Tampilkan postingan dengan label Berita Vapers. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berita Vapers. Tampilkan semua postingan

Rabu, 10 Juni 2015

Mendapatkan tambahan inspirasi dari secangkir kopi ataupun minuman berenergi mungkin sudah biasa, sehinga sebuah perusahaan asal Vancouver - Kanada memperkenalkan sebuah vaporizer khusus yang bisa memberikan Anda keduanya hanya dalam satu hisapan.

Perusahaan yang bernama The Eagle Energy Vapor ini memproduksi sebuah alat yang sangat mirip seperti sebuah e-cigarette, tetapi ia mengandung bahan-bahan yang sangat mirip dengan minuman berenergi, yaitu diantaranya: guarana, ginseng, dan taurine. Penciptanya mengatakan bahwa benda itu sama sekali tidak menggunakan nicotine atau gula sama sekali.

"Sebagaimana teknologi baru selalu berevolusi, kami melihat sebuah peluang untuk menciptakan produk yang memiliki manfaat tambahan yang dapat mengubah industri penambah tenaga (energi)" jelas Elliot Mashford, salah satu pendiri perusahaan dalam sebuah acara press release. "Kami ingin mengubah cara pandang masyarakat dalam melihat produk vaporizer." lanjutnya lagi.

Mashford dan partner-nya Karson Hutchinson datang dengan ide tersebut sekitar setahun yang lalu, dan penjualan online akan mulai dilaksanakan pada musim semi tahun ini.

Produk ini memiliki rasa dan bau seperti minuman berenergi rasa buah-buahan, dimana mereka percaya bahwa produk ini akan menarik minat orang yang berusia diantara 18 hingga 24 tahun. Setiap stick vaporizer unik ini mampu dipakai untuk sekitar 500 kali hisapan, dengan penggunaan rata-rata 10-20 hisap dalam sekali pemakaian, tergantung dari sensitifitas penggunanya terhadap zat kafein.

Sebuah peringatan yang dicantumkan di dalam batang vaporizer tersebut menunjukkan bahwa alat ini tidak ditujukan untuk orang yang berusia di bawah 18 tahun, dan menyarankan batas penggunaan maksimal hanya satu kali untuk setiap vaporizer.

VAPORIZER_Untuk_CAFFEINE_KAFEIN
Eagle Energy Vapor sticks saat diuji-coba dalam sebuah konferensi di Las Vegas - Amerika Serikat.

Vaporizers ini dijual seharga $74.99 untuk sebuah box yang berisi 10 stick, atau juga bisa dibeli terpisah dengan harga $8.99 per stick. Mereka menyediakan barang ini untuk diberi secara online di situs Rona, Gateway Newstands atau jaringan penjual tobacconist Shefield & Sons.

Perusahaan ini juga baru mencapai kesepakatan dengan MGM Resorts untuk menjual vaporizer pada jaringan hotel dan properti kasino yang tergabung dalam MGM.

Bagaimana, pembaca? Berminat?

Sebagaimana diterjemahkan dari: Huffington Post ~ Inhale Your Caffeine With Vaporizer Created By Vancouver Company

Kamis, 28 Mei 2015

Pelarangan Vaporizer

Rokok Elektrik akan segera dilarang oleh Pemerintah Indonesia
Pemerintahan Republik Indonesia di bawah pimpinan presiden Joko Widodo dipastikan sedang menggodok peraturan perundang-undangan yang akan melarang impor rokok elektrik (electronic cigarette / e-cig / yang dikenal dengan sebutan trendy vaporizer), demikian disampaikan pembantu presiden, Menteri Perdagangan saat ini, Rahmad Gobel.

Pihaknya menyatakan sedang mengkaji untuk menerbitkan peraturan dalam rangka menertibkan importasi dan penjualan barang pengubah cairan menjadi uap tersebut dengan bekerjasama bersama Kementerian Kesehatan, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), serta instansi teknis lainnya.

Sumber:
  1. http://finance.detik.com/read/2015/05/16/113456/2916302/4/mendag-gobel-penjualan-rokok-elektrik-dilarang-total
  2. http://www.jpnn.com/read/2015/05/16/304349/Kementerian-Perdagangan-Larang-Penjualan-Rokok-Elektrik
  3. http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2015/05/17/084447726/Menteri.Gobel.Akan.Larang.Penjualan.Rokok.Elektronik

Status Hukum Rokok Elektrik

Status hukum dari rokok elektrik ini memang menjadi kontroversi di berbagai belahan dunia, hal itu disebabkan teknologinya yang cenderung baru, sehingga kemungkinan antara hubungan penggunaan tembakau dengan kebijakan yang terkait efek penggunaan vaporizer terhadap kesehatan masyarakat belum ada kajian ilmiah yang signifikan.

Sebagaimana diketahui pada tahun 2015 ini, sekitar dua pertiga negara-negara maju di dunia telah memiliki regulasi yang mengatur tentang peredaran dan penggunaan e-cigarettes / rokok elektrik ini. Sejumlah regulasi bervariasi, dari yang hanya membatasi hingga melarang total peredarannya. Seperti contoh, Brazil, Singapore, Uruguay, dan China melarang secara total peredaran dan penggunaan umum dari Electronic Cigarette, dan di Amerika sendiri, E-cigarettes didaftarkan sebagai alat media pengobatan dan diawasi penggunaannya hingga penelitian tentang keamanan dan uji klinis telah menghasilkan keputusan bulat (sumber: wikipedia ~ legal status of electronic cigarettes).

Status hukum pelarangan rokok elektrik di negara-negara bagian Amerika Serikat.

Fenomena yang ditimbulkan oleh penggunaan rokok elektrik ini telah memicu kontroversi terkait komunitas kesehatan, pemerintahan, dan publik pada umumnya. Penelitian terbaru dari Norwegian Institute of Public Health (NIPH) menunjukkan bahwa bahaya merokok elektrik sama saja dengan merokok tembakau.

Direktur Jenderal di NIPH, Camilla Stoltenberg singkatnya mengatakan pasokan nikotin jika seseorang merokok elektrik dengan merokok tembakau sama besarnya. Uap dari rokok elektrik mengandung banyak nikotin dan si pengisap atau orang di sekitarnya (perokok pasif) tetap berpotensi menghirup aroma nikotin tersebut. Ini bisa memengaruhi kadar kecanduan mereka terhadap nikotin.

"Sangat penting untuk mencegah rokok elektrik menjadi sebuah tren di kalangan remaja dan anak dewasa muda. Jangan sekali-kali memperkenalkan rokok elektrik sebagai solusi membuat pecandu rokok tembakau berhenti dari kebiasaan merokoknya," ujar Stoltenberg, dilansir dari Science Daily, Senin (20/4).

Sumber: Ini bahaya Rokok Elektronik ~ Republika Online (ROL).

Sementara itu, di Amerika Serikat, penggunaan rokok elektrik telah resmi dilarang di sekolah-sekolah (sumber: http://fox17online.com/2014/05/14/e-cig-users-push-back-schools-ban-vaporizers/). Dan rencana pelarangan secara umum oleh pemerintah ditentang oleh kalangan penggunanya dan didukung oleh salah satu politisi yang menggalang tanda-tangan untuk menolak peraturan baru tersebut. Hingga hari ini, dukungan terhadap aksi itu telah mendapatkan 3.619 tandatangan dari 4.000 yang ditargetkan (baca disini: http://www.randyhilliermpp.com/stop_bill_45_from_banning_vaporizers). Di Los Angeles, draft undang-undang yang melarang penggunaan Vaporizers telah disetujui oleh dewan kota setempat.

Bahkan, Badan Kesehatan Dunia (WHO / World Health Organization) menegaskan bahwa setiap pemerintah di semua negara harus melarang penjualan rokok elektrik. Pasalnya, rokok elektrik sama bahayanya dengan rokok konvensional (baca disini: http://lifestyle.okezone.com/read/2014/08/27/482/1030496/who-larang-penggunaan-rokok-elektrik-di-semua-negara).

Senin, 27 April 2015

Vaporizer Akan Dilarang?

Baru-baru ini saya membaca informasi di media massa bahwa Pemerintah dalam waktu dekat ini akan melarang importasi Rokok Elektrik dari China dan negara-negara produsen lainnya seperti USA dan Eropa, dikarenakan adanya imbauan dari para aktivis kesehatan mengenai dampak yang dapat ditimbulkan dari merebaknya penggunaan rokok elektrik di Indonesia.

Misalnya salah satu yayasan yang bergerak di bidang kesehatan, Yayasan Pemerhati Kesehatan Publik (YPKP) mengimbau kepada pemerintah untuk mengkaji secara mendalam dampak penggunaan rokok elektrik sebelum mengeluarkan regulasi terkait impor barang tersebut. Pengkajian yang mendalam itu harus segera dilakukan bersama dengan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) karena penggunaan rokok elektrik saat ini tengah menjadi tren, terutama di kalangan anak muda.

Kesimpulan penelitian tentang penggunaan rokok elektrik memang harus diambil dari beragam penelitian dan pengkajian. Dia menegaskan, hingga kini pemerintah belum mengambil keputusan meski sudah banyak pertimbangan mengenai regulasi rokok elektrik di Indonesia.

Sementara itu, pihak perwakilan dari pemerintah mengatakan bahwa mereka masih harus melakukan penelitian mendalam sebelum menerbitkan aturan mengenai rokok elektrik tersebut. Namun, Pemerintah mengapresiasi permintaan publik agar diterbitkan regulasi yang jelas tentang penggunaan rokok elektrik ini, khususnya di Indonesia.

Dikatakan pula, beberapa penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa rokok elektronik tidak sepenuhnya aman bagi kesehatan. Terutama rokok elektrik (istilah trend di kalangan penggunanya, Vaporizer) yang mengandung nikotin. Yang namanya Nikotin dalam produk itu tetap saja dapat menimbulkan efek kecanduan, adrenalin meningkat, dan denyut nadi meningkat, mengapa? Karena itu nikotin bro.

Peraturan Pemerintah Inggris Terhadap Vaporizer

Profesor Gerry Stimson mengatakan, di Inggris, peraturan tentang rokok elektrik (Vaporizer) baru akan diterbitkan pada bulan Mei 2016. Dalam peraturan itu beberapa hal yang akan diatur adalah terkait kemasan, standar keamanan produk, pembatasan iklan, pengaturan soal bahan-bahan yang digunakan dalam cairan, serta batas maksimal kandungan nikotin di cairan tersebut. Meski demikian, dia mengakui bahwa faktanya di Inggris menunjukkan penggunaan rokok elektrik terbukti mampu menurunkan angka perokok tembakau.

"Rokok elektrik menjadi alternatif untuk mengurangi konsumsi rokok konvensional yang mampu mengurangi hingga 20 persen angka perokok tembakau di Inggris. Angka itu lebih besar dibandingkan alternatif rokok lain seperti permen karet bernikotin, therapy anti rokok, dan lain-lain." katanya menegaskan.

Dia menyarankan agar pemerintah mengkaji secara keseluruhan untuk menerbitkan regulasi yang tepat, setidak-tidaknya mempertimbangkan efek buruk terhadap kesehatan dan efek positifnya mengurangi konsumsi rokok tembakau yang sudah terbukti merugikan bagi kesehatan masyarakat (tanpa mempertimbangkan penerimaan cukai yang besar dari konsumsi rokok di Indonesia setiap tahunnya). Pemerintah sebaiknya mengatur prosedur standar tentang produksi dan konsumsi rokok elektrik ketimbang melakukan pelarangan, karena pelarangan hanya akan memancing terjadinya penyelundupan produk-produk ilegal yang tetap membanjiri pasar dan digunakan oleh banyak orang tanpa ada sanksi yang jelas.

Rabu, 24 Desember 2014

Sebagaimana E-cigarette atau vaporizer tumbuh pesat dalam hal popularitas, para regulator alias pembuat regulasi sedang mempertimbangkan Aturan untuk resiko kesehatan yang dapat ditimbulkan.

Pertanyaan_Asuransi_Apakah_Vapers_Perokok
Pertanyaan bagi perusahaan Asuransi: Apakah "Vapers" bisa disamakan dengan Perokok?

Regulasi

Regulator federal USA sedang mempertimbangkan apakah asuransi kesehatan yang berpartisipasi dalam pertukaran "Undang-Undang Perawatan Terjangkau" dapat memungut biaya tambahan tembakau pada pengguna e-cigarette, titik terbaru dari perdebatan risiko kesehatan yang ditimbulkan oleh produk ini.

Hukum kesehatan yang diundangkan di Amerika Serikat pada tahun 2010 memungkinkan perusahaan asuransi di pasar individu dan kelompok kecil untuk mengisi pengguna tembakau sebanyak 50% lebih premi. Tapi itu tidak menentukan apakah itu termasuk pengguna rokok elektronik, perangkat bertenaga baterai yang mengubah cairan nikotin menjadi uap. Ini adalah celah hukum yang terdapat di dalam undang-undang tersebut.

Centers for Medicare dan Medicaid Services masih mempelajari bagaimana emiten dapat mengobati individu yang menggunakan e-rokok di bawah aturan Peringkat tembakau, kata Aaron Albright, juru bicara badan tersebut, yang belum diungkapkan jadwal review. Tinjauan ini datang setelah Food and Drug Administration (FDA atau BPOM nya Amerika Serikat) pada bulan April mengusulkan peraturan federal pertama di bidang e-cigarette atau Vaporizers.

Pengusaha termasuk Wal-Mart Stores Inc. dan United Parcel Service Inc UPS sudah membiayai karyawan yang menggunakan e-cigarettes lebih karena kekhawatiran produk menimbulkan risiko kesehatan. Tapi kritik dari praktek mengatakan biaya tersebut mencegah perokok tradisional dari beralih ke alternatif yang berpotensi lebih aman.

Vapers = Perokok?

"Ini situasi yang sangat rumit," kata Ray Story, chief executive dari Asosiasi Rokok Tembakau Vapor Electronic. "Apa yang kami coba untuk memberikan adalah produk yang kurang berbahaya. Anda tidak bisa melukis dengan kuas yang sama seperti rokok konvensional."

Hampir 90% dari 151 penjamin asuransi jiwa mengatakan mereka mempertimbangkan pengguna e-cigarette perokok dan sekitar 40% mengatakan perusahaan mereka memiliki kebijakan underwriting sehubungan dengan penggunaan mereka, menurut survei Mei oleh Munich Amerika Reasuransi Co, yang menyediakan kehidupan dan asuransi kesehatan kepada perusahaan asuransi AS. Dari 62 penjamin emisi yang menunjukkan perusahaan asuransi mereka memiliki kebijakan underwriting pada e-rokok, lebih dari 80% mengklasifikasikan mereka sebagai produk tembakau.

"Kami tidak tahu apa efek kesehatan dari e-rokok, tetapi kita tahu nikotin memiliki efek negatif yang potensial," kata Mark Skillan, direktur medis di Munich Amerika Reasuransi.

Para peneliti di Yunani menemukan tanda-tanda penyempitan saluran napas dan peradangan setelah penggunaan jangka pendek dari produk, dan studi lain juga telah menunjukkan mungkin ada risiko.

Perdebatan asuransi telah menyebabkan kesepakatan tidak mungkin antara industri tembakau dan advokasi kesehatan kelompok, baik yang menentang sebuah biaya tambahan e-cigarette. Biaya tersebut bertentangan dengan maksud dari hukum kesehatan federal, yang dirancang untuk mengurangi hambatan terhadap pelayanan kesehatan, kata Dick Woodruff, wakil presiden urusan federal yang di American Cancer Society Cancer Action Network.

David Howard, juru bicara R.J. Reynolds Vapor Co, sebuah perusahaan yang beroperasi dari Reynolds Amerika Inc, mengatakan: "Kami tidak percaya kebijakan harus dilaksanakan yang mungkin mencegah perokok saat ini dari mempertimbangkan untuk beralih ke produk alternatif bebas asap rokok seperti e-cig." (Reynolds berencana untuk menggelar adalah Vuse e-cigarette tahun ini, dan juga dikatakan dalam pembicaraan merger dengan Lorillard Inc, produsen dari populer Blu e-cigarette.)

Pesatnya perkembangan pasar Vaporizer di dunia

Vaporizers_yang_dijual_di_vape_shop
Pasar e-cigarette baru saja lahir di US, namun sudah bisa mencapai omset hingga US $ 2 milyar pada 2014, naik dari sekitar US $ 1,5 miliar pada tahun lalu, ketika penjualan kira-kira sebanyak dua kali lipat dari tahun sebelumnya. Diperkirakan 3 juta orang di Amerika Serikat adalah "vapers," yaitu, orang-orang yang menggunakan e-rokok dari berbagai jenis.

'Berafiliasi rencana kesehatan s' aplikasi Wellpoint Inc termasuk pertanyaan tembakau digunakan untuk kebijakan kelompok individu dan kecil untuk membantu menentukan tingkat; perusahaan asuransi saat ini tidak mengumpulkan informasi tentang e-rokok. Perusahaan asuransi lain, Highmark Inc, mengatakan bahwa, untuk bisnis komersial dan produk ACA, menganggap merokok sebagai penggunaan rokok, cerutu dan mengunyah tembakau, dan tidak termasuk e-rokok saat ini.

Cigna Corp mengatakan bahwa, karena hukum federal tidak termasuk e-rokok dalam definisi penggunaan tembakau, perusahaan asuransi tidak mempertimbangkan mereka penggunaan tembakau untuk keperluan rencana individu dan kesehatan keluarganya, baik di atau dari pertukaran ACA.

Penanggung di bursa dapat memungut biaya tambahan jika peserta yang menggunakan tembakau empat kali atau lebih per minggu dalam enam bulan terakhir. Biaya tambahan pada pengguna tembakau tradisional mungkin atas lebih dari $ 1.000 per tahun dan tidak dapat diterapkan untuk kredit pajak dalam hukum yang meringankan biaya asuransi untuk penerima yang lebih rendah.

Pada Popie itu Vapor Lounge, di mal di Marlton, NJ, pemilik Robert Eichenberger, mengatakan dia membantu orang berhenti tembakau tradisional. "Pajak dosa seperti mereka rokok konyol," katanya.

Edward Chatlos baru-baru menyerah kebiasaan paket-a-hari merokok dan mengambil rokok elektronik. Sementara ia tidak memiliki asuransi, dia tidak berpikir ia harus membayar premi yang lebih tinggi untuk menggunakan e-rokok jika ia memilih untuk mendaftar tahun depan untuk cakupan melalui pertukaran asuransi kesehatan yang dikelola negara itu. "Ini tidak sama," kata Mr. Chatlos 62 tahun, dari Decatur, Ga.

-Stephanie Armour (The Wall Street Journal - Washington, USA)