Tampilkan postingan dengan label Candi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Candi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 15 Desember 2016


Petirtaan Jolotundo berada di lereng Gunung Penanggungan, tepatnya di Desa Seloliman, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto. Petirtaan Jolotundo merupakan kolam pemandian raja - raja zaman Kerajaan Kahuripan. Air di Petirtaan Jolotundo tidak pernah berkurang sekalipun pada musim kemarau. Berdasarkan penelitian, air di Petirtaan Jolotundo merupakan air terbaik dengan kandungan mineral yang tinggi. Petirtaan Jolotundo dibangun pada masa Kerajaan Kahuripan dibawah pemerintahan raja Airlangga. Petirtaan ini merupakan satu dari sekian banyak obyek peninggalan sejarah di Gunung Penanggungan.

Sejarah Pembangunan Petirtaan Jolotundo
Petirtaan Jolotundo dibangun oleh raja Kerajaan Udayana sebagai wujud cintanya kepada putri dari Jawa yaitu Putri Guna Priya Dharma yang dinikahinya dan menyambut kelahiran anaknya, Airlangga yang lahir pada tahun 991 M. Pembangunan Petirtaan Jolotundo dilaksanakan pada tahun 997 M, seperti yang ada di dinding kolam. Menurut sumber lain, petirtaan ini merupakan tempat pertapaan Airlangga setelah memutuskan untuk mengundurkan diri dari singgasana Kahuripan. Pada Petirtaan Jolotundo terdapat dua kolam yang diperuntukkan kepada sang raja dan ratu. Hal ini kemudian dilanjutkan hingga sekarang sebagai pemisah menurut gender bagi para pengunjung. Petirtaan Jolotundo telah mengalami 2 kali pemugaran yaitu pada tahun 1923 oleh pemerintahan Hindia Belanda dan pada tahun 1990 - 1994 oleh pemerintah Indonesia.

Petirtaan Jolotundo
Petirtaan Jolotundo memiliki ukuran panjang 16,85 meter; lebar 13,52 meter; dan tinggi 5,2 meter. Bangunan Petirtaan Jolotundo berbahan dasar batu andesit dengan pahatan yang halus. Hal ini menandakan bahwa dahulu Petirtaan Jolotundo dibangun oleh tenaga terampil. Pada Petirtaan Jolotundo terdapat 52 pancuran yang bersumber dari Gunung Penanggungan. Sebanyak 52 pancuran tersebut memuntahkan air terus menerus meskipun pada musim kemarau. Kondisi Petirtaan Jolotundo tidak mengalami perubahan dari bentuk aslinya.

Terdapat ratusan ikan dan tumbuhan liar di kolam bagian bawah. Meski begitu, pengunjung tak satupun berani mengambil ikan dari kolam petirtaan ini. Disekitar Petirtaan Jolotundo terdapat bongkahan batu candi yang merupakan bagian candi yang belum terekonstruksi.

Penelitian Air Petirtaan Jolotundo
Pada tahun 1985 dilakukan penelitian tim dari Belanda mengkaji kualitas air di Petirtaan Jolotundo. Hasilnya air di Petirtaan Jolotundo menduduki peringkat ke 5 dunia. Sedangkan pada penelitian kedua pada tahun 1991 yang dilakukan oleh para arkeolog menghasilkan kesimpulan bahwa air dari petirtaan Jolotundo menduduki peringkat 3 dunia.

Tradisi di Petirtaan Jolotundo
Air dari Petirtaan Jolotundo dianggap bisa menambah kecantikan dan awet muda, oleh karena itu banyak diantaranya para pengunjung wanita melakukan ngalap berkah. Pada malam 1 Muharam atau 1 Suro dan bertepatan dengan bulan purnama, Jolotundo dipenuhi pengunjung yang datang untuk ritual siraman di Petirtaan Jolotundo.

Selasa, 29 November 2016


Ada beberapa hal yang menyebabkan candi rusak dan dalam kondisi terpendam. Berikut adalah hal - hal yang menyebabkan rusaknya candi baik disebabkan oleh alam maupun dari manusia.
  • Ditinggalkan Penganutnya
    Candi rusak karena ditinggalkan oleh penganut dari ajaran candi yang bersangkutan. Ketika penganut dari ajaran yang bersangkutan sebagai perawat dari bangunan candi meninggalkan candi tersebut, maka candi berangsur - angsur akan mulai rusak tanpa penanganan serta perawatan yang baik. 
  • Panas dan Hujan
    Panas dan hujan kemudian menjadikan batu candi menjadi keropos dan mengurangi kepadatan batu. 
  • Angin
    Angin membawa komponen debu, pasir dan terkadang benih tumbuhan yang akan merusak candi. Benih tumbuhan yang hidup di candi terutama bagian akarnya akan merusak batu candi serta menyusupi celah - celah batu dan terakhir membuat candi menjadi semakin tertutupi rerimbunan pohon. 
  • Bencana
    Alam Gempa bumi akan membuat bangunan candi roboh dan membuat batu - batu candi tercerai berai satu sama lain. 
  • Pencurian
    Batu dari reruntuhan candi dicuri dan kemudian dimanfaatkan untuk bahan bangunan yang sangat diminati penduduk sekitar.

Selama berabad - abad bangunan reruntuhan candi hilang sampai adanya ilmu arkeologi yang kemudian melakukan rekonstruksi bangunan candi. Candi tersebut kemudian di temukan dalam keadaan runtuh dan terkadang hanya tersisa puing - puing tumpukan batu. Candi - candi yang berdiri sekarang ini merupakan hasil restorasi dari pemerintah. Tujuan restorasi tersebut adalah untuk menjaga keutuhan bentuk candi walaupun disisi lain banyak bangunan candi yang sudah diganti dengan unsur baru untuk mendukung bentuk asli dari candi tersebut dan menjaga agar tidak terjadi kerusakan lebih parah pada bangunan candi.

Restorasi berarti memperbaik, perbaikan candi tergantung pada ketersediaan bahan asli candi yaitu berupa sisa - sisa batu candi. Restorasi akan dilakukan apabila batu - batu candi dapat dikumpulkan kembali dan disatukan dalam satu tempat, kemudian batuan - batuan tersebut direstorasi dengan direkonstruksi diatas kertas sebelum dilakukan pembangunan ulang candi yang telah runtuh. Apabila batu - batu reruntuhan candi tidak memenuhi syarat untuk dilakukan rekonstruksi, maka bebatuan tersebut dibarkan begitu saja tanpa adanya penanganan dan hanya dikumpulkan di satu tempat.

Candi yang telah ditemukan seringkali telah hilang bagian atapnya, pada bagian tubuh candi juga terkadang hilang sebagian terutama bagian luar tubuh candi, yang seringkali utuh hanya bagian dasar candi. Reruntuhan candi yang tertimbun tanah akan membentuk bukit kecil yang ditutupi tanah dan tumbuhan. Selain itu, batuan dari tubuh maupun atap candi biasanya dicuri untuk dijadikan bahan bangunan. Hal inilah yang kemudian menyulitkan arkeolog untuk menganalisa bentuk asli dari bangunan candi.

Tiga fase dalam restorasi candi
  1. Fase pertama yaitu pengumpulan puing - puing candi dan menyeleksi batu sesuai tipe, bentuk, lokasi ditemukan serta ukuran. 
  2. Fase kedua yaitu mencocokkan antar bagian dari reruntuhan candi. Pencocokan dimulai dari dua bagian candi kemudian apabila terjadi kecocokan maka langkah selanjutnya dikembangkan lagi susunannya ke atas dan ke bawah serta kekanan dan kekiri. Ketika terdapat kecocokan kemudian dilakukan sketsa bentuk prototype candi dalam sebuah gambar diatas kertas. 
  3. Dari skesta satu bagian yang telah dibuat kemudian dicocokkan lagi dengan sketsa yang lain yang telah selesai dicocokkan. Dari kegiatan ini bagian perbagian akan memperlihatkan bentuk asli dari bangunan tersebut. Karena candi memiliki 4 sisi, maka rekonstruksi candi akan melibatkan 4 sisi bangunan pula. Rekonstruksi paling sulit yaitu pada bagian dalam candi. Bagian dalam candi berbahan batu polos tanpa ukiran yang sulit untuk dicocokkan satu dengan yang lainnya.
Setelah dilakukan tahapan restorasi, batu yang telah diseleksi tersebut kemudian dikelompokkan lagi kedalam sub bagian didalam struktur candi. Ketika semua sudah siap, candi kemudian dibangun kembali bagian perbagian. Candi baru akan dibangun kembali ketika analisa dari bentuk candi telah didapatkan. Pengalaman membuktikan bahwa bagian - bagian candi tidak pernah 100% ditemukan dalam bentuk utuh. Batu - batu yang hilang tersebut kemudian diganti dengan batu baru dengan bentuk polos. Rekonstruksi menggunakan bahan asli dari puing bangunan lama disebut anatylosis. Rekonstruksi jenis ini hanya akan dilakukakn apabila puing - puing bangunan ditemukan secara utuh. Namun hal ini terkendala bahan dari candi yang sebagian hancur dan hilang. Bagian yang paling sering hilang adalah keystone atau batu kunci. Keystone adalah batu yang digunakan untuk mengunci dan menyambung batu satu sama lain dalam penyusunan batu candi pada sistem interlock. Pembangunan ulang candi tidak dapat dilakukan apabila batu kunci tersebut tidak ditemukan.

Keputusan untuk membangun kembali bangunan candi sepenuhnya diserahkan kepada bidang arkeologi. Spekulasi dan juga keinginan melihat bangunan yang telah runtuh sangat dihindari dalam ilmu arkeologi apabila data - data pendukung belum sepenuhnya terpenuhi. Bahkan ketika bagian candi telah ditemukan 90 % dan sketsa perbagian telah dirancang namun ada 2 bagian candi baik secara vertikal maupun horizontal belum tersambung maka candi tersebut tidak boleh dibangun.
Pemugaran Candi Sojiwan
Penggunaan batu baru harus diminimalkan oleh para arkeologi dan bisa diganti apabila benar - benar dibutuhkan untuk menjaga integritas bangunan candi tersebut. Oleh karena inilah, banyak lubang - lubang dicandi yang dibiarkan. Batu - batu pengganti harus berbentuk polos dan tidak boleh memiliki ukiran walaupun tujuannya sebagai penyelaras dengan bagian lain. Selain itu, batu - batu pengganti pada candi harus ditandai dengan metal atau logam penanda atau bisa juga bahan kimia yang menandakan bahwa batu tersebut adalah batu pengganti. Penandaan batu pengganti ini sangat penting mengingat adanya peraturan bahwa batu berukir yang telah rusak tidak boleh digantikan dengan batu baru berpola sejenis. Apabila tidak dapat diganti dengan batu baru maka bagian candi tersebut dibiarkan kosong tanpa batu pengganti. Sebagai contoh pada sebuah arca yang kehilangan kepala maupun tangan, bagian arca tersebut tidak bisa diperbaiki ulang dan dibiarkan tidak lengkap.

Rekonstruksi candi selalu dimulai dari bagian dasar candi. Bagian dasar candi merupakan komponen penting karena bagian ini adalah penopang candi. Penelitian pada bagian dasar candi akan dilakukan mendalam sebelum melanjutkan ke bagian tubuh candi.
Rekonstruksi Candi Gunung Sari

Restorasi candi berbahan dasar batu andesit dan batu bata memiliki tingkat kesulitan yang berbeda. Pada batu bata akan ditemui bentuk dan ukuran sama yang akan menyulitkan para arkeolog untuk merekonstruksi kembali candi barbahan batu bata. Restorasi bangunan candi berbahan batu bata tidak akan dilanjutkan apabila bentuk dari candi tidak diketahui secara pasti. Restorasi hanya akan akan dilakukan dalam hal penguatan komponen - komponen batu bata candi yang telah rusak. Pemugaran akan dilakukan pada candi berbahan batu bata apabila sangat diperlukan dan merasa yakin untuk dibongkar. Pembangunan kembali batu bata tersebut akan dilakukan dengan persyaratan ketat dari metode anastylosi.

Sumber : Wacana.co

Kamis, 20 Oktober 2016

Candi Tikus terletak di Dukuh Dinuk, Desa Temon, Kecamatan Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur. R.A.A. Kromojo Adinegoro pada tahun 1914 melaporkan bahwa ditemukan sebuah miniatur candi di lokasi pemakaman. Dari laporan ini kemudian dikembangkan dan ditemukan adanya situs candi. Pemugaran candi ini dilakukan pada 1984 hingga 1985. Penamaan "Candi Tikus" sebenarnya diberikan oleh masyarakat sekitar karena ketika dilakukan penggalian, lokasi situs ini adalah sarang tikus. Dari hal inilah kemudian candi ini disebut Candi Tikus.

Hingga saat ini belum diketahui kapan candi ini dibangun serta fungsi dari Candi Tikus ini. Bahkan penamaan candi pun masih menggunakan penamaan masyarakat sekitar. Namun, para arkeolog menduga bahwa candi ini dibangun pada masa Kerajaan Majapahit yaitu pada abad ke 13 hingga abad ke 14.
Candi Tikus ketika pertama kali ditemukan

Pendapat Para Ahli
  • Drs. IG. Bagus L. Arnawa
    Menurut Drs. IG. Bagus L. Arnawa pembangunan candi tikus melalui 2 tahap apabila dilihat dari bahan dasar batuannya. Candi ini menggunakan 2 jenis batu merah yaitu batu merah berukuran besar dan batu merah berukuran kecil.  
  • N.J.Krom
    Dalam bukunya berjudul Inleiding tot de Hindoe Javaansche Kunst II atau Pengantar Kesenian Hindu Jawa II, ia berpendapat bahwa tahap pertama pembangunan Candi Tikus arsitekturnya masih sangat kaku dan sederhana. Kemudian dilanjutkan di tahap ke dua menggunakan batu andesit. Pada tahap ini arsitekturnya mengalami peningkatan dan terlihat lebih bagus dan modern. 
  • A.J. Bernet Kempers
    Dalam bukunya yang berjudul Ancient Indonesia Art ia menuliskan adanya susunan miniatur menara di Candi Tikus yang dianggapnya memiliki hubungan dengan konsep religi. Menurutnya, bentuk dari Candi Tikus merupakan perwujudan dari Gunung Meru. Gunung Meru atau Mahameru merupakan tempat yang dianggap suci, tempat para dewa dan pusat kosmos dunia bagi umat Hindu dan Buddha. Bentuk pancuran pada candi ini merupakan pengatur debit air pada masa Majapahit. Sedangkan tempatnya yang berada di pinggiran kota Trowulan diperkirakan bahwa fungsi candi ini adalah tempat penyucian air atau tirta yang akan mengaliri seluruh kota Trowulan.

Arsitektur Candi Tikus
Berbeda dengan candi - candi lain, Candi Tikus berbentuk kolam dengan candi berada di tengah kolam tersebut. Bahan utama candi ini adalah batu bata merah dan batu andesit. Bangunan ini menjorok kebawah dengan kedalaman 3 meter dibawah permukaan tanah. Ukuran kolam Candi Tikus yaitu 29,5 x 28,25 meter yang dilengkapi dengan undakan berbentuk selasar yang semakin kedalam semakin kecil. Selasar pertama memiliki lebar 0,75 meter yang mengelilingi kolam dan kemudian selasar kedua berada di bawahnya dan berukuran lebih lebar.

Candi utama berada di tengah kolam yang berdiri menghadap ke arah utara, yang dilengkapi dengan sebuah tangga selebar 3,5 meter memanjang dari atas kolam menuju ke dasar kolam. Disisi kiri dan kanan tangga utama terdapat 2 buah kolam kecil. Kedalaman dari dua kolam kecil ini adalah 1,5 meter dengan ukuran 2x3,5 meter. Terdapat 3 buah pancuran di masing - masing dinding 2 kolam kecil tersebut yang berbahan dasar batu andesit berbentuk bunga teratai.

Candi utama berbentuk bujur sangkar yang berukurann 7,65 m2. Terdapat 8 buah menara kecil pada sekeliling candi utama dengan bentuk Gunung Meru pada atap dan ujung atap berbentuk datar. Sedangkan pada bagian tengah bangunan candi utama terdapat sebuah miniatur menara setinggi 2 meter yang memiliki bentuk serupa dengan 8 menara di sekelilingnya. Pada sisi dinding luar bangunan utama candi terdapat 17 pancuran yang memiliki bentuk kalamakara dan bunga teratai yang mengelilingi bangunan utama candi.


Senin, 17 Oktober 2016

Candi Pringtali berada di Pegunungan Menoreh, Dusun Pringtali, Desa Kebonharjo, Kecamatan Samigaluh, Kabupaten Kulon Progo, DIY. Candi ini diperkirakan beraliran Hindu dengan bukti ditemukannya lingga di kawasan sekitar candi dan belum diketahui secara pasti kapan candi ini didirikan. Keadaan Candi Pringtali kini belum mendapatkan perhatian dari pihak pemerintah, sehingga pengunjungpun masih sangat jarang. Candi Pringtali berbahan dasar batu andesit dan disusun secara vertikal dengan lingga dan berada di bawah pohon beringin.Sebagian dari badan candi dalam keadaan rusak karena kurangnya perawatan. Candi ini dikelilingi pagar bambu yang memiliki panjang sisi 5 meter. Pada candi ini terdapat satu stupa dengan tinggi 2 meter dan panjang sisi 50 cm.

Rabu, 12 Oktober 2016

Candi Wringin Branjang terletak di Bukit Gedang, Dusun Sukomulyo, Desa Gadungan, Kecamatan Gandusari. Candi ini memiliki bentuk yang unik yang mirip dengan rumah atau pos jaga. Bentuk dari candi ini adalah persegi pada tubuh candi dan limas pada atap candi, pintu candi menghadap ke arah selatan.  Pada sisi - sisi dinding candi terdapat semacam lubang ventilasi yang berbentuk bintang. Candi ini memiliki panjang 400 cm, lebar 300 cm serta tinggi 500 cm. Dibangun pada masa pemerintahan Raden Wijaya dengan adanya bukti yaitu pahatan angka bertahun 1231 Saka atau 1309 Masehi yang dipahatkan pada balok batu pada situs gadungan yang berada sekitar 100 m dari Candi Wringin Branjang. Diperkirakan candi ini digunakan sebagai tempat pemujaan.

Arsitektur candi dibagi menjadi dua yaitu atap dan badan candi, dan tidak memiliki kaki candi layaknya candi - candi lain. Menurut juru kunci dari Candi Wringin Branjang, sebenarnya candi ini memiliki kaki candi, namun masih terpendam di dalam tanah. Candi Wringin Branjang belum sekalipun di pugar. Hingga saat ini belum ditemukan adanya keterkaitan candi ini dengan kerajaan yang ada di wilayah di Jawa Timur, namun pada kegiatan penggalian yang dilakukan pada tahun 1915 ditemukan adanya arca Dewi Sri dalam keadaan patah menjadi dua bagian. Dengan adanya temuan tersebut dapat diperkirakan bahwa candi ini adalah candi Hindu.

Selasa, 04 Oktober 2016

Candi Kidal berada di Desa Rejokidal, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang. Candi Kidal oleh masyarakat sekitar dianggap sebagai candi pemujaan yang berumur paling tua di wilayah Jawa Timur. Candi ini didirikan pada 1248 M setelah upacara pemakaman Cradha untuk Raja Anusapati dari Kerajaan Singasari. Dibangunnya Candi Kidal bertujuan untuk mendarmakan Raja Anusapati agar dapat mendapatkan kemuliaan sebagai Syiwa Mahadewa. Dibangunnya candi ini yaitu berdekatan dengan masa transisi kejayaan kerajaan di Jawa Tengah yang berpindah ke Jawa Timur sehingga pada struktur candi ini masih ditemukan unsur - unsur perpaduan candi bercorak Jawa Tengah dan Jawa Timur. Sebagian pendapat para ahli menganggap candi ini merupakan prototype atau versi beta dari candi Jawa Timuran.

Struktur Candi Kidal terbuat dari batu andesit dan berbentuk geometri vertikal. Terdapat pagar berupa batu yang berada di pelataran candi. Badan candi berdiri pada batur setinggi 2 m. Terdapat tangga untuk mencapai selasar candi. Tangga ini dilengkapi dengan pipi tangga dengan bentuk ukel layaknya tangga - tangga di candi lain namun perbedaannya pada anak tangga pertama terdapat badug (tembok rendah) disisi kiri dan kanan yang berbentuk siku yang menutup samping serta sebagian sisi depan kaki tangga. Badug yang ada di Candi Kidal tidak ditemukan di candi - candi lain.

Candi Kidal menghadap ke barat dengan pintu yang dilengkapi kalamakara yang berada pada ambang pintu. Atap Candi Kidal bersusun tiga dengan bentuk semakin keatas semakin kecil dengan bagian paling atas berbentuk persegi. Pada tepi tepi atap candi terdapat hiasan berupa ukiran bungan dan sulur - suluran. Pada kaki candi terdapat hiasan pahatan dengan motif medalion yang berjajar diselingi bingkai dengan motif bunga serta sulur - suluran. Pada pangkal candi terdapat arca berbentuk singa dengan satu kaki terangkat ke atas layaknya sedang mengangkat pelipit atas kaki candi.

Tubuh candi ini terbilang ramping bila dibandingkan dengan bagian kaki candi. Ruangan dalam candi juga terhitung sempit. Ruangan ini dalam keadaan kosong sekarang. Pada dinding candi terdapat hiasan pahatan dengan motif medalion. Dinding samping dan belakang terdapat tempat untuk meletakkan arca. Relung - relung arca tersebut terdapat kalamakara diatasnya. Saat ini tidak ada satupun arca yang tersisa di Candi Kidal. Konon arca Syiwa yang indah di Museum Leiden berasal dari Candi Kidal ini.

Kamis, 29 September 2016

Candi Bajangratu terletak di Dukuh Kraton, Desa Temon, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. Penamaan Bajangratu pertamakali disebutkan oleh Oudheidkunding Verslag (OV)  pada tahun 1915. Menurut arkeolog Sri Soeyatmi Satari nama Bajangratu memiliki hubungan dengan Raja Jayanegara, sebeb nama Bajangratu pada kata "bajang" memiliki arti kerdil. Pada kitab Pararaton menyebutkan bahwa Jayanegara dinobatkan menjadi raja Kerajaan Majapahit ketika masih kecil (bajang), dan dari sinilah gelar Ratu Bajang atau Bajangratu melekat pada nama Jayanegara.

Candi Bajangratu diperkirakan memiliki fungsi sebagai penghormatan kepada Jayanegara. Hal ini didasarkan pada relief Sri Tanjung yang berada di bagian kaki gapura yang menceritakan tentang cerita peruwatan. Kitab Pararaton menyebutkan bahwa Raja Jayanegara meninggal pada tahun 1328. Di kitab Pararaton juga disebutkan bahwa Jayanegara yang wafat pada tahun 1328 itu, dibuatkan sebuah tempat suci di dalam kedaton, dibuatkan arca dalam bentuk Wisnu di Shila Petak dan Bubat, serta dibuatkan arcanya dalam bentuk Amoghasidhi di Sukalila. Krom berpendapat bahwa Csrenggapura di kitab Pararaton sama dengan Antarasasi (Antarawulan) dalam kitab Negarakertagama, sehingga dari pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa 'dharma' (tempat suci) Jayanegara terdapat di Csrenggapura atau Crirangga Pura atau Antarawulan, dengan nama sekarang yaitu Trowulan. Arca perwujudan Wisnu juga terdapat di Bubat (Trowulan). Cuma Shila Petak atau Selapetak yang belum diketahui tempatnya.

Apabila melihat dari struktur bangunan, Candi Bajangratu lebih mirip sebagai pintu gerbang atau gapura paduraksa yang diduga merupakan pintu gerbang Keraton Majapahit. Hal ini diperkuat dengan lokasi bekas istana Majapahit yang tidak jauh dari Candi Bajangratu.

Candi Bajangratu menurut perkiraan didirakan pada abad ke 13 dan 14 Masehi, mengingat :
  1. Fungsi candi sebagai peruwatan Jayanaegara yang wafat pada tahun 1328 M
  2. Bentuk Candi Bajangratu yang menyeruai gapura seperti Candi Penataran di Blitar.
  3. Relief yang ada di bingkai pintu yang mirip dengan relief yang ada di Candi Panataran
  4. Relief dengan bentuk naga yang menunjukkan adanya pengaruh dari dinasti Yuan. 
Candi Bajangratu memiliki konstruksi yang berasal dari bahan batu bata merah, kecuali bagian atap dan anak tangga. Candi ini menghadap ke dua arah yaitu barat dan timur dengan tinggi 16,1 M dan dengan panjang 6,74 m. Terdapat sayap di sebelah kanan dan kiri candi. Seperti candi pada umumnya, di bagian pintu terdapat kalamakara yang berada tepat diatas ambang pintu. Pada bagian kaki ambang pintu terdapat bekas lubang untuk kusen. Kemungkinan pintu candi ini dilengkapi dengan daun pintu.

Pada bagian dalam candi membentuk lorong yang membujur dari barat ke timur. Atap candi ini memiliki bentuk meru (gunung) yang menyerupai limas bersusun dengan puncak berbentuk persegi. Candi Bajangratu mengalami beberapa pemugaran pada pemerintahan Belanda, namun hingga kini tidak didapatkan data mengenai pemugaran tersebut. Perbaikan candi dilakukan guna memperkuat bagian sudut dengan mengisi pengeras ke dalam nat - nat yang renggang serta mengganti balok kayu dengan semen cor.

Video Candi Bajang Ratu

Sabtu, 17 September 2016

Candi Plaosan terletak di Desa Bugisan, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten. Candi Plaosan terbagi menjadi dua komplek yaitu Plaosan Lor (lor berarti utara) dan Plaosan Kidul (kidul berarti selatan). Relief  yang ada di Candi Plaosan sangat halus dan rinci layaknya relief yang ada di Candi Borobudur, Candi Sewu serta Candi Sari.

Candi Plaosan yang beraliran Buddha ini menurut para ahli mulai dibangun pada masa Rakai Pikatan dari Kerajaan Mataram Hindu pada awal abad ke 9 Masehi. Hal ini di dukung oleh catatan De Casparis yang berpegang pada Prasasti Cri Kahulunan (842 M). Prasasti tersebut menceritakan bahwa Candi Plaosan Lor dibangun oleh Ratu Sri Kahulunan dengan suaminya. De Casparis berpendapat, Sri Kahulunan  merupakan gelar Pramordhawardani, putri dari Raja Samaratungga dari Wangsa Syailendra. Sang putri yang beragama Buddha menikahi Rakai Pikatan yang memeluk agama Hindu.

Pendapat lain mengenai pembangunan Candi Plaosan adalah pembangunan candi yang dimulai sebelum masa pemerintahan Rakai Pikatan. Anggraeini berpendapat, Sri Kahulunan merupakan ibu Rakai Garung yang memerintah Mataram sebelum Rakai Pikatan. Ia juga berpendapat bahwa pemerintahan Rakai Pikatan yang terlalu singkat tidak memungkinkan untuk membangun candi sebesar Candi Plaosan. Rakai Pikatan mendirikan candi perwara setelah masa pembangunan candi utamanya.

Di dekat candi perwara Candi Plaosan Kidul pada bulan Oktober 2003, ditemukan prasasti yang diperkirakan berasal dari abad ke 9 M. Prasasti tersebut mempunyai ukuran 18,5 x 2,2 cm yang terbuat dari lempengan emas. Prasasti ini ditulis dalam bahasa Sansekerta  menggunakan huruf Jawa Kuno. Prasasti ini belum diketahui isinya, namun menurut Tjahjono Prasodjo, epigraf yang ditugasi untuk membaca prasasti ini, ia berpendapat dari prasasti ini menguatkan dugaan bahwa pembangunan Candi Plaosan dibangun pada masa pemerintahan Rakai Pikatan.

Candi Plaosan Lor
Candi Plaosan Lor lebih luas dari pada Candi Plaosan Kidul. Terdapat dua pasang Dwarapala yang saling berhadapan di bagian depan (barat) komplek ini, sepasang terletak di pintu masuk utara dan sepasang lagi di pintu masuk selatan. Pada pelataran utara terdapat teras batu berbentuk persegi yang dikelilingi oleh deretan umpak batu. Ada dugaan bahwa umpak batu ini dahulu difungsikan sebagai tempat untuk meletakkan sesajian. Konon diatas umpak batu ini dahulu merupakan sebuah bangunan yang terbuat dari kayu dan diatas masing - masing umpak terdapat arca Dhyani Buddha. Teras yang sama namun berukuran lebih kecil terletak di selatan kompleks Candi Plaosan Lor.



Bangunan utama pada komplek Candi Plaosan Lor adalah dua buah candi utama. Kedua candi ini sama - sama menghadap ke barat dan dikelilingi oleh pagar batu. Sebenarnya kedua candi utama ini dikelilingi oleh 174 candi perwara, 58 candi kecil yang berdenah dasar persegi, serta 116 berbentuk stupa. 7 candi berbaris pada masing - masing sisi utara serta selatan candi utama, 19 candi berbaris pada sisi timur, dan terakhir 17 candi berbaris di depan candi utama. Sayangnya candi - candi ini masih dalam kondisi hancur dan belum bisa di rekonstruksi.

Pada sudut barisan candi perwara terdapat candi berukuran kecil yang dikelilingi oleh dua barisan umpak yang kemudian di selingi oleh sebuah candi kecil lagi di setiap sudutnya. Pada sisi barat pagar batu yang mengelilingi bangunan utamma, ada sebuah gerbang gapura paduraksa, dengan atap yang dihiasi oleh deretan mahkota kecil. Puncak atap gapura berupa persegi dengan mahkota di bagian paling atas.

Kedua bangunan candi utama berdiri diatas kaki setinggi 60 cm tanpa adanya selasar yang mengelilingi tubuh candi. Untuk menuju tubuh candi terdapat tangga yang dilengkapi dengan pipi tangga dan hiasan kepala naga di pangkal tangga. Terdapat hiasan berupa pahatan bermotif bungan dan sulur - suluran di bingkai pintu dan terdapat kalamakara tanpa rahang bawah di atas pintu.

Pada sisi luar candi utama terdapat relief yang menggambarkan sosok laki - laki dan perempuan yang berdiri dalam ukuran yang mendekati ukuran manusia sesungguhnya. Relief pada candi yang ada di selatan menggambarkan laki - laki dan pada candi bagian utara menggambarkan perempuan.Sisi dalam kedua bangunan utama terbagi menjadi enam ruangan, yaitu tiga ruangan yang terdapat di bawah dan tiga ruangan lain terdapat di lantai dua. Kedua lantai ini dibatasi oleh papan yang sudah tidak terlihat lagi, namun masih bisa di lihat alur bekas tempat memasang lantai tersebut.

Pada ruangan tengah terdapat 3 arca Buddha duduk berderet di atas padadmasana menghadap pintu, akan tetapi Buddha yang berada di tengah sudah raib. Di dinding kiri serta kanan ruangan terdapat relung yang idfungsikan sebagai tempat untuk meletakkan alat penerangan. Relung ini diapit oleh relief Kuwera dan Hariti. Terdapat pintu penghubung ke ruangan samping di kiri dan kanan dekat pintu utama. Susunan kedua ruangan dibawah lainnya, di bangunan utara ataupun bangunan selatan, mirip dengan susunan di ruangan tengah. Pada sisi timur terdapat 3 arca Buddha yang duduk berderet di atas padadmasana yang menghadap ke barat. Arca Buddha yang berada di tengah juga sudah raib.

Plaosan Kidul
Candi Plaosan Lor dan Plaosan Kidul dipisahkan oleh jalan raya. Jika di Plaosan Lor mempunyai dua candi utama yang berdiri megah, di Plaosan Kidul ini candi utamanya dalam kondisi hancur dan masih menyisakan candi perwara saja.
Candi Belahan terletak di Dusun Belahan, Desa Wonosonyo, Kecamatan Gempol, Pasuruan, Jawa Timur. Candi ini merupakan sebuah petirtaan yang memiliki keunikan yaitu adanya dua patung wanita Dewi Sri dan Dewi Laksmi. Patung Dewi Laksmi mengeluarkan air dari tetek (payudaranya) yang kemudian ditampung pada kolam berukuran 6 x 4 meter yang berada di bawah patung tersebut. Dari sinilah kemudian masyarakat selain menyebut Candi Belahan juga menyebutnya dengan Candi Sumber Tetek.

Kedua patung di Candi Belahan ini melambangkan kesuburan serta kemakmuran, kedua patung ini berdiri dan membelakangi dinding yang terbuat dari batu bata yang dihiasi relief yang menggambarkan sosok Dewa Wisnu yang menunggangi garuda setinggi sekitar tiga meter. Air yang keluar dari patung Dewi Laksmi mengalir sepanjang tahun, bahkan di musim kemarau sekalipun. Candi Belahan berada di ketinggian 700 mdpl dan merupakan candi yang belum pernah di pugar. Air yang bersumber dari tetek Dewi Laksmi sangat jernih dan hingga saat ini masih digunakan masyarakat sekitar untuk keperluan sehari - hari.
Arca Siwa yang mengendarai Garuda


Menurut warga sekitar, air dari patung Dewi Laksmi mempunyai khasiat seperti awet muda dan mampu menyembuhkan penyakit. Sosok penunggu kawasan Candi Belahan dipercaya menjaga situs pentirtaan Sumber Tetek ini. Konon, pada masa kolonialisme Belanda banyak patung di Candi Belahan yang diangkut Belanda dan dijadikan koleksi museum Belanda. Meskipun Candi Belahan belum mengalami pemugaran, Candi Belahan atau Petirtaan Sumber Tetek sangat layak dijadikan destinasi wisata. Adanya kedua patung tersebut menambah nilai artistik dan budaya di kawasan ini.

Rabu, 31 Agustus 2016

Candi Surawana terletak di Desa Canggu, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri, atau berjarak 25 km ke arah laut dari Kota Kediri. Candi ini sesungguhnya adalah Wishnubhawanapura yang diperkirakan didirikan pada abad ke 14 untuk memuliakan Bhre Wengker, raja Kerajaan Wengker yang menjadi bagian dari Kerajaan Majapahit. Bhre Wengker ini kemudian meninggal pada tahun 1388 M. Kitab Negarakertagama menceritakan pada tahun 1361, Raja Majapahit Hayam Wuruk bahkan pernah menginap di Candi Suwana.

Candi Surawana memiliki ukuran 8x8 m2. Candi Surawana menggunakan batu andesit dan merupakan candi beraliran Syiwa. Candi ini dalam keadaan hancur dan hanya tersisa kaki candi yang memiliki tinggi 3m yang masih berdiri. Untuk menaiki selasar terdapat tangga yang sempit dan terletak di sisi barat. Dari letak tersebut dapat di simpulkan bahwa Candi Suwana menghadap ke barat.

Seperti Candi Rimbi, kaki candi ini nampak seperti bersusun dua, yaitu berupa tonjolan pelipit yang menonjol keluar. Pada bagian kaki diatas pelipit agak menjorok ke dalam sehingga ukurannya menjadi lebih kecil apabila dibandingkan dengan kaki bagian bawah.

Panel relief Candi Suwana menceritakan berbagai cerita di kaki candi bagian bawah. Sedangkan kaki candi bagian atas dipenuhi panel relief berukuran besar dengan pahatan yang lebih halus dari pada kaki candi bagian bawah.

Pada bagian kaki candi bagian bawah mengisahkan tentang tantri, sedangkan bagian atas mengisahkan tentang Kisah Sri Tanjung, Arjunawiwaha, serta kisah Bubuksah dan Gagak Aking. Kisah - kisah seperti ini biasanya dibangun pada candi - candi dengan tujuan peruwatan, seperti yang ada di Candi Bajangratu serta Candi Tegawangi.

Apabila dilihat dari lingkungannya, candi ini telah tertata rapi dan telah mengalami pemugaran. Namun, hasilnya masih jauh dari kata sempurna karena yang tersisa dari candi ini hanya tinggal bagian kaki candi. Bagian candi yang belum tersusun masih berserakan di sekitar candi.

Peta Candi Surawana
Candi Tegawangi terletak di Desa Tegowangi, Kecamatan Plemahan, Kabupaten Kediri, berjarak 24 Km dari Kota Kediri. Letaknya berada di perumahan pendiduk berjarak 1 km dari jalan raya, tetapi lingkungan candi sudah tertata rapi oleh pemerintah. Candi ini diperkirakan berdiri pada abad ke 14 atas perintah dari Hayam Wuruk. Dibangunnya Candi Tegawangi bertujuan untuk Meruwat atau menghilangkan keburukan dari Bhre Metahun, sepupu Hayam Wuruk. Kat Tegawangi tercatat di Kitab Pararaton yang menyebutkan Bhre Metahun meninggal pada 1310 saka atau 1388 Masehi kemudian didarmakan di Tegawangi.

Candi ini berdenah bujur sangkar dengan menghadap ke arah barat dengan luas 11,20 m serta dengan tinggi sekitar 4,29. Candi ini terbuat dari batu andesit yang ukurannya lebih besar dibandingkan dengan Candi Surawana yang juga terdapat di Kediri. Candi ini dalam keadaan rusak dan hanya tersisa sebagian kecil dari tubuh candi.

Pada pip tangga candi terdapat relief yang menggambarkan pemain genderang. Pada kaki candi terdapat relief dengan motif sulur, bunga serta gana yang tersusun secara berselang seling. Pada dinding candi terdapat relief yang sangat halus pahatannya, yang menceritakan Kidung Sudamala. Relief Kidung Sudamala ini memperkuat dugaan bahwa Candi Tegawangi merupakan candi untuk pengruwatan. Selain di Candi Tegawang, cerita Sudamala juga terdapat di Candi Sukuh.

Pada sudut tenggara halaman terdapat jajaran batu reruntuhan candi yang belum bisa diidentifikasi dan dibangun kembali. Selain itu juga terdapat beberapa arca termasuk arca Parwati.

Peta Candi Tegowangi

Rabu, 24 Agustus 2016

Candi Badhut terletak di Desa Karangbesuki, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Candi ini ditemukan pada tahun 1923 oleh pakar arkeologi. Diperkirakan candi ini dibangun jauh sebelum pemerintahan Airlangga, yaitu masa awal pembangunan candi - candi yang ada di Jawa Timur serta diduga merupakan candi tertua di Jawa Timur.

Sebagian ahli purbakala mengatakan bahwa candi ini dibangun atas perintah dari Raja Kanjuruhan bernama Raja Gajayana. Pada Prasasti Dinoyo yang berangka tahun 682 saka atau 760 masehi yang ditemukan di Desa Merjosari, Malang menyebutkan bahwa pusat dari Kerajaan Kanjuruhan adalah daerah Dinoyo.

Prasasti Dinoyo kini tersimpan di Museum Nasional Jakarta. Tulisan dalam prasasti ini menyebutkan bahwa masa keemasan Kerajaan Kanjuruhan adalah pada masa pemerintahan Raja Dewasimba dan putranya yang bernama Sang Liswa. Keduanya dalam memimpin kerajaan sangat adil dan bijaksana. Konon Raja Sang Liswa merupakan raja yang senang melucu atau dalam bahasa Jawa disebut mbadut, sehingga candi yang Sang Liswa bangun dinamakan Candi Badhut. Walaupun demikian hingga saat ini belum ditemukan bukti adanya hubungan dengan Raja Gajayana.

Candi ini memiliki ciri khas tersendiri dari candi - candi lain, yaitu pahatan kalamakara yang menghiasi pintu candi. Pada candi - candi di Jawa Timur uumnya kalamakara berbentuk utuh dengan rahang bawah, berbeda dengan yang lain, kalamakara pada Candi Badhut tidak memiliki rahang layaknya kalamakara yang ada pada candi - candi di Jawa Tengah. Selain itu tubuhnya yang tambun membuat candi ini lebih mirip dengan candi - candi yang ada di Jawa Tengah. Candi ini dianggap lebih mirip dengan Candi Dieng dalam segi relief yang simetris. Candi Badhut dipercaya sebagai candi beraliran syiwa meskipun hingga saat ini belum ditemukan arca Agastya yang ada di dalam candi.
Candi Badut dan Candi Arjuna (Dieng)

Candi ini terbuat dari batu andesit dengan batur setinggi 2m dan dengan selasar selebar 1m yang mengelilingi tubuh candi. Pada bagian depan batur terdapat pahatan tulisan Jawa yang tidak jelas waktu pembuatannya. Pada sisi barat terdapat tangga untuk masuk ke ruang utama candi. Pada pengapit tangga masih terlihat sulur yang tidak utuh namun masih terlihat polanya yang mengelilingi sesosok yang meniup seruling. Terdapat bilik penampil sebelum memasuki ruangan di tubuh candi, bilik penampil itu sepanjang 1,5m dan terdapat kalamakara di atas pintu candi. Ruangan candi memiliki luas sekitar 5,53m x 3,67m dan terdapat arca lingga yoni yang menunjukkan bahwa daerah tersebut subur. Pada dinding ruangan terdapat relung kecil yang dulu merupakan tempat arca.

Dinding candi terdapat hiasan relief burung berkepala manusia serta peniup seruling. Selain itu pada keempat sisi candi juga terdapat relung yang berhiaskan bunga serta burung berkepala manusia. Pada sisi utara dinding luar terdapat arca Durga Mahisasuramardini yang terlihat rusak. Pada sisi selatan seharusnya terdapat arca Syiwa Guru serta bagian timur terdapat arca Ganesha. Namun keduanya sudah tidak ada ditempatnya.

Pemugaran candi ini dilakukan pada tahun 1925 sampai tahun 1926, namun sebagian sudah hilang atau belum dapat dikembalikan ke tempat asalnya seperti yang terlihat pada atap candi yang hanya pelipit di sepanjang tepi atas dinding yang masih tersisa. Sebelah kiri dan kanan halaman candi terdapat fondasi yang belum dipugar yang merupkan bagian candi yang belum bisa diidentifikasi.

Peta Candi Badut

Selasa, 23 Agustus 2016

Candi Sukuh terletak di lereng Gunung Lawu yaitu di Dusun Sukuh, Desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Candi Sukuh berada pada ketinggian 900 mdpl. Candi ini ditemukan oleh Johnson, seorang Residen Surakarta pada masa pemerintahan Raffles pada tahun 1815. Kemudian pada 1842 candi ini diteliti oleh Van der Vlis. Hasil dari penelitian Van der Vlis yang dimasukkan di dalam buku Van der Vlis yang berjudul Prove Eener Beschrijten op Soekoh en Tjeto. Penelitian tersebut kemudian dilanjutkan oleh Hoepermans pada 1864 sampai 1867 dan kemudian dibukukan dalam bukunya yang berjudul Hindoe Oudheiden van Java. Pada 1889, Verbeek melakukan inventarisasi Candi Sukuh, yang kemudian diteruskan dengan penelitian oleh Knebel dan WF.STutterheim pada 1910.

Candi Sukuh bercorak Hindu dan diperkirakan didirikan pada akhir abad ke-15 M. Bentuk arsitektur Candi Sukuh sangat berbeda dengan candi - candi lain, candi ini dinilai menyimpang dari ketentuan pembangunan candi bangunan suci Hindu, Wastu Widya. Menurut aturan pembuatan candi, alas dari candi harus berdenah dasar bujur sangkar dengan tempat yang dianggap paling suci berada pada tengah ataupun tubuh candi. Perbedaan yang mencolok ini dikira pengaruh dari memudarnya pengaruh Hindu di Jawa. Memudarnya ajaran agama Hindu ini kemudian dikaitkan dengan berkembangnya kembali unsur budaya setempat yaitu Megalitikum. Unsur dari zaman Megalitikum sangat terlihat sekali di bangunan Candi Sukuh yaitu adanya punden berundak yang menjadi ciri khas bangunan masa pra-Hindu. Ciri lain dari bangunan pra-Hindu adalah pada sebuah bangunan area paling suci berada pada bagian tertinggi dan paling belakang.

Menurut para ahli, keberadaan Candi Sukuh diperkirakan merupakan tempat pengruwatan yaitu melepaskan kekuatan buruk yng mempengaruhi kehidupn seseorang akibat dari ciri tertentu yang dimilikinya. Perkiraan tersebut didasarkan pada adanya relief yang menceritakan cerita pengruwatan seperti Sudamala dan Garudheya, serta adanya arca kura - kura dan garuda yang terdapat di Candi Sukuh.

Candi Sukuh memiliki luas area 5.500 m2 dengan tiga teras bersusun. Sekilas Candi Sukuh mirip dengan Candi Cetho yang juga mirip  dengan bangunan Suku Maya di Mexico. Candi ini menghadap ke Barat, berbeda dengan candi - candi pada umumnya yang menghadap ke timur atau menghdap ke terbitnya matahari. Ketiga teras dibelah oleh tangga yang menghubungkan dasar candi dengan atap candi.

Gapura pada teras pertama terdapat gapura yang dilengkapi atap atau yang disebut gapura paduraksa, pada ambang pintu gapura terdapat pahatan berupa kala berjanggut panjang. Pada dinding sayap utara candi terdapat relief yang menggambarkan seseorang yang berlari sambil menggigit ular yang sedang melingkar.Menurut K.C. Cruq, relief tersebut menunjukkan candrasengkala yang dibaca gapura buta anahut buntut artinya gapura raksasa menggigit ekor ular. Candrasengkala tersebut diartikan sebagai tahun 1359 saka atau 1437 masehi, yang dipercaya sebagai tahun terselesaikannya Candi Sukuh. Diatas sengkalan tersebut terdapat relief yang menggambarkan seekor  makhluk mirip manusia yang sedang melayang dan seekor binatang melata.

Pada sayap sebelah selatan candi terdapat pahatan tokoh yang ditelan raksasa. Pahatan ini juga diangga sengkalan yang berbunyi gapuro batu mangan wong, yang berarti raksasa memakan manusia. Sengkalan tersebut diartikan 1359 saka atau 1437 masehi sama dengan sengkalan yang ada di sayap utara. Pada dinding luar luar gapura terdapat relief sepasang burung yang sedang hinggap di atas pohon, dibawahnya terdapat seekor anjing dan garuda dengan sayap terbentang yang menggenggam ular. Pada halaman depan candi, terdapat aneka bentuk sekumpulan batu yang diantaranya ada yang mirip lingga dan tempayan.

Ruang dalam gapura candi, terdapat lantai yang berpahatkan phallus dan vagina yang hampir bersentuhan satu sama lain. Relief tersebut menggambarkan lingga dan yoni yang berarti daerah tersebut subur. Kini relief tersebut diberi pagar agar tidak dilalui pengunjung. Untuk naik ke teras ertama, pengunjung harus melewati sisi gapura. Ada yang meyakini bahwa relief yang ada di lantai tersebut merupakan suwuk atau mantra obat untuk ngruwat atau menghilangkan kotoran yang ada di hati. Oleh sebab itulah relief tersebut ditempatkan di gapura pertama agar yang masuk ke candi tersebut melangkahinya, dengan begitu dianggap bersih dari kotoran di hati.

Pada ambang pintu yang menghadap ke pelataran terdapat hiasan kalamakara dalam kondisi rusak. Pad sisi sayap utara terdapat semacam arca pda posisi jongkok dan sedang memegang senjata. Pada pelataran teras pertama berukuran tidak terlalu luas yang terbelah oleh tangga yang menghubungkan ke teras kedua. Pada sebelah utara pelataran teras pertama terlihat tiga panel yang diletakkan berjajar. Panel pertama menggambarkan seorang berkuda yang diiringi oleh pasukan yang bersenjatakan tombak. Disampingnya terdapat seorang yang memayunginya. Panel kedua menggambarkan sepasang lembu dan erakhir panel ketiga memuat gambar seorang lelaku yang sedang menunggang seekor gajah. Pada sisi selatan candi terdapat sekumpulan batu dengan berbagai bentuk dan beberapa lingga.

Pada sisi timur ataupun bagian belakang pelataran ters kedua terdapat gerbang berupa bentar yang mengapit tangga menuju ke pelatarn teras kedua. Disini tidak terdapat relief ataupun hiasan di dinding gapura.

Pada sisi belakang pelataran teras kedua terdapat gapura bentar dan tangga yang menghubungkan ke teras ke tiga. Gapura tersebut dalam keadaan rusak. Bagian depan gapura terdapat sepasang arca dwarapala yang dalam keadaan aus. Pahatan kedua arca tersebut bersifat kasar dan kaku bahkan terkesan lucu. Pada teras ke tiga atau yang tertinggi adalah tempat paling suci di Candi Sukuh. Terdapat dua pelataran yaitu di selatan dan utara yang dibelah oleh jalan menuju ke bagian paling belakang candi. Di pelataran teras ke tiga ini terdapat banyak sekali arca - arca. Pada bagian depan sisi utara terdapat 3 arca manusia bersayap dengan kepala garuda yang berdiri dengan membentangkan sayap. Hanya ada satu yang utuh dan dua lainnya tanpa kepala. Pada salah satu arca terdapat prasasti yang berangka tahun 1363 saka atau 1441 M dan 1364 saka atau 1442. Pada sisi utara terdapat panel berjajar, masing - masing memiliki relief gajah dan sapi.

Tepat di depan bangunan agak ke selatan terdapat tiang batu berpahatkan cuplikan kisah Garudheya. Pada sudut kiri atas terdapat prasasti sengkala dengan huruf dan bahasa kawi yang memiliki bunyi Padamel rikang buku tirta sunya yang berarti 1361 saka. Garudheya merupakan nama dari seekor gruda, putra angkat dari Dewi Winata. Sang Dewi tersebut memiliki saudara yang menjadi madunya yaitu Dewi Kadru. Dewi Kadru mempunyai anak yang memiliki wujud ular. Dalam sebuah pertaruhan antara Dewi Winata dan Dewi Kadru, Dewi winata kalah dan harus menjadi budak Dewi Kadru bersama anak - anaknya. Garudheya mendapatkan Tirta Amerta yang menjadi syarat pembebasan ibunya dari perbudakan Dewi Kadru beserta anak - anaknya. Relief ini juga terdapat di Candi Kidal di Jawa Timur yang dibangun oleh Anusapati untuk ibunya Ken Dedes.

Pada bagian selatan pelataran teras tingkat ke tiga terdapat panel batu yang ditata secara berjajar. Panel tersebut memuat pahatan cerita yang diambil dari Kidung Sudamala. Kidung Sudamala menceritakan tentang Sadhewa, yang merupakan salah satu tokoh kembar di ksatria Pandawa, yang berhasil meruwat di dalam diri Dewi Uma, istri dari Bathara Guru. Dewi Uma dikutuk oleh Bathara Guru karena tidak bisa menahan amarahnya ketika suaminya meminta dilayani pada waktu yang menurutnya kurang tepat. Karena kemarahannya, Dewi Uma kemudian di kutuk menjadi raksasa bernama Bathari Durga. Kemudian Bathari Durga menyamar menjadi Dewi Kunthi, ibu dari Pandawa. Kemudian meminta Sadewa untuk meruwat dirinya. Cerita ini tertuang dalam kelima panel relief di Candi Sukuh

Pada relief pertama menceritakan Bathari Durga yang menyamar menjadi Dewi Kunti mendatangi Sadewa dan meminta untuk dirinya di ruwat. Relief kedua menceritakan saat Bima kakak dari Sadewa berperang melawan raksasa. Tangan sebelah kanan mengangkat raksasa dan sebelah kiri menancapkan kuku Pancak (senjata Bima) ke perut raksasa tersebut.

Pada relief ketiga menceritakan tentang Sadewa yang menolak permintaan Bathari Durga untuk meruwatnya dan diikatkan Sadewa ke sebuah pohon. Bathari Durga mengancam menggunakan sebilah pedang. Pada relief ke empat menceritakan tentang pernikahan Sadewa dengan Dewi Pradhapa yang kemudian dianugerahkan kepadanya setelah berhasil meruwat Bathari Durga. Relief kelima atau yang terakhir menceritakan tentang Sadewa dan pengiringnya menghadap ke Dewi Uma yang telah di ruwat.

Pada pelataran selatan terdapat candi kecil dan didalamnya terdapat sebuah arca. Menurut cerita masyarakat sekitar, candi tersebut merupakan kediaman dari Kyai Sukuh penguasa kompleks Candi Sukuh. Tepat didepan candi terdapat arca kura - kura yang berjumlah tiga dan berukuran besar. Kura  - kura menggambarkan dunia bawah, yaitu dasar Gunung Mahameru.

Bangunan utama candi ini berbentuk trapesium yang berdenah 15 m2 serta dengan tinggi mencapai 6 m. Pada sisi barat terdapat tangga sempit dan curam untuk menuju ke atap. Diduga bangunan yang ada diatas ini merupakan batur atau kaki candi dan candinya sendiri diperkirakan terbuat dari kayu. Perkiraan tersebut didasarkan pada adanya beberapa umpak di pelataran atap. Di tengah atap terdapat arca lingga. Konon yoni (pasangan dari lingga) di bagin atap candi ini disimpan di Museum Nasional.

Upaya pelestarian candi ini telah dilakukan sejak jamn penjajahan Belanda. Pemugaran pertama kali dilakukan Dinas Purbakala pada 1917.  Selanjutnya pada akhir 1970-an dilakukan lagi pemugaran oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan

Senin, 22 Agustus 2016

Candi Rimbi trletak di kaki Gunung Arjuno, di tepi jalan raya sebelah tenggara kecamatan Mojowarno, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Candi ini berada di area persawahan.Reruntuhan candi ditemukan oleh Alfred Wallace pada akhir abad ke 19 ketika perjalanannya menuju ke Wonosalam dengan tujuan mengumpulkan contoh - contoh tumbuhan.

Candi ini merupakan candi yang beraliran Syiwa, terlihat dariadanya relief yang berisi ajaran Tantri yang ada pada kaki candi. Diperkirakan candi ini didirikan pada abad ke 14, yang merupakan monumen penghormatan kepada Tribhuwana Tunggadewi Jayawisnuwardhani yang menjadi raja Majapahit pada 1329-1350 berdasarkan pada penemuan dua buah arca Dewi Parwati, yang diduga sebagai cerminan Dewi Tribhuwana Tunggadewi. Kedua arca tersebut kini disimpan di dalam Museum Nasional dan Museum Trowulan.

Candi ini berbahan batu andesit, dengan atapnya yang telah hancur seolah teriris vertikal, namun berbeda dengan bagian kaki yang masih terlihat utuh. Pada bagian kaki tersusun dua dengan penjepit yang menonjol keluar pada kaki candi. Bergeser ke atas juga terdapat penjepit yang menjorok keluar. Tubuh candi berukuran lebih kecil dari pada bagian kaki candi, sehingga bila dilihat sekilas seperti selasar yang mengelilingi candi. Namun saat ini, sebagaimana kondisi atap, tangga candi juga sudah runtuh dan hanya tersisa selasar pada bagian selatan candi.

Pada kaki candi bagian atas atupun dinding luar tubuh candi tidak nampak adanya relief. Namun, pada daerah sekitar kaki candi bagian bawah terdapat panel relief yang bergambar binatang - binatang. Relief itu masih utuh dan untuk membacanya menggunakan teknik prasiwa (berlawanan jrum jam) yang dimulai dari sisi utara.
Pada bagian tepi halaman, terdapat reruntuhan candi yang disusun memagari Candi Rimbi. Pada sisi timur candi, terdapat tiga arca yang tidak utuh berupa potongan dengan ukuran sangat besar. Tinggi potongan arca tersebut adalah 125 cm. Yang berada di tengah ke tiga arca tersebut adalah kepala arca raksasa, sedangkan yang berada di kiri serta kanannya merupakan arca yang nampak seperti bagian dada sebatas leher. 
Candi ini terletak di Desa Candi Renggo, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang dengan jarak kurang lebih sekitar 9 km dari kota Malang ke arah Surabaya. Nama lain candi ini adalah Candi Cungkup atau Candi Menara, nama yang menunjukkan bahwa Candi Singasari merupakan candi tertinggi yang ada di sekitarnya. Akan tetapi di sekitar Kecamatan Singasari hanya Candi Singari lah yang masih tersisa dan yang lein telah lenyap.

Para ahli purbakala memperkirakan bahwa Candi Singasari dibangun pada 1300 M, sebagai penghormatan kepada Raja Kertanegara. Terdapat dua candi yang digunakan untuk penghormatan yaitu Candi Jawi dan Candi Singasari.Candi Singasari merupakan candi beraliran syiwa. Hal ini terlihat pada beberapa arca Syiwa yang ada di halaman candi.

Bangunan candi terletak di tengah halaman. Candi ini berdiri diatas batur kaki setinggi 1,5 m, tanpa adanya hiasan atau relief yang terdapat di kaki candi. Tangga menuju ke selasar pada sisi bagian samping kiri dan kanan tidak terdapat pipi tangga. Candi ini berdasarkan arah tangga menghadap ke selatan, dengan kalamakara yang sangat sederhana yang berada di atas pintu candi. Bilik penampil menonjolke luar yang menghubungkan dengan ruangan di dalam candi. Adanya beberapa pahatan yang sangat sederhana menimbulkan dugaan bahwa candi ini merupakan candi yang belum terselesaikan pembangunannya.

Pada sisi kiri dan kanan pintu, terdapat relung yang digunakan untuk menyimpan arca. Ambang relung terdapat hiasan kalamakara. Pada sisi lain juga terdapat relung - relung yang digunakan untukmenyimpan candi. Di dalam ruangan utama terdapat yoni yang telah rusak bagian atasnya. Pada bagian kaki yoni tidak terdapat pahatan apapun.

Apabila dilihat sepintas, bangunan candi ini mirip memiliki tingkat dua, dengan bagian bawah yang terdapat pintu candi dan bagian atas juga terdapat pintu candi. Pintu pada bagian atas candi merupakan sebuah relung yang biasanya digunakan untuk menyimpan arca, namun arca - arca yang ada pada tingkat kedua dalam keadaan kosong. Pada atas relung terdapat kala dengan pahatan lebih rumit dibandingkan dengan kalamakara yang ada di tingkat bawah. Pada bagian atap candi terdapat meru bersusun dimana semakin ke atas akan semakin mengecil. Sebagian sisi puncak terlihat tidak utuh.

Pemugaran Candi Singosari dilakukan pada tahun 1930 oleh pemerintah Belanda, yang terlihat pada pahatan di kaki candi. Pemugaran tersebut belum menyeluruh, terlihat masih berserakannya bagin - bagian candi di sekitar Candi Singosari. Pada haaman candi terdapat beberapa arca yang sebagian dalam keadaan rusak, arca tersebut diantaranya arca Syiwa dalam berbagai posisi, Durga serta Lembu Nandini.

Berjarak 300 m ke arah barat dari candi Singasari, terdapat dua arca dwarapala, sosok penjaga gerbang yang berukuran sangat besar. Konon berat dari masing - masing arca dwarapala ini adalah 40 ton, dengan tinggi mencapai 3,7 m, dan lingkar tubuh mencapai 3,8 m. Letak kedua arca tersebut terpisah dengan jarak sekitar 20 m.

Menurut Dwi Cahyono seorang arkeolog Universitas Negeri Malang (UM), kedua arca dwarapala tersebut dulu sama - sama menghadap ke arah timur menghadap Candi Singasari, namun arca di sisi selatan bergeser menghadap ke timur laut. Pada 1980-an arca yang berada pada sisi selatan masih terkubur didalam tanah sampai sebatas dada. Pada belakang arca bagian selatan terdapat reruntuhan batu yang mirip dengan tembok. Diduga kedua arca ini merupakan penjaga gerbang pintu masuk ke istana Raja Kertanegara yang terletak di sebelah barat kedua patung tersebut.

Sabtu, 20 Agustus 2016

Candi Wangkal terletak di Desa Wangkal, Kecamatan Krembung, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Candi ini sudah terdaftar dalam cagar budaya Sidoarjo. Candi ini lebih mirip pecahan batu dan berbeda pada candi - candi pada umumnya. Bentuk candi ini sangat kecil dan berada pada daerah persawahan. Candi ini tersusun dari dari batu besar yang berwarna hitam, dan pada sisi batu tersebut terdapat batukecil yang berwarna merah, dan pada bagian bawah terdapat tumpukan batu bata yang masi tertimbun di dalam tanah.

Candi Wangkal ditemukan oleh seorang penggali tanah yang digunakan untuk batu bata. Ketika istirahat di tempat kerjanya ia tertidur. Seorang tersebut bernama Bapak Manu (Pencari Batu Bata) bermimpi ada seseorang yang menyuruhnya bangun dari tidur dan bergegas menggali tanah sampai menemukan sebuah benda. Dilakukanlah mimpi itu dan ketika menggali tanah sampai rata, terlihatlah batu besar berbentuk persegi panjang. Pada bagian samping batu tersebut ada batu bulat yang berdampingan serta saling menjaga. Konon di dalam batu - batu tersebut ditemukan sebuah keris yang sekarang disimpan di Museum Nasional.

Candi Wangal memiliki fungsi sebagai tugu yang berbentuk persegi atau prisma. Candi Wangkal memiliki ukuran panjang 1,5 meter serta luas lahn 12 meter dan belum diketahui secara pasti berapa tingginya karena sebagian masih tertimbun di dalam tanah dan hanya bagian atas yang terlihat. Informasi yang didapat pada candi ini sangat minim, namun candi ini memiliki lubang pintu yang diyakini berda di dalam tanah.

Kamis, 18 Agustus 2016

Candi Tebing Gunung Kawi terletak di Banjar Paneka, Desa Tampaksiring, Kecamatan Tampaksiring, Gianyar, Bali. Candi ini dibangun pada abad ke 11 Masehi pada masa pemerintahan dinasti Udayana (Warmadewa). Candi ini diperkirakan mulai dibangun pada masa kepemimpinan Raja Sri Haji Paduka Dharmawangsa  Marakata Pangkaja Stanattunggadewa (944 - 948 saka atau 1025 - 1049 M) dan berakhir pada kepemimpinan Raja Anak Wungsu (971 - 999 saka / 1049-1080 M).

Prasasti Tengkulak yang menyebutkan angka 945 saka atau 1023 masehi menyebutkan bahwa di tepi Sungai Pakerisan terdapat tempat pertapaan atau kantyangan yang bernama Amarawati. Para ahli arkeolog meyakini bahwa Amarawati adalah sebutan untuk Candi Tebing Gunung Kawi. Sepuluh Candi Gunung Kawi terletak pada tiga titik yaitu lima candi berada di sisi timur Sungai Tukad Pakerisan, dan sisanya tersebar di dua titik di sebelah barat sungai. Lima candi yang berada pada sisi timur Sungai Tukad dianggap sebagai bagian utama dari Candi Tebing Gunung Kawi.

Pada bagian utara dari sisi barat Sungai Tukad Pakerisan, ada emat candi yang berderet dari utara sampai ke selatan serta menghadap ke arah Sungai Tukad Pakerisan. Kemudian terdapat satu candi yang ada di sisi selatan, yang berjarak 200 meter dari candi sebelah utara. Menurut sejarah, Candi Tebing Gunung Kawi merupakan tempat pemujaan bagi Raja Udayana yang dibangun oleh anak keduanya Raja Marakarta. Anak pertamnya menjadi raja kerajaan Kediri menggantikan kakeknya Mpu Sendok. Raja Udayana memiliki tiga anak yaitu Airlangga, Marakarta dan Anak Wungsu.

Dari ke sepuluh candi diperkirakan candi yang berada pada sisi utara sungai dari lima candi di sisi timur sungai merupakan candi tertua. Hal ini dijelaskan dari tulisan Haji Lumah Ing Jalu dari aksara kwadrat pada gerbang candi. Tulisan ini memiliki arti "Sang raja dimakamkan di jalu (Sungai Tukad Pakerisan)" dari tulisan inilah diketahui bahwa candi ini merupakan tempat pemujaan arwah dari Raja Udayana. Keempat candi lain diperkirakan merupakan candi untuk permaisuri serta anak - anak dari Raja Udayana.

Menurut arkeolog Dr. R. Goris, ke empat candi yang berada pada sisi barat sungai merupakan kuil (pedharman) yang diperuntukkan pada keempat selir dari Raja Udayana. Satu candi yang berada di sebelah selatan sungai diduga diperuntukkan pejabat pejabat kerajaan setingkat menteri atau penasehat raja. Menurut beberapa referensi, keberadaan Candi Tebing Gunung Kawi dikaitkan dengan sosok Mpu Kuturan. Mpu Kuturan merupakan seorang utusan Raja AIrlangga untuk Raja Anak Wungsu. Pada perkembangannya Mpu Kuturan dijadikan penasehat raja dan memiliki peran penting pada Kerajaan Bedahulu. Seluruh komplek Candi Tebing Gunung Kawi difungsikan sebagai pura serta sebagai sarana peribadatan oleh keluarga Raja Anak Wungsu. Yang menarik adalah candi Hindu ini terdapat ceruk - ceruk yang dianggap sebagai tempat meditasi umat Buddha. Ceruk tersebut dipahat pada dinding tebing seperti candi Hindu di sekitarnya. Hal inimenunjukkan adanya toleransi umat beragama pada kerajaan Bedahulu.

Rabu, 17 Agustus 2016

Candi Sewu berada di utara kompleks Candi Prambanan yang berjarak 800 meter. Candi Sewu merupakan candi dengan corak Candi Buddha dan menjadi komplek candi Buddha terbesar ke 2 setelah Candi Borobudur dan diperkirakan candi ini lebih tua daripada Candi Prambanan. Penamaan Candi Sewu berasal dari bahasa Jawa, kata sewu berarti seribu, meskipun jumlah candi sebenarnya hanya 249 candi saja. Diperkirakan nama asli dari Candi Sewu adalah Manjusrigrha.

Candi Sewu menjadi salah satu candi yang berada di komplek Candi Prambanan serta menjadi komlek candi Buddha terbesar di sekitar komplek Candi Prambanan. Candi Sewu berbentuk persegi panjang dengan panjang 185 meter dan lebar 165. Terdapat empat pintu masuk sesuai arah mata angin, namun bila dilihat dari tata letak candi maka Candi Sewu menghadap ke sisi timur. Pada pintu - pintu candi terdapat sepasang patung Dwarapala yang menjaga candi.


Candi yang ada di Candi Sewu sebanyak 249 yang diatur dengan pola Mandala yang merupakan ekspresi pandangan alam semesta seperti yang ada dalam Mayapada. Terdapat 240 candi perwara dengan desain sama serta diatur menjadi empat baris persegi panjang. Candi utama Candi Sewu memiliki diameter 29 meter dengan tinggi bangunan 30 meter. Terdapat lima kamar / ruangan di candi utama Candi Sewu, ssatu Garbhagriha (ruang yang dikeramatkan) serta empat kamar lain sesuai empat penjuru mata angin. Pada empat penjuru mata angin di bagian pintu struktur bangunan menjorok ke luar dengan masing - masing tangga.

Candi ini memang tidak sepopuler Candi Prambanan karena keberadaan Candi Prambanan yang tidak diketahui pengunjung. Walaupun begitu, bagi pecinta wisata candi, Candi Sewu tetap menjadi daya tarik tersendiri.
Candi Wringin Lawang terletak di Dukuh Wringin Lawang, Desa Jati Pasar, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. Candi atau Gapura Wringin Lawang adalah bangunan kuno Gapura Belah tanpa atap atau disebut tipe Candi Bentar. Gapura ini diperkirakan merupakan gerbang masuk ke Kerajaan Majapahit yang disusun dari batu bata merah yang pada perkembangannya gerbang ini kemudian diduplikat provinsi Jawa Timur sebagai gerbang masuk.

Kata wringin lawang diambil dari bentuk pintu (lawang) dan di dekat bangunan tersebut terdapat pohon beringin yang mengapit Gapura Wringin Lawang. Bahan Candi Wringin Lawang terbuat dari batu bata merah tanpa adanya hiasan. Bentuk dari bangunan ini adalah candi yang terbelah menjadi dua dan kemudian di renggangkan dan bagian atap candi tidak tertutup. Bentuk seperti ini disebut "Candi Bentar" atau "Gapura Gapit" atau bisa juga disebut "Gapura Belah".

Tinggi dari bangunan ini adalah 13,70 meter dan dengan ukuran 13x11,5 meter dan dengan tinggi 15,5 meter. Beberapa bagian tertentu telah dikonsolidasi atau tambal sulam dengan batu bata yang serupa. Bangunan ini berdiri di tanah seluas 616 m2. Orang - orang menyebut Gerbang Wringin Lawang adalah gapura masuk ke Kerajaan Majapahit yang ada di sebelah utara Candi Wringin Lawang. Jadi bisa disimpulkan bahwa ambang candi ini menghadap ke utara dan selatan. Sedangkan arah hadap Candi Wringin Lawang menghadap ke timur dan barat. Bangunan ini belum bisa disebut sebagai gapura utama ke Majapahit, sebab pintu gerbang istana Kerajaan Majapahit berpagar besi serta kereta dapat masuk ke dalamnya.

Video Candi Wringin Lawang

Selasa, 16 Agustus 2016

Candi Kadisoka terletak di Desa Purwomartani, Kecamatan Kalasan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Candi ini belum utuh dalam artian yang ditemukan hanya bagian kaki candi sedankan bagian tubuh serta atap candi masih tertimbun tanah. Candi ini berukuran denah dasar 6,49m x 6,9m yang terletak di sebidang tanah 200 m2. Candi ini berada di area persawahan dengan Sungai Kuning yang berjarak 100m dari sisi timur Candi Kadisoka. Letak Candi Kadisoka tidak jauh dari Candi Sambisari yaitu sekitar 500 m serta terletak di ketinggian 150 m.

Candi Kadisoka diperkirakan masih sejaman dengan Candi Sambisari yaitu dibangun pada abad ke - 8. Menurut Veronique DeGroot, Candi Kadisoka tidak terselesaikan, ia menulis bahwa hanya terdapat lima lapisan dasar candi yang diselesaikan. Akibat adanya letusan Gunung Merapi, Candi Kdisoka terkubur oleh material vulkanik yang dibawa Sungai Kuning pada dua waktu yang berbeda yang diperkirakan berselisih satu abad. Candi ini ditemukan terkubur sedalam 3m di dalam tanah. Candi ini ditemukan oleh penambang pasir pada 7 Desember 2000 dan kemudian dilaporkan ke Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala. Penggalian candi di mulai pada Februari 2001 yang menghasilkan ditemukannya keseluruhan pondasi timur candi serta lubang candi. Di dalam lubang tersebut, ekskavator selaku ahli yang meneliti candi menemukan beberapa batu mulia, emas, serta sebuah kota yang berisi plakat emas berukirkan bunga teratai.