Kajoran Panembahan Rama di bukit Mentoro, Desa Sendangcoyo, Kec. Lasem
      • Puri Kawak : pusat pendidikan agama islam (pondok pesantren) masa Tejakusuma IV, di Sumur Kepel, Sumbergirang, Kec. Lasem
      • Klenteng Tan Dele Siang Sieng/Biong Bio, Babagan, Kec. Lasem, dibangun sebelum terjadinya perang kuning oleh para pelarian Cina Batavia
      • Bangunan regency Lasem/ rumah loji, di Tulis, Desa Selopuro, Kec. Lasem
      • Bangunan Tangsi Militer VOC di Bukit Gebang, Desa Warugunung, Kec. Pancur.
      • Makam Raden Panji Margono (Belapati melawan kompeni Belanda dalam Perang Kuning) di Sambong, Desa Dorokandang, Kec. Lasem, dan
      • Makam Tumenggung Widyaningrat/Dampoawang Oei Ing Kiat, di Gunung Bugel, Kec. Pancur
    2. Peninggalan yang berupa seni dan sastra
      • Serat Sabda Brada Santhi yang ditulis kembali pada masa Tejakusuma I, Tejakusuma IV, dan R. Panji Kamzah dalam bentuk bait - bait/kidung macapat
      • Seni pagelaran wayang krucil dan wayang Kotehi/Potehi (Bu Dai Xi)
      • Seni pagelaran barongsai dan bela diri wushu
    Terletak di bebukitan perbatasan seolah menyembunyikan diri dari keramaian terdapat sebuah kamp tahanan politik bernama kamp Plantungan. Jauh dari kesan menyeramkan di sekitar kamp Plantungan lebih terlihat seperti tempat peristirahatan khas desa - desa.  Kamp ini berdiri sejak 1870 dibangun oleh Belanda, seabad lebih bangunan ini berdiri dan sampai sekarang masih kokoh berdiri walaupun di sana sini sudah memperlihatkan beberapa kerusakan di sisi bangunan berupa mengelupasnya cat serta dindingnya. Bangunan ini dijadikan sebagai tempat isolasi bagi orang - orang yang terkena penyakit lepra sampai tahun 1970-an. Setelah tahun tersebut terutama tahun 1971, sekitar 500 gerwani atau perempuan Partai Komunis Indonesia ditahan disini. Nama Plantungan memang tak setenar Pulau Buru, namun disinilah saksi bisu 500 orang yang dituduh sebagai komunis ditahan bertahun - tahun.

    Disini juga mereka diperlakukan tidak manusiawi, tahanan ini disiksa, dipenjara, ditahan, dibuang disiksa, ditelanjangi, bahkan diperkosa bergiliran. Padahal mereka yang tergabung dalam Gerwani merupakan wanita - wanita intelektual berpendidikan. Gerakan ini merupakan Gerakan perempuan progresif sejak berdirinya pada 1954 yang cikal bakalnya sudah ada sejak 1950. Kini Kamp Plantungan yang secara administratif berada di Dusun Plantungan, Kecamatan Plantungan, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah ini menjadi tempat rehabilitasi kejahatan - kejahatan yang kemudian dilimpahkan ke kamp ini.

    Senin, 20 Juni 2016

    Peninggalan - Peninggalan Masa Awal Islam
    Peninggalan - peninggalan ini dimulai dari masa berdirinya Kadipaten Bonang Binangun - Lasem, yaitu :
    a. Benda - benda yang tidak bergerak
    1. Lokasi Bekas Istana Kadipaten Bonang Binangun
      Lokasi ini berada di kompleks Ndaleman Bonag. Desa Bonang, Kec. Lasem, dengan pagar tembok keliling.
    2. Bangunan Masjid - Masjid Kuno
      Peninggalan ini, yaitu Masjid Bonang di Desa Bonang, Kec. Lasem, dibangun pada masa Adipati Wira Negara bersama Sunan Bonang. Masjid Gedong/Masjid Tiban berada di Desa Gedongmulyo, Kec. Lasem. Masjid ini dibangun pada masa pemerintahan Nyai Ageng Maloka. Masjid Kali Pang di Desa Kalipang, Kec. Sarang. Semua masjid - masjid tersebut dibangun pada awal perkembangan Islam, bentuk bangunan aslinya berbentuk joglo dengan empat penyangga utama, beratap tiga susun dengan puncak mustaka berbentuk makuthapraba.
    3. Klenteng Tua
      Peninggalan ini, yaitu Klenteng Mak Caw/Chu An Kiong, berada di Jalan Dasun, di pinggir sebelah timur aliran Sungai Babagan, Desa Soditan, Kec. Lasem. Klenteng ini didirikan pada masa gelombang migrasi kedua orang Cina, pada akhir abad 15 Bentuk bangunan klenteng ini masih asli bergaya Tiongkok dengan ornamen eksterior dan interior yang khas, ukiran, lukisan keramik, serta kaligrafi yang kental mencerminkan budaya Cina sekitar abad 15.
    4. Bekas Pemukiman
      Bekas pemukiman ini ditemukan oleh arkeolog pada tahun 1983 di Desa Bonang, Ngenden, dan Caruban (Gedong Mulyo). Bekas - bekas pemukiman tersebut disertai pula banyak penemuan sarana pendukung, serta bangunan sumur - sumur tua dan perkakas rumah tangga.
    5. Makam - Makam Kuno
      Keberadaan makam - makam kuno (makam - makam bangsawan abad 15) yang menggunakan nisan batu besar berbentuk troloyo. Seperti makam pusara Pangeran Wirabraja dan kedua istrinya, makam pusara Pangeran Wira Negara dan putranya berada di Keben, Desa Sriombo, Kec. Laesem. Makam pusara Nyai Ageng Malokah dan makam Pangeran Santhipuspa berada di Caruban, Gedongmulyo. Makam pusara keluarga Santhi di Kiringan, Punjulharjo, Kec. Rembang.
    6. Situs Sunan Bonang
      Situs ini merupakan bekas bangunan Kadipaten Bonang Binangun dan situs Sunan Bonang yang berada di kompleks pasujudan Sunan Bonang yang berada di Bukit Regol berdekatan dengan makam Putri Campa.
     b. Benda - benda yang dapat bergerak
    Dalam penelitian arkeolog tahun 1983, ditemukan alat - alat perlengkapan mencari ikan, seperti  bandul jala, mata pancing tempat pengecoran besi, kerak besi, dan beberapa peralatan rumah tangga, seperti kendi, periuk, gerabah dan keramik abad 15. Semua hasil penemuan dan penelitian tersebut dibawa ke Museum Jakarta atas penguasa Badan Arkeolog Nasional.

    c. Peninggalan Seni dan Kebudayaan 
    1. Sastra
      Adanya peninggalan kitab suluk zaman Sunan Bonang yang berbahasa prosa Jawa Tengahan, yang kata - katanya agak cenderung pada bahasa anak. Kitab ini dimungkinkan adalah kumpulan - kumpulan catatan - catatan dari pelajaran yang pernah diajarkan oleh Sunan Bonang kepada muridnya.
      Adapula gending dan tetembangan yang barangkali masih bisa didengarkan hingga sekarang. Sekalipun telah mengalami bermacam penggubahan dan pengartian seiring lamnya waktu, seperti tembang cublak - cublak suweng, lir - ilir, dan sebagainya. Konon, tetembangan tersebut ditulis oleh Sunan Kalijaga yang didalamnya mengandung ajaran moral dan ketauhidan bagi anak - anak.
    2. Alat Musik
      Peninggalan yang berupa alat musik, yaitu sebuah alat musik Jawa jenis bendel/bonang yang terbuat dari perunggu lengkap dengan pemukulnya. Hingga sekarang bendel/bonang tersebut tersimpan dan terawat dalam tanggung jawab juru kunci kompleks Ndaleman Sunan Bonang, di Desa Bonang, Kec. Lasem.
    d. Nilai - Nilai Seni dan Kebudayaan
    1. Seni Grafis, Ukiran, dan Batik Laseman
      Seni grafis model ukir - ukiran, dan batik Laseman merupakan bentuk dari proses akulturasi antar kebudayaan yang menghasilkan seni yang dinamis dan kaya. Yaitu, antara kebudayaan Jawa, Campa, Cina, dan Arab. Ini dapat dilihat dari karya ukir - ukiran dan bentuk ornamen bangunan pada masa itu. Karya yang paling menonjol dan masih lestari hingga kini adalah motif batik Laseman dan menjadi salah satu ikon produk Kota Lasem.
    2. Arsitektur betuk bangunan yang dibangun pada masa awal Islam abad ke 15 terlihat sangat kental bernuansa akulturasi antara bermacam - macam budaya, sperti pada bentuk bangunan masjid, gapura, rumah - rumah penduduk, dan klenteng.
    3. Tradisi upacara - upacara ataupun ritual adat masyarakat untuk memanifestasikan rasa syukur kepada Tuhan atas limpahan karunia, rezeki, dan hasil bumi. Tradisi ritual - ritual adat Jawa telah mengalami proses islamisasi di dalamnya. Seperti penyelenggaraan doa - doa bersama di masyarakat, doa atas arwah yang meninggal dilakukan hingga 7 hari, 40 hari, 100 hari. Ziarah kubur orang tua dan para leluhur, perhelatan rakyat, seperti sedekah bumi ataupun sedekah laut, dan juga tradisi adat istiadat dan keagamaan lainnya yang semua itu telah mengalami islamisasi (ajaran tauhid).


    Sumber : Buku Lasem Negeri Dampoawang (M. Akrom Unjiya)

      Sabtu, 18 Juni 2016

      Batavia yang berumur lebih dari 400 tahun sebagai daerah istimewa memiliki banyak kisah serta tragedi dibalik berdirinya kota Batavia. Salah satu tragedi yang terjadi di Batavia adalah adanya pembantaian etnis Tionghoa yang menewaskan 10.000 orang Tionghoa secara sadis di Kali Angke. Tragedi tersebut bermula adanya perselisihan pemerintahan VOC dengan etnis Tionghoa. Tercatat ada beberapa faktor yang memicu pecahnya pemberontakan Tionghoa terhadap pemerintahan VOC, diantaranya :
      • VOC yang ada di Calcutta, India kalah dalam hegemoni persaingan maskapai dagang Inggris The British East India Company (1602-1799)
      • Adanya tekanan kepada Gubernur VOC di Btavia untuk memaksimalkan jumlah pendapatan untuk mengisi kas VOC.
      • Besarnya pengeluaran VOC untuk menumpas pemberontakan di wilayah � wilayah VOC di Nusantara
      • Keberhasilan para imigran Tionghoa di Batavia yang dianggap berpotensi menjadi ancaman bagi VOC

      Untuk memecahkan masalah tersebut, VOC mengelaurkan kebijakan jalan pintas dengan melakukan tanam paksa bagi pribumi. Sedangkan untuk para etnis keturunan dan Tionghoa diberlakukan kebijakan � kebijakan yang ujungnya adalah melakukan pemerasan. Pemerintah VOC memberlakukan �Surat Ijin Tinggal� untuk para orang � orang Tionghoa baik di dalam tembok maupun di luar. Apabila melanggar aturan tersebut akan dilakukan pengusiran di wilayah Hindia Belanda. Pada awalnya alasan memberlakukan kebijakan ini adalah untuk membatasi para imigran gelap yang masuk di Batavia.


      Tercatat pada 1719 penduduk etnis Tionghoa sebanyak 7.550 meningkat pada 1739 sebanyak 10.574 jiwa di Batavia. Kemudian pada 25 Juli 1740 mulailah diberlakukan kebijakan surat ijin tinggal dan VOC tak segan menangkap serta memenjarakan bagi yang melanggar. Etnis Tionghoa seakan menjadi korban dari kebijakan ini. Kebijakan ini berpotensi besar menciptakan korupsi bagi pegawai VOC serta pada kalangan dewan kebijakan ini sangat disenangi karena pajak yang masuk ke kas VOC menjadi semakin meningkat. Selain itu kebijakan ini sekaligus digunakan sebagai alat kontrol untuk aktivitas bisnis warga Tionghoa.

      Baca Juga : Kekejaman Belanda Pada Peristiwa "Geger Pecinan" di Batavia

      Kebijakan ini sangat berimbas pada orang � orang Tionghoa, banyak diantara mereka mengalami kebangkrutan bahkan sebagian beralih profesi menjadi pekerja kasar dikarenakan besarnya pajak yang harus dibayar kepada VOC. Ketidakpuasan ini mengakibatkan pembentukan perlawanan � perlawanan kecil kepada VOC pada tahun 1740. Puncaknya pada 7 Oktober 1740 perlawanan etnis Tionghoa mencapai puncaknya. Lebih dari 500 orang melakukan penyerangan ke Benteng Batavia setelah sebelumnya menghancurkan pos penjagaan VOC di Jatinegara, Tangerang dan Tanah Abang. Pada 8 Oktober 1740 terjadi kerusuhan di semua pintu masuk Benteng Batavia oleh ratusan etnis Tionghoa. Pasukan VOC di bawah pimpinan van Imhoff melakukan penghadangan. Pada 9 Oktober 1740 VOC memukul mundur dengan pasukan kavaleri dan kemudian mengejar hingga ke pemukiman � pemukiman. Pasukan VOC juga melakukan pembakaran ke rumah � rumah serta pusat perdagangan warga Tionghoa. Warga yang tidak ikut pemberontakanpun juga ikut diburu. Banyak diantara mereka dibiarkan melarikan diri kearah sungai atau kali dimana prajurit VOC lain sudah menunggu untuk melakukan pembantaian. Beberapa sumber mengatakan kali yang digunakan dalam pembantaian tersebut adalah kali angke. Kali berarti sungai, dan angke berasal dari kata bangkai. Hingga tragedi ini dinamakan dengan Tragedi Angke. Sebagian orang juga berpendapat pembantaian tersebut bukan terjadi di Kali Angke melainkan di Kali Besar karena letaknya yang lebih dekat dengan Tembok Batavia.

      Pembantaian ini melibatkan budak VOC serta pribumi yang dihasut guna membantu melakukan pembantaian kepada orang � orang Tionghoa. Bahkan Gubernur Jendral Valckeneir menjanjikan akan memberi hadiah 2 dukat untuk satu kepala orang Tionghoa. Pada 10 Oktober 1740 Gubernur Jendral Valckeneir memerintahkan prajuritnya untuk mengumpulkan orang � ornag Tionghoa yang selamat dan bahkan yang terbaring di rumah sakit untuk dikumpulkan di depan Stadhuis Gedung Balaikota atau sekarang dikenal dengan Musem Fatahillah untukdi eksekusi hukum gantung. Pasca tragedi ini sebanyak 3.441 terdiri 1.442 pedagang, 935 petani, 728 pekerja perkebunan dan 336 pekerja kasar yang masih tersisa dan selamat dari tragedi ini.