Selasa, 30 Desember 2008

DAFTAR MATA UANG


Abbesinia : Dollar
Afghanistan : Afgani
Afrika Selatan : Rand
Afrika Tengah : Franc
Albania : Lek
Aliazair : Dinar
Amerika Serikat : Dollar
Angola : Kwanza
Argentina : Peso
Australia : Dollar
Austria : Shilling
Bangladesh : Taha
Belanda : Gulden
Belgia : Franc
Bolivia : Boliviarnus
Brazil : Cruzeiro
Brunei Darussalam : Dollar
Bulgaria : Lev
Canada : Dollar
Cekoslovakia : Koruna
Ceylon : Rupee
Chad : Franc
Chili : Peso
Cina : Yuan
Denmark : Krone
Dominika : Peso
EI Salvador : Kolon
Emirat Arab : Dirham
Equador : Sucrve
Ethiopia : Birr
Filipina : Peso
Finlandia : Markka
Ghana : Cedi
Guatemala : Queizal
Haiti : Courde
Honduras : Lempira
Hongaria : Forint
Hongkong : Dollar
India : Rupee
Indonesia : Rupiah
Inggris : Pound Sterling
Irak : Dinar
Iran : Real
Irlandia : Pound
Islandia : Krona
Italia : Lire
Jamaika : Dollar
Jepang : Yen
Jerman : Deutsche Mark
Kamboja : Riel
Kamerun : Franc
Kenya : Shilling
Kolumbia : Peso
Kongo : Franc
Korea Selatan. : Won
Korea utara : Won
Kuba : Peso
Kuwait : Dinar
Laos : New Kip
Libanon : Pound
Liberia : Dollar
Libia : Dinar
Luxemburg : Franc
Malaysia : Ringgit
Malvinas : Pound
Maroko : Dirham
Meksiko : Peso
Mesir : Pound
Monako : Franc
Mongolia : Tugrik
Mozambik : Escudo
Muangthai : Bath
Myanmar : Kyat
Namibia : Rand
Nepal : Rupee
New Zealand : Dollar
Nicaragua : Kordoba
Nigeria : Naira
Norwegia : Kroon
Oman : Rial
Pakistan : Rupee
Panama : Balboa
Papua Nugini : Kina
Paraguay : Guarani
Perancis : Franc
Peru : Sole
Polandia : Zloty
Portugal : Escudo
Qatar : Riyal
Rumania : Leu
Rusia : Rubel / Ruble / Rouble
Saudia Arabia : Riyal
Senegal : Franc
Singapura : Dollar
Siprus : Pound
Spanyol : Peseta
Srilanka : Rupee
Sudan : Pound
Suriah : Pound
Suriname : Guilder
Swedia : Kroon
Swiss : Franc
Syria : Pound
Taiwan : Dollar
Tanzania : Shilling
Thailand : Baht
Timor Leste : Dollar Amerika / US $
Tunisia : Dinar
Turki : Lira
Uganda : Shilling
Uruguay : Peso
Vatikan : Lira
Venezuela : Bolivar
Vietnam : Dong
Yaman : Imani
Yordania : Dinar
Yugoslavia : Dinar
Yunani : Drachma
Zaire : Zaire
Zambia : Kwacha
Zimbabwe : Dollar

Daftar negara yang menggunakan Euro sebagai mata uang:
Negara-negara di Eropa menggunakan mata Euro mulai tahun 1999 (transaksi uang giral) dan 2002 (transaksi mata uang fisik / kartal).

1. Italia
2. Perancis
3. Belanda
4. Portugal
5. Irlandia
6. Luxemburg
7. Austria
8. Finlandia
9. Belgia
10. Jerman
11. Yunani
12. Spanyol
13. Slovenia
14. Malta
15. Siprus
16. Vatikan
17. Andorra
18. Monako
19. San Marino
DAFTAR SINGKATAN

a.n. atas nama
ABG Anak Baru Gede
ABK Anak Buah Kapal
ABRI Angkatan Bersenjata Republik Indonesia
ABS Asal Bapak Senang
ADB Asian Development Bank
AFTA Asean Free Trade Area
AIDA Australia-Indonesia Development Agreement
Amdal Analisis Mengenai Dampak Lingkungan
APBD Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah
APBN Anggaran Pendapatan dan Belanja Nasional
APEC Asian Pacifik Economy Community
ARD Associates in Rural Development
Bappeda Badan Perencanaan Pembangunan Daerah
Bapedalda Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah
BIMP-EAGA Brunei, Indonesia, Malaysia and Philippines � East Growth Area
BKPRS Badan Kerja Sama Pembangunan Regional Sulawesi
BPD Badan Perwakilan Desa
BTN Balai Taman Nasional
Bappenas Badan Perencanaan Pembangunan Nasional
BSP Biodiversity Support Program
CA Cagar Alam
CIA Central Intelligence Agency
CIDA Canadian International Development Agency
AKABA Angka Kematian Balita
AKABRI Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia
AKB Angka Kematian Bayi
AKI Angka Kematian Ibu
AKMIL Akademi Militer
AKP Analisis Kemiskinan Partisipatif
AKPER Akademi Perawat
AKPOL Akademi Polisi
AlDP Aliansi Demokrasi untuk Papua
ALRI Angkatan Laut Republik Indonesia
AMP Aliansi Mahasiswa Papua
Angkot Angkutan Kota
APBD Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah
APBN Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara
ATM Anjungan Tunai Mandiri
APK Angka Partisipasi Kasar
APM Angka Partisipasi Murni
APRI Angkatan Perang Republik Indonesia
AURI Angkatan Udara Republik Indonesia
AV Audio Video
B.A. Bachelor of Art
Balitbang Badan Penelitian dan Pengembangan
Bappeda Badan Perencanaan Pembangunan Daerah
Bappenas Badan Perencanaan Pembangunan Nasional
Bappepam Badan Pengawas Pasar Modal
Bawasda Badan Pengawas Daerah
Bawasprop Badan Pengawas Provinsi
BDS Bussiness Development Services
BEJ Bursa Efek Jakarta
BES Bursa Efek Surabaya
BI Bank Indonesia, Bahasa Indonesia
BINUS Bina Nusantara
BKPK Badan Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan
BKSAUA Badan Kerja Sama Antar Umat Agama
BLBI Badan Likuiditas Bank Indonesia
BP British Petroleum
BPS Biro Pusat Statistik
Br. Bruder
BRAy. Bendara Raden Ayu, gelar bangsawan putri di Kraton Yogyakarta.
BRI Bank Rakyat Indonesia.
Brimob Brigade Mobil
BRM Bendara Raden Mas, gelar bangsawan putra di Kraton Yogyakarta.
BRR Badan Rehabilitasi Rekonstruksi Aceh dan Nias
BTN Bank Tabungan Negara
BULOG Badan Urusan Logistik.
BUMN Badan Usaha Milik Negara.
Buser Buru Sergap.
CITES Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Flora and Fauna
Coremap Coral Reef Management and Rehabilitation Program
CRS Catholic Relief Services
CSSP Civil Society Support and Strengthening Program
CV Commanditaire Vennootschap
CV Curriculum Vitae
CWS Church World Services
DDII Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia
Depdagri Departemen Dalam Negeri
Depdiknas Departemen Pendidikan Nasional
Dephankam Departemen Pertahanan Keamanan
Depkes Departemen Kesehatan
Depkominfo Departemen Komunikasi dan Informasi
Deplu Departemen Luar Negeri
Depnaker Departemen Tenaga Kerja
Depag Departemen Agama
DfID Departemen for International Development
dm diabetes melitus
DMI Dewan Masjid Indonesia
dna deoxiribose nucleid acid
do drop out
DOM Daerah Operasi Militer
DOTS Direct-Observed Treatment Short-term
DP TNB Dewan Pengelolaan Taman Nasional Bunaken
DPC Dewan Perwakilan Cabang
DPD Dewan Perwakilan Daerah
dpi dot per inch
DPL Daerah Perlindungan Laut
DPO Daftar Pencarian Orang
DPP Dewan Pimpinan Pusat
DPR Dewan Perwakilan Rakyat
DPRD Dewan Perwakilan Rakyat Daerah
DPRGR Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong
DPRP Dewan Perwakilan Rakyat Papua
DPS Daftar Pemilih Sementara
DPW Dewan Pimpinan Wilayah
Dr. Doktor (gelar akademik)
dr. dokter (profesi)
Dra. Doktoranda
Drs. Doktorandus
Drg. Dokter Gigi
Dst. dan seterusnya
dsb. dan lain sebagainya
Dubes Duta Besar
Dufan Dunia Fantasi
DUHAM Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia
ECA Ecoregional Conservation Assessment
ELSAM Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat
EPIQ Environmental Policy and Institutional Strengthening Indefinite Quantity Contract
FMPTNB Forum Masyarakat Peduli Taman Nasional Bunaken
FPI Front Pembela Islam
FTZ-FP Free Trade Zone-Free Port
GAM Gerakan Aceh Merdeka
GATT General Agreement on Tariff and Trade
GEF Global Environment Facility
Gelora Gelanggang Olah Raga
Gepak Gerakan Pemuda Asli Kalimantan
gepeng gelandangan dan pengemis
Gerwani Gerakan Wanita Indonesia
HAM Hak Asasi Manusia
hardiknas hari pendidikan nasional
HDI Human Development Index
HIPMI Himpunan Pengusaha Muda Indonesia
Hisfarsi Himpunan Sarjana Farmasi Indonesis
HISKI Himpunan Sarjana-Kesusastraan Indonesia
HIV Human Immunodeficiency Virus
HKTI Himpunan Kerukunan Tani Indonesia
HMI Himpunan Mahasiswa Islam
HNSI Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia
HPI Human Poverty Index
HTI Hizbut Tahrir Indonesia
HURIDOC Human Rights Information and Documentation System
ICCPR International Covenant on Civil and Political Rights (Kovenan Internasional tentang Hak-hak Sipil dan Politik)
ICEL Indonesian Center for Environmental Law
ICESCR International Covenant on Economic, Social, and Cultural Rights (Kovenan Internasional tentang Hak-hak Ekonomi, Sosial, dan Budaya)
ICM Integrated Coastal Management
ICZM Integrated Coastal Zone Management
IKM Indek Kemiskinan Masyarakat
ILO International Labour Organization
IMF International Monetary Fund
IMF International Monetary Fund
INSIST Institute for Social Transformation
InteCoReef The Integrated Coral Reef Management Plan in North Sulawesi
Intelkam Intelijen dan Keamanan
IPB Institut Pertanian Bogor
IPG Indeks Pembangunan Gender
IPM Indeks Pembangunan Manusia
IPRSP Interim Poverty Reduction Strategy Papers
ITB Institut Teknologi Bandung
ITI Institut Teknologi Indonesia
ITS Institut Teknologi Sepuluh November
ITTO International Tropical Timber Organization
IUCN International Union for Conservation of Natural Resources
Jabotabek Jakarta Bogot Tangerang Bekasi
Jagorawi Jakarta Bogor Ciawi
Jamsostek Jaminan Sosial Tenaga Kerja
Jatam Jaringan Advokasi Tambang
JICA The Japan International Cooperation Agency
JPS BK Jaring Pengaman Sosial Bidang Kesehatan
Ka Kepala
KA Kereta Api
Kab Kabupaten
Kabid Kepala Bidang
Kabidhumas Kepala Bidang Hubungan Masyarakat
KabidTU Kepala Bidang Tata Usaha
Kabin Kepala Badan Intelijen Negara
Kabiro Kepala Biro
Kades Kepala Desa
KADIN Kamar Dagang dan Industri
Kadiv Kepala Divisi
Kadus Kepala Dusun
Kajari Kepala Kejaksaan Negeri
Kajati Kepala Kejaksaan Tinggi
Kapolda Kepala Kepolisian Daerah
Kapolres Kepala Kepolisian Resor
Kapolresta Kepala Kepolisian Resor Kota
Kapolri Kepala Kepolisian Republik Indonesia
Kapolsek Kepala Kepolisian Sektor
Kapoltabes Kepala Kepolisian Kota Besar
KB Keluarga Berencana
Kelola Kelompok Pengelola Sumberdaya Alam
KEMALA Penguatan Kelembagaan yang Berkaitan dengan Pengelolaan Keanekaragaman Hayat
Keppres Keputusan Presiden
KHA Konvensi Hak Anak
KIKIS Komite Independen Anti Kemiskinan Struktural
KK Kepala Keluarga
KK Kartu keluarga
KKN Korupsi Kolusi dan Nepotisme
KKN Kuliah Kerja Nyata
KKR Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi
KM Kapal Motor
Km Kilo Meter
KM Kapal Motor
Kodam Komando Daerah Militer
Komnas HAM Komisi Nasional Hak Asasi Manusia
Kopassus Komando Pasukan Khusus
KopKar Koperasi Karyawan
Koramil Komando Rayon Militer
Kostrad Komando Strategi Angkatan Darat
Kowani Kongres Wanita Indonesia
KPA Konsorsium Pembaruan Agraria
KPK Komite Penanggulangan Kemiskinan
KPK Komite Pemberantasan Korupsi
KPL Kawasan Perlindungan Laut
KPM Kelompok Peduli Masyarakat
KPPP Komisi Penyelesaian Perselisihan Perburuhan
KTP Kartu Tanda Penduduk
KUD Koperasi Unit Desa
LBH Lembaga Bantuan Hukum
LDII Lembaga Dakwah Islam Indonesia
Letkol Letnan Kolonel
LILA Lingkar Lengan Atas
LMA Lembaga Masyarakat Adat
LNG Liquified Natural Gas
LPEM-UI Lembaga Penelitian Ekonomi Manajemen Universitas Indonesia
LPS HAM Lembaga Pengembangan Studi Hukum dan Advokasi Hak Asasi Manusia
LSM Lembaga Swadaya Masyarakat
M.A. Master of Art
MADN Majelis Adat Dayak Nasional
M.B.A. Master Business of Administration
M.Hum. Master Humaniora
M.M. Magister Manajemen
MAP Mangrove Action Project
Masy Masyarakat
Masyumi Majelis Syura Muslimin Indonesia
May. Jen Mayor Jenderal
MBS Manajemen Berbasis Sekolah
MC Master of Ceremony
MDG Millennium Development Goals
MEE Masyarakat Ekonomi Eropa
Menkokesra Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat
Menkopolkam Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan
Milis Mailing list
MLI Masyarakat Linguistik Indonesia
MOU Memorandum of Understanding
MPR Majelis Permusyawaratan Rakyat
MQ Manajemen Quolbu
MREP Marine Resource Evaluation and Planning Project
MSM Meares Soputan Mining
Muspida Musyawarah Pimpinan Daerah
Muspika Musyawarah Pimpinan Kecamatan
NAD Nanggroe Aceh Darussalam
NGO Non Governmental Organization
NHDR National Human Development Report
NIK Nomor Induk Karyawan
NIP Nomor Induk Pegawai
NIS Nomor Induk Siswa
NISN Nomor Induk Siswa Nasional
NISP Nilai Inti Sari Pinjaman
NMR Newmont Minahasa Raya
NRM Natural Resources Management
NSP Nada Sambung Pribadi
NSWA North Sulawesi Watersport Association
OCHA Office for the Coordination of Humanitarian Affairs
ODA Official Development assistance
ODA Official Development Aid
OPM Organisasi Papua Merdeka
Ormas Organisasi Masyarakat
Ornop Organisasi NonPemerintah
Pakuwaja Paguyuban Kulawarga Jawa, organisasi suku Jawa-Kalimantan
Pangdam Panglima Daerah Militer
Panwaslu Panitia Pengawas Pemilihan Umum
Parpol Partai Politik
PBB Organisasi Bangsa-bangsa
PB-HAM Pos Bantuan Hukum dan Hak Asasi Manusia
PEKA Yayasan Pelita Kasih Abadi
Pelihara Proyek Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Pelestarian Alam
Pemda Pemerintah Daerah
Pemda Pemerintah Daerah
Perda Peraturan daerah
Petrus Penembakan misterius
PHKA Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam
PHPA Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Pelestarian Alam
PII Pelajar Islam Indonesia
PII Perhimpunan Insinyur Indonesia
PIR Pola Inti Rakyat
PJM Pembangunan Jangka Menengah
PJP Pembangunan Jangka Panjang
PJs Pejabat sementara
PKB Partai Kebangkitan Bangsa
PKI Partai Komunis Indonesia
PKS Partai Keadilan Sejahtera
PKPS BBM Program Kompensasi Pengurangan Subsidi Bahan Bakar Minyak
PLN Perusahaan Listrik Negara
PLN Perusahaan Listrik Negara
PLTA Pembangkit Listrik Tenaga Air
PLTD Pembangkit Listrik Tenaga Diesel
PLTN Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir
PLTS Pembangkit Listrik Tenaga Surya
PM Polisi Militer
PN Pengadilan Negeri
PNG Papua New Guinea
PNS Pegawai Negeri Sipil
Polairud Kepolisian Air dan Udara
Polres Kepolisian Resort
Polri Polisi Republik Indonesia
Polsek Kepolisian Sektor
POLWAN Polisi Wanita
PP Peraturan Pemerintah
PPA Participatory Poverty Assessment
PRA Participatory Rural Appraisal
Propenas Program Pembangunan Nasional
Protap Prosedur Tetap
PRSP Poverty Reduction Strategy Papers
PSI Partai Sosialis Indonesia
PSK Pekerja Seks Komersial
PT Perseroan Terbatas
PU Pekerjaan Umum
PUS Pasangan Usia Subur
PUSAKA Pusat Studi Antar Komunitas
Puskesmas Pusat Kesehatan Masyarakat
PUSSbik Pusat Studi Strategi dan Kebijakan
RAPBD Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah
RI Republik Indonesia
RPK Ruang Pelayanan Khusus
RS Rumah Sakit
RSJ Rumah Sakit Jiwa
RSUD Rumah Sakit Umum Daerah
RT Rukun Tetangga
Rudal Peluru Kendali
RUU Rancangan Undang-Undang
RW Rukun Warga
S.Pd Sarjana Pendidikan
SARS Severe Acute Respiratory Syndrome
Sat Pol Satuan Polisi
Satgas Satuan Tugas
Satpam Satuan Pengamanan
Satpolairud Satuan Polisi Air Udara
SBKSDA Sub Balai Konservasi Sumberdaya Alam
SD Sekolah Dasar
SDN Sekolah Dasar Negeri
s.d sampai dengan
SD Sekolah Dasar
SDA Sumber Daya Alam
SE Sarjana Ekonomi
SFM Sustainable Forest Management
SH Sarjana Hukum
SI Sistem Informasi
SISKOHAT Sistem Komputerisasi Haji Terpadu
SIGD Sistim Informasi Geografi-Demografi
Sijori Singapura, Johor and Riau
SK Surat Keputusan
SKP Sekretariat Keadilan dan Perdamaian
SLTA Sekolah Lanjutan Tingkat Atas
SMA Sekolah Menengah Atas
SMAN Sekolah Menengah Atas Negeri
SMP Sekolah Menengah Pertama
SMPN Sekolah Menegah Pertama Negeri
SMART Specific, Measurable, Attainable, Relevant and Time-Bound
SNPK Strategi Nasional Penanggulangan Kemiskinan
SPM Standar Pelayanan Minimum
Susenas Survei Sosial Ekonomi Nasional
Takesra Tabungan Kesejahteraan Keluarga
TG IMT Triangle Growth Indonesia, Malaysia, Thailand
TK Taman Kanak Kanak
TKI Tenaga Kerja Indonesia
TKP Tempat Kejadian Perkara
TKP3KPK Tim Koordinasi Penyiapan Penyusunan Perumusan Kebijakan Penanggulangan Kemiskinan
TKW Tenaga Kerja Wanita
TN Taman Nasional
TNC The Nature Conservancy
TNI Tentara Nasional Indonesia
TNI-AD Tentara Nasional Indonesia-Angkatan Darat
TPA Taman Pengajian Al Qur'an
TPN/OPM Tentara Pembebasan Nasional/Operasi Papua Merdeka
TRI Tentara Rakyat Indonesia
u.p. untuk perhatian
UGM Universitas Gadjah Mada, di Yogyakarta
UI Universitas Indonesia
UIN Universitas Islam Negeri
UKBM Usaha Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat
UMK Upah Minimum Kota
UMM Universitas Muhammadiyah Malang
UMY Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
UMP Upah Minimum Propinsi
Unand Universitas Andalas.
Undip Universitas Diponegoro, di Semarang - Jawa Tengah.
UNDP United Nation Development Program
UNICEF United Nations Children�s Fund
Unpad Universitas Padjadjaran, di Bandung.
Unpar Universitas Parahiangan, di Bandung.
UNS Universitas Negeri Sebelas Maret, di Surakarta - Jawa Tengah.
UNSFIR United Nations Support For Indonesia Recovery
Unsud Universitas Jenderal Sudirman, di Purwokerto - Jawa Tengah
USAID United States Agency for International Development
UUD Undang-Undang Dasar
UU Undang-Undang
UUPA Undang-Undang Pokok Agraria
VCD Video Compact Disk
WALHI Wahana Lingkungan Hidup Indonesia
WDR World Development Report
WFP World Food Program
WRI World Resources Institute
WTC World Trade Centre
WTO World Trade Organization
WTS Wanita Tuna Susila
WWF World Wildlife Foundation
WWF World Wide Fund for Nature
YAPRITA Yayasan Panggilan Pertiwi untuk Keadilan
YLBHI Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia
YLLI Yayasan Laut Lestari Indonesia
YSN Yayasan Suara Nurani Tomohon
Ytc. Yang Tercinta
Yth. Yang Terhormat.

Jumat, 12 Desember 2008

MENSURVEY PILIHAN JAWABAN

Mensurvey pilihan jawaban adalah aktivitas yang sangat penting bagi Anda. Kunci dari keberhasilan dalam mengerjakan Section 1. Listening Comprehension adalah kemampuan Anda dalam mensurvey pilihan-pilihan jawaban SEBELUM percakapan dimulai. Yang dimaksud dengan mensurvey disini adalah membaca pilihan jawaban dan menentukan kira-kira apa yang akan ditanyakan oleh narator. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk menebak kira-kira apa pertanyaan dari suatu soal.

1. Pertanyaan kemungkinan berkaitan dengan orang jika dalam pilihan jawaban terdapat:
- Nama
Mr. Dixon,
Susan,
Dr. Andrew
- Identifikasi berdasar aktivitas atau peran
A tourist
A passanger
A driver
- Identifikasi berdasar kelompok
Business people
Family members
College students

2. Pertanyaan kemungkinan berkaitan dengan pekerjaan jika dalam pilihan jawaban terdapat kata semisal:
- Office manager
- Hotel clerk
- Reporter
- Architect
- Secretary
- Novelist
- Teacher
- Travel agent
- Operator

3. Pertanyaan kemungkinan berkaitan dengan hubungan antara pembicara pertama dan kedua jika dalam pilihan jawaban terdapat kata-kata seperti
- Salesperson � customer
- Lawyer � client
- Employer � employee
- Teacher � student
- Doctor � patient
- Professor � pupil
- Waiter � customer


4. Pertanyaan kemungkinan berkaitan dengan tempat di mana pembicaraan itu berlangsung jika pilihan-pilihan jawaban menyatakan suatu tempat misalnya
- The train station
- The store
- The office
- On the bus stop
- At the movies
- On a tennis court
- In a restaurant
- In a lawyer�s office

Pertanyaan dari narator kemungkinan seperti ini Where does this conversation most probably take place?

5. Pertanyaan yang harus Anda antisipasi adalah berkaitan dengan kapan suatu peristiwa berlangsung jika dalam pilihan jawaban terdapat kata-kata seperti:
- 12:00 P.M.
- Midnight
- Sunday
- In January
- On February 15th
- 1945
- 1973
- In the spring
- This week
- Next week
- Tomorrow
- Yesterday

6. Pertanyaan kemungkinan berkaitan dengan: (1) Apa yang akan/harus dilakukan oleh pembicara, atau (2) Apa yang telah/akan terjadi, atau (3) Bagaimana sesuatu dilakukan, jika dalam pilihan jawaban terdapat kata-kata seperti
- See a movie.
- Finish the proposal
- Go out for dinner
- They will go out for lunch
- He should call his office
- He was late for the meeting
- The phone lines were out of serfice
- By express mail
- By courier
- By covering the windows
- By adding more light


7. Pertanyaan kemungkinan berkaitan dengan topik pembicaraan jika dalam pilihan jawaban terdapat kata-kata seperti:
- Cost of insurance
- Shipping fees
- Methods of delivery

8. Pertanyaan kemungkinan berkaitan dengan emosi atau perasaan pembicara jika dalam pilihan jawaban terdapat kata-kata seperti
- Afraid
- Angry
- Bored
- Cold
- Embarrassed
- Happy
- Frustrated
- Ill
- Mad
- Nervous
- Proud
- Sad
- Sick
- Thirsty
- Upset

9. Pertanyaan kemungkinan berkaitan dengan alasan tentang mengapa sesuatu terjadi/dilakukan jika dalam pilihan jawaban terdapat kata-kata seperti
- A taxi is faster that the train
- He didn�t have a reservation
- He wanted to take a tour
- Because the presentation was boring
- She needs directions to the location
- The train goes directly to Los Angeles

10. Pertanyaan kemungkinan berkaitan dengan opini pembicara tentang sesuatu jika dalam pilihan jawaban terdapat kata-kata seperti
- He thinks that it is too long
- She thinks that he is qualified for the job

11. Untuk Part A. Short Conversation, jika pilihan jawaban menggunakan kata he maka fokuskan pada pembicara laki-laki. Demikian juga sebaliknya, jika pilihan jawaban menggunakan kata she maka fokuskan pada pembicara perempuan.

12. Untuk Part B dan C. Survey pertanyaan ketika terjadi pergantian Part; atau ketika narator membacakan directions.
Section 1: Listening





Jumlah soal : 50 pertanyaan

Waktu : 40 menit

Waktu rata-rata per soal : 48 detik

Model pertanyaan : Pilihan ganda (multiple choice) � A, B, C, D

Bagian-Bagian (Parts) : Part A. Short Conversation

Part B. Longer Conversation

Part C. Talks / Lectures





BAGIAN-BAGIAN (PARTS) TOEFL LISTENING



Dalam TOEFL Listening terdapat tiga bagian (Parts).

A. Short Conversations (30 pertanyaan): Anda akan mendengarkan suatu percakapan informal antara seorang laki-laki dan seorang perempuan. Biasanya setiap orang hanya berbicara sekali. Suara ketiga (laki-laki atau perempuan) kemudian menanyakan pertanyaan tentang percakapan tersebut. Anda harus memilih salah satu jawaban dari empat pilihan jawaban (A, B, C, D) yang disediakan untuk setiap nomornya.

B. Longer Conversations (umumnya 8 soal): Anda akan mendengarkan dua orang sedang melakukan pembicaraan. Suara ketiga akan memberikan 3 sampai 5 pertanyaan tentang pembicaraan tersebut. Anda harus memilih salah satu jawaban dari empat pilihan jawaban (A, B, C, D) yang disediakan untuk setiap nomornya.

C. Talks/lectures (umumnya 12 pertanyaan): Anda akan mendengarkan satu orang (laki-laki atau perempuan) sedang menyampaikan sesuatu (kuliah, penjelasan, dll). Suara kedua akan memberikan 4 � 5 pertanyaan untuk setiap apa yang disampaikan tersebut. Anda harus memilih salah satu jawaban dari empat pilihan jawaban (A, B, C, D) yang disediakan untuk setiap nomornya.





Coba jawab contoh-contoh listening TOEFL berikut. Ingat bahwa di TOEFL yang sesungguhnya, Anda mendengarkan dialog dan pertanyaannya. Anda tidak diperbolehkan menulis catatan apa pun ketika Anda mendengarkan. Anda akan mendengarkan setiap percakapan hanya sekali.



M = man

W = woman

N = Narrator



PART A: SHORT DIALOGUES

Dalam Part A Anda akan mendengarkan beberapa dialog pendek antara dua pembicara. Topik pembicaraan mereka mungkin tentang kehidupan kampus atau sehari-hari. Anda juga diharapkan dapat memahami idiomatic expressions yang umum digunakan dalam percakapan orang-orang Amerika Utara. Kadang-kadang setiap pembicara hanya berbicara sekali; tetapi di beberapa dialog seorang pembicara mungkin saja berbicara sampai dua kali. Setiap dialog diikuti oleh sebuah soal pilihan ganda.



Model pertanyaan:

What does the man/woman mean?

What does the man/woman imply?

What does "word from dialogue" refer to?

What can be inferred from the dialogue?

What are the speakers discussing?

What is the man/woman's problem?

Contoh 1:

Anda mendengarkan:



M: You'll never guess what I got on my Biology exam.

W: You mean the one you were so sure that you failed last week?

M: Yeah. I got the top mark in the class, and finally boosted my GPA.

W: I guess all of your late night studying finally paid off.

N: What does the woman mean?



Dalam lembar soal:

(A) The man paid for a tutor.

(B) The man didn't study during the day.

(C) The man worked hard for his grade.

(D) The man likes to socialize.



Penjelasan:

Pilihan A adalah pengalih perhatian dikarenakan adanya kesamaan bunyi (literal distractor). Dalam hal ini kata "paid" bukan berarti membayar uang. "Paid off" dalam konteks ini berarti "usaha keras yang tidak sia-sia". Model pengalih perhatian seperti ini sering dijumpai dalam pertanyaan, "What does a person mean?"

Pilihan B adalah pengalih perhatian lawan kata (opposites distractor). Ketika Anda mendengar kata "late night" dalam dialog, Anda sangat mungkin akan menemui lawan kata dari informasi ini semisal "during the day" dalam salah satu pilihan jawaban. Jika ada dua lawan kata (opposites) diantara pilihan-pilihan jawaban, maka biasanya salah satunya adalah pilihan yang benar.

Pilihan D digunakan untuk membuat Anda menghubungkan "late night" dengan socializing.



Jadi pilihan yang benar adalah C.



Contoh 2:

M : I came home for a nap between classes and I slept right through my alarm.

W : You look pretty worried about it. Did you miss an important class?

M : Yeah. I missed the last class before the astronomy final. We were supposed to be getting exam hints.

W : Why don't you bug Andrea for the notes. I have her number if you want it.

N : What does the woman suggest the man do?



Dalam lembar jawaban:

(A) Ask Andrea about the computer virus.

(B) Call a classmate for the information.

(C) Number the pages of his astronomy notes.

(D) Ask her for a wake up call before the exam.



Penjelasan:

Pilihan A menggunakan pengalih perhatian �kata sama berbeda arti� (same word different meaning distractor). Kata "bug" berarti virus komputer. Tetapi ia juga bisa berarti "mengganggu" seseorang. Dalam hal ini �bug� dalam dialog di atas berarti �mengganggu�.

Pilihan C juga mengandung kata yang memiliki arti berbeda. Dalam dialog di atas, "number" berarti means phone number. Sementara dalam pilihan C ia sebuah verb yang berarti menomori.

Pilihan D menghubungkan kata "alarm" dan "slept" dengan "wake up".



Pilihan yang benar adalah B.





PART B/C: CONVERSATIONS, ACADEMIC DISCUSSIONS, MINI-LECTURES



Dalam Part B/C Anda akan mendengarkan percakapan yang lebih panjang yang menggunakan bahasa formal maupun informal.

Ada beberapa perbedaan antara Part B dan Part C. Part B disebut dengan Long conversations. Part B mirip dengan Part A kecuali percakapan dalam bagian ini lebih panjang, sekitar satu menit. Orang yang terlibat dalam percakapan terkadang tidak hanya dua tetapi tiga orang. Topik percakapan biasanya berkaitan dengan kehidupan kampus atau diskusi tentang sebuah subyek perkuliahan.

Mini Lectures umumnya terdapat dalam Part C. Berbeda dengan Part A atau Part B, tipe pembicaraan dalam Part C adalah monolog, satu pembicara. Bagian ini menguji kemampuan Anda dalam memahami perkuliahan yang disampaikan oleh seorang profesor. Topik perkuliahan bisa apa saja misalnya biologi, seni, atau bahkan geologi. Walaupun demikian Anda tidak perlu mempelajari background pendidikan tertentu untuk bisa menjawab bagian ini. Jawaban yang Anda butuhkan semuanya dinyatakan dalam perkuliahan. Terdapat 3 - 4 pertanyaan untuk setiap pembicaraan atau perkuliahan dalam Part B dan Part C,



Model pertanyaan:

What is the talk mainly about?

What is the purpose of the lecture?

"Wh" fact and detail questions

What does the man/woman imply?

What can be inferred?

What will probably happen next?



Contoh 1: Casual conversation

M : I'm excited about going to the concert at the campus pub on Saturday. It's supposed to be the best show of the year. You're coming, aren't you?

W : I wish I could, but I already promised Lisa that I would cover both of her night shifts at the movie store this weekend.

M : Why did you do that? Did you forget about the concert?

W : Actually, I really need the hours. Next semester is going to be really expensive. I have to buy a new psychology textbook that is going to cost me more than one hundred dollars.

M : Have you looked in the used book store for it? I never buy my math textbooks new.

W : That's what I would normally do, but it's a new edition this year. Some of the chapters are different, so I really need to buy the new one.

M : That's too bad. I wish you could come to the concert. If it makes you feel any better, Matt won't be able to come either.

W : Why is that? It's his favorite band!

M : He has to go home for the weekend. His sister is getting married.



(Number 31) N: What are the speakers discussing?



Dalam lembar soal:

(A) Their plans for next semester

(B) Why the woman can't go to the concert

(C) Their favorite band

(D) A psychology class



Penjelasan:

Pilihan A tidak benar karena mereka sedang mendiskusikan sebuah buku untuk next semester bukan sebuah rencana. Tipe pertanyaan ini menuntut Anda untuk menemukan main idea.

Pilihan C tidak benar karena band ini adalah Matt's favorite band. Matt di sini bukan salah satu pembicara.

Pilihan D merancukan antara �psychology class" dan " psychology textbook". Tetapi sekali lagi, ini bukan main idea percakapan.



Pilihan yang benar adalah B.



(Number 32) N: What will the woman do on Saturday?



Dlaam lembar soal:

(A) Work at the bookstore.

(B) Go to the movies.

(C) Cover a friend's shift.

(D) Go to a concert.



Penjelasan:

Pilihan A disebutkan dalam pembicaraan, tetapi bukan tentang kemana dia akan bekerja.

Pilihan B juga disebutkan, tetapi ia akan bekerja (work) at a "movie store".

Pilihan D adalah apa yang dia ingin lakukan, seperti diindikasikan dalam pernyataan �I wish I could�.



Pilihan yang benar adalah C, seperti dinyatakan dalam ��.but I already promised Lisa that I would cover both of her night shifts at the movie store this weekend.�



(Number 23) What can be inferred from the conversation?



(A) The woman never works on weekends.

(B) The man and woman take the same courses.

(C) Matt would like to go to the concert too.

(D) The new psychology book might sell out.



Penjelasan:

Pilihan A tidak disebutkan dalam bacaan. Ini mungkin fakta yang benar, tetapi agak meragukan. Dalam TOEFL Anda membutuhkan the "best" answer.

Pilihan B tidak benar karena the man mengambil kelas matematika (�I never buy my math textbooks new�) dan the woman mengambil kelas psikologi (�I have to buy a new psychology textbook�).

Pilihan D tidak benar karena ini bukan kekhawatiran the woman. Dia khawatiir tentang tidak punya cukup uang untuk membeli buku.



Jawaban yang benar adalah C. (Ini adalah band favorit Matt, jadi jelas dia ingin pergi ke konser tersebut.)



Contoh 2: Academic discussion

M1 (professor): There is one more section I'd like to spend a few moments reviewing before we close our books for the day. Who here remembers the film we watched last month on hazardous wastes?

W : You mean the one about computer and television monitors?

Professor : Yes, that's the one Janette. In the film they discussed why some States are making it illegal to dump monitors into regular landfills. Can anyone remember the reason? Adam?

M2 : It's because of the cathode ray tubes, also known as CRT's, inside them. These tubes are high in lead content, and the lead can leak into the ground water.

M1 : Excellent. It's nice to know that some of you were listening. Does anyone remember the reason why manufacturers place lead in the CRT's of computer and TV monitors in the first place?

W : The tubes are infused with lead in order to shield the viewer from harmful x-rays. There is no known alternative at this time, but I think the film said that researchers are working on it.

M1 : Yes, that's true. And why wasn't this a problem twenty years ago? Why is it suddenly a major concern?

M2 : That's simple. It's because every household in the US has at least four televisions.

W : Not only that, but people are throwing out their TV's and computer monitors in order to keep up with upgrades. With the digital age upon us, this is going to pose even more of a problem.

M1 : So why can't these monitors just be recycled, Adam?

M2 : Well, unlike paper and plastics, there just aren't any services that provide this type of recycling. According to the film, a lot of companies that recognize the threat are storing their unused equipment in warehouses until some better solutions become available.

M1 : Yes, and this brings us to our next film. Janette would you mind dimming the lights? This film is titled Landfill Solutions. It deals with a number of products that can be recycled through new means.





(Question 39) N: What is the main topic of the discussion?



(A) Harmful televisions

(B) A landfill concern

(C) Computer equipment

(D) Recycling films



Penjelasan:

Pilihan A tidak benar karena bukan televisinya yang berbahaya. Yang berbahaya adalah CRT's yang ada di dalamnya. Dalam percakapan, kata "harmful" (berbahaya) digunakan untuk menggambarkan X-rays.

Pilihan C disebutkan dalam percakapan, tetapi bukan main topic. Anda dalam model percakapan ini akan seringkali mendapati pilihan yang terlalu luas atau terlalu detail untuk bisa digunakan sebagai main topic.

Pilihan D mengkombinasikan dua kata yang digunakan dalam percakapan. tetapi penggabungan ini menjadi tidak logis. �Recycling films� = film-film yang mendaur ulang.



Pilihan yang benar adalah B.



(Question 40) N: What makes monitors hazardous to the environment?



(A) SRT's

(B) X-rays

(C) Cathode ray tubes

(D) Landfills



Penjelasan:

Pilihan A mengandung pengalih perhatian bunyi yang hampir sama (similar sound distractor). C dan S bunyinya hampir sama.

Pilihan B adalah apa yang membuat monitor berbahaya bagi manusia. CRT's melindungi orang dari bahaya ini.

Pilihan D mengacaukan "wh" question. Jika pertanyaannya menggunakan kata "where" mungkin saja pilihan ini benar.



Jawaban yang benar adalah C.



(Question 41) N: According to Adam, why can't monitors be recycled?



(A) They are too expensive to reuse.

(B) There are no companies that provide this service.

(C) People are too lazy to take them to recycling plants.

(D) Companies prefer to store them for future use.



Penjelasan:

Pilihan A tidak disebutkan dalam bacaan.

Pilihan C bisa jadi benar, tetapi ini bukan yang dikatakan Adam. Dalam model pertanyaan "according to", Anda tidak bisa memilih jawaban hanya karena ia masuk akal. Jawaban adalah apa yang disebutkan oleh pembicara (dalam hal ini Adam).

Pilihan D (penyimpanan) tidak disebutkan, tetapi bukan karena alasan penggunaan masa depan "future use".



Pilihan yang benar adalah B.



(Question 42) N: What will the class do next?



(A) Visit a landfill site.

(B) Dissect a computer monitor.

(C) Watch another film.

(D) Review the film about monitors.



Penjelasan:

Pilihan A, B, dan D semuanya bertentangan dengan kalimat terakhir percakapan. Di akhir percakapan professor membicarakan tentang film baru yang akan ditonton. �Yes, and this brings us to our next film. Janette would you mind dimming the lights? This film is titled Landfill Solutions. It deals with a number of products that can be recycled through new means.� Jawaban atas pertanyaan seperti ini selalu ada di akhir percakapan.



Jadi pilihan yang benar adalah C.



Contoh 3: Mini-lecture



Now listen to part of a lecture from a gemology class.



In last week's lesson about the difference between metals and gems, we discussed how pliable true gold is. Today we are going to be talking about the diamond, the hardest known natural mineral. As most of you know from our introductory chapter, diamonds are the transparent form of pure carbon. Carbon crystals form deep in the Earth's mantle when high temperatures and extreme pressure occur. The term "diamond" comes from the Greek word adamas, which means unconquerable. In the jewelry business, diamonds are valued according to a few categories, known as the 4 C's. The cost of a diamond depends on its carat, color, cut, and clarity. Besides Africa, there are few areas around the world with large diamond deposits. However, diamond replication is a new trend that threatens the multimillion dollar industry. Researchers have discovered a way to produce large volumes of diamonds by putting carbon under extreme heat and pressure. This process causes the carbon to crystallize into diamonds. Even the trained eye cannot detect the difference between a natural diamond and one that is manufactured in this way. While this innovation could devastate the jewelry industry, it could also turn the precious stone into a common semiconductor. Not only are diamonds incredible conductors of heat, they are also efficient electrical insulators. Tremendous heat can pass through a diamond without causing any significant damage.



(Question 43) N: What is the purpose of this lecture?



(A) To compare diamonds and gold

(B) To discuss types of gems

(C) To discuss the formation of diamonds

(D) To review the elements of carbon



Penjelasan:

Pilihan A bukan tujuan utama perkuliahan (main purpose). Gold hanya disebut sekali di awal pembicaraan.

Pilihan B tidak benar karena hanya satu jenis gem yang didiskusikan.

Pilihan D terlalu spesifik.



Pilihan yang benar adalah C.



(Question 44) N: Which of the following is not one of the 4 C's used by the jewelry business?



(A) Carbon

(B) Carat

(C) Color

(D) Cut



Penjelasan:

Pilihan B, C, dan D disebutkan sebagai bagian dari 4 C. Pilihan A hanya disebutkan dalam bacaan, tetapi bukan bagian dari 4 C.



Pilihan yang benar adalah A.





(Question 45) N: Where do natural diamonds form?



(A) In a manufacturing plant

(B) In an electrical insulator

(C) Deep in the Earth's mantle

(D) Alongside metals such as gold



Penjelasan:

Pilihan A adalah kebalikannya. Tempat ini adalah tempat untuk memproduksi non natural diamonds.

Pilihan B sama sekali tidak menjawab pertanyaan ini.

Pilihan D tidak disebutkan.



Pilihan yang benar C.





(Question 46) N: According to the professor, what are diamonds good for besides jewelry?

(A) They can create heat.

(B) They can hold heat in.

(C) They can damage insulators.

(D) They can conduct electricity.



Penjelasan:

Pilihan A mengandung kata kerja yang salah "create" (menciptakan). Yang benar adalah �diamonds hold (menahan) heat.�

Pilihan C menggunakan kata kerja yang salah "damage" (merusak). Yang benar adalah �diamonds create insulation.�

Pilihan D menggunakan kata kerja yang benar, tetapi kata bendanya salah. Yang benar adalah �diamonds conduct heat.�







BEBERAPA CONTOH LAIN:



PART A: QUESTIONS 1-30: SHORT CONVERSATIONS



LISTENING PART A. MEANING QUESTIONS.



Contoh.1

(Anda mendengarkan)

Man : I've heard that the new Chemistry class is really difficult.

Woman : Oh, I wouldn't say that. I took Chemistry 402 last quarter, and I think the course went very smoothly.

Narrator : What does the woman mean?



(Dalam lembar soal)

(A) The chemistry class is very tough.

(B) The chemistry class is not teaching this quarter.

(C) The chemistry class is easier than the man thinks.

(D) The chemistry class should be avoided if possible.



"Oh, I wouldn't say that" mengindikasikan bahwa �the woman disagrees with the man.� Pilihan yang benar adalah C.



Contoh.2

Woman : I've heard great things about that movie that just came out. You want to go see it tonight?

Man : I'd love to, but I've got a history final in two days, and I haven't studied all quarter. I think I'd better take a rain check this time.

Narrator : What does the man mean?



(Dalam lembar soal)

(A) He needs to take a break from his studying.

(B) He loves the woman very much.

(C) He doesn't like going out in the rain.

(D) He will not be able to accompany the woman.



"I'd better take a rain check this time" berarti bahwa the man "cannot do the activity." Jawaban yang benar adalah D.





LISTENING PART A. IMPLICATION QUESTIONS.



Contoh. 3

Woman : The milk in the refrigerator is sour. I don't think it's drinkable.

Man : No joke. The expiration date was three weeks ago.

Narrator : What does the man imply?



(Dalam lembar soal)

(A) The woman has an extremely sour disposition.

(B) They need to replace the refrigerator.

(C) The woman is just kidding.

(D) It's not surprising the milk has ruined.



Jawaban: D



Contoh. 4

Man : It looks like Jane is coming apart at the seams. I think she should seek psychological help.

Woman : Oh, I wouldn't say that. She seems to be coping with her problems reasonably well.

Narrator : What does the woman imply?



(Dalam lembar soal)

(A) Jane is not losing emotional control.

(B) Jane is more intelligent than she seems.

(C) Jane made an excellent copy of the parts.

(D) Jane wouldn't say that.



Jawaban: A





LISTENING PART A. REFERENCE QUESTIONS.



Contoh. 5



Man : What does Susan think about her new job? I've heard it through the grapevine that she's dissatisfied.

Woman : It's not exactly that. She simply feels that she's not cut out for it.

Narrator : What does the woman say about Susan?



(Dalam lembar soal)

(A) She is cutting classes.

(B) She works on grape vines.

(C) She feels she isn't suited for her new job.

(D) Susan's new job is too simple.



Jawaban: C



Contoh. 6



Woman : I'd like to buy a new car, but this model of Toyota is too expensive.

Man : More so than I thought.

Narrator : What does the man say about the car?



(Dalam lembar soal)

(A) He thinks it is extremely nice.

(B) He thought the car was less expensive.

(C) He would like to take it for a test ride.

(D) He would prefer more choices.



Jawaban: B





LISTENING PART A. ACTION QUESTIONS.



Contoh. 7



Man : John's grades in math are incredibly low. Maybe he needs a tutor to get through the class.

Woman : That could be true, but we should talk to him first.

Narrator : What are these people probably going to do next?



(Dalam lembar soal)

(A) Study math with John.

(B) Take John to a doctor.

(C) Discuss the problem with John.

(D) Find John a study group.



Contoh. 8



Woman : What a birthday party! All of the food is great--but this strawberry cheesecake is especially good. Why don't you try some?

Man : If I weren't on a diet I would. Strawberry cheesecake is my favorite.

Narrator : What is the man probably going to do?



(Dalam lembar soal)

(A) Pass up the food.

(B) Try a bite of the cake.

(C) Buy a strawberry cheesecake.

(D) Get the recipe for the cake.



Jawaban: 7 C, 8 A





LISTENING PART A. SUGGESTION QUESTIONS.



Contoh. 9



Man : It's really hot today. The temperature must be over a hundred. The forecast is for rain in the afternoon.

Woman : How about putting off the picnic until tomorrow?

Narrator : What does the woman suggest that they do?



(Dalam lembar soal)

(A) Take a walk in the rain.

(B) Delay their outing.

(C) Go on a picnic.

(D) Find out the weather forecast.



Contoh. 10



Woman : I just can't stand my job anymore. My boss is not supportive at all.

Man : If I were you I wouldn't take it anymore. I'd let her know how you feel.

Narrator : What does the man suggest the woman do?



(Dalam lembar soal)

(A) Take more rest breaks while at work..

(B) Quit her job and find a new one.

(C) Request an immediate leave of absence from her boss.

(D) Confront her supervisor.



Jawaban: 9 B, 10 D





LISTENING PART A. ASSUMPTION QUESTIONS.



Contoh. 11



Woman : The truck is gone and I don't see Fred anywhere.

Man : He must have decided to go to work after all.

Narrator : What had the man assumed about Fred?



(Dalam lembar soal)

(A) Fred had stolen a truck.

(B) Fred wasn't going to work.

(C) Fred couldn't make a decision..

(D) Fred's truck was broken down..

.

Contoh. 12



Man : Michael passed the GRE test easily.

Woman : You're surprised?

Narrator : What had the woman assumed about Michael?



(Dalam lembar soal)

(A) Michael would do well on the test.

(B) Michael never talked about his past.

(C) Michael surprised his professor.

(D) Michael was in love with her.



Jawaban: 11 B, 12 A





LISTENING PART A. INFERENTIAL QUESTIONS.



Contoh. 13

Man : When it comes to fixing faucets, I hear you're the best in town..

Woman : That, and replacing pipes.

Narrator : What can be inferred about the woman?



(Dalam lembar soal)

(A) She's a heavy smoker.

(B) She plays the organ.

(C) She owns four sets of pipes.

(D) She is a plumber.



Contoh. 14



Woman: You had three rebounds and four blocked shots on the court tonight.

Man: Don't forget my twelve assists and twenty points.

Narrator: What can be inferred about the man?



(A) He needs assistance to solve his problem.

(B) He was shot four times during the robbery.

(C) He played in a basketball game.

(D) His case was blocked in court.



Jawaban: 13 D, 14 C





LISTENING PART A. SUBJECT QUESTIONS.



Contoh. 15



Man : It sounds like it is going to be extremely tough. I've heard that at the end of the quarter most of the questions are essay.

Woman : I hope not. I really prefer matching or multiple choice.

Narrator : What are these people talking about?



(A) A final exam they are going to take.

(B) A multiplication problem that they cannot find the solution to.

(C) A journey they are about to take.

(D) Something they forgot to say to their friend.



Contoh. 16



Woman : She said to cut down on my fat intake and to get more exercise. The checkup didn't last long.

Man : Did you talk to her about the problem with your ear?

Narrator : What are these speakers discussing?



(A) A sporting event.

(B) A doctor's appointment.

(C) A grammar exercise.

(D) Taking overweight people to the gym.



Jawaban: 15 A, 16 B





LISTENING PART A. PROBLEM QUESTIONS.



Contoh. 17



Woman : Put your foot on the clutch and gently depress it.

Man : But every time I do it, it jumps.

Narrator : What is the man's problem?



(A) His bicycle is broken.

(B) He doesn't perform well in the clutch.

(C) He doesn't know how to drive.

(D) He is extremely depressed and nervous.



Contoh. 18



Man : Here, take this towel. You're dripping all over the floor.

Woman : I got caught in a downpour.

Narrator : What is the woman's problem?



(A) She spilled her coffee as she was pouring it.

(B) She was arrested by the police.

(C) She tripped on the floor.

(D) She is soaked.



Jawaban: 17 C, 18 D





LISTENING COMPREHENSION: PART B: LONG ACADEMIC DISCUSSION AND

ACADEMIC MINI-TALKS



Contoh. 1

Woman : I notice that you have been using the computer for some time now. If I can help you just let me know.

Man : as a matter of fact you can. I have to write a research paper on "marriage patterns in California." the problem is that there are too many books about marriage listed in the computer.

Woman : That's true, but have you tried to narrow your search? Instead of typing in "marriage�, try to limit your search to "marriage in California."

Man : I've already tried that, but I'm still getting over 250 books.

Woman : I suggest that you further narrow your topic by year---say for the last 5 years.

Man : just a minute....let me try that....yes, that's much better; it's only showing 17 titles now.

Woman : let me suggest 2 other ideas as well. You might try checking in the "reader's guide to periodical literature"--you can usually find great magazine articles about your subject there. And the newspaper indexes will give you articles from selected newspapers such as the Los Angeles times and the San Francisco chronicle.

Man : where can I find the readers guide and the newspaper indexes?

Woman : right here in the reference room.

Man : could you give me more help if i need it?

Woman : no problem, I�ll be at the reference desk for the next hour.

Man : thanks a lot.



1. Who are the speakers in this conversation?

(a) teacher-teacher

(b) customer-clerk

(c) student-librarian

(d) patient-doctor



2. What is the man's initial problem?

(a) There are too many texts listed on the computer.

(b) The computer does not have enough information.

(c) His research topic is too narrow.

(d) He does not have enough time to write his paper.



3. In what two ways does the woman suggest limiting his search?

(a) by author and by title

(b) by state and by year

(c) by subject and by reason

(d) by library and by number



4. What kind of information does "the readers guide" contain?

(a) books

(b) newspaper articles

(c) library information

(d) magazine articles



Jawaban: 1 C, 2 A, 3 B, 4 D



Setelah academic discussion, Anda biasanya akan mendengarkan 4 atau 5 minitalks. Setiap talk diikuti oleh 4 atau 5 Pertanyaan. Anda harus memfokuskan pada main idea, important facts, dan apa yang disarankan atau diimplikasikan oleh pembicara.



Contoh.

Woman: Hello class and welcome to this first meeting of history 154: the American civil war. In this class we are going to review the period from 1845 to 1870--so that we will be covering the 20 years before the war--as well as the 5 years after the war. We are doing this so that we can learn about some of the causes of the civil war and some of its effects. Our main focus, of course, will be on the period from 1860-1865--when the battles of the war were fought. Some of the great battles we will focus on will be Bull Run, Shiloh, Antietam, and Gettysburg. Naturally we will do a lot of reading about Abraham Lincoln who was president during the war years. in terms of class requirements: there are 2 exams--a midterm and a final which count for 25% each of your total grade. You are also required to turn in a research paper about the period. it must be no shorter than 15 typed pages. it will count for 40% of your grade. The remaining 10% of your grade will come from class participation. i expect you to come to each class meeting--and to participate. Well do you have any questions so far?



1. What is the main subject of this talk?

(a) A description of the civil war

(b) An introduction to a class

(c) An account of life in the United States

(d) A news report about university life



2. What period of years will the course cover?

(a) 1825-1860

(b) 1840-1865

(c) 1860-1865

(d) 1845-1870



3. Which one of the following battles was not mentioned by the speaker?

(a) Antietam

(b) Shiloh

(c) Cold harbor

(d) Gettysburg



4. What value will the research paper receive in the total grade?

(a) 15%

(b) 25%

(c) 40%

(d) 50%



Jawaban: 1 B, 2 D, 3 C, 4 C

Jumat, 12 September 2008


Nama lengkap Syeikh Abu Hasan As-Syazili ialah as-Syadzili Ali bin Abdillah bin Abdul-Jabbar, yang kalau diteruskan nasabnya akan sampai pada Hasan bin Ali bin Abu Talib dan puteranya Fatimah al-Zahra', puteri Nabi s.a.w..

Syeikh Abu Hasan dilahirkan di Maroko tahun 593 H di desa yang bernama Ghimaroh di dekat kota Sabtah (dekat kota Thonjah sekarang).

Imam Syadzili dan kelimuan

Di kota kelahirannya itu Syadzili pertama kali menghafal Alquran dan menerima pelajaran ilmi-ilmu agama, termasuk mempelajari fikih madzhab Imam Malik. Beliau berhasil memperoleh ilmu yang bersumber pada Alquran dan Sunnah demikian juga ilmu yang bersumber dari akal yang jernih. Berkat ilmu yang dimilikinya, banyak para ulama yang berguru kepadanya. Sebagian mereka ada yang ingin menguji kepandaian Syekh Abu al-Hasan. Setelah diadakan dialog ilmiah akhirnya mereka mengakui bahwa beliau mempunyai ilmu yang luas, sehingga untuk menguras ilmunya seakan-akan merupakan hal yang cukup susah. Memang sebelum beliau menjalani ilmu thariqah, ia telah membekali dirinya dengan ilmu syariat yang memadahi.

Imam Syadzili dan Tariqah

Hijrah atau berkelana bisa jadi merupakan sarana paling efektif untuk menemukan jati diri. Tak terkecuali Imam Syadzili. Orang yang lebih dikenal sebagai sufi agung pendiri thariqah Syadziliyah ini juga menapaki masa hijrah dan berkelana.

Asal muasal beliau ingin mencari jalan thariqah adalah ketika masuk negara Tunis sufi besar ini ingin bertemu dengan para syekh yang ada di negeri itu. Di antara Syekh-syekh yang bisa membuat hatinya mantap dan berkenan adalah Syekh Abi Said al-Baji. Keistimewaan syekh ini adalah sebelum Abu al-Hasan berbicara mengutarakannya, dia telah mengetahui isi hatinya. Akhirnya Abu al-Hasan mantap bahwa dia adalah seorang wali. Selanjutnya dia berguru dan menimba ilmu darinya. Dari situ, mulailah Syekh Abu al-Hasan menekuni ilmu thariqah.

Beliau pernah berguru pada Syeikh Ibnu Basyisy dan kemudian mendirikan tarekat yang dikenal dengan Tariqat Syaziliyyah di Mesir.

Untuk menekuni tekad ini, beliau bertandang ke berbagai negara, baik negara kawasan timur maupun negara kawasan barat. Setiap derap langkahnya, hatinya selalu bertanya, "Di tempat mana aku bisa menjumpai seorang syekh (mursyid)?". Memang benar, seorang murid dalam langkahnya untuk sampai dekat kepada Allah itu bagaikan kapal yang mengarungi lautan luas. Apakah kapal tersebut bisa berjalan dengan baik tanpa seorang nahkoda (mursyid). Dan inilah yang dialami oleh syekh Abu al-Hasan.
Dalam pengembaraannya Imam Syadzili akhirnya sampai di Iraq, yaitu kawasan orang-orang sufi dan orang-orang shalih. Di Iraq beliau bertemu dengan Syekh Shalih Abi al-Fath al-Wasithi, yaitu syekh yang paling berkesan dalam hatinya dibandingkan dengan syekh di Iraq lainnya. Syekh Abu al-Fath berkata kepada Syekh Abu al-Hasan, "Hai Abu al-Hasan engkau ini mencari Wali Qutb di sini, padahal dia berada di negaramu? kembalilah, maka kamu akan menemukannya".

Akhirnya, beliau kembali lagi ke Maroko, dan bertemu dengan Syekh al-Shiddiq al-Qutb al-Ghauts Abi Muhammad Abdussalam bin Masyisy al-Syarif al-Hasani. Syekh tersebut tinggal di puncak gunung.


Sebelum menemuinya, beliau membersihkan badan (mandi) di bawah gunung dan beliau datang laksana orang hina dina dan penuh dosa. Sebelum beliau naik gunung ternyata Syekh Abdussalam telah turun menemuinya dan berkata, "Selamat datang wahai Ali bin Abdullah bin Abdul Jabbar��". Begitu sambutan syekh tersebut sembari menuturkan nasabnya sampai Rasulullah SAW. Kemudia dia berkata, "Kamu datang kepadaku laksana orang yang hina dina dan merasa tidak mempunyai amal baik, maka bersamaku kamu akan memperoleh kekayaan dunia dan akhirat�.


Akhirnya beliau tinggal bersamanya untuk beberapa hari, sampai hatinya mendapatkan pancaran ilahi. Selama bersama Syekh Abdussalam, beliau melihat beberapa keramat yang dimilikinya. Pertemuan antara Syekh Abdussalam dan Syekh Abu al-Hasan benar-benar merupakan pertemuan antara mursyid dan murid, atau antara muwarrits dan waarits. Banyak sekali futuhat ilahiyyah yang diperoleh Syekh Abu al-Hasan dari guru agung ini.


Di antara wasiat Syekh Abdussalam kepada Syadzili adalah, "Pertajam penglihatan keimanan, maka kamu akan menemukan Allah pada setiap sesuatu".


Tentang nama Syadzili


Kalau dirunut nasab maupun tempat kelahiran syekh agung ini, tidak didapati sebuah nama yang memungkinkan ia dinamakan Syadzili. Dan memang, nama tersebut adalah nama yang dia peroleh dalam perjalanan ruhaniah.

Dalam hal ini Abul Hasan sendiri bercerita : "Ketika saya duduk di hadapan Syekh, di dalam ruang kecil, di sampingku ada anak kecil. Di dalam hatiku terbersit ingin tanya kepada Syekh tentang nama Allah. Akan tetapi, anak kecil tadi mendatangiku dan tangannya memegang kerah bajuku, lalu berkata, "Wahai, Abu al�Hasan, kamu ingin bertanya kepada Syekh tentang nama Allah, padahal sesungguhnya kamu adalah nama yang kamu cari, maksudnya nama Allah telah berada dalam hatimu. Akhirnya Syekh tersenyum dan berkata, "Dia telah menjawab pertanyaanmu".

Selanjutnya Syekh Abdussalam memerintahkan Abu al-Hasan untuk pergi ke daerah Afriqiyyah tepatnya di daerah bernama Syadzilah, karena Allah akan menyebutnya dengan nama Syadzili �padahal pada waktu itu Abu al-Hasan belum di kenal dengan nama tersebut-.

Sebelum berangkat Abu al-Hasan meminta wasiat kepada Syekh, kemudian dia berkata, "Ingatlah Allah, bersihkan lidah dan hatimu dari segala yang mengotori nama Allah, jagalah anggota badanmu dari maksiat, kerjakanlah amal wajib, maka kamu akan memperoleh derajat kewalian. Ingatlah akan kewajibanmu terhadap Allah, maka kamu akan memperoleh derajat orang yang wara'. Kemudian berdoalah kepada Allah dengan doa, "Allahumma arihnii min dzikrihim wa minal 'awaaridhi min qibalihim wanajjinii min syarrihim wa aghninii bi khairika 'an khairihim wa tawallanii bil khushuushiyyati min bainihim innaka 'alaa kulli syai'in qadiir".


Selanjutnya sesuai petunjuk tersebut, Syekh Abu al-Hasan berangkat ke daerah tersebut untuk mengetahui rahasia yang telah dikatakan kepadanya. Dalam perjalanan ruhaniah kali ini dia banyak mendapat cobaan sebagaimana cobaan yang telah dialami oleh para wali-wali pilihan. Akan tetapi dengan cobaan tersebut justru semakin menambah tingkat keimanannya dan hatinya semakin jernih.

Sesampainya di Syadzilah, yaitu daerah dekat Tunis, dia bersama kawan-kawan dan muridnya menuju gua yang berada di Gunung Za'faran untuk munajat dan beribadah kepada Allah SWT. Selama beribadah di tempat tersebut salah satu muridnya mengetahui bahwa Syekh Abu al-Hasan banyak memiliki keramat dan tingkat ibadahnya sudah mencapai tingkatan yang tinggi.

Pada akhir munajat-nya ada bisikan suara , "Wahai Abu al-Hasan turunlah dan bergaul-lah bersama orang-orang, maka mereka akan dapat mengambil manfaat darimu, kemudian beliau berkata: "Ya Allah, mengapa Engkau perintahkan aku untuk bergaul bersama mereka, saya tidak mampu" kemudian dijawab: "Sudahlah, turun Insya Allah kamu akan selamat dan kamu tidak akan mendapat celaan dari mereka" kemudian beliau berkata lagi: "Kalau aku bersama mereka, apakah aku nanti makan dari dirham mereka? Suara itu kembali menjawab : "Bekerjalah, Aku Maha Kaya, kamu akan memperoleh rizik dari usahamu juga dari rizki yang Aku berikan secara gaib.


Dalam dialog ilahiyah ini, dia bertanya kepada Allah, kenapa dia dinamakan syadzili padahal dia bukan berasal dari syadzilah, kemudian Allah menjawab: "Aku tidak mnyebutmu dengan syadzili akan tetapi kamu adalah syadzdzuli, artinya orang yang mengasingkan untuk ber-khidmat dan mencintaiku�.

Imam Syadzili menyebarkan Tariqah Syadziliyah

Dialog ilahiyah yang sarat makna dan misi ini membuatnya semakin mantap menapaki dunia tasawuf. Tugas selanjutnya adalah bergaul bersama masyarakat, berbaur dengan kehidupan mereka, membimbing dan menyebarkan ajaran-ajaran Islam dan ketenangan hidup. Dan Tunis adalah tempat yang dituju wali agung ini.
Di Tunis Abul Hasan tinggal di Masjid al-Bilath. Di sekitar tempat tersebut banyak para ulama dan para sufi. Di antara mereka adalah karibnya yang bernama al-Jalil Sayyidi Abu al-Azaim, Syekh Abu al-Hasan al-Shaqli dan Abu Abdillah al-Shabuni.
Popularitas Syekh Abu al-Hasan semerbak harum di mana-mana. Aromanya sampai terdengar di telinga Qadhi al-Jama'ah Abu al-Qasim bin Barra'. Namun aroma ini perlahan membuatnya sesak dan gerah. Rasa iri dan hasud muncul di dalam hatinya. Dia berusaha memadamkan popularitas sufi agung ini. Dia melaporkan kepada Sultan Abi Zakaria, dengan tuduhan bahwa dia berasal dari golongan Fathimi.
Sultan meresponnya dengan mengadakan pertemuan dan menghadirkan Syekh Abu al-Hasan dan Qadhi Abul Qosim. Hadir di situ juga para pakar fiqh. Pertemuan tersebut untuk menguji seberapa kemampuan Syekh Abu al-Hasan.
Banyak pertanyaan yang dilontarkan demi menjatuhkan dan mempermalukan Abul Hasan di depan umum. Namun, sebagaimana kata-kata mutiara Imam Syafi'I, dalam ujian, orang akan terhina atau bertambah mulia. Dan nyatanya bukan kehinaan yang menimpa wali besar. Kemuliaan, keharuman nama justru semakin semerbak memenuhi berbagai lapisan masyarakat.
Qadhi Abul Qosim menjadi tersentak dan tertunduk malu. Bukan hanya karena jawaban-jawaban as-Syadzili yang tepat dan bisa menepis semua tuduhan, tapi pengakuan Sultan bahwa Syekh Abu al-Hasan adalah termasuk pemuka para wali. Rasa iri dan dengki si Qadhi terhadap Syekh Abu al-Hasan semakin bertambah, kemudian dia berusaha membujuk Sultan dan berkata: "Jika tuan membiarkan dia, maka penduduk Tunis akan menurunkanmu dari singgasana".
Ada pengakuan kebenaran dalam hati, ada juga kekhawatiran akan lengser dari singgasana. Sultan demi mementingkan urusan pribadi, menyuruh para ulama' fikih untuk keluar dari balairung dan menahan Syekh Abu al-Hasan untuk dipenjara dalam istana.
Kabar penahanan Syekh Abul Hasan mendorong salah seorang sahabatnya untuk menjenguknya. Dengan penuh rasa prihatin si karib berkata, "Orang-orang membicarakanmu bahwa kamu telah melakukan ini dan itu". Sahabat tadi menangis di depan Syekh Abu al-Hasan lalu dengan percaya diri dan kemantapan yang tinggi, Syekh tersenyum manis dan berkata, "Demi Allah, andaikata aku tidak menggunakan adab syara' maka aku akan keluar dari sini �seraya mengisyaratkan dengan jarinya-. Setiap jarinya mengisyaratkan ke dinding maka dinding tersebut langsung terbelah, kemudian Syekh berkata kepadaku: "Ambilkan aku satu teko air, sajadah dan sampaikan salamku kepada kawan-kawan. Katakan kepada mereka bahwa hanya sehari saja kita tidak bertemu dan ketika shalat maghrib nanti kita akan bertemu lagi".


Syeikh as-Syadzili tiba di Mesir


Tunis, kendatipun bisa dikatakan cikal bakal as-Syadzili menancapkan thariqah Syadziliyah namun itu bukan persinggahan terakhirnya. Dari Tunis, Syekh Abu al-Hasan menuju negara kawasan timur yaitu Iskandariah. Di sana dia bertemu dengan Syekh Abi al-Abbas al-Mursi. Pertemuan dua Syekh tadi memang benar-benar mencerminkan antara seorang mursyid dan murid.
Adapun sebab mengapa Syekh pindah ke Mesir, beliau sendiri mengatakan, "Aku bermimpi bertemu baginda Nabi, beliau bersabda padaku : "Hai Ali� pergilah ke Mesir untuk mendidik 40 orang yang benar-benar takut kepadaku�.
Di Iskandariah beliau menikah lalu dikarunia lima anak, tiga laki-laki, dan dua perempuan. Semasa di Mesir beliau sangat membawa banyak berkah. Di sana banyak ulama yang mengambil ilmu dari Syekh agung ini. Di antara mereka adalah hakim tenar Izzuddin bin Abdus-Salam, Ibnu Daqiq al-Iid , Al-hafidz al-Mundziri, Ibnu al-Hajib, Ibnu Sholah, Ibnu Usfur, dan yang lain-lain di Madrasah al-Kamiliyyah yang terletak di jalan Al-muiz li Dinillah.

Karamah Imam Syadzili

Pada suatu ketika, Sultan Abi Zakaria dikejutkan dengan berita bahwa budak perempuan yang paling disenangi dan paling dibanggakan terserang penyakit langsung meninggal. Ketika mereka sedang sibuk memandikan budak itu untuk kemudian dishalati, mereka lupa bara api yang masih menyala di dalam gedung. Tanpa ampun bara api tadi melalap pakaian, perhiasan, harta kekayaan, karpet dan kekayaan lainnya yang tidak bisa terhitung nilainya.
Sembari merenung dan mengevaluasi kesalahan masa lalu, Sultan yang pernah menahan Syekh Syadzili karena hasudan qadhi Abul Qosim tersadar bahwa kejadian-kejadian ini karena sikap dia terhadap Syekh Abu al-Hasan. Dan demi melepaskan 'kutukan' ini saudara Sultan yang termasuk pengikut Syekh Abu al-Hasan meminta maaf kepada Syekh, atas perlakuan Sultan kepadanya. Cerita yang sama juga dialami Ibnu al-Barra. Ketika mati ia juga banyak mengalami cobaan baik harta maupun agamanya.
Di antara karomahnya adalah, Abul Hasan berkata, "Ketika dalam suatu perjalanan aku berkata, "Wahai Tuhanku, kapankah aku bisa menjadi hamba yang banyak bersyukur kepada-Mu?, kemudian beliau mendengar suara , "Yaitu apabila kamu berpendapat tidak ada orang yang diberi nikmat oleh Allah kecuali hanya dirimu. Karena belum tahu maksud ungkapan itu aku bertanya, "Wahai Tuhanku, bagaimana saya bisa berpendapat seperti itu, padahal Engkau telah memberikan nikmat-Mu kepada para Nabi, ulama' dan para penguasa.
Suara itu berkata kepadaku, "Andaikata tidak ada para Nabi, maka kamu tidak akan mendapat petunjuk, andaikata tidak ada para ulama', maka kamu tidak akan menjadi orang yang taat dan andaikata tidak ada para penguasa, maka kamu tidak akan memperoleh keamanan. Ketahuilah, semua itu nikmat yang Aku berikan untukmu".
Di antara karomah sudi agung ini adalah, ketika sebagian para pakar fiqh menentang Hizib Bahr, Syekh Syadzili berkata, "Demi Allah, saya mengambil hizib tersebut langsung dari Rasulullah saw harfan bi harfin (setiap huruf)".
Di antara karomah Syekh Syadzili adalah, pada suatu ketika dalam satu majlis beliau menerangkan bab zuhud. Beliau waktu itu memakai pakaian yang bagus. Ketika itu ada seorang miskin ikut dalam majlis tersebut dengan memakai pakaian yang jelek. Dalam hati si miskin berkata, "Bagaimana seorang Syekh menerangkan bab zuhud sedangkan dia memakai pakaian seperti ini?, sebenarnya sayalah orang yang zuhud di dunia".
Tiba-tiba Syekh berpaling ke arah si miskin dan berkata, "Pakaian kamu ini adalah pakaian untuk menarik simpatik orang lain. Dengan pakaianmu itu orang akan memanggilmu dengan panggilan orang miskin dan menaruh iba padamu. Sebaliknya pakaianku ini akan disebut orang lain dengan pakaian orang kaya dan terjaga dari meminta-minta".
Sadar akan kekhilafannya, si miskin tadi beranjak berlari menuju Syekh Syadzili seraya berkata, "Demi Allah, saya mengatakan tadi hanya dalam hatiku saja dan saya bertaubat kepada Allah, ampuni saya Syekh". Rupanya hati Syekh terharu dan memberikan pakaian yang bagus kepada si miskin itu dan menunjukkannya ke seorang guru yang bernama Ibnu ad Dahan. Kemudian syekh berkata, "Semoga Allah memberikan kasih sayang-Nya kepadamu melalui hati orang-orang pilihan. Dan semoga hidupmu berkah dan mendapatkan khusnul khatimah".

Syeikh Syadzili Wafat

Syekh Abu al-Abbas al-Mursy, murid kesayangan dan penerus thariqah Syadziliyah mengatakan bahwa gurunya setiap tahun menunaikan ibdah haji, kemudian tinggal di kota suci mulai bulan Rajab sampai masa haji habis. Seusai ibadah haji beliau pergi berziarah ke makam Nabi SAW di Madinah. Pada musim haji yang terakhir yaitu tahun 656H, sepulang dari haji beliau memerintahkan muridnya untuk membawa kapak minyak wangi dan perangkat merawat jenazah lainnnya. Ketika muridnya bertanya untuk apa kesemuanya ini, beliau menjawab, "Di Jurang Humaistara (di propinsi Bahr al-Ahmar) akan terjadi kejadian yang pasti. maka di sanalah beliau meninggal.




Kota Fas rupanya beruntung sekali karena pernah melahirkan sang manusia langit yang namanya semerbak di dunia sufi pada tahun 596 H. Sang sufi yang mempunyai nama lengkap Ahmad bin Ali Ibrahim bin Muhammad bin Abi Bakr al-Badawi ini ternyata termasuk zurriyyah baginda Nabi, karena nasabnya sampai pada Ali Zainal Abidin bin Husain bin Ali bin Abi Talib, suami sayyidah Fatimah binti sayyidina Nabi Muhammad SAW.
Keluarga Badawi sendiri bukan penduduk asli Fas (sekarang termasuk kota di Maroko). Mereka berasal dari Bani Bara, suatu kabilah Arab di Syam sampai akhirnya tinggal di Negara Arab paling barat ini. Di sinilah Badawi kecil menghafal al-Qur'an mengkaji ilmu-ilmu agama khususnya fikih madzhab syafi'i. Pada tahun 609 H ayahnya membawanya pergi ke tanah Haram bersama saudara-saudaranya untuk melaksanakan ibadah haji. Mereka tinggal di Makkah selama beberapa tahun sampai ajal menjemput sang ayah pada tahun 627 H dan dimakamkan di Ma'la.

Badawi masuk Mesir
Sang sufi yang selalu mengenakan tutup muka ini suatu ketika ber-khalwat selama empat puluh hari tidak makan dan minum. Waktunya dihabiskan untuk meihat langit. Kedua matanya bersinar bagai bara. Sekonyong-konyong ia mendengar suara tanpa rupa. "Berdirilah !" begitu suara itu terus menggema, Carilah tempat terbitnya matahari. Dan ketika kamu sudah menemukannya, carilah tempat terbenamnya matahari. Kemudian...beranjaklah ke Thantha, suatu kota yang ada di propinsi Gharbiyyah, Mesir. Di sanalah tempatmu wahai pemuda".
Suara tanpa rupa itu seakan membimbingnya ke Iraq. Di sana ia bertemu dengan dua orang yang terkenal yaitu Syekh Abdul Kadir al-Jailani dan ar-Rifa'i. "Wahai Ahmad " begitu kedua orang itu berkata kepada Ahmad al-Badawi seperti mengeluarkan titah. " Kunci-kunci rahasia wilayah Iraq, Hindia, Yaman, as-Syarq dan al-Gharb ada di genggaman kita. Pilihlah mana yang kamu suka ". Tanpa disangka-sangka al-Badawi menjawab, "Saya tidak akan mengambil kunci tersebut kecuali dari Dzat Yang Maha Membuka.
Perjalanan selanjutnya adalah Mesir negeri para nabi dan ahli bait. Badawi masuk Mesir pada tahun 34 H. Di sana ia bertemu dengan al-Zahir Bibers dengan tentaranya. Mereka menyanjung dan memuliakan sang wali ini. Namun takdir menyuratkan lain, ia harus melanjutkan perjalanan menuju tempat yang dimaksud oleh bisikan gaib, Thantha, satu kota yang banyak melahirkan tokoh-tokoh dunia. Di sana ia menjumpai para wali, seperti Syaikh Hasan al-Ikhna`I, Syaikh Salim al- Maghribi dan Syaikh Salim al-Badawi. Di sinilah ia menancapkan dakwahnya, menyeru pada agama Allah, takut dan senantiasa berharap hanya kepada-Nya.
Badawi yang alim
Dalam perjalanan hidupnya sebagai anak manusia ia pernah dikenal sebagai orang yang pemarah, karena begitu banyaknya orang yang menyakit. Tapi rupanya keberuntungan dan kebijakan berpihak pada anak cucu Nabi ini. Marah bukanlah suatu penyelesaian terhadap masalah bahkan menimbulkan masalah baru yang bukan hanya membawa madarat pada orang lain, tapi diri sendiri. Diam, menyendiri, merenung, itulah sikap yang dipilih selanjutnya. Dengan diam orang lebih bisa banyak mendengar. Dengan menyendiri orang semakin tahu betapa rendah, hina dan perlunya diri ini akan gapaian tangan-tangan Yang Maha Asih. Dengan merenung orang akan banyak memperoleh nilai-nilai kebenaran. Dan melalui sikap yang mulia ini ia tenggelam dalam zikir dan belaian Allah SWT.
Laksana laut, diam tenang tapi dalam dan penuh bongkahan mutiara, itulah al-badawi. Matbuli dalam hal ini memberi kesaksian, "Rasulullah SAW bersabda kepadaku, " Setelah Muhammad bin Idris as-Syafiiy tidak ada wali di Mesir yang fatwanya lebih berpengaruh daripada Ahmad Badawi, Nafisah, Syarafuddin al-Kurdi kemudian al-Manufi.
Suatu ketika Ibnu Daqiq al-'Id mengutus Abdul Aziz al- Darini untuk menguji Ahmad Badawi dalam berbagai permasalahan. Dengan tenang dia menjawab, "Jawaban pertanyaan-pertanyaan itu terdapat dalam kitab "Syajaratul Ma'arif" karya Syaikh Izzuddin bin Abdus Salam.
Karomah Ahmad Badawi
Kendati karomah bukanlah satu-satunya ukuran tingkat kewalian seseorang, tidak ada salahnya disebutkan beberapa karomah Syaikh Badawi sebagai petunjuk betapa agungnya wali yang satu ini.
Al-kisah ada seorang Syaikh yang hendak bepergian. Sebelum bepergian dia meminta pendapat pada Syaikh al-Badawi yang sudah berbaring tenang di alam barzakh. "Pergilah, dan tawakkallah kepada Allah SWT"tiba-tiba terdengar suara dari dalam makam Syekh Badawi. Syaikh Sya'roni berkomentar, "Saya mendengar perkataan tadi dengan telinga saya sendiri ".
Tersebut Syaikh Badawi suatu hari berkata kepada seorang laki-laki yang memohon petunjuk dalam berdagang. "Simpanlah gandum untuk tahun ini. Karena harga gandum nanti akan melambung tinggi, tapi ingat, kamu harus banyak bersedekah pada fakir miskin". Demikian nasehat Syekh Badawi yang benar-benar dilaksanakan oleh laki-laki itu. Setahun kemudian dengan izin Allah kejadiannya terbukti benar.
Syekh Badawi wafat
Pada tahun 675 H sejarah mencatat kehilangan tokoh besar yang barangkali tidak tergantikan dalam puluhan tahun berikutnya. Syekh Badawi, pecinta ilahi yang belum pernah menikah ini beralih alam menuju tempat yang dekat dan penuh limpahan rahmat-Nya. Setelah dia meninggal, tugas dakwah diganti oleh Syaikh Abdul 'Al sampai dia meninggal pada tahun 773 H.
Beberapa waktu setelah kepergian wali pujaan ini, umat seperti tidak tahan, rindu akan kehadiran, petuah-petuahnya. Maka diadakanlah perayaan hari lahir Syaikh Badawi. Orang-orang datang mengalir bagaikan bah dari berbagai tempat yang jauh. Kerinduan, kecintaan, pengabdian mereka tumpahkan pada hari itu pada sufi agung ini. Hal inilah kiranya yang menyebabkan sebagian ulama dan pejabat waktu itu ada yang berkeinginan untuk meniadakan acara maulid. Tercatat satu tahun berikutnya perayaan maulid syekh Badawi ditiadakan demi menghindari penyalahgunaan dan penyimpangan akidah. Namun itu tidak berlangsung lama, hanya satu tahun. Dan tahun berikutnya perayaan pun digelar kembali sampai sekarang



Tarekat Sanusiyah bukan semata-mata tarekat biasa, melainkan ia adalah sebuah gerakan. Gerakan tajdid dan islam. Pengasasnya adalah Syeikh Muhammad Ali as-Sanusi.

Syeikh Muhammad bin Ali as-Sanusi telah dilahirkan pada hari Isnin 12 Rabiulawal 1202H/22 Disember 1787M di sebuah tempat yang bernama al-Wasitah, di Mustaghanim, Algeria.

Syeikh Muhammad Ali as-Sanusi adalah seorang ulama yang ikhlas dan suka merendahkan dirinya. Oleh itu, beliau telah mencapai kemajuan yang pesat di atas jalan kerohanian.

Tarekatnya bebas dari syirik dan khurafat. Beliau menyeru kepada ijtihad dan memerangi taqlid. Syeikh as-Sanusi yang bermazhab Maliki, akan menyalahi pendapat mazhabnya jika ada mazhab lain yang lebih mendekati kepada kebenaran.

Antara bintang dari tarekat ini adalah Umar Mukhtar sang Singa Padang Pasir yang terkenal itu.

Berikut ini adalah ringkasan dari Tarekat As-Sanusiyah:

- Sanusiyah merupakan gerakan dakwah Islam, islah dan tajdid.
- Secara umumnya mereka berpegang dengan al-Quran dan al-Sunnah dengan pengaruh tasauf.
- Ia muncul di Libya pada kurun ke-13 H.
- Tersebar luas hingga ke Selatan Afrika, Sudan, Somalia dan sebahagian negara Arab.
- Gerakan ini terpengaruh dengan al-Imam Ahmad bin Hanbal, Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah, Abu Hamid al-Ghazali.
- Gerakan ini juga terpengaruh dengan tasauf yang bersih dari syirik dan khurafat seperti bertawassul dengan orang mati dan orang soleh.
- Pengasas gerakan ini adalah Muhammad bin Ali as-Sanusi yang bermazhab Maliki, namun beliau akan menyalahi mazhab berkenaan jika di sana ada kebenaran bersama mazhab lain.
- Dalam berdakwah kepada Allah, gerakan ini menggunakan cara lembut dan berhikmah.
- Mereka menekankan dalam kerja-kerja tangan dan sentiasa berjihad Fi Sabilillah menentang penjajah, Salibi dan sebagainya.

Kalaulah Tarekat As-Sanusiyah ini masih wujud lagi, kita tidak tahu apakah jalan yang ditempuh masih lagi sebening jalan yang telah dirintis oleh pengasasnya Syeikh as-Sanusi dan Umar Mukhtar? Atau hanya sekadar mengambil sempena namanya sahaja, sedangkan yang lain sama sahaja dengan jalan yang ditempuh oleh tarekat-tarekat lain..? Allah Maha Mengetahui

Sebelum beliau meninggal dunia, beliau pernah berkata, "Hamba-hamba Allah ini telah memberikan kami satu tugas yang amat berat sekali sehingga andaikata ia diletakkan di atas gunung, ia tidak akan sanggup untuk memikulnya." Yang dimaksudkan oleh beliau ialah menjaga amanah Allah.

Syeikh Muhammad Ali as-Sanusi telah meninggal dunia pada bulan Safar tahun 1276H/1859M di al-Jaghbub, Libya.

Junaid Al-Baghdadi (maqamnya gambar di sebelah)adalah seorang ulama sufi dan wali Allah yang paling menonjol namanya di kalangan ahli-ahli sufi. Tahun kelahiran Imam Junaid tidak dapat dipastikan. Tidak banyak dapat ditemui tahun kelahiran beliau pada biografi lainnya. Beliau adalah orang yang terawal menyusun dan memperbahaskan tentang ilmu tasauf dengan ijtihadnya. Banyak kitab-kitab yang menerangkan tentang ilmu tasauf berdasarkan kepada ijtihad Imam Junaid Al-Baghdadi.
Imam Junaid adalah seorang ahli perniagaan yang berjaya. Beliau memiliki sebuah gedung perniagaan di kota Baghdad yang ramai pelanggannya. Sebagai seorang guru sufi, beliau tidaklah disibukkan dengan menguruskan perniagaannya sebagaimana sesetengah peniaga lain yang kaya raya di Baghdad.
Waktu perniagaannya sering disingkatkan seketika kerana lebih mengutamakan pengajian anak-anak muridnya yang dahagakan ilmu pengetahuan. Apa yang mengkagumkan ialah Imam Junaid akan menutup kedainya setelah selesai mengajar murid-muridnya. Kemudian beliau balik ke rumah untuk beribadat seperti solat, membaca al-Quran dan berzikir.


Setiap malam beliau berada di masjid besar Baghdad untuk menyampaikan kuliahnya. Ramai penduduk Baghdad datang masjid untuk mendengar kuliahnya sehingga penuh sesak.


Imam Junaid hidup dalam keadaan zuhud. Beliau redha dan bersyukur kepada Allah SWT dengan segala nikmat yang dikurniakan kepadanya. Beliau tidak pernah berangan-angan untuk mencari kekayaan duniawi dari sumber pekerjaannya sebagai peniaga.


Beliau akan membahagi-bahagikan sebahagian dari keuntungan perniagaannya kepada golongan fakir miskin, peminta dan orang-orang tua yang lemah.
Bertasauf Ikut Sunnah Rasulullah saw


Imam Junaid seorang yang berpegang kuat kepada al-Quran dan as-Sunnah. Beliau sentiasa merujuk kepada al-Quran dan sunnah Rasulullah saw dalam setiap pengajiannya.


Beliau pernah berkata:


"Setiap jalan tertutup, kecuali bagi mereka yang sentiasa mengikuti perjalanan Rasulullah saw. Sesiapa yang tidak menghafal al-Quran, tidak menulis hadis-hadis, tidak boleh dijadikan ikutan dalam bidang tasauf ini."


Memiliki Beberapa Kelebihan dan Karamah
Imam Junaid mempunyai beberapa kelebihan dan karamah. Antaranya ialah berpengaruh kuat setiap kali menyampaikan kuliahnya. Kehadiran murid-muridnya di masjid, bukan saja terdiri daripada orang-orang biasa malah semua golongan meminatinya.


Masjid-masjid sering dipenuhi oleh ahli-ahli falsafah, ahli kalam, ahli fekah, ahli politik dan sebagainya. Namun begitu, beliau tidak pernah angkuh dan bangga diri dengan kelebihan tersebut.


Diuji Dengan Seorang Wanita Cantik


Setiap insan yang ingin mencapai keredhaan Allah selalunya menerima ujian dan cabaran. Imam Junaid menerima ujian daripada beberapa orang musuhnya setelah pengaruhnya meluas. Mereka telah membuat fitnah untuk menjatuhkan imej Imam Junaid.


Musuh-musuhnya telah bekerja keras menghasut khalifah di masa itu agar membenci Imam Junaid. Namun usaha mereka untuk menjatuhkan kemasyhuran Imam Junaid tidak berhasil.


Musuh-musuhnya berusaha berbuat sesuatu yang boleh memalukan Imam Junaid. Pada suatu hari, mereka menyuruh seorang wanita cantik untuk memikat Imam Junaid. Wanita itu pun mendekati Imam Junaid yang sedang tekun beribadat. Ia mengajak Imam Junaid agar melakukan perbuatan terkutuk.


Namun wanita cantik itu hanya dikecewakan oleh Imam Junaid yang sedikitpun tidak mengangkat kepalanya. Imam Junaid meminta pertolongan dari Allah agar terhindar daripada godaan wanita itu. Beliau tidak suka ibadahnya diganggu oleh sesiapa. Beliau melepaskan satu hembusan nafasnya ke wajah wanita itu sambil membaca kalimah Lailahailallah. Dengan takdir Tuhan, wanita cantik itu rebah ke bumi dan mati.


Khalifah yang mendapat tahu kematian wanita itu telah memarahi Imam Junaid kerana menganggapnya sebagai suatu perbuatan jenayah.


Lalu khalifah memanggil Imam Junaid untuk memberikan penjelasan di atas perbuatannya. "Mengapa engkau telah membunuh wanita ini?" tanya khalifah.


"Saya bukan pembunuhnya. Bagaimana pula dengan keadaan tuan yang diamanahkan sebagai pemimpin untuk melindungi kami, tetapi tuan berusaha untuk meruntuhkan amalan yang telah kami lakukan selama 40 tahun," jawab Imam Junaid.


Wafatnya


Akhirnya kekasih Allah itu telah menyahut panggilan Ilahi pada 297 Hijrah. Imam Junaid telah wafat di sisi As-Syibli, seorang daripada muridnya.


Ketika sahabat-sahabatnya hendak mengajar kalimat tauhid, tiba-tiba Imam Junaid membuka matanya dan berkata, "Demi Allah, aku tidak pernah melupakan kalimat itu sejak lidahku pandai berkata-kata."














Karena pemikiran yang dangkal
apa yang tampak kemunafikan pada
diri orang yang tercerahkan (mukasyafah),
sesungguhnya itu lebih baik dibanding
apa yang dirasakan sebagai ketulusan pada
si pemula.
(Hadhrat Bayazid al-Bisthami)

Hampir semua Sufi, pada suatu waktu atau lainnya, merupakan anggota
dari salah satu Tarekat yang oleh para sarjana Barat disebut "Order",
sebagai isyarat dari dugaan kemiripannya dengan ordo-ordo keagamaan
Kristiani pada Abad Pertengahan. Ada beberapa perbedaan penting antara
dua jenis organisasi tersebut.

Tarekat, bagi seorang Sufi, bukanlah suatu pelestarian entitas diri
yang langsung dengan suatu hirarki dan pernyataan yang baku serta
membentuk suatu sistem pelatihan bagi pemeluknya. Sifat Sufisme adalah
evolusioner, untuk itu suatu lembaga Sufi niscaya tidak mungkin
mengambil suatu bentuk permanen sekaku ini. Di tempat-tempat tertentu
dan di bawah guru-guru individual, sekolah-sekolah muncul dan
melaksanakan suatu kegiatan yang dimaksudkan untuk meningkatkan
kebutuhan manusia terhadap penyempurnaan pribadi. Sekolah-sekolah ini
(seperti sekolah Rumi dan Data Ganj Bakhsh, sebagai contoh) menarik
minat banyak orang yang bukan Muslim, meskipun sekolah-sekolah Sufi
sejak kemunculan Islam, selalu dipimpin oleh orang-orang yang berasal
dari tradisi Muslim.

Kemudian, meskipun Tarekat-tarekat Sufi memiliki aturan-aturan khusus
dan serangkaian pakaian dan ritual, hal ini bukan suatu keharusan, dan
sejauh mana Sufi mengikuti bentuk-bentuk ini ditentukan oleh
kebutuhannya terhadap hal-hal itu, sebagaimana yang diperintahkan oleh
gurunya.

Beberapa Tarekat besar mempunyai sejarah yang rinci, tetapi
kecenderungan untuk membagi ke dalam berbagai bentuk spesialisasi pada
waktu-waktu tertentu sama-sama mempunyai karakteristik nominal. Hal
ini karena Tarekat dikembangkan melalui wahana untuk memenuhi suatu
keperluan batin, tidak diarahkan oleh kerangka kerja organisasinya
yang tampak jelas secara lahiriah.

Karena begitu banyak sekolah-sekolah tersebut maka salah seorang Sufi
terbesar, Hujwiri (w. 1063) menulis sebuah kitab1 yang membahas
Sufisme dan Tarekat-tarekat pada abad kesebelas, dengan memberikan
informasi mendalam tentang mereka. Sebagian orang justru menganggap
bahwa ia telah mengarang-ngarang sebagian dari bahan tersebut.

Bahkan perkembangan itu sendiri, berbeda dengan apa yang diduga orang,
merupakan bagian dari kebijaksanaan darwis yang tidak bisa dihindari.
Data ("darwis" dalam Hindu) Ganj Bakhsh (dalam bahasa India berarti
Orang Dermawan) adalah gelar Ali al-Hujwiri yang dikenal di India.

Dilahirkan di Ghazna (Afghanistan), para Sufi menyebutnya sebagai
"Yang Terpilih", orang yang dipilih untuk memaparkan
kenyataan-kenyataan tertentu tentang Sufisme dan organisasi Sufi di
daratan India. Meskipun bukan berarti Sufi pertama ini tinggal di
India (ia dimakamkan di Lahore, Pakistan, dan makamnya diziarahi oleh
orang-orang dari semua kepercayaan), tugasnya adalah untuk menegaskan,
melalui kehidupan dan karya-karyanya, suatu klaim bahwa Sufisme secara
keseluruhan sesuai dengan prinsip-prinsip Islam. Arti pentingnya tidak
mungkin diabaikan sebagaimana penulis Kristiani John Subhan mengatakan:

Makam Ali al-Hujwiri mungkin masih bisa dilihat di Lahore dekat pintu
gerbang Bhati. Ia telah menjadi tujuan ziarah dan penghormatan selama
sembilan ratus tahun. Semua macam dan kedudukan manusia, para raja dan
pengemis, telah mengunjunginya selama berabad-abad, untuk mencari
berkah spiritual dan temporal. Semua penakluk Muslim dan para darwis
yang mengembara, di saat memasuki negeri ini, telah menjadikan
makamnya sebagai titik tujuan penghormatannya.2
Kedudukan Hujwiri di kalangan Sufi mendekati peranan penting sebagai
seorang penafsir Sufisme bagi orang-orang Muslim itu sendiri. Bagi
Sufi, kitab Kasyful Mahjub memuat bahan-bahan yang hanya bisa
dipahaminya, tersimpan dalam bentuk sebuah kitab yang dimaksudkan
untuk dibaca oleh orang-orang Muslim yang saleh untuk memperkenalkan
mereka kepada cara berpikir Sufi melalui terminologi tradisi formal
mereka yang telah dikenal.

Kitab tersebut dikaji dengan seksama oleh anggota-anggota dari semua
Tarekat. Hujwiri sendiri belajar di bawah bimbingan Abu al-Qasim
Jurjani, seorang guru besar dari Tarekat Naqsyabandiyah, dan karya
utamanya adalah kitab Kasyful Mahjub, yang merupakan buku pertama
tentang Sufisme dan Tarekat dalam bahasa Persia.

Kitab tersebut mencatat kehidupan para Sufi terkenal, pada masa kuno
maupun kontemporer, referensi-referensi untuk ajaran, shadagah, doa,
kepercayaan dan mistisisme. Kitab ini ditujukan kepada mereka yang
ingin mendekati Sufisme melalui konteks Islam yang berlaku. Di balik
penyajian yang jelas ini, dengan suatu cara yang hanya bisa dipahami
oleh para Sufi, kitab Kasyful Mahjub mengandung informasi tentang
penggunaan dan makna dari bahasa rahasia yang digunakan para Sufi
untuk berkomunikasi dan menjalankan latihan khusus.

Untuk sementara semua yang diungkap tentang hal ini termuat pada
bagian yang membahas tentang jubah tambalan. Pemakaian jubah tambalan
merupakan adat Sufi, sebagai ciri Sufi yang mempraktikkan Jalan
tersebut. Ia mungkin bisa disebut sebagai seragam darwis pengembara,
dan ini terlihat di hampir semua bagian Asia dan Eropa selama hampir
empat belas abad. Nabi Muhammad (saw.) dan beberapa sahabat
menunjukkan penerimaan mereka terhadap Jalan Sufi dengan mengadopsi
pakaian jubah ini. Banyak guru Sufi menulis tentang cara menjahit
lembaran-lembaran kain tersebut, siapa yang boleh memakainya, siapa
yang boleh menganugerahinya, dan sebagainya. Semua fenomena ini adalah
bagian dari misteri Sufi.

Kajian tentang jubah tambalan yang ditulis Hujwiri, jika dibaca secara
dangkal, mungkin bisa memuaskan seorang teolog yang saleh. Dengan
merenungkan hubungan antara tambalan-tambalan kain dan kemiskinan,
cara menjahit lembaran kain secara benar dan pembenaran lahiriah atas
kezuhudan yang ditunjukkan oleh tambalan-tambalan kain itu, maka bab
ini bisa dibaca sebagai suatu yang bersifat kesalehan, suatu kumpulan
gagasan dan fakta-fakta yang sangat memuaskan dan dikarang untuk
tujuan-tujuan sentimentil. Kenyataan ini sangat khas.

Ketika membaca teks tersebut, pertama-tama seorang pelajar harus
menyadari bahwa dia tidak bisa menerjemahkan kata "tambalan" itu dan
mengabaikannya. Dia harus mencermati konsep-konsep yang terkandung
dalam istilah Arab itu, dan merenungkannya untuk diterapkan terhadap
teks dengan cara tertentu. Kemudian dia akan bisa memahami makna
"lembaran", "berjalan" atau "kebodohan yang parah" dan seterusnya.

Dengan demikian pengaruh kitab tersebut terhadap Sufi sangat berbeda
dengan peneijemahan yang akan dia dapatkan dari suatu pembacaan yang
dangkal. Inilah sebuah contoh terjemahan semi harfiah yang diambil
dari terjemahan Profesor Nicholson untuk bagian itu:

"Berupaya menjahit jubah-jubah tambalan diperbolehkan oleh para Sufi,
sebab mereka telah memperoleh reputasi yang tinggi dalam masyarakat;
karena banyak orang meniru mereka dan memakai jubah-jubah tambalan
serta bersalah karena melakukan tindakan yang tidak terpuji; karena
para Sufi tidak menyukai masyarakat selain masyarakatnya sendiri
--karena alasan-alasan inilah mereka menciptakan suatu jubah yang
tidak bisa dijahit siapa pun kecuali mereka sendiri, dan menjadikannya
sebagai tanda untuk saling mengenal dan sebagai suatu lencana.
Sedemikian (rumitnya) sehingga ketika seorang darwis menemui salah
seorang Syekh dengan mengenakan sebuah baju, Syekh tersebut mengusirnya."

Akar kata bahasa Arab yang merupakan asal kata "tambalan" juga
memiliki serangkaian makna yang penting. Diantaranya kita bisa mencatat:

Yang bukan-bukan, "nyleneh" (raqua). Cara Sufi tampil ketika dia
tengah berbicara atau bertindak dalam hubungannya dengan suatu
pengetahuan-ekstra (inderawi) yang tidak bisa dimengerti oleh orang
awam. "Ocehan-Pelawak" merupakan terjemahan yang tepat untuk sifat
ini. "Bodoh" dalam pengertian Sufi juga berasal dari akar kata yang
sama (arqa'a).
Mabuk karena anggur (raqaa'). Para Sufi menggunakan analogi kemabukan
untuk menyebut pengalaman mistis tertentu.
Sikap tidak peduli (artaqa'). Sufi tampak sebagai orang yang tidak
peduli terhadap hal-hal yang tampak paling penting bagi orang awam,
tetapi secara obyektif mungkin memiliki arti penting lain.
Langit Ketujuh (raqa'). Suatu isyarat bagi sifat ketuhanan dalam Sufisme.
Papan Catur (ruqa'at). Pergantian hitam dan putih dari cahaya dan
kegelapan, bagian lantai di tempat-tempat pertemuan darwis tertentu
dengan warna seperti papan catur.
Baju tambalan (muraqqa'). Satu-satunya kata dari kelompok (kata) ini
selain kata terakhir yang bisa digunakan sebagai simbol atau alat,
suatu obyek kiasan yang menerangkan akar kata tersebut sebagai suatu
keseluruhan dan semuanya mengandung makna Sufi.
Menambal baju, berjalan dengan cepat, menulis (prasasti), menguasai
sasaran dengan anak-panah. Semua (makna) ini merupakan kata turunan
dari akar kata yang sama yaitu raqa'a.
Memperbaiki (sumur) menyimbolkan perbaikan "sumur" pengetahuan
manusia, yang menurut para Sufi memiliki akar kata yang sama.
Salah satu tugas Hujwiri adalah menuliskan kode-kode rahasia Sufi
sebagai unsur-unsur pokok yang digunakan oleh madzhab-madzhab darwis.

Hujwiri datang ke India mengikuti teknik perjalanan yang secara luas
dipraktikkan pada Tarekat-tarekat tersebut. Ia dianjurkan gurunya
untuk pergi dan menetap di Lahore. Ini merupakan keinginannya yang
terakhir, tetapi karena ia berada di bawah disiplin utuh yang berada
di antara (status) murid dan guru, maka ia berangkat ke India. Setiba
di Lahore, ia melihat jenazah Syekh Hasan Zanjani tengah diusung ke
kuburnya. Hujwiri adalah penerusnya, dan untuk itulah ia menyadari
bahwa ia diutus karena alasan ini. Contoh penggantian guru-guru Sufi
yang menjelang kematiannya dengan mengirim seseorang dari tempat yang
sangat jauh seperti ini bukan sesuatu yang aneh dalam sejarah darwis.

Hujwiri tidak mendirikan sebuah Tarekat, tetapi tetap sebagai seorang
guru secara umum. Namanya termasuk dalam daftar guru-guru dengan
barakah-nya yang memancar ke seluruh komunitas darwis, tanpa melihat
masa di mana dia hidup. Setelah meninggal, diyakini bahwa
kewibawaannya tetap hidup di bumi, sebab kesempurnaannya telah
mencapai tingkatan sedemikian rupa sehingga kematian lahiriah tidak
memusnahkannya.

Tarekat-tarekat Sufi mungkin diorganisir dalam suatu bentuk
kependetaan. Di sisi lain, "biara" atau madzhab Sufi mungkin terdiri
dari suatu mata rantai orang-orang dan kegiatan yang menyebar di
kawasan yang luas dan tidak terlihat oleh orang luar. Oleh karena itu
ada Tarekat-tarekat --dan khususnya cabangcabang Tarekat-- dengan
beberapa anggotanya berada di India, yang lain di Afrika, sebagian
lagi di Indonesia. Secara kolektif mereka membentuk organisasi dari
madzhab tersebut. Karena para Sufi meyakini kemungkinan berkomunikasi
tanpa kehadiran secara fisik, maka konsep dari suatu Tarekat yang
tersebar seperti ini lebih mudah diterima oleh Sufi dibandingkan
orang-orang yang terbiasa dengan pandangan-pandangan yang lebih
konvensional tentang masyarakat dan tujuan manusia.

Cabang-cabang Tarekat berupa serikat pekerja, kelompok pelajar,
kesatuan-kesatuan pasukan. Kecuali pada masa yang lebih modern, jenis
kesatuan yang ditunjukkan melalui biara konvensional. Biara Sufi, yang
secara lahiriah serupa dengan biara Kristiani, Hindu atau Budha, dalam
kenyataannya merupakan produk dari kondisi-kondisi ekonomi dan
politis, bukan sebagai hasil dari suatu kepentingan esoteris. Menurut
para Sufi, "biara merupakan jantung manusia". Sekali lagi, ungkapan
ini sejalan dengan gagasan darwis bahwa Sufisme merupakan suatu
entitas yang berkembang, dan tidak bisa tetap menjadi satu sistem
untuk menurunkan bentuk-bentuk, betapapun menariknya bentuk tersebut.

Di tempat-tempat di mana bentuk kehidupan feodal masih berlangsung,
karena terikat kepada hasil pertanian, biara-biara Sufi terus
berkembang. Di daerah perkotaan, pusat-pusat Sufi lebih terkait dengan
irama kehidupan kota dan mendapatkan penghasilan dari toko-toko yang
disumbangkan kepada komunitas atau dari "pajak" pendapatan
anggota-anggota tarekat tersebut.

Jadi, Tarekat Sufi berperan sebagai lembaga masyarakat yang secara
khusus menerima, menggunakan dan menyebarkan Sufisme. Ia tidak
memiliki bentuk tradisional, dan penampilan lahiriahnya akan
tergantung kepada kondisi-kondisi lokal dan keperluankeperluan "amal".

Sebuah perusahaan penerbitan Arab adalah sebuah organisasi Sufi. Di
beberapa kawasan, semua pekerja industri dan pertanian adalah para
Sufi. Profesi-profesi tertentu di beberapa negara didominasi oleh para
Sufi. Kelompok-kelompok para Sufi ini mungkin memandang dirinya
sendiri sebagai Tarekat atau biara, yang terlibat dalam tugas khusus
penerimaan, pemeliharaan dan penyebaran.

Tentu saja faktor sentral Tarekat adalah menghasilkan sosok manusia
pengajar, sebagaimana terlihat dari dakwah tarekat atau suatu promosi
mekanik dalam hubungannya dengan tingkatan yang tidak bisa
diidentifikasi. Para Sufi tidak mempunyai kubu.

Hal ini bukan berarti bahwa hirarki dari para Sufi tidak ditentukan
dengan baik. Tetapi seorang Sufi dikenal oleh Sufi lainnya, dan sejauh
menyangkut tingkatan, melalui cara-cara selain dari penampakan
lencana. Suatu tingkatan perkembangan tertentu dari individu, selain
harus ditegaskan oleh seorang guru, dipegang oleh para Sufi dan
(hanya) bisa dilihat oleh orang-orang lain yang telah mencapai
tingkatan serupa.

Di dalam sekolah Tarekat itulah penerimaan awal dan perkembangan dari
calon Sufi terjadi. Tidak seperti sistem-sistem pengajaran lainnya,
tidak ada satu pun bentuk pengondisian. Calon (Sufi) harus dibiasakan
kepada prinsip-prinsip Tarekat dan sosok guru, tetapi sebelum hal ini
terjadi ia harus diuji. Pengujian tersebut dilakukan dengan tujuan
melepaskan pribadi-pribadi yang tidak sesuai. Mereka yang mempunyai
keinginan untuk menggabungkan dirinya kepada suatu organisasi atau
individu-individu (tertentu) karena kelemahan mereka sendiri, akan
tertolak. Orang-orang yang telah tertarik kepada reputasi para Sufi
dan ingin meraih kekuatan-kekuatan ajaib akan tersisih. Tugas-tugas
awal yang diberikan kepada seorang calon anggota memiliki dua fungsi
utama --pertama adalah menentukan kesesuaiannya, kedua adalah
memperlihatkan kepadanya bahwa dia harus menginginkan kehidupan Sufi
untuk kepentingan kesufian itu sendiri.

Seorang guru yang bertanggung jawab atas calon darwis seringkali
melakukan apa saja yang dia mampu untuk menghalanginya --bukan dengan
cara persuasi, tetapi dengan memainkan suatu peran yang mungkin tampak
memantulkan cacat dirinya sendiri. Para Sufi yakin bahwa hanya dengan
cara-cara ini mereka bisa berkomunikasi dengan esensi yang menunggu
untuk dibangkitkan oleh dorongan hati Sufi. Komunikasi formal dengan
kepribadian lahiriah dari calon Sufi tidaklah penting. Ketika jiwa
belum mampu menangkap Sufisme secara koheren, sang Sufi tidak akan
berusaha membujuknya. Ia harus berkomunikasi dengan kedalaman yang
lebih besar. Orang-orang yang bisa diyakinkan melalui cara-cara
konvensional tentang arti penting Sufisme ini, tidak akan menjadi
pengikut yang murni.

Banyak laporan-laporan tentang perilaku para Sufi yang konyol dan
tidak bisa diterima berasal dari pelaksanaan rencana-rencana semacam ini.

Banyak dari Tarekat-tarekat besar telah diberi julukan. Tarekat
ar-Rifa'iyah disebut "Para Darwis yang Meraung"; al-Qalandariyah
disebut "Gundul"; al-Chisytiyah disebut "Para Musisi"; al-Mevlevi
disebut "Tari", dan Tarekat Nagsyabandiyah disebut "Diam".

Tarekat-tarekat ini umumnya dinamakan sesuai dengan nama pendiri dari
spesialisasi yang mereka wakili. Sebagai contoh, Rumi mengorganisir
"tarian-tarian" sesuai dengan apa yang ia pandang menjadi cara terbaik
untuk mengembangkan pengalaman-pengalaman Sufistik bagi
murid-muridnya. Sebagaimana tercantum dalam catatan-catatan kuno,
tarian-tarian itu sesuai dengan mentalitas dan temperamen orang-orang
Konia. Para peniru telah berupaya mengekspor sistem tersebut ke luar
daerah budayanya, akibatnya tarian-tarian tersebut tidak ubahnya
seperti sebuah pantomim dan pengaruh asli dari gerakannya telah hilang.

Gerakan-gerakan ritmis (dan tidak ritmis) yang disebut tarian
digunakan banyak Tarekat dan selalu merespon kebutuhan-kebutuhan
individual dan kelompok. Dengan demikian gerakan-gerakan Sufi tidak
bisa dilakukan, dan tidak membentuk apa yang di mana saja disebut
tarian, senam atau semacamnya. Penggunaan gerakan-gerakan mengikuti
suatu pola yang didasarkan kepada penemuan-penemuan dan pengetahuan
tertentu yang hanya bisa diterapkan oleh seorang mursyid/guru dari
sebuah Tarekat darwis.

Tampaknya tarian-tarian keagamaan yang dikenal dalam Kristiani,
Yudaisme dan bahkan suku-suku primitif merupakan suatu kemerosotan
dari pengetahuan ini dan akhirnya ditekan menjadi hiburan, berbentuk
magis atau bentuk-bentuk yang superfisial.

"Jika pisau cukur tidak digunakan mencukur jenggot setiap hari," ucap
penyair Sufi terkenal, Jami', "maka dengan pertumbuhan yang lebih
cepat jenggot cenderung lebat seperti rambut di kepala." (Baharistan
--Peraduan Musim Semi).

Tarekat darwis mungkin bisa dilihat sebagai sebuah organisasi dengan
sejumlah aturan minimum. Seperti perhimpunan lainnya yang mempunyai
suatu tujuan, aturan-aturan Tarekat akan berakhir ketika tujuan telah
tercapai.

Diagram-diagram skematis yang dipergunakan oleh Tarekat-tarekat
tersebut bisa membantu menjelaskan gagasan ini. Lingkaran rantai dari
Tarekat-tarekat itu memperlihatkan bagaimana kelompok-kelompok
tersebut berasal dari madzhab-madzhab yang dikelilingi guru-guru
tertentu. Madzhab-madzhab ini mengambil inspirasi dari majelis pribadi
Muhammad (saw) dan para sahabat dekatnya. Oleh karena itu, dalam
sebuah peta geometrik semacam ini, pusat (diagram) memperlihatkan
sahabat-sahabat Abu Bakar, Ali dan Abdul Aziz al-Makki dalam sebuah
lingkaran. Di sekeliling lingkaran ini ada tujuh lingkaran lebih
kecil, masing-masing lingkaran berisi nama dari seorang guru besar.
Tujuh Jalan utama Sufisme dan spesialisasi-spesialisasi pengajaran
memancar dari pribadi-pribadi ini.

Semua Tarekat darwis mengklaim mendapatkan barakah dari salah satu
atau beberapa guru ini. Harus diingat bahwa karena Sufisme tidak
statis, maka semua barakah para pendiri Tarekat-tarekat tersebut
diyakini merembes semua Tarekat-tarekat tersebut.

Bentuk pusaran dan lingkaran-lingkaran yang saling terangkai tersebut
menunjukkan kesaling-ketergantungan dan gerakan ini. Dalam puisi, para
pengarang seperti Rumi telah menekankan hal ini dengan menyatakan:
"Ketika engkau melihat dua orang Sufi bersama-sama, engkau melihat
keduanya dan dua puluh ribu lainnya."

Tujuan organisasi temporer yang disebut Tarekat dan disetujui oleh
semua guru itu adalah menyediakan lingkungan dimana anggota bisa
mencapai kemantapan batin yang bisa dibandingkan atau identik dengan
keadaan batin para guru awal.

Dorongan untuk menciptakan suatu Tarekat dengan menggunakan sekelompok
kata-kata dan dipilih untuk menggambarkan kegiatan-kegiatan atau
karakteristik tarekat, sangat jelas. Semua anggota tahu bahwa format
tersebut bukan bersifat mistik, tetapi berubah-ubah. Akibatnya, mereka
tidak bisa terikat secara emosional kepada lambang-lambang Tarekat.
Dengan demikian pemusatan perhatian diarahkan pada rantai penyampaian
(hubungan dengan substansi individu-individu). Kemudian, karena
diyakini bahwa "Insan Kamil" adalah suatu individualitas sejati dan
sekaligus suatu bagian menyeluruh dari kesatuan esensial, maka Sufi
tidak mungkin melekatkan dirinya kepada satu personalitas semata.
Sejak awal ia mengetahui bahwa kekuatan-kekuatan batinnya sedang
dibimbing dari satu tahapan ke tahapan berikutnya. Oleh karena itu,
dalam tarekat-tarekat darwis yang menjalankan kesalehan ketat, ada
serangkaian kemajuan baku melalui satu individu. Pertama-tama murid
harus melekatkan dirinya kepada guru. Ketika ia mungkin telah mencapai
perkembangan maksimal, guru akan memindahkannya pada realitas pendiri
Tarekat. Dari sini ia memindahkan kesadarannya kepada substansi
("kaki") Muhammad, perintis ajaran (Tarekat) dalam bentuk kontemporer.
Dari sini ia dipindahkan kepada realitas Tuhan. Ada cara-cara lain
dengan penerapan yang bergantung pada karakter sekolah dan terutama
kualitas-kualitas kepribadian yang terkait. Dalam beberapa latihan,
murid harus membenamkan dirinya sendiri dalam kesadaran para guru
lainnya, termasuk Yesus dan lain-lainnya, yang dipandang oleh para
Sufi sebagai anggota mereka.

Salah satu tujuan ziarah ke makam-makam atau bekas tempat tinggal guru
adalah untuk melakukan hubungan dengan realitas atau substansi ini.
Dalam ungkapan netral bisa dikatakan bahwa para Sufi meyakini,
aktivitas Sufistik dalam menghasilkan seorang Insan Kamil
mengakumulasi suatu kekuatan (substansi) sehingga ia sendiri mampu
melakukan proses pengubahan individu yang lebih kecil. Hal ini tidak
perlu dirancukan dengan gagasan tentang kekuatan magis tersebut,
karena kekuatan yang ditempa sang Salik itu hanya akan bekerja bila
didasarkan pada niat yang murni dan dia terbebas dari keakuannya.
Kemudian ia akan bertindak dengan caranya sendiri, bukan dengan cara
yang bisa diantisipasi oleh sang Salik. Lantaran telah melewati jalan
tersebut sebelumnya, hanya gurunya yang bisa menilai akibat apakah
yang akan ditimbulkan dari pengungkapan (tersingkapnya tabir) semacam ini.

Di dalam tarekat-tarekat tersebut, ketika murid telah diterima untuk
mendapatkan pelatihan di bawah seorang mursyid, ia harus dipersiapkan
untuk menghadapi pengalaman-pengalaman yang tidak mampu dimengerti
oleh jiwanya yang belum tercerahkan.3 Proses yang mengikuti
pengondisian atau pemikiran otomatis, disebut sebagai "pengaktifan
hal-hal yang pelik".

Tidak ada padanan kata yang tepat dalam bahasa Inggris untuk istilah
teknis "kepelikan" itu. Kata asalnya adalah lathifah (jamak: lathaif).
Kata ini diterjemahkan dengan "titik kesucian", "tempat pencerahan",
"pusat realitas". Dalam rangka mengaktifkan unsur ini, maka suatu
keadaan yang bersifat fisik teoritis ditetapkan dalam tubuh --umumnya
dipandang sebagai pusat dimana kekuatan atau barakah terbukti paling
kuat. Secara teoritis lathifah dipandang sebagai "suatu organ baru
dari persepsi spiritual".

Akar kata dalam bahasa Arabnya berasal dari tiga akar kata LThF. Dari
akar kata ini, istilah-istilah yang dipergunakan dalam bahasa Arab
meliputi konsep-konsep kepelikan, kehalusan, keramahan, karunia atau
kerelaan, kesamaran. Oleh karena itu, dalam ungkapan "seks yang
lembut," kata yang diterjemahkan dengan "yang lembut" dalam bahasa
Arabnya diambil dari akar kata ini.

Murid harus membangkitkan lima lathaif, menerima pencerahan melalui
lima dari tujuh pusat komunikasi yang halus. Dengan dipimpin oleh
pembimbing (Syekh), metode ini bertujuan memusatkan kesadaran pada
kawasan tertentu dari tubuh dan kepala, masing-masing kawasan
dihubungkan dengan fakultas-fakultas lathifah.

Karena setiap lathifah diaktifkan melalui latihan-latihan, kesadaran
murid berubah untuk menampung kemampuan jiwanya yang lebih besar. Ia
menembus kebutaan yang membuat orang awam tertawan dalam kehidupan dan
seolah-olah hal itu tampak sebagai sesuatu yang wajar.

Oleh karena itu, dalam beberapa hal, pengaktifan pusat-pusat lathifah
tersebut menghasilkan suatu sosok manusia baru. Untuk pembaca yang
secara tidak sadar mengaitkan sistem ini dengan sistem-sistem lainnya
yang mungkin menyerupainya, kita harus mencatat bahwa pengaktifan
lathaif tersebut hanyalah satu bagian dari suatu perkembangan yang
sangat komprehensif dan tidak bisa dilaksanakan sebagai suatu kajian
individual.

Lima pusat tersebut dinamakan Hati, Ruh, Rahasia, Misterius dan Yang
Sangat Tersembunyi. Tanpa membicarakan secara ketat suatu lathifah
sama sekali, hal lain adalah Diri yang tersusun dari suatu kumpulan
"diri-diri". Inilah keseluruhan dari apa yang oleh orang-orang
dipandang sebagai kepribadian. Hal ini ditandai dengan serangkaian
rasa dan kepribadian yang berubah-ubah dengan kecepatan gerak yang
memberikan kesan kepada seseorang bahwa kesadarannya konstan atau
merupakan suatu kesatuan. Padahal tidak demikian.

Kepelikan ketujuh hanya bisa dipahami oleh mereka yang telah
mengembangkan kepelikan-kepelikan (kesamaran-kesamaran) lainnya dan
menjadi milik seorang arif sejati, pemegang dan penyampai ajaran.

Pencerahan atau pengaktifan salah satu atau lebih dari pusat-pusat
lathifah tersebut mungkin terjadi secara parsial atau aksidental.
Ketika hal ini teijadi, pada suatu waktu seseorang mungkin mencapai
suatu pendalaman pengetahuan intuitif berkaitan dengan lathifah yang
terlibat. Tetapi jika hal ini bukan suatu bagian dari perkembangan
komprehensif, maka jiwa akan mencoba secara sia-sia untuk
menyeimbangkan dirinya sendiri di sekitar "piala agung" ini, suatu
tugas yang mustahil. Akibatnya bisa sangat berbahaya, seperti semua
fenomena mental satu-sisi, dan meliputi anggapan-anggapan yang
berlebihan tentang arti penting diri (ujub), munculnya sifat-sifat
tercela, atau suatu pembusukan kesadaran karena membanggakan suatu
kemampuan.

Latihan-latihan pernafasan atau gerakan-gerakan tari yang dilakukan
dengan runtutan yang tepat juga bisa menghasilkan dampak yang sama.

Perkembangan yang timpang akan menghasilkan orang-orang yang mungkin
mempunyai ilusi bahwa mereka adalah orang yang tercerahkan atau arif
Akibat kekuatan inheren dari lathifah, orang semacam ini mungkin hidup
di masyarakat luas dan menjadi panutan. Dalam diagnosa Sufi, tipe
kepribadian seperti ini menyebabkan munculnya sejumlah besar guru-guru
metafisika palsu. Tentu saja mereka sendiri merasa bahwa mereka asli.
Ini karena kebiasaan menipu diri sendiri atau memperdaya orang lain
belum dihilangkan. Justru kebiasaan tersebut didukung dan diperkuat
oleh kebangkitan organ baru yang belum terarahkan, yakni lathifah.

Kawasan-kawasan yang terlibat dalam pengaktifan lathifah adalah: Diri
(nafsu/hawa), di bawah pusar; Hati, tempatnya hati lahiriah; Ruh, pada
sisi tubuh yang berhadapan dengan posisi hati. Rahasia lathifah tepat
berada di antara Hati dan Ruh. Misteri berada di dahi; Yang Sangat
Tersembunyi berada di otak.

Makna-makna aktual dari tempat-tempat ini berasal dari suatu realisasi
khusus Sufi ketika lathifah yang dimaksud sedang diaktifkan. Ini
hanyalah awal kajian sehingga mereka diberi tempat-tempat ini.

Di sekolah-sekolah darwis, ada hubungan dialogis khusus antara guru
dan pelajar --sesuatu yang tidak mungkin terjadi kecuali ada seorang
guru sejati yang hadir dalam komunitas tersebut, dan sampai pada
kondisi-kondisi tertentu telah siap untuk komunikasi tersebut. Tentu
saja dalam hal ini Sufisme berbeda dengan filsafat atau suatu praktik
yang bisa dipelajari melalui tangan kedua.

Pertukaran khusus ini meliputi teknik-teknik yang disebut tajalli
(penampakan). Tajalli mempengaruhi setiap orang meskipun hanya sedikit
orang yang bisa memahaminya. Sebagai contoh, seseorang mungkin melihat
bahwa dirinya "beruntung" atau "melakukan hal yang benar" atau ia
"tidak salah langkah". Ini mungkin merupakan akibat aksidental dari
tajalli. Karena tidak menyadari sumber fenomena tersebut, seseorang
akan menisbatkan penyebabnya kepada sesuatu yang lain, katakanlah
"nasib baik". Ia merasa senang karena seseorang memujinya atau karena
gajinya naik. Semua ini merupakan alasan, rasionalisasi. Ini juga
merupakan bentuk tajalli yang sia-sia, sebab operasinya mempunyai
kandungan nilai dan bahkan manfaat yang melebihi manfaat-manfaat
sekunder yang bisa menghangatkan hati dari penerima yang tidak
menyadarinya. Akan tetapi karena tidak menyadari mekanismenya, ia
tidak bisa melangkah lebih jauh dalam mendapatkan manfaat-manfaat tajalli.

Kondisi ekstatik (fana'), ketika manusia merasa dirinya menyatu dengan
penciptaan, atau Pencipta, terpesona, sesuatu seperti rasa mabuk;
ketika ia merasa telah memasuki surga; ketika semua rasa saling
berganti atau menjadi satu --semua ini menyebabkan ketidakmampuan
untuk menerima dan berpartisipasi dalam tajalli. Apa yang dianggap
oleh individu sebagai suatu berkah sebenarnya merupakan meluapnya
kemampuan. Ini seperti tumpahan cahaya yang dipancarkan pada mata
seseorang sampai akhirnya ia buta. Ia mempunyai kemuliaan dan
mengalami keterpesonaan. Tetapi ini tidak berguna, sebab ia menyilaukan.

Ada tahapan yang lebih lanjut, ketika kebutaan telah dihilangkan, dan
ketika kepribadian berada dalam ketergantungan penuh dan cukup siap
menerima tajalli. Kemudian ada ilusi tajalli, kadang-kadang berupa
kepekaan rasa (kemampuan merasakan sesuatu sebelum terjadi),
kadang-kadang berupa suatu refleksi yang berguna untuk kreativitas
artistik atau kepuasaan diri, tetapi bagi seorang Sufi, ia merupakan
suatu keadaan khayal. Hal ini mudah ditengarai, karena keadaan seperti
ini tidak disertai dengan suatu akses pengetahuan. Keadaan ini
mengaburkan keadaan sejati, karena semata-mata memberikan suatu
sensasi pengetahuan atau kepuasan. Dalam pandangan ini, ia menyerupai
suatu impian, dalam mana sebuah keinginan terasa terpenuhi, dengan
demikian memungkinkan pemimpi yang gelisah tersebut melanjutkan
tidurnya. Jika ia tidak memperoleh suatu hasil yang menggembirakan
dari pikirannya sendiri dalam mengatasi masalahnya, maka ia akan
terbangun dan menunda istirahatnya.

Tajalli palsu yang dialami oleh mereka yang tidak membawa
perkembangannya kepada suatu cara yang seimbang, mungkin menimbulkan
suatu keyakinan bahwa hal itu merupakan suatu keadaan mistis sejati,
terutama jika terbukti bahwa kemampuan-kemampuan supranatural terlihat
aktif dalam kondisi ini. Para Sufi memilah antara pengalaman ini dan
pengalaman sejati melalui dua cara. Pertama, guru akan langsung
mengenali keadaan palsu tersebut. Kedua, sebagai suatu masalah
penyelidikan diri (muhasabah), ia selalu bisa ditengarai bahwa
pencapaian-pencapaian persepsi itu tidaklah mengandung nilai
kepastian. Sebagai contoh, mungkin ada suatu akses intuisi. Mungkin
seseorang mengetahui perihal seseorang --membaca pikiran adalah suatu
contoh. Tetapi fungsi aktualnya, nilai dari kemampuan membaca pikiran
adalah tidak ada. Orang yang menderita karena tajalli palsu akan mampu
menceritakan fakta tertentu atau seringkali fakta tentang orang lain
yang menandakan kemampuan menembus batas-batas ruang dan waktu.
Pengujian tajalli terhadap orang yang tidak bisa mengenali secara
langsung apakah asalnya ia merupakan persepsi "supranatural" disertai
oleh suatu peningkatan pengetahuan intuitif secara permanen --sebagai
contoh, melihat segala sesuatu sebagai satu keseluruhan, atau
mengetahui jalan yang akan diambil untuk pengembangan-dirinya, atau
jalan yang sesuai bagi orang lain, atau melakukan "keanehan-keanehan".
Abdul Qadir al-Jilani menjelaskan bahwa keajaiban-keajaiban yang
seringkali diceritakan para Sufi itu, tidak disebabkan oleh suatu
jenis kekuatan sebagaimana dipahami secara umum: "Ketika engkau
memperoleh pengetahuan Ilahiyah, maka engkau akan menyatu dengan
kehendak Tuhan (sehingga) esensi keabadianmu tidak menerima hal-hal
lainnya ... Orang-orang akan menisbatkan keajaiban-keajaiban kepadamu.
Keajaiban-keajaiban itu seolah-olah berasal darimu, tetapi asal-usul
dan kehendak tersebut adalah milik Tuhan." (Muqalah VI dari kitab
Futuh al-Ghayb).

Seperti cabang-cabang lain dari tindakan Sufi, banyak hal-hal lainnya
yang tidak dikatakan dan ditulis tentang kepelikan-kepelikan tajalli
tersebut. Ini semua hanyalah berperan sebagai petunjuk, dan bisa jadi
sama sekali keliru jika diterapkan tanpa memperhatikan kondisi-kondisi
yang berlaku. Bagi Sufi, setiap situasi adalah unik dan tidak ada buku
pegangan sebagaimana dipahami secara umum.

Di samping kesalahan yang bisa menghalangi sebagian besar orang dari
apa yang mereka anggap sebagai suatu penyelidikan tentang pencerahan
Sufi, praktik pengaktifan lathaif adalah sangat mendasar jika kemajuan
(spiritual) yang sesungguhnya ingin dicapai. Guru sejati adalah guru
yang mampu mendidik murid-muridnya dengan cara sedemikian rupa,
sehingga kebangkitan dari kepelikan-kepelikan itu terjadi secara
bersamaan dan sesuai dengan kemampuan individu. Pepatah mengatakan,
"Berilah sebuah manisan kepada seorang anak, maka ia akan bahagia.
Berilah ia sekotak besar manisan, maka ia akan sakit."

Dalam tahapan pengaktifan lathaif, murid pertama-tama harus mengenali
pengaruh-pengaruh Diri terhadap kepribadiannya. Hal ini merupakan
sesuatu yang diperkenalkan oleh gurunya. Maka dari itu, hampir sejajar
tetapi sedikit di belakang perkembangan ini, ia mendapatkan
pengaktifan lathaif-nya yang didorong oleh upaya-upaya sang guru. Ini
merupakan sesuatu yang tidak bisa dia mulai sendiri jika ingin berhasil.

Pengalaman Sufistik pertamanya akan terkait dengan pencerahan salah
satu lathaif-nya. Sebelum tahapan tersebut dicapai, ia akan menemukan
bahwa ia harus mengupayakannya sendiri di wilayah kepribadian. Jika ia
terlalu banyak dan lama memusatkan perhatian pada masalah ke-Diri-an
itu, maka guru akan menghadapi kesulitan yang lebih besar dalam
membangkitkan pencerahan lathifah. Dalam berbagai komunikasi dimana
faktor ini tidak dipahami secara tepat, memperjuangkan diri menjadi
hampir segalanya dan tujuan akhir upayanya. Keterpikatan terhadap guru
tetap kuat dan pembebasan kepribadian tidak bisa dihasilkan.

Dalam bidang inilah dibandingkan bidang lainnya bahwa para okultis dan
sekolah-sekolah yang terpilah-pilah, maupun orang-orang yang
mencoba-coba secara mandiri, hanya akan menuju pada sistem-sistem
pembiakan-diri bagi perjuangan-diri, tanpa memperoleh manfaat dari
pengalaman itu, yaitu tajalli yang akan menunjukkan kepadanya bahwa
mereka mampu mencapai perkembangan yang mereka cari. Dalam menerima
seorang murid, guru selalu berhati-hati untuk meyakinkan dirinya
sendiri bahwa (calon) murid tersebut memiliki kemampuan untuk maju
melalui pemusatan-diri menuju pelepasan lathifah.

Secara umum, doktrin-doktrin Sufi dikaji dan sekaligus diamalkan
secara kolektif dalam Tarekat-tarekat darwis. Ini berarti bahwa harus
ada keseimbangan antara penyajian intelektual dan pemahaman suatu
doktrin serta penerapannya. Selain itu harus ada keseimbangan antara
serangkaian pemikiran dan pernikiran lainnya. Konsentrasi sebagai
suatu metode melakukan latihan adalah satu hal; tetapi ia harus
disesuaikan dengan penyerapan benturan-benturan pasif Bagaimana cara
melakukannya adalah suatu bagian yang intim dan metodologi
Tarekat-tarekat darwis sangat efektif.

Beberapa Tarekat mengkhususkan variasi teknik tertentu. Ketika seorang
murid telah dibawa sejauh mungkin ke dalam sekolah dari sebuah
Tarekat, dia mungkin dikirim ke (sekolah) lainnya untuk memberikan
unsur-unsur spesifik kepadanya dari sekolah tersebut. Hal ini juga
harus dilakukan dengan sangat hati-hati, sebab pasti akan ada suatu
perkembangan satu-sisi. Jika kemampuan-kemampuan tertentu ingin
dikembangkan, maka hal ini harus dilakukan dengan cara sedemikian rupa
untuk memberi peluang bagi perkembangan yang benar dan sejajar pada
masa berikutnya di sekolah lainnya.

Di antara spesifikasi-spesifikasi dari sekolah-sekolah tersebut adalah
latihan qiff (berhenti/diam), yaitu ketika seorang guru memberi
aba-aba, "Berhenti!" dan semua gerak fisik dihentikan sampai dia
membolehkan para murid untuk istirahat. Latihan tersebut diterapkan
oleh para guru Tarekat Naqsyabandiyah, sebagai Latihan Rahasia
Kesembilan dari Tarekat ini, dan menjadi suatu metode yang terbukti
efektif untuk menembus jaringan pemikiran asosiatif serta memungkinkan
terjadinya penyampaian barakah.

Suasana dalam sebuah sekolah Tarekat darwis bisa dirasakan melalui
pernyataan di bawah ini sebagai wahana lahiriah dari kuliah
pendahuluan oleh Syekh al-Masyaikh, yang ditujukan kepada sejumlah
calon (murid) untuk memasuki Tarekat Azhamiyah baru-baru ini:

"Tujuan para Sufi adalah menjernihkan diri mereka sampai pada
tingkatan tertentu sehingga mereka memperoleh pencerahan (anwar) dari
apa yang kita sebut sebagai beberapa sifat Tuhan, atau Nama-nama Indah
(Asma'ul-Husna). Tidak ada Sufi yang bisa menjadi bagian dari 'Susunan
Tuhan' melalui pemurnian puncak semacam ini. Tetapi hanya dengan cara
menghilangkan penderitaan material itu, dia bisa menghidupkan esensi
sejatinya, apa yang bisa kita sebut sebagai ruh."

"Perhatianmu tergugah oleh anekdot yang diceritakan Allamah Sanai,
dalam kitabnya Taman Kebenaran Berdinding. Dalam kitab ini ia
menunjukkan bahwa persepsi agama yang dangkal tidaklah tepat, maka
ketika aku berbicara tentang Tuhan, Ruh dan lainnya, engkau harus
mengingat bahwa semua itu adalah hal-ihwal, sebagaimana ditekankan
oleh Ibnu Arabi, yang tidak mempunyai kaitan secara tepat denganmu,
dan yang harus dipahami, bukan semata-mata disebut dan dikaitkan
dengan emosionalisme."

"Al-Allamah Sanai berkata:

'Seorang arif pernah bertanya kepada seorang yang (belum) tercerahkan,
karena melihat ia mudah menerima asumsi-asumsi yang dangkal, 'Apakah
engkau pernah melihat kunyit, atau hanya mendengarnya?'

Ia menjawab, 'Aku telah melihatnya, aku telah memakannya lebih ratusan
kali (dalam nasi kuning).'

Allamah tersebut berkata, 'Baiklah! Tetapi apakah engkau tahu bahwa ia
tumbuh dari sebuah biji? Bisakah engkau melanjutkan untuk berbicara
seperti ini? Apakah orang yang tidak mengetahui tentang dirinya
sendiri bisa mengetahui jiwa orang lain? Ia yang (hanya) tahu tentang
tangan dan kaki, begaimana ia bisa mengetahui ketuhanan? ... Ketika
engkau mengalami (sendiri), maka engkau akan mengetahui makna keimanan
... Keilmuan secara keseluruhan telah salah arah'."

"Selanjutnya, karena banyak perkembangan (rasional) telah merendahkan
kilatan batin (ruh) dari sang Salik dan dengan demikian menghalangi
kemajuannya menuju kesempurnaan. Untuk mengurangi
perkembangan-perkembangan ini, latihan-latihan tertentu harus
dilakukan. Latihan-latihan tersebut harus sesuai dengan
kebutuhan-kebutuhan sang Salik. Bagaimana melakukan latihan ini secara
tepat bergantung pada amalan dan pengetahuan dari seorang Pembimbing
Khusus (mursyid, pir). Sebagian orang mempunyai kesan bahwa pencerahan
ini bisa dicapai oleh seorang Salik dengan membaca kitab-kitab Tasawuf
dan mempraktikkannya sendiri. Secara teoritis hal ini tidak kuat dan
juga tidak dikenal dalam pengalaman mistik, jauh berbeda dari
pengetahuan batin kami tentang kepalsuannya. Seorang mursyid tentu
saja sangat penting."

"Istilah-istilah tertentu harus diperhatikan. Nafs dalam terminologi
Sufi bermakna ego sekaligus 'nafas'. Bagaimana cara menggunakan kata
tersebut adalah penting untuk diketahui dan dicapai dengan
memperhatikan penerapannya dalam kenyataan aktual, bukan dengan
membaca kamus semata. Sering dikatakan bahwa nafs al-ammarah (diri
yang selalu memerintah) harus ditundukkan. Ini mungkin bermakna bahwa
keinginan-keinginan serta sikap-sikap mental dan fisik tertentu harus
dilihat untuk apa semua itu dan diperlakukan dengan selayaknya. Dalam
penggunaan ini, kata tersebut terlihat bermakna diri atau ego. Dalam
penggunaan lain, kata tersebut benar-benar berarti nafas. Sebagai
contoh, dalam latihan yang dikenal dengan habs-i-dam, ia berarti
'penahanan pernafasan' di bawah pengawasan ketat seorang Mursyid yang
menggunakan latihan ini untuk tujuan khusus dan terbatas."

"Kata bai'at berarti mengambil sumpah, ikrar, dan menandakan suatu
peristiwa ketika seorang Salik meletakkan tangannya di antara tangan
dari seorang Pembimbing Spiritual untuk melakukan ikrar ganda. Di
pihak murid, mengikat dirinya untuk mencari Jalan yang ditunjukkan
oleh pembimbing. Di pihaknya sendiri, berusaha membimbing sang Salik
di Jalan tersebut. Ini merupakan saat yang khusus, khidmat dan penuh
makna. Ada suatu interaksi ganda yang saling terkait dalam perjanjian
tersebut, suatu hubungan berdasar perjanjian yang diresmikan melalui
bai'at ini. Dalam konjungtur inilah seorang Salik diperbolehkan
menyebut dirinya sendiri sebagai murid (orang yang berkehendak
mencari), Orang yang Terarahkan."

"Istilah muraqibah meliputi bentuk-bentuk konsentrasi. Di dalamnya
murid berusaha keras untuk menghilangkan pikiran-pikiran tertentu dari
jiwanya dan memusatkan pada hal-hal yang akan memungkinkan
pencerahannya dan meletakkan dasar kemantapan pribadinya. Istilah
tersebut juga berkaitan dengan sikap duduk dengan kepala menunduk,
dagu di lutut, suatu sosok Sufi yang benar."

"Kata dzikir secara harfiah berarti pengulangan atau bacaan. Kata ini
menjelaskan tindakan dari seorang murid yang mengulang-ulang bacaan
sebanyak yang telah ditentukan oleh mursyidnya. Dalam pengertian lain,
ia juga disebut wirid."

"Istilah teknis tajalli, pencerahan, maupun nur (jamak: anwar)
dihubungkan dengan proses pengaktifan menuju realitas independen
melalui kekuatan yang terkandung dalam kekuatan Cinta. Dalam proses
ini kita bekerja dengan Nama-nama yang Indah (Asmaul Husna). Meskipun
secara umum dipandang berjumlah sembilan puluh sembilan, sesuai dengan
jumlah biji tasbih Sufi, dalam pengertian ini nama-nama tersebut tidak
terbatas. Dalam 'amalan' aktif, nama-nama tersebut pertama-tama
terbatas pada nama-nama yang diperlukan untuk membantu mengaktifkan
organ-organ persepsi dan komunikasi yang khusus."

"Tidak ada artinya sama sekali mengaktifkan organ-organ baru yang
khusus bagi persepsi dan komunikasi kecuali jika pada saat yang sama
individu tersebut mampu menyadari tentang apa yang dikomunikasikan,
kepada siapa, dan mengapa. Peningkatan komunikasi dalam dirinya
sendiri paling jauh terbatas pada bidang-bidang yang dimiliknya --di
kalangan para intelektual yang menganggap bahwa mereka memiliki
sesuatu untuk disampaikan. Sementara bagi kita sendiri, metode-metode
masa kini sudah memadai untuk tujuan-tujuan biasa."

"Kata qalb (hati) mungkin bisa dipandang sebagai suatu lokalisasi
anatomis dari organ yang harus dibangkitkan. Posisinya terletak di
detak jantung fisikal yang biasanya ditentukan di dada kiri. Dalam
kepercayaan dan amalan Sufi, organ ini dipandang sebagai tempat dari
penglihatan batin utama dan awal yang terlibat dalam 'pencarian' dan
'kerja'."

"Pencerahan total terhadap organ ini dan organ-organ lainnya
mendahului walayat al-Kubra (kewalian utama) sebagai tujuan Sufi dan
sesuai dengan pencerahan dalam sistem-sistem lainnya. Pada tahapan ini
ada kekuatan-kekuatan tertentu yang tampaknya mengendalikan fenomena
alamiah. Harus diingat bahwa kekuatan-kekuatan ajaib tersebut
berkaitan dengan suatu bidang dimana kekuatan-kekuatan tersebut
menyatu dan bermakna dan tidak bisa diuji dari sudut pandang
'penjual-mantra'."

"Penyatuan yang dicapai Sufi itu disebut fana' (peleburan, peniadaan).
Pelumpuhan diri tidak diperbolehkan dan pemeliharaan tubuh secara
layak adalah penting."

"Sebelum latihan-latihan berlangsung, baik Keseimbangan yang Lebih
Besar ataupun Keseimbangan yang Lebih Kecil harus telah dicapai oleh
calon Sufi. Keseimbangan ini dikaitkan dengan kenyataan bahwa manusia
biasa tidak mampu berkonsentrasi sama sekali, kecuali untuk
periode-periode yang sangat singkat. Dalam kitabnya Fihi Ma Fahi, Rumi
menekankan hal ini, suatu persoalan yang paling penting dalam semua
situasi pengajaran:

Perubahan-perubahan perasaan (dhamir) adalah milikmu, semua itu tidak
terkendali. Jika engkau mengetahui asal-usulnya, maka engkau pasti
mampu menguasainya. Jika engkau tidak bisa membatasi
perubahan-perubahanmu sendiri, bagaimana engkau bisa membatasi
perubahan-perubahan yang membentukmu?"
"Disamping kandungan formalnya, sejumlah besar puisi Sufi merujuk pada
tingkatan-tingkatan keutuhan atau kemampuan untuk memusatkan jiwa
sehingga bisa menemukan jalan menuju kebenaran tidak terpecah-pecah.
Dalam kitabnya Kebun Rahasia, ketika Syabistari berbicara tentang
suatu kilatan yang berputar dan hanya memberikan suatu ilusi bahwa ini
membentuk suatu lingkaran cahaya, (sebenarnya) ia tengah membicarakan
pengalaman Sufi yang dikenal oleh semua darwis, dalam suatu tahapan
'penghimpunan' tertentu."

Sebagaimana ditegaskan dalam praktik-praktik kerja Tarekat-tarekat
(berbeda dari tarekat-tarekat yang mengkhususkan pada penyembahan
orang suci), darwis percaya bahwa ada suatu keadaan khusus yang harus
diaktifkan. Ini tidak bersifat emosional, dan bukan intelektual
seperti pengalaman biasa. Rujukan-rujukan pada pencerahan, penjernihan
dan pembedaan berkaitan dengan hal ini. Seorang darwis menjernihkan
kesadarannya sehingga ia bisa menyadari keadaan-keadaan jiwa dan
kondisi-kondisi realitas yang hanya dimengerti secara lahiriah oleh
pikiran awam. Mungkin bisa dikatakan bahwa biasanya orang memahami
pikiran dan emosi hanya sebagai suatu kuantitas. Segi yang lebih rumit
tetapi sangat mendasar bagi kesempurnaan, yaitu kualitas, sulit untuk
dilatih atau dijelaskan, dan oleh karena itu diabaikan oleh semua
orang dengan memberikan perkiraan-perkiraan sangat kasar tentang
kapasitas keseluruhannya.

Tentu saja persepsi tentang kepelikan-kepelikan yang tak terbatas ini
tidak mungkin bagi orang awam. Seperti seorang anak kecil yang harus
belajar membedakan antara benda-benda kasar dan halus, maka persepsi
manusia yang masih mentah harus dilatih dalam hubungannya dengan hal ini.

Daya gerak utuh dari Organ Evolusi tersebut hanya akan bekerja jika
sesuatu yang terkait dengan pelepasan telah dicapai. Hal ini hanya
terjadi ketika persiapan-persiapan pendidikan tertentu telah
dilakukan. Sebelum tahapan perkembangan kesadaran itu, berbagai
pengalaman yang tidak dapat disangkal menandai tahapan-tahapan
kemajuan tertentu. Pengalaman-pengalaman ini memberikan bukti atas
kemajuan dan kekuatan individu untuk melanjutkan pada tahapan
berikutnya. Jika ia tidak menerima pencerahan-pencerahan ini dalam
rentetan yang benar, ia akan tinggal pada suatu tahapan kesadaran
parsial atau kekuatan konsentrasi yang tidak teratur. Salah satu
akibat yang tidak diinginkan dari perkembangan lanjut seperti ini
adalah ketika calon Sufi itu tidak bisa dilepaskan dari ketergantungan
terhadap pengajarnya.

Jika apa yang disebut sebagai Organ Evolusi tersebut dikembangkan dan
bisa bekerja, fungsi-fungsi instink, emosi dan intelek diubah serta
bekerja dalam suatu suasana baru. Serangkaian pengalaman yang segar
dan luas selalu terbuka bagi darwis.

Berbagai kemungkinan tak terbatas dan mekanisme yang saling terjalin
terlihat dalam hal-hal yang sebelumnya tampak lamban atau digunakan
terbatas. Sebuah contoh darwis terdapat dalam rujukan pengajaran pada
pembolehan mendengarkan musik. Syibli al-Kubra mengatakan:
"Mendengarkan musik dengan sengaja secara lahiriah tampak sebagai
sesuatu yang merusak; secara batiniah ia merupakan suatu peringatan.
Ketika 'Tanda' diketahui, maka orang semacam ini mungkin akan
menyimak, karena dia mendengarkan sebuah peringatan. Jika dia tidak
memiliki tanda tersebut (bangkitnya Organ Evolusi), berarti dia tengah
menyerahkan dirinya kepada kemungkinan bahaya." Sifat sensual musik di
sini disebutkan, begitu pula nilai musik yang semata-mata emosional
dan secara intelektual terbatas. Semua ini berbahaya, sebab mereka
mungkin membawa kepada sensualitas dan karena menghasilkan suatu
selera bagi kegemaran sekunder (terhadap musik; karena seseorang bisa
menikmati musik sebagai musik), maka ia akan menyelimuti kegunaan
musik yang sesungguhnya, yaitu untuk mengembangkan kesadaran.

Ini merupakan pengertian musik yang bukan saja tidak dikenal di Barat,
tetapi dengan keras disangkal oleh banyak orang di Timur. Karena
kekhususan-kekhususan musik, sebagian Tarekat darwis, terutama Tarekat
Naqsyabandiyah yang kuat dan sangat mampu beradaptasi, menolak untuk
menggunakannya.

Demikian pula suatu spesialisasi dari sekolah-sekolah darwis
menghargai nilai sejati puisi yang dipergunakan sebagai suatu latihan
mistis. Setiap puisi mempunyai beberapa fungsi. Sesuai dengan
"realitas"-nya, ia juga akan bermakna bagi Sufi. Dengan
landasan-landasan teologis, semua Sufi memperbolehkan mendengar puisi,
sebab Nabi Muhammad saw memperbolehkannya. Beliau pernah bersabda,
"Sebagian puisi adalah hikmah," dan "Hikmah itu seperti unta betina
milik orang saleh yang hilang. Kapan saja ia menemukannya, maka dialah
yang paling berhak atasnya." Beliau sebenarnya menggunakan sebuah rima
Arab untuk menegaskan tentang tema Sufi tentang suatu realitas
sempurna yang tidak lain adalah Tuhan. "Pernyataan Arab yang paling
benar terletak pada rima (ungkapan berirama) dari Labid bahwa 'segala
sesuatu tidak penting kecuali Allah, karena peristiwa-peristiwa berubah'."

Ketika beliau diminta untuk mengomentari tentang puisi, Nabi saw
menjawab, 'Apa yang baik darinya adalah baik, dan apa yang buruk
darinya adalah buruk. " Ini merupakan diktum yang diikuti oleh para
guru Sufi menyangkut pembolehan mendengar, membaca atau menulis puisi.

Tetapi, menurut guru besar Hujwiri, puisi secara esensial harus nyata
dan benar. Jika ada kepalsuan dan ketidakbenaran didalamnya, maka ia
akan meracuni pendengar, pembaca, dan penulisnya dengan
kesalahan-kesalahannya itu.

Cara-cara puisi didengarkan dan kemampuan pendengar untuk mendapatkan
manfaat darinya, adalah penting bagi Sufisme. Para guru darwis tidak
akan memperbolehkan jika esensi yang sesungguhnya dari puisi tersebut
bisa diapresiasi oleh mereka yang tidak dipersiapkan dengan benar
untuk memahaminya secara utuh, meskipun demikian banyak orang yang
mungkin meyakini bahwa dia tengah menggali keutuhan itu dengan
mendengar sebuah puisi.

Hujwiri meneruskan diktum dari sekolah-sekolah darwis itu bahwa mereka
yang terhanyut karena mendengar musik sensual adalah mereka yang
mendengarkan dalam pengertian yang tidak sejati. Mendengarkan musik
atau puisi yang sesungguhnya adalah suatu pengembangan, karena
memberikan suatu jangkauan pengalaman-pengalaman yang jauh lebih
beragam dan bernilai dibandingkan pengalaman-pengalaman yang bersifat
lahiriah atau ekstatik. Meskipun demikian, dalam konteks kekinian hal
ini hanya bisa diungkapkan dengan suatu pernyataan tegas dan tidak
mudah diverifikasi di luar lingkungan Sufi.

Bagi Sufi, ada empat Perjalanan. Pertama adalah pencapaian suatu
kondisi yang dikenal dengan fana', kadangkala diterjemahkan sebagai
"peniadaan". Ini merupakan tahapan penyatuan kesadaran dimana Sufi
merasakan harmoni dengan realitas obyektif. Hasil dari kondisi inilah
yang merupakan tujuan dari Tarekat-tarekat darwis. Setelah ini masih
ada tiga tahapan. Niffari, seorang guru besar pada abad kesepuluh,
menggambarkan empat perjalanan tersebut dalam kitabnya, yaitu Muwaqif
yang ditulis di Mesir hampir seribu tahun yang lalu.

Setelah ia mencapai tahapan fana', Sufi memasuki perjalanan kedua, di
sini ia benar-benar menjadi "Insan Kamil" dengan kemantapan
pengetahuan obyektifnya. Ini adalah tahapan baqa', permanensi.
Sekarang ia bukan "manusia yang mabuk karena Tuhan", tetapi seorang
guru dengan haknya sendiri. Dia memiliki gelar quthub, pusat magnetik,
"suatu titik dimana semua mengarah kepadanya".

Dalam Perjalanan Ketiga, guru tersebut menjadi seorang pembimbing
spiritual bagi setiap orang sesuai dengan individualitas pribadinya.
Sementara jenis guru sebelumnya (pada Perjalanan Kedua) hanya mampu
mengajar di dalam wahana budaya atau agama lokalnya sendiri. Jenis
guru ketiga ini mungkin hadir menjadi berbagai sosok untuk berbagai
tipe manusia. Ia bekerja dalam banyak tingkatan. Namun ia bukan
"segala sesuatu untuk segala manusia" sebagai bagian dari suatu
kebijakan yang terencana. Di sisi lain, dia bisa memberi manfaat
kepada setiap orang sesuai dengan potensi orang tersebut. Sebaliknya
guru dari perjalanan kedua hanya mampu bekerja dengan orang-orang
tertentu.

Dalam Perjalanan Keempat, perjalanan akhir, Insan Kamil itu membimbing
orang lain dalam tahap transisi dari apa yang secara umum dipandang
sebagai kematian fisik, menuju suatu tahap pengembangan yang lebih
jauh dan tidak terlihat oleh orang awam. Oleh karena itu, bagi darwis,
pemisahan yang terjadi pada kematian fisik konvensional tidak ada.
Suatu komunikasi dan pertukaran yang terus-menerus terjadi antara
dirinya dan bentuk kehidupan berikutnya.

Dalam sebuah komunitas darwis, seperti dalam kehidupan biasa,
pencapaian-pencapaian spiritual dari seorang individu Sufi mungkin
tidak terlihat kecuali bagi mereka yang mampu memahami
pancaran-pancaran (emanasi) dari suatu tataran yang lebih tinggi
sebagai ciri darwis yang sebenarnya.

Tahapan-tahapan inilah yang dirujuk al-Ghazali dalam karya dasarnya,
al-Ihya'. Dia mendekati deskripsi tentang tahapan-tahapan itu dari
sudut pandang relevansi antara yang satu dengan lainnya dan fungsinya
bagi dunia luar. Menurutnya, ada empat tahapan yang mungkin bisa
dikiaskan dengan buah kenari. Pilihan (biji) kacang ini secara
kebetulan, sebab dalam bahasa Persia, buah kenari disebut "berbiji
empat" yang juga bisa diterjemahkan dengan "empat esensi" atau "empat
akal". Biji kacang memiliki sebuah selongsong (kulit), sebuah kulit
dalam, sebuah biji (inti) dan minyak. Selongsong rasanya pahit,
berfungsi sebagai penutup selama periode tertentu. Selongsong ini
dibuang ketika biji dikeluarkan. Kulit dalam lebih bernilai dari
selongsong, tetapi tetap tidak bisa dibandingkan dengan biji itu
sendiri. Sementara biji merupakan tujuan jika seseorang berusaha
memeras minyaknya. Meskipun demikian daging dalam ini mengandung benda
yang dibuang (ampas) untuk menghasilkan minyak.

Meskipun kitab Niffari termasyhur dan banyak dikaji oleh para sarjana,
penerapan praktis metodenya dan penggunaan sesungguhnya dari istilah
teknis waqfat yang dia gunakan, tidak bisa dipahami dengan hanya
membacanya. Meskipun istilah waqfat terkait dengan "Jeda Ketuhanan"
dan latihan "Penghentian" yang memungkinkan seseorang menembus ruang
dan waktu, sebenarnya ia merupakan faktor yang sangat rumit dan hanya
secara kasar ditunjukkan oleh istilah. Sebagai contoh, ia juga
memiliki sifat penyinaran yang menghilangkan kegelapan karena
keanekaragaman (wujud) ini. Keanekaragaman disebabkan oleh pemahaman
fenomena sekunder sebagai fenomena utama, atau melihat pembedaan
(diferensiasi) sebagai perbedaan itu sendiri. Pada tahapan-tahapan
paling awal dari latihan darwis, hal ini dijelaskan melalui
contoh-contoh dan latihan-latihan sehingga ketika seseorang tengah
bekerja dengan konsep "buah", dia tidak boleh memusatkan dirinya
dengan jenis-jenis buah yang sangat beraneka ragam, tetapi dengan
konsep yang mendasar dari buah tersebut.

Sebuah sekolah darwis, baik yang ada di biara atau di kedai minum
Eropa Barat, mempunyai makna yang sangat mendasar bagi Sufisme, karena
di dalam situasi sekolah itulah bahan-bahan seperti tulisan-tulisan
Niffari dikaji dan diamalkan sesuai dengan ciri-ciri khas murid dan
kebutuhan-kebutuhan sosial dimana dia bekerja di dalamnya.

Karena itulah perkembangan Sufi harus mengambil akar dalam suatu cara
tertentu di berbagai masyarakat yang berbeda-beda. Ia tidak bisa
diimpor. Begitu juga metode-metode amalan yang sesuai dengan Mesir
atau Yoga India abad kesepuluh, tidak bisa bekerja secara efektif di
Barat. Cara-cara tersebut bisa menaturalisasikan dirinya, tetapi
dengan cara mereka sendiri. Pesona misteri dan pesona Timur yang penuh
warna itu selama berabad-abad telah mengaburkan pikiran Barat tentang
kenyataan bahwa pengembangan manusia itulah yang menjadi tujuan, bukan
tarian-tariannya.

Catatan:
1 Kasyful-Mahjub (Mengungkap yang Terhijab).

2 John A. Subhan, Sufism, Its Saints and Shrines, Lucknow, 1938, hlm. 130.

3 Hampir seabad yang lalu, John P. Brown menerbitkan The Dervishes or
Oriental Spiritualism (1867), yang merupakan periode dimana sangat
sedikit sumber-sumber tentang unsur-unsur aktivitas darwis yang
tersedia di Barat.



STATUS KERJA

OFFLINE

Pembayaran

Bitcoin : 1FeCysSdTGEDkBy4UXCeuiMCstyWPCKsqi

FACEBOOK

WHATSAPP

WA : 0852740097**

CONTACT LINE

LINE : excati**