Tampilkan postingan dengan label Edisi Bulan Ramadlan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Edisi Bulan Ramadlan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 20 Agustus 2015

Sumber Ilmu - Keistimewaan Bulan Ramadlan
Sebelumnya saya mohon maaf kepada saudara saya Ahmad Shalihin dimanapun anda berapa, karena saya sangat lambat memberikan postingan artikel dengan tema "Keistimewaan Bulan Ramadlan". hal ini dikarenakan saya telat membuka email, dan kemarin saat saya buka saya tidak sempat membaca email satu persatu.
Sekali lagi saya mohon maaf yang sebesar-besarnya.

Mengenai Keistimewaan Bulan Ramadlan sebenarnya, Insya Allah sudah pernah saya bahas, bahkan hadits hadits yang menjelaskannya juga sangat banyak, namun karena anda meminta, maka saya akan berusaha memberikannya kepada anda.
Semoga saja apa yang saya bagikan nantinya memberikan manfaat bagi kita semua, amin.

Keistimewaan Bulan Ramadlan
Sesungguhnya Allah Ta�ala mengkhususkan bulan Ramadlan di antara bulan-bulan lainnya dengan keutamaan yang agung dan keistimewaan yang banyak.

Sesungguhnya Allah Ta�ala mengkhususkan bulan Ramadlan di antara bulan-bulan lainnya dengan keutamaan yang agung dan keistimewaan yang banyak. Allah Ta�ala berfirman,

?????? ????????? ??????? ???????? ????? ?????????? ????? ????????? ???????????? ???? ???????? ?????????????? ?????? ?????? ???????? ????????? ???????????? ?????? ????? ???????? ???? ????? ?????? ????????? ???? ???????? ??????

�(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadlan, bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur�an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu yang hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu. Dan barangsiapa yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain� (QS. Al-Baqarah [2]: 185).

Di dalam ayat yang mulia ini, Allah Ta�ala menyebutkan dua keistimewaan bulan Ramadlan yang agung, yaitu:

Keistimewaan pertama, diturunkannya Al-Qur�an di dalam bulan Ramadlan sebagai petunjuk bagi manusia dari kegelapan menuju cahaya. Dengan kitab ini, Allah memperlihatkan kepada mereka kebenaran (al-haq) dari kebathilan.  Kitab yang di dalamnya terkandung kemaslahatan (kebaikan) dan kebahagiaan (kemenangan) bagi ummat manusia, serta keselamatan di dunia dan di akhirat.

Keistimewaan ke dua, diwajibkannya berpuasa di bulan tersebut kepada ummat Nabi Muhammad shallallahu �alaihi wa sallam, ketika Allah Ta�ala memerintahkan hal tersebut dalam firman-Nya (yang artinya),� Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu� (QS. Al-Baqarah [2]: 185)

Puasa Ramadlan merupakan salah satu rukun Islam [1], di antara kewajiban yang Allah Ta�ala wajibkan, dan telah diketahui dengan pasti bahwa puasa Ramadlan adalah bagian dari agama,salah satu rukun islam.

Barangsiapa yang  berada di negeri tempat tinggalnya (mukim atau tidak bepergian) dan sehat, maka wajib menunaikan ibadah puasa di bulan Ramadlan. Sebagaimana firman Allah Ta�ala (yang artinya),� Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu� (QS. Al-Baqarah [2]: 185) Dan barangsiapa yang bepergian (musafir) atau sakit, maka wajib baginya mengganti puasa di bulan yang lain, sebagaimana firman Allah Ta�ala (yang artinya), �Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain� (QS. Al-Baqarah [2]: 185)

Dari sini jelaslah bahwa tidak ada keringanan untuk tidak berpuasa di bulan tersebut, baik dengan menunaikannya di bulan Ramadlan atau di luar bulan Ramadlan kecuali bagi orang yang sudah tua renta atau orang sakit yang tidak diharapkan kesembuhannya. Kedua kelompok tersebut tidaklah mampu berpuasa, baik di bulan Ramadlan atau di luar bulan Ramadlan. Bagi keduanya terdapat hukum (aturan) lain yang akan datang penjelasannya, insya Allah.

Dan termasuk di antara keutamaan bulan Ramadlan adalah apa yang dijelaskan oleh Nabi shallallahu �alaihi wa sallam dalam shahihain dari Abu Hurairah radliyallahu �anhu bahwa Nabi shallallahu �alaihi wa sallam bersabda,

????? ????? ????????? ????????? ????????? ??????????? ??????????? ????????? ????????? ??????????? ?????????????

�Jika bulan Ramadlan tiba, maka dibukalah pintu-pintu surga, ditutuplah pintu-pintu neraka, dan setan-setan dibelenggu� [2]

Hadits ini menunjukkan atas keistimewaan yang agung dari bulan yang penuh berkah ini, yaitu,

Pertama, dibukanya pintu-pintu surga di bulan Ramadlan. Hal ini karena banyaknya amal shalih yang disyariatkan di bulan tersebut.

Kedua, ditutupnya pintu-pintu neraka di bulan ini, disebabkan oleh sedikitnya maksiat yang dapat memasukkan ke dalam neraka, sebagaimana firman Allah Ta�ala,

???????? ???? ????? (37) ??????? ?????????? ?????????? (38) ??????? ?????????? ???? ?????????? (39)

�Adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya)� (QS. An-Nazi�at [79]: 37-39).

Dan juga firman Allah Ta�ala,

?????? ?????? ??????? ??????????? ??????? ???? ????? ????????? ?????????? ?????? ???????

�Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan rasul-Nya, maka sesungguhnya baginyalah neraka jahannam, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya� (QS. Jin [72]: 23).

Ketiga, setan-setan dibelenggu di bulan Ramadlan.

Dan termasuk dalam keutamaan bulan yang penuh berkah ini adalah dilipatgandakannya amal kebaikan di dalamnya. Diriwayatkan bahwa amalan sunnah di bulan Ramadlan memiliki pahala yang sama dengan amal wajib. Satu amal wajib yang dikerjakan di bulan ini setara dengan 70 amal wajib. Barangsiapa yang memberi buka puasa untuk seorang yang berpuasa, maka diampuni dosanya dan dibebaskan dari api neraka, dan baginya pahala orang yang berpuasa tanpa mengurangi pahala oarang yang berpuasa tersebut sedikit pun.

Semua kebaikan, berkah, dan anugerah ini diberikan untuk kaum muslimin dengan datangnya bulan yang penuh berkah ini. Oleh karena itu, hendaklah kaum muslimin menyambut bulan ini dengan kegembiraan dan keceriaan, memuji Allah yang telah mempertemukannya (dengan bulan Ramadlan), dan meminta pertolongan kepada-Nya untuk dapat berpuasa dan mengerjakan berbagai amal shalih di bulan Ramadlan.

***
Catatan kaki:

[1] Dari �Abdullah bin �Umar radliyallahu �anhuma, Rasulullah shallallahu �alaihi wa sallam bersabda,

?????? ??????????? ????? ??????: ????????? ???? ??? ?????? ?????? ??????? ??????? ?????????? ??????? ???????? ????????? ??????????? ?????????? ??????????? ?????????? ???????? ?????????

�Islam dibangun di atas lima perkara, (1) syahadat bahwasannya tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah; (2) mendirikan shalat; (3) menunaikan zakat; (4) berhaji; dan (5) puasa Ramadlan.� (HR. Bukhari no. 7 dan Muslim no. 16)

[2] HR. Bukhari no. 1898, 1899 dan Muslim no. 1079.

Demikian kiranya "Keistimewaan Bulan Ramadlan" yang bisa saya berikan. semoga bermanfaat.

Jumat, 12 Juni 2015

Sumber Ilmu - Wasiat Habib Umar bin Hafidh Soal Ramadlan

Bulan Ramadlan tinggal menghitung hari..di mana hari tersebut merupakan bulan yang sangat dirindukan oleh ummat Nabi Muhammad SAW yang di dalamnya penuh keberkahan dari bulan-bulan lainnya.
Marilah kita ikuti  Wasiat Al Allamah Alhabib Umar Bin Hafidh Dalam Menghadapi Bulan Ramadlan (Terjemahan dari wwww.habibomar.com ). Merupakan penyampaian dari Guru Mulia beliau Al Habib Umar bin Hafidh dalam ceramah beliau di akhir sya�ban 1436H ini, saya mengulas sebagian wasiat � wasiat Guru Mulia, bahwa seyogyanya ada 3 hal yang harus kita laksanakan di awal bulan Ramadlan ini, yaitu:
1. Gembira dan senang dengan datangnya bulan Ramadlan, sebagaimana firman Allah swt yang artinya:
�Katakanlah (wahai Muhammad saw) Dengan Datang-nya Anugerah Allah Dan Rahmat-Nya, Maka Dengan Itu Hendaknya Mereka Bergembira� (QS Yunus 58), dan juga Sabda Rasulullah saw yang artinya:
�Barangsiapa yang berpuasa Ramadlan dengan menjaganya dengan segenap kemampuannya, maka diampunilah seluruh dosanya yang telah lalu� (HR Bukhari & Muslim).

Dan diriwayatkan oleh Salman ra, bahwa Rasulullah saw menyampaikan ceramahnya pada kami di hari terakhir bulan sya�ban :
�Wahai para manusia sekalian, telah menyelimuti kalian bulan Agung yang penuh keberkahan, bulan yang padanya suatu malam yang lebih mulia dari seribu bulan, Allah menjadikan puasa di bulan ini merupakan hal yang fardlu (wajib), dan menjadikan Qiyam (tarawih) merupakan hal yang sunnah, barangsiapa yang beribadah dengan satu macam kebaikan maka sama saja pahalanya dengan menjalankan ibadah yang fardlu, barangsiapa yang beribadah dengan hal yang fardlu maka seakan ia telah mengerjakan 70X hal fardlu tersebut, inilah (Ramadlan) merupakan bulan kesabaran, dan balasan atas kesabaran adalah Surga, inilah bulan kita saling membantu satu sama lain, inilah bulan dimana Allah menumpahkan rizki Nya bagi orang mukmin� (Hadits riwayat Imam Ibn Khuzaimah dalam shahih nya).
2. Menjaga diri dan berhati hati dari hal hal yang membuat kita terhalangi dan terusir dari kemuliaan Ramadlan, diantaranya adalah :
* Menjaga lidah kita dari berdusta dan menjaga pula perbuatan kita dalam kedustaan dan penipuan,
* juga ucapan ucapan buruk dan perbuatan buruk,
* dan dari berbuka puasa dengan makanan haram dan syubhat,
* dan dari perbuatan yang menjatuhkan pahala puasa seperti memandang aurat yang bukan muhrimnya,
* dan dari berdusta dan membicarakan aib orang lain,
* dan dari memutuskan hubungan silaturahmi,
* dan dari minum arak, ganja dan narkotika,
* dan dari dengki dan kebencian terhadap sesama muslimin, dan dari berbuat durhaka pada kedua orang tua.
Dan berhati � hatilah wahai mukimin dari berbuka puasa tanpa sebab yang jelas, Sabda Rasulullah saw yang artinya:
�Barangsiapa yang berbuka di hari Ramadlan tanpa sebab sakit, atau safar, atau udzur syar�I lainnya, maka tiadalah ia akan bisa membayarnya walaupun ia berpuasa sepanjang masa� (HR Tirmidzi, Nasa�I, Abu Daud, Ibn Maajah, Ibn Khuzaimah dan Imam Baihaqy).

Maka berhati � hatilah wahai mukmin dalam menjaga keadaan puasamu, dan jangan pula kau berbuka puasa sebelum yakin telah tiba waktunya, karena sunnah untuk bersegera dalam buka puasa adalah setelah yakin sepenuhnya telah masuk waktu berbuka puasa.
3. Yang terakhir adalah bersungguh � sungguh dalam menghadapi hujan anugerah di bulan mulia ini, dan bersungguh � sungguh mendapatkan anugerah berlipat gandanya berbagai pahala dan dibentangkannya kesempatan untuk meraih derajat yang agung. Telah bersabda Rasulullah saw :
�Sesungguhnya Allah telah mewajibkan bagi kalian berpuasa di siang harinya dan telah pulah mensunnahkan bagi kalian mendirikan shalat sunnah di malam harinya (tarawih), barangsiapa yang melakukan keduanya dengan keimanan dan kesungguhan, maka ia akan lepas dari seluruh dosanya sebagaimana saat ia baru dilahirkan oleh
ibunya� (HR Imam Nasa�i).

Maka seyogyanya kita memperbanyak berbagai amal ibadah di bulan mulia ini, terutama menjaga shalat lima waktu dengan berjamaah, dan ketahuilah bahwa menjamu orang lain berbuka puasa merupakan hal yang agung pahalanya, sabda Rasulullah saw :
�Barangsiapa yang menyediakan buka puasa bagi yang berpuasa dibulan Ramadlan, maka diampuni seluruh dosanya, dan kebebasan baginya dari api neraka, dan ia mendapatkan pahala puasa tersebut� (HR Ibn Khuzaimah dalam Shahihnya).

Sabda Rasulullah saw : �Barangsiapa yang menyediakan buka puasa bagi orang yang berpuasa ramadhan dengan makanan dan minuman yang halal, maka akan bershalawatlah para Malaikat baginya sepanjang waktu Ramadlan, dan akan bershalawatlah padanya Malaikat Jibril dimalam Lailatulqadr� (Imam Thabrani).
Sabda Rasulullah saw : �Diberikan untuk ummatku dibulan Ramadlan lima hal yang tidak diberikan pada para Nabi sebelumku, yaitu :
� Saat malam pertama bulan Ramadlan, Allah memandangi mereka dengan iba dan kasih sayang Nya, dan barangsiapa yang dipandangi Allah dengan Iba dan Kasih Sayang Nya maka tak akan pernah disiksa selama selamanya,
� Yang kedua adalah aroma tak sedap dari mulut mereka di sore harinya lebih indah dihadapan Allah daripada wanginya Misk (bau tak sedap orang yang berpuasa akan menyusahkan mereka dan akan membuat mereka merasa terhina, namun balasan untuk keridhoan mereka karena hal yang tak mereka sukai dan perasaan terhina itu adalah justru di sisi Allah hal itu sangatlah mulia),
� yang ketiga adalah sungguh para malaikat memohonkan pengampunan dosa bagi mereka sepanjang siang dan malam,
� yang keempat adalah Allah memerintah kepada Surga seraya berfirman yang artinya: " Bersiaplah engkau (wahai surga), dan bersoleklah untuk menyambut hamba � hamba-Ku, aku iba melihat mereka, barangkali mereka mesti beristirahat karena kepayahan menghadapi kehidupan mereka di dunia untuk menuju Istana � Istana-Ku dan Megahnya Kedermawanan-Ku,
� yang kelima adalah ketika malam terakhir dibulan Ramadlan maka diampunilah bagi mereka seluruhnya, maka bertanyalah seorang sahabat :
" Apakah itu hadiah orang yang mendapatkan Lailatulqadr Wahai Rasulullah?, maka Rasul saw bersabda : �Tidak, bukankah bila kau melihat paraburuh bila selesai dari pekerjaannya harus segera dilunasi upahnya?� (HR Imam Baihaqi).
Maka ketahuilah bahwa Rasul saw bersungguh � sungguh dalam beribadah pada bulan Ramadlan, lebih dari kesungguhannya di bulan lain, dan Rasul saw sangat teramat bersungguh � sungguh dalam beribadah di 10 malam terakhir Bulan Ramadlan lebih dari kesungguhannya di hari � hari Ramadlan lainnya, Maka berpanutlah pada Imam mu Nabi Muhammad saw, janganlah tertipu dengan mengikuti kebiasaan sebagian orang yang bersungguh � sungguh di awalnya dan bermalas � malasan di akhirnya, karena kemuliaan justru berpuncak pada akhirnya.
Wahai Allah perkenankan kami melewati kemuliaan Ramadlan, berpuasa dan menegakkan bermacam � macam amal mulia padanya, dari pembacaan Al Qur�an dan bertafakkur atas maknanya, serta menyambung silaturahmi serta berbuat baik dengan tetangga, dan selamat dari segala hal yang memnghalangi kami dari kemuliaannya, dan shalawat serta salam atas sang Nabi dan keluarga serta sahabatnya
walhamdulillahirabbil�alamiin� amiin.


Mohon maaf apabila ditulisan ini hadits dan ayatnya tidak ada lafadh arabnya, soalnya tulisan saya ambil dari facebook, dan memang tidak menyertakan tulisan arabnya.
Baca juga:
Kumpulan Hadits Mengenai Bulan Puasa Ramadlan
Sarkub Ahlus Sunnah Wal Jama'ah Ala NU apa Syi'ah?

Selasa, 29 November 2011

Sumber Ilmu - Niat dalam Puasa Ramadlan
Segala sesuatu yang berhubungan dengan niat, selalu ada dalam hati. Atau selalu dengan hati. Sama sekali tidak dengan lisan. Oleh sebab itu, melafadhkan atau mengucapkan niat tidaklah wajib hukumnya. Namun demikian, tidak pula suatu bid�ah yang dosa dan sesat, meskipun hal itu tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah SAW.

Pengucapan niat pada hakikatnya dimaksudkan untuk memesukakan isi lafadz niat tersebut ke dalam hati yang oleh sebab itu menurut suatu mazhab dipandang sunnah hukumnya, lantaran diyakini akan menjadi pendorong tercapainya suatu yang wajib. Hanya satu yang perlu diperhatikan yakni bahwa wajibnya sebuah niat, tidak akan pernah terpenuhi hanya dengan ucapan lisan, tanpa ada dalam hati.

Bilakah Sebaiknya Berniat Puasa?

Berdasarkan As Sunnah, memang ada perbedaan alokasi waktu untuk berniat antara puasa Ramadlan  dan puasa sunnah. Niat puasa Ramadlan harus dilaksanakan pada malam hari sampai menjelang fajar, sedangkan niat puasa sunnah tidak.

???? ???? ????????? ?????????? ?????? ????????? ????? ??????? ????

�Siapa saja yang tidak berniat puasa pada malam hari sebelum fajar maka tidak ada puasa baginya.�(HR. Ahmad, Abu Dawud dan Ibnu Majjah, dari hafshah)

Hadits yang di atas menegaskan bahwa tidak sah puasa seseorang dengan niat pada saat fajar terbit, apalagi sesudahnya.

Adapun niat puasa sunnah sampai dilaksanakan sebelum tergelincir Matahari ke arah barat (masuk waktu dzuhur) dan sebelum melakukan hal-hal yang membatalkan puasa. Hal ini didasarkan pada sebuah Haditz Riwayat Muslim dan Abu Dawud tentang apa yang dikisahkan oleh Aisyah ra bahwa Rosulullah SAW pada suatu hari bertanya kepadanya: �Apakah ada makanan ?� Aisyah menjawab �Tidak�. Lantas Rosulullah bersabda : �Kalau begitu aku berpuasa�

Apa Sajakah yang Diwajibkan dalam Niat Puasa?

Sesuatu niat dalam ibadah, harus memenuhi beberapa kriteria yang disesuaikan dengan ibadah yang akan dikerjakan. Untuk niat puasa, ada dua kriteria yang harus dipenuhi. Pertama, bermaksud mengerjakan puasa, yang masuk kategori; qosdul fi�li.

Kedua menyatakan puasa apa yang akan dikerjakan, misalnya puasa Ramadlan, puasa kaffarah, puasa nadzar dan lainsebagainya. Dimana hal ini masuk ketegori ; Atta�yin. Adapun yang menyempurnakan adalah menegaskan fardhu atau sunnahnya puasa yang akan dikerjakan, yang masuk dalam ketegori ; Atta�arrudl. Lantas, menegaskan bahwa puasa yang akan dikerjakannya itu semata-mata karena Allah SWT.

Apakah Sah Puasa Satu Bulan Ramadlan dengan Niat Satu Kali?

Puasa Ramadhan adalah ibadah, dan setiap ibadah wajib diserrtai denga niat, sebagaimana dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim dari Umar bin Khathab RA, yang dapat disimpulkan bahwa sebuah niat tidak dapat digunakan untuk dua kali ibadah atau lebih.

Hari-hari puasa Ramadhan merupakan merupakan suatu bentuk ibadah tersendiri yang sama sekali tak terkait dengan puasa hari sebelum dan sesudahnya. Oleh sebab itu, setiap hari puasa Ramadhan membutuhkan niat tersendiri.

Namun demikian, sebagian dari para Fuqaha ada pula yang berpendapat lain yakni bahwa ; �Puasa sebulan Ramadhan itu cukup hanya berniat satu kali saja pada hari pertama�. Dimana pendapat itu didasarkan pada penilaian bahwa puasa sebulan Ramadhan itu adalah sebuah kesatuan, tidak terpecah-pecah, sehingga layak disebut sebagai satu bentuk ibadah, dalam artian antara malam hari yang boleh makan minum dengan siang hari yang harus berpuasa, sudah merupakan suatau gaungan ibadah puasa.
Selain itu mereka juga mengacu pada sebuah Hadits kewajiban niat yang menytakan bahwa seseorang itu hanya memperoleh apa yang telah diniatkannya. Dalam hal ini mereka berpendapat bahwa juka seseorang sudah sekali berniat untuk melaksanakan puasa sebulan Ramadhan, maka ia akan mendapat yang sesuai dengan apa yang telah diniatkannya itu. Atau dengan kata lain, puasanya sebulan Ramadhan itu sah.

Sejauh penghematan kami, pendapat yang kedua ini yakni sah berniat satu kali untuk sebualan puasa Ramadhan sangatlah lemah, lantaran hadits yang dijadikan dasar acuan pendapat mereka itu masih memiliki relativikasi pengrtian yang beragam. Artinya pernyataan hadits bahwa seseoranbg itu akan mandapatkan apa yang telah diniatkannnya, boleh jadi memang bisa digunakan untuk mengesahkan niat satu kali puasa sebulan Ramadhan, jika puasa sebulanm Ramadhan itu benar-benar merupakan suatu bentuk ibadah yang menyatu.

Namun nyatanya walaupun nampak layak disebut ibadah yang menyatu tak dapat kita pungkiri pula bahwa setiap hari puasa dalam bulan Ramadhan merupaka suatau bentuk ibadah yang mandiri, sama sekali tidak terkait dengan hari sebelum atau sesudahnya. Bukti yang paling kongriet ang mendukung pernyataan ini adalah ; �Batalnya sehari puasa Ramadhan sama sekali tidak memepengaruhi puasa hari berikutnya �. Dan juga sudah jelas bahwa hari-hari puasa dalam bulan Ramadhan itu merupakan suatu ibadah yang mandiri maka sulit diingkari bahwasanya setiap hari puasa ramadhan itu harus disertai dengan niat tersendiri.

Bagaimana Jika tidak Niat Puasa pada Malam Harinya?

Adalah rukun puasa yang merupakan unsur dasar dari setiap ibadah. Oleh sebab itu, tidaklah sah puasa seseorang jika tidak disettai dengan niat. Dan jika telah dinyatakan bahwa niat puasa fardlu itu harus dilakukan pada malam hari, maka tidak sah berniat pada terbit fajar atau sesudahnya. Dengan demikian jika seseorang tidak berniat puasa Ramadhan pada malam harinya, maka tidaklah puasanya, sehingga ia wajib melakukan qadha. Namun demikian tidaklah ia berdosa karenanya, jika tidak berniatnya itu disebabkan karena utzur, seperti lupa atau tertidur sampai masuk waktu subuh. Selain itu ia tetap berlaku dan bertindak sebagaimana layaknya orang yang sedang berpuasa, lantaran ia tidak termasuk orang yang diberi keringanan untuk meniggalkan puasa yang memperoleh kebasan berbuka.
Semantara itu, ada pula pendapat lain yakni bahwa dengan ditinggalkannya niat puasa oleh seseorang pada malam harinya karena udzur misalnya maka ia diperbolehkan berniat puasa Ramadhan pada pagi harinya. Pandapat ini didasarkan pada sebuah hadits yang menyatakan bahwa, pada suatu hari tanggal 10 Muharam Rasulullah SAW memberi perintah kepada sala seorang sahabatnya agar mengintruksikan kepada semua orang baik yang sudah makan ataupun belum untuk berpuasa.
Menurut kami, pendapat ini patut diterima dengan dasar kebijakan pertimbangan alasan udzur tersebut bukan lantara puasa Muharam yang memang bukan fardhu, sebelum difardukannya puasa Ramadhan.

Namun demikian kami tetap memandang bahwa pendapat pertama jauh lebih kuat lantaran diwajibkannya berniat puasa malam hari itu didasarkan pada hadits yang sharih atau tegas sebagaimana riwayat dari Hafshah RA. Sehingga apapun alasannya udzur atau tidak secara mutlak niat puasa fardhu pada malam hari itu wajib.

Donasi Bitcoin

Bitcoin : 1FeCysSdTGEDkBy4UXCeuiMCstyWPCKsqi