Tampilkan postingan dengan label Adab Spiritual. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Adab Spiritual. Tampilkan semua postingan

Minggu, 19 Mei 2013

Allah Ta’âlâ berfirman kepada orang-orang yang memiliki hati, “Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang yang memiliki hati.” (QS Qaf, 50:37)

Dan ketika menyebut nafs Allah Ta’âlâ berfirman, “Sesungguhnya nafs itu selalu menyuruh kepada kejahatan…” (QS Yusuf, 12:53)

Allah berfirman kepada Musa as, “Salahkanlah nafs-mu, karena yang paling layak untuk disalahkan adalah nafs. Ketika bermunajat kepada-Ku, bermunajatlah dengan lisan yang shidq dan hati yang takut.”

Ketahuilah, setiap kali hati memiliki sesuatu yang baik, maka nafs pun memiliki hal serupa yang dapat mengaburkan. Sebagaimana Allah memberi hati keinginan (irâdah), maka Allah juga memberi nafs angan-angan kosong (tamanniy). Sebagaimana Allah memberi hati perasaan cinta (mahabbah), maka Allah memberi nafs hawa nafsu (hawâ). Sebagaimana Allah memberi hati harapan (rojâ`), maka Allah memberi nafs ketamakan (thoma’). Sebagaimana Allah memberi hati perasaan takut (khauf), maka Allah memberi nafs perasaan putus asa (qunûth). Perhatikan dan renungkan kata-kataku ini.

Salah satu contoh yang dapat memberikan gambaran jelas kepadamu adalah keadaan orang yang terlilit hutang. Kamu seringkali melihat orang yang tidak mau melunasi hutangnya. Namun ketika memperoleh harta, ia justru menyedekahkannya, dan tidak berusaha melunasi hutangnya. Itulah contoh perbuatan baik yang timbul dari nafs. Sebab, di antara sekian banyak jenis nafs, ada nafs yang suka melakukan murûah dan merasakan kenikmatan ketika memberi.

Orang yang nafs-nya seperti ini merasakan kenikmatan dalam memberi sebagaimana orang jahat merasakan kenikmatan ketika menolak permohonan pertolongan. Demikian pula halnya dengan mereka yang mengerjakan sunah, tapi meninggalkan yang wajib. Misalnya: orang yang mengerjakan ibadah haji berulang kali dengan uang halal dan haram serta mengabaikan ketakwaan dalam urusan-urusannya yang lain. Di antara mereka ada yang menunaikan ibadah haji dengan berjalan kaki, tapi meremehkan salat. Hasan Al-Bashri rhm berkata, “Ada seseorang berkata,’ Aku telah haji, aku telah haji.’ Kamu telah menunaikan ibadah haji, oleh karena itu sambunglah tali silaturahmi, bantulah orang yang sedang kesusahan, dan berbuat baiklah kepada tetangga.”

Contoh lain adalah orang-orang yang mencari harta haram kemudian membelanjakannya dalam kebaikan. Sebagaimana telah kuberitahukan kepadamu, semua perbuatan ini digerakkan oleh nafs, sama sekali tidak memiliki hubungan dengan hati.

Allah menjadikan “perbuatan yang dilakukan secara berlebih-lebihan” untuk nafs dan “perbuatan yang dikerjakan secara wajar” untuk hati. Jika kamu melihat perilaku, atau pencarian ilmu dan ibadah dikerjakan dengan tenang (thuma’ninah), maka ketahuilah bahwa perbuatan itu muncul dari hati dan pelakunya adalah orang berakal. Tetapi, jika kamu melihat seseorang yang perilaku, cara menuntut ilmu dan ibadahnya tidak dilakukan dengan tenang, pelakunya emosional dan bodoh, maka ketahuilah bahwa kegiatan itu digerakkan oleh nafs dan hawâ. Sebab, hawâ merusak dan menggoncangkan akal. Di mana pun berada, hawâ akan selalu merusak.

Demikianlah sifat hawâ. Jika hawâ berinteraksi dengan akal, hawâ akan merendahkan dan menggoyahkannya. Jika berinteraksi dengan agama, hawâ akan mengotori dan merusaknya. Sehingga kamu dapat melihat bahwa orang yang agamanya dan cara ber-sulûk-nya baik bila dikuasai oleh hawâ, urusannya menjadi kacau, keadaannya menjadi buruk dan dibenci masyarakat. Begitulah sifat kebatilan, ia akan merusak kebenaran, jika keduanya bercampur. Jika hawâ mampu merusak orang yang berakal dan beragama, lalu bagaimana menurutmu jika hawâ merasuki para pecinta dunia yang jiwanya lemah? Bagaimana keadaan mereka nanti?

Segala hal yang dirusak oleh hawâ dapat diperbaiki oleh akal, karena hawâ mempunyai tingkat setaraf dengan akal. Hawâ akan merendahkan dan menjerumuskan manusia, sebaliknya akal akan memuliakan dan meninggikannya. Sungguh besar perbedaan keduanya!

Kamu lihat orang yang dipengaruhi hawâ tampak seperti orang buta, tidak tahu jalan (menuju Allah). Hawâ menghambatnya dari mencari sesuatu yang memiliki hakikat, membuatnya tidak memikirkan akibat perbuatan yang ia lakukan, membuatnya suka bertengkar dan bermusuhan, membuang-buang umur dalam mencintai dan membanding-bandingkan keutamaan para imam.

Lain halnya dengan orang-orang yang berakal, mereka sibuk dengan diri mereka sendiri, menyempurnakan semua amal mereka dengan niat-niat yang baik, memanfaatkan waktu yang mereka miliki dengan sebaik-baiknya, berusaha keras untuk berbuat kebajikan, dan menyesali perbuatan baik yang tidak dapat mereka kerjakan.

(Memahami Hawa Nafsu, Îdhôhu Asrôri ‘Ulûmil Muqorrobîn, Putera Riyadi)

Catatan:

Hawâ adalah makanan nafs. Hal ini membuat nafs sangat bergantung dan sulit melepaskan diri dari cengkeraman hawâ. Oleh karena itu, jauhilah hawâ dan bebaskanlah nafs-mu darinya. Sebab, hawâ akan menodai agama dan murûah-mu. Jika kamu perhatikan dan beda-bedakan semua peristiwa yang terjadi, maka akan kamu dapati bahwa hawâ-lah yang menjadi sumber segala fitnah dan bencana dalam peristiwa-peristiwa itu. Karena, hawâ merupakan sumber kebatilan dan kesesatan. Hawâ bak minuman memabukkan. Seseorang yang meneguknya akan dikuasai oleh minuman itu dan akan hilang akal sehatnya.

Murûah: usaha seseorang untuk melaksanakan semua hal yang dianggap baik dan menjauhi semua hal yang dianggap buruk oleh masyarakat.

Refferensi : https://ahlussunahwaljamaah.wordpress.com/mutiara/habib-muhammad-bin-abdullah-bin-syeikh-alaydrus/akal-nafs-dan-hawa/

Sabtu, 05 Januari 2013

Syeikh Abdul Wahab Asy-Sya�rani

 DAN diantara perilaku seorang murid dalam berguru, hendaknya tidak berguru kecuali kepada seorang guru yang ilmu-ilmu syariatnya benar-benar kuat dan mendalam. Hal ini dimaksudkan agar dengan sang guru yang ilmu syariatnya mendalam ini sang murid merasa cukup dan tidak butuh berguru lagi kepada orang lain. Tuan Guru Syekh Muhammad asy-Syanawi pernah memberitahuku, bahwa suatu ketika ia pernah berkata kepada gurunya, Syekh Muhammad as-Surawi, �Guru, aku ingin mengunjungi si guru (syekh) fulan.� Rupanya Tuan Guru tidak ingin muridnya mencari guru lain, dan berkata dengan menampakkan kecemberutan di wajahnya, �Wahai Muhammad, bila engkau belum merasa cukup denganku, lalu bagaimana engkau menjadikan aku sebagai gurumu?� Maka sejak saat itu, aku tidak pernah lagi mengunjungi guru lain sampai beliau wafat.

Maka bisa diketahui bahwa orang yang sudah ditakdirkan untuk masuk ke dalam tarekat dan diambil sumpahnya oleh seorang guru yang ilmu-ilmu syariatnya kurang mendalam maka tidak ada salahnya ia berkunjung dan berkumpul dengan guru lain, sebagaimana kondisi yang terjadi pada sebagian besar para guru di zaman ini. Maka ungkapan Syekh Abu al-Qasim al-Qusyairi, �Dianggap kurang baik seorang murid mengikuti madzhab lain yang bukan madzhab gurunya. Akan tetapi ia hanya diperkenankan mengikuti pada gurunya saja.� Ini jelas ditujukan untuk murid yang mendapatkan guru yang benar-benar mendalami ilmu syariat secara sempurna. Maka tidak ada jeleknya seorang murid mencari dan menisbatkan dirinya ke madzhab lain yang bukan gurunya, bila gurunya tidak benar-benar mendalami ilmu syariat, bahkan hal itu wajib ia lakukan.

Seorang Sufi Juga Seorang Yang Fakih

IMAM Ahmad bin Hanbal dengan kebesaran dan keagungannya ketika ia tidak mampu menyelesaikan masalah, ia akan bertanya kepada sang sufi, Abu Hamzah al-Baghdadi, �Bagaimana pendapat anda dalam masalah ini wahai sang sufi?� Maka apa yang dikatakan Abu Hamzah akan dijadikan pegangan. Hal ini cukup menjadi catatan sejarah bagi para guru sufi. Demikian pula dengan kisah al-Qadhi Ahmad bin Syuraih yang juga mengakui kelebihan Abu al-Qasim al-Junaid, dimana ia juga mengikuti majelis halaqah al-Junaid, dan ketika ditanya tentang ungkapan-ungkapan al-Junaid ia tidak banyak berkomentar dan hanya mengatakan, �Aku tidak paham sedikit pun apa yang ia katakan, akan tetapi serangan-serangan ungkapannya bukan ucapan yang tidak berarti.�

Syekh Abu al-Qasim al-Junaid �rahimahullah� berkata:

�Andaikan aku tahu bahwa di bawah kolong langit ini Allah memiliki ilmu yang lebih mulia daripada ilmu kaum sufi ini tentu aku akan berangkat ke sana.� Ia juga pernah berkata: �Tidak pernah ada ilmu yang turun dari langit dan Allah memberi jalan kepada makhluk untuk pergi ke sana kecuali Allah juga memberiku bagian pada ilmu tersebut.� Syekh Abu al-Qasim al-Qusyairi �rahimahullah� berkata: �Seluruh guru tarekat sufi telah membuat aturan, bahwa salah seorang dan mereka tidak akan memimpin suatu tarekat sama sekali kecuali ia mendalami ilmu syariat secara sempurna dan telah sampai pada tingkatan kasyaf (tersingkap seluruh hijab). Dimana tingkatan ini sudah tidak butuh lagi mencari dalil (argumentasi). Dan apa yang dilakukan oleh murid untuk menisbatkan diri kepada orang lain (yang bukan kaum sufi) dan membaca ilmu-ilmu lain yang bukan ilmu kaum sufi hanyalah karena ketidaktahuan si murid terhadap tingkatan spiritual mereka. Sebab argumentasi kaum sufi lebih kuat dan valid daripada argumentasi kelompok lain. Ini karena argumentasi mereka didukung dengan metode kasyaf. Dan setiap ada seorang dari kaum sufi yang hidup di suatu kurun mesti para ulama di kurun tersebut akan hormat dan tunduk pada si sufi tersebut dan melakukan isyarat-isyaratnya. Mereka meminta kepada Si sufi untuk membantu menghilangkan kesulitan yang sedang mereka hadapi. Andaikan bukan kesaksian para ulama sufi akan masalah-masalah yang menyuarakan ketinggian kedudukan mereka, tentu masalahnya akan sebaliknya, dan tidak seperti itu.� Kami telah membicarakan masalah ini dengan panjang lebar dalam Kitab al-Qawa �Id ash-Shuftyyah al-Kubra. � Dan hanya Allah Yang Mahatahu.

Bolehkah Murid Menjadikan Lebih Dari Seorang Guru ?

DIANTARA perilaku yang harus dilakukan seorang murid hendaknya hanya mengambil dan menjadikan seorang guru. Maka ia tidak diperkenankan sama sekali menjadikan dua orang guru. Sebab tarekat kaum sufi dibangun atas dasar tauhid murni. Syekh Muhyiddin Ibnu al-�Arabi dalam al-Futuhat al-Makkiyyah bab keseratus delapan puluh satu, menuturkan sebagai berikut: �Perlu anda ketahui, bahwa seorang murid hanya diperkenankan menjadikan seorang guru. Sebab hal itu lebih bisa menolongnya dalam menempuh tarekat. Kami tidak pernah melihat seorang murid pun yang sukses dalam menempuh tarekat di bawah bimbingan dua orang guru (tarekat). Sebagaimana di alam ini tidak ada dua Tuhan, tidak ada seorang mukalaf yang hidup diantara dua rasul, dan tidak ada seorang perempuan yang menjadi istri dari dua orang suami, maka demikian pula seorang murid tidak boleh mengambil dua orang guru.� Ini berlaku untuk murid yang mengikat dirinya dengan seorang guru (tarekat) dengan tujuan suluk menuju Allah. Adapun orang yang tidak mengikat dirinya dengan seorang guru, tapi ia sekadar mencari berkah dari guru, maka orang seperti yang terakhir ini tidak dilarang untuk berkumpul dengan guru siapa pun.

Tuan Guru Syekh Ali al-Murshifi �rahimahullah� mengatakan: �Barangsiapa diuji untuk bersahabat dengan dua orang guru atau lebih, maka hendaknya menjadikan gurunya yang hakiki selalu berada di belahan hatinya, disamping ia mencintai Rasulullah Saw. Sebab dia sebagai pengganti Rasulullah Saw. dalam memberi nasihat kepada umatnya dan menunjukkan mereka kejalan yang benar.�

Abu Yazid al-Bisthami pernah berkata: �Barang siapa tidak memiliki seorang guru maka ia menyekutukan dalam tarekat, sedangkan orang yang menyekutukan dalam tarekat gurunya adalah setan.�

Abu Ali ad-Daqqaq �rahimahullah� mengatakan: �Seseorang tidak akan mampu suluk di tarekat kaum sufi tanpa seorang guru. Sebab perjalanan ini menempuh kegaiban atau gaibnya kegaiban. Ibarat sebatang pohon apabila tumbuh dengan sendirinya tanpa ada orang yang menanamnya maka tidak ada seorang pun yang bakal memanfaatkan buahnya sekalipun tumbuh bersemi dan daunnya rindang, bahkan bisa jadi tidak akan berbuah untuk selamanya. Coba anda perhatikan wahai saudaraku, Tuan dari para rasul, Muhammad Saw., bagaimana dengan jibril yang menjadi perantara antara beliau dengan Tuhannya dalam menyampaikan wahyu. Dengan demikian anda tahu, bahwa menjadikan seorang guru adalah suatu keharusan bagi murid yang tidak bisa ditinggalkan.�

Abu Yazid al-Bisthami mengatakan: �Sungguh aku telah mengambil tarekatku ini dari guruku, antar orang ke orang.� Kemudian cukup jelas, bahwa para salaf saleh dari generasi sahabat, tabi�in, dan tabi�t-tabi�in tidak mengikatkan diri dengan seorang guru tertentu, tapi bisa jadi salah seorang dari mereka menjadikan lebih dari seratus orang guru. Ini karena mereka adalah orang-orang yang bersih dari kotoran dan ketololan nafsu, maka masing-masing orang dianggap orang yang sempurna yang tidak butuh kepada orang yang membimbing perjalanannya. Tapi ketika �wabah penyakit� ini semakin banyak dan mereka butuh disembuhkan, maka para guru tarekat memerintah para murid untuk mengikatkan diri dengan seorang guru, agar kondisi spiritual murid tidak kacau dan perjalanan yang ditempuhnya tidak terlalu panjang. Maka pahamilah!

Diantara perilaku seorang murid hendaknya membuang seluruh keterkaitan duniawi, dan hal ini hendaknya dijadikan modal utamanya. Sebab orang yang memiliki keterkaitan duniawi akan sedikit sekali bisa berhasil, karena keterkaitan tersebut akan menyeretnya mundur ke belakang. Oleh karenanya mereka mengatakan: �Diantara syarat orang yang bertobat adalah menjauhi teman-teman jahat, dimana mereka akan menjadi temannya dalam melakukan maksiat sebelum ia bertobat. Sebab mendekat kepada mereka barangkali bisa menyeretnya mundur ke belakang dengan melakukan perbuatan yang sebelumnya ia sudah bertobat darinya.�

Imam al-Qusyairi �rahimahullah� berkata: �Seorang murid wajib melakukan kegiatan yang selalu mengosongkan hatinya dari segala kesibukan. Dan diantara kesibukan-kesibukan yang sangat berat adalah berusaha keluar dari harta yang ia miliki. Sebab dengan harta yang ada di tangannya itu akan bisa berpaling dari jalan yang lurus (istiqamah), karena lemahnya si murid. Sebenarnya tidak boleh ia menyimpan harta kecuali setelah ia benar-benar sempurna dalam perjalanan tarekatnya.� Ia juga mengatakan: �Para guru merasa berat dan tidak mampu menggandeng perjalanan seorang murid yang memiliki keterkaitan dengan duniawi. Maka perjalanan mereka dengan menggandeng murid ini sangat lemah dan lamban. Barangkali umurnya telah habis sementara mereka belum bisa sampai pada tingkat kesempurnaan yang ia inginkan.�

Sumber : Sufinews

Rabu, 02 Januari 2013

Sebagai kata, khirqah berarti pakaian, kain, atau Sobekan kain baju. Sedangkan sebagai istilah, khirqah adalah cenderamata sebagai bentuk pensanadan dan pengijazahan dalam tarekat kesufian. Kesufian atau tasawuf tidak berbeda dengan ilmu-ilmu lainnya, yang memiliki sanad yang tersambung hingga Rasulullah SAW.

 Adanya sanad dapat mempertanggungjawabkan kebenaran tasawuf ini. Dan keberadaan sanad ini sekaligus sebaagi bantahan terhadap pembenci praktek tasawuf. Dengan demikian pendapat sebagian orang yang mengatakan tasawuf adalah sesuatu yang baru dan bidah adalah pendapat yang tidak memiliki dasar sama sekali.

Penggunaan istilah dengan penyebutan sesuatu yang berbentuk fisik semacam ini hanya sebagai ungkapan lambang, simbolisasi, dari tradisi ilmu-ilmu sufi yang berkembang dikalangan sufi, yang hal tersebut terjadis ecara turun menurun dari guru ke murid sebagai sanad.

Selain kata al khirqah, istilah-istilah lain yang biasa digunakan dikalangan sufi adalah ar-rayah (bendera), al-hizam (sabuk), al-ilbas (pengenaan surban, jubah, peci, dan lainnya). Benda-benda fisik ini, sekalipun benar adanya sebagai sesuatu yang turun-temurun sebagai sanad dari guru ke murid, yang menjadi tolak ukur dalam ajaran tasawuf ini bukan semata benda-benda simbolis tersebut, melainkan kandungan atau nilai-nilai yang dibawa dan tersirat dari itu semua, yaitu ajaran tasawuf itu sendiri.

Al-lmam Al-Hafizh As-Sayyid Ahmad bin Ash-Shiddiq Al-Ghumari, mengutip perkataan AI-'Allamah Al-Amir dalam Fahrasat-nya, mengatakan, khirqah, rayah, hizim dan ilbas dalam dunia tasawuf bukan merupakan tujuan utama. Karena benda-benda tersebut hanya benda zhahir. Adapun yang menjadi tujuan utama dalam jalan tasawuf adalah memerangi nafsu, mujahadah an-nafs dan menuntun umat untuk berpegang teguh pada ketentuan syari'at dan sunnah-sunnah Rasulullah, baik secara zhahir maupun secara bathin. Karena itu, dalam muqadimah risalah Ibn 'Arabi yang berjudul Nasab al-Khirqah, yang ditulis Al-Hafizh Al-Ghumari, ia mengutip perkataan imam Malik saat ditanya penger-tian ilmu bathin, �ilm al-bathin, "Kerjakanlah olehmu ilmu-ilmu zhahir, maka Allah akan mewariskan kepadamu akan ilmu-ilmu bathin."

Namun demikian, lambang-lambang fisik di atas menjadi tradisi turun-temurun sebagai sanad. yang hal tersebut beberapa di antaranya bersambung hingga Rasulullah. Seperti sanad dalam memakai al-'immah as-sauda', kain atau surban hitam yang dililit di atas kepala. secara turun-temurun di kaiangan pengikut tarekat Ar-Rifa'iyyah, baik warna kain maupun tata cara memakainya, yang hal tersebut secara turun-temurun berasal dari Rasulullah.

Lambang-lambang berupa fisik tersebut, selain memiliki makna yang cukup penting dalam kaitannya dengan ajaran-ajaran yang terkandung di balik benda-benda itu sendiri, juga menjadi semacam identitas yang khas di kaiangan kaum sufi. Al-khirqah, walau sebagai kata berarti hanya "sebuah pakaian", bahan yang dipergunakan, cara pemakaian, dan lain-lainnya, memiliki kekhususan tersendiri. Contoh lainnya seperti gerakan-gerakan tubuh saat berdzikir. Gerakan-gerakan ini memiliki kekhususan tersendiri yang menjadi identitas atau ciri khas mereka, yang hal tersebut telah menjadi turun-temurun sebagai sanad. Kemudian para ulama juga telah sepakat bahwa ajaran tasawuf menjadi sebuah disiplin ilmu atau sebagai madzhab yang dirintis dan diformulasikan pertama-tama oleh seorang imam agung, sufi besar, AI-'Arif Billah Al-lmam Al-Junaid Al-Baghdadi. Di atas jalan yang beliau rumuskan inilah di kemudian hari para kaum sufi menginjakan kaki-kaki mereka. Karena itu Al-lmam Al-Junaid Al-Baghdadi disebut sebagai pimpinan kaum sufi dan pemuka mereka, Sayyid ath-Tha-ifah ash-Shufiyah.

Seperti halnya dalam fiqih, ajaran-ajaran di dalamnya diintisarikan, diistinbathkan, oleh para ulama mujtahid dari Al-Qur'an dan hadits. Artinya, yang menjadi sandaran utama dalam hal ini adalah ajaran Rasulullah, dengan segala apa yang dibawa oleh beliau. Demikian pula dengan landasan tasawuf, pokok yang menjadi fondasinya adalah Al-Qur'an dan sunnah-sunnah Rasulullah. Al-lmam Al-Junaid Al-Baghdadi memiliki sanad dalam tasawuf, labs al-khirqah, yang bersambung hingga sampai kepada Imam Al-Hasan Al-Bashri, yang diambil dari Amir Al- Muminin Imam AM bin AbiThalib KWH, yang secara langsung didapatkan dari Rasulullah SAW.

Lengkapnya sanad tersebut sebagai berikut: Al-Junaid Al-Baghdadi mendapatkan sanad khirqah kaum sufi dari pamannya sendiri, Imam As-Sirri As-Saqthi, kemudian dari Imam Ma'ruf AI-Karkhi, dari Imam Dawud Ath-Tha'i, dari Imam Habib AI-'Ajami, dari Imam Al-Hasan Al-Bashri, dari Imam Ali bin Abi Thalib karramallahu wajhah, dan terakhir dari Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam. Sanad tasawuf ini disepakati kebenarannya di kalangan ulama Ahlus-sunnah wal Jama'ah.

Selain sanad di atas, terdapat juga sanad lain yang memperkuat kebenaran mata rantai Imam Al-Junaid Al-Baghdadi dari pamannya, Imam As-Sirri As-Saqti. Yaitu dari Imam Ma'ruf Al-Karkhi dari Imam Ali Ar-Ridha, dari ayahnya sendiri, Imam Musa Al-Kazhim, dari ayahnya sendiri, Imam Ja'far Ash-Shadiq, dari ayahnya sendiri, Imam Muhammad Al-Baqir, dari ayahnya sendiri, Imam Ali Zainal Abidin, dari ayahnya sendiri, Imam Al-Husain, dari ayahnya sendiri, Imam Ali bin Abi Thalib, dan terakhir dari Rasulullah SAW.

Sanad yang kedua ini sangat kuat. Orang-orang shalih yang teriibat dalam rangkaian sanad ini tidak diragukan lagi keagungan derajat mereka. Sanad kedua ini, di samping sebagai penguat bagi sanad pertama, sekaligus juga sebagai bantahan kepada mereka yang mengingkari sanad pertama. Karena sebagian orang anti tasawuf biasanya mempermasalahkan sanad pertama di atas dengan mempersoalkan pertemuan, al-mu'asharah wa al-tiqa', antara Imam Al-Hasan Al-Bashri dan Imam Ali ibn Abi Thalib. Walau demikian, tentang sanad pertama, mayoritas ulama sepakat menetapkan adanya al-mu'asharah wa ahliqi'antara Imam Al-Hasan Al-Bashri dan Imam 'Ali Ibn Abi Thalib. Dl antara yang menetapkan hal tersebut adalah Imam AI-'Allamah Dliya'uddTn Ahmad Al-Witri Asy-Syafl'i Al-Baghdadi dalam kitabnya Raudlah an-Nidlirfn. Imam Al-Witri mengutlp perkataan Imam Sufyan Ats-Tsauri bahwa Sufyan Ats-Tsauri berkata, "Al-Hasan Al-Bashri adalah orang yang paling utama di antara yang mengambil pelajaran dari Ali bin Abi Thalib RA." Kemudian Imam Al-Witri berkata bahwa, saat terbunuhnya KhaKfah Utsman bin Affan, Imam Al-Hasan Al-Bashri berada di tempat kejadian. Al-Hasan Al-Bashri saat itu adalah seorang anak yang masih berumur empat belas tahun, yang kemudian tumbuh remaja di bawah bimbingan sahabat 'Ali ibn Abi Thalib.

As-Sayyid As'ad (w. 1016 H/1607 M), seorang mufti di Madinah, membuat risalah pendek berjudul At-Tasyarruf bi DzikrAhl ath-Tashawwuf, tentang sanad ajaran kaum sufi dan sanad khirqah mereka. Kesimpulan tulisannya adalah, sekalipun ada beberapa penghafal hadits, huffazh al-hadits, mengingkari pertemuan antara Al-Hasan Al-Bashri dan Ali bin Abi Thalib, pendapat yang kuat menetapkan bahwa telah terjadi pertemuan kedua orang tersebut Pendapat ini didasarkan pada pernyataan huffazh al-hadits lainnya yang telah menetapkan keberadaan pertemuan tersebut Dan pendapat huffazh al-hadits yang menetapkan keberadaannya didahulukan atas pendapat yang menafikannya, Al-mutsbit muqaddam 'ali an-nifi sebagaimana hal ini telah diketahui dalam kaidah-kaidah ilmu hadits.

Masih menurut Sayyid As'ad, nasab al-khirqah memiliki dasar yang berasal dari Rasulullah sendiri. Dalam menetapkan pendapat ini sebagian ulama mengambil pendekatan dengan hadits Ummu Khalid. Diriwayatkan bahwa suatu ketika Rasulullah membawa sebuah baju hitam dengan pernik-pernik berwama kuning dan merah ke hadapan para sahabat-nya, lalu Rasulullah berkata, "Siapakah menurut kalian orang yang hendak aku pakaikan baju ini padanya?"
Semua sahabat terdiam sambil berharap mendapatkan baju tersebut
Kemudian Rasulullah berkata, "Pang-gillah Ummu Khalid."
Setelah Ummu Khalid datang, Rasulullah memakaikan baju tersebut kepada nya seraya berkata, "Pakailah, semoga banyak memberikan manfaat bagimu." Setelah memakaikan baju tersebut kepada Ummu Khalid lalu melihat pada pernik-pernik wama kuning dan wama merah pada baju sersebut, Rasulullah berkata, "Wahai Ummu Khalid, ini adalah pakaian yang indah."

Termasuk yang dapat dijadikan pendekatan tentang keberadaan nasab al-khlrqah Ini adaiah riwayat yang telah disebutkan oleh banyak ulama bahwa sahabat Aii bin Abi Thalib dan sahabat Umar bin Al-Khaththab memakaikan khirqah kepada Uwais Ai-Qarni. Sebagaimana dikatakan Imam Asy-Sya'rani berikut ini, "Uwais Al-Qarni telah memakai pakaian (ats-tsaub) dari sahabat Umar bin Al-Khaththab dan memakai selendang (ar-rida) dari sahabat All bin Abi Thalib."

Kesimpuian dari ini semua, khirqah kaum sufi memiliki dasar yang tsabit, kuat, daiam hadits. Para pengemban riwayat sanad al-khirqah adalah para imam yang agung dari umat ini. Adapun bahwa beberapa huffizh al-hadits mengingkari nasab al-khirqah, yang dimaksud adalah terbatas pada sanad pengijaza-an jubah (al-jubbah) dan peci (ath-thiqiyah). Benar, dua benda ini sangat erat kaitannya dengan kaum sufi, namun makna al-khirqah secara luas tidak terbatas pada dua benda tersebut Seperti khirqah kaum Tarekat Ar-Rifa'iyyah, yang hal tersebut tidak dapat diingkarf kebenaran sanadnya. Khirqah kaum Ar-Rifa'iyyah rtu adalah imamah, kain atau surban yang dililitkan pada kepala, yang berwama hitam, af-'imamah af-sauda', yang bersambung hingga Rasulullah SAW.

Suatu ketika Rasulullah memakaikan al immh as-sauda' ini kepada Imam 'Ali bin Abi Thalib, sebagaimana hal ini telah ditetapkan dalam krtab-kitab shahih, lalu Rasulullah berkata di hadapan para sahabatnya, "Pakailah oleh kalian 'imamah seperti ini." Kemudian tidak ada perselisihan di antara kaum sufi bahwa sanad tasawuf adalah lewat jalur Al-Junaid dari As-Sirri dari Al-Karkhi dan seterusnya hingga Ali bin Abi Thalib RA. Adapun dasar khirqah kaum Tarekat Rifa'lyyah yang berupa al-'imimah as-sauda' secara jelas disebutkan dalam banyak hadits Rasulullah, seperti dalam riwayat Imam Muslim, Imam Ath-Thabarani, dan lainnya. Di antaranya sebuah hadits dari sahabat Ali bin Abi Thalib, "Pada hari ghadir Khum Rasulullah memakaikan 'imamah hitam kepadaku dengan mengulurkannya sedikit ke bagian belakangku, seraya bersabda:

'Sesungguhnya Allah memberiku pertoiongan di hari Perang Badar dan Perang Hunain dengan serombongan malaikat yang mereka semua mengenakan 'imamah semacam ini.' (Kemudian Rasulullah juga bersabda) 'Sesungguhnya Imamah adalah pembatas antara kekufuran dan keimanan*." (HR Abu Musa Ai-Madani dalam kitab as-Sunnah Fi Sadi al-'imamah dan oleh lainnya).

Sumber: Majalah Al Kisah

Jumat, 08 Juni 2012

Oleh: Prof Dr Nasaruddin Umar

Ketika Nabi Musa berjumpa dengan guru yang dicarinya dan memohon kepadanya agar diterima menjadi murid, persyaratan yang diminta gurunya ialah kesabaran untuk menjaga tata krama seorang guru, yakni bersabar menanti tahapan pelajaran tanpa mendesak atau mempertanyakan sesuatu yang belum dibahas, tidak menentang, dan tidak memprotes gurunya.

Dalam Alquran dibahasakan Nabi Musa menaruh harapan besar untuk diterima menjadi murid, Musa berkata kepada Khidir, �Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?� (QS. Al-Kahfi: 66).

Lalu sang guru menjawab, �Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersamaku.� (QS. Al-Kahfi: 67).

Musa agak tercengang sejenak sambil berpikir bagaimana mungkin calon guru yang baru dijumpainya mengerti kalau dia tidak sanggup untuk bersabar. Musa kembali menjawab, �Insya Allah, kamu akan mendapati aku sebagai seorang yang sabar dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusan pun.� (QS. Al-Kahfi: 69).

Akhirnya Musa diterima sebagai murid, namun ketentuan pertama yang harus dipenuhi Musa dari gurunya ialah �Jika kamu mengikutiku, janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu apa pun sampai aku sendiri menerangkannya kepadamu.� (QS. Al-Kahfi: 70).

Keduanya berangkat ke sebuah tempat yang tidak jelas, dan keduanya tiba di sebuah tempat di pinggir pantai. Di pantai sang guru melakukan sesuatu yang sangat aneh bagi Musa, yaitu melubangi perahu-perahu nelayan miskin di tempat itu. Musa spontan menyatakan keberatannya, �Mengapa kamu melobangi perahu itu, yang akibatnya kamu menenggelamkan penumpangnya? Sesungguhnya kamu telah berbuat sesuatu kesalahan yang besar.� (QS. Al-Kahfi: 71).

Pertanyaan Musa yang walaupun diyakini secara akal normal tidak ada yang salah, namun sang guru menganggap sikap batin yang mendorong Musa mengeluarkan pertanyaan dan tanggapan belumlah mencerminkan murid yang pantas untuk memperoleh ilmu ladunni (QS. Al-Kahfi: 65), lalu gurunya memberikan teguran, �Bukankah aku telah berkata, �Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sabar bersama dengan aku.� (QS. Al-Kahfi: 72).

Menyadari kekeliruan dengan kelancangannya mempertanyakan kebijakan sang guru, Musa memohon maaf kepada gurunya, �Janganlah kamu menghukum aku karena kelupaanku, dan janganlah kamu membebani aku dengan sesuatu kesulitan dalam urusanku.� (QS. Al-Kahfi: 73).

Apa yang dialami Musa mengingatkan kita kepada sikap malaikat yang mempertanyakan kebijakan Tuhan untuk menciptakan pendatang baru yang bernama Adam dari jenis manusia.

�Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: �Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.� Mereka berkata: �Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau?� Tuhan berfirman: �Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui�.� (QS. Al-Baqarah: 30).

Menanggapi tanggapan balik Allah di ujung ayat tersebut, malaikat juga memohon ampun terhadap kelancangannya. �Maha suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.� (QS. Al-Baqarah: 32).

Seandainya Musa menyadari dan belajar apa ending dari cerita malaikat ini tentu tidak akan terjadi teguran dari gurunya. Seperti kita ketahui, pada akhirnya malaikat memahami rahasia besar yang terkandung di dalam diri manusia mengapa ia diciptakan (lihat artikel penciptaan mikrokosmos edisi lalu).

Permohonan sang murid diterima, dan keduanya kembali melanjutkan perjalanan. Ujian kedua terjadi bagi Musa ketika keduanya menjumpai kerumunan anak-anak kecil sedang bermain dan gurunya tiba-tiba dengan membunuh salah seorang di antaranya.

Alangkah kagetnya Musa dan spontan memprotes dan menyatakan penyesalan perbuatan gurunya dengan mengatakan, �Mengapa kamu bunuh jiwa yang bersih, bukan karena dia membunuh orang lain? Sesungguhnya kamu telah melakukan suatu yang mungkar.� (QS. Al-Kahfi: 74).

Gurunya dengan tenang menegur muridnya dengan bahasa yang sama, �Bukankah sudah kukatakan kepadamu bahwa sesungguhnya kamu tidak akan dapat sabar bersamaku?� (QS. Al-Kahfi: 75).

Musa berusaha untuk bersabar dan meminta maaf kepada gurunya. Ia meyakinkan gurunya dengan mengatakan, �Jika aku bertanya kepadamu tentang sesuatu sesudah (kali) ini, janganlah kamu memperbolehkan aku menyertaimu. Sesungguhnya kamu sudah cukup memberikan uzur padaku.� (QS. Al-Kahfi: 75). Akhirnya, sang guru mengizinkan Musa mengikutinya.

Perjalanan keduanya dilanjutkan ke suatu arah yang tidak jelas. Musa mulai melihat keraguan di dalam dirinya terhadap keabsahan gurunya. Seolah-olah ia ragu apakah ia tidak salah pilih guru.

Keduanya akhirnya berhenti di sebuah reruntuhan bangunan tua. Sang guru memintanya untuk membangun reruntuhan gedung ini. Musa dengan penuh semangat mengerjakannya dengan harapan mungkin di gedung inilah nanti akan mulai diajar, setelah sekian lama Musa belum pernah merasa diajar dari gurunya.

Alangkah kagetnya Musa setelah bangunan tua ini selesai dipugar lantainya, sang guru memintanya untuk meninggalkan tempat itu. Musa akhirnya bertanya untuk apa kita menghabiskan waktu dan energi membangun bangunan ini setelah selesai lalu ditinggalkan begitu saja.

Mendengarkan pertanyaan yang bernada protes ini, sang guru akan meninggalkan muridnya. Musa pun kelihatannya tidak keberatan karena yang diperoleh selama sekian lama hanyalah berbagai keanehan yang kontroversial.

Namun sebelum keduanya berpisah, sang guru sejenak memberikan penjelasan kepada muridnya. �Adapun bahtera itu adalah kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut, dan aku bertujuan merusakkan bahtera itu karena di hadapan mereka ada seorang raja yang merampas tiap-tiap bahtera.� (QS. Al-Kahfi: 79).

Sedangkan, pembunuhan anak kecil dijelaskan. �Dan kami menghendaki supaya Tuhan mereka mengganti bagi mereka dengan anak lain yang lebih baik kesuciannya dari anaknya itu, dan lebih dalam kasih sayangnya (kepada ibu bapaknya).� (QS. Al-Kahfi: 81).

Penjelasan terakhir mengenai pemugaran bangunan tua itu. �Adapun dinding rumah itu adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang saleh, maka Tuhanmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu sebagai rahmat dari Tuhanmu. Dan bukanlah aku melakukannya itu menurut kemauanku sendiri. Demikian itu adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya.� (QS. Al-Kahfi: 82).

Nabi Musa hanya bisa tercengang sesaat setelah gurunya meninggalkannya. Akhirnya Nabi Musa sadar bahwa pelajaran tidak mesti harus di dalam sebuah ruangan yang dilakukan dengan cara-cara pengajaran konvensional.

Belajar kearifan ternyata tidak mesti membutuhkan media yang lengkap. Pelajaran kearifan itu melekat di dalam pengalaman setiap derap langkah dan turun naiknya napas seorang anak manusia. Pengalaman hidup adalah guru kearifan paling sejati. Selamat belajar.

Sumber: Republika Newsroom

Selasa, 09 November 2010

Servanthood And What It Is
Maulana Shaykh Muhammad Nazim Al-Haqqani Al-Naqshbandi qs


9. Kenalilah Ego Kalian

Semoga Allah SWT tidak meninggalkan kita pada ego kita yang kotor. Waspadailah ego kalian. Dia merupakan musuh terbesar kalian yang memotong jalan kalian menuju Allah SWT. Dia berkata, �Layanilah aku, merunduklah padaku,� dan �tinggalkan segala kemauan dan keinginanmu kecuali yang ditujukan untukku. Akulah segalanya dan engkau adalah budakku.�Ibadah dan puasa adalah untuk mengenyahkan ego kalian. Untuk melemahkannya, kemudian lenyap. Karena selama ego kalian memberi perintah dan kalian mematuhinya, kalian tidak dapat meraih apapun dari Hadirat Ilahi. Hanya ada satu Sultan. Dan kalian pastilah hamba-Nya.

Thariqat adalah suatu pelatihan untuk mencapai akhlak yang baik. Kalian harus melupakan dan memerangi ego kalian, lalu terimalah dan bersuka cita dengan kemauan Tuhan kalian. Jangan pernah lalai dalam mengagungkan Tuhan kalian, kalau tidak kalian akan terbelenggu dengan ego kalian yang kotor itu (bagaikan singa dalam kurungan). Ingat untuk setiap saat kalian lalai, maka kalian hanya menerima kehancuran atau hukuman. Walaupun hanya sekejap, akan datang kutukan atas kalian. Semua orang amat ramah pada egonya. Mereka mengatakan, �Apa yang engkau perintahkan? wahai egoku, wahai sultanku. Apapun yang engkau inginkan, akan kusediakan bagimu. Apapun keinginanmu. Aku adalah hambamu dan engkau adalah sultanku.�Dan pada akhirnya ada mayat dengan bau yang teramat busuk.Ego itu adalah seorang dungu, tetapi dia memperkenalkan dirinya sebagai orang yang sangat berkuasa. Ego mengatakan, �Engkau harus mematuhiku, aku tidak suka sekutu apapun. Aku yang pertama dan juga yang terakhir bagimu. Semua kehormatan dan pujian harus diberikan kepadaku.�Kebanyakan manusia itu pemalas dan selalu menuruti egonya (yang paling malas di antara semua makhluk). Sosok fisik kalian tidak dapat meraih kebesaran dunia, tetapi lain halnya dengan sosok spiritual kalian. Dia dapat meraihnya, bila kita terus memberinya kata-kata surgawi.
Dari semula sejak Allah SWT menciptakan nafsu kita, Allah SWT berfirman, �Majulah,� dan sang ego malah mundur. Itu adalah tabiatnya yang tidak pernah menerima perintah Tuhannya. Allah SWT memberikan kehormatan pada manusia untuk menjadi hamba-Nya, tetapi ego selalu menghalangi kalian untuk menaati Tuhan kalian. Setiap Nabi telah membawa metode dari Allah SWT untuk melatih ego kita agar mengatakan, �Wahai Tuhanku, aku berserah pada-Mu.� Tetapi ego kalian mengatakan kepada Allah SWT, �Tidak!� dan ketika Allah SWT menanyakan ego kalian, �Siapa engkau?!� Ego menjawab, �Aku adalah aku, engkau adalah engkau. Engkau ya engkau, aku adalah diriku sendiri.� Jadi Tuhan Yang Mahakuasa memerintahkan agar dia dimasukkan ke dalam neraka panas selama 1000 tahun, lalu mengeluarkannya dan pertanyaan yang sama diajukan. Dia menjawab, �Engkau ya engkau, dan aku masih yang sama.� Lalu Tuhan memerintahkan agar dia dimasukkan ke dalam neraka dingin selama 1000 tahun, dan setelah itu Allah SWT bertanya lagi, �Siapakah engkau?� tetapi jawabannya masih tetap sama seperti sebelumnya.

Lalu ego dimasukkan ke dalam lembah kelaparan selama 1000 tahun, dan sekali lagi dia dipanggil dan ditanya, dan kali ini dia menjawab, �Engkau adalah Tuhanku, dan aku adalah hamba-Mu.�Ego selalu berkata, �Aku mempunyai sifat ketuhanan, tetapi ketuhanan hanya untuk Allah SWT. Kita semua adalah hamba, tetapi kita tidak pernah mengakuinya!Nabi e membawa perintah Allah SWT untuk berpuasa. Lalu ego muncul dan berkata, �Aku tidak akan mengaku lagi sebagai Tuhan di hadapan-Mu. Aku adalah hamba-Mu yang lemah dan Engkau adalah Tuhanku.�Barangsiapa tidak dapat mengendalikan dirinya adalah buruk sekali dan berbahaya. Berpuasa melatih kalian untuk mengontrol ego kalian. Sehingga dia akan mendengarkan kalian. Bila kalian mengatakan, �Kerjakanlah,� maka dia akan mengerjakannya. Atau bila kalian mengatakan, �Berhenti!�, ego akan berhenti. Oleh sebab itu, sejak awal hingga akhir puasa merupakan pilar terpenting dalam penghambaan. Tanpa puasa, tak seorang pun dapat menjadi hamba sejati, karena ego kalian selalu menang. Ego selalu memperalat kalian dan berkata, �Turuti aku.� Kendalikanlah diri kalian dan cobalah untuk mengendalikan ego kalian. Semoga Allah SWT mengampuni kita dan memberi kita kekuatan dan kemampuan untuk mengendalikan ego kita.

Bila Allah SWT memerintahkan kita untuk mengambil selembar bulu atau setangkai bunga lima kali sehari di dalam masjid atau dari suatu ruangan ke ruangan lainnya, ego akan tetap keberatan dan berkata, �Ini sulit,� dan �Apa gunanya?�Ego kalian membuat kalian ketakutan. Ego itu mengatakan, �Aku tidak dapat mengendalikan amarah.� Untuk menelannya pada awalnya memang sukar, tetapi bila kalian kukuh dengan niat kalian untuk menelannya, maka pada akhirnya kalian akan bahagia. Kalian akan berkata, �Betapa menyenangkan dapat menahan amarahku yang begitu merugikan.�Allah SWT meminta agar kita naik dari tingkat keduniaan ke tingkat Surgawi.

Ego menyukai keduniaan dan bukan hal-hal spiritual (seperti halnya malam hari tidak mendapat manfaat dari matahari).Palingkan badan kalian menghadap kiblat dan jiwa kalian menghadap langit (Allah SWT). Nikmat yang paling utama dari Allah SWT adalah bahwa kalian dapat memasuki Hadirat Ilahiah-Nya yang suci. Inilah puncak dari segala keinginan dan harapan kita. Mohonlah agar ego kalian dihilangkan bersama gangguannya. Berhentilah memohon kenikmatan duniawi.Allah SWT mengetahui bila kita menghabiskan kekuatan fisik kita untuk sesuatu yang bukan Dia, melainkan untuk kesenangan ego kita. Walaupun kita telah melakukannya seharian, ego kita tetap tidak merasa puas. Sebanyak kalian berbuat untuk ego kalian, sebanyak itulah beban yang kalian tanggung menjadi berat.Tak terhitung sudah kita berbuat untuk ego, namun dia berkata, �Ahh! Apa yang kau lakukan untukku?�Bahkan bila kalian bekerja 24 jam sehari untuk memuaskannya, tetap saja ego kalian berkata bahwa kalian seorang pemalas.Jika setiap orang memberikan Allah SWT sebanyak apa yang diberikan kepada egonya, maka mereka akan mengangkasa.

Kalian lebih dari sekedar budak bagi ego kalian, tetapi dia akan mengatakan bahwa kalian tidak peduli padanya. Adalah sangat penting untuk mengetahui bahwa ego kalian tidak akan pernah ridha atas diri kalian.Tetapi bila kalian melakukan hanya sebagian kecil dari apa yang kalian lakukan terhadap ego kalian, untuk Allah SWT, maka Dia akan memberi kalian kebahagiaan, kepuasan dan harapan melalui hati kalian; yang kemudian akan menyelimuti tubuh kalian. Itu berarti tubuh kalian tidak akan pernah mati atau menjadi debu. Di dalam kubur tidak pernah berbau busuk dan kalian akan sampai pada hari perhitungan dengan jasad yang utuh seperti ketika kalian masih hidup di dunia. Yang lain tidak akan mengalaminya. Akan terlihat siapa yang merupakan mukmin sejati dalam penghambaan terhadap Tuhannya dan siapa yang menghamba pada egonya. Barangsiapa yang menghabiskan kekuatan hidupnya untuk penghambaan Ilahi, dia akan dimuliakan.

Grandsyaikh mengatakan bahwa manusia biasanya memohon untuk mewujudkan diri sendiri atau menghilangkannya. Ini adalah ringkasan dari semua syari`ah (hukum surgawi). Perhatikanlah hal ini. Setiap orang melakukan salah satu di antaranya. Membuat egonya tumbuh lebih besar atau menghilangkannya. Mewujudkan keberadaan diri sendiri atau menghilangkan keberadaannya sendiri.Setiap ego senang mewujudkan keberadaannya dan menggunakan segala kesempatan untuk mewujudkan keberadaannya seraya berkata, �Aku di sini.� Pilihan lainnya adalah menghilangkan keberadaan diri sendiri. Tetapi kebanyakan orang, katakanlah 99 dari 100 orang ingin mewujudkan keberadaannya.Allah SWT mengharapkan hamba-hamba-Nya agar mereka menghilangkan keberadaan mereka (fana� al-Wujud).Kalian harus memilih antara keduanya.

Berada dengan kebinatangan kalian atau dengan Tuhan kalian. Barangsiapa yang mewujudkan egonya dapat terbuang bersama sampah. Dia tidak berguna. Menurut kalian, mengapa tak seorang pun yang datang ke thariqat?!Tinggallah bersama diri kalian sendiri. Tetapi kalian tidak dapat memasuki hadirat yang sejati.Quran:Sesungguhnya mereka yang takut pada Tuhan berada dalam Surga, dengan sungai-sungai yang mengalir, dalam keadaan ikhlas, dalam Hadirat Sang Raja Yang Mahakuasa.Innal muttaqiina fii jannaatiw wa naharin fii maq`adi shidqin `inda maliikim muqtadirAl-Muqtadhi, Yang Maha Berkuasa, Asma Allah SWT ini mempunyai makna yang tidak terjangkau, bahkan oleh seluruh Nabi, atau melalui kekuatan seluruh Awliya dan Jinn. Barangsiapa yang memanifestasikan dirinya di hadapan Syaikh, juga akan memanifestasikan dirinya di hadapan Rasulullah SAW, dan juga di hadapan Allah SWT, yang mana hal itu adalah tidak mungkin.

Di depan pintu, tak ada yang mengizinkan kalian masuk. Berapa banyak orang yang meninggal bersama egonya dan dikubur dengan kebinatangannya?Bila kalian setuju untuk meninggalkan ego kalian, Grandsyaikh akan mengatakan, �Selamat datang di thariqat kami.�Untuk memasuki hadirat Nabi-Nabi yang suci, kalian wajib meninggalkan ego kalian. Menurut kalian, untuk apa kalian berdzikir, menjaga awrad kalian, shalat di malam hari dan berpuasa di siang hari? Tetap saja Setan dan ego yang kotor menunggangi kalian di setiap langkah yang kalian ambil. Dia berkata, �Aku di sini, Aku di sini, Aku di sini.� Dengan demikian kalian berada di level terendah. Perwujudan (Itsbat) dan Menghilang (Ifna`)Murid harus memilih salah satu di antara keduanya. Bilamana dia meninggalkan egonya, dia akan bersama Syaikhnya, dengan Nabi Muhammad SAW dan bersama Allah SWT.

Pada manusia terdapat ego, nafs. Binatang juga mempunyai nafs, tetapi nafs mereka hanya untuk mengendalikan diri mereka sendiri dan keturunannya. Nafs binatang digunakan sebagai insting. Tanpa itu mereka tidak akan makan. Keinginan untuk makan, minum dan meneruskan spesiesnya berasal dari nafs.Nafs merupakan ujian bagi ummat manusia, agar mereka dapat meraih maqam yang tinggi, (atau tidak). Barangsiapa yang menentangnya, dia akan meraih maqam yang lebih tinggi. Ada sesuatu yang dapat diperoleh. Setiap orang hendaknya memohon lebih banyak kekuatan untuk menyelamatkan spiritualitas dan jiwanya dari kekangan egonya. Ego itu menyerang sosok spiritual kita dan tidak pernah membiarkannya agar mendapat dukungan surgawi atau untuk mencapai tingkat mukmin sejati. Oleh sebab itu setiap saat kita harus memohon dukungan, dan santapan bagi spiritualitas kita.Thariqat Naqsybandi kita tidak untuk setiap orang, karena tidak setiap orang dapat menjalankannya.Untuk menjadi seorang Naqsybandi, kalian harus memerangi dan menghancurkan ego kalian; dan menjadikannya nol.

Bila setiap orang mampu mengendalikan ego mereka, mereka akan dipanggil, �Mari, datanglah.�Orang yang tidak berakal memaksa pergi menemui Sultan dengan keledainya. Kalian tidak dapat melakukan hal itu! Kalian harus meniggalkan nafs kalian. Ketika kalian sudah dapat mengatakan bahwa keberadaan kalian telah lenyap, maka kalian boleh pergi. Jutaan orang mengaku bahwa mereka adalah Naqsybandi, tetapi bila kalian mengusiknya sedikit saja, mereka akan menendang kalian. Bila kalian mendekatinya dari belakang atau dari depan, mereka akan menendang dan menggigit! Jika kalian tidak meninggalkan keledai kalian, kalian tidak dapat menjadi Naqsybandi, yang mempunyai disiplin ketat, lain tidak. (jadi kalian belum berada di sana).

Bila kalian mewakili nafs kalian, tak ada yang dapat diambil dan kalian tidak lain akan dikirim ke kandang, bersama kuda dan keledai yang menghentak-hentakkan tanah dan menggerakkan kepala-kepala mereka. Janganlah menghantam orang lain. Jangan berdebat atau berkelahi dengan orang lain, atau mencampuri urusan orang lain. Kendalikanlah nafsu kalian sendiri dan jangan katakan bahwa kalian lebih baik daripada orang lain. Barangsiapa mengeluarkan kata-kata itu, maka tempatnya adalah di kandang.Kalian harus menerima semua orang. Macam apapun. Allah SWT telah menciptakan menurut Kehendak-Nya dan Dia dapat menciptakan setiap orang dengan cara apapun. Kalian harus menghormati Pencipta kalian dan menyukai apapun yang Dia ciptakan. Allah SWT menyukainya dan menciptakannya, jadi kalian harus berkata bahwa kalian juga menyukainya. Kalian harus mengendalikan nafs kalian. Kalian tidak tahu berhadapan dengan siapa dan rahasia-rahasia apa yang mereka miliki. Bila seseorang terikat pada nafs-nya, dengan mudah kita dapat melihat sisi buruk mereka. Tetapi lupakanlah, dan lihatlah mutiara di kedalamannya. Jangan hanya melihat sisi buruknya dan melihat realitas dari nafs.

Ingatlah mutiaranya.Jangan berkata bahwa kalian tidak suka pada seseorang. Bila kalian perhatikan dengan seksama, kalian mempunyai sifat-sifat yang sama. Allah SWT akan berfirman, �Engkau menolak hamba itu, padahal engkau mempunyai nilai-nilai yang sama.�Kalian menolak, tetapi bahkan kalian tidak dapat menghilangkan hal-hal yang sama itu dari diri kalian. Sibukkan diri dengan mencari kebaikan dalam setiap orang. Dengan demikian, jalan menuju Allah SWT menjadi semakin dekat dan lebih pendek. Kalian dapat mencapai-Nya. Pintu-pintu akan dibukakan untuk kalian. Bila tidak, kalian akan tetap bersama nafs kalian.Bila Allah SWT tidak memberi nilai pada orang itu, Dia tidak akan menciptakannya.Tidak baik untuk mencari keburukan seseorang dan membeberkannya. Hal ini tidak membuat kalian bebas dari nafs kalian. Jangan beranggapan bahwa kalian lebih berharga di hadapan Allah SWT.Semua orang berseteru, tidak menyukai satu sama lain, cemburu pada orang lain, atau saling bermusuhan.

Padahal mereka semua sama saja.Jangan biarkan nafs kalian memimpin. Mereka akan menjerumuskan kalian ke dalam got untuk menjadi tikus. Semua Nabi mengundang orang agar menjalani hidup yang bersih dan terhormat. Nafsu kalian seperti tikus yang berkata, �Apa yang kami lakukan dalam air yang bersih? Tempat kami di comberan.�Masyarakat abad ke dua puluh menentang para Nabi, khususnya pada Nabi yang terakhir, karena beliau mengundang orang ke perairan yang bersih.Semua orang menganggap dirinya berada di atas, tidak berpijak pada tanah. Mereka mengklaim, �Aku lebih tinggi daripada kalian.� Lalu yang lain mengatakan, �Tidak, aku yang lebih tinggi daripada kamu.� Keduanya bicara melalui egonya saja. Dan manusia di dunia ini saling berkompetisi di antara mereka sendiri, agar lebih tinggi dalam urusan duniawi. Allah SWT sama sekali tidak suka akan hal ini. Tidak. Dia suka bila kita saling berlomba untuk mendekatkan diri dengan Hadirat-Nya.Kehidupan sederhana memuaskan jiwa kita.Kita hendaknya berbahagia dapat tidur di atas lantai. Kita hendaknya berbahagia dalam kebersamaan.

Kita hendaknya berbahagia bisa berjalan. Dan kita hendaknya juga berbahagia dengan apa yang kita lihat pada orang lain. Saya berusaha untuk mengubah kekuatan dari ego kalian menjadi kekuatan spiritual kalian. Pada dasarnya ego kita bukan untuk merugikan diri kita sendiri. Bukan. Ego itu bagaikan suatu kabel listrik telanjang. Dia dapat melukai kalian. Kalian tidak dapat menyentuhnya atau menggunakannya. Karena itu kalian kehilangan kesempatan yang telah diberikan oleh Tuhan Yang Mahakuasa. Bila kabel itu diberi pelindung, kalian dapat menyentuh kabel itu. Jika kalian bertanya, �Mengapa kawat yang berbahaya itu ada di dalam?� dan bila kalian mengeluarkan kawat itu dari plastik pembungkusnya maka kawat itu tidak berguna lagi dan kalian telah kehilangan daya yang besar itu. Ego kita adalah anugerah yang besar dari Allah SWT.

Nabi Muhammad SAW pernah bersabda bahwa ego itu merupakan kuda yang dapat kalian tunggangi ke manapun kalian ingin pergi. Dia dapat membawa kalian ke titik ambang tertinggi dari penciptaan, tetapi kalian bertanya, �Mengapa kita diberi ego?�Bila kita tidak mempunyai ego, kita akan seperti malaikat. Tetapi Tuhan Yang Mahakuasa menciptakan suatu makhluk baru yang 100% berbeda dengan para malaikat (untuk alasan, maksud dan kebijaksanaan tertentu). Jadi Dia menciptakan Adam AS dan memberinya ego. Bila Nabi Adam AS tidak diberi ego, dia akan tetap seperti malaikat. Dan tanpa ego, tanpa kuda itu, kalian tidak dapat meraih kehormatan yang telah dianugerahkan oleh Allah SWT kepada makhluk yang mempunyai ego. Itulah suatu kebijaksanaan besar yang hendaknya dipahami.Allah SWT berfirman, �Gunakan ego kalian dan datanglah kepada-Ku.�Ketika Abu Yazid al-Bistami k sampai pada Hadirat Ilahi dan mohon agar dapat masuk, Allah SWT berkata, �Wahai Abu Yazid k, tinggalkan egomu dan datanglah kepada-Ku.� Ini berarti bahwa tujuan dari pemberian ego itu adalah agar kalian dapat meraih tingkat tertinggi dari tingkat terendah. Bagai pesawat yang terbang membawa seseorang ke tempat yang ingin dituju.

Dan bila pesawat terbang itu membawa kalian ke Jerman, kalian tidak dapat meminta agar pesawat itu membawa kalian ke tempat tidur. Tidak bisa! Pesawat itu berkata bahwa kalian harus turun dan berjalan ke sana. Pesawat itu berkata, �Aku tidak dapat melakukannya. Batasku berakhir di sini. Pergilah dan tinggalkan aku.� Jadi setiap orang yang ingin sampai ke Hadirat Ilahi harus menggunakan egonya sebagai tunggangannya. Tetapi bila kalian memohon untuk memasuki Hadirat Ilahi Rabbi, maka Dia akan berkata, �Tinggalkan kudamu di luar, lalu masuklah.�Kuda itu ibarat ego kalian. Kalian tidak dapat memasuki istana kerajaan untuk menghadap Raja dengan kuda kalian. Tidak bisa! Bila kalian dapat menggunakan ego kalian, maka ego itu bisa menjadi hamba kalian untuk mencapai Hadirat Ilahi. Ketika sudah sampai, keberadaannya tidak penting lagi dan kalian dapat menyuruhnya untuk kembali. (Seperti pesawat yang akan membawa penumpang yang baru). Ego merupakan makhluk yang paling liar dan lalai yang pernah diciptakan. Dia memiliki sifat-sifat yang paling buruk, yang mewakili seluruh binatang dalam dirinya.

Binatang yang hidup dekat dengan manusia dan binatang dari hutan rimba serta binatang buas dan menakutkan lainnya. Sifat-sifat mereka semuanya disatukan dan diberikan kepada ego kita. Tidak ada makhluk yang lebih kuat daripada ego, namun tak ada makhluk yang lebih berguna dibandingkan ego kita. Ego itu dapat membawa kita dari tingkat terendah ke tingkat tertinggi. Ya, dia memang sangat berbahaya dan kuat; dan pekerjaannya sangat penting. Tak ada sarana lain yang dapat membawa ummat manusia dari tingkat terendah ke tingkat yang paling tinggi. Allah SWT telah menciptakan ego dan memberikannya kepada manusia. Tetapi Allah SWT tidak pernah menciptakan sesuatu tanpa kebijaksanaan. Allah SWT berfirman, �Aku telah menciptakan anak-anak Adam AS agar menjadi kalifah-Ku.� Kalian tahu bahwa seorang sultan di antara bala tentaranya akan menunggangi kuda yang terbaik, tercepat dan terkuat (bukan yang tua atau kuda betina).

Karena dia memang sultan. Dan Allah SWT telah memberikan kalifah-Nya, anak-anak Adam AS, tunggangan yang paling kuat dan penting. Dia menempatkannya pada tingkat yang paling rendah, yaitu di bumi dan Dia berfirman, �Datanglah pada-Ku.�Inilah sebabnya Nabi Muhammad SAW bersabda, �Egomu adalah tungganganmu.� Cukuplah kebijaksanaan ini bagi seluruh ummat manusia untuk memahami diri mereka sendiri. Tetapi ternyata manusia tidak pernah paham, sehingga mereka terhempas ke bawah tingkat terendah. Mereka hanya mengerti caranya makan, minum, dan bersenang-senang. Tidak ada yang mengerti. Tidaklah tunggangan terpenting itu diberikan kepada kalian hanya untuk makan, minum dan bersenang-senang belaka. Tidak! Sang Sultan menginginkan agar kalian menungganginya dan datang ke Hadirat-Nya.Itulah masalah terbesar dalam kehidupan ummat manusia.Semua orang ditunggangi kuda mereka.

Memanjakannya dengan makan, minum dan bersenang-senang. Sebanyak-banyaknya! Namun tak seorang pun memohon untuk menungganginya, dan datang ke Hadirat-Nya. Barangkali di antara sepuluh ribu orang, hanya satu yang memahami kebijaksanaan ego tersebut. Rasulullah SAW mengendarai tunggangan surgawinya, yaitu Buraq pada peristiwa isra mi�raj. Ketika beliau sampai di Hadirat Ilahi, beliau bertanya pada malaikat Jibril u, �Adakah tunggangan semacam ini bagi ummatku?�Jibril u menjawab, �Ya. Dan bila mereka mengendarainya, mereka bisa datang dan mencapai apa yang sedang engkau capai.�Jadi yang berbahaya dan sangat kuat itu, ego kita, adalah Buraq kita. Tetapi orang-orang tidak memahaminya dan mereka tidak menggunakannya.Semua Nabi telah memanggil orang-orang ke arah ini. Mengertikah kalian?!Itulah pintu gerbang ke semua kebijaksanaan. Kalian dapat memasukinya dan meraih semua daya. Jika tidak, kalian akan tetap tinggal di bawah supremasi ego kalian yang akan menghancurkan kalian dan pada akhirnya menjadikan kalian debu di pemakaman. Namun para ksatria itu, yang menunggangi kuda mereka melalui pemakaman, bumi pun tidak akan menghancurkan mereka dan mereka akan tiba di Hari Perhitungan dengan jasad yang sama yang akan bercahaya laksana matahari.

Barangsiapa yang menggunakan akalnya akan mencapai maqam itu. Mengapa harus menunggu?! Sang Sultan memelihara kalian. Mengapa tidak mempersiapkan diri kalian untuk Hadirat-Nya?Allah SWT mendengar semuanya dan Dia melihat dan mengetahui siapa kalian dan apa niat atau maksud kalian. Pada saat kalian memohon atau menolak. Dia paham bahwa ego kalian mengklaim sebagai yang nomor satu dari semua makhluk dan dia ingin agar semua perintahnya dituruti. Itulah rahasia dari realitas ego kalian yang tersembunyi bila ego berkata, �Mengapa ini terjadi?� Artinya bahwa hamba ini meminta ketuhanan baginya. Ego tidak bahagia dengan ke-Ilahian Allah SWT dia percaya bahwa dia dapat berpikir dengan lebih sempurna. Dia berkata, �Menurut aku, apa yang aku pikirkan dalam situasi tersebut lebih baik daripada apa yang terjadi.� Astaghfirullah!Barangsiapa yagn selalu menyalahkan orang lain, tidak pernah menyukai tindakan dan sifat-sifat orang lain, merupakan budak dari ego mereka. Barangsiapa memohon jalan menuju kesempurnaan harus mulai dengan menyalahkan diri sendiri (berintrospeksi), meneliti kekurangan-kekurangan sendiri tanpa memperhatikan ketidaksempurnaan orang lain.

Hanya orang yang tidak sempurnalah yang akan melihat ketidaksempurnaan di sekelilingnya.Barangsiapa yang memiliki ketidaksempurnaan, selalu melihat ketidaksempurnaan dalam diri orang lain kecuali dalam dirinya sendiri. Itu yang dinamakan mementingkan diri sendiri.Kalian harus berusaha untuk memperbaiki diri kalian sendiri. Bila kalian telah memperbaiki diri dan mencapai kesempurnaan, kalian hanya akan menyalahkan diri sendiri. (ego kalian, atau nafs kalian).Kita berharap tidak hidup untuk kesenangan sendiri tetapi untuk keridhaan Allah SWT. Kita ingin hidup untuk Allah SWT, bukan untuk ego kita. Tidak! Kalau aku ingin hidup untuk egoku lebih baik aku mati. Tetapi bila hidup untuk Allah SWT, aku ingin hidup (untuk selamanya). Mohonlah selalu perlindungan terhadap ego kalian. Kita telah diciptakan sebagai makhluk lemah dan ego kita membawa kita sesukanya. Ego dalam jasad setiap orang mewakili Setan.

Ketika meninggalkan masa kanak-kanak, menjadi dewasa, Tuhan Yang Mahakuasa berfirman, �Sekarang jadilah engkau hamba-Ku. Ikutilah Aku!� Tetapi Setan mengatakan, �Jangan ikuti Dia.� Dan dia mempunyai lebih banyak kesempatan karena dia menyapa hasrat ragawi kalian dan berkata, �Kamu akan memenuhi semua keinginanmu yang tanpa batas itu. Jangan dengarkan mereka yang berkata, �Jangan lakukan ini atau itu,� Aku katakan, kebebasan mutlak ada di tanganmu! Hingga engkau mati.�Musuh terbesar kalian adalah Setan dan wakilnya melalui diri kalian sendiri, yaitu ego kalian. Waspadailah Setan. Waspadailah ego kalian.Setan meminta kita untuk mencampuradukkan pemikiran yang baik dan inspirasi-inspirasi yang datang pada hati kita. Ketika kita ingin melakukan sesuatu yang baik, Setan ingin menghancurkannya agar tidak bermanfaat (atau meningkatkan tingkat perkembangan kita yang tidak berbatas).

Setan membuat kalian melanggar syari�ah. Setan menipu kalian berulang kali, tetapi kalian mengatakan hal itu tidak terjadi. Terlalu! Kalian berkata, �Aku baik-baik saja. Sempurna!� Astaghfirullah!Dalam setiap langkah selalu ada halangan yang mencegah kalian untuk mencapai kebenaran. Dan bilamana sukar untuk mencapai kebenaran, Setan dengan cepat menemukan jalan untuk menipu kalian (dengan hal-hal palsu, bentuk-bentuk atau rekaan pikiran). Dia mengajarkan orang-orang dan berkata, �Inilah kebenaran.�Jika tidak memutuskan belenggu hasrat, maka kita selalu akan menjadi budak. Jika kalian menjadi budak ego kalian, maka dengan sendirinya kalian menjadi budak dunia, Setan dan hawa nafsu kalian. Tidak hanya untuk ego, karena semuanya saling berkaitan. Kalau salah satunya merangkul kalian sebagai budak, maka kalian menjadi budak untuk semuanya.

Bila kalian bebas dan selamat, maka kalian tidak dapat ditipu oleh Setan dan kalian tidak akan lengah agar tidak terperangkap dengan ego kalian. Ketika kalian mengucapkan, �A`uudzubillaahi minasy-syaythaanir rajiim,� berarti kalian sungguh-sungguh memohon perlindungan dari Allah SWT.

Rabu, 27 Oktober 2010

Servanthood And What It Is
Maulana Shaykh Muhammad Nazim Al-Haqqani Al-Naqshbandi qs


5. Bersama Allah SWT

Jangan biarkan pikiran kalian disibukkan dengan urusan dunia. Tetaplah bersama Allah SWT. Pemikiran kalian dan segalanya dari diri kalian.Kalian adalah seorang manusia. Makhluk tertinggi dan yang paling berharga di antara semua makhluk. Kehormatan hanya bagi mereka yang mengabdi dan mereka akan banyak dikejar agar mereka berpaling dan melenceng dari arah yang dituju. Hanya itu yang dapat mereka lakukan. Mereka tidak dapat merenggut jiwa kalian. Mereka mungkin dapat meraih jasad ragawi kalian, lalu merenggutnya; namun mereka tidak dapat menyentuh Iman dalam hati kalian. Kalau tidak bersama Allah SWT, maka hati kalian bersama dunia.

Mereka tidak dapat mendekati kalian. Allah SWT akan melindungi kalian dan mereka tidak dapat menyentuh kalian. Bila hati kalian bersama Allah SWT, maka gerakan jasad ragawi kalian tidak pernah akan membahayakan kalian. Tidak pernah!Kita tidak dapat membayangkan diri kita secara fisik dekat dengan Allah SWT, tetapi bila kalian menjaga agar hati kalian selalu bersama Allah SWT, maka kalian akan dekat dengan Hadirat-Nya. Jiwa kalian akan membawa jasad kalian ke Hadirat Ilahi. Tetapi bila kalian menuruti hasrat fisik kalian, jiwa kalian tidak dapat membawa kalian ke Hadirat Ilahi.Mereka yang benar-benar hidup, hidup bersama Allah SWT. Paling tidak kalau kita shalat, kita harus mencoba dekat dengan Allah SWT. Lalu berkah akan menyebar setelah shalat dan berkah itu akan menemani semua amal kita selama 24 jam. Kehormatan itu adalah untuk orang yang hidup. Kita bersumpah pada hari perjanjian di hadapan Allah SWT, bahwa kita selalu akan bersama-Nya dan tidak meninggalkan-Nya. Tetapi begitu kita tiba di sini, kita meninggalkan-Nya.Kehormatan bagi orang yang beriman bergantung pada cahaya mereka. Tingkat dan kedekatan mereka dengan Allah SWT di dunia dan di akhirat nanti tergantung pada hal itu. Jadi kita hendaknya selalu mencari Nuur.Tidak sekejap pun Nabi Muhammad SAW tidak berada bersama Allah SWT. Bila bukan dengan Allah SWT, lalu harus dekat dengan siapa? Hal apa yang lebih penting daripada selalu bersama Allah SWT? Apakah ada kehormatan yang lebih tinggi daripada duduk bersama Allah SWT? Dan Dia berfirman, Hadits Qudsi:�Aku bersama (mereka) yang selalu ingat kepada-Ku�Bila kalian bersama Allah SWT, Allah SWT akan bersama kalian. Dan inilah yang Dia minta dari kalian. Katakanlah, �Wahai Tuhan kami, Engkaulah tujuan kami.�Seseorang yang berniat bepergian selalu mempunyai tujuan. Tujuan itu pastilah untuk mencapai Samudera Kesatuan. Semua kesukaran dan masalah muncul karena kita jauh dari Allah SWT. Orang yang jauh dari Allah SWT, tidaklah bersama Allah SWT. Sebab-sebab dari kesukaran, dosa, depresi, kecemasan, bahaya di dunia dan di akhirat terjadi karena kita jauh dari Allah SWT.

Barangsiapa yang mencapai Samudera Kesatuan, berarti dia telah bersama Allah SWT. Bagai setetes air yang jatuh makin mendekati samudera dan bila memasukinya tidak ada yang tersisa.Semua masalah dan keluhan disebabkan karena kita jauh dari Allah SWT.Semua jalan Sufi, terutama Thariqat Naqsybandi ingin menganjurkan agar manusia selalu memohon untuk bersama Allah SWT. Allah SWT bersama kalian, tetapi kalian tidak selalu bersama-Nya. Allah SWT tidak lupa pada kalian. Dia bersama kalian di manapun kalian berada. Juga di Alam Barzakh atau di Surga. Tak ada suatu tempat pun di mana Allah SWT tidak bersama hamba-hamba-Nya. Saat-saat bersama Allah SWT adalah saat yang paling berharga dan tak terkira nilainya. Selalu bersama Allah SWT. Di mana Allah SWT? Allah SWT Sang Pencipta. Keberadaan-Nya adalah abadi. Tak berawal dan tak berakhir. Tak ada yang dapat menyerupai-Nya.

Dia satu-satnya. �Di mana Dia?� Kalian tidak dapat bertanya. Tetapi kalian dapat menanyakan, �Di mana Dia tidak berada?� Apakah kalian dapat menemukan suatu tempat tanpa Allah SWT? Keberadaan mutlak hanyalah untuk Allah SWT semata. Keberadaan-Nya memenuhi semua ruang. Di mana saja. Apakah kalian mengetahuinya, atau tidak?Dia berada dalam bagian terkecil suatu benda. Walaupun lebih kecil daripada sebuah atom, Dia tetap bersamanya. Kalau tidak, itu berarti benda itu tidak ada. Allah SWT pastilah bersama apa yang telah Dia ciptakan. Oleh karena itu mohonlah pada-Nya.Dia tidak jauh dari kalian, mungkin kalian sendiri jauh dari diri kalian. Karena kalian tidak mengenal diri kalian sendiri secara fisik maupun spiritual. Tak seorang pun dapat mengetahui identitas pribadinya dan tak seorang pun tahu egonya seperti apa.

Dan sosok spiritual kalian pun bersembunyi dari diri kalian. Untuk menemukan identitas kalian yang tersembunyi merupakan suatu pekerjaan sulit dan memakan waktu; harus dilakukan dengan sabar, langkah demi langkah. Allah SWT bersuka cita bila hamba-Nya menangis, menjerit dan memohon pada-Nya selalu. Allah SWT senang bila kita seperti singa. Barangsiapa bersama Tuhannya akan seperti singa. Barangsiapa bersama egonya adalah ibarat serigala yang merupakan binatang kotor dan berbahaya. Singa adalah raja rimba. Bila dia mengaum semua makhluk takut. Singa tidak pernah takut. Semua binatang hidup berkelompok, tetapi singa hidup sendiri. Dia tidak mengizinkan makhluk lain berada di kawasannya. Aaaum!!


6. Kenalilah Allah SWT

Mohonlah diberi pengetahuan tentang Allah SWT. Hal tersebut adalah pengetahuan yang tersembunyi. Bukan tentang dunia dan segala isinya, bukan pula tentang kehidupan yang fana ini. Pengetahuan tentang Allah SWT yang diizinkan untuk kalian ketahui, bukanlah tentang Zat-Nya. Tidak, kalian tidak diizinkan untuk mengetahuinya dan kalian juga tidak dapat mendekatinya. Atau mengetahui tentang Sifat-Sifat Ilahiah-Nya. Semua yang ada adalah milik salah satu Asma itu. Setiap Asma suci adalah ibarat sebuah samudera dan dari sanalah kalian dapat mencapai Allah SWT. Kalian dapat menggunakan kekuatan kalian untuk memahami apa yang diciptakan oleh Allah SWT, lalu mewujudkannya. Dari ciptaan Allah SWT, kalian dapat mencoba mendekatinya sampai kalian menemukan jalan untuk memahami sesuatu. Dan apa yang kalian ketahui akan menjadi sebuah samudera yang dapat kalian arungi hingga mencapai keabadian.

Karenanya kita memohon ilmu yang dapat membawa kita lebih dekat dengan Hadirat Ilahi. Tujuan utama dari keberadaan kita adalah untuk mencapai kehidupan sejati dan ke akar keberadaan kita. Untuk mengambil kekuatan dari rahasia-rahasia kehidupan abadi sehingga nampaklah daun-daun, bunga-bunga dan buah-buahan melalui diri kita. Merupakan suatu pengetahuan bahwa Allah SWT itu Subhan dan bahwa Dia Sulthan.Allah SWT berfirman bahwa tak sesuatu pun diciptakan tanpa alasan dan tujuan. Tidak ada yang sia-sia. Semuanya yang ada, sekecil apapun diketahui dan ada dalam jangkauan Sang Pencipta dan diberi makna. Adalah hal yang bodoh untuk menyangkalnya. Jadi bagaimana dengan kalian? Allah SWT memberi petunjuk pada segalanya, merancangnya dan mewujudkannya. Tidak terhitung rancangannya. Benak kalian tidak akan mampu memuatnya. Tidak mungkin mencapai kesempurnaan, kebijaksanaan, pengetahuan, kekuatan atau kemampuan Sang Pencipta. Laa ilaha illallaahSang Pencipta berfirman, �Datang dan Jadilah! Datang dan tunjukkan diri kalian dan ucapkanlah, Subhanallaah!� Atom terkecil mendengarnya dan patuh. Dan setiap atom atau elektron dianugerahi kemuliaan yang berbeda, karena masing-masing mempunyai kepribadian tersendiri yang khas. Kalian berbeda dengan yang lainnya, demikian pula sebaliknya. Cara mereka bertasbih terhadap Tuhan mereka juga unik. Allaahu Akbar! Merupakan suatu kebodohan tidak menggunakan pikiran kalian untuk memikirikan hal-hal seperti itu. Kita diperintahkan untuk menggunakan akal kita.

Semakin memperdalamnya, kalian akan menemukan samudera kebijaksanaan yang lebih besar, kekuatan yang tidak terbatas. Semoga Tuhan kita memberikan kesempatan pada kita untuk merenungkan hal-hal tersebut. Ini dapat membimbing kita menuju kemegahan yang tidak terbatas dan samudera kekuatan. Kasihanilah orang-orang yang hanya hidup dan memikirkan perutnya saja, tidak pernah memikirkan hal-hal yang lain. Jadi benak mereka tidak memberi kesempatan pada hatinya untuk mengabdi pada Tuhan mereka, Allah SWT.Kebanyakan orang setingkat dengan binatang, mungkin lebih rendah, karena binatang pun bertasbih pada Allah SWT.

Grandsyaikh mengatakan, �Sekecil apapun suatu materi pastilah mempunyai nama, kalau memang memiliki kepribadian.� Sama halnya bahwa setiap orang di kota mempunyai nomor telepon yang berbeda-beda. Setiap atom mempunyai nama tersendiri bagi sifat-sifatnya, yang mana digunakan untuk mengagungkan Penciptanya.Kita tertidur, mabuk dunia dan mabuk isi perut. Mana ada waktu bagi kita untuk merenungkan hal-hal tersebut. Allah SWT tetap sama, dahulu maupun sekarang. Tidak ada (istilah) sebelum bagi Allah SWT dan tidak pula setelah.Allah SWT memerintahkan kita, �Jangan memikirkan Aku. Kalian tidak sanggup. Kalian dilarang untuk mencoba atau memikirkan bagaimana wujud-Ku. Jangan! Hal tersebut terlarang. Kalian boleh memikirkan apa yang Aku ciptakan.� Paling tidak pikirkanlah tentang diri kalian sendiri.

Sekarang kalian bagaikan salah satu piramida batu di Mesir. Orang melihatnya dan berpikir bahwa piramida itu hanya bangunan yang dibangun dari batu tanpa pintu dan jendela. �Mustahil! Untuk apa? Tak ada pintu atau lubang!?� Tetapi akan tiba waktunya manusia akan berpikir keras dan mereka akan berkata, �Kita harus menelitinya untuk mengetahui maknanya.� Lalu bila mereka telah memperdalamnya, maka Tuhan Yang Mahakuasa akan membuka kesempatan untuk menemukan jalan masuknya. Sekarang kalian ibarat piramida tadi. Kalian beranggapan bahwa kalian tidak mempunyai gerbang, lubang atau jalan menuju ke Surga. Kalian menganggapnya hanya seperti bangunan batu di atas bumi. Berlari, datang, dan pergi; makan, minum dan setelah itu selesai. Tetapi Tuhan Yang Mahakuasa berfirman bahwa bila kalian dengan tekun mencari jalan dari diri kalian menuju diri kalian, kalian akan menemukannya.

Bila Allah SWT membukannya, kalian pasti akan menemui jalan Tuhan kalian. Tetapi bila kalian tidak membuka diri dan memahami, maka kalian tidak akan menemukan jalan menuju Tuhan kalian. (Atau mengenal-Nya).Gerbang menuju Tuhan kalian adalah melalui diri kalian sendiri. Kalianlah pintu yang harus kalian buka, lalu kalian akan menemukan Hadirat Ilahi Tuhan kalian. Berbahagialah dan berbangga hatilah dengan keberadaan kalian. Hal tersebut merupakan kesempatan yang paling besar. Bila Dia tidak menciptakan kita, maka kita tidak akan dapat memahami tentang keberadaan kita. Subhanallaah!Dia memerintahkan agar kita dibuat dari tanah. Kalian tidak dapat membayangkannya! Kalian dapat membuat patung atau gambar dari laki-laki, perempuan atau binatang. Mudah! Tetapi untuk memberi seekor singa ciri khasnya, mungkinkah? Hanya kalau diberi sifat itu kalian dapat mengatakan bahwa itu benar-benar seekor singa.

Kalian tidak dapat mengatakan bahwa itu keledai. Tuhan menciptakan ciri khas untuk bentuk seekor keledai. Sehingga kalian dapat mengatakan bahwa bentuk seperti itu memang seekor keledai, tidak dapat disebut harimau. Sang Pencipta menciptakan bentuk, lalu memberikan ciri khas pada bentuk itu. Kalian tidak dapat memberikan ciri khas seekor macan kepada keledai. Camkanlah hal penting ini. Semua itu terjadi karena Keagungan Allah SWT. Menciptakan dan memberi ciri khasnya. Sebagai singa, anjing, banteng, sebagai serigala, beruang atau sebagai macan. Dia memberikan ciri khas pada setiap makhluk yang diciptakannya. Bila ciri khas itu tidak diberikan kepada bentuk singa, maka bentuk itu bukan singa. Itu hanya merupakan bentukan saja, kumpulan materi. Kalian dapat melihat bentuk, tetapi bukan seekor singa. Untuk memberikan ciri khas pada singa hanya dapat dilakukan oleh-Nya, Sang Pencipta. Demikian pula Allah SWT menciptakan manusia. Allah SWT telah memberikan ciri khas kepada berjuta-juta makhluk.

Dia anugerahkan setiap manusia ciri khas yang berbeda-beda agar kalian bukan Jamaludin dan kalian tidak dapat berkata bahwa dia si Farhat atau si Nabil. Lalu Allah SWT memberi ciri khas kepada bangsa-bangsa: Jerman suatu ciri khas, pada bangsa Arab ciri khas yang lainnya. Orang dari Indonesia akan mengatakan, �Aku bukan orang Malaysia, aku orang Indonesia.� Dan orang Australia akan menolak kalau dikatakan bahwa mereka orang Selandia Baru. Setiap bangsa telah dianugerahi ciri khas mereka dan mereka bahagia akan hal tersebut. (Jadi renungkanlah Kebesaran Tuhan kita).Quran: Dia menciptakan setiap makhluk�Khaliqu kulli syay-inDan ketika semut berlarian ke kanan atau ke kiri, ketahuilah bahwa setiap semut telah diarahkan, pasti! Kalian tidak dapat melangkahkan kaki kalian selangkah pun tanpa diarahkan menuju suatu tujuan.

Oleh karena itu, seorang mukmin yang sempurna akan menyatakan, �Wahai Tuhan kami, Engkau demikian agung. Engkau tidak tertandingi. Hanya Engkau, tak ada yang seperti-Mu, segala Keesaan dan Kebesaran bagi-Mu.�Kalian tidak tahu berapa ciri khas yang dimiliki seekor semut. Dan kesemuanya menyatu dalam diri seekor semut. Dan kalian akan menemukan berbagai macam semut di berbagai belahan dunia. Dan setiap semut berbeda satu dengan yang lainnya. Ada sebuah seruan dari Rasulullah SAW: Kalian harus mencoba memahami ciptaan-ciptaan Tuhan kalian. Tentang sifat dan ciri khas mereka. Janganlah kalian mencoba memahami Zat Allah SWT.

Setiap Mahkluk dianugerahi ciri khas dan kemampuan yang akan menjadi kenyataan dalam dirinya. Allaahu Akbar! Semoga Allah SWT menganugerahkan kita sesuatu dari Cahaya-Nya. Karena bila seseorang jatuh ke dalam kegelapan, dia tidak mengetahui apa-apa yang mengelilinginya. Dengan cahaya, maka dia dapat melihat apa yang ada di sekelilingnya. Kalian harus menggunakan akal kalian untuk memahami Kekuasaan Allah SWT yang tidak terbatas, Kemampuan-Nya yang tidak terbatas dan Kehendak-Nya yang tidak terbatas untuk berbuat sesuai Kehendak-Nya. Ikutilah Dia melalui jalan hamba yang paling dicintai-Nya. Bilamana kita menuruti kehormatan kata-kata Sayyidina Muhammad SAW kita mungkin dapat memahami sesuatu dan hati kalian pasti dibukakan. Anugerah Allah SWT selalu bertambah. Bukan untuk-Nya, melainkan untuk hamba-hamba-Nya. Dan penciptaan berlangsung terus-menerus. Tetapi Kerajaan-Nya milik tunggal-Nya, merupakan harta karun yang tak mungkin dipahami. Allah SWT sekarang pun tetap seperti sedia kala.Yang diciptakan selalu bertanya, �Apakah masih ada lagi?� Dan Sang Pencipta akan menjawab, �Masih banyak lagi.�Bilamana kalian akan membagi sedetik menjadi 4 bagian atau menjadi ribuan atau jutaan bagian, maka di antara dua bagian selalu ada waktu.

Benak kalian dapat menerima bahwa kalian membaginya menjadi ratusan bagian atau juga dapat mencapai jutaan bagian. Hal ini berarti bahwa masih dapat dibagi dalam triliyun. Ada rahasia di sini. Dan tidak ada yang tahu sejak dahulu kala, jumlah setiap bagian yang ada di antara bagian-bagian lain yang di antaranya ada waktu. Dan setiap waktu itu mengandung suatu kewajiban yang satu dengan yang lainnya berbeda. Pikiran itu statis dan tidak dapat bergerak. Tetapi jiwa itu mengalir dan bergerak. Jiwa itu dapat masuk. Jiwa itu dapat dikemas tetapi tidak demikian dengan akal. Akal bekerja di muka bumi, bukan untuk alam malakut. Hanya sedikit orang yang dapat mencapai sisi jiwa di mana tidak ada kecemasan. Jangan beranggapan bahwa darah satu orang sama dengan darah orang lain. Tidak! Apa yang ada di dalam seseorang hanya satu.

Para dokter berkata, �mirip� dan �anda dapat menggunakannya.� Tetapi jangan beranggapan bahwa darah itu 100% cocok untuk orang lain. Tidak, tidak mungkin. Setiap orang hanya satu. Allah SWT tidak pernah membuat duplikat. Tidak! Salah satu Asma suci Allah SWT adalah al-Mubdi`u, yang berarti Dia menciptakan dan ciptaan itu hanya satu dan unik. Tidak ada dua yang sama. Nama yang suci itu memberikan ciri yang khas. Janganlah beranggapan bahwa Tuhan Yang Mahakuasa menciptakan sesuatu seperti sebuah pabrik. Tidak!Pembuluh darah di dalam badan kita, dan sistem saraf kita, bagaimana dipertahankan? Dan siapa yang mengaturnya? Bagaimana aku ada dan hidup? Bagaimana sistem pernafasan bekerja? Dan sistem pencernaanya? Bagaimana mataku dapat melihat? Siapa yang merancang telinga kita pada tempatnya, dan bukan di atas kepala? Bagaimana kalian bertanya? Bagaimana Allah SWT? Lebih baik tanyakanlah, �Bagaimana aku?� Bagaimana organ luar dan organ dalamku dirancang? Ribuan pertanyaan, bagaimana? Setanlah yang membuat orang mengajukan pertanyaan yang tak patut seperti itu. Kalian tidak dapat membayangkan keabadian. Manusia menggunakan akal mereka dengan cara yang tidak selamat. Sadarlah akan keterbatasan kalian. Janganlah angkuh. Kalian di sini untuk belajar sesuatu yang termasuk keabadian. Janganlah mencoba mempelajari apa yang ada di sekeliling kalian.

Pelajarilah Sang Perancangnya. Perenungan satu jam sama nilainya dengan ibadah tujuh puluh tahun.Hadits: Pergilah ke negri Cina untuk menuntut ilmu. Dengan kata-kata ini, Rasulullah SAW tidak memaksudkan untuk mencari pengetahuan biasa yang dapat ditemukan di mana saja. Tidak! Yang Nabi e maksud adalah pengetahuan yang tersembunyi dan rahasia pengetahuan yang bukan untuk sembarang orang pula. (Pada waktu itu negeri Cina adalah negeri yang terjauh dan tidak dikenal).Untuk pengetahuan seperti itu kalian harus bertanya pada seseorang yang mengetahui. Pergilah kepada orang itu.Quran: Ikutilah dia yang telah mengorbankan hidupnya untuk-Ku.Wat-tabi` sabiila ansaaba ilayyaTanpa menemukan seorang `Arifbillah (seseorang yang mengenal Allah SWT), bagaimana kalian akan menemukan Ma`rifatullaah (Pengetahuan tentang Allah SWT).

7. Hanya Allah SWT

Janganlah berkata, �Aku dapat melakukannya.� Katakanlah, �Dengan kekuatan Tuhanku, mungkin aku dapat melakukannya. Bila Dia mendukungku, aku mungkin dapat berdiri. Dan bila Dia membantuku, aku akan berhasil.� Dalam segala-galanya. Ketahuilah bahwa kalian bukan apa-apa. Sama sekali bukan apa-apa. Bila kalian mengatakan, �Aku dapat melakukannya,� atau, �Aku mampu melakukannya,� kalian seharusnya merasa malu. Siapa kalian? Kalian bukan apa-apa. Bagaimana kalian dapat menyatakan hal itu, astaghfirullaah! Seandainya salah seorang di antara kalian dianugerahi semua kekuatan ummat manusia, tetap saja kalian bukan apa-apa. Atau seandainya pun dianugerahi kekuatan dari seluruh makhluk, termasuk makhluk surga, tetap saja kalian bukan apa-apa, dan tak dapat berkata, �Aku dapat melakukannya.� Andai kalian diberikan kekuasaan dari jutaan malaikat (yang salah satu di antaranya adalah Jibril u; yang mempunyai 600 sayap, dua di antaranya saja tidak cukup untuk dibentangkan dari Timur hingga ke Barat), tetap saja kalian seharusnya merasa malu untuk menyatakan, �Aku mempunyai kekuatan,� melalui samudera kekuatan-Nya yang tak bertepi. Semuanya tidak berarti.

Mengapa kalian sombong, dan karena apa kalian menyatakan bahwa kalian berkuasa, kuat? Apakah karena mempunyai pakaian atau mobil? Kekayaan kalian atau harta kalian? Mengapa kalian sombong? Kesombongan adalah ciri dari ego yang paling buruk.Kalian ingin bersaing dan berkata kepada Allah SWT, �Aku juga kuat.� Siapa kalian!? Menyadari bahwa kalian lemah dan bukan apa-apa itulah yang memberikan kehormatan pada kalian. Walaupun hanya menyatakan, �Wahai Tuhanku, aku tidak cukup kuat untuk memberikan kepatuhanku,� atau �Aku begitu lemah untuk menjadi hamba-Mu; wahai Tuhanku, ampunilah aku.� Hal itulah yang memberi kehormatan pada kalian. Tanpa melakukan apa-apa, hanya minta maaf dan mohon pengampunan, maka hal-hal tersebut akan memberikan lebih banyak kehormatan pada kalian, daripada menyatakan memuja Allah SWT dan berbangga atas ibadah dan penghambaan itu.

Hanya kerendahan hati yang akan menyelamatkan kalian dari kesukaran, kesengsaraan, masalah dan kesulitan. Bila kalian rendah hati, maka ampunan akan sampai pada kalian, dan demikian pula dengan berkah. Kalian tidak pernah akan menemui mata air di puncak gunung, tetapi kalian akan menemukannya di dasar lembah. Semua hal buruk datang dari kesombongan dan semua kebaikan tumbuh dari kerendahan hati. Kita begitu kecil, tidak saja secara perorangan, tetapi juga secara kolektif. Kalau kita membayangkan dimensi alam semesta, atau bahkan bila kita menggunakan kekuatan daya khayal kita dan membayangkannya jutaan kali lebih besar, tetap saja kecil karena tidak berarti dibandingkan dengan Keagungan Allah SWT yang memiliki Keagungan yang tak terukur. Tidak dapat dinyatakan dengan angka atau timbangan apapun. Ketika kita mengangkat tangan, kita harus mengatakan, �Wahai Tuhan kami, kami demikian kecilnya dan Engkau demikian agung. Engkaulah Yang Maha Agung dan Keagungan-Mu tidak terbatas.�

Kalau ada batasannya, berarti Dia setara dengan manusia biasa. Tidak ada ruang, jarak, ukuran ataupun titik terkecil yang tercipta dapat menyatakan diri bahwa mereka ada dan dapat mengatakan, �Aku di sini,� atau, �Aku mempunyai keagungan.� Tidak ada tempat untuk makhluk dan ciptaan dalam Keberadaan Allah SWT. Keberadaan-Nya meliputi semuanya. Jadi makhluk-makhluk, atom-atom, galaksi-galaksi, alam semesta, tidak dapat berkata bahwa mereka memiliki tempat, ruang, melalui Keberadaan Tuhan kita. Tidak! Tidak ada tempat untuk apapun yang tercipta melalui Keberadaan-Nya. Quran: Dialah yang Awal dan Dialah yang Akhir.Huwal awwalu wal aakhiruTidak ada sesuatu pun yang dapat memasukinya dan berkata, �Aku ada di sini.� Tuhan Mahakuasa. Grandsyaikh berkata, �Keberadaan kita bagaikan keberadaan kalian melalui cermin. Kalian dapat melihat dan melihat diri kalian sendiri di dalam cermin yang besar.

Tetapi apa yang kalian lihat tidak dapat mengatakan bahwa dia ada, demikianlah keberadaan kalian.�Keberadaan kalian tidak ada melalui cermin itu. Tidak mungkin! Karenanya kita mengatakan bahwa kita amat kecil. Hal ini berlaku untuk kalian karena kalian menyatakan keberadaan kalian. Tidak hanya itu, kalian juga menyatakan bahwa kalian orang besar. Kalian tidak hanya mengatakan, �Aku di sini,� tetapi kalian juga mengatakan bahwa kalian tuhan dan kalian tidak mau mengatakan bahwa kalian seorang hamba. Bergabunglah dalam penghambaan. Ketuhanan adalah bagi Dia yang keberadaan-Nya telah ada sejak zaman pra azali sampai zaman azali. Datanglah dan katakan bahwa kalian adalah hamba dari yang keberadaan-Nya abadi dan katakanlah, �Wahai Tuhan kami, kami adalah hamba-Mu.�Keberadaan Ilahiah-Nya adalah dari masa azali hingga pra azali; dan Kerajaan-Nya dan Kekuasaan-Nya tidak pernah berakhir hingga ke keabadian.

Allaahu Akbar! Apapun yang kalian lihat, sentuh dan meminta agar disimpan melalui keabadian tidak berarti apa-apa. Allaahu Akbar! Keagungan-Nya meliputi masa pra azali sampai masa azali dan Kebesaran-Nya adalah untuk Keabadian-Nya.Siapa kalian? Kalian bukan apa-apa. Janganlah anggap sebagai sesuatu. Sesuatu tidak berarti apa-apa. Jangan mengutarakannya. Akuilah ketidakberartian kalian dan berusahalah membuat ego kalian agar mengakui ketidakberartiannya. Sama sekali tidak berarti apa-apa. Kemudian kalian akan mencapai kesempurnaan dan kepuasan. Kesempurnaan yang sempurna dan kedamaian paripurna. Inilah hal terpenting yang dicoba diajarkan oleh Khatamul Anbiya Rasulullah SAW kepada manusia. Keberadaan-Nya dari masa azali hingga masa pra azali. Tidak ada yang lain kecuali Dia. Dalam keberadaan yang ada hanyalah Allah SWT. Tak ada yang lain. Wahidun Ahad (Yang Tunggal, Satu-satunya).

Tak ada yang eksis kecuali Dia. Apalah kita ini. Kita bukanlah apa-apa. Barangsiapa yang menyatakan keberadaan bagi dirinya sendiri, maka dia telah menyekutukan Allah SWT (syirik). Dan karena kita tidak termasuk dalam kelompok yang ada, Allah SWT tidak peduli bahwa kita akan menyekutukannya. Karena pada dasarnya tidak ada apa-apa. Tetapi Allah SWT suka bila hamba-Nya menjaga sopan-santun yang baik. Karena alasan itu, syari`ah dan thariqat datang untuk meniadakan pengakuan itu dari dunia ini. Sehingga orang tidak mengatakan, �Aku ada.� Karena kalian tidak ada. Seratus tahun yang lalu tak satu pun di antara kita yang ada. Dan setelah seratus tahun, tak seorang pun yang sekarang ada masih ada. Di sana tidak ada, di sini pun tidak ada. Dan apa yang muncul di antara dua ketiadaan juga tidak ada. Tinggalkan pikiran kalian, diri kalian, dan semuanya sampai tetesan kalian bersatu dengan samudera (fana` billaah).

Dengan kesediaan kalian, kalian dapat mengorbankan diri dan raga. Jangalah mohon agar menjadi sesuatu, tetapi sebaliknya mohonlah segala-galanya. Kebenaran muncul dan penciptaan menjadi kenyataan. Ini terjadi dalam waktu kurang dari sekejap mata. Dan di antara para Awliya, waktu untuk keberadaan ini laksana cahaya kilat. Dan pemunculan kita sekarang ini adalah seperti itu. Itu akan segera berakhir dan tidak ada lagi. Karena Allah SWT akan bertanya,Quran:Milik siapakah kerajaan itu sekarang?Limanil mulkul yawma?Tetapi tak ada yang menjawab. Allah SWT akan menjawabnya sendiri. Allah SWT, Yang Maha Esa, al-Qahhar (Sang Penguasa).Dan Dia yang menguasai hamba-Nya melampaui kematian akan menjawab sendiri melalui Dirinya sendiri, Kalian tidak menjawabnya. Karena orang yang biasanya berkata, �Aku seorang ini,� atau �itu,� tidak akan ada lagi. Mereka telah dikuasai. Mereka mendengar tetapi tidak dapat menjawab. Dan bahkan yang lebih agung adalah bahwa Dia tidak akan menjawab dengan berkata, �Itu milik-Ku.� Tetapi Dia berfirman, Quran:Milik Allah SWT, Yang Maha Esa, Sang Penguasa.Lillaahil waahidil qahhaar Juga ada suatu rahasia bahwa yang mewakili Dia, akan menjawab.


Dialah yang telah dijadikan wakil-Nya. Dialah yang kalau dia tidak ada, maka Allah SWT tidak akan menciptakan seluruh makhluk. Para ulama mengatakan bahwa Allah SWT yang memberikan jawaban tersebut, tetapi seolah-olah ada seseorang yang menjawab. Dan siapakah dia? Yang telah Allah SWT hiasi dengan Sifat-Sifat-Nya, dan mengangkatnya ke maqam al-mahmud. Dialah yang menjawab, pasti dan sudah sepantasnya begitu. Bila sesuatu, bahkan atom dibiarkan sendiri, dia tidak akan ada lagi. Bila diambil dari atom, maka pengamatan Allah SWT (muraqaba) akan hilang. Karena keberadaan sejati hanya bagi Allah SWT. Quran:Dan tak ada sesuatu pun yang setara dengan Dia.Wa lam Yakun lahu kufuwan ahad Tak ada sesuatu yang setara dengan Dia.

Keberadaan mutlak adalah untuk Allah SWT. Siapa lagi kalau bukan Dia? Tak ada ruang untuk yang kedua. Hanya ada Allah SWT dan tak ada siapa pun bersama-Nya. Anggapan kalian bahwa kalian ada, adalah salah. Karena Allah SWT tidak menerima bahwa ada seseorang yang setara dengan-Nya.Manusia telah menyibukkan diri dengan hal-hal yang tidak perlu untuknya. Tanpa samudera, tak ada yang dapat berenang. Dan tanpa lautan takkan ada ikan. Dan mana di antara kedua ini yang lebih baik? Yang mempertanyakan (hal ini) adalah orang yang tidak berpikir! Sebuah samudera adalah samudera dengan segala isinya, dan jalan untuk mencapainya adalah melalui Kemurahan Allah SWT.

Berdiri di hadapan cermin keabadian, dihiasi dengan eksistensi sejati, menatap pada kenyataan diri, dalam Samudera Keesaan.Seekor ikan berkata, �Aku adalah samudera, � dan untuk berkata, �Aku di sini,� tanpa samudera, adalah suatu pernyataan yang keliru. Astaghfirullaah!Semoga Allah SWT menganugerahi kita pemahaman yang baik. Ada beberapa hal penting yang harus dipahami. Bila kalian tidak memahaminya, kalian tidak dapat diselamatkan dari kejahatan ego kalian atau dari Setan

8. Mencapai Allah SWT,Dengan bimbingan hakiki yang mewakili Nabi Muhammad SAW

Allah SWT memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk mengikuti jejak Sahabat-Nya dan berada bersama mereka. Karena itu kita perlu berdekatan secara fisik dengan orang-orang yang diberkahi, lalu hati kita akan dapat didekatkan. Bila kalian tidak memasang salurannya, maka keran tidak akan mengalir. Aliran mata air dapat mencapai kalian melalui saluran. Tanpa itu, air tidak akan mencapai kalian. Jadi harus ada salurannya. Semua Nabi termasuk Sayyidina Muhammad SAW membawa aliran surgawi dan rahmat ke dalam jiwa kita. Karena itu, kita hendaknya selalu memelihara hubungan dengan jiwa mereka yang suci dan murni (dari kebijakan surgawi).

Kalian dapat mencapai mereka dan memuaskan dahaga kalian dari aliran rahmat agungnya. Tanpa Awliya, kalian tidak dapat mencapainya. Allah SWT telah membuat Awliya menjadi mata air rahmat-Nya. Barangsiapa yang mencapainya akan hidup dan menjadi orang yang sungguh-sungguh hidup. Barangsiapa yang mencapai Awliya, mereka menggapai kehidupan yang abadi. Bagaimana kita mencapai Allah SWT? Begitu sulit! Tetapi bila kalian dapat menggapai Wakil-Nya, berarti kalian bersama Allah SWT. Bilamana tidak mencapai Awliya, sukar untuk mendapatkan berkah. Ada berkah biasa saja yang sampai pada semua orang (juga pada mereka yang bukan mukmin, kalau tidak mereka tidak akan ada), tetapi bila kalian ingin lebih dekat dengan Allah SWT kalian memerlukan berkah yang lain. Barangsiapa yang tidak patuh, akan kehilangan hidupnya yang mahal dan menyia-nyiakan waktunya yang berharga.Untuk orang yang diberi kuasa, hal tersebut tidak perlu ditunjukkan, karena pada dasarnya dia selalu bersama Syaikhnya.

Dia mempunyai hubungan semacam telepon dengan Syaikhnya untuk mengetahui apa yang bermanfaat bagi dirinya. Tidak ada hubungan dengan keinginan kita sendiri, tetapi semua itu adalah kemauan Sang Syaikh yang diambilnya dari hadirat Nabi e yang selalu bersama Allah SWT. Muraqaba (Pengamatan Penuh Perhatian atau Kewaspadaan)Hamba yang memohon mencapai Hadirat Ilahiah Allah SWT atau Rasulullah SAW dan Syaikh hendaknya selalu memelihara perhatiannya yang ditujukan kepada Syaikh. Perhatikan selalu Syaikh kalian, karena dia selalu memelihara kalian.

Dia tidak pernah meninggalkan kalian. Menunjukkan perhatian berarti kalian memahami bahwa Syaikh selalu bersama kalian da bahwa dia selalu memperhatikan kalian. Murid tidak pernah sendirian. Katakan, �Ya Allah SWT, jangan tinggalkan aku sendirian dengan egoku.� Bila murid tidak bersama Syaikhnya, maka dia bersama egonya dan Setan. Dan ego itu penuh dengan tipu muslihat. Bila murid tetap memperhatikan Syaikhnya (satu menit, beberapa lama atau selama mungkin), Syaikh akan bersamanya dan dalam setiap situasi, Syaikh akan mendukungnya. Perhatian akan mendatangkan Madad (pertolongan) dan bila kalian memutuskannya maka dukungan Syaikh akan terputus pula.

Syaikh mendukung orang yang berjalan menuju Allah SWT (sama seperti mobil mengisi tangkinya pada pompa bensin sebelum meneruskan perjalanannya). Dan orang yang benar-benar yang telah diberi kuasa mempunyai maqam sedemikian hingga kalian dapat mencapai Allah SWT. Orang itu mengambil sesuatu dari Syaikh yang mengambilnya dari hadirat Nabi Muhammad SAW yang menerimanya dari Hadirat Allah SWT. Jika kalian memutuskannya, kalian akan ditinggalkan sendirian dan kalian seperti sebuah rekorder yang kehabisan baterai. Tetapi bila kalian didukung oleh sebuah kabel, maka kalian tidak pernah akan terputus atau berkurang dukungannya. Selalu akan berjalan. Untuk berapa lama kalian ingin memelihara ego kalian?Memperhatikan Syaikh adalah salah satu di antara hal yang paling penting sehingga kalian selalu bersama Syaikh dan agar kalian dapat mendekati hadirat Nabi Muhammad SAW. Kemudian kalian dapat memperhatikan Nabi Muhammad SAW dan kalian dapat melihat bahwa Nabi Muhammad SAW memperhatikan kalian dan kalian memahami makna ayat Quran,Dan Rasulullah SAW berada di antara kalian.

Fiikum rasuulallaahBeliau selalu ada.Bila tidak ada kewaspadaan (muraqaba), kalian tidak akan melihat atau merasakan sesuatu. Muraqaba membuat murid dapat mendengar sesuatu dari Syaikhnya dan dia dapat melihat dan memperhatikan. Dan kalian dapat melihat realitas Syaikh yang kekuasaannya meliputi seluruh dunia (bila dia adalah Syaikh sejati). Tidak ada batasan. Tidak! Tidak, bila kekuasaan yang diberikan kepadanya secara resmi berasal dari Nabi Muhammad SAW. Kekuasaannya selalu ada, di setiap tempat. Di daratan maupun di lautan. Ke mana pun kalian pergi, dia selalu ada. Dan bila kalian mempunyai hubungan yang baik, pertama-tama kalian akan mendengar (seperti semacam telepon ilahiah kepada Syaikh) dan dia akan menunjukkan jalan dengan cara yang akan dia tunjukkan. Setelah itu bila muridnya meningkat maqamnya, murid itu akan juga melihat siapa yang akan menuntunnya dengan kata-kata. Ini adalah tingkat tertinggi (dari muraqaba murid) sampai dia meningkat ke perhatian Nabi Muhammad SAW, bila dia dapat mendengar sampai murid itu meningkat lebih tinggi dan dia dapat menemui Nabi Muhammad SAW.

Pada tingkat ini, yang termulia dari semua yang suci biasanya berkata, �Bila kita tidak memandang Nabi Muhammad SAW walau hanya sekejap mata pun dan bila beliau terputus dari hadapan kita, maka anggaplah bahwa kita bukan seorang Muslim lagi.� Karena kalau manusia bersama egonya (lebih mementingkan egonya) maka dia bukanlah seorang Mukmin (tidak beriman). Kecuali dia mendekati Allah SWT, Nabi Muhammad SAW dan Nabi-Nabi lainnya, hubungan akan diputuskan dan yang diabadikan hanyalah egonya sendiri. Dia telah membuat dirinya menjadi budak dari egonya sampai mereka akan mengatakan tentang dirinya,Quran:Apakah kalian melihat orang yang telah menjadikan egonya sebagai Tuhannya? Ara-ayta manit-takhadza ilahahu hawaahuDan dia tidak lagi akan memisahkan apa yang halal atau haram dan dia berkata, �Aku bebas. Semua yang ingin kulakukan, akan dapat kulakukan.�Oleh sebab itu, perhatian murid terhadap Syaikh adalah suatu hal yang terpenting untuk memperbaiki diri dalam perjalanannya ke jalan yang benar. Kalau tidak mesinnya mati dan dia akan berhenti di tengah jalan tanpa bergerak. Dan bila dia bersikeras tidak mau memikirkan Syaikhnya maka dia akan dibiarkan di tempat itu. Ada beberapa titik yang peka yang telah diintervensi oleh Setan dan kaki tangannya untuk menipu orang-orang yang sedang dalam perjalanan ke jalan yang benar. Mereka mengatakan bahwa apa yang dilakukan orang tersebut adalah syirik.

Tidak mungkin hal ini syirik atau kufur. Orang ini memiliki pemahaman tentang bagaimana mencapai jalan yang benar. Muraqaba adalah untuk orang yang sedang dalam perjalanan dan harus selalu dilakukan. Sampai dia mencapai Hadirat Ilahi. Setelah itu dia akan menjadi orang yang mencapai jalan itu dan di sana tidak tersisa lagi kecemasan akan duniawi atau tentang akhirat kelak. Dia akan berada dalam kekekalan. Ini adalah ceramah yang terperinci dan berat dan tidak ada seorang pun pada saat ini di antara orang-orang yang mempunyai wewenang yang boleh membicarakan hal ini, kecuali dari perwakilan Grandsyaikh. Thariqat mempunyai adab dan ditujukan untuk menuntun orang ke tingkat adab tertinggi. Menjadi murid sejati berarti menjadi orang yang diterima dalam hadirat Nabi Muhammad SAW dan dalam Hadirat Ilahi yang suci. �Ya Allah SWT, anugerahilah lebih banyak kemuliaan dan kehormatan kepada Kekasih-Mu.�Barangsiapa yang tidak berdzikir, tidak memiliki cahaya. Dan yang tidak memiliki cahaya adalah buta. (Jadi tabir tidak dapat disingkirkan).FanaBila seorang murid ingi mewakili Syaikhnya, dia harus menghilangkan kepribadiannya dan memasuki kepribadian Syaikhnya. Jika masih ada yang tersisa dari dirinya maka dia tidak mewakili Syaikhnya. Selesai!Barangsiapa yang menyatakan keberadaan di samping keberadaan Syaikh, tidak dapat mewakili Syaikh tersebut dan Syaikh pun tidak dapat mewakilinya. Tidak mungkin!Di samping itu, bila seseorang berkata bahwa dia mewakili Nabi Muhammad SAW, hal itu tidak mungkin; kecuali dia telah menyatu (fana) ke dalam kepribadian Nabi Muhammad SAW.Hanya ada satu Muhammad SAW. Saya Muhammad SAW, kalian adalah Muhammad SAW. Dia menjadi satu. Bila kalian menjadi Muhammad SAW, berarti kepribadian kalian menjadi hilang. Kalian membuat kepribadian kalian hilang agar Nabi Muhammad SAW muncul.

Rasulullah SAW adalah penjelmaan kebenaran dan bila Rasulullah SAW tidak melenyapkan kepribadiannya, maka Allah SWT tidak akan menjelma dalam dirinya. Al-Awwalu, al-Akhiru, az-Zhaahiru, al-Baathinu, Yang Pertama, Yang Terakhir, Yang Nampak dan Yang Tersembunyi.Dia adalah Yang Maha Mewujud. Dan melalui siapa Dia termanifestasi? (atau dengan siapa?) Melalui matahari atau bintangkah? Melalui dunia? Atau melalui binatang? Para malaikat? Para jin? Dengan atau melalui siapa Dia termanifestasi? Dia termanifestasi melalui Nabi Muhammad SAW, lalu Nabi Muhammad SAW menghilang sehingga Allah SWT menjelma dalam dirinya. Nabi Muhammad SAW telah melenyapkan dirinya sehingga tidak ada yang tersisa darinya. Lalu Allah SWT termanifestasi dalam diri Nabi Muhammad SAW.Dan bila tidak ada cermin untuk memantulkan gambaran kalian, maka kalian tidak akan nampak. Contohnya, bila kalian dalam rumah di mana tidak ada cermin maka kalian tidak akan kelihatan. Alam semesta, mulai dari yang terendah hingga yang tertinggi tidak akan nampak kalau tidak ada cermin Rasulullah SAW. Ketika Nabi Muhammad SAW sampai di Sidratul Muntaha (Pohon Lote terjauh, batas Surga ketujuh) terdengarlah suara yang berseru kepada beliau, �Wahai Muhammad SAW, masuklah��Dan Nabi Muhammad SAW berseru kepada Jibril u, �Ikutlah bersamaku.� Dan Jibril u berkata, �Ya Muhammad SAW, bila aku melewati perbatasan ini, walau hanya sehelai rambut, aku akan terbakar karena cahayanya.�Lalu ada pertanyaan, �Siapa kamu?� dan beliau menjawab, �Engkau Ya Tuhanku.� Selesailah. Tidak ada lagi dua. Hanya satu. Yang tinggal hanya Allah SWT dan Muhammad SAW menjadi cermin untuk penampakkan semua makhluk. Dari yang terkecil hingga yang terbesar. Pada kenyataannya, mi�raj (perjalanan) adalah kekal (Quran mengatakan demikian). Tidak terjadi dalam kurun waktu tertentu, tetapi terjadi sepanjang hidup Nabi Muhammad SAW. Semua itu terjadi sebelum terciptanya waktu dan ruang dan keberadaan seluruh dunia muncul melalui cermin tersebut. Dan seandainya cermin ini diselubungi oleh sesuatu, maka semuanya akan lenyap. Menjadi satu dengan ciptaan harus melalui tahapan.

Pada tingkat yang terakhir tidak akan tersisa identitas pribadi dan kalian akan menjadi cermin dan menjadi pewaris Nabi Muhammad SAW. Jadi inilah penuntun sejati. Yang lainnya menipu orang. Dia mengatakan, �Pandanglah dinding. Tetapi tidak ada cermin di situ, hanya sebuah dinding.� Dia adalah seorang pembohong!Kita memohon kepada Allah SWT agar kita dapat lebih dekat dengan orang yang diberkati, sehingga mereka dapat menembus diri kita. Berkat dari Allah SWT tergantung pada kedekatan kalian pada seorang Wali. Bila hati kalian sibuk padanya selama 24 jam, maka kalian akan diberkati selama 24 jam. Bila kalian setengah-setengah maka kalian hanya mendapat berkah selama setengah hari dan selebihnya akan terputus. Kita hendaknya memohon dari para Awliya suatu benteng kekuatan. Melihat dengan bijaksana. Bila kalian tidak hati-hati, maka Setan dan teman-temannya akan membawa kalian ke kedudukan yang lebih buruk. Selalu berada bersama sahabat-sahabat Allah SWT, bukan dengan ego kalian. Dengan berkah mereka, kalian dapat mencapai Tuhan kalian dan Pertolongan-Nya memang diperuntukkan bagi hamba-hamba-Nya.