Minggu, 27 Maret 2011

Kota Padang adalah salah satu Kota tertua di pantai barat Sumatera di Lautan Hindia.Kota Padang salah satu kota sekaligus merupakan ibu kota Provinsi Sumatera Barat, Indonesia. Kota ini adalah pusat perekonomian, pendidikan, kesehatan dan pelabuhan di Sumatera Barat.

Sejarah berdirinya Kota Padang

Terdapat 2 buah versi mengenai sejarah berdirinya kota Padang, yaitu: versi Tambo dan versi Hofman seorang opperkoopman di Padang pada tahun 1710 dan juga pengarang mengenai adat dan sejarah Minangkabau (terutama adat matrilineal). Opperkoopman sebutan pada wakil Belanda untuk suatu daerah yang belum ditaklukkan Belanda. Kota Padang belum ditaklukkan saat itu sedangkan untuk daerah jajahan Belanda seperti Ambon, Banda, Ternate dan Jawa penguasanya dinamakan Gubernur.

Kota Padang menurut Hofman, dinamakan Padang karena dulu merupakan lapangan besar dan luas yang dikelilingi oleh pegunungan tinggi.

Pada awalnya tempat bermukim para penangkap ikan, pedagang dan petani garam yang dikepalai oleh seorang makhudun. Orang kedua yang menjadi kepala adalah dari golongan agama dari Passai yang bergelar Sangguno Dirajo.

Suatu saat terjadi peperangan antara orang padang dengan orang pegunungan dari XIII-Koto karena terbunuhnya Serpajaya oleh anak buah makhudun yang bernama Campang Cina. Dalam serbuannya yang pertama orang-orang dari XIII-Koto dapat dikalahkan dengan korban sebanyak 30 orang.

Karena takut akan serangan besar berikutnya, orang Padang mengirim utusan untuk berdamai yang bernama Datuk Bandaro Pagagar bersama wakil rakyat kota Padang. Ganti rugi yang diminta orang XIII-Koto adalah emas. Orang Padang keberatan dengan ganti rugi ini karena terlalu mahal dan mereka kebanyakan adalah nelayan.

Oleh karena itu ditawarkan separuh kota Padang dan bersumpah setia untuk tunduk kepada XIII-Koto, sejak saat itu orang XIII-Koto memiliki hak yang sama dengan orang Padang dan mendapat 4 dari 8 kursi penghulu di kota Padang.

Menurut versi Tambo, jauh sebelum orang pegunungan mendiami kota Padang sekarang, daerah itu merupakan hutan lebat yang masih didiami oleh manusia liar (urang rupit dan urang tirau).

Orang pertama yang turun ke Padang adalah dari Kubuang Tigo Baleh (Solok) yang dipimpin oleh Maharajo Besar suku Caniago Mandaliko dan memilih tinggal di Binuang dan kemudian menyebar diantara Muaro sampai Ikua Anduriang (Pauh IX).

Kelompok kedua yang datang adalah orang dari Siamek Baleh (antara Singkarak dan Solok) dan disusul dengan orang dari Kurai Banuampu (Agam). Mereka menetap dibagian timur daerah Maharajo Besar.

Diantara pemimpin yang baru datang ini adalah Datuk Paduko Amat dari suku Caniago Simagek, Datuk Saripado Marajo dari suku Caniago Mandaliko, Datuk Sangguno Dirajo dari suku Koto beserta saudaranya Datuk Patih Karsani. Konon Datuk Patih Karsani ditempat yang baru banyak mendapat benda berharga seperti porselen, pisau, meriam kecil dan sebuah pedang (padang). Maka menurut yang mempunyai cerita dinamakanlah kota itu Kota Padang.

Referensi :
http://www.padang.go.id/v2/content/view/5/6/
http://pelaminanminang.com/sejarah-minangkabau/kota-padang-kota-metropolis-terbesar-di-nusantara-pada-abad-18.html#berdiri

Senin, 21 Maret 2011


Sepeda adalah salah satu alat transportasi yang paling penting di dunia, karena selain ramah lingkungan, sepeda juga menjadi tonggak munculnya kendaraan-kendaraan lainya. Tercatat bahwa sepeda lebih dulu diciptakan dari mobil. Bahkan banyak yang berkata bahwa sepeda sudah dirancang oleh orang-orang jaman dulu (termasuk oleh Leonardo da Vinci).

Sepeda mempunyai sejarah yang panjang. Pertama kali diciptakan oleh Baron von Drais. Baron Karls Drais von Sauerbronn seorang pria berkebangsaan Jerman. Atas dasar pengabdian kerjanya (penjaga hutan), dia menyempurnakan velocipede.Velocipe adalah transportasi roda dua yang dinamai velocipede dikenal di negara tersebut. Kontruksinya pun masih sangat sederhana, karena belum menggunakan besi. Dengan model yang masih sangat �primit�, sepeda saat itu tidak menggunakan tongkat kemudi (setang), dan konstruksinya dari kayu.

Sejarah Penemuan Sepeda
Pada awalnya, baron bekerja sebagai pengatur atau mandor taman kerajaan di Paris. Karena taman kerajaan di Paris sangat luas, Baron kesusahan harus berpindah-pindah dari bagian taman satu ke taman yang lain. Untuk itulah baron kemudian berinisiatif untuk menciptakan sebuah alat yang bisa memudahkannya berpindah-pindah dengan cepat tanpa harus mengeluarkan banyak tenaga.

Pada tahun 1860, Baron berhasil membuat sebuah alat kendaraan berupa kursi yang dilengkapi dengan roda, bentuknya sudah menyerupai sepeda, hanya saja tak mempunyai genjotan. Sepeda pertama ini hanya berjalan dengan tenaga dorong. Karena pedalnya langsung tersambung dengan Ass depan. Sepeda ini dikenal dengan nama Draisienne (berdasarkan nama penemunya). Sepeda inilah yang kemudian ditetapkan sebagai sepeda pertama di dunia.

Sepeda Draisienne ini tak bertahan lama, karena setelah itu, mulai muncul jenis-jenis sepeda baru yang lebih effisien bahkan beberapa di antaranya ada yang sudah menggunakan pedal, walaupun pedal tersebut masih belum sempurna seperti sepeda jaman sekarang). Walau begitu, sepeda buatan Baron von Drais ini tetap harus diacungi jempol, karena sudah mampu menjadi tonggak munculnya sepeda-sepeda modern di dunia.

Referensei
http://dhammacitta.org/forum/index.php?topic=13876.0
http://pedalsepedaku.wordpress.com/2009/01/03/97/

Selasa, 15 Maret 2011


POLYTRON adalah perusahaan terbesar dan terkemuka di bidang elektronik di Indonesia. Kekuatan dari POLYTRON ada pada kualitas suara dan desainnya.

POLYTRON memiliki 2 pabrik masing-masing di Kudus seluas 70.000 m2 dan di Sayung Semarang 130.000 m2 (merupakan pabrik lemari es terbesar di Jawa Tengah) dengan karyawan lebih dari 6.000 orang, 11 kantor perwakilan, 5 authorized dealer, 50 service centre yang meliputi seluruh Indonesia.

Sejarah Polytron dimulai pada tanggal 16 Mei 1975, saat pemilik pabrik rokok PT Djarum Kudus mendirikan perusahaan dengan nama PT Indonesia Electronic dan Engineering dengan penyertaan modal sebesar Rp. 50 juta untuk memproduksi barang elektronika. Sebagai industri rokok yang berekspansi ke industri elektronika, sejak awal pemilik perusahaan tidak mau melibatkan pihak maupun modal asing. Sejak berdiri perusahaan ini tidak memiliki prinsipal sehingga tidak harus membayar royalti pada setiap produk yang dihasilkan.

Tahun 1977, perusahaan merekrut 14 perempuan lulusan SMEA dan SMA untuk dilatih menyolder dalam usaha merakit komponen menjadi rangkain produk elektronika. Didatangkanlah komponen-komponen elektronika dari Singapura sebagai bahan training 14 karyawan tersebut.

Setelah cukup belajarnya, pada tahun 1977 pabrik di Kudus ini mulai mendatangkan komponen dari Belgia untuk memulai proses alih teknologi dari Philips-MBLE Belgia. Diluncurkanlah produk televisi pertama mereka dengan merek Polytron. Tapi televisi pertama mereka ini gagal di pasaran karena ukuran televisinya yang besar dan masih memerlukan kotak speaker sehingga tidak menarik pembeli yang ingin produk yang praktis. Di sinilah pabrik ini mengalami kegagalan dalam pemasaran. Produk mereka ditolak oleh toko-toko elektronika bahkan sang dirut pernah diusir oleh toko kala menawarkan Polytron ini. Tapi menyadari bahwa mereka adalah pabrik rokok yang ingin menguasai industri elektronika, makanya mereka bersedia menjalani masa-masa sulit itu sebagai kesempatan untuk belajar.

Dari teknologi Eropa mereka beralih ke teknologi Hongkong. Dari komponen-komponen yang diimpor dari Hongkong mereka meluncurkan televisi hitam putih 20 inchi. Saat itu pula mereka membuka lembaga riset dan pengembangan sendiri sehingga sejak itu mereka menjadi pabrik elektronika dengan desain produk yang diciptakan sendiri. Alih teknologi televisi juga didapat dari kerjasama mereka dengan perusahaan televisi Salora dari Finlandia (saat ini bernama Nokia).

Nama perusahaan kemudian berubah dari PT Indonesia Electronic dan Engineering menjadi PT Hartono Istana Electronics, dan di tahun 2000 berubah lagi menjadi PT Hartono Istana Teknologi. Seiring dengan perubahan namanya, perusahaan ini sudah berhasil mengembangkan teknologi televisi berwarna hemat energi (40 Watt) dengan ukuran 17, 20 dan 26 Inchi. Bahkan mereka mampu menghasilkan televisi dengan daya 20 watt saja, yang diklaim sebagai yang pertama di dunia. Sekarang, Polytron juga mulai mengekspor produknya walau harus merubah bendera supaya diterima pasar lokal Eropa.

Polytron dan Perjuangan Industri Nasional
MELIHAT atau mendengar merek Polytron, boleh jadi yang terbayangkan adalah produk elektronik dari luar negeri. Padahal, sesungguhnya Polytron lahir di Tanah Air, di Kudus, Jawa Tengah (Jateng), yang kemudian menembus pasar Eropa, ASEAN, Timur Tengah, dan Australia. Bahkan, Polytron bisa dikatakan kini tinggal satu-satunya produk nasional-tanpa prinsipal-yang masih bertahan, setelah melalui perjuangan panjang dan gelombang pasang surutnya industri elektronik nasional. Kompas/andi suruji Menurut yang punya merek, Polytron merupakan gabungan dua kata, yaitu poly yang berarti banyak, dan tron diambil dari kata elektronik. Jadi, Polytron diartikan sebagai kumpulan (banyak) elektronik. Barang elektronik, seperti produk audio, video, kulkas, mesin pengatur suhu udara (AC), dan pompa air merek Polytron sebenarnya lahir dari tangan putra-putri Indonesia di Kudus, Jateng, yang diakui pemiliknya kini menguasai 15 persen pangsa pasar produk elektronik nasional untuk produk sejenis.

Referensi :
http://banggaindonesiaraya.blogspot.com/2010/05/polytron-merek-elektronik-asli.html
http://www.polytron.co.id/?fuseaction=home.general&csection=about_us_corporate
http://archive.kaskus.us/thread/3290454

Sabtu, 05 Maret 2011

Haven't posted for a while now. Here I would like to challenge another good old petroleum system concept. We have been told that if a trap forms after oil generation is finished, it will not be able to receive charge, or it will receive only gas charge. It is one of the responsibilities of the basin modeler to demonstrate the timing of oil and gas generation, relative to timing of trap formation, perhaps using what is called a petroleum system event chart like this one.

Many of us now realize this is not necessarily true. Actually, if we believed this concept, we might have missed a lot of big important petroleum discoveries.   Below are some examples that contradict the theory:

1) Perhaps a good example is the Bohai Bay, where Phillips Petroleum made a big discovery in 1999 at only about 5000 ft in the Minghuazhen/Guantao formation ( check out the story here). What is interesting to me is that the reservoir was merely deposited about 5 million years ago. This would mean that the oil has to have been generated in the last couple of millions years if we allow the reservoir to be deep enough to have a seal. Right? Well, no, geo-history modeling shows that the Shahejie 3 source rock in the kitchen went through the oil window about 23 million years ago, currently at about 8 km deep and 300 �C, and the reservoir contains low maturity oil!      

2) In deep water Gulf of Mexico, the Jurassic source rock is currently 35,000 to 45,000 ft deep near many big fields and models show oil generation occurred about 15-10 million years ago and the source is currently in the "gas window" under these fields. The Miocene reservoirs are deposited about 9 million years ago, yet they contains very low maturity oil. 

3) The Foinaven and Schiehallion fields in the West Shetlands basin contain under saturated oil in the Paleocene reservoirs. Again, the basin model shows that oil generation happened late Cretaceous, prior to the reservoir deposition. A "Motel model" (oil had to migrate to a parking lot and wait for trap formation) was used to explain the apparent timing mismatch (Lamers and Carmichael, 1999). Interesting, isn't it. 

I can list more examples, but suffice to say, this seems to become a norm rather than exception. Perhaps we should rethink about how important timing of generation is ? I actually argue that these fields are probably still receiving charge today.

Perhaps the companies which discovered the fields in these examples did not listen to their basin modelers ? How could they have predicted oil in the reservoirs based on the so called petroleum system event chart ? I think at least in the deep water of Gulf of Mexico, certain large oil company may have listened to their modelers and missed most of the action that lead to the discovery of many multi-billion barrel fields there.