Jumat, 12 September 2008


Nama lengkap Syeikh Abu Hasan As-Syazili ialah as-Syadzili Ali bin Abdillah bin Abdul-Jabbar, yang kalau diteruskan nasabnya akan sampai pada Hasan bin Ali bin Abu Talib dan puteranya Fatimah al-Zahra', puteri Nabi s.a.w..

Syeikh Abu Hasan dilahirkan di Maroko tahun 593 H di desa yang bernama Ghimaroh di dekat kota Sabtah (dekat kota Thonjah sekarang).

Imam Syadzili dan kelimuan

Di kota kelahirannya itu Syadzili pertama kali menghafal Alquran dan menerima pelajaran ilmi-ilmu agama, termasuk mempelajari fikih madzhab Imam Malik. Beliau berhasil memperoleh ilmu yang bersumber pada Alquran dan Sunnah demikian juga ilmu yang bersumber dari akal yang jernih. Berkat ilmu yang dimilikinya, banyak para ulama yang berguru kepadanya. Sebagian mereka ada yang ingin menguji kepandaian Syekh Abu al-Hasan. Setelah diadakan dialog ilmiah akhirnya mereka mengakui bahwa beliau mempunyai ilmu yang luas, sehingga untuk menguras ilmunya seakan-akan merupakan hal yang cukup susah. Memang sebelum beliau menjalani ilmu thariqah, ia telah membekali dirinya dengan ilmu syariat yang memadahi.

Imam Syadzili dan Tariqah

Hijrah atau berkelana bisa jadi merupakan sarana paling efektif untuk menemukan jati diri. Tak terkecuali Imam Syadzili. Orang yang lebih dikenal sebagai sufi agung pendiri thariqah Syadziliyah ini juga menapaki masa hijrah dan berkelana.

Asal muasal beliau ingin mencari jalan thariqah adalah ketika masuk negara Tunis sufi besar ini ingin bertemu dengan para syekh yang ada di negeri itu. Di antara Syekh-syekh yang bisa membuat hatinya mantap dan berkenan adalah Syekh Abi Said al-Baji. Keistimewaan syekh ini adalah sebelum Abu al-Hasan berbicara mengutarakannya, dia telah mengetahui isi hatinya. Akhirnya Abu al-Hasan mantap bahwa dia adalah seorang wali. Selanjutnya dia berguru dan menimba ilmu darinya. Dari situ, mulailah Syekh Abu al-Hasan menekuni ilmu thariqah.

Beliau pernah berguru pada Syeikh Ibnu Basyisy dan kemudian mendirikan tarekat yang dikenal dengan Tariqat Syaziliyyah di Mesir.

Untuk menekuni tekad ini, beliau bertandang ke berbagai negara, baik negara kawasan timur maupun negara kawasan barat. Setiap derap langkahnya, hatinya selalu bertanya, "Di tempat mana aku bisa menjumpai seorang syekh (mursyid)?". Memang benar, seorang murid dalam langkahnya untuk sampai dekat kepada Allah itu bagaikan kapal yang mengarungi lautan luas. Apakah kapal tersebut bisa berjalan dengan baik tanpa seorang nahkoda (mursyid). Dan inilah yang dialami oleh syekh Abu al-Hasan.
Dalam pengembaraannya Imam Syadzili akhirnya sampai di Iraq, yaitu kawasan orang-orang sufi dan orang-orang shalih. Di Iraq beliau bertemu dengan Syekh Shalih Abi al-Fath al-Wasithi, yaitu syekh yang paling berkesan dalam hatinya dibandingkan dengan syekh di Iraq lainnya. Syekh Abu al-Fath berkata kepada Syekh Abu al-Hasan, "Hai Abu al-Hasan engkau ini mencari Wali Qutb di sini, padahal dia berada di negaramu? kembalilah, maka kamu akan menemukannya".

Akhirnya, beliau kembali lagi ke Maroko, dan bertemu dengan Syekh al-Shiddiq al-Qutb al-Ghauts Abi Muhammad Abdussalam bin Masyisy al-Syarif al-Hasani. Syekh tersebut tinggal di puncak gunung.


Sebelum menemuinya, beliau membersihkan badan (mandi) di bawah gunung dan beliau datang laksana orang hina dina dan penuh dosa. Sebelum beliau naik gunung ternyata Syekh Abdussalam telah turun menemuinya dan berkata, "Selamat datang wahai Ali bin Abdullah bin Abdul Jabbar��". Begitu sambutan syekh tersebut sembari menuturkan nasabnya sampai Rasulullah SAW. Kemudia dia berkata, "Kamu datang kepadaku laksana orang yang hina dina dan merasa tidak mempunyai amal baik, maka bersamaku kamu akan memperoleh kekayaan dunia dan akhirat�.


Akhirnya beliau tinggal bersamanya untuk beberapa hari, sampai hatinya mendapatkan pancaran ilahi. Selama bersama Syekh Abdussalam, beliau melihat beberapa keramat yang dimilikinya. Pertemuan antara Syekh Abdussalam dan Syekh Abu al-Hasan benar-benar merupakan pertemuan antara mursyid dan murid, atau antara muwarrits dan waarits. Banyak sekali futuhat ilahiyyah yang diperoleh Syekh Abu al-Hasan dari guru agung ini.


Di antara wasiat Syekh Abdussalam kepada Syadzili adalah, "Pertajam penglihatan keimanan, maka kamu akan menemukan Allah pada setiap sesuatu".


Tentang nama Syadzili


Kalau dirunut nasab maupun tempat kelahiran syekh agung ini, tidak didapati sebuah nama yang memungkinkan ia dinamakan Syadzili. Dan memang, nama tersebut adalah nama yang dia peroleh dalam perjalanan ruhaniah.

Dalam hal ini Abul Hasan sendiri bercerita : "Ketika saya duduk di hadapan Syekh, di dalam ruang kecil, di sampingku ada anak kecil. Di dalam hatiku terbersit ingin tanya kepada Syekh tentang nama Allah. Akan tetapi, anak kecil tadi mendatangiku dan tangannya memegang kerah bajuku, lalu berkata, "Wahai, Abu al�Hasan, kamu ingin bertanya kepada Syekh tentang nama Allah, padahal sesungguhnya kamu adalah nama yang kamu cari, maksudnya nama Allah telah berada dalam hatimu. Akhirnya Syekh tersenyum dan berkata, "Dia telah menjawab pertanyaanmu".

Selanjutnya Syekh Abdussalam memerintahkan Abu al-Hasan untuk pergi ke daerah Afriqiyyah tepatnya di daerah bernama Syadzilah, karena Allah akan menyebutnya dengan nama Syadzili �padahal pada waktu itu Abu al-Hasan belum di kenal dengan nama tersebut-.

Sebelum berangkat Abu al-Hasan meminta wasiat kepada Syekh, kemudian dia berkata, "Ingatlah Allah, bersihkan lidah dan hatimu dari segala yang mengotori nama Allah, jagalah anggota badanmu dari maksiat, kerjakanlah amal wajib, maka kamu akan memperoleh derajat kewalian. Ingatlah akan kewajibanmu terhadap Allah, maka kamu akan memperoleh derajat orang yang wara'. Kemudian berdoalah kepada Allah dengan doa, "Allahumma arihnii min dzikrihim wa minal 'awaaridhi min qibalihim wanajjinii min syarrihim wa aghninii bi khairika 'an khairihim wa tawallanii bil khushuushiyyati min bainihim innaka 'alaa kulli syai'in qadiir".


Selanjutnya sesuai petunjuk tersebut, Syekh Abu al-Hasan berangkat ke daerah tersebut untuk mengetahui rahasia yang telah dikatakan kepadanya. Dalam perjalanan ruhaniah kali ini dia banyak mendapat cobaan sebagaimana cobaan yang telah dialami oleh para wali-wali pilihan. Akan tetapi dengan cobaan tersebut justru semakin menambah tingkat keimanannya dan hatinya semakin jernih.

Sesampainya di Syadzilah, yaitu daerah dekat Tunis, dia bersama kawan-kawan dan muridnya menuju gua yang berada di Gunung Za'faran untuk munajat dan beribadah kepada Allah SWT. Selama beribadah di tempat tersebut salah satu muridnya mengetahui bahwa Syekh Abu al-Hasan banyak memiliki keramat dan tingkat ibadahnya sudah mencapai tingkatan yang tinggi.

Pada akhir munajat-nya ada bisikan suara , "Wahai Abu al-Hasan turunlah dan bergaul-lah bersama orang-orang, maka mereka akan dapat mengambil manfaat darimu, kemudian beliau berkata: "Ya Allah, mengapa Engkau perintahkan aku untuk bergaul bersama mereka, saya tidak mampu" kemudian dijawab: "Sudahlah, turun Insya Allah kamu akan selamat dan kamu tidak akan mendapat celaan dari mereka" kemudian beliau berkata lagi: "Kalau aku bersama mereka, apakah aku nanti makan dari dirham mereka? Suara itu kembali menjawab : "Bekerjalah, Aku Maha Kaya, kamu akan memperoleh rizik dari usahamu juga dari rizki yang Aku berikan secara gaib.


Dalam dialog ilahiyah ini, dia bertanya kepada Allah, kenapa dia dinamakan syadzili padahal dia bukan berasal dari syadzilah, kemudian Allah menjawab: "Aku tidak mnyebutmu dengan syadzili akan tetapi kamu adalah syadzdzuli, artinya orang yang mengasingkan untuk ber-khidmat dan mencintaiku�.

Imam Syadzili menyebarkan Tariqah Syadziliyah

Dialog ilahiyah yang sarat makna dan misi ini membuatnya semakin mantap menapaki dunia tasawuf. Tugas selanjutnya adalah bergaul bersama masyarakat, berbaur dengan kehidupan mereka, membimbing dan menyebarkan ajaran-ajaran Islam dan ketenangan hidup. Dan Tunis adalah tempat yang dituju wali agung ini.
Di Tunis Abul Hasan tinggal di Masjid al-Bilath. Di sekitar tempat tersebut banyak para ulama dan para sufi. Di antara mereka adalah karibnya yang bernama al-Jalil Sayyidi Abu al-Azaim, Syekh Abu al-Hasan al-Shaqli dan Abu Abdillah al-Shabuni.
Popularitas Syekh Abu al-Hasan semerbak harum di mana-mana. Aromanya sampai terdengar di telinga Qadhi al-Jama'ah Abu al-Qasim bin Barra'. Namun aroma ini perlahan membuatnya sesak dan gerah. Rasa iri dan hasud muncul di dalam hatinya. Dia berusaha memadamkan popularitas sufi agung ini. Dia melaporkan kepada Sultan Abi Zakaria, dengan tuduhan bahwa dia berasal dari golongan Fathimi.
Sultan meresponnya dengan mengadakan pertemuan dan menghadirkan Syekh Abu al-Hasan dan Qadhi Abul Qosim. Hadir di situ juga para pakar fiqh. Pertemuan tersebut untuk menguji seberapa kemampuan Syekh Abu al-Hasan.
Banyak pertanyaan yang dilontarkan demi menjatuhkan dan mempermalukan Abul Hasan di depan umum. Namun, sebagaimana kata-kata mutiara Imam Syafi'I, dalam ujian, orang akan terhina atau bertambah mulia. Dan nyatanya bukan kehinaan yang menimpa wali besar. Kemuliaan, keharuman nama justru semakin semerbak memenuhi berbagai lapisan masyarakat.
Qadhi Abul Qosim menjadi tersentak dan tertunduk malu. Bukan hanya karena jawaban-jawaban as-Syadzili yang tepat dan bisa menepis semua tuduhan, tapi pengakuan Sultan bahwa Syekh Abu al-Hasan adalah termasuk pemuka para wali. Rasa iri dan dengki si Qadhi terhadap Syekh Abu al-Hasan semakin bertambah, kemudian dia berusaha membujuk Sultan dan berkata: "Jika tuan membiarkan dia, maka penduduk Tunis akan menurunkanmu dari singgasana".
Ada pengakuan kebenaran dalam hati, ada juga kekhawatiran akan lengser dari singgasana. Sultan demi mementingkan urusan pribadi, menyuruh para ulama' fikih untuk keluar dari balairung dan menahan Syekh Abu al-Hasan untuk dipenjara dalam istana.
Kabar penahanan Syekh Abul Hasan mendorong salah seorang sahabatnya untuk menjenguknya. Dengan penuh rasa prihatin si karib berkata, "Orang-orang membicarakanmu bahwa kamu telah melakukan ini dan itu". Sahabat tadi menangis di depan Syekh Abu al-Hasan lalu dengan percaya diri dan kemantapan yang tinggi, Syekh tersenyum manis dan berkata, "Demi Allah, andaikata aku tidak menggunakan adab syara' maka aku akan keluar dari sini �seraya mengisyaratkan dengan jarinya-. Setiap jarinya mengisyaratkan ke dinding maka dinding tersebut langsung terbelah, kemudian Syekh berkata kepadaku: "Ambilkan aku satu teko air, sajadah dan sampaikan salamku kepada kawan-kawan. Katakan kepada mereka bahwa hanya sehari saja kita tidak bertemu dan ketika shalat maghrib nanti kita akan bertemu lagi".


Syeikh as-Syadzili tiba di Mesir


Tunis, kendatipun bisa dikatakan cikal bakal as-Syadzili menancapkan thariqah Syadziliyah namun itu bukan persinggahan terakhirnya. Dari Tunis, Syekh Abu al-Hasan menuju negara kawasan timur yaitu Iskandariah. Di sana dia bertemu dengan Syekh Abi al-Abbas al-Mursi. Pertemuan dua Syekh tadi memang benar-benar mencerminkan antara seorang mursyid dan murid.
Adapun sebab mengapa Syekh pindah ke Mesir, beliau sendiri mengatakan, "Aku bermimpi bertemu baginda Nabi, beliau bersabda padaku : "Hai Ali� pergilah ke Mesir untuk mendidik 40 orang yang benar-benar takut kepadaku�.
Di Iskandariah beliau menikah lalu dikarunia lima anak, tiga laki-laki, dan dua perempuan. Semasa di Mesir beliau sangat membawa banyak berkah. Di sana banyak ulama yang mengambil ilmu dari Syekh agung ini. Di antara mereka adalah hakim tenar Izzuddin bin Abdus-Salam, Ibnu Daqiq al-Iid , Al-hafidz al-Mundziri, Ibnu al-Hajib, Ibnu Sholah, Ibnu Usfur, dan yang lain-lain di Madrasah al-Kamiliyyah yang terletak di jalan Al-muiz li Dinillah.

Karamah Imam Syadzili

Pada suatu ketika, Sultan Abi Zakaria dikejutkan dengan berita bahwa budak perempuan yang paling disenangi dan paling dibanggakan terserang penyakit langsung meninggal. Ketika mereka sedang sibuk memandikan budak itu untuk kemudian dishalati, mereka lupa bara api yang masih menyala di dalam gedung. Tanpa ampun bara api tadi melalap pakaian, perhiasan, harta kekayaan, karpet dan kekayaan lainnya yang tidak bisa terhitung nilainya.
Sembari merenung dan mengevaluasi kesalahan masa lalu, Sultan yang pernah menahan Syekh Syadzili karena hasudan qadhi Abul Qosim tersadar bahwa kejadian-kejadian ini karena sikap dia terhadap Syekh Abu al-Hasan. Dan demi melepaskan 'kutukan' ini saudara Sultan yang termasuk pengikut Syekh Abu al-Hasan meminta maaf kepada Syekh, atas perlakuan Sultan kepadanya. Cerita yang sama juga dialami Ibnu al-Barra. Ketika mati ia juga banyak mengalami cobaan baik harta maupun agamanya.
Di antara karomahnya adalah, Abul Hasan berkata, "Ketika dalam suatu perjalanan aku berkata, "Wahai Tuhanku, kapankah aku bisa menjadi hamba yang banyak bersyukur kepada-Mu?, kemudian beliau mendengar suara , "Yaitu apabila kamu berpendapat tidak ada orang yang diberi nikmat oleh Allah kecuali hanya dirimu. Karena belum tahu maksud ungkapan itu aku bertanya, "Wahai Tuhanku, bagaimana saya bisa berpendapat seperti itu, padahal Engkau telah memberikan nikmat-Mu kepada para Nabi, ulama' dan para penguasa.
Suara itu berkata kepadaku, "Andaikata tidak ada para Nabi, maka kamu tidak akan mendapat petunjuk, andaikata tidak ada para ulama', maka kamu tidak akan menjadi orang yang taat dan andaikata tidak ada para penguasa, maka kamu tidak akan memperoleh keamanan. Ketahuilah, semua itu nikmat yang Aku berikan untukmu".
Di antara karomah sudi agung ini adalah, ketika sebagian para pakar fiqh menentang Hizib Bahr, Syekh Syadzili berkata, "Demi Allah, saya mengambil hizib tersebut langsung dari Rasulullah saw harfan bi harfin (setiap huruf)".
Di antara karomah Syekh Syadzili adalah, pada suatu ketika dalam satu majlis beliau menerangkan bab zuhud. Beliau waktu itu memakai pakaian yang bagus. Ketika itu ada seorang miskin ikut dalam majlis tersebut dengan memakai pakaian yang jelek. Dalam hati si miskin berkata, "Bagaimana seorang Syekh menerangkan bab zuhud sedangkan dia memakai pakaian seperti ini?, sebenarnya sayalah orang yang zuhud di dunia".
Tiba-tiba Syekh berpaling ke arah si miskin dan berkata, "Pakaian kamu ini adalah pakaian untuk menarik simpatik orang lain. Dengan pakaianmu itu orang akan memanggilmu dengan panggilan orang miskin dan menaruh iba padamu. Sebaliknya pakaianku ini akan disebut orang lain dengan pakaian orang kaya dan terjaga dari meminta-minta".
Sadar akan kekhilafannya, si miskin tadi beranjak berlari menuju Syekh Syadzili seraya berkata, "Demi Allah, saya mengatakan tadi hanya dalam hatiku saja dan saya bertaubat kepada Allah, ampuni saya Syekh". Rupanya hati Syekh terharu dan memberikan pakaian yang bagus kepada si miskin itu dan menunjukkannya ke seorang guru yang bernama Ibnu ad Dahan. Kemudian syekh berkata, "Semoga Allah memberikan kasih sayang-Nya kepadamu melalui hati orang-orang pilihan. Dan semoga hidupmu berkah dan mendapatkan khusnul khatimah".

Syeikh Syadzili Wafat

Syekh Abu al-Abbas al-Mursy, murid kesayangan dan penerus thariqah Syadziliyah mengatakan bahwa gurunya setiap tahun menunaikan ibdah haji, kemudian tinggal di kota suci mulai bulan Rajab sampai masa haji habis. Seusai ibadah haji beliau pergi berziarah ke makam Nabi SAW di Madinah. Pada musim haji yang terakhir yaitu tahun 656H, sepulang dari haji beliau memerintahkan muridnya untuk membawa kapak minyak wangi dan perangkat merawat jenazah lainnnya. Ketika muridnya bertanya untuk apa kesemuanya ini, beliau menjawab, "Di Jurang Humaistara (di propinsi Bahr al-Ahmar) akan terjadi kejadian yang pasti. maka di sanalah beliau meninggal.




Kota Fas rupanya beruntung sekali karena pernah melahirkan sang manusia langit yang namanya semerbak di dunia sufi pada tahun 596 H. Sang sufi yang mempunyai nama lengkap Ahmad bin Ali Ibrahim bin Muhammad bin Abi Bakr al-Badawi ini ternyata termasuk zurriyyah baginda Nabi, karena nasabnya sampai pada Ali Zainal Abidin bin Husain bin Ali bin Abi Talib, suami sayyidah Fatimah binti sayyidina Nabi Muhammad SAW.
Keluarga Badawi sendiri bukan penduduk asli Fas (sekarang termasuk kota di Maroko). Mereka berasal dari Bani Bara, suatu kabilah Arab di Syam sampai akhirnya tinggal di Negara Arab paling barat ini. Di sinilah Badawi kecil menghafal al-Qur'an mengkaji ilmu-ilmu agama khususnya fikih madzhab syafi'i. Pada tahun 609 H ayahnya membawanya pergi ke tanah Haram bersama saudara-saudaranya untuk melaksanakan ibadah haji. Mereka tinggal di Makkah selama beberapa tahun sampai ajal menjemput sang ayah pada tahun 627 H dan dimakamkan di Ma'la.

Badawi masuk Mesir
Sang sufi yang selalu mengenakan tutup muka ini suatu ketika ber-khalwat selama empat puluh hari tidak makan dan minum. Waktunya dihabiskan untuk meihat langit. Kedua matanya bersinar bagai bara. Sekonyong-konyong ia mendengar suara tanpa rupa. "Berdirilah !" begitu suara itu terus menggema, Carilah tempat terbitnya matahari. Dan ketika kamu sudah menemukannya, carilah tempat terbenamnya matahari. Kemudian...beranjaklah ke Thantha, suatu kota yang ada di propinsi Gharbiyyah, Mesir. Di sanalah tempatmu wahai pemuda".
Suara tanpa rupa itu seakan membimbingnya ke Iraq. Di sana ia bertemu dengan dua orang yang terkenal yaitu Syekh Abdul Kadir al-Jailani dan ar-Rifa'i. "Wahai Ahmad " begitu kedua orang itu berkata kepada Ahmad al-Badawi seperti mengeluarkan titah. " Kunci-kunci rahasia wilayah Iraq, Hindia, Yaman, as-Syarq dan al-Gharb ada di genggaman kita. Pilihlah mana yang kamu suka ". Tanpa disangka-sangka al-Badawi menjawab, "Saya tidak akan mengambil kunci tersebut kecuali dari Dzat Yang Maha Membuka.
Perjalanan selanjutnya adalah Mesir negeri para nabi dan ahli bait. Badawi masuk Mesir pada tahun 34 H. Di sana ia bertemu dengan al-Zahir Bibers dengan tentaranya. Mereka menyanjung dan memuliakan sang wali ini. Namun takdir menyuratkan lain, ia harus melanjutkan perjalanan menuju tempat yang dimaksud oleh bisikan gaib, Thantha, satu kota yang banyak melahirkan tokoh-tokoh dunia. Di sana ia menjumpai para wali, seperti Syaikh Hasan al-Ikhna`I, Syaikh Salim al- Maghribi dan Syaikh Salim al-Badawi. Di sinilah ia menancapkan dakwahnya, menyeru pada agama Allah, takut dan senantiasa berharap hanya kepada-Nya.
Badawi yang alim
Dalam perjalanan hidupnya sebagai anak manusia ia pernah dikenal sebagai orang yang pemarah, karena begitu banyaknya orang yang menyakit. Tapi rupanya keberuntungan dan kebijakan berpihak pada anak cucu Nabi ini. Marah bukanlah suatu penyelesaian terhadap masalah bahkan menimbulkan masalah baru yang bukan hanya membawa madarat pada orang lain, tapi diri sendiri. Diam, menyendiri, merenung, itulah sikap yang dipilih selanjutnya. Dengan diam orang lebih bisa banyak mendengar. Dengan menyendiri orang semakin tahu betapa rendah, hina dan perlunya diri ini akan gapaian tangan-tangan Yang Maha Asih. Dengan merenung orang akan banyak memperoleh nilai-nilai kebenaran. Dan melalui sikap yang mulia ini ia tenggelam dalam zikir dan belaian Allah SWT.
Laksana laut, diam tenang tapi dalam dan penuh bongkahan mutiara, itulah al-badawi. Matbuli dalam hal ini memberi kesaksian, "Rasulullah SAW bersabda kepadaku, " Setelah Muhammad bin Idris as-Syafiiy tidak ada wali di Mesir yang fatwanya lebih berpengaruh daripada Ahmad Badawi, Nafisah, Syarafuddin al-Kurdi kemudian al-Manufi.
Suatu ketika Ibnu Daqiq al-'Id mengutus Abdul Aziz al- Darini untuk menguji Ahmad Badawi dalam berbagai permasalahan. Dengan tenang dia menjawab, "Jawaban pertanyaan-pertanyaan itu terdapat dalam kitab "Syajaratul Ma'arif" karya Syaikh Izzuddin bin Abdus Salam.
Karomah Ahmad Badawi
Kendati karomah bukanlah satu-satunya ukuran tingkat kewalian seseorang, tidak ada salahnya disebutkan beberapa karomah Syaikh Badawi sebagai petunjuk betapa agungnya wali yang satu ini.
Al-kisah ada seorang Syaikh yang hendak bepergian. Sebelum bepergian dia meminta pendapat pada Syaikh al-Badawi yang sudah berbaring tenang di alam barzakh. "Pergilah, dan tawakkallah kepada Allah SWT"tiba-tiba terdengar suara dari dalam makam Syekh Badawi. Syaikh Sya'roni berkomentar, "Saya mendengar perkataan tadi dengan telinga saya sendiri ".
Tersebut Syaikh Badawi suatu hari berkata kepada seorang laki-laki yang memohon petunjuk dalam berdagang. "Simpanlah gandum untuk tahun ini. Karena harga gandum nanti akan melambung tinggi, tapi ingat, kamu harus banyak bersedekah pada fakir miskin". Demikian nasehat Syekh Badawi yang benar-benar dilaksanakan oleh laki-laki itu. Setahun kemudian dengan izin Allah kejadiannya terbukti benar.
Syekh Badawi wafat
Pada tahun 675 H sejarah mencatat kehilangan tokoh besar yang barangkali tidak tergantikan dalam puluhan tahun berikutnya. Syekh Badawi, pecinta ilahi yang belum pernah menikah ini beralih alam menuju tempat yang dekat dan penuh limpahan rahmat-Nya. Setelah dia meninggal, tugas dakwah diganti oleh Syaikh Abdul 'Al sampai dia meninggal pada tahun 773 H.
Beberapa waktu setelah kepergian wali pujaan ini, umat seperti tidak tahan, rindu akan kehadiran, petuah-petuahnya. Maka diadakanlah perayaan hari lahir Syaikh Badawi. Orang-orang datang mengalir bagaikan bah dari berbagai tempat yang jauh. Kerinduan, kecintaan, pengabdian mereka tumpahkan pada hari itu pada sufi agung ini. Hal inilah kiranya yang menyebabkan sebagian ulama dan pejabat waktu itu ada yang berkeinginan untuk meniadakan acara maulid. Tercatat satu tahun berikutnya perayaan maulid syekh Badawi ditiadakan demi menghindari penyalahgunaan dan penyimpangan akidah. Namun itu tidak berlangsung lama, hanya satu tahun. Dan tahun berikutnya perayaan pun digelar kembali sampai sekarang



Tarekat Sanusiyah bukan semata-mata tarekat biasa, melainkan ia adalah sebuah gerakan. Gerakan tajdid dan islam. Pengasasnya adalah Syeikh Muhammad Ali as-Sanusi.

Syeikh Muhammad bin Ali as-Sanusi telah dilahirkan pada hari Isnin 12 Rabiulawal 1202H/22 Disember 1787M di sebuah tempat yang bernama al-Wasitah, di Mustaghanim, Algeria.

Syeikh Muhammad Ali as-Sanusi adalah seorang ulama yang ikhlas dan suka merendahkan dirinya. Oleh itu, beliau telah mencapai kemajuan yang pesat di atas jalan kerohanian.

Tarekatnya bebas dari syirik dan khurafat. Beliau menyeru kepada ijtihad dan memerangi taqlid. Syeikh as-Sanusi yang bermazhab Maliki, akan menyalahi pendapat mazhabnya jika ada mazhab lain yang lebih mendekati kepada kebenaran.

Antara bintang dari tarekat ini adalah Umar Mukhtar sang Singa Padang Pasir yang terkenal itu.

Berikut ini adalah ringkasan dari Tarekat As-Sanusiyah:

- Sanusiyah merupakan gerakan dakwah Islam, islah dan tajdid.
- Secara umumnya mereka berpegang dengan al-Quran dan al-Sunnah dengan pengaruh tasauf.
- Ia muncul di Libya pada kurun ke-13 H.
- Tersebar luas hingga ke Selatan Afrika, Sudan, Somalia dan sebahagian negara Arab.
- Gerakan ini terpengaruh dengan al-Imam Ahmad bin Hanbal, Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah, Abu Hamid al-Ghazali.
- Gerakan ini juga terpengaruh dengan tasauf yang bersih dari syirik dan khurafat seperti bertawassul dengan orang mati dan orang soleh.
- Pengasas gerakan ini adalah Muhammad bin Ali as-Sanusi yang bermazhab Maliki, namun beliau akan menyalahi mazhab berkenaan jika di sana ada kebenaran bersama mazhab lain.
- Dalam berdakwah kepada Allah, gerakan ini menggunakan cara lembut dan berhikmah.
- Mereka menekankan dalam kerja-kerja tangan dan sentiasa berjihad Fi Sabilillah menentang penjajah, Salibi dan sebagainya.

Kalaulah Tarekat As-Sanusiyah ini masih wujud lagi, kita tidak tahu apakah jalan yang ditempuh masih lagi sebening jalan yang telah dirintis oleh pengasasnya Syeikh as-Sanusi dan Umar Mukhtar? Atau hanya sekadar mengambil sempena namanya sahaja, sedangkan yang lain sama sahaja dengan jalan yang ditempuh oleh tarekat-tarekat lain..? Allah Maha Mengetahui

Sebelum beliau meninggal dunia, beliau pernah berkata, "Hamba-hamba Allah ini telah memberikan kami satu tugas yang amat berat sekali sehingga andaikata ia diletakkan di atas gunung, ia tidak akan sanggup untuk memikulnya." Yang dimaksudkan oleh beliau ialah menjaga amanah Allah.

Syeikh Muhammad Ali as-Sanusi telah meninggal dunia pada bulan Safar tahun 1276H/1859M di al-Jaghbub, Libya.

Junaid Al-Baghdadi (maqamnya gambar di sebelah)adalah seorang ulama sufi dan wali Allah yang paling menonjol namanya di kalangan ahli-ahli sufi. Tahun kelahiran Imam Junaid tidak dapat dipastikan. Tidak banyak dapat ditemui tahun kelahiran beliau pada biografi lainnya. Beliau adalah orang yang terawal menyusun dan memperbahaskan tentang ilmu tasauf dengan ijtihadnya. Banyak kitab-kitab yang menerangkan tentang ilmu tasauf berdasarkan kepada ijtihad Imam Junaid Al-Baghdadi.
Imam Junaid adalah seorang ahli perniagaan yang berjaya. Beliau memiliki sebuah gedung perniagaan di kota Baghdad yang ramai pelanggannya. Sebagai seorang guru sufi, beliau tidaklah disibukkan dengan menguruskan perniagaannya sebagaimana sesetengah peniaga lain yang kaya raya di Baghdad.
Waktu perniagaannya sering disingkatkan seketika kerana lebih mengutamakan pengajian anak-anak muridnya yang dahagakan ilmu pengetahuan. Apa yang mengkagumkan ialah Imam Junaid akan menutup kedainya setelah selesai mengajar murid-muridnya. Kemudian beliau balik ke rumah untuk beribadat seperti solat, membaca al-Quran dan berzikir.


Setiap malam beliau berada di masjid besar Baghdad untuk menyampaikan kuliahnya. Ramai penduduk Baghdad datang masjid untuk mendengar kuliahnya sehingga penuh sesak.


Imam Junaid hidup dalam keadaan zuhud. Beliau redha dan bersyukur kepada Allah SWT dengan segala nikmat yang dikurniakan kepadanya. Beliau tidak pernah berangan-angan untuk mencari kekayaan duniawi dari sumber pekerjaannya sebagai peniaga.


Beliau akan membahagi-bahagikan sebahagian dari keuntungan perniagaannya kepada golongan fakir miskin, peminta dan orang-orang tua yang lemah.
Bertasauf Ikut Sunnah Rasulullah saw


Imam Junaid seorang yang berpegang kuat kepada al-Quran dan as-Sunnah. Beliau sentiasa merujuk kepada al-Quran dan sunnah Rasulullah saw dalam setiap pengajiannya.


Beliau pernah berkata:


"Setiap jalan tertutup, kecuali bagi mereka yang sentiasa mengikuti perjalanan Rasulullah saw. Sesiapa yang tidak menghafal al-Quran, tidak menulis hadis-hadis, tidak boleh dijadikan ikutan dalam bidang tasauf ini."


Memiliki Beberapa Kelebihan dan Karamah
Imam Junaid mempunyai beberapa kelebihan dan karamah. Antaranya ialah berpengaruh kuat setiap kali menyampaikan kuliahnya. Kehadiran murid-muridnya di masjid, bukan saja terdiri daripada orang-orang biasa malah semua golongan meminatinya.


Masjid-masjid sering dipenuhi oleh ahli-ahli falsafah, ahli kalam, ahli fekah, ahli politik dan sebagainya. Namun begitu, beliau tidak pernah angkuh dan bangga diri dengan kelebihan tersebut.


Diuji Dengan Seorang Wanita Cantik


Setiap insan yang ingin mencapai keredhaan Allah selalunya menerima ujian dan cabaran. Imam Junaid menerima ujian daripada beberapa orang musuhnya setelah pengaruhnya meluas. Mereka telah membuat fitnah untuk menjatuhkan imej Imam Junaid.


Musuh-musuhnya telah bekerja keras menghasut khalifah di masa itu agar membenci Imam Junaid. Namun usaha mereka untuk menjatuhkan kemasyhuran Imam Junaid tidak berhasil.


Musuh-musuhnya berusaha berbuat sesuatu yang boleh memalukan Imam Junaid. Pada suatu hari, mereka menyuruh seorang wanita cantik untuk memikat Imam Junaid. Wanita itu pun mendekati Imam Junaid yang sedang tekun beribadat. Ia mengajak Imam Junaid agar melakukan perbuatan terkutuk.


Namun wanita cantik itu hanya dikecewakan oleh Imam Junaid yang sedikitpun tidak mengangkat kepalanya. Imam Junaid meminta pertolongan dari Allah agar terhindar daripada godaan wanita itu. Beliau tidak suka ibadahnya diganggu oleh sesiapa. Beliau melepaskan satu hembusan nafasnya ke wajah wanita itu sambil membaca kalimah Lailahailallah. Dengan takdir Tuhan, wanita cantik itu rebah ke bumi dan mati.


Khalifah yang mendapat tahu kematian wanita itu telah memarahi Imam Junaid kerana menganggapnya sebagai suatu perbuatan jenayah.


Lalu khalifah memanggil Imam Junaid untuk memberikan penjelasan di atas perbuatannya. "Mengapa engkau telah membunuh wanita ini?" tanya khalifah.


"Saya bukan pembunuhnya. Bagaimana pula dengan keadaan tuan yang diamanahkan sebagai pemimpin untuk melindungi kami, tetapi tuan berusaha untuk meruntuhkan amalan yang telah kami lakukan selama 40 tahun," jawab Imam Junaid.


Wafatnya


Akhirnya kekasih Allah itu telah menyahut panggilan Ilahi pada 297 Hijrah. Imam Junaid telah wafat di sisi As-Syibli, seorang daripada muridnya.


Ketika sahabat-sahabatnya hendak mengajar kalimat tauhid, tiba-tiba Imam Junaid membuka matanya dan berkata, "Demi Allah, aku tidak pernah melupakan kalimat itu sejak lidahku pandai berkata-kata."














Karena pemikiran yang dangkal
apa yang tampak kemunafikan pada
diri orang yang tercerahkan (mukasyafah),
sesungguhnya itu lebih baik dibanding
apa yang dirasakan sebagai ketulusan pada
si pemula.
(Hadhrat Bayazid al-Bisthami)

Hampir semua Sufi, pada suatu waktu atau lainnya, merupakan anggota
dari salah satu Tarekat yang oleh para sarjana Barat disebut "Order",
sebagai isyarat dari dugaan kemiripannya dengan ordo-ordo keagamaan
Kristiani pada Abad Pertengahan. Ada beberapa perbedaan penting antara
dua jenis organisasi tersebut.

Tarekat, bagi seorang Sufi, bukanlah suatu pelestarian entitas diri
yang langsung dengan suatu hirarki dan pernyataan yang baku serta
membentuk suatu sistem pelatihan bagi pemeluknya. Sifat Sufisme adalah
evolusioner, untuk itu suatu lembaga Sufi niscaya tidak mungkin
mengambil suatu bentuk permanen sekaku ini. Di tempat-tempat tertentu
dan di bawah guru-guru individual, sekolah-sekolah muncul dan
melaksanakan suatu kegiatan yang dimaksudkan untuk meningkatkan
kebutuhan manusia terhadap penyempurnaan pribadi. Sekolah-sekolah ini
(seperti sekolah Rumi dan Data Ganj Bakhsh, sebagai contoh) menarik
minat banyak orang yang bukan Muslim, meskipun sekolah-sekolah Sufi
sejak kemunculan Islam, selalu dipimpin oleh orang-orang yang berasal
dari tradisi Muslim.

Kemudian, meskipun Tarekat-tarekat Sufi memiliki aturan-aturan khusus
dan serangkaian pakaian dan ritual, hal ini bukan suatu keharusan, dan
sejauh mana Sufi mengikuti bentuk-bentuk ini ditentukan oleh
kebutuhannya terhadap hal-hal itu, sebagaimana yang diperintahkan oleh
gurunya.

Beberapa Tarekat besar mempunyai sejarah yang rinci, tetapi
kecenderungan untuk membagi ke dalam berbagai bentuk spesialisasi pada
waktu-waktu tertentu sama-sama mempunyai karakteristik nominal. Hal
ini karena Tarekat dikembangkan melalui wahana untuk memenuhi suatu
keperluan batin, tidak diarahkan oleh kerangka kerja organisasinya
yang tampak jelas secara lahiriah.

Karena begitu banyak sekolah-sekolah tersebut maka salah seorang Sufi
terbesar, Hujwiri (w. 1063) menulis sebuah kitab1 yang membahas
Sufisme dan Tarekat-tarekat pada abad kesebelas, dengan memberikan
informasi mendalam tentang mereka. Sebagian orang justru menganggap
bahwa ia telah mengarang-ngarang sebagian dari bahan tersebut.

Bahkan perkembangan itu sendiri, berbeda dengan apa yang diduga orang,
merupakan bagian dari kebijaksanaan darwis yang tidak bisa dihindari.
Data ("darwis" dalam Hindu) Ganj Bakhsh (dalam bahasa India berarti
Orang Dermawan) adalah gelar Ali al-Hujwiri yang dikenal di India.

Dilahirkan di Ghazna (Afghanistan), para Sufi menyebutnya sebagai
"Yang Terpilih", orang yang dipilih untuk memaparkan
kenyataan-kenyataan tertentu tentang Sufisme dan organisasi Sufi di
daratan India. Meskipun bukan berarti Sufi pertama ini tinggal di
India (ia dimakamkan di Lahore, Pakistan, dan makamnya diziarahi oleh
orang-orang dari semua kepercayaan), tugasnya adalah untuk menegaskan,
melalui kehidupan dan karya-karyanya, suatu klaim bahwa Sufisme secara
keseluruhan sesuai dengan prinsip-prinsip Islam. Arti pentingnya tidak
mungkin diabaikan sebagaimana penulis Kristiani John Subhan mengatakan:

Makam Ali al-Hujwiri mungkin masih bisa dilihat di Lahore dekat pintu
gerbang Bhati. Ia telah menjadi tujuan ziarah dan penghormatan selama
sembilan ratus tahun. Semua macam dan kedudukan manusia, para raja dan
pengemis, telah mengunjunginya selama berabad-abad, untuk mencari
berkah spiritual dan temporal. Semua penakluk Muslim dan para darwis
yang mengembara, di saat memasuki negeri ini, telah menjadikan
makamnya sebagai titik tujuan penghormatannya.2
Kedudukan Hujwiri di kalangan Sufi mendekati peranan penting sebagai
seorang penafsir Sufisme bagi orang-orang Muslim itu sendiri. Bagi
Sufi, kitab Kasyful Mahjub memuat bahan-bahan yang hanya bisa
dipahaminya, tersimpan dalam bentuk sebuah kitab yang dimaksudkan
untuk dibaca oleh orang-orang Muslim yang saleh untuk memperkenalkan
mereka kepada cara berpikir Sufi melalui terminologi tradisi formal
mereka yang telah dikenal.

Kitab tersebut dikaji dengan seksama oleh anggota-anggota dari semua
Tarekat. Hujwiri sendiri belajar di bawah bimbingan Abu al-Qasim
Jurjani, seorang guru besar dari Tarekat Naqsyabandiyah, dan karya
utamanya adalah kitab Kasyful Mahjub, yang merupakan buku pertama
tentang Sufisme dan Tarekat dalam bahasa Persia.

Kitab tersebut mencatat kehidupan para Sufi terkenal, pada masa kuno
maupun kontemporer, referensi-referensi untuk ajaran, shadagah, doa,
kepercayaan dan mistisisme. Kitab ini ditujukan kepada mereka yang
ingin mendekati Sufisme melalui konteks Islam yang berlaku. Di balik
penyajian yang jelas ini, dengan suatu cara yang hanya bisa dipahami
oleh para Sufi, kitab Kasyful Mahjub mengandung informasi tentang
penggunaan dan makna dari bahasa rahasia yang digunakan para Sufi
untuk berkomunikasi dan menjalankan latihan khusus.

Untuk sementara semua yang diungkap tentang hal ini termuat pada
bagian yang membahas tentang jubah tambalan. Pemakaian jubah tambalan
merupakan adat Sufi, sebagai ciri Sufi yang mempraktikkan Jalan
tersebut. Ia mungkin bisa disebut sebagai seragam darwis pengembara,
dan ini terlihat di hampir semua bagian Asia dan Eropa selama hampir
empat belas abad. Nabi Muhammad (saw.) dan beberapa sahabat
menunjukkan penerimaan mereka terhadap Jalan Sufi dengan mengadopsi
pakaian jubah ini. Banyak guru Sufi menulis tentang cara menjahit
lembaran-lembaran kain tersebut, siapa yang boleh memakainya, siapa
yang boleh menganugerahinya, dan sebagainya. Semua fenomena ini adalah
bagian dari misteri Sufi.

Kajian tentang jubah tambalan yang ditulis Hujwiri, jika dibaca secara
dangkal, mungkin bisa memuaskan seorang teolog yang saleh. Dengan
merenungkan hubungan antara tambalan-tambalan kain dan kemiskinan,
cara menjahit lembaran kain secara benar dan pembenaran lahiriah atas
kezuhudan yang ditunjukkan oleh tambalan-tambalan kain itu, maka bab
ini bisa dibaca sebagai suatu yang bersifat kesalehan, suatu kumpulan
gagasan dan fakta-fakta yang sangat memuaskan dan dikarang untuk
tujuan-tujuan sentimentil. Kenyataan ini sangat khas.

Ketika membaca teks tersebut, pertama-tama seorang pelajar harus
menyadari bahwa dia tidak bisa menerjemahkan kata "tambalan" itu dan
mengabaikannya. Dia harus mencermati konsep-konsep yang terkandung
dalam istilah Arab itu, dan merenungkannya untuk diterapkan terhadap
teks dengan cara tertentu. Kemudian dia akan bisa memahami makna
"lembaran", "berjalan" atau "kebodohan yang parah" dan seterusnya.

Dengan demikian pengaruh kitab tersebut terhadap Sufi sangat berbeda
dengan peneijemahan yang akan dia dapatkan dari suatu pembacaan yang
dangkal. Inilah sebuah contoh terjemahan semi harfiah yang diambil
dari terjemahan Profesor Nicholson untuk bagian itu:

"Berupaya menjahit jubah-jubah tambalan diperbolehkan oleh para Sufi,
sebab mereka telah memperoleh reputasi yang tinggi dalam masyarakat;
karena banyak orang meniru mereka dan memakai jubah-jubah tambalan
serta bersalah karena melakukan tindakan yang tidak terpuji; karena
para Sufi tidak menyukai masyarakat selain masyarakatnya sendiri
--karena alasan-alasan inilah mereka menciptakan suatu jubah yang
tidak bisa dijahit siapa pun kecuali mereka sendiri, dan menjadikannya
sebagai tanda untuk saling mengenal dan sebagai suatu lencana.
Sedemikian (rumitnya) sehingga ketika seorang darwis menemui salah
seorang Syekh dengan mengenakan sebuah baju, Syekh tersebut mengusirnya."

Akar kata bahasa Arab yang merupakan asal kata "tambalan" juga
memiliki serangkaian makna yang penting. Diantaranya kita bisa mencatat:

Yang bukan-bukan, "nyleneh" (raqua). Cara Sufi tampil ketika dia
tengah berbicara atau bertindak dalam hubungannya dengan suatu
pengetahuan-ekstra (inderawi) yang tidak bisa dimengerti oleh orang
awam. "Ocehan-Pelawak" merupakan terjemahan yang tepat untuk sifat
ini. "Bodoh" dalam pengertian Sufi juga berasal dari akar kata yang
sama (arqa'a).
Mabuk karena anggur (raqaa'). Para Sufi menggunakan analogi kemabukan
untuk menyebut pengalaman mistis tertentu.
Sikap tidak peduli (artaqa'). Sufi tampak sebagai orang yang tidak
peduli terhadap hal-hal yang tampak paling penting bagi orang awam,
tetapi secara obyektif mungkin memiliki arti penting lain.
Langit Ketujuh (raqa'). Suatu isyarat bagi sifat ketuhanan dalam Sufisme.
Papan Catur (ruqa'at). Pergantian hitam dan putih dari cahaya dan
kegelapan, bagian lantai di tempat-tempat pertemuan darwis tertentu
dengan warna seperti papan catur.
Baju tambalan (muraqqa'). Satu-satunya kata dari kelompok (kata) ini
selain kata terakhir yang bisa digunakan sebagai simbol atau alat,
suatu obyek kiasan yang menerangkan akar kata tersebut sebagai suatu
keseluruhan dan semuanya mengandung makna Sufi.
Menambal baju, berjalan dengan cepat, menulis (prasasti), menguasai
sasaran dengan anak-panah. Semua (makna) ini merupakan kata turunan
dari akar kata yang sama yaitu raqa'a.
Memperbaiki (sumur) menyimbolkan perbaikan "sumur" pengetahuan
manusia, yang menurut para Sufi memiliki akar kata yang sama.
Salah satu tugas Hujwiri adalah menuliskan kode-kode rahasia Sufi
sebagai unsur-unsur pokok yang digunakan oleh madzhab-madzhab darwis.

Hujwiri datang ke India mengikuti teknik perjalanan yang secara luas
dipraktikkan pada Tarekat-tarekat tersebut. Ia dianjurkan gurunya
untuk pergi dan menetap di Lahore. Ini merupakan keinginannya yang
terakhir, tetapi karena ia berada di bawah disiplin utuh yang berada
di antara (status) murid dan guru, maka ia berangkat ke India. Setiba
di Lahore, ia melihat jenazah Syekh Hasan Zanjani tengah diusung ke
kuburnya. Hujwiri adalah penerusnya, dan untuk itulah ia menyadari
bahwa ia diutus karena alasan ini. Contoh penggantian guru-guru Sufi
yang menjelang kematiannya dengan mengirim seseorang dari tempat yang
sangat jauh seperti ini bukan sesuatu yang aneh dalam sejarah darwis.

Hujwiri tidak mendirikan sebuah Tarekat, tetapi tetap sebagai seorang
guru secara umum. Namanya termasuk dalam daftar guru-guru dengan
barakah-nya yang memancar ke seluruh komunitas darwis, tanpa melihat
masa di mana dia hidup. Setelah meninggal, diyakini bahwa
kewibawaannya tetap hidup di bumi, sebab kesempurnaannya telah
mencapai tingkatan sedemikian rupa sehingga kematian lahiriah tidak
memusnahkannya.

Tarekat-tarekat Sufi mungkin diorganisir dalam suatu bentuk
kependetaan. Di sisi lain, "biara" atau madzhab Sufi mungkin terdiri
dari suatu mata rantai orang-orang dan kegiatan yang menyebar di
kawasan yang luas dan tidak terlihat oleh orang luar. Oleh karena itu
ada Tarekat-tarekat --dan khususnya cabangcabang Tarekat-- dengan
beberapa anggotanya berada di India, yang lain di Afrika, sebagian
lagi di Indonesia. Secara kolektif mereka membentuk organisasi dari
madzhab tersebut. Karena para Sufi meyakini kemungkinan berkomunikasi
tanpa kehadiran secara fisik, maka konsep dari suatu Tarekat yang
tersebar seperti ini lebih mudah diterima oleh Sufi dibandingkan
orang-orang yang terbiasa dengan pandangan-pandangan yang lebih
konvensional tentang masyarakat dan tujuan manusia.

Cabang-cabang Tarekat berupa serikat pekerja, kelompok pelajar,
kesatuan-kesatuan pasukan. Kecuali pada masa yang lebih modern, jenis
kesatuan yang ditunjukkan melalui biara konvensional. Biara Sufi, yang
secara lahiriah serupa dengan biara Kristiani, Hindu atau Budha, dalam
kenyataannya merupakan produk dari kondisi-kondisi ekonomi dan
politis, bukan sebagai hasil dari suatu kepentingan esoteris. Menurut
para Sufi, "biara merupakan jantung manusia". Sekali lagi, ungkapan
ini sejalan dengan gagasan darwis bahwa Sufisme merupakan suatu
entitas yang berkembang, dan tidak bisa tetap menjadi satu sistem
untuk menurunkan bentuk-bentuk, betapapun menariknya bentuk tersebut.

Di tempat-tempat di mana bentuk kehidupan feodal masih berlangsung,
karena terikat kepada hasil pertanian, biara-biara Sufi terus
berkembang. Di daerah perkotaan, pusat-pusat Sufi lebih terkait dengan
irama kehidupan kota dan mendapatkan penghasilan dari toko-toko yang
disumbangkan kepada komunitas atau dari "pajak" pendapatan
anggota-anggota tarekat tersebut.

Jadi, Tarekat Sufi berperan sebagai lembaga masyarakat yang secara
khusus menerima, menggunakan dan menyebarkan Sufisme. Ia tidak
memiliki bentuk tradisional, dan penampilan lahiriahnya akan
tergantung kepada kondisi-kondisi lokal dan keperluankeperluan "amal".

Sebuah perusahaan penerbitan Arab adalah sebuah organisasi Sufi. Di
beberapa kawasan, semua pekerja industri dan pertanian adalah para
Sufi. Profesi-profesi tertentu di beberapa negara didominasi oleh para
Sufi. Kelompok-kelompok para Sufi ini mungkin memandang dirinya
sendiri sebagai Tarekat atau biara, yang terlibat dalam tugas khusus
penerimaan, pemeliharaan dan penyebaran.

Tentu saja faktor sentral Tarekat adalah menghasilkan sosok manusia
pengajar, sebagaimana terlihat dari dakwah tarekat atau suatu promosi
mekanik dalam hubungannya dengan tingkatan yang tidak bisa
diidentifikasi. Para Sufi tidak mempunyai kubu.

Hal ini bukan berarti bahwa hirarki dari para Sufi tidak ditentukan
dengan baik. Tetapi seorang Sufi dikenal oleh Sufi lainnya, dan sejauh
menyangkut tingkatan, melalui cara-cara selain dari penampakan
lencana. Suatu tingkatan perkembangan tertentu dari individu, selain
harus ditegaskan oleh seorang guru, dipegang oleh para Sufi dan
(hanya) bisa dilihat oleh orang-orang lain yang telah mencapai
tingkatan serupa.

Di dalam sekolah Tarekat itulah penerimaan awal dan perkembangan dari
calon Sufi terjadi. Tidak seperti sistem-sistem pengajaran lainnya,
tidak ada satu pun bentuk pengondisian. Calon (Sufi) harus dibiasakan
kepada prinsip-prinsip Tarekat dan sosok guru, tetapi sebelum hal ini
terjadi ia harus diuji. Pengujian tersebut dilakukan dengan tujuan
melepaskan pribadi-pribadi yang tidak sesuai. Mereka yang mempunyai
keinginan untuk menggabungkan dirinya kepada suatu organisasi atau
individu-individu (tertentu) karena kelemahan mereka sendiri, akan
tertolak. Orang-orang yang telah tertarik kepada reputasi para Sufi
dan ingin meraih kekuatan-kekuatan ajaib akan tersisih. Tugas-tugas
awal yang diberikan kepada seorang calon anggota memiliki dua fungsi
utama --pertama adalah menentukan kesesuaiannya, kedua adalah
memperlihatkan kepadanya bahwa dia harus menginginkan kehidupan Sufi
untuk kepentingan kesufian itu sendiri.

Seorang guru yang bertanggung jawab atas calon darwis seringkali
melakukan apa saja yang dia mampu untuk menghalanginya --bukan dengan
cara persuasi, tetapi dengan memainkan suatu peran yang mungkin tampak
memantulkan cacat dirinya sendiri. Para Sufi yakin bahwa hanya dengan
cara-cara ini mereka bisa berkomunikasi dengan esensi yang menunggu
untuk dibangkitkan oleh dorongan hati Sufi. Komunikasi formal dengan
kepribadian lahiriah dari calon Sufi tidaklah penting. Ketika jiwa
belum mampu menangkap Sufisme secara koheren, sang Sufi tidak akan
berusaha membujuknya. Ia harus berkomunikasi dengan kedalaman yang
lebih besar. Orang-orang yang bisa diyakinkan melalui cara-cara
konvensional tentang arti penting Sufisme ini, tidak akan menjadi
pengikut yang murni.

Banyak laporan-laporan tentang perilaku para Sufi yang konyol dan
tidak bisa diterima berasal dari pelaksanaan rencana-rencana semacam ini.

Banyak dari Tarekat-tarekat besar telah diberi julukan. Tarekat
ar-Rifa'iyah disebut "Para Darwis yang Meraung"; al-Qalandariyah
disebut "Gundul"; al-Chisytiyah disebut "Para Musisi"; al-Mevlevi
disebut "Tari", dan Tarekat Nagsyabandiyah disebut "Diam".

Tarekat-tarekat ini umumnya dinamakan sesuai dengan nama pendiri dari
spesialisasi yang mereka wakili. Sebagai contoh, Rumi mengorganisir
"tarian-tarian" sesuai dengan apa yang ia pandang menjadi cara terbaik
untuk mengembangkan pengalaman-pengalaman Sufistik bagi
murid-muridnya. Sebagaimana tercantum dalam catatan-catatan kuno,
tarian-tarian itu sesuai dengan mentalitas dan temperamen orang-orang
Konia. Para peniru telah berupaya mengekspor sistem tersebut ke luar
daerah budayanya, akibatnya tarian-tarian tersebut tidak ubahnya
seperti sebuah pantomim dan pengaruh asli dari gerakannya telah hilang.

Gerakan-gerakan ritmis (dan tidak ritmis) yang disebut tarian
digunakan banyak Tarekat dan selalu merespon kebutuhan-kebutuhan
individual dan kelompok. Dengan demikian gerakan-gerakan Sufi tidak
bisa dilakukan, dan tidak membentuk apa yang di mana saja disebut
tarian, senam atau semacamnya. Penggunaan gerakan-gerakan mengikuti
suatu pola yang didasarkan kepada penemuan-penemuan dan pengetahuan
tertentu yang hanya bisa diterapkan oleh seorang mursyid/guru dari
sebuah Tarekat darwis.

Tampaknya tarian-tarian keagamaan yang dikenal dalam Kristiani,
Yudaisme dan bahkan suku-suku primitif merupakan suatu kemerosotan
dari pengetahuan ini dan akhirnya ditekan menjadi hiburan, berbentuk
magis atau bentuk-bentuk yang superfisial.

"Jika pisau cukur tidak digunakan mencukur jenggot setiap hari," ucap
penyair Sufi terkenal, Jami', "maka dengan pertumbuhan yang lebih
cepat jenggot cenderung lebat seperti rambut di kepala." (Baharistan
--Peraduan Musim Semi).

Tarekat darwis mungkin bisa dilihat sebagai sebuah organisasi dengan
sejumlah aturan minimum. Seperti perhimpunan lainnya yang mempunyai
suatu tujuan, aturan-aturan Tarekat akan berakhir ketika tujuan telah
tercapai.

Diagram-diagram skematis yang dipergunakan oleh Tarekat-tarekat
tersebut bisa membantu menjelaskan gagasan ini. Lingkaran rantai dari
Tarekat-tarekat itu memperlihatkan bagaimana kelompok-kelompok
tersebut berasal dari madzhab-madzhab yang dikelilingi guru-guru
tertentu. Madzhab-madzhab ini mengambil inspirasi dari majelis pribadi
Muhammad (saw) dan para sahabat dekatnya. Oleh karena itu, dalam
sebuah peta geometrik semacam ini, pusat (diagram) memperlihatkan
sahabat-sahabat Abu Bakar, Ali dan Abdul Aziz al-Makki dalam sebuah
lingkaran. Di sekeliling lingkaran ini ada tujuh lingkaran lebih
kecil, masing-masing lingkaran berisi nama dari seorang guru besar.
Tujuh Jalan utama Sufisme dan spesialisasi-spesialisasi pengajaran
memancar dari pribadi-pribadi ini.

Semua Tarekat darwis mengklaim mendapatkan barakah dari salah satu
atau beberapa guru ini. Harus diingat bahwa karena Sufisme tidak
statis, maka semua barakah para pendiri Tarekat-tarekat tersebut
diyakini merembes semua Tarekat-tarekat tersebut.

Bentuk pusaran dan lingkaran-lingkaran yang saling terangkai tersebut
menunjukkan kesaling-ketergantungan dan gerakan ini. Dalam puisi, para
pengarang seperti Rumi telah menekankan hal ini dengan menyatakan:
"Ketika engkau melihat dua orang Sufi bersama-sama, engkau melihat
keduanya dan dua puluh ribu lainnya."

Tujuan organisasi temporer yang disebut Tarekat dan disetujui oleh
semua guru itu adalah menyediakan lingkungan dimana anggota bisa
mencapai kemantapan batin yang bisa dibandingkan atau identik dengan
keadaan batin para guru awal.

Dorongan untuk menciptakan suatu Tarekat dengan menggunakan sekelompok
kata-kata dan dipilih untuk menggambarkan kegiatan-kegiatan atau
karakteristik tarekat, sangat jelas. Semua anggota tahu bahwa format
tersebut bukan bersifat mistik, tetapi berubah-ubah. Akibatnya, mereka
tidak bisa terikat secara emosional kepada lambang-lambang Tarekat.
Dengan demikian pemusatan perhatian diarahkan pada rantai penyampaian
(hubungan dengan substansi individu-individu). Kemudian, karena
diyakini bahwa "Insan Kamil" adalah suatu individualitas sejati dan
sekaligus suatu bagian menyeluruh dari kesatuan esensial, maka Sufi
tidak mungkin melekatkan dirinya kepada satu personalitas semata.
Sejak awal ia mengetahui bahwa kekuatan-kekuatan batinnya sedang
dibimbing dari satu tahapan ke tahapan berikutnya. Oleh karena itu,
dalam tarekat-tarekat darwis yang menjalankan kesalehan ketat, ada
serangkaian kemajuan baku melalui satu individu. Pertama-tama murid
harus melekatkan dirinya kepada guru. Ketika ia mungkin telah mencapai
perkembangan maksimal, guru akan memindahkannya pada realitas pendiri
Tarekat. Dari sini ia memindahkan kesadarannya kepada substansi
("kaki") Muhammad, perintis ajaran (Tarekat) dalam bentuk kontemporer.
Dari sini ia dipindahkan kepada realitas Tuhan. Ada cara-cara lain
dengan penerapan yang bergantung pada karakter sekolah dan terutama
kualitas-kualitas kepribadian yang terkait. Dalam beberapa latihan,
murid harus membenamkan dirinya sendiri dalam kesadaran para guru
lainnya, termasuk Yesus dan lain-lainnya, yang dipandang oleh para
Sufi sebagai anggota mereka.

Salah satu tujuan ziarah ke makam-makam atau bekas tempat tinggal guru
adalah untuk melakukan hubungan dengan realitas atau substansi ini.
Dalam ungkapan netral bisa dikatakan bahwa para Sufi meyakini,
aktivitas Sufistik dalam menghasilkan seorang Insan Kamil
mengakumulasi suatu kekuatan (substansi) sehingga ia sendiri mampu
melakukan proses pengubahan individu yang lebih kecil. Hal ini tidak
perlu dirancukan dengan gagasan tentang kekuatan magis tersebut,
karena kekuatan yang ditempa sang Salik itu hanya akan bekerja bila
didasarkan pada niat yang murni dan dia terbebas dari keakuannya.
Kemudian ia akan bertindak dengan caranya sendiri, bukan dengan cara
yang bisa diantisipasi oleh sang Salik. Lantaran telah melewati jalan
tersebut sebelumnya, hanya gurunya yang bisa menilai akibat apakah
yang akan ditimbulkan dari pengungkapan (tersingkapnya tabir) semacam ini.

Di dalam tarekat-tarekat tersebut, ketika murid telah diterima untuk
mendapatkan pelatihan di bawah seorang mursyid, ia harus dipersiapkan
untuk menghadapi pengalaman-pengalaman yang tidak mampu dimengerti
oleh jiwanya yang belum tercerahkan.3 Proses yang mengikuti
pengondisian atau pemikiran otomatis, disebut sebagai "pengaktifan
hal-hal yang pelik".

Tidak ada padanan kata yang tepat dalam bahasa Inggris untuk istilah
teknis "kepelikan" itu. Kata asalnya adalah lathifah (jamak: lathaif).
Kata ini diterjemahkan dengan "titik kesucian", "tempat pencerahan",
"pusat realitas". Dalam rangka mengaktifkan unsur ini, maka suatu
keadaan yang bersifat fisik teoritis ditetapkan dalam tubuh --umumnya
dipandang sebagai pusat dimana kekuatan atau barakah terbukti paling
kuat. Secara teoritis lathifah dipandang sebagai "suatu organ baru
dari persepsi spiritual".

Akar kata dalam bahasa Arabnya berasal dari tiga akar kata LThF. Dari
akar kata ini, istilah-istilah yang dipergunakan dalam bahasa Arab
meliputi konsep-konsep kepelikan, kehalusan, keramahan, karunia atau
kerelaan, kesamaran. Oleh karena itu, dalam ungkapan "seks yang
lembut," kata yang diterjemahkan dengan "yang lembut" dalam bahasa
Arabnya diambil dari akar kata ini.

Murid harus membangkitkan lima lathaif, menerima pencerahan melalui
lima dari tujuh pusat komunikasi yang halus. Dengan dipimpin oleh
pembimbing (Syekh), metode ini bertujuan memusatkan kesadaran pada
kawasan tertentu dari tubuh dan kepala, masing-masing kawasan
dihubungkan dengan fakultas-fakultas lathifah.

Karena setiap lathifah diaktifkan melalui latihan-latihan, kesadaran
murid berubah untuk menampung kemampuan jiwanya yang lebih besar. Ia
menembus kebutaan yang membuat orang awam tertawan dalam kehidupan dan
seolah-olah hal itu tampak sebagai sesuatu yang wajar.

Oleh karena itu, dalam beberapa hal, pengaktifan pusat-pusat lathifah
tersebut menghasilkan suatu sosok manusia baru. Untuk pembaca yang
secara tidak sadar mengaitkan sistem ini dengan sistem-sistem lainnya
yang mungkin menyerupainya, kita harus mencatat bahwa pengaktifan
lathaif tersebut hanyalah satu bagian dari suatu perkembangan yang
sangat komprehensif dan tidak bisa dilaksanakan sebagai suatu kajian
individual.

Lima pusat tersebut dinamakan Hati, Ruh, Rahasia, Misterius dan Yang
Sangat Tersembunyi. Tanpa membicarakan secara ketat suatu lathifah
sama sekali, hal lain adalah Diri yang tersusun dari suatu kumpulan
"diri-diri". Inilah keseluruhan dari apa yang oleh orang-orang
dipandang sebagai kepribadian. Hal ini ditandai dengan serangkaian
rasa dan kepribadian yang berubah-ubah dengan kecepatan gerak yang
memberikan kesan kepada seseorang bahwa kesadarannya konstan atau
merupakan suatu kesatuan. Padahal tidak demikian.

Kepelikan ketujuh hanya bisa dipahami oleh mereka yang telah
mengembangkan kepelikan-kepelikan (kesamaran-kesamaran) lainnya dan
menjadi milik seorang arif sejati, pemegang dan penyampai ajaran.

Pencerahan atau pengaktifan salah satu atau lebih dari pusat-pusat
lathifah tersebut mungkin terjadi secara parsial atau aksidental.
Ketika hal ini teijadi, pada suatu waktu seseorang mungkin mencapai
suatu pendalaman pengetahuan intuitif berkaitan dengan lathifah yang
terlibat. Tetapi jika hal ini bukan suatu bagian dari perkembangan
komprehensif, maka jiwa akan mencoba secara sia-sia untuk
menyeimbangkan dirinya sendiri di sekitar "piala agung" ini, suatu
tugas yang mustahil. Akibatnya bisa sangat berbahaya, seperti semua
fenomena mental satu-sisi, dan meliputi anggapan-anggapan yang
berlebihan tentang arti penting diri (ujub), munculnya sifat-sifat
tercela, atau suatu pembusukan kesadaran karena membanggakan suatu
kemampuan.

Latihan-latihan pernafasan atau gerakan-gerakan tari yang dilakukan
dengan runtutan yang tepat juga bisa menghasilkan dampak yang sama.

Perkembangan yang timpang akan menghasilkan orang-orang yang mungkin
mempunyai ilusi bahwa mereka adalah orang yang tercerahkan atau arif
Akibat kekuatan inheren dari lathifah, orang semacam ini mungkin hidup
di masyarakat luas dan menjadi panutan. Dalam diagnosa Sufi, tipe
kepribadian seperti ini menyebabkan munculnya sejumlah besar guru-guru
metafisika palsu. Tentu saja mereka sendiri merasa bahwa mereka asli.
Ini karena kebiasaan menipu diri sendiri atau memperdaya orang lain
belum dihilangkan. Justru kebiasaan tersebut didukung dan diperkuat
oleh kebangkitan organ baru yang belum terarahkan, yakni lathifah.

Kawasan-kawasan yang terlibat dalam pengaktifan lathifah adalah: Diri
(nafsu/hawa), di bawah pusar; Hati, tempatnya hati lahiriah; Ruh, pada
sisi tubuh yang berhadapan dengan posisi hati. Rahasia lathifah tepat
berada di antara Hati dan Ruh. Misteri berada di dahi; Yang Sangat
Tersembunyi berada di otak.

Makna-makna aktual dari tempat-tempat ini berasal dari suatu realisasi
khusus Sufi ketika lathifah yang dimaksud sedang diaktifkan. Ini
hanyalah awal kajian sehingga mereka diberi tempat-tempat ini.

Di sekolah-sekolah darwis, ada hubungan dialogis khusus antara guru
dan pelajar --sesuatu yang tidak mungkin terjadi kecuali ada seorang
guru sejati yang hadir dalam komunitas tersebut, dan sampai pada
kondisi-kondisi tertentu telah siap untuk komunikasi tersebut. Tentu
saja dalam hal ini Sufisme berbeda dengan filsafat atau suatu praktik
yang bisa dipelajari melalui tangan kedua.

Pertukaran khusus ini meliputi teknik-teknik yang disebut tajalli
(penampakan). Tajalli mempengaruhi setiap orang meskipun hanya sedikit
orang yang bisa memahaminya. Sebagai contoh, seseorang mungkin melihat
bahwa dirinya "beruntung" atau "melakukan hal yang benar" atau ia
"tidak salah langkah". Ini mungkin merupakan akibat aksidental dari
tajalli. Karena tidak menyadari sumber fenomena tersebut, seseorang
akan menisbatkan penyebabnya kepada sesuatu yang lain, katakanlah
"nasib baik". Ia merasa senang karena seseorang memujinya atau karena
gajinya naik. Semua ini merupakan alasan, rasionalisasi. Ini juga
merupakan bentuk tajalli yang sia-sia, sebab operasinya mempunyai
kandungan nilai dan bahkan manfaat yang melebihi manfaat-manfaat
sekunder yang bisa menghangatkan hati dari penerima yang tidak
menyadarinya. Akan tetapi karena tidak menyadari mekanismenya, ia
tidak bisa melangkah lebih jauh dalam mendapatkan manfaat-manfaat tajalli.

Kondisi ekstatik (fana'), ketika manusia merasa dirinya menyatu dengan
penciptaan, atau Pencipta, terpesona, sesuatu seperti rasa mabuk;
ketika ia merasa telah memasuki surga; ketika semua rasa saling
berganti atau menjadi satu --semua ini menyebabkan ketidakmampuan
untuk menerima dan berpartisipasi dalam tajalli. Apa yang dianggap
oleh individu sebagai suatu berkah sebenarnya merupakan meluapnya
kemampuan. Ini seperti tumpahan cahaya yang dipancarkan pada mata
seseorang sampai akhirnya ia buta. Ia mempunyai kemuliaan dan
mengalami keterpesonaan. Tetapi ini tidak berguna, sebab ia menyilaukan.

Ada tahapan yang lebih lanjut, ketika kebutaan telah dihilangkan, dan
ketika kepribadian berada dalam ketergantungan penuh dan cukup siap
menerima tajalli. Kemudian ada ilusi tajalli, kadang-kadang berupa
kepekaan rasa (kemampuan merasakan sesuatu sebelum terjadi),
kadang-kadang berupa suatu refleksi yang berguna untuk kreativitas
artistik atau kepuasaan diri, tetapi bagi seorang Sufi, ia merupakan
suatu keadaan khayal. Hal ini mudah ditengarai, karena keadaan seperti
ini tidak disertai dengan suatu akses pengetahuan. Keadaan ini
mengaburkan keadaan sejati, karena semata-mata memberikan suatu
sensasi pengetahuan atau kepuasan. Dalam pandangan ini, ia menyerupai
suatu impian, dalam mana sebuah keinginan terasa terpenuhi, dengan
demikian memungkinkan pemimpi yang gelisah tersebut melanjutkan
tidurnya. Jika ia tidak memperoleh suatu hasil yang menggembirakan
dari pikirannya sendiri dalam mengatasi masalahnya, maka ia akan
terbangun dan menunda istirahatnya.

Tajalli palsu yang dialami oleh mereka yang tidak membawa
perkembangannya kepada suatu cara yang seimbang, mungkin menimbulkan
suatu keyakinan bahwa hal itu merupakan suatu keadaan mistis sejati,
terutama jika terbukti bahwa kemampuan-kemampuan supranatural terlihat
aktif dalam kondisi ini. Para Sufi memilah antara pengalaman ini dan
pengalaman sejati melalui dua cara. Pertama, guru akan langsung
mengenali keadaan palsu tersebut. Kedua, sebagai suatu masalah
penyelidikan diri (muhasabah), ia selalu bisa ditengarai bahwa
pencapaian-pencapaian persepsi itu tidaklah mengandung nilai
kepastian. Sebagai contoh, mungkin ada suatu akses intuisi. Mungkin
seseorang mengetahui perihal seseorang --membaca pikiran adalah suatu
contoh. Tetapi fungsi aktualnya, nilai dari kemampuan membaca pikiran
adalah tidak ada. Orang yang menderita karena tajalli palsu akan mampu
menceritakan fakta tertentu atau seringkali fakta tentang orang lain
yang menandakan kemampuan menembus batas-batas ruang dan waktu.
Pengujian tajalli terhadap orang yang tidak bisa mengenali secara
langsung apakah asalnya ia merupakan persepsi "supranatural" disertai
oleh suatu peningkatan pengetahuan intuitif secara permanen --sebagai
contoh, melihat segala sesuatu sebagai satu keseluruhan, atau
mengetahui jalan yang akan diambil untuk pengembangan-dirinya, atau
jalan yang sesuai bagi orang lain, atau melakukan "keanehan-keanehan".
Abdul Qadir al-Jilani menjelaskan bahwa keajaiban-keajaiban yang
seringkali diceritakan para Sufi itu, tidak disebabkan oleh suatu
jenis kekuatan sebagaimana dipahami secara umum: "Ketika engkau
memperoleh pengetahuan Ilahiyah, maka engkau akan menyatu dengan
kehendak Tuhan (sehingga) esensi keabadianmu tidak menerima hal-hal
lainnya ... Orang-orang akan menisbatkan keajaiban-keajaiban kepadamu.
Keajaiban-keajaiban itu seolah-olah berasal darimu, tetapi asal-usul
dan kehendak tersebut adalah milik Tuhan." (Muqalah VI dari kitab
Futuh al-Ghayb).

Seperti cabang-cabang lain dari tindakan Sufi, banyak hal-hal lainnya
yang tidak dikatakan dan ditulis tentang kepelikan-kepelikan tajalli
tersebut. Ini semua hanyalah berperan sebagai petunjuk, dan bisa jadi
sama sekali keliru jika diterapkan tanpa memperhatikan kondisi-kondisi
yang berlaku. Bagi Sufi, setiap situasi adalah unik dan tidak ada buku
pegangan sebagaimana dipahami secara umum.

Di samping kesalahan yang bisa menghalangi sebagian besar orang dari
apa yang mereka anggap sebagai suatu penyelidikan tentang pencerahan
Sufi, praktik pengaktifan lathaif adalah sangat mendasar jika kemajuan
(spiritual) yang sesungguhnya ingin dicapai. Guru sejati adalah guru
yang mampu mendidik murid-muridnya dengan cara sedemikian rupa,
sehingga kebangkitan dari kepelikan-kepelikan itu terjadi secara
bersamaan dan sesuai dengan kemampuan individu. Pepatah mengatakan,
"Berilah sebuah manisan kepada seorang anak, maka ia akan bahagia.
Berilah ia sekotak besar manisan, maka ia akan sakit."

Dalam tahapan pengaktifan lathaif, murid pertama-tama harus mengenali
pengaruh-pengaruh Diri terhadap kepribadiannya. Hal ini merupakan
sesuatu yang diperkenalkan oleh gurunya. Maka dari itu, hampir sejajar
tetapi sedikit di belakang perkembangan ini, ia mendapatkan
pengaktifan lathaif-nya yang didorong oleh upaya-upaya sang guru. Ini
merupakan sesuatu yang tidak bisa dia mulai sendiri jika ingin berhasil.

Pengalaman Sufistik pertamanya akan terkait dengan pencerahan salah
satu lathaif-nya. Sebelum tahapan tersebut dicapai, ia akan menemukan
bahwa ia harus mengupayakannya sendiri di wilayah kepribadian. Jika ia
terlalu banyak dan lama memusatkan perhatian pada masalah ke-Diri-an
itu, maka guru akan menghadapi kesulitan yang lebih besar dalam
membangkitkan pencerahan lathifah. Dalam berbagai komunikasi dimana
faktor ini tidak dipahami secara tepat, memperjuangkan diri menjadi
hampir segalanya dan tujuan akhir upayanya. Keterpikatan terhadap guru
tetap kuat dan pembebasan kepribadian tidak bisa dihasilkan.

Dalam bidang inilah dibandingkan bidang lainnya bahwa para okultis dan
sekolah-sekolah yang terpilah-pilah, maupun orang-orang yang
mencoba-coba secara mandiri, hanya akan menuju pada sistem-sistem
pembiakan-diri bagi perjuangan-diri, tanpa memperoleh manfaat dari
pengalaman itu, yaitu tajalli yang akan menunjukkan kepadanya bahwa
mereka mampu mencapai perkembangan yang mereka cari. Dalam menerima
seorang murid, guru selalu berhati-hati untuk meyakinkan dirinya
sendiri bahwa (calon) murid tersebut memiliki kemampuan untuk maju
melalui pemusatan-diri menuju pelepasan lathifah.

Secara umum, doktrin-doktrin Sufi dikaji dan sekaligus diamalkan
secara kolektif dalam Tarekat-tarekat darwis. Ini berarti bahwa harus
ada keseimbangan antara penyajian intelektual dan pemahaman suatu
doktrin serta penerapannya. Selain itu harus ada keseimbangan antara
serangkaian pemikiran dan pernikiran lainnya. Konsentrasi sebagai
suatu metode melakukan latihan adalah satu hal; tetapi ia harus
disesuaikan dengan penyerapan benturan-benturan pasif Bagaimana cara
melakukannya adalah suatu bagian yang intim dan metodologi
Tarekat-tarekat darwis sangat efektif.

Beberapa Tarekat mengkhususkan variasi teknik tertentu. Ketika seorang
murid telah dibawa sejauh mungkin ke dalam sekolah dari sebuah
Tarekat, dia mungkin dikirim ke (sekolah) lainnya untuk memberikan
unsur-unsur spesifik kepadanya dari sekolah tersebut. Hal ini juga
harus dilakukan dengan sangat hati-hati, sebab pasti akan ada suatu
perkembangan satu-sisi. Jika kemampuan-kemampuan tertentu ingin
dikembangkan, maka hal ini harus dilakukan dengan cara sedemikian rupa
untuk memberi peluang bagi perkembangan yang benar dan sejajar pada
masa berikutnya di sekolah lainnya.

Di antara spesifikasi-spesifikasi dari sekolah-sekolah tersebut adalah
latihan qiff (berhenti/diam), yaitu ketika seorang guru memberi
aba-aba, "Berhenti!" dan semua gerak fisik dihentikan sampai dia
membolehkan para murid untuk istirahat. Latihan tersebut diterapkan
oleh para guru Tarekat Naqsyabandiyah, sebagai Latihan Rahasia
Kesembilan dari Tarekat ini, dan menjadi suatu metode yang terbukti
efektif untuk menembus jaringan pemikiran asosiatif serta memungkinkan
terjadinya penyampaian barakah.

Suasana dalam sebuah sekolah Tarekat darwis bisa dirasakan melalui
pernyataan di bawah ini sebagai wahana lahiriah dari kuliah
pendahuluan oleh Syekh al-Masyaikh, yang ditujukan kepada sejumlah
calon (murid) untuk memasuki Tarekat Azhamiyah baru-baru ini:

"Tujuan para Sufi adalah menjernihkan diri mereka sampai pada
tingkatan tertentu sehingga mereka memperoleh pencerahan (anwar) dari
apa yang kita sebut sebagai beberapa sifat Tuhan, atau Nama-nama Indah
(Asma'ul-Husna). Tidak ada Sufi yang bisa menjadi bagian dari 'Susunan
Tuhan' melalui pemurnian puncak semacam ini. Tetapi hanya dengan cara
menghilangkan penderitaan material itu, dia bisa menghidupkan esensi
sejatinya, apa yang bisa kita sebut sebagai ruh."

"Perhatianmu tergugah oleh anekdot yang diceritakan Allamah Sanai,
dalam kitabnya Taman Kebenaran Berdinding. Dalam kitab ini ia
menunjukkan bahwa persepsi agama yang dangkal tidaklah tepat, maka
ketika aku berbicara tentang Tuhan, Ruh dan lainnya, engkau harus
mengingat bahwa semua itu adalah hal-ihwal, sebagaimana ditekankan
oleh Ibnu Arabi, yang tidak mempunyai kaitan secara tepat denganmu,
dan yang harus dipahami, bukan semata-mata disebut dan dikaitkan
dengan emosionalisme."

"Al-Allamah Sanai berkata:

'Seorang arif pernah bertanya kepada seorang yang (belum) tercerahkan,
karena melihat ia mudah menerima asumsi-asumsi yang dangkal, 'Apakah
engkau pernah melihat kunyit, atau hanya mendengarnya?'

Ia menjawab, 'Aku telah melihatnya, aku telah memakannya lebih ratusan
kali (dalam nasi kuning).'

Allamah tersebut berkata, 'Baiklah! Tetapi apakah engkau tahu bahwa ia
tumbuh dari sebuah biji? Bisakah engkau melanjutkan untuk berbicara
seperti ini? Apakah orang yang tidak mengetahui tentang dirinya
sendiri bisa mengetahui jiwa orang lain? Ia yang (hanya) tahu tentang
tangan dan kaki, begaimana ia bisa mengetahui ketuhanan? ... Ketika
engkau mengalami (sendiri), maka engkau akan mengetahui makna keimanan
... Keilmuan secara keseluruhan telah salah arah'."

"Selanjutnya, karena banyak perkembangan (rasional) telah merendahkan
kilatan batin (ruh) dari sang Salik dan dengan demikian menghalangi
kemajuannya menuju kesempurnaan. Untuk mengurangi
perkembangan-perkembangan ini, latihan-latihan tertentu harus
dilakukan. Latihan-latihan tersebut harus sesuai dengan
kebutuhan-kebutuhan sang Salik. Bagaimana melakukan latihan ini secara
tepat bergantung pada amalan dan pengetahuan dari seorang Pembimbing
Khusus (mursyid, pir). Sebagian orang mempunyai kesan bahwa pencerahan
ini bisa dicapai oleh seorang Salik dengan membaca kitab-kitab Tasawuf
dan mempraktikkannya sendiri. Secara teoritis hal ini tidak kuat dan
juga tidak dikenal dalam pengalaman mistik, jauh berbeda dari
pengetahuan batin kami tentang kepalsuannya. Seorang mursyid tentu
saja sangat penting."

"Istilah-istilah tertentu harus diperhatikan. Nafs dalam terminologi
Sufi bermakna ego sekaligus 'nafas'. Bagaimana cara menggunakan kata
tersebut adalah penting untuk diketahui dan dicapai dengan
memperhatikan penerapannya dalam kenyataan aktual, bukan dengan
membaca kamus semata. Sering dikatakan bahwa nafs al-ammarah (diri
yang selalu memerintah) harus ditundukkan. Ini mungkin bermakna bahwa
keinginan-keinginan serta sikap-sikap mental dan fisik tertentu harus
dilihat untuk apa semua itu dan diperlakukan dengan selayaknya. Dalam
penggunaan ini, kata tersebut terlihat bermakna diri atau ego. Dalam
penggunaan lain, kata tersebut benar-benar berarti nafas. Sebagai
contoh, dalam latihan yang dikenal dengan habs-i-dam, ia berarti
'penahanan pernafasan' di bawah pengawasan ketat seorang Mursyid yang
menggunakan latihan ini untuk tujuan khusus dan terbatas."

"Kata bai'at berarti mengambil sumpah, ikrar, dan menandakan suatu
peristiwa ketika seorang Salik meletakkan tangannya di antara tangan
dari seorang Pembimbing Spiritual untuk melakukan ikrar ganda. Di
pihak murid, mengikat dirinya untuk mencari Jalan yang ditunjukkan
oleh pembimbing. Di pihaknya sendiri, berusaha membimbing sang Salik
di Jalan tersebut. Ini merupakan saat yang khusus, khidmat dan penuh
makna. Ada suatu interaksi ganda yang saling terkait dalam perjanjian
tersebut, suatu hubungan berdasar perjanjian yang diresmikan melalui
bai'at ini. Dalam konjungtur inilah seorang Salik diperbolehkan
menyebut dirinya sendiri sebagai murid (orang yang berkehendak
mencari), Orang yang Terarahkan."

"Istilah muraqibah meliputi bentuk-bentuk konsentrasi. Di dalamnya
murid berusaha keras untuk menghilangkan pikiran-pikiran tertentu dari
jiwanya dan memusatkan pada hal-hal yang akan memungkinkan
pencerahannya dan meletakkan dasar kemantapan pribadinya. Istilah
tersebut juga berkaitan dengan sikap duduk dengan kepala menunduk,
dagu di lutut, suatu sosok Sufi yang benar."

"Kata dzikir secara harfiah berarti pengulangan atau bacaan. Kata ini
menjelaskan tindakan dari seorang murid yang mengulang-ulang bacaan
sebanyak yang telah ditentukan oleh mursyidnya. Dalam pengertian lain,
ia juga disebut wirid."

"Istilah teknis tajalli, pencerahan, maupun nur (jamak: anwar)
dihubungkan dengan proses pengaktifan menuju realitas independen
melalui kekuatan yang terkandung dalam kekuatan Cinta. Dalam proses
ini kita bekerja dengan Nama-nama yang Indah (Asmaul Husna). Meskipun
secara umum dipandang berjumlah sembilan puluh sembilan, sesuai dengan
jumlah biji tasbih Sufi, dalam pengertian ini nama-nama tersebut tidak
terbatas. Dalam 'amalan' aktif, nama-nama tersebut pertama-tama
terbatas pada nama-nama yang diperlukan untuk membantu mengaktifkan
organ-organ persepsi dan komunikasi yang khusus."

"Tidak ada artinya sama sekali mengaktifkan organ-organ baru yang
khusus bagi persepsi dan komunikasi kecuali jika pada saat yang sama
individu tersebut mampu menyadari tentang apa yang dikomunikasikan,
kepada siapa, dan mengapa. Peningkatan komunikasi dalam dirinya
sendiri paling jauh terbatas pada bidang-bidang yang dimiliknya --di
kalangan para intelektual yang menganggap bahwa mereka memiliki
sesuatu untuk disampaikan. Sementara bagi kita sendiri, metode-metode
masa kini sudah memadai untuk tujuan-tujuan biasa."

"Kata qalb (hati) mungkin bisa dipandang sebagai suatu lokalisasi
anatomis dari organ yang harus dibangkitkan. Posisinya terletak di
detak jantung fisikal yang biasanya ditentukan di dada kiri. Dalam
kepercayaan dan amalan Sufi, organ ini dipandang sebagai tempat dari
penglihatan batin utama dan awal yang terlibat dalam 'pencarian' dan
'kerja'."

"Pencerahan total terhadap organ ini dan organ-organ lainnya
mendahului walayat al-Kubra (kewalian utama) sebagai tujuan Sufi dan
sesuai dengan pencerahan dalam sistem-sistem lainnya. Pada tahapan ini
ada kekuatan-kekuatan tertentu yang tampaknya mengendalikan fenomena
alamiah. Harus diingat bahwa kekuatan-kekuatan ajaib tersebut
berkaitan dengan suatu bidang dimana kekuatan-kekuatan tersebut
menyatu dan bermakna dan tidak bisa diuji dari sudut pandang
'penjual-mantra'."

"Penyatuan yang dicapai Sufi itu disebut fana' (peleburan, peniadaan).
Pelumpuhan diri tidak diperbolehkan dan pemeliharaan tubuh secara
layak adalah penting."

"Sebelum latihan-latihan berlangsung, baik Keseimbangan yang Lebih
Besar ataupun Keseimbangan yang Lebih Kecil harus telah dicapai oleh
calon Sufi. Keseimbangan ini dikaitkan dengan kenyataan bahwa manusia
biasa tidak mampu berkonsentrasi sama sekali, kecuali untuk
periode-periode yang sangat singkat. Dalam kitabnya Fihi Ma Fahi, Rumi
menekankan hal ini, suatu persoalan yang paling penting dalam semua
situasi pengajaran:

Perubahan-perubahan perasaan (dhamir) adalah milikmu, semua itu tidak
terkendali. Jika engkau mengetahui asal-usulnya, maka engkau pasti
mampu menguasainya. Jika engkau tidak bisa membatasi
perubahan-perubahanmu sendiri, bagaimana engkau bisa membatasi
perubahan-perubahan yang membentukmu?"
"Disamping kandungan formalnya, sejumlah besar puisi Sufi merujuk pada
tingkatan-tingkatan keutuhan atau kemampuan untuk memusatkan jiwa
sehingga bisa menemukan jalan menuju kebenaran tidak terpecah-pecah.
Dalam kitabnya Kebun Rahasia, ketika Syabistari berbicara tentang
suatu kilatan yang berputar dan hanya memberikan suatu ilusi bahwa ini
membentuk suatu lingkaran cahaya, (sebenarnya) ia tengah membicarakan
pengalaman Sufi yang dikenal oleh semua darwis, dalam suatu tahapan
'penghimpunan' tertentu."

Sebagaimana ditegaskan dalam praktik-praktik kerja Tarekat-tarekat
(berbeda dari tarekat-tarekat yang mengkhususkan pada penyembahan
orang suci), darwis percaya bahwa ada suatu keadaan khusus yang harus
diaktifkan. Ini tidak bersifat emosional, dan bukan intelektual
seperti pengalaman biasa. Rujukan-rujukan pada pencerahan, penjernihan
dan pembedaan berkaitan dengan hal ini. Seorang darwis menjernihkan
kesadarannya sehingga ia bisa menyadari keadaan-keadaan jiwa dan
kondisi-kondisi realitas yang hanya dimengerti secara lahiriah oleh
pikiran awam. Mungkin bisa dikatakan bahwa biasanya orang memahami
pikiran dan emosi hanya sebagai suatu kuantitas. Segi yang lebih rumit
tetapi sangat mendasar bagi kesempurnaan, yaitu kualitas, sulit untuk
dilatih atau dijelaskan, dan oleh karena itu diabaikan oleh semua
orang dengan memberikan perkiraan-perkiraan sangat kasar tentang
kapasitas keseluruhannya.

Tentu saja persepsi tentang kepelikan-kepelikan yang tak terbatas ini
tidak mungkin bagi orang awam. Seperti seorang anak kecil yang harus
belajar membedakan antara benda-benda kasar dan halus, maka persepsi
manusia yang masih mentah harus dilatih dalam hubungannya dengan hal ini.

Daya gerak utuh dari Organ Evolusi tersebut hanya akan bekerja jika
sesuatu yang terkait dengan pelepasan telah dicapai. Hal ini hanya
terjadi ketika persiapan-persiapan pendidikan tertentu telah
dilakukan. Sebelum tahapan perkembangan kesadaran itu, berbagai
pengalaman yang tidak dapat disangkal menandai tahapan-tahapan
kemajuan tertentu. Pengalaman-pengalaman ini memberikan bukti atas
kemajuan dan kekuatan individu untuk melanjutkan pada tahapan
berikutnya. Jika ia tidak menerima pencerahan-pencerahan ini dalam
rentetan yang benar, ia akan tinggal pada suatu tahapan kesadaran
parsial atau kekuatan konsentrasi yang tidak teratur. Salah satu
akibat yang tidak diinginkan dari perkembangan lanjut seperti ini
adalah ketika calon Sufi itu tidak bisa dilepaskan dari ketergantungan
terhadap pengajarnya.

Jika apa yang disebut sebagai Organ Evolusi tersebut dikembangkan dan
bisa bekerja, fungsi-fungsi instink, emosi dan intelek diubah serta
bekerja dalam suatu suasana baru. Serangkaian pengalaman yang segar
dan luas selalu terbuka bagi darwis.

Berbagai kemungkinan tak terbatas dan mekanisme yang saling terjalin
terlihat dalam hal-hal yang sebelumnya tampak lamban atau digunakan
terbatas. Sebuah contoh darwis terdapat dalam rujukan pengajaran pada
pembolehan mendengarkan musik. Syibli al-Kubra mengatakan:
"Mendengarkan musik dengan sengaja secara lahiriah tampak sebagai
sesuatu yang merusak; secara batiniah ia merupakan suatu peringatan.
Ketika 'Tanda' diketahui, maka orang semacam ini mungkin akan
menyimak, karena dia mendengarkan sebuah peringatan. Jika dia tidak
memiliki tanda tersebut (bangkitnya Organ Evolusi), berarti dia tengah
menyerahkan dirinya kepada kemungkinan bahaya." Sifat sensual musik di
sini disebutkan, begitu pula nilai musik yang semata-mata emosional
dan secara intelektual terbatas. Semua ini berbahaya, sebab mereka
mungkin membawa kepada sensualitas dan karena menghasilkan suatu
selera bagi kegemaran sekunder (terhadap musik; karena seseorang bisa
menikmati musik sebagai musik), maka ia akan menyelimuti kegunaan
musik yang sesungguhnya, yaitu untuk mengembangkan kesadaran.

Ini merupakan pengertian musik yang bukan saja tidak dikenal di Barat,
tetapi dengan keras disangkal oleh banyak orang di Timur. Karena
kekhususan-kekhususan musik, sebagian Tarekat darwis, terutama Tarekat
Naqsyabandiyah yang kuat dan sangat mampu beradaptasi, menolak untuk
menggunakannya.

Demikian pula suatu spesialisasi dari sekolah-sekolah darwis
menghargai nilai sejati puisi yang dipergunakan sebagai suatu latihan
mistis. Setiap puisi mempunyai beberapa fungsi. Sesuai dengan
"realitas"-nya, ia juga akan bermakna bagi Sufi. Dengan
landasan-landasan teologis, semua Sufi memperbolehkan mendengar puisi,
sebab Nabi Muhammad saw memperbolehkannya. Beliau pernah bersabda,
"Sebagian puisi adalah hikmah," dan "Hikmah itu seperti unta betina
milik orang saleh yang hilang. Kapan saja ia menemukannya, maka dialah
yang paling berhak atasnya." Beliau sebenarnya menggunakan sebuah rima
Arab untuk menegaskan tentang tema Sufi tentang suatu realitas
sempurna yang tidak lain adalah Tuhan. "Pernyataan Arab yang paling
benar terletak pada rima (ungkapan berirama) dari Labid bahwa 'segala
sesuatu tidak penting kecuali Allah, karena peristiwa-peristiwa berubah'."

Ketika beliau diminta untuk mengomentari tentang puisi, Nabi saw
menjawab, 'Apa yang baik darinya adalah baik, dan apa yang buruk
darinya adalah buruk. " Ini merupakan diktum yang diikuti oleh para
guru Sufi menyangkut pembolehan mendengar, membaca atau menulis puisi.

Tetapi, menurut guru besar Hujwiri, puisi secara esensial harus nyata
dan benar. Jika ada kepalsuan dan ketidakbenaran didalamnya, maka ia
akan meracuni pendengar, pembaca, dan penulisnya dengan
kesalahan-kesalahannya itu.

Cara-cara puisi didengarkan dan kemampuan pendengar untuk mendapatkan
manfaat darinya, adalah penting bagi Sufisme. Para guru darwis tidak
akan memperbolehkan jika esensi yang sesungguhnya dari puisi tersebut
bisa diapresiasi oleh mereka yang tidak dipersiapkan dengan benar
untuk memahaminya secara utuh, meskipun demikian banyak orang yang
mungkin meyakini bahwa dia tengah menggali keutuhan itu dengan
mendengar sebuah puisi.

Hujwiri meneruskan diktum dari sekolah-sekolah darwis itu bahwa mereka
yang terhanyut karena mendengar musik sensual adalah mereka yang
mendengarkan dalam pengertian yang tidak sejati. Mendengarkan musik
atau puisi yang sesungguhnya adalah suatu pengembangan, karena
memberikan suatu jangkauan pengalaman-pengalaman yang jauh lebih
beragam dan bernilai dibandingkan pengalaman-pengalaman yang bersifat
lahiriah atau ekstatik. Meskipun demikian, dalam konteks kekinian hal
ini hanya bisa diungkapkan dengan suatu pernyataan tegas dan tidak
mudah diverifikasi di luar lingkungan Sufi.

Bagi Sufi, ada empat Perjalanan. Pertama adalah pencapaian suatu
kondisi yang dikenal dengan fana', kadangkala diterjemahkan sebagai
"peniadaan". Ini merupakan tahapan penyatuan kesadaran dimana Sufi
merasakan harmoni dengan realitas obyektif. Hasil dari kondisi inilah
yang merupakan tujuan dari Tarekat-tarekat darwis. Setelah ini masih
ada tiga tahapan. Niffari, seorang guru besar pada abad kesepuluh,
menggambarkan empat perjalanan tersebut dalam kitabnya, yaitu Muwaqif
yang ditulis di Mesir hampir seribu tahun yang lalu.

Setelah ia mencapai tahapan fana', Sufi memasuki perjalanan kedua, di
sini ia benar-benar menjadi "Insan Kamil" dengan kemantapan
pengetahuan obyektifnya. Ini adalah tahapan baqa', permanensi.
Sekarang ia bukan "manusia yang mabuk karena Tuhan", tetapi seorang
guru dengan haknya sendiri. Dia memiliki gelar quthub, pusat magnetik,
"suatu titik dimana semua mengarah kepadanya".

Dalam Perjalanan Ketiga, guru tersebut menjadi seorang pembimbing
spiritual bagi setiap orang sesuai dengan individualitas pribadinya.
Sementara jenis guru sebelumnya (pada Perjalanan Kedua) hanya mampu
mengajar di dalam wahana budaya atau agama lokalnya sendiri. Jenis
guru ketiga ini mungkin hadir menjadi berbagai sosok untuk berbagai
tipe manusia. Ia bekerja dalam banyak tingkatan. Namun ia bukan
"segala sesuatu untuk segala manusia" sebagai bagian dari suatu
kebijakan yang terencana. Di sisi lain, dia bisa memberi manfaat
kepada setiap orang sesuai dengan potensi orang tersebut. Sebaliknya
guru dari perjalanan kedua hanya mampu bekerja dengan orang-orang
tertentu.

Dalam Perjalanan Keempat, perjalanan akhir, Insan Kamil itu membimbing
orang lain dalam tahap transisi dari apa yang secara umum dipandang
sebagai kematian fisik, menuju suatu tahap pengembangan yang lebih
jauh dan tidak terlihat oleh orang awam. Oleh karena itu, bagi darwis,
pemisahan yang terjadi pada kematian fisik konvensional tidak ada.
Suatu komunikasi dan pertukaran yang terus-menerus terjadi antara
dirinya dan bentuk kehidupan berikutnya.

Dalam sebuah komunitas darwis, seperti dalam kehidupan biasa,
pencapaian-pencapaian spiritual dari seorang individu Sufi mungkin
tidak terlihat kecuali bagi mereka yang mampu memahami
pancaran-pancaran (emanasi) dari suatu tataran yang lebih tinggi
sebagai ciri darwis yang sebenarnya.

Tahapan-tahapan inilah yang dirujuk al-Ghazali dalam karya dasarnya,
al-Ihya'. Dia mendekati deskripsi tentang tahapan-tahapan itu dari
sudut pandang relevansi antara yang satu dengan lainnya dan fungsinya
bagi dunia luar. Menurutnya, ada empat tahapan yang mungkin bisa
dikiaskan dengan buah kenari. Pilihan (biji) kacang ini secara
kebetulan, sebab dalam bahasa Persia, buah kenari disebut "berbiji
empat" yang juga bisa diterjemahkan dengan "empat esensi" atau "empat
akal". Biji kacang memiliki sebuah selongsong (kulit), sebuah kulit
dalam, sebuah biji (inti) dan minyak. Selongsong rasanya pahit,
berfungsi sebagai penutup selama periode tertentu. Selongsong ini
dibuang ketika biji dikeluarkan. Kulit dalam lebih bernilai dari
selongsong, tetapi tetap tidak bisa dibandingkan dengan biji itu
sendiri. Sementara biji merupakan tujuan jika seseorang berusaha
memeras minyaknya. Meskipun demikian daging dalam ini mengandung benda
yang dibuang (ampas) untuk menghasilkan minyak.

Meskipun kitab Niffari termasyhur dan banyak dikaji oleh para sarjana,
penerapan praktis metodenya dan penggunaan sesungguhnya dari istilah
teknis waqfat yang dia gunakan, tidak bisa dipahami dengan hanya
membacanya. Meskipun istilah waqfat terkait dengan "Jeda Ketuhanan"
dan latihan "Penghentian" yang memungkinkan seseorang menembus ruang
dan waktu, sebenarnya ia merupakan faktor yang sangat rumit dan hanya
secara kasar ditunjukkan oleh istilah. Sebagai contoh, ia juga
memiliki sifat penyinaran yang menghilangkan kegelapan karena
keanekaragaman (wujud) ini. Keanekaragaman disebabkan oleh pemahaman
fenomena sekunder sebagai fenomena utama, atau melihat pembedaan
(diferensiasi) sebagai perbedaan itu sendiri. Pada tahapan-tahapan
paling awal dari latihan darwis, hal ini dijelaskan melalui
contoh-contoh dan latihan-latihan sehingga ketika seseorang tengah
bekerja dengan konsep "buah", dia tidak boleh memusatkan dirinya
dengan jenis-jenis buah yang sangat beraneka ragam, tetapi dengan
konsep yang mendasar dari buah tersebut.

Sebuah sekolah darwis, baik yang ada di biara atau di kedai minum
Eropa Barat, mempunyai makna yang sangat mendasar bagi Sufisme, karena
di dalam situasi sekolah itulah bahan-bahan seperti tulisan-tulisan
Niffari dikaji dan diamalkan sesuai dengan ciri-ciri khas murid dan
kebutuhan-kebutuhan sosial dimana dia bekerja di dalamnya.

Karena itulah perkembangan Sufi harus mengambil akar dalam suatu cara
tertentu di berbagai masyarakat yang berbeda-beda. Ia tidak bisa
diimpor. Begitu juga metode-metode amalan yang sesuai dengan Mesir
atau Yoga India abad kesepuluh, tidak bisa bekerja secara efektif di
Barat. Cara-cara tersebut bisa menaturalisasikan dirinya, tetapi
dengan cara mereka sendiri. Pesona misteri dan pesona Timur yang penuh
warna itu selama berabad-abad telah mengaburkan pikiran Barat tentang
kenyataan bahwa pengembangan manusia itulah yang menjadi tujuan, bukan
tarian-tariannya.

Catatan:
1 Kasyful-Mahjub (Mengungkap yang Terhijab).

2 John A. Subhan, Sufism, Its Saints and Shrines, Lucknow, 1938, hlm. 130.

3 Hampir seabad yang lalu, John P. Brown menerbitkan The Dervishes or
Oriental Spiritualism (1867), yang merupakan periode dimana sangat
sedikit sumber-sumber tentang unsur-unsur aktivitas darwis yang
tersedia di Barat.




Mawlana Jalaludin Rumi
Oleh Mawlana Syaikh Nazim Adil al-Haqqani
( Grandson of Mawlana Rumi )
�Dia adalah, orang yang tidak mempunyai ketiadaan,
Saya mencintainya dan Saya mengaguminya, Saya memilih
jalannya dan Saya memalingkan muka ke jalannya. Setiap
orang mempunyai kekasih, dialah kekasih saya, kekasih
yang abadi. Dia adalah orang yang Saya cintai, dia
begitu indah, oh dia adalah yang paling sempurna.
Orang-orang yang mencintainya adalah para pecinta yang
tidak pernah sekarat. Dia adalah dia dan dia dan
mereka adalah dia. Ini adalah sebuah rahasia, jika
kalian mempunyai cinta, kalian akan memahaminya.

Rumi memang bukan sekadar penyair, tetapi juga seorang tokoh sufi yang berpengaruh di zamannya. Rumi adalah guru nomor satu Thariqat Maulawiah, sebuah thariqat yang berpusat di Turki dan berkembang di daerah sekitarnya. Thariqat Maulawiah pernah berpengaruh
besar dalam lingkungan Istana Turki Utsmani dan kalangan seniman sekitar tahun l648.
Sebagai tokoh sufi, Rumi sangat menentang pendewaan akal dan indera dalam menentukan kebenaran. Di zamannya, ummat Islam memang sedang dilanda penyakit itu. Bagi mereka kebenaran baru dianggap benar bila mampu digapai oleh indera dan akal. Segala sesuatu
yang tidak dapat diraba oleh indera dan akal, dengan cepat mereka ingkari dan tidak diakui.
Padahal menurut Rumi, justru pemikiran semacam itulah yang dapat melemahkan Iman kepada sesuatu yang ghaib. Dan karena pengaruh pemikiran seperti itu pula, kepercayaan kepada segala hakekat yang tidak kasat mata, yang diajarkan berbagai syariat dan beragam
agama samawi, bisa menjadi goyah.
Rumi mengatakan, �Orientasi kepada indera dalam menetapkan segala hakekat keagamaan adalah gagasan yang dipelopori kelompok Mu�tazilah. Mereka merupakan
para budak yang tunduk patuh kepada panca indera. Mereka menyangka dirinya termasuk Ahlussunnah. Padahal, sesungguhnya Ahlussunnah sama sekali tidak terikat kepada indera-indera, dan tidak mau pula memanjakannya.�


Bagi Rumi, tidak layak meniadakan sesuatu hanya karena tidak pernah melihatnya dengan mata kepala atau belum pernah meraba dengan indera. Sesungguhnya, batin akan selalu tersembunyi di balik yang lahir, seperti faedah penyembuhan yang terkandung dalam obat. �Padahal, yang
lahir itu senantiasa menunjukkan adanya sesuatu yang tersimpan, yang tersembunyi di balik dirinya. Bukankah Anda mengenal obat yang bermanfaat? Bukankah kegunaannya tersembunyi di dalamnya?� tegas Rumi.

PENGARUH TABRIZ
Fariduddin Attar, salah seorang ulama dan tokoh sufi, ketika berjumpa dengan Rumi yang baru berusia 5 tahun pernah meramalkan bahwa si kecil itu kelak akan menjadi tokoh spiritual besar. Sejarah kemudian mencatat, ramalan Fariduddin Attar itu tidak meleset.
Rumi, Lahir di Balkh, Afghanistan pada 604 H atau 30 September 1207. Mawlana Rumi menyandang nama lengkap Jalaluddin Muhammad bin Muhammad al-Balkhi al-Qunuwi.
Adapun panggilan Rumi karena sebagian besar hidupnya dihabiskan di Konya (kini Turki), yang dahulu dikenal sebagai daerah Rum (Roma).
Ayahnya, Bahauddin Walad Muhammad bin Husein, adalah seorang ulama besar bermadzhab Hanafi. Dan karena kharisma dan tingginya penguasaan ilmu agamanya, ia digelari Sulthanul Ulama. Namun rupanya gelar itu menimbulkan rasa iri pada sebagian ulama lain. Dan
mereka pun melancarkan fitnah dan mengadukan Bahauddin ke penguasa. Celakanya sang penguasa terpengaruh hingga Bahauddin harus meninggalkan Balkh, termasuk keluarganya. Ketika itu Rumi baru berusia lima tahun. Sejak itu Bahauddin bersama keluarganya hidup
berpindah- pindah dari suatu negara ke negara lain. Mereka pernah tinggal di Sinabur (Iran timur laut). Dari Sinabur pindah ke Baghdad, Makkah, Malattya (Turki), Laranda (Iran tenggara) dan terakhir menetap di Konya, Turki. Raja Konya Alauddin Kaiqubad, mengangkat ayah Rumi sebagai penasihatnya, dan juga mengangkatnya sebagai pimpinan sebuah perguruan agama
yang didirikan di ibukota tersebut. Di kota ini pula ayah Rumi wafat ketika Rumi berusia 24 tahun.
Di samping kepada ayahnya, Rumi juga berguru kepada Burhanuddin Muhaqqiq at-Turmudzi, sahabat dan pengganti ayahnya memimpin perguruan. Rumi juga menimba ilmu di Syam (Suriah) atas saran gurunya itu. Beliau baru kembali ke Konya pada 634 H, dan ikut mengajar di perguruan tersebut. Setelah Burhanuddin wafat, Rumi menggantikannya sebagai guru di Konya. Dengan pengetahuan agamanya yang luas, di samping sebagai guru, beliau juga menjadi da�i dan ahli hukum Islam. Ketika itu banyak tokoh ulama yang berkumpul di Konya. Tak heran jika Konya kemudian menjadi pusat ilmu dan tempat berkumpul para ulama dari berbagai penjuru dunia.
Kesufian dan kepenyairan Rumi dimulai ketika beliau sudah berumur cukup tua, 48 tahun. Sebelumnya, Rumi adalah seorang ulama yang memimpin sebuah madrasah yang punya murid banyak, 4.000 orang. Sebagaimana seorang ulama, beliau juga memberi fatwa dan tumpuan
ummatnya untuk bertanya dan mengadu. Kehidupannya itu berubah seratus delapan puluh derajat ketika beliau berjumpa dengan seorang sufi pengelana, Syamsuddin alias Syamsi dari kota Tabriz.
Suatu saat, seperti biasanya Rumi mengajar di hadapan khalayak dan banyak yang menanyakan sesuatu kepadanya. Tiba-tiba seorang lelaki asing�yakni Syamsi Tabriz�ikut bertanya, �Apa yang dimaksud dengan riyadhah dan ilmu?� Mendengar pertanyaan seperti itu Rumi terkesima. Kiranya pertanyaan itu jitu dan tepat pada sasarannya. Beliau tidak mampu menjawab.
Akhirnya Rumi berkenalan dengan Tabriz. Setelah bergaul beberapa saat, beliau mulai kagum kepada Tabriz yang ternyata seorang sufi.
Sultan Salad, putera Rumi, mengomentari perilaku ayahnya itu, �Sesungguhnya, seorang guru besar tiba-tiba menjadi seorang murid kecil. Setiap hari sang guru besar harus menimba ilmu darinya, meski sebenarnya beliau cukup alim dan zuhud. Tetapi itulah kenyataannya. Dalam diri Tabriz, guru besar itu melihat kandungan ilmu yang tiada taranya.�
Rumi telah menjadi sufi, berkat pergaulannya dengan Tabriz. Kesedihannya berpisah dan kerinduannya untuk berjumpa lagi dengan gurunya itu telah ikut berperan mengembangkan emosinya, sehingga beliau menjadi penyair yang sulit ditandingi. Guna mengenang dan
menyanjung gurunya itu, beliau tulis syair-syair, yang himpunannya kemudian dikenal dengan nama Divan Syams Tabriz. Beliau bukukan pula wejangan-wejangan gurunya, dan buku itu dikenal dengan nama Maqalat Syams Tabriz. Rumi kemudian mendapat sahabat dan sumber inspirasi baru, Syaikh Hisamuddin Hasan bin Muhammad. Atas dorongan sahabatnya itu, selama 15 tahun terakhir masa hidupnya beliau berhasil menghasilkan himpunan syair
yang besar dan mengagumkan yang diberi nama Masnavi. Buku ini terdiri dari enam jilid dan berisi 20.700 bait syair. Dalam karyanya ini, terlihat ajaran-ajaran tasawuf yang mendalam, yang disampaikan dalam bentuk apologi, fabel, legenda, anekdot, dan lain-lain.
Bahkan Masnavi sering disebut Qur�an Persia. Karya tulisnya yang lain adalah Ruba�iyyat (sajak empat baris dengan jumlah 1600 bait), Fiihi Maa fiihi (dalam bentuk prosa; merupakan himpunan ceramahnya tentang metafisika), dan Maktubat (himpunan surat-suratnya kepada sahabat atau pengikutnya) .
Bersama Syaikh Hisamuddin pula, Rumi mengembangkan Thariqat Maulawiyah atau Jalaliyah. Thariqat ini di Barat dikenal dengan nama The Whirling Dervishes (para Darwisy yang berputar-putar) . Nama itu muncul karenapara penganut thariqat ini melakukan tarian berputar-putar, yang diiringi oleh gendang dan suling, dalam dzikir mereka untuk mencapai ekstase.
WAFATNYA MAWLANA RUMI
Semua manusia tentu akan kembali kepada-Nya.
Demikianlah yang terjadi pada Rumi. Penduduk Konya
tiba-tiba dilanda kecemasan, karena mendengar kabar
bahwa tokoh panutan mereka, Rumi, tengah menderita
sakit keras. Meskipun demikian, pikiran Rumi masih
menampakkan kejernihannya.
Seorang sahabatnya datang menjenguk dan mendo�akan,
�Semoga Allah berkenan memberi ketenangan kepadamu
dengan kesembuhan.� Rumi sempat menyahut, �Jika
engkau beriman dan bersikap manis, kematian itu akan
bermakna baik. Tapi kematian ada juga yang kafir dan
pahit.�
Pada tanggal 5 Jumadil Akhir 672 H atau 17 Desember
1273 dalam usia 68 tahun Rumi dipanggil ke
Rahmatullah. Tatkala jenazahnya hendak diberangkatkan,
penduduk setempat berdesak-desakan ingin mengantarkan
kepulangannya. Malam wafatnya beliau dikenal sebagai
Sebul Arus (Malam Penyatuan). Sampai sekarang para
pengikut Thariqat Maulawiyah masih memperingati
tanggal itu sebagai hari wafatnya beliau.
�SAMA�, Tarian Darwis yang Berputar
Suatu saat Rumi tengah tenggelam dalam kemabukannya
dalam tarian �Sama� ketika itu seorang sahabatnya
memainkan biola dan ney (seruling), beliau mengatakan,
�Seperti juga ketika salat kita berbicara dengan
Tuhan, maka dalam keadaan extase para darwis juga
berdialog dengan Tuhannya melalui cinta. Musik Sama
yang merupakan bagian salawat atas baginda Nabi
Sallallahu alaihi wasalam adalah merupakan wujud musik
cinta demi cinta Nabi saw dan pengetahuanNya.
Rumi mengatakan bahwa ada sebuah rahasia tersembunyi
dalam Musik dan Sama, dimana musik merupakan gerbang
menuju keabadian dan Sama adalah seperti electron yang
mengelilingi intinya bertawaf menuju sang Maha
Pencipta. Semasa Rumi hidup tarian �Sama� sering
dilakukan secara spontan disertai jamuan makanan dan
minuman. Rumi bersama teman darwisnya selepas solat
Isa sering melakukan tarian sama dijalan-jalan kota
Konya.
Terdapat beberapa puisi dalam Matsnawi yang memuji
Sama dan perasaan harmonis alami yang muncul dari
tarian suci ini. Dalam bab ketiga Matsnawi, Rumi
menuliskan puisi tentang kefanaan dalam Sama, �ketika
gendang ditabuh seketika itu perasaan extase merasuk
bagai buih-buih yang meleleh dari debur ombak laut�.
Tarian Sakral Sama dari tariqah Mevlevi Haqqani atau
Tariqah Mawlawiyah ini masih dilakukan saat ini di
Lefke, Cyprus Turki dibawah bimbingan Mawlana Syaikh
Nazim Adil al-Haqqani. Ajaran Sufi Mawlana Syaikh
Nazim dan mawlana Syaikh Hisyam juga merambah
keberbagai kota di Amerika maupun Eropa, sehingga
tarian Whirling Dervishes ini juga dilakukan di banyak
kota-kota di Amerika, Eropa dan Asia di bawah
bimbingan Mawlana Syaikh Hisyam Kabbani ar-Rabbani.
Tarian Sama ini sebagai tiruan dari keteraturan alam
raya yang diungkap melalui perputaran planet-planet.
Perayaan Sama dari tariqah Mevlevi dilakukan dalam
situasi yang sangat sakral dan ditata dalam penataan
khusus pada abad ke tujuh belas. Perayaan ini untuk
menghormati wafatnya Rumi, suatu peristiwa yang Rumi
dambakan dan ia lukisakna dalam istilah-istilah yang
menyenangkan.
Para Anggota Tariqah Mevlevi sekarang belajar
menarikan tarian ini dengan bimbingan Mursyidnya.
Tarian ini dalam bentuknya sekarang dimulai dengan
seorang peniup suling yang memainkan Ney, seruling
kayu. Para penari masuk mengenakan pakaian putih yang
sebagai simbol kain kafan, dan jubah hitam besar
sebagai symbol alam kubur dan topi panjang merah atau
abu-abu yang menandakan batu nisan.
Akhirnya seorang Syaikh masuk paling akhir dan
menghormat para Darwish lainnya. Mereka kemudian balas
menghormati. Ketika Syaikh duduk dialas karpet merah
menyala yang menyimbolkan matahari senja merah tua
yang mengacu pada keindahan langit senja sewaktu Rumi
wafat. Syaikh mulai bersalawat untuk Rasulullah saw
yang ditulis oleh Rumi disertai iringan musik,
gendang, marawis dan seruling ney.
Peniup seruling dan penabuh gendang memulai musiknya
maka para darwis memulai dengan tiga putaran secara
perlahan yang merupakaan simbolisasi bagi tiga tahapan
yang membawa manusia menemui Tuhannya. Pada puatran
ketiga Syaikh kembali duduk dan para penari melepas
jubah hitamnya dengan gerakan yang menyimbulkan
kuburan untuk mengalami � mati sebelum mati�,
kelahiran kedua.
Ketika Syaikh mengijinkan para penari menari, mereka
mulai dengan gerakan perlahan memutar seperti putaran
tawaf dan putaran planet-planet mengelilingi matahari.
Ketika tarian hamper usai maka syaikh berdiri dan
alunan musik dipercepat. Proses ini diakhiri dengan
musik penutup danpembacaan ayat suci Al-Quran.
Rombongan Penari Darwis, secara teratur menampilkan
Sama di auditorium umum di Eropa dan Amerika Serikat.
Sekalipun beberapa gerakan tarian ini pelan dan terasa
lambat tetapi para pemirsa mengatakan penampilan ini
sangat magis dan menawan. Kedalaman konsentrasi, atau
perasaan dzawq dan ketulusan para darwis menjadikan
gerakan mereka begitu menghipnotis. Pada akhir
penampilan para hadirin diminta untuk tidak bertepuk
tangan karena �Sama� adalah sebuah ritual spiritual
bukan sebuah pertunjukan seni.
Pada abad ke 17, Tariqah Mevlevi atau Mawlawiyah
dikendalikan oleh kerajaan Utsmaniyah. Meskipun
Tariqah Mawlawiyah kehilangan sebagian besar
kebebasannya ketika berada dibawah dominasi
Ustmaniyah, tetapi perlindungan Sang Raja menungkinkan
Tariqah Mawlawi menyebar luas keberbagai daerah dan
memperkenalkan kepada banyak orang tentang tatanan
musik dan tradisi puisi yang unik dan indah. Pada Abad
ke 18, Salim III seorang Sultan Utsmaniyah menjadi
anggota Tariqah Mawlawiyah dan kemudian dia
menciptakan musik untuk upacara-upacara Mawlawi.
Selama abad ke 19 , Mawlawiyah merupakan salah satu
dari sekitar Sembilan belas aliran sufi di Turtki dan
sekitar tigapuluh lima kelompok semacam itu dikerajaan
Utsmaniyah. Karena perlindungan dari raja mereka,
Mawlawi menjadi kelompok yang paling berpengarh
diseluruh kerajaan dan prestasi cultural mereka
dianggap sangat murni. Kelompok itu menjadi terkenal
di barat., Di Eropa dan Amerika pertunjukkan keliling
mereka menyita perhatian public. Selama abad 19,
sebuah panggung pertunjukkan yang didirikan di Turki
menarik perhatian banyak kelompok wisatawan Eropa yang
dating ke Turki.
Pada tahun 1925, Tariqah Mawlawi dipaksa membubarkan
diri ditanah kelahiran mereka Turki, setelah Kemal
Ataturk pendiri modernisasi Turki melarang semua
kelompok darwis lengkap dengan upacara serta
pertunjukkan mereka. Pada saat itu makam Rumi di Konya
diambil alih pemerintah dan diubah menjadi museum
Negara.
Motivasi utama Atatutrk adalah memutuskan hubungan
Turki dengan masa pertengahan guna mengintegrasikan
Turki dengan dunia modern seperti demokrasi ala barat.
Bagi Ataturk tariqah sufi menjadi ancaman bagi
modernisasi Turki. Pada saat itulah Syaikh Nazim
? mulai menyebarkan bimbingan spiritual dan
mengajar agama Islam di Siprus, Turki.
Mawlana Syaikh Nazim Adil al-Haqqani
Banyak murid yang mendatangi Mawlana Syaikh Nazim dan
menerima Thariqat Naqsybandi Haqqani. Selain itu
beliau adalah pemegang otoritas Mursyid tujuh Tariqah
Sufi besar lainnya, termasuk Mevlevi Haqqani atau
Mawlawiyah, Qodiriah, Syadziliyah, Chisty. Namun
sayang, waktu itu semua agama dilarang di Turki dan
karena beliau berada di dalam komunitas orang-orang
Turki di Siprus, agama pun dilarang di sana. Bahkan
mengumandangkan azan pun tak diperbolehkan.
Langkah Syaikh Nazim yang pertama ketika itu adalah
menuju masjid di tempat kelahirannya dan
mengumandangkan azan di sana, segera beliau dimasukkan
penjara selama seminggu. Begitu dibebaskan, Syaikh
Nazim ? pergi menuju masjid besar di Nikosia dan
melakukan azan di menaranya. Hal itu membuat para
pejabat marah dan beliau dituntut atas pelanggaran
hukum.
Sambil menunggu sidang, Syaikh Nazim ? terus
mengumandangkan azan di menara-menara masjid di
seluruh Nikosia. Sehingga tuntutannya pun terus
bertambah, ada 114 kasus yang menunggu beliau.
Pengacara menasihati beliau agar berhenti melakukan
azan, namun Syaikh Nazim ? mengatakan, � Tidak,
aku tidak bisa mengehntikannya. Orang-orang harus
mendengar panggilan azan untuk shalat.�
Ketika hari persidangan tiba, Mawlana Syaikh Nazim
didakwa atas 114 kasus mngumandangkan azan diseluruh
Cyprus. Jika tuntutan 114 kasus itu terbukti, maka
beliau bisa dihukum 100 tahun penjara. Tetapi pada
hari yang sama hasil pemilu diumumkan di Turki.
Seorang laki-laki bernama Adnan Menderes dicalonkan
untuk berkuasa. Langkah pertamanya ketika terpilih
menjadi Presiden adalah membuka seluruh masjid-masjid
dan mengizinkan azan dikumandangkan dalam bahasa Arab.
Inilah keajaiban yang diberikan Allah swt kepada
Mawlana Syaikh Nazim.
Hingga saat ini makam Rumi di Konya tetap terpelihara
dan dikelola oleh pemerintah Turki sebagai tempat
wisata. Meskipun demikian pengunjung yang datang
kesana yang terbanyak adalah para peziarah dan bukan
wisatawan. Melalui sebuah kesepakatan pemerintah
Turki, pada tahun 1953 akhirnya menyetujui tarian
�Sama� Tariqah Mawlawi dipeertontonkan lagi di Konya
dengan syarat pertunjukan tersebut bersifat cultural
untuk para wisatawan.
Rombongan Darwis juga diijinkan untuk berkelana secara
Internasional. Meskipun demikian secara keseluruhan
berbagai aspek sufisme tetap menjadi praktek yang
illegal di Turki dan para sufi banyak diburu sejak
Ataturk melarang agama mereka.
Wa min Allah at Tawfiq
������������-
Maulana Jalaluddin Rumi, Menari di Depan Tuhan
�AKAN tiba saatnya, ketika Konya menjadi semarak, dan
makam kita tegak di jantung kota. Gelombang demi
gelombang khalayak menjenguk mousoleum kita,
menggemakan ucapan-ucapan kita.�
Itulah ucapan Jalaluddin Rumi pada putranya, Sultan
Walad, di suatu pagi. Dan waktu kemudian berlayar,
melintasi tahun dan abad. Konya seakan terlelap dalam
debu sejarah. �Tetapi, kota Anatolia Tengah ini tetap
berdiri sebagai saksi kebenaran ucapan Rumi,� tulis
Talat Said Halman, peneliti karya-karya mistik Rumi.
Kenyataannya memang demikian. Lebih dari 7 abad, Rumi
bak bayangan yang abadi mengawal Konya, terutama untuk
pada pengikutnya, the whirling dervishes, para darwis
yang menari. Setiap tahun, dari tanggal 2-17 Desember,
jutaan peziarah menyemut menuju Konya. Dari delapan
penjuru angin mereka berarak untuk memperingati
kematian Rumi, 727 tahun silam.
Siapakah sesungguhnya makhluk ini, yang telah
menegakkan sebuah pilar di tengah khazanah keagamaan
Islam dan silang sengketa paham? �Dialah penyair
mistik terbesar sepanjang zaman,� kata orientalis
Inggris Reynold A Nicholson. �Ia bukan nabi, tetapi ia
mampu menulis kitab suci,� seru Jami, penyair Persia
Klasik, tentang karya Rumi,Matsnawi.
Gandhi pernah mengutip kata-katanya. Rembrandt
mengabadikannya dikanvas, Muhammad Iqbal, filsuf dan
penyair Pakistan, sekali waktu pernah berdendang,
�Maulana mengubah tanah menjadi madu�. Aku mabuk
oleh anggurnya; aku hidup dari napasnya.� Bahkan, Paus
Yohanes XXIII, pada 1958 menuliskan pesan khusus:
�Atas nama dunia Katolik, saya menundukkan kepala
penuh hormat mengenang Rumi.�
Besar dalam kembara
Jalaluddin dilahirkan 30 September 1207 di Balkh, kini
wilayah Afganistan. Ia Putra Bahauddin Walad, ulama
dan mistikus termasyhur, yang diusir dari kota Balkh
tatkala ia berumur 12 tahun. Pengusiran itu buntut
perbedaan pendapat antara Sultan dan Walad.
Keluarga ini kemudian tinggal di Aleppo (Damaskus),
dan di situ kebeliaan Jalaluddin diisi oleh guru-guru
bahasa Arab yang tersohor. Tak lama di Damakus,
keluarga ini pindah ke Laranda, kota di Anatolia
Tengah, atas permintaan Sultan Seljuk Alauddin
Kaykobad.
Konon, Kaykobad membujuk dalam sebuah surat kepada
Walad, �Kendati saya tak pernah menundukkan kepala
kepada seorang pun, saya siap menjadi pelayan dan
pengikut setia Anda.� Di kota ini ibu Jalaluddin,
Mu�min Khatum, meninggal dunia. Tak lama kemudian,
dalam usia 18 tahun, Jalaluddin menikah. 1226, putra
pertama Jalaluddin, Sultan Walad, lahir. Setahun
kemudian, keluarga ini pindah ke Konya, 100 Km dari
Laranda. Di sini, Bahauddin Walad mengajar di
madrasah. 1229, anak kedua Jalaluddin, Alauddin,
lahir. Dua tahun kemudian, dalam usia 82 tahun,
Bahaudin Walad meninggal dunia.
Era baru pun dialami Jalaluddin. Dia menggantikan
Walad, dan mengajarkan ilmu-ilmu ketuhanan
tradisional, tanpa menyentuh mistik. Setahun setelah
kematian ayahnya, suatu pagi, madrasahnya kedatangan
tamu, Burhannuddin Muhaqiq, yang ternyata murid
terkasih Walad. Dan ketika menyadari sang guru telah
tiada, Muhaqiq mewariskan ilmunya pada Jalaluddin.
Burhanuddin pun menggembleng muridnya dengan
latihan tasawuf yang telah dimatangkan selama 4 abad
terakhir oleh para sufi, dan beberapa kali meminta dia
ke Damakus untuk menambah lmu. 8 tahun menggembleng,
1240, Burhanuddin kembali ke Kayseri. Jalaluddin Rumi
pun menggembleng diri sendiri.
Cinta adalah menari
Tahun 1244, saat berusia 37 tahun, Jalaluddin sudah
berada di atas semua ulama di Konya. Ilmu yang dia
timba dari kitab-kitab Persia, Arab, Turki, Yunani dan
Ibrani, membuat dia nyaris ensiklopedis. Gelar Maulana
Rumi (Guru bangsa Rum) pun dia raih. Tapi, di sebuah
senja Oktober, sehabis pulang dari madrasah,
seseorang yang tak dia kenal, menjegat langkahnya, dan
menanyakan satu hal. Mendengar pertanyaan itu, Rumi
langsung pingsan!
Sebuah riwayat mengatakan, orang tak dikenal itu
bertanya, �Siapa yang lebih agung, Muhammad Rasulullah
yang berdoa, �Kami tak mengenal-Mu seperti seharusnya�
atau seorang sufi Persia, Bayazid Bisthami yang
berkata, �Subhani, mahasuci diriku, betapa agungnya
kekuasaanku�. Pertanyaan mistikus Syamsuddin Tabriz
itu mengubah hidup Rumi. Dia kemudian tak lagi
terpisahkan dari Syams. Dan di bawah pengaruh Syams,
ia menjalani periode mistik yang nyala, penuh gairah,
tanpa batas, dan kini, mulai menyukai musik. Mereka
menghabiskan hari bersama-sama, dan menurut riwayat,
selama berbulan-bulan mereka dapat bertahan hidup
tanpa kebutuhan-kebutuhan dasar manusia, khusuk
menuju Cinta Ilahiah.
Tapi hal ini tak lama. Kecemburuan warga Konya,
membuat Syams pergi. Dan saat Syams kembali, warga
membunuhnya. Rumi kehilangan, kehilangan terbesar yang
dia gambarkan seperti kehidupan kehilangan mentari.
Tapi, suatu pagi, seorang pandai besi membuat
Jalaluddin menari. Pukulan penempa besi itu,
Shalahuddin, membuat dia ekstase, dan tanpa sadar
mengucapkan puisi-puisi mistis, yang berisi ketakjuban pada pengalaman syatahat. Rumi pun kemudian bersabahat
dengan Shalahuddin, yang kemudian menggantikan posisi
Syams. Dan era menari pun dimulai Rumi, menari sambil
memadahkan syair-syair cinta Ilahi. �Tarian para
darwis itulah yang kemudian menjadi semacam bentuk
ratapan Rumi atas kehilangan Syams,� jelas Talat.
Sampai meninggalnya, 17 Desember 1273, Rumi tak pernah
berhenti menari, kerana dia tak pernah berhenti
mencintai Allah. Tarian itu juga yang membuat
peringkatnya dalam inisiasi sufi berubah dari yang
mencintai jadi yang dicintai.