Tampilkan postingan dengan label Budaya Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budaya Indonesia. Tampilkan semua postingan

Jumat, 16 September 2016

Artikel ini akan mengisahkan tentang budaya Rampogan atau bisa dibilang gladiator Jawa. Dalam tradisi Jawa kuno, terdapat suatu tradisi yang bernama Rampogan Macan atau bisa juga disebut Rampokan. Kata Rampog dalam permainan ini dapat diartikan sebagai rayahan atau rebutan dalam bahasa Indonesia dimana ratusan orang membunuh satu harimau dengan tombak dengan cara rayahan. Zaman dahulu, orang Jawa masih menyamakan istilah dari hewan macan dan harimau walaupun sebenarnya berbeda.

Awal diselenggarakannya tradisi ini belum diketahui secara pasti dan diperkirakan ada ketika zaman Hindu Buddha. Namun secara pasti, tradisi ini sudah dilakukan pada abad ke 18 sampai 19. Tradisi ini pada awalnya hanya dilakukan oleh Kesultanan Yogyakarta dan Kesunanan Surakarta dan hanya diselenggarakan oleh para ningrat keraton. Di Kesunanan Yogyakarta tradisi Rampogan sudah dimulai sejak zaman Amangkurat II berkuasa. Acara ini dilakukan di alun - alun utara untuk menyambut tamu agung. Tamu agung ini adalah para pembesar dari Belanda seperti Gubernur Jendral. Pada tradisi Rampogan, pada sesi awal adalah mengadu macan dengan banteng.

Paku Buwono X sangat menyukai acara Rampogan Macan ini. Hewan - hewan dalam tradisi Rampogan memang sudah dipersiapkan dan dipelihara di dalam kandang di sudut alun - alun. Hewan ini adalah hasil tangkapan warga yang akan dipergunakan dalam acara Rampogan.

Acara Rmpogan dimulai pada pagi hari dan puncak acara berupa pertarungan macan dan banteng pada siang hari. Setelah para pembesar dari Belanda datang dan berkumpul, para prajurit bersiap dengan formasi mengelilingi arena pertarungan di alun - alun. Para prajurit ini berbaris dalam 4 hingga 5 lapis barisan secara rapat sedangkan para ningrat kasunanan dan para pembesar Belanda melihat dari panggung yang dinamakan pagelaran. Sultan, Sunan dan pemesar dari Belanda duduk bedampingan diatas panggung sedangkan rakyat jelata menonton dengan berdesak - desakan bahkan tidak sedikit yang bahkan naik ke pohon agar dapat dengan leluasa melihat acara Rampogan ini.

Setelah semua siap, kandang macan akan di pindah ke tengah arena serta seorang abdi dalem yang pemberani berjoget dan menaiki kandang tersebut serta membukanya. Terkadang tidak jarang pula ketika kandang dibuka macan tersebut langsung mengamuk, namun terkadang malah malas - malasan dan engan keluar dari kandang. Oleh karena itu, biasanya prajurit kerajaan menakut - nakuti macan tersebut dengan api, menusuk dengan tombak serta cara - cara lain agar macan tersebut mengamuk. Begitu pula dangan banteng, terkadang banteng akan disiram dengan cairan cabe sehingga banteng tersebut merasakan panas pada permukaan kulitnya dan mengamuk.

Banteng yang gerakannya tak segesit macan malah biasanya yang memenangkan pertandingan. Hal ini disebabkan karena badannya yang lebih besar dan ujung tanduknya dikerik terlebih dahulu sehingga sangat runcing. Namun tak jarang pula macan memenangkan pertandingan melawan banteng walupun pada akhirnya macan tersebut juga akan mati. Macan yang hidup akan dibunuh beramai - ramai oleh para prajurit dengan cara ditombaki. Macan yang berlari kesana kemari dalam arena akan terus ditombaki hingga merasa kelelahan dan kehabisan darah kemudian mati. Walaupun begitu, tak jarang juga macan dapat menembus brikade para prajurit. Macan tersebut berlarian ke arah penonton sehingga membuat para penonton lari tunggang langgang menghindari macan tersebut. Para prajurit akan terus mengejar macan tersebut hingga dapat dan biasanya pasti akan mati di tangan para prajurit. Inilah puncak dari acara Rampogan dimana terdapat simbolisasi dalam acara ini.

Simbolisasi memang sangat akrab bagi orang Jawa. Macan yang mati dengan luka dari hujaman tombak dilambangkan seperti dalam tokoh pewayangan Abimanyu saat menjadi Senapati saat Perang Baratayuda Jayabinangun, ketika dikeroyok oleh Kurawa dan pada akhirnya gugur dengan luka parah. Acara Rampogan kental akan unsur magis. Acara ini mempresentasikan Belanda sebagai macan dan banteng sebaga pribumi. Oleh karena para pribumi ditundukkan Belanda, maka para pribumi dengan emosi yang tinggi melampiaskan dalam acara Rampogan dengan harapan banteng akan menjadi pemenang dan macan akan ditumpas bersama - sama.

Pada perkembangannya, acara ini kemudian dilakukan di alun - alun kadipaten oleh para bupati setempat. Rampogan di Jawa Timur nampaknya lebih menggambarkan pembantaian terhadap macan daripada pertarungan banteng dan macan. Tercatat di kota Blitar adalah yang paling sering mengadakan acara Rampogan. Acara Rampogan ini biasanya diselenggarakan pada Hari Raya Idul Fitri atau orang Jawa menyebutnya Bakda.

Kandang macan dibuat sangat rumit dalam hal pembuatan dan cara membukanya. Kandang ini terbuat dari pohon aren dan ketika di letakkan di tengah alun - alun terdapat sebuah tali yang apabila ditarik maka kandang tersebut akan hancur berantakan. Namun sebelumnya terdapat kunci yang kemudian ditarik oleh kepala desa yang disebut Gandek. Ia beraksi layaknya abdi dalem di acara Rampogan ala Kraton.

Puncak acara Rampogan di kadipaten sama dengan di Kraton, namun uniknya para prajurit di tingkat kadipaten adalah orang - orang yang kurnag terlatih sehingga tak jarang banyak dari mereka lari ketakutan ketika berhadapan dengan macan. Ada juga yang mengedapankan alasan magis dalam tombak mereka. Acara Rampogan di kadipaten lebih bermakna sebagai ruwatan untuk mengusir roh jahat dimana macan dilambangkn sebagai roh jahat yang mati dan hilang diusir beramai - ramai lewat pembantaian.

Acara ini kemudian tidak dilakukan lagi karena dua alasan. Pertama karena populasi harimau danmacan Jawa yang semakin menyusut tajam. Keuda karena adanya larangan dari pemerintah Belanda. Tradisi Rampogan hanya bisa di lihat di pewayangan. pada periode 1980an, harimau Jawa sudah dinyatakan punah dengan habitat terakhir di Taman Meru Beiti di Jember pada 1996. Walaupun demikian, banyak warga yang mengaku melihat harimau di hutan - hutan gunung Jawa. Nampaknya masyarakat tersebut menganggap saudara harimau Jawa (Panthera tigris sondaica) yaitu macan, seperti macan kumbang atau tutul (Panthera pardus melas) yang juga sangat jarang terlihat.

Kamis, 21 Juli 2016

Pada masa Hindu Budha pembuatan keris sangat dirahasiakan dan tidak sembarang orang bisa melihat proses pembuatan keris . Besalen atau pande besi sekarang ini sangat terbuka untuk siapa saja yang mau melihat pembuatan keris dari bongkahan besi hingga menjadi sebilah keris. Namun ada hal dari pembuatan keris yang tidak berubah yaitu pada tata cara pembuatan keris yang melalui perhitungan yang rumit. Misalnya sebelum memulai pembuatan keris dengan melakukan ritual puasa dan berdoa kepada tuhan.

Pembuatan keris membutuhkan bahan - bahan sebagai berikut, tempat besi untuk besi keris lurus yang memiliki berat sekitar 12 kilogram, sedangkan untuk tempat keris berlekuk memiliki berat 18 kilogram, baja seberat 600 gram dan terakhir bahan pamor (nikel) sekitar 350 gram. Pada zaman dahulu bahan pamor adalah sebuah meteor namun semaikin sulitnya mendapatkan meteor sekarang diganti dengan nikel.

Proses awal pembuatan keris adalah dengan menyatukan pamor dengan besi dengan cara menjepit bahan pamor menggunakan dua besi kemudian dilakuan penempaan sehingga terjadi lapisan atau lipatan pada besi dan pamor. Untuk mendapatkan keris yang berkualitas minimal terdapat 128 lipatan. Untuk mendapatkan kualitas yang bagus pada keris setidaknya diperlukan minimal 2.000 lapisan. Semakin banyak lipatan dalam sebuah keris maka dalam pembuatannya pun semakin rumit dan menghabiskan waktu lebih lama. Keris dibuat untuk mendapatkan kekuatan dan keindahan yang khas dengan menggunakan bahan dan material terpilih dari logam seperti besi, baja dan pamor.


Pamor merupakan logam campuran keris yang terbuat dari nikel bahkan pada zaman dahulu menggunakan meteorit. Namun kualitas sebuah keris bukan hanya dapat dilihat dari bahan keris namun juga proses pembuatannya. Proses pembuatan keris pada dasarnya adalah pembakaran, penempaan dan pelipatan. Selama proses pembuatan keris, di besalenpun kelihatan sangat sibuk.

Pada saat membuat keris, empu dan para panjak berulang kali memasukkan besi dan pamor untuk dilakukan penempaan. Udara akan terasa panas dengan suhu penempaan dan abu sisa pembakaran akan beterbangan ke udara. Sesekali besi yang kuning menganga akan dimasukkan ke dalam minyak secara mendadak untuk dilakukan pendinginan, proses ini disebut dengan nyepuh. Proses nyepuh ini dilakukan untuk mendapatkan besi yang kuat dan keras. Setelah melakukan proses tersebut maka besi, baja dan pamor yang berat akan berubah menjadi sebilah keris kecil yang ringan, tipis namun kuat. Keris mentah tadi kemudian dilakukan proses kinatah yaitu dengan memberikan corak berupa ukiran hiasan atau pola diantaranya motif hewan, tumbuhan, wayang ataupun rajah (mantra).

Proses terakhir dalam pembuatan keris yaitu proses marangi atau memunculkan pamor. Proses ini dilakukan dengan cara memoleskan warangan. Warangan adalah cairan arsenikum yang sebelumnya sudah dicampur dengan air jeruk nipis dan dioleskan ke keris. Warangan ini kemudian akan memunculkan lapisan hitam pada besi, sedangkan nikel tidak beraksi dan tetap berwarna putih.

Warna putih yang memiliki pola inilah yang disebut pamor. Harga sebilah keris yang memiliki kualitas bagus akan mencapai puluhan juta bahkan mencapai ratusan juta. Keris walaupun disebut senjata, namun pada zaman dahulu memiliki nilai selain sebagai senjata namun juga bisa digunakan untuk ritual dan memperlihatkan strata sosial seseorang.
Video Keris